Naruto © Masashi Kishimoto

Summary: Semua yang hilang takkan sepenuhnya hilang. Bisa saja semua itu akan muncul lagi. Namun prosesnya tidak mudah. Mampukah Naruto dan Hinata mengembalikan kisah mereka?

Genre: Romance/Hurt/Comfort/Tragedy

Pairing: Naruto U./Hinata H.

Warning: AU, OOC, typo's, minim describe, bahasa kadang baku kadang nggak, ada selipan lagu etc

Nb: "Blablabla" pembicaraan di telpon

Gak suka? Tinggal cancel/close kok repot xP

Chaki no Utau, In~


Kisah Kita

By: Chaki no Utau

Chapter 5: Dia


"Mencintaimu adalah kesalahan besar bagiku,"

"Aku rela mengorbankan perasaan ini demi kebaikan kita."

.

Konoha University masih dipenuhi oleh banyak calon mahasiswa yang sedang melihat pengumuman. Ada yang melihat di mading, ada juga yang melihat di komputer. Tapi antrian itu sudah tak ramai lagi karena banyak yang sudah memakai laptop/ponsel mereka untuk mengakses situs web kampus ternama ini. Tidak lama setelah kejadian tadi, entah kenapa sinyal Wi-Fi disana sudah kembali lancar.

Mengingat kejadian barusan, Naruto masih tak habis fikir. Ia bingung, tentu saja. Kenapa Hinata harus memilih keputusan itu, padahal Naruto tau dari tatapan mata Hinata, gadis itu sangat merindukannya. Tapi keputusan salah itu telah diucapkan dan Hinata juga sudah pergi dari sana, meninggalkan Naruto yang masing diam dan frustasi.

"Apa yang kau lakukan disitu? Kita disuruh kumpul di gedung fakultas komunikasi sekarang," Tanya Sasuke pada Naruto dari belakang.

"Bukan urusanmu," jawab Naruto lesu lalu berjalan ke arah lain.

.

.

"OSPEK diadakan 2 minggu lagi. Diharapkan pada kalian untuk membawa perlengkapan yang sudah kami tentukan, mengerti?"

"Siap, mengerti."

"Bagus, sekarang boleh bubar."

Setelah satu persatu dari kakak senior itu bubar, para mahasiswa baru yang sudah diterima di Konoha University fakultas kedokteran ini langsung membubarkan diri. Tadi mereka tengah diberikan pengarahan mengenai OSPEK yang akan diselenggarakan 2 minggu lagi. Banyak dari mahasiswa baru itu masih bertanya pada yang lain, atau hanya sekedar berkenalan dan mengobrol.

"Hinata-chan, setelah ini 'kan nggak ada kegiatan lagi, gimana kalau kita ke mall saja?" ajak Sakura yang masih memapah Hinata.

"Um, yaudah. Kebetulan aku juga mau ke toko buku," Hinata mengangguk setuju lalu berjalan bersama Sakura.

Diluar dugaan, saat Hinata dan Sakura lewat, mereka melihat Naruto yang jalan tertunduk. Ada juga Kiba dan Sasuke yang mencoba menghiburnya. Tatapan Hinata seketika sendu. Ia berjalan lebih dulu dan Sakura mengejarnya. Tampak juga Sasuke yang melihat Sakura lalu akhirnya ia ditarik Kiba pergi.

~oOo~

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Jalan-jalan umum di Konoha City masih tampak dipenuhi banyak kendaraan yang berlalu lalang. Memang jam segini adalah jam pulang kerja dan membuat sedikit kemacetan terjadi.

Hinata dan Sakura sudah selesai berbelanja. Mereka tampak membawa banyak belanjaan –Hinata hanya bawa 2 plastik sedangkan Sakura lebih dari 5 tas-. Mereka tampak bersenda gurau sebelum akhirnya Hinata sudah ditunggu Neji dan Sakura sudah ditunggu Sasuke. Mereka bercipika-cipiki sebentar lalu berpisah.

"Banyak banget belanjanya," ucap Sasuke ketika melihat Sakura yang sibuk membawa banyak belanjaannya. Sasuke membantu Sakura memasukkan belanjaannya kedalam bagasi mobil.

"Hehe, namanya juga cewe," balas Sakura tertawa ringan. "Oh ya, Sasuke-kun. Boleh aku bicara sebentar?"

"Hm, apa?"

"Tentang Naruto dan Hinata-chan. Aku rasa mereka sedang ada masalah. Aku dan teman-teman yang lain tadi juga sempat melihat pertengkaran mereka di mading tadi," kata Sakura yang sudah berada didalam mobil dan duduk disamping kekasihnya itu.

"Aku juga melihatnya, dengan Kiba dan Chouji juga," balas Sasuke singkat lalu focus menyetir mobil.

"Aku kasihan melihat Hinata-chan. Naruto juga kelihatan frustasi gitu. Tadi aku sempat minta Hinata-chan cerita tapi dia gak mau. Naruto gimana?"

"Sama saja. Tadi dia disuruh kumpul sebentar, dia malah pergi ke taman belakang kampus. Tapi dia tetap kumpul sih,"

Sakura terdiam sejenak. Ia melihat mobil Neji yang berada didepan berbelok ke kanan. Ia tampak berfikir.

"Kenapa diam?" Tanya Sasuke yang sedikit aneh melihat Sakura diam.

"Ah, nggak apa-apa." Jawab Sakura tersenyum. Sasuke hanya 'oh' lalu kembali fokus menyetir.

.

.

Perjalanan yang kurang lebih memakan waktu sekitar 25 menit itu sedikit membuat Hinata tertidur di mobil. Dan sekarang Hinata dan Neji sudah memasuki kawasan rumah mereka. Setelah Neji membangunkan Hinata, mereka berdua turun dari mobil.

"Tadaima." Ucap Hinata lalu menguap sedikit. Ia melihat ayahnya sedang bermain shogi dengan Konohamaru, sedangkan Hanabi dan Moegi terlihat sedang bersantai di ayunan depan rumah mereka.

"Okaeri," jawab Hiashi sejenak. "Kau kalah, Konohamaru." Lanjutnya setelah meletakkan bidaknya.

"Yah, kalah lagi," Konohamaru tampak sebal. "Oh, Hinata-nee sudah pulang,"

"Ah, iya," jawab Hinata setelah bersalaman dengan ayahnya. "Otou-san, aku langsung ke kamar ya."

.

.

Hinata melempar tasnya sembarangan. Ia melepas ikatan rambutnya lalu segera merebahkan diri di tempat tidur. Tangannya terlipat ke atas menumpu kepalanya. Pandangan matanya lurus ke langit-langit kamar. Pikirannya masih memutarkan kejadian yang ada di kampus tadi.

"Apa aku pengecut? Apa keputusanku salah?" gumam Hinata pelan. Ia mengingat saat ia bertengkar dengan Naruto di kampus tadi siang. Kata-kata Naruto tadi masih teringat di kepalanya.

Tes

Air matanya jatuh lagi. Entah sudah berapa kali Hinata menangis. Yang jelas air matanya masih mengalir deras.

Hinata segera mengusap air matanya. Tapi buliran-buliran bening itu masih menetes tanpa henti. Hinata pun mengambil bantal yang ada disampingnya lalu menutupkan ke wajahnya. Ia juga masih sesenggukan bahkan sedikit berteriak.

~oOo~

Tiga bulan telah berlalu. Konoha University sudah menjalani tahun ajaran baru. OSPEK telah dilakukan dengan lancar tanpa hambatan. Upacara janji mahasiswa bagi mahasiswa tingkat 1 telah dilakukan. Dan bulan ini telah memasuki ujian praktikum pertama bagi mahasiswa tingkat 1.

Ujian praktikum pertama hampir mirip dengan ujian tengah semester bagi pelajar sekolah dasar ataupun sekolah menengah. Pelaksanaannya selama seminggu. Tapi ujian praktikum pertama ini masih dibawah bimbingan kakak tingkat. Di Konoha University, para mahasiswa tingkat 1 diwajibkan mempunyai 1 mentor untuk membimbing mereka demi menghadapi ujian ini. Mentor tersebut merupakan para mahasiswa tingkat 2 atau tingkat 3 di fakultas yang sama. Hampir setiap fakultas sudah melakukan ujian praktikum pertama. Hanya tinggal 2 fakultas lagi yang belum melakukannya, yaitu fakultas komunikasi dan fakultas kedokteran.

Setting cerita telah beralih ke taman belakang kampus. Disana sudah dipenuhi oleh para mahasiswa tingkat 1 fakultas komunikasi dan kedokteran yang sedang memohon pada kakak tingkat mereka. Ada juga yang tengah dibimbing di bawah pohon sakura.

"Hah, dasar Ino pig itu. Diminta jadi mentor saja susahnya minta ampun," keluh Sakura yang saat ini tengah bersantai dengan Hinata di dekat danau. Selain ditumbuhi oleh beberapa pohon Sakura, taman belakang ini juga memiliki danau buatan yang sangat indah. Banyak dari mahasiswa kampus yang datang kesini untuk memberi makan ikan ataupun bersantai menunggu matahari terbenam.

"Hihi, tidak apa-apa, Sakura-chan. Dia 'kan kakak tingkat kita. Pasti dia juga memiliki kesibukan makanya susah untuk diminta," balas Hinata sedikit terkikik geli.

"Yayaya, aku mengerti itu." Sakura hanya mendengus sebal mendengar 'pembelaan' dari Hinata. "Kau sendiri sudah punya mentor, Hinata-chan?"

"Um," Hinata mengangguk kecil. "Mentorku Ryuuzetsu-senpai."

"HEEE?" Sakura sedikit memekik, membuat Hinata heran. "Kau serius kalau dia mentormu?" tanya Sakura sambil menunjuk beberapa gadis yang merupakan mahasiswi tingkat 3 fakultas kedokteran sedang berjalan dari arah lapangan. Tampak gadis berambut putih panjang dengan mata seperti rinnegan sedang mendengar curhatan temannya.

"Iya, ada yang salah?" Hinata bertanya balik.

"U-um, kau tak tau ya," Sakura mengecilkan volume suaranya. Ia mendekat pada Hinata lalu berbisik, "Dia itu kakak tingkat yang sangat perfeksionis. Kudengar dari Ino juga, waktu dia tingkat 1, dia juga meminta Ryuuzetsu-senpai untuk jadi mentornya. Dan Ino serasa di-romusha karena selalu disuruh mengulang."

"Oh itu," Hinata hanya ber'oh'. "Tidak masalah kalau aku diperlakukan seperti itu, yang penting waktu ujian praktikum pertama nanti aku nggak disuruh magang dengan dosen," Hinata menanggapinya dengan santai.

"Kau ini tenang sekali ya," Sakura sedikit sweatdrop melihat tingkah tenang Hinata. Tapi yah mau diapakan lagi? Meski dihadapi dengan monster saja, Hinata masih saja tenang dan calm.

Disaat Sakura dan Hinata masih bersenda gurau, tiba-tiba gadis bernama Ryuuzetsu itu mendatangi mereka. Sakura sedikit keringat dingin karena Ryuuzetsu datang dan menatap mereka dengan tatapan biasa-tapi-mencekam.

"Kau Hyuuga Hinata 'kan?" Tanya Ryuuzetsu menunjuk Hinata.

"Ha'i. Ada apa, senpai?" jawab Hinata lalu balik bertanya.

"Besok pagi jam 9, kalau tak ada kuliah, kau menemuiku di perpustakaan. Kita akan memulai bimbingan. Untuk keperluan selanjutnya, nanti kau tinggal mengirim pesan ke nomorku," jelas Ryuuzetsu untuk membuat janji pada Hinata.

"Oh, ha'i. Kebetulan besok pagi aku memang nggak ada kuliah. Arigatou, senpai," Hinata mengangguk mengerti lalu tersenyum. Ryuuzetsu tidak merespon apapun lalu pergi dari tempat Sakura dan Hinata.

"Dia dingin banget," ujar Sakura setelah memastikan Ryuuzetsu telah menjauh dari tempat mereka sekarang. "Yah, aku harap kau bisa melakukannya dengan baik, Hinata-chan,"

"Hehe, arigatou, Sakura-chan," jawab Hinata tersenyum manis. Sakura membalasnya lalu mereka kembali bercerita banyak hal.

Sementara itu, Naruto dan Sasuke berada tidak jauh dari danau. Mereka duduk dibawah pohon Sakura ketiga dari arah pintu masuk. Mereka sibuk melakukan sesuatu. Sasuke yang masih membaca buku dan Naruto yang mengutak-atik kamera DSLR miliknya.

"Hoi, teme," panggil Naruto. "Jadi mentormu untuk UPP ini siapa?" tanyanya.

"Sasori," jawab Sasuke lalu menghela nafas. "Cih, dasar Itachi itu. Aku bilang biar kucari sendiri mentor itu tapi malah dia yang mencarikanku," sebalnya.

"Loh, bagus dong. Kau 'kan jadi nggak repot cari. Bersyukur kau dicarikan kakakmu,"

Sasuke mendelik tajam, "Aku bukan anak kecil yang selalu minta bantuan, usuratonkachi,"

Naruto sedikit ketakutan lalu mengalihkan pandangan ke kamera DSLR nya. Pemuda itu mengutak-atik sebentar dan ketika melihat sebuah foto, ia malah terdiam. Membuat sahabat disampingnya ini heran.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke, tapi Naruto tak menjawab. Sasuke melihat kamera milik Naruto. "Kau merindukannya?" tanyanya.

"Tentu saja, tapi sejak 3 bulan lalu dia masih menjauhiku," jawab Naruto dengan tatapan sendu melihat kameranya.

Yang dilihat Naruto adalah foto kenangannya bersama Hinata 3 tahun lalu. Foto itu masih tersimpan di kameranya. Foto itu diambil saat mereka mengadakan graduation party di pantai. Tampak pose mereka yang kompak dan romantis. Awalnya Naruto tersenyum melihatnya, tapi setelah tahu kenyataan yang ia alami 3 bulan terakhir ini, ia malah tersenyum kecut.

"Sudahlah, kalau kau masih menyayanginya, kau harus berusaha buat mendapatkan hatinya lagi," ucap Sasuke dengan sedikit menyenggol siku Naruto. Lalu ia memasukkan buku-buku dalam tasnya dan berdiri.

"Kau mau kemana?" Tanya Naruto heran.

"Jalan dengan Sakura, kita ngga ada kuliah 'kan? Dah." Jawab Sasuke lalu melengos pergi.

Naruto memperhatikan Sasuke yang sudah berjalan menjauh sambil menelpon. Lalu ia mengalihkan pandangan ke sekitarnya dan tampak banyak pasangan muda-mudi. Daripada sendirian, akhirnya Naruto mengalungkan kameranya lalu membawa tas dan berniat pergi dari taman belakang kampus, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menampakkan nama 'Deidara-nii' di layar ponsel.

"Moshi-moshi?"

"Yo, Naruto. Besok kita mulai belajar ya, jam 9 pagi kau ada kuliah ngga?"

"Kayaknya ngga ada,"

"Oke, kalau gitu besok kutunggu jam segitu di perpustakaan,"

"He? Kenapa ngga hari ini saja? Dan kenapa harus di perpustakaan?"

"Hari ini aku sibuk. Soalnya aku juga mau belajar buat ujian. Sudahlah, yang penting kau datang dan jangan ngaret, ok?"

"Siap."

Tuut Tuut

.

.

.

Naruto berjalan melewati lapangan. Tampak ia melihat beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket dan beberapa mahasiswi yang berteriak kesenangan. Ia sedikit memicingkan mata dan melihat Sasori, Deidara, Itachi dan Obito sedang bermain basket.

"Cih, katanya sibuk tapi malah main disini," dumel Naruto sebal begitu melihat Deidara yang baru memasukkan bola kedalam ring dan disambut teriakkan histeris para fansgirlnya.

Disisi lain, Hinata yang tengah makan dengan Ino melihat sosok Naruto yang masih berdiri melihat ke arah lapangan. Hinata akui, ia sedikit rindu dengan Naruto, karena sejak kejadian 3 bulan yang lalu, Hinata dan Naruto tak bertemu. Meski 1 kampus, tapi kesibukan masing-masing membuatnya jarang melihat Naruto. Terakhir juga ia melihat Naruto sedang bermain gitar dengan Sasuke dan Kiba di taman belakang kampus 1 bulan lalu.

"Hinata-chan, kau mendengarkanku ngga sih?" tanya Ino sedikit kesal ketika melihat Hinata yang melamun.

"E-eh, i-iya kok, Ino-chan." jawab Hinata lalu menggaruk kepalanya, "Ano, tadi kita sampai mana?"

"Tadi sampai... Oh ya, kemarin Sai juga berlaku romantis padaku. Ah, aku makin jatuh hati padanya," jawab Ino dengan berbunga-bunga.

Hinata hanya mengangguk saja, padahal ia tak mengerti dengan arah pembicaraan Ino yang selalu berubah-ubah. Ia lebih memilih melihat ke tempat Naruto berdiri, dan sekarang sudah tak ada siapa-siapa disana. Hinata menghela nafas pelan.

"Jadi setelah dia memberi bunga padaku, dia menya- Hinata-chan!" Ino makin protes karena Hinata masih tak mendengarkan ocehannya.

"Ah, ehehe, go-gomen. Aku dengar kok, teruskan saja," jawab Hinata dengan nada panik.

"Huh, aku tahu kau ngga dengar. Daritadi kau melihat siapa sih?" tanya Ino penasaran.

Blush

"Bu-bukan siapa-siapa!" jawab Hinata cepat. Wajahnya yang memerah membuat Ino menunjukkan seringai, "Aku ngga melihat siapapun, Ino-chan,"

"Bohong, tadi aku melihat Naruto berdiri disana," balas Ino masih dengan seringaiannya. "Jadi ceritanya ada yang kangen setelah bertengkar 3 bulan lalu nih,"

Hinata dengan cepat menutup mulut Ino, "U-uh, jangan buat aku malu disini, Ino-chan," rengek Hinata.

Ino melepas tangan Hinata dari mulutnya, "Iya-iya. Tapi kenapa sih sampai sekarang kalian belum maafan juga. Maksudku gini, kau dan Naruto 'kan bertengkar dan sampai sekarang ngga pernah ngobrol. Aku juga bingung sih dengan pertengkaran kalian waktu itu, siapa sih yang salah?" tanya Ino penasaran.

"Sebenarnya aku yang salah," jawab Hinata dengan nada sedih. "Waktu itu aku bilang rela mengorbankan perasaan ini demi kebaikan kami, tapi nyatanya aku malah ngga bisa lupain dia. Sampai sekarang, aku masih bingung apa yang harus kulakukan," lanjutnya lesu.

"Berarti kau masih sayang dong dengannya?"

Blush

Perkataan Ino tadi sukses membuat wajahnya kembali memerah. Tapi benar juga apa yang dikatakan gadis yang sudah menjadi kakak tingkatnya itu, jauh dari dalam lubuk hatinya, Hinata masih sangat menyayanginya. Tapi karena ayahnya, Hinata masih menutupi semuanya.

"Ayolah, Hinata-chan. Kalau kau masih sayang dengannya, kau bisa mengajaknya ngobrol duluan. Aku yakin, Naruto juga masih menyayangimu," saran Ino sangatlah tepat.

"Tapi, Ino-chan. Teori itu kadang ngga sesuai dengan praktek. Sebenarnya aku mau melakukannya, tapi... Bagaimana kalau Neji nii-san tau? Bagaimana kalau Neji nii-san bilang ke Ayah?" Hinata makin frustasi memikirkannya. Ia sedikit mengacak rambutnya.

"Yasudah, kita tinggal menunggu saja," jawab Ino lalu menghirup cappuccino di tangannya. "Tenang saja, aku bisa membujuk kakakmu yang aneh itu, aku yakin Neji ngga akan sebebal ayahmu kok," lanjutnya dan tersenyum pada Hinata.

Hinata tidak yakin dengan perkataan Ino, tapi satu-satunya cara yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu. Hinata menyunggingkan senyuman, membalas senyuman sahabatnya.

~oOo~

CKREK

Naruto melihat hasil fotonya. Ia mendengus sebal karena hasilnya masih belum maksimal. Padahal sudah berkali-kali ia memotret beberapa ruangan yang ada di gedung fakultas kedokteran, tapi belum mendapatkan hasil yang bagus.

Naruto tengah diminta tolong Iruka-sensei untuk memotet beberapa ruangan di gedung fakultas kedokteran. Alasannya sih karena untuk diserahkan ke rektor univeritas, mengingat beberapa ruangan tersebut sudah direnovasi 1 bulan lalu. Kebetulan Naruto juga tidak ada kuliah seharian ini, jadi ia menyetujui permintaan Iruka-sensei.

Pemuda bersurai pirang ini sudah mendapatkan 4 foto ruangan yang sesuai, yaitu ruang apotik, ruang kesehatan, laboratorium dan aula. Tinggal 3 ruangan lagi, yaitu ruang praktikum, kelas Kakashi-sensei dan kelas Kurenai-sensei. Kini Naruto berjalan ke arah kelas Kakashi-sensei yang kebetulan tidak ada siapa-siapa.

Sambil mengecek foto-foto tadi, Naruto memasuki ruang kelas Kakashi-sensei. Terlihat sepi, pikirnya. Tidak menunggu lama lagi, Naruto langsung memotret bebeapa sudut ruangan itu. Naruto melihat hasilnya dan tersenyum senang karena ia tak perlu menulang lgi. Naruto pun berniat keluar dari kelas itu, tapi begitu sampai di pintu, ia nyaris menabrak seseorang dan kaget melihat siapa orang itu.

"Hi-Hinata-chan?"

"Na-Naruto-kun?"

Keduanya saling kaget lalu bertemu pandang. Naruto melihat penampilan Hinata yang sang ini memakai printed tee dengan kemeja oversize lavender dan celana jeans. Rambutnya ia gerai dan poni rambutnya diberi jepit. Hinata juga melihat penampilan Naruto yang siang ini memakai t-shirt putih polos dengan corduray shirt coklat dan celana chino coklat. Mereka masih memandang satu sama lain, sebelum akhirnya sadar akan deheman seseorang.

"EHM,"

Keduanya kaget dan sedikit menghindar. Hinata pun masuk ke kelas dan dibelakangnya ada Kakashi-sensei.

"Sedang apa kau menghalangi jalan?" tanyanya datar.

"E-eh, eto, tadi aku diminta tolong memotret kelas sensei," jawab Naruto bingung.

Kakashi-sensei menatap Naruto dan melihat tak ada kebohongan dimatanya. Ia pun berjalan masuk dan duduk di kursinya. Sedangkan Naruto melihat dari arah jendela. Tampak Hinata yang menyerahkan hasil kerjanya. Naruto berpikir, ternyata Hinata tengah konsul dengan dosen itu. Naruto juga masih terpana akan Hnata, meski pertemuan mereka terasa singkat dan canggung.

"Kau ngapain disini?" tanya seseorang pada Naruto. Tapi pemuda itu malah tak mendapat jawaban. Ia pun melihat ke jendela dan langsung menyeringai jahil.

Tuk

"Aw!" ucap Naruto kesakitan. Ia melihat siapa yang melemparnya dengan batu dan ternyata orang itu adalah Kiba Inuzuka. "Ngapain kau disini? Mengganggu saja,"

"Habis kau ngga jawab pertanyaanku," jawab Kiba nyengir. "Aku disuruh Iruka-sensei mencarimu. Katanya kau cukup foto sampai sini saja, soalnya foto ang lain sudah ketemu," lanjutnya.

"Oke," Naruto mengangguk lalu kembali mengintip.

"Ngapain kau mengintip Hinata?" tanya Kiba heran.

"Ngga apa-apa, sudah lama aku ngga melakukan ini," jawab Naruto senang. Dengan jawaban seperti itu, otomatis Kiba kembali menyeringai.

"Kalau kangen itu bilang sama dia, jangan ngintip. Kau ini kayak Jiraiya jii-san saja," ejek Kiba dan menyenggol siku Naruto.

Blush

Wajah Naruto memerah begitu dibilang seperti itu. Ia akui ia rindu dengan Hinata, soalnya sudah lama tak melihat gadis itu setelah pertengkaran 3 bulan lalu. Dan ia juga buru-buru membantah omongan Kiba, "Kau ini,"

"Hahaha, sudahlah. Daripada mengintip, mending kita main basket saja, lapangan sudah kosong nih," ajak Kiba semangat.

"Baiklah, kali ini aku juga akan mengalahkanmu," jawab Naruto setuju lalu berlari duluan.

"Kau ini!"

.

.

.

"Katamu lapangan kosong, dasar," ucap Naruto sebal begitu melihat lapangan masih dipenuhi orang.

"Aku ngga tau, padahal tadi lapangan benar-benar kosong," balas Kiba bingung.

Tampak mahasiswa tingkat 3 disana sedang bertanding dengan mahasiswa tingkat 2. Tapi anehnya, ada Sasuke disana. Apa dia dipaksa mengisi kekosongan Pein yang kebetulan sedang dimarahi habis-habisan dengan Konan. Lalu Kiba pun menarik Naruto duduk di kursi.

"Yasudah, kita nunggu saja," ucap Kiba lalu melihat ke lapangan.

Blass

Sasuke berhasil memasukkan bola kedalam ring dan disambut dengan teriakkan para mahasiswi yang ada di kantin maupun di lapangan. Naruto yang melihatnya langsung membuang muka dan melihat ke arah lain. Tepat saja, ia melihat Hinata dengan Sakura.

Merasa melihat Naruto melamun, Kiba kembali mengejek, "Samperin gih,"

"Ka-kau ini," Naruto terlihat salah tingkah.

"Habis aku geregetan melihatmu kayak gitu," balas Kiba lalu tertawa.

"Yayaya, bagus sekali kau menertawakanku, Inuzuka Kiba," Naruto kesal lalu pergi sebentar memesan milkshake. Lalu kembali duduk disebelah Kiba sambil meminumnya.

Naruto melihat ke tempat Pein yang masih dimarahi habis-habisan oleh Konan. Ia geleng-geleng melihat nasib kakak sepupunya itu. Padahal ia berpikir Konan itu gadis pendiam dan manis seperti Hinata. Tapi begitu melihat Konan seperti ini, Naruto malah merinding sendiri karena seketika ia mengingat ibunya yang sedang marah.

"Oi, Shino sms nih, katanya KHS bakalan mengadakan reuni buat angkatan kita tanggal 15 nanti, kau ikut ngga?" tanya Kiba sambil menyenggol siku Naruto.

"Reuni? Boleh, jam berapa?" jawab Naruto yang masih memandangi Hinata dan balik bertanya.

"Jam 7 malam, aku numpang ya, motorku dipakai nih," pinta Kiba setelah menutup ponselnya dan menunjukkan puppy eyes miliknya.

Naruto menoleh ke Kiba dan menggeleng, "Enak saja, lagipula aku juga ngga tau mau bawa motor atau dengan Sasuke. Dan berhenti memasang tatapan menjijikkan itu," sebalnya.

"Ayolah, kawan. Sekali ini saja," pinta Kiba masih dengan puppy eyesnya.

"Oke-oke," jawab Naruto sebal.

"Sip. Oh ya, kata Shino juga band kita disuruh tampil disana. Gimana?"

"Memang mau nyanyi lagu apa?"

"Lagunya Flower Flower. Itu loh, band nya YUI. Bagus kok, nanti aku kirim lagunya,"

"Baiklah,"

"Dan lagu itu cocok buatmu loh, hahaha,"

"Kau ini,"

Disaat Kiba dan Naruto masih mengobrol, tiba-tiba ponsel Kiba berdering lagi. Kiba minggir sebentar lalu mengangkat telpon. Sedangkan Naruto masih saja memandang Hinata.

'Sepertinya aku memang ngga akan bisa move on darimu, Hinata-chan' pikirnya dalam hati dan tersenyum tulus pada Hinata.

.

To Be Continued...

.

Chaki no Utau, Out~