Naruto © Masashi Kishimoto
Summary: Semua yang hilang takkan sepenuhnya hilang. Bisa saja semua itu akan muncul lagi. Namun prosesnya tidak mudah. Mampukah Naruto dan Hinata mengembalikan kisah mereka?
Genre: Romance/Hurt/Comfort/Tragedy
Pairing: Naruto U./Hinata H.
Warning: AU, OOC, typo's, minim describe, bahasa kadang baku kadang nggak, ada selipan lagu etc
a/n: hai! terimakasih sudah membaca cerita ini. kali ini berhubung modem ditinggal, chaki bisa apdet cepet xD
oh ya, makasih buat yang udah review. terus review lagi ya biar cepet apdet ^^
sekedar informasi nih, nanti kan di chap 6 ini ada akun twitter, nah akun twitternya cuma dibuat-buat saya, hehe. Enjoy the story!
Gak suka? Tinggal cancel/close kok repot xP
Chaki no Utau, In~
.
Kisah Kita
By: Chaki no Utau
Chapter 6: Rasa Ini
.
Kantin Konoha University memang tak pernah sepi dari para mahasiswa. Setiap jam, pasti saja bakalan ramai dan kursi penuh. Wajar saja karena kantin ini cuma satu-satunya di kampus ini. Ditambah lagi karena didepan kantin adalah lapangan basket yang sering diisi para mahasiswa bermain, menambah alasan kenapa tempat ini tak pernah sepi dari para penghuni kampus terkenal ini.
Naruto masih disana. Memerhatikan Hinata yang tampak ceria bersama Sakura dan Ino. 2 gadis itu tertawa riang dan bercerita banyak hal. Naruto suka melihat Hinata ceria seperti ini. Tak ada air mata, yang ada hanya senyum dan tawa. Hinata memang terlihat cantik kalau ceria, pikirnya. Ia jadi ingat waktu SMA dulu juga sering memerhatikan Hinata seperti ini. Dan inilah dejavu.
"Hoi," panggil Kiba setelah selesai menerima telpon dari pacarnya. Ia memergoki Naruto yang lagi-lagi memerhatikan Hinata. Ide jahil pun muncul dari benaknya. Kali ini ia melempar Naruto dengan batu yang entah didapat dari mana.
Tuk
"Aduh!" pekik Naruto dengan suara sedikit keras. Otomatis orang-orang di kantin, termasuk Hinata, menoleh ke arahnya. Naruto menoleh ke sebelahnya dan mendapat Kiba yang tertawa cekikikan, "Ugh, kau ini!"
"Hahaha, habis kau itu ngapain sih melihat Hinata terus. Kalau kangen, samperin gih," balas Kiba lalu tertawa lagi.
Blush
Wajah Naruto memerah. Hinata pun demikian. Mahasiswa lain pada menertawakan Naruto dan men-ciye-ciye-kan Hinata.
"Ki-Kiba, kau ini benar-benar!" Naruto yang makin salah tingkah langsung mengejar Kiba. Kiba berlari dan masih tertawa puas.
Suasana kembali kondusif. Hinata masih salah tingkah akibat ucapan Kiba. Sakura dan Ino yang ada disebelahnya masih tertawa geli.
"Ternyata perkiraanku ngga salah ya, Hinata-chan, hahaha." Tawa Sakura sambil mencolek lengan Hinata.
"Jadi benar 'kan perkataanku, Naruto itu kangen padamu setelah 3 bulan lalu, hahaha." Ino masih mengejek Hinata dan menyenggol sikunya.
"U-uh, kalian, berhentilah tertawa." Sebal Hinata masih dengan wajah merah padam. Bagaimana tidak, sudah dikata seperti itu oleh Kiba, ada buktinya kalau Naruto memang memerhatikannya dan 2 sahabatnya ini malah makin mengejeknya. Sudah pasti Hinata kalah telak.
.
.
Sore telah datang. Hinata yang baru saja selesai kuliah, keluar dari kelas bersama Sakura. Mereka berbicara mengenai mata kuliah yang tadi mereka jalani. Kejadian memalukan bagi Hinata tadi sudah dilupakan oleh Sakura. Jadi Hinata bisa menghelus dada untuk kali ini.
Mereka masih berbicara banyak hal, sampai akhirnya saat mereka sudah diluar gedung fakultas kedokteran, Sasuke melihat mereka. Sakura yang sudah ditunggu pacarnya, mau tak mau pamit meninggalkan Hinata. Hinata maklum lalu melambaikan tangan pada sahabatnya itu
Hinata berjalan keluar sambil memainkan ponselnya. Ia tengah mengirim pesan pada Neji. Tapi selang beberapa menit, Neji membalas pesannya dan bilang kalau ia tak bisa menjemput Hinata karena ia masih menjalani praktek dirumah sakit. Hinata sedikit bingung lalu akhirnya memutuskan untuk naik angkutan umum saja. Tapi kenyataannya saat ia memeriksa dompetnya, dompet itu sudah kosong. Hinata makin bingung harus naik apa untuk pulang. Mana mungkin ia mau berjalan kaki, sedangkan jarak kampus ke rumahnya itu 2 kilometer.
Hinata berdiri di depan lorong kampus sambil mengirim pesan pada Sasame yang kebetulan masih ada di kampus. Sambil menunggu balasan dari Sasame, tiba-tiba klakson motor berbunyi di depannya. Hinata menoleh dan melihat kalau Naruto yang menaiki motor sport itu.
"Hinata-chan, belum pulang ya?" Tanya Naruto yang sudah turun dan berjalan mendekati Hinata.
"I-iya," jawab Hinata gugup. Kegugupannya kembali muncul mengingat tadi siang ia juga bertemu dengan Naruto didepan kelas Kakashi-sensei.
"Oh," Naruto menjawab singkat. Ia berpikir sejenak lalu berkata ragu, "Mau kuantar pulang?"
Hinata sedikit kaget mendengar tawaran Naruto. Ia bingung harus menerima tawaran itu atau tidak. Tapi kalau ia tidak menerima, ia makin bingung harus pulang dengan siapa.
Hinata berpikir sejenak lalu menjawabnya, "Ba-baiklah," jawabnya ragu. Sedikit keraguan masih ada di benak gadis ini.
Naruto terlihat sumringah, "Kalau begitu, ayo," ajak Naruto lalu menaiki motor sport miliknya. Hinata yang tampak masih ragu akhirnya menaiki motor itu dan mereka pergi dari area kampus Konoha.
.
Sepanjang jalan, Naruto dan Hinata hanya diam. Mereja tak membicarakan apapun, tapi raut wajah mereka tampak senang. Wajar saja, setelah kejadian 3 bulan lalu, keduanya (atau lebih tepatnya Hinata) saling menjauh. Naruto yang biasanya sangat berisik, kali ini lebih banyak diam karena ia takut mengganggu Hinata. Sementara Hinata sangat gugup, apalagi disaat ia disuruh memeluk pinggang Naruto dengan alasan keselamatan.
Sudah lebih dari 30 menit di perjalanan, tapi mereka belum sampai juga di rumah Hinata. Apa Naruto sengaja memperlambat kecepatan motornya agar bisa lama dipeluk Hinata? Siapa tahu. Hinata sih tak komentar apapun, bahkan ia sekarang tertidur di punggung Naruto.
Dan akhirnya setelah genap 40 menit, keduanya sudah sampai di rumah keluarga Hyuuga. Terlihat sepi, makanya Naruto tidak buru-buru.
"Hinata-chan, sudah sampai," ujar Naruto setelah mematikan mesin motornya. Tapi tak ada jawaban dari gadis itu.
"Hinata-chan?" tanya Naruto. Ia menoleh dan mendapat Hinata tertidur di punggungnya. Tangan Hinata juga masih melingkar di pinggangnya. Naruto tak membuang kesempatan ini, ia mengusap tangan Hinata dan pada saat itulah Hinata terbangun.
"Ng?" gumam Hinata pelan. Ia mengerjap-erjapkan matanya lalu diam sejenak. Tapi setelah menyadari kalau ia masih memeluk Naruto dan Naruto yang sedang mengusap tangannya, Hinata langsung sadar. "E-eh? Sudah sampai ya?" Hinata langsung turun dari motor Naruto.
"Iya, kelihatannya kau capek ya?" Tanya Naruto untuk sekedar basa basi, sekaligus ia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk mengurangi kegugupannya.
"I-iya, ano… Arigatou sudah mengantarku pulang, Naruto-kun," jawab Hinata sekaligus berterimakasih. Ia menyunggingkan senyuman manisnya dan itu membuat Naruto kembali nyengir.
"Douitta," balas Naruto sambil nyengir. Hinata masih tersenyum, sebelum akhirnya…
Cklek
Tampak pintu rumah itu terbuka. Menampakkan sosok Neji Hyuuga yang sepertinya baru bangun tidur. Dan ketika melihat ada adik sepupunya bersama Naruto, ia langsung sadar. "Hinata-sama? Kenapa baru pulang?" Tanya Neji berusaha menutupi kekagetannya.
"Go-gomen, jalanan memang macet tadi," jawab Hinata sedikit was-was, takut kalau ayahnya ada di rumah.
"Oh," Neji ber'oh' ria. "Naruto, arigatou ya sudah mengantar adikku pulang," Neji berterimakasih untuk pertama kalinya setelah 3 tahun tak bertemu. Naruto hanya tersenyum menanggapinya, tapi wajahnya juga tampak was-was.
"Ano, Nii-san, apa Otou-san ada dirumah?" Tanya Hinata penasaran dan masih was-was.
Neji tersenyum simpul, "Tenang saja, Hiashi-sama barusan pergi ke Tokyo. Katanya ada urusan bisnis," jawabnya. Otomatis Naruto dan Hinata menghelus dada.
Naruto menoleh ke Hinata lagi, "Aku pamit pulang ya, Hinata-chan, Neji," ucapnya lalu menaiki motornya.
"Ngga mau mampir, Na-Naruto-kun?" Tanya Hinata sambil memainkan telunjuknya. Neji hanya melihat mereka sambil tersenyum.
"Lain kali saja ya, nanti Kaa-chan ku marah karena aku pulang telat," Naruto menolak secara halus. Ia menghidupkan motornya.
"Um, baiklah. Sekali lagi, arigatou sudah mengantarku," ucap Hinata tersenyum lagi.
"Douitta, Hinata-chan. Neji, aku pulang ya," balas Naruto lalu tersenyum. Ia pamit pada Neji dan Neji hanya mengangguk. Ia pun pergi dari rumah keluarga Hyuuga.
Hinata memperhatikan Naruto sampai pemuda itu hilang di tikungan. Lalu ia berjalan dan masuk ke dalam rumah. Neji hanya tersenyum melihat adik sepupunya itu sudah ceria lagi.
.
.
"Tadaima!" teriak Naruto ketika sampai di rumahnya. Tampak Minato dan Sara yang tengah menonton di ruang depan, sedangkan Kushina memasak di dapur.
Mendengar teriakkan Naruto yang bahagia itu, 3 orang yang tengah beraktivitas tadi kini menoleh ke arah Naruto. Mereka melihat Naruto yang masih senyum-senyum sendiri dan sekarang akan masuk ke kamarnya.
"Naruto, ganti pakaianmu dan ikut makan!" seru Kushina yang kembali berkutat dengan masakannya.
Minato masih bingung melihat ekspresi anaknya yang tidak biasa itu. Sedangkan Sara? Gadis berambut merah itu tidak peduli dan kembali menonton acara tv.
.
Naruto meletakkan tasnya di sembarang tempat dan segera merebahkan diri di tempat tidur. Senyum kebahagiaan itu masih belum hilang dari wajahnya. Ia sangat senang karena Hinata sudah memaafkannya, meski secara tidak langsung.
Naruto mengambil I pod miliknya yang tergeletak di sebelah tempat tidurnya. Lalu mencari lagu yang pas untuknya kemudian menghubungkannya dengan speaker kecil miliknya. Lagu berbahasa Thailand yang sudah diterjemahkan itu diputar dan Naruto mendengarkannya sambil tersenyum.
Mungkin lagu ini tidak terdengar merdu
Bagiku lagu ini sangat berarti
Setiap kata yang tertulis
Dari senyum yang kau berikan untukku
Mendorong pena ini untuk menulis
Dalam melodi yang kumainkan ini
Kamu tau hal yang akan kulakukan
Lagu yang kamu dengar, bukan aku yang menulisnya
Aku tidak berani mengungkapkannya, sayangku
Hanya dirimu seorang, ingatlah hanya dirimu
Lagu yang kamu dengar, bukan aku yang menulisnya
Aku tidak berani mengungkapkannya, sayangku
Hanya dirimu seorang, ingatlah hanya dirimu
Hanya kamu
"NARUTOOOOOOO~ BUKA PINTU DAN CEPAT MAKAN, BODOH!" teriak Kushina disela-sela Naruto mendengarkan lagu.
"Uh, iya, kaa-chan," jawab Naruto sambil mengusap telinganya. Ia segera ganti pakaiannya dan lagu yang ia dengarkan itu masih diputar. Naruto juga ikut menyanyikannya.
Apa kau tau, semua itu berkat karenamu
Lagu yang kamu dengar, bukan aku yang menulisnya
Aku tidak berani mengungkapkannya, sayangku
Hanya dirimu seorang, ingatlah hanya dirimu
Lagu yang kamu dengar, bukan aku yang menulisnya
Aku tidak berani mengungkapkannya, sayangku
Hanya dirimu seorang, ingatlah hanya dirimu
Hanya kamu
(Pleeng tee chun mai dai tang/Lagu yang tak pernah kutulis – The Arena version)
Naruto selesai mengganti pakaian. T-shirt putih polos dengan celana pendek. Setelah mematikan Ipod beserta speakernya, Naruto keluar dari kamar sebelum ibunya kembali berteriak menyuruhnya makan.
.
.
Hinata yang tengah makan malam bersama Hanabi dan Neji masih belum bisa menghilangkan senyumnya. Dari awal makan sampai sekarang, Hinata makan malam masih dengan tersenyum. Hanabi heran melihatnya, sedangkan Neji terlihat biasa saja karena sudah tahu.
"Nee-chan kenapa? Kok senyum-senyum terus daritadi?" tanya Hanabi heran.
"Ngga apa-apa kok, Hanabi-chan," jawab Hinata masih dengan senyumannya. "Aku sudah selesai, aku ke kamar ya," lanjutnya lalu meninggalkan ruang makan.
"He?" Hanabi masih tidak mengerti dengan jawaban kakaknya itu. Sedangkan Neji masih makan dengan tenang.
.
Hinata duduk di kursinya lalu menghidupkan laptopnya. Setelah itu Hinata membuka twitter nya. Tampaklah timeline beserta twit dari teman-temannya. Hinata ikut mengetik sesuatu disana.
"Arigatou ya 3" hanya itu yang ia ketik lalu menekan enter. Dan twit itu langsung muncul di timeline nya. Sementara itu Hinata mengambil music boxnya dan menyetel lagu yang pas untuknya.
Geureolri eobsdago anilkkeorago miteossjyo~ um
Naega geudae saranghandan imaldo andoejyo~ um
Gwaenchan jiltuilkkeorago naega oeroungabodago
Jashineul sokyeobwassjiman ije deoneun nan gamchulsuga eobsneungeolyo
I think I love you
Geureongabwayo
Cause I miss you
Geudaeman eobseumyeon
Nan amugeosdo moshago
Jakku saeng-gaknago
Ireongeol bomyeo amuraedo
I'm falling for you
Nan molrassjiman now I need you
Eoneusaenga nae mam gipeungose
Aju keuge jarijapeun geudaeui moseupeul ijen boayo
Tiba-tiba saat Hinata mengecek mention yang masuk, ada 1 mention baru. Hinata membukanya dan ternyata itu dari Ino.
"Hayo kok ada love nya? xP RT HinataHyuuga: Arigatou ya 3"
Hinata tersenyum melihatnya. Lalu ia mengetik balasannya.
"Memang kenapa? X) RT InoYamanaka: Hayo kok ada love nya? xP RT Hinata Hyuuga: Arigatou ya 3"
Urin aneoulrindago chingu geuge ttak johdago um
Hanabuteo yeolgae dodaeche mwo hangaerado majneunge eobsneunde
Eotteohgesagwil suissnyago maldoandwaeneun yaegirago
Malhamyeo dulreo daessjiman ijedeoneun nan geureogigashirheungeolyo
I think I love you
Geureongabwayo
Cause I miss you
Geudaeman eobseumyeon
Nan amugeosdo moshago
Jakkusaeng-gaknago
Ireongeol bomyeon amuraedo
I'm falling for you
Nan molrassjiman now I need you
Eoneusaenga nae mam gipeungose
Aju keuge jarijapeun geudaeui moseupeul ijen boayo
Saat Hinata asik mendengarkan lagu, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda sms. Hinata membukanya lalu melihat ada sms dari Sakura.
"Hayo, twit nya mencurigakan tuh. Telpon sekarang! XP"
Hinata mengetik balasannya, "Mau tau aja atau mau tau banget? Nanti ya :)" lalu ia mengirim pesan itu dan kembali memainkan laptopnya. Ada mention masuk lagi dari Ino.
"Kau ini buat penasaran. Telpon aku dan Sakura. Sekarang! XP RT HinataHyuuga: Memang kenapa? X) RT"
Hinata sampai tertawa membacanya. Lalu ia mengetik balasannya, "Iya bawel, aku telpon sekarang XP RT InoYamanaka: Kau ini buat penasaran. Telpon aku dan Sakura. Sekarang! XP RT"
Wae molrassjyo geudaeraneungeol woo
Wae mosbwassjyo baro apinde hoo ye
Geu dongan ireohge baro naegyeote isseossneunde
Wae ijeseoya sarangi boineungeoji hoo
I think I love you
Geureongabwayo
Cause I miss you
Geudaeman eobseumyeon
Nan amugeosdo moshago
Jakkusaeng-gaknao
Ireongeol bomyeon amuraedo
I'm falling for you
Nan molrassjiman now I need you
Eoneusaenga nae mam gipeungose
Aju keuge jarijapeun geudaeui moseupeul ijen boayo
(I Think I Love You - Byul)
Hinata menelpon Sakura dan Ino secara bersamaan. Tampak mereka mengobrol tentang twit Hinata yang terkesan misterius itu. Hinata menghidupkan loudspeaker agar suara Ino dan Sakura terdengar.
"Kau ini buat aku penasaran. Siapa sih dia?" tanya Ino penasaran.
"Mau tau aja atau mau tau banget?" Hinata malah balik bertanya.
"Ayolah, Hinata-chan. Kau ini jujur saja. Jangan-jangan dia... Naruto ya?" tanya Sakura penasaran juga.
Blush
"Kenapa nggak jawab? Pasti benar kan jawabanku?" Sakura menduga-duga kenapa Hinata tidak menjawab pertanyaannya.
"E-eh? I-Itu..." Mau bagaimana lagi, setiap mendengar nama cowo itu, Hinata pasti dibuat gugup dan wajahnya memerah.
"Ciye Hinata-chan, Ciye~" Ino malah men-ciye-ciyekan Hinata. Sakura tertawa mendengarnya.
"He-Hei, sudahlah," Hinata makin salah tingkah dibuatnya.
"Ehm, agaknya ada yang jatuh cinta lagi, ciyeeee~" balas Sakura lalu kembali men-ciye-ciyekan Hinata.
"Ciyeeee~" Ino masih bertahan dengan ciye-ciye nya.
Hinata diam saja. Benar kata Sakura, sepertinya ia jatuh cinta lagi dengan Naruto. Wajah memerah, kata-kata yang terbata, serta kegugupannya itu akan muncul jika mendengar nama Naruto.
Haah, dasar anak muda.
.
To be continued...
.
Chaki no Utau, Out~
