Naruto © Masashi Kishimoto
Summary: Semua yang hilang takkan sepenuhnya hilang. Bisa saja semua itu akan muncul lagi. Namun prosesnya tidak mudah. Mampukah Naruto dan Hinata mengembalikan kisah mereka?
Genre: Romance/Hurt/Comfort/Tragedy
Pairing: Naruto U./Hinata H.
Warning: AU, OOC, typo's, minim describe, bahasa kadang baku kadang nggak, ada selipan lagu etc
a/n: hai, chaki balik lagi ^^
oh ya chaki mau beritahu sesuatu tentang perubahan di fic ini. setelah chaki pikir, ternyata fic ini genrenya udah berubah. lebih ke romance dan hurt/comfort nya. sedangkan tragedy nya kurang kerasa. terus saat mikirin endingnya, malah berbeda dari pikiran pertama. tragedy nya hanya ada di chap tertentu
makanya chaki mengubah genre fic Kisah Kita dari Tragedy/Romance/Hurt/Comfort menjadi Romance/Hurt/Comfort/Tragedy. Di properties nya juga udah chaki ubah jadi Romance/Hurt/Comfort.
terus maaf ya kalau chaki apdet jam segini /lirikjam. habis tadi laptopnya dipake tou-san. dan maaf kalau isinya cuma sedikit, chaki juga udah ngantuk /alibi /duesh
oke, itu aja buat pemberitahuannya. chaki mulai aja ya fic nya, jangan lupa tinggalkan komentar yang membangun di sebuah kotak bernama review, oke?
Gak suka? Tinggal cancel/close kok repot :p
Chaki no Utau, In~
.
Kisah Kita
By: Chaki no Utau
Chapter 7: Cinta
.
Memang kejadian kemarin membuat jantung Hinata berdebar-debar dan perasaannya tak karuan. Ia bingung dengan perasaannya terhadap Naruto saat ini. Disatu sisi ia masih menyayangi Naruto, tapi disisi lain ia masih bingung harus bagaimana karena ayahnya masih melarang. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta itu datangnya tiba-tiba dan tak bisa ditolak. Seberapa besar kau menolak cinta, cinta itu bakalan mengejarmu sampai kau menerimanya.
Dan itu terjadi pada Hinata sekarang.
Hanya butuh waktu 1 hari untuk membuatnya kembali jatuh cinta pada Naruto. Hanya butuh 3 peristiwa untuk kembali jatuh cinta pada pemuda bermarga Namikaze-Uzumaki itu. Dan Hinata tak bisa menolak. Perasaan itu datang dan mengalir begitu saja. Ditambah lagi selama 3 bulan ini Hinata dan Naruto saling menjauh. Hinata juga sering melihat Naruto yang tertidur di taman belakang kampus. Ia juga pernah tak sengaja mendengar Naruto menyebut namanya. Dan ia sendiri juga akhir-akhir ini sering bermimpi tengah Naruto.
Dari ciri-ciri diatas, jelas sekali kalau Hinata benar-benar jatuh cinta dengan Naruto, bukan?
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian itu. Pagi telah menjelang. Biasanya orang-orang paling malas untuk bangun pagi. Karena mereka masih mengantuk dan berusaha untuk kembali ke alam mimpi. Tapi kenyataannya masih banyak orang yang rela meninggalkan kasur tercinta demi sebuah aktivitas yang sudah menanti. Matahari juga sudah mulai meninggi. Jam sudah menunjukkan pukul 9. Ini berarti waktunya Hinata untuk menjalani bimbingan bersama Ryuuzetsu, kakak tingkatnya.
Setelah turun dari mobilnya, Hinata berlari menyusuri lorong kampus untuk menuju tempat bimbingannya, perpustakaan. Hinata sedikit kelelahan karena jaraknya cukup jauh dan di sekitarnya juga lagi ramai karena ada pertandingan basket antara mahasiswa tingkat 1 dan tingkat 3. Ditambah lagi ia sudah dikejar waktu. Jadi Hinata terus berlari agar tidak membuat Ryuuzetsu menunggu.
Tapi saat ia berlari, Hinata malah terjatuh dan menabrak seseorang.
"Aduh!" pekiknya sedikit kesakitan. Buku-buku yang sempat ia pegang kini berserakan di lantai.
"Gomen, nggak sengaja," jawab orang itu dan membantu Hinata mengambil buku. Dan disaat itulah Hinata menyadari, tangan orang itu tidak asing dengannya. Kulit berwarna tan dan memakai gelang lambang Uzumaki. Hinata mendongak dan sedikit kaget.
"Na-Naruto-kun?" tanya Hinata sedikit kaget.
"Oh, ternyata kamu ya, Hinata-chan," jawab Naruto lalu tersenyum, membuat wajah Hinata memerah seketika.
Naruto membantu Hinata berdiri. Lalu ia berjalan sambil membawa buku-buku milik Hinata di tangannya. "Jadi buku-buku ini mau kamu bawa kemana?" tanya Naruto sembari berjalan.
"E-eh? Nggak usah repot-repot. A-aku mau ke perpustakaan," jawab Hinata sedikit salting dan membuang muka melihat lapangan basket yang dipadati para mahasiswa.
"Aku juga mau kesana. Nggak apa-apa kok. Kita kesana sama-sama ya," ajak Naruto sambil tersenyum.
"E-eh, baiklah." jawab Hinata gugup lalu ikut berjalan bersama Naruto menuju perpustakaan.
.
.
.
Mereka berdua sudah sampai di perpustakaan. Tampak Deidara yang tengah duduk di kursi dekat pintu, sedangkan Ryuuzetsu di dekat rak buku pertama. Naruto memberikan buku-buku tadi pada Hinata dan permisi karena Deidara sudah mengoceh. Sedangkan Hinata? Ia langsung menghembuskan nafas tanda ia lega dan membentuk senyum di bibirnya. Saking senangnya, ia hampir lupa kalau Ryuuzetsu menunggunya dan ia pun langsung berlari ke tempat Ryuuzetsu.
"Kemana saja kau?" tanya Ryuuzetsu dingin begitu Hinata sampai. "Terlambat 15 menit." lanjutnya lagi tanpa menoleh adik tingkatnya itu.
"Go-gomen ne, senpai. Tadi didepan ramai, jadi susah buat lari," jawab Hinata dengan rasa bersalah. Ia duduk didepan Ryuuzetsu dan tak bisa menebak ekspresi kakak tingkatnya saat ini.
"Alasan. Ya sudah, cepat buka bukumu dan kita mulai bimbingannya. Aku nggak punya waktu." ujar Ryuuzetsu lalu menatap Hinata dingin. Hinata menunduk lalu membuka salah satu bukunya dan memulai bimbingannya bersama Ryuuzetsu.
Sepanjang bimbingannya bersama Deidara, Naruto tidak berkonsentrasi satupun. Ia melihat Hinata yang masih fokus mendengarkan penjelasan Ryuuzetsu. Ia masih terpana melihat Hinata yang sekarang sedang mengerjakan satu soal dari Ryuuzetsu. Konsentrasi Hinata sedikit terganggu karena rambutnya bandel menutupi mata kirinya. Ia menyelipkan rambut itu ke telinga kirinya dan kembali mengerjakan soal dari Ryuuzetsu. Naruto sedikit tertawa melihat tingkah Hinata yang seperti itu. Tak pernah berubah, pikirnya. Dan saat ini Naruto belum bisa melepaskan pandangan matanya terhadap sosok gadis yang masih menjadi pusat perhatiannya.
"Pembagian sistem 240-line akademis sebagai rasio scan ditentukan sepenuhnya oleh pembangunan sistem scanning mekanik yang digunakan dengan kamera yang digunakan dengan sistem transmisi. Pembagian rasio meskipun relevan dengan CRT berbasis sistem sebagian besar akademis saat ini karena yang modern LCD dan layar plasma tidak dibatasi untuk memiliki pemindaian dalam rasio yang tepat. Sistem definisi tinggi 1080p membutuhkan 1.126-garis di layar CRT." Deidara tengah membacakan materi mengenai sistem baris 405 dari sebuah buku tebal yang ia miliki. Ia melihat adik tingkatnya itu menoleh ke arah lain dan sudah jelas tidak mendengarkannya. "Namikaze Naruto!"
Dan Naruto masih tak mendengar panggilan Deidara, meski Deidara sudah sedikit berteriak dan membuat para penghuni perpustakaan berdesis menyuruhnya jangan berisik. Kedut-kedut kekesalan makin terlihat jelas di kepalanya dan Deidara sudah tak sabar.
"NAMIKAZE NARUTO! PERCUMA AKU MENJELASKAN SAMPAI MULUT BERBUSA KALAU KAU MASIH NGGAK MENDENGARKAN AKU, BODOH!" bentak Deidara dengan emosi serta aura kemarahan yang mencuat keluar. Otomatis Naruto menoleh dan mendapatkan Deidara tengah memberinya tatapan mengerikan.
"SSST!" para penghuni perpustakaan makin kesal mendengar teriakan Deidara. Naruto ketawa hambar lalu mengalihkan pandangan pada buku-buku yang sudah menggunung dihadapannya. "N-Nii-chan, tenang. A-aku akan dengar kok," pinta Naruto dengan suara pelan.
Deidara tidak berkomentar apapun. Pipinya menggembung sejenak lalu ia kembali menjelaskan materi yang sempat tertunda. Naruto memilih untuk mendengarkan daripada harus diteriaki seperti tadi.
Hinata menoleh ketika situasi sudah mulai tenang. Melihat Naruto yang kini tengah fokus dengan bimbingannya bersama Deidara. Walaupun tadi ia sempat terganggu, tapi Hinata tersenyum pada pemuda itu. Ia jadi tau kalau sedari tadi Naruto meperhatikannya. Dan sekarang, malah ia yang gantian memperhatikan Naruto.
"Hinata," panggilan Ryuuzetsu itu cukup membuat Hinata kembali sadar.
"H-ha'i, senpai," jawab Hinata dan kembali mengerjakan soal yang diberikan Ryuuzetsu.
.
.
.
Bimbingan sudah selesai. Deidara sudah pergi dari perpustakaan. Sedangkan Ryuuzetsu masih mengatakan sesuatu pada Hinata. Membuat Naruto harus menunggu lagi untuk segera berbicara dengan Hinata.
Naruto memilih untuk tetap di bangkunya setelah ia mengambil majalah kampus. Ia membacanya sejenak dan ia malah kurang tertarik dengan bacaan yang terkesan monoton dan membosankan itu. Ia menoleh lagi ke tempat Hinata dan ternyata Ryuuzetsu belum pergi dari sana. Naruto berdecih sebal, tapi ia mesti sabar, karena kalau tidak Ryuuzetsu bakalan mengultimatumnya lagi.
5 menit berlalu, Naruto menoleh lagi dan Ryuuzetsu masih disana. Naruto masih bisa tahan.
15 menit kemudian, Naruto menoleh lagi dan Ryuuzetsu masih disana. Naruto masih bisa tahan.
30 menit kemudian, Naruto menoleh lagi dan Ryuuzetsu masih disana. Naruto mulai tidak tahan tapi masih mencoba bersabar.
50 menit kemudian, Naruto menoleh lagi dan Ryuuzetsu masih disana. Naruto makin tidak tahan tapi masih mencoba bersabar.
1 jam kemudian, Naruto menoleh lagi dan akhirnya Ryuuzetsu pergi dari tempat Hinata. Naruto sangat senang lalu merapihkan buku-buku miliknya, memasukkanya dalam tas dan berjalan menuju tempat Hinata.
"Hinata-chan," panggil Naruto enteng. Ia melihat Hinata masih membaca buku-bukunya sambil mengerjakan tugas yang diberikan Ryuuzetsu di kertas selembar.
"Hm?" tanya Hinata tanpa menoleh.
"Sekarang sudah masuk waktu makan siang, makan siang bareng yuk," ajaknya dengan pede berlebihan.
"Aku masih ada tugas," tolak Hinata masih tidak menoleh. Padahal ia tidak tahu kalau itu Naruto.
"He? Baiklah," Naruto sedikit kaget tapi mau bagaimana lagi. Ia tak mau mengganggu Hinata dan segera pergi dari perpustakaan.
Hinata menoleh dan baru menyadari kalau Naruto lah yang mengajaknya makan siang bareng. Ia menepuk keningnya karena telah bertingkah bodoh. "Baka, kenapa aku menolak ajakannya. Huh." decihnya sebal tapi mau bagaimana lagi. Ryuuzetsu bilang, seusai jam makan siang, tugas itu harus dikumpulkan padanya. Jadi mau tak mau Hinata mengikhlaskan ajakan Naruto yang sudah ia tolak tadi.
Kantin Konoha University sudah dipadati banyak mahasiswa yang sedang menikmati makan siang mereka. Ada juga yang hanya duduk-duduk sambil laptopan menikmati Wi-Fi yang tersedia di kampus ini. Ada juga yang hanya sekedar mengobrol dan berkumpul. Tapi yang jelas, hampir kursi yang ada disana sudah dipenuhi dan tak tersisa.
"Cih, gimana aku bisa makan kalau kursinya nggak ada yang kosong," decih Naruto sebal ketika sudah menerima ramen yang ia pesan. Naruto memicingkan mata, berusaha mencari tempat yang kosong dan akhirnya ia melihat Sasuke yang tengah makan dengan Sakura di meja nomor 8. Tanpa ragu, Naruto berjalan menghampiri mereka.
"Hai Teme, hai Sakura-chan," sapa Naruto lalu duduk tanpa permisi disamping Sasuke. Membuat pemuda berambut raven itu menoleh dengan tatapan sebal.
"Ngapain kau disini? Mengganggu saja," jawab Sasuke dengan angkuhnya. Sedangkan Sakura masih menyeruput ice tea miliknya.
"Tempatnya pada penuh, tapi tadi aku melihatmu disini. Jadi nggak apa-apa 'kan kalau aku numpang makan disini?" Naruto membuat alasan aneh dan setelah nyengir ia memakan ramennya dengan semangat.
"Kau kenapa, Naruto? Nggak biasanya," tanya Sakura yang sejenak menghentikan aktivitas meminumnya, melihat Naruto yang tengah makan dengan semangat.
"Nggak apa-apa," jawab Naruto singkat lalu kembali menelan ramennya. "Aku lagi senang," lanjutnya lagi.
"Hn, tumben, kemarin galau, sekarang senang. Dasar labil," sahut Sasuke sambil meminum jus tomatnya.
"Kau itu nggak bisa apa buat aku nggak kesal sehari saja, hah?" Naruto yang sudah selesai memakan ramennya, menoleh dengan tatapan kesal pada Sasuke. Mereka pun berdeath glare ria, sampai akhirnya Sakura turun tangan.
"Sudahlah, nggak usah tatapan ala sesama jenis gitu. Mana Hinata-chan?" ucap Sakura dengan entengnya dan membuat Sasuke serta Naruto langsung menjauh.
"Hiih, kau ini. Hinata masih diperpustakaan, lagi kerjain tugas dari kakak pembimbingnya itu," jawab Naruto setelah melepaskan tatapan kesalnya dan beralih menjawab pertanyaan Sakura. "Padahal tadi aku mau mengajaknya makan siang, tapi melihatnya sangat serius, aku jadi nggak tega," lanjutnya lalu kembali makan.
"Ho, berarti benar dong cerita Hinata semalam," seru Sakura lalu tertawa nggak jelas.
"Cerita apa?" tanya Naruto yang mendengarnya dan penasaran.
"Eh, mau tau saja. Oh ya, Sasuke-kun, aku ke perpustakaan ya." jawab Sakura lalu pamit pada Sasuke dan meninggalkan 2 sahabatnya itu.
"Dasar wanita," sebal Naruto. "Oh ya, Teme. 3 hari lagi 'kan reunian di KHS. Katanya mau latihan buat lagu yang mau dibawain disana?" tanya Naruto pada Sasuke yang sudah menghabiskan jus tomatnya.
"Iya, nanti habis kita kuliah, kita langsung ke studio buat lagu itu," jawab Sasuke dengan tenangnya. "Karena lagunya bergenre cinta, jadi kau harus bisa menyanyikannya dengan sempurna, dobe. Jangan buat malu band kita," lanjutnya sekaligus memperingati Naruto dan segera pergi dari kantin.
"Hah? Bahkan aku belum mendengar lagunya. Teme, tunggu!" Naruto kaget dan segera menyusul Sasuke yang sudah sedikit jauh dari kantin.
.
.
.
"Akhirnya selesai juga, sekarang tinggal kumpulin ke Ryuuzetsu-senpai," gumam Hinata setelah sukses menyelesaikan tugasnya. Jam makan siang sudah usai dan ia melihat jam tangannya. Sebentar lagi akan ada kelas Kakashi-sensei. Ia segera merapihkan buku-bukunya lalu memasukkannya sebagian kedalam tasnya dan sisanya ia bawa sambil berjalan meninggalkan perpustakaan.
"Hinata-chan!" seru seseorang memanggil Hinata sambil berlari. Hinata menoleh dan mendapati Sakura mengejarnya. Hinata pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Hinata heran.
"Kenapa kau menolak ajakan Naruto? Tadi dia sempat cerita loh sama aku dan Sasuke-kun," tanya Sakura balik sambil mengambil alih sebagian buku yang Hinata pegang dan berjalan bersama Hinata.
"Eh, tadi aku nggak tau kalau dia yang ajak aku makan siang bareng, serius," jawab Hinata sedikit salah tingkah.
"Ho, kau ini. Makanya jangan terlalu serius, padahal tadi Naruto sudah mulai mendekatimu 'kan," ejek Sakura lalu tertawa.
Blush
"Sa-Sakura-chan," sebal Hinata dengan wajah memerah. Sakura yang ada disebelahnya kembali tertawa.
"Hahaha, baiklah. Jadi kau mau mengumpulkan tugas ini pada Ryuuzetsu-senpai?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Iya," jawab Hinata lalu ia melihat Ryuuzetsu tengah duduk didepan laboratorium dan langsung memberi tugasnya pada Ryuuzetsu. Setelah itu ia kembali berjalan bersama Sakura. "Oh ya, Sakura-chan. 3 hari lagi ada reuni di KHS ya?" tanya Hinata baru ingat.
"Iya, nanti bakalan ada reuni untuk angkatan kita. Kamu datang 'kan?" tanya Sakura sembari berjalan bersama Hinata.
"Iya, aku bakalan datang kok," jawab Hinata sekedarnya.
"Oh ya, nanti Naruto dan band nya bakalan nyanyi loh. Kudengar dari Sasuke, lagu yang nanti mereka bawakan spesial untuk orang yang lagi kasmaran sepertimu loh, Hinata-chan," balas Sakura lalu terkekeh geli.
Blush
"Sa-Sakura-chan!" kali ini Hinata makin salah tingkah. Wajahnya semakin memerah dan sudah serupa dengan warna tomat kesukaan Sasuke. Sakura makin terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya ini.
"Hahaha, iya-iya," Sakura mengalah kemudian ia mengalihkan topik pembicaraan sembari berjalan bersama Hinata menuju kelas Kakashi-sensei.
Tak terasa sore telah tiba. Matahari sudah mulai menurun. Rata-rata aktivitas di Konoha University sudah berakhir. Sudah banyak mahasiswa yang memadati parkiran maupun yang masih menunggu di lorong kampus. Tapi ada juga yang masuk lagi untuk menjalani kuliah malam.
Sesuai janji dengan teman-temannya, Naruto dan Sasuke segera keluar setelah menjalani mata kuliah terakhir hari ini. Mereka berjalan menuju parkiran, dimana Kiba serta Shikamaru sudah menunggu disana.
"Hoi, lama banget keluarnya. Keburu ramai nih studionya," seru Kiba begitu melihat Naruto dan Sasuke yang sudah tiba.
"Gomen, tadi ada ujian dadakan," jawab Naruto dan Sasuke hanya mengangguk setuju.
"Baiklah, tuan-tuan. Sekarang cepetan kita ke studio," sahut Shikamaru sambil menguap.
Mereka setuju lalu mengambil kendaraan masing-masing. Setelah itu mereka mengobrol bersama dan akhirnya pergi bersama menuju studio band.
.
.
.
Studio band milik keluarga Inuzuka itu sudah dipadati dengan para musisi yang ingin berlatih. Naruto dan kawan-kawan memasuki studio itu lalu segera naik ke lantai atas, dimana studio pribadi Kiba ada disana.
"Kata Sasuke lagu yang bakalan kita bawain bernuansa cinta, sedangkan aku belum mendengarnya sama sekali," sahut Naruto yang sudah duduk di kursi, sedangkan teman-temannya yang lain tengah check sound.
"Hehe, gomen belum ngasih tau. Nih, cari saja lagunya disini. Judulnya Takaramono ya," jawab Kiba lalu memberikan ponsel beserta earphone dan kertas berisi liriknya. Naruto menerimanya lalu mengetik judul lagu itu dan segera menyetelnya.
kimi ga shinu toki wa boku no iki mo tomete yo
Saat kau mati nafasku pun berhenti
doushite? sore wa DAME yo
Mengapa? Itu tak boleh terjadi
kimi wa komatta kao wo shita
kau berkata dengan wajah cemas
aijou tte iu no wa katachi no nai you dakedo
Cinta itu, meski tak berbentuk
hontou wa takusan no
sebenarnya,
HINTO wo nokoshite iru
cinta menyimpan banyak petunjuk
kawaranai egao de kurasou
Hiduplah dengan senyum yang tak berubah
kujikete mo ii kara waraou
Terluka pun tak apa- apa, tersenyumlah
kimi ga inai sekai nante
Dunia tanpamu
boku ni totte wa imi ga nai
bagiku tak berarti,
dakedo kimi wa itsumo no you ni
tetapi kau dengan lembut menasihatiku
yasashiku shikatte kureru
seperti yang dulu sering kau lakukan
'Lagunya menarik,' batin Naruto setelah mendengar reff pertama dari lagu itu. Ditambah lagi liriknya memang sesuai dengan apa yang ia alami saat ini, meski lagu ini dibawakan oleh YUI. Ia kembali berkonsentrasi dan ikut menyanyikan lagu tersebut.
ashita moshi sekai ga owatte shimau to shitara
Esok, jika dunia ini terlanjur berakhir
aisuru hito ni naritai
Ku ingin dicintai
arigatou tte tsutaetai
dan kan kusampaikan terima kasih
aishikata mo wasurete shimaisou
Walaupun ku telah lupa cara mencinta,
dakedo kimi no soba ni itai yo
tapi aku ingin tetap berada di sisimu
kimi ga moshi boku wo kirai ni natte mo
Meski suatu saat kau membenciku
kono omoi wa kienai yo
perasaan ini takkan hilang
kotoba ja tsutaekirenai hodo
Rasa ini terus mengalir
omoi wa afurete iru yo
hingga tak dapat diungkapkan dengan kata-kata
memeshii boku no me wo mitsumete
Ku akan terus mencintaimu
akireta you na kao wo shita
yang selalu menatap mataku yang tersipu malu
kimi wo zutto aishiteku yo
dengan wajah terkejutmu
kimi wa boku no takaramono
Kau adalah hartaku yang berharga
Naruto makin tertarik dengan lagu ini. Ia sedang menyanyikannya. Kiba, Sasuke serta Shikamaru yang mendengarnya hanya tersenyum, mengingat kerja mereka berhasil.
moshi watashi ga inakunatte mo
Jika suatu saat aku tiada
chanto ikite yuku no yo
kau harus tetap hidup...
(Takaramono - Flower Flower acoustic version)
.
.
"Keren!" seru Naruto setelah menyanyikan lagu itu secara keseluruhan. "Jadi nadanya gimana? Apa sama atau beda?" tanya Naruto berapi-api.
"Santai, kawan. Nadanya udah ketemu tadi. Jadi hari ini kita latihan dulu buat nyesuain nadanya sama suaramu ya," jawab Kiba tersenyum senang.
"Oke, mari kita mulai!"
.
To be continued...
.
Chaki no Utau, Out~
