Naruto © Masashi Kishimoto

Summary: Semua yang hilang takkan sepenuhnya hilang. Bisa saja semua itu akan muncul lagi. Namun prosesnya tidak mudah. Mampukah Naruto dan Hinata mengembalikan kisah mereka?

Genre: Romance/Hurt/Comfort/Tragedy

Pairing: Naruto U./Hinata H.

Warning: AU, OOC, typo's, minim describe, bahasa kadang baku kadang nggak, ada selipan lagu etc

Chaki no Utau, In~

.

Kisah Kita

By : Chaki no Utau

Chapter 8: Keinginan

.

8.30 AM...

Perpustakaan Konoha University tidak pernah sepi dari pengunjung. Banyak mahasiswa yang mendatangi tempat paling penting ini. Apalagi karena ujian praktikum pertama sudah semakin dekat. Mayoritas yang ke perpustakaan juga mahasiswa fakultas komunikasi dan fakultas kedokteran.

"Komposisi obatnya harus pas. Antara alkohol, parasetamol dan zat-zat lain harus seimbang. Sebenarnya materi ini akan lebih dalam dikasih sama Anko-sensei, tapi sepertinya di UPP nanti kau akan mendapatkan soal ini, jadi aku hanya kasih dasarnya agar kau mengerti lebih dulu." Ryuuzetsu tengah menjelaskan materi selanjutnya mengenai dosis obat. Membaca buku besar nan tebal yang sering dibawanya. Lalu menoleh ke arah Hinata yang tengah melamun, entah mendengarkan atau tidak. "Hinata,"

"A-ah, go-gomen," Hinata tersadar dari lamunannya. Pemikirannya mengenai kejadian 3 hari lalu masih terngiang di kepalanya. Entah kenapa ia belum bisa menghilangkan Naruto dari pikirannya.

Sebenarnya Ryuuzetsu tak terlalu peduli, tapi lama kelamaan ia juga penasaran. Apa alasan dibalik sikap Hinata yang akhir-akhir ini sering melamun dan tersenyum sendiri. "Sebenarnya aku ngga terlalu peduli, tapi lama-kelamaan aku juga penasaran. Kau kenapa, Hinata?" Tanyanya setelah menutup buku materi yang ia baca tadi.

"E-eh?" Hinata bingung mendengar pertanyaan Ryuuzetsu. Baru pertama kali ini Ryuuzetsu menanyakan urusan pribadinya selama bimbingan. Biasanya gadis berambut putih itu hanya membicarakan materi ujian padanya.

"Santai saja. Aku hanya penasaran, akhir-akhir ini kau selalu senyam-senyum sendiri. Gara-gara dia ya?" Tanya Ryuuzetsu sekali lagi kemudian menunjuk Naruto yang tengah mendengarkan penjelasan dari Deidara.

Blush

"E-eh? Ke-kenapa senpai bisa tau?" Tanya Hinata kaget dan makin bingung.

Ryuuzetsu tersenyum tipis. "Hm, si bodoh itu adik kelasku selama les bahasa inggris saat SMA dulu. Dan aku tau kalau kau dulu pacaran dengannya karena dia sering menceritakanmu," jawabnya enteng.

"E-eh? Ke-kenapa dulu Na-Naruto-kun nggak cerita padaku?" Gumam Hinata masih bingung. "A-ano senpai, tapi dulu aku juga les bahasa inggris di tempat yang sama dengan Na-Naruto-kun, tapi aku ngga pernah liat senpai," tanya Hinata heran.

"Hah, tentu saja kau tak pernah melihatku. Aku les hanya hari senin dan sabtu. Aku sekelas dengan Naruto di hari sabtu," jawab Ryuuzetsu santai.

"O-oh begitu," Hinata mengangguk mengerti karena ia dulu hanya sekelas dengan Naruto pada hari senin. Tapi tiba-tiba ia mendongak. "E-eh? Jangan-jangan senpai yang dibilang Na-Naruto-kun selalu mendapat juara dalam lomba debat, ya?" Tanya Hinata lagi.

"Begitulah," Ryuuzetsu menanggapi sekedarnya. "Nah, sekarang kau jawab pertanyaanku. Kenapa kau tersenyum akhir-akhir ini?"

Hinata memainkan jarinya. "A-aku hanya senang karena a-aku sudah berbaikan dengan Na-Naruto-kun,"

"Hm," Ryuuzetsu tersenyum, beda dari yang tadi. "Aku dengar kalian putus karena ayahmu nggak suka dengan Naruto ya?"

"Iya, tapi aku sekarang lebih senang karena setidaknya aku bisa memulainya dari awal lagi,"

"Naruto bodoh, tapi bisa puitis. Hinata pemalu, tapi setia. Kalian memang pasangan unik." Ucap Ryuuzetsu tiba-tiba.

"Se-senpai," Hinata malah lebih malu mendengarnya.

"Haha, sudahlah. Kalau begitu aku pergi dulu ya," Ryuuzetsu pergi dari perpustakaan. Hinata hanya tersenyum karena dibalik wajah Ryuuzetsu yang jutek, ternyata dia baik juga.

.

"Mou, Nii-chan!" Lain dengan dua wanita yang duduk di pojokan, sudut cerita tertuju pada dua lelaki berambut kuning dengan style berbeda. Naruto tengah mengaduh kesakitan karena dijitak dua kali. Kalau ditanya mengapa, itu karena Naruto kembali salah mengerjakan soal yang diberikan pembimbingnya itu.

"Baka! Soal begini saja tidak bisa jawab." Deidara lama-lama emosi juga dengan lemot nya Naruto. "Kau masih semester satu tapi sudah begini, yakin mau lanjut di komunikasi?" Bahasanya cukup kasar, tapi ini yang harus Deidara lakukan agar Naruto mau berusaha.

"Tentu saja aku mau lanjut!" Naruto tak sengaja menggebrak meja, yang menimbulkan banyak pasang mata di perpustakaan mengarah padanya sinis. "E-ehehe," ia tertawa sesudahnya.

"Haah..." Deidara mau pundung rasanya. Baru beberapa hari membimbing Naruto, tapi dia tidak tahu harus bagaimana caranya. Sepupu jauhnya itu bisa dikatakan idiot, yang membuat Deidara tak habis pikir kenapa Naruto bisa masuk Konoha University.

Di lain sisi Naruto sudah tidak mau belajar hari ini. Rasanya kepulan asap keluar dari kepalanya seiring dengan otaknya yang tidak mau memikirkan berbagai pembahasan ujian tahun lalu. Naruto mau kabur, tapi Deidara bisa membunuhnya di tempat kalau dia melakukan itu.

Tanpa memperdulikan ceramah sang kakak tingkat, Naruto menoleh ke lain arah. Safir birunya langsung menangkap sosok gadis yang sangat tak asing baginya, sedang membaca buku dengan serius. Perlahan, garis bibirnya membentuk senyum. Bahkan lebih berkembang lagi ketika gadis itu nampak membenarkan helai-helai rambut yang cukup mengganggu.

Hinata, mahasiswi jurusan kedokteran itu masih menjadi perempuan paling indah di mata Naruto. Tiga tahun harus terpisah, saat pertama bertemu kembali sempat terjadi salah paham, namun pelan tapi pasti kesalahpahaman itu terkikis. Tiga hari lalu ketika Naruto tak sengaja menabrak Hinata, sudah menjadi awal dari semua keinginan yang terkubur dalam-dalam. Keinginan untuk apa? Tentu saja untuk membuat Naruto dan Hinata menjadi NaruHina, menjadi pasangan kekasih kembali.

"Ya sudahlah, aku capek dikacangi." Kalimat yang tiba-tiba keluar dari mulut Deidara segera menghentikan aktivitasnya. Naruto melihat wajah masam Deidara yang sangat tidak ia sukai; karena itu berarti Deidara bisa saja mengadukan apa yang terjadi hari ini pada Namikaze Kushina, ibunya. "Besok saja kita lanjutkan, aku sudah tidak mood."

"E-eeeh! Ayo lanjutkan saja, Nii-chan!" Naruto langsung mengambil satu dari tiga buku tebal tentang komunikasi bisnis milik sang pembimbing. "Nii-chan tidak mau melihatku kembali bodoh seperti SMA dulu 'kan?" Naruto memasang cengiran lebarnya meski ia tak yakin bisa meluluhkan kepundungan Deidara.

Deidara manyun, sejujurnya dia ingin pulang sekarang. Apalagi tingkah Naruto sangat meragukan setelah Deidara menyerah barusan. "Haaa?"

"Ayolah, Nii-chan! Ayo bantu aku, kumohooooon!" Naruto kini mengeluarkan puppy eyes andalannya. Pose nya sekarang sudah seperti anak kecil yang sedang memohon ingin dibelikan es balon.

Lelaki dengan rambut panjang kuning itu mendengus sebal. "Ya sudah, tapi sampai kau tak bisa mengerjakan soal dariku lagi, akan kulaporkan pada Kushi—"

"SIAP, PAK BOS!" Saking semangatnya sampai tidak sadar lagi. Naruto kembali dapat tatapan mengerikan dari penghuni perpustakaan. Deidara hanya geleng-geleng, meletakkan buku yang sempat diangkatnya untuk kembali melanjutkan tugas.

"...ganbatte," Dari bangku lain, Hinata berbisik. Melihat bagaimana Naruto ingin sekali belajar mengingatkannya dengan memori lama. Gadis itu tersenyum, berharap yang terbaik bagi lelaki yang kini mengisi hatinya lagi.

.

12.30 PM...

Jam istirahat sudah dimulai dari 30 menit lalu. Naasnya, Naruto baru keluar dari perpustakaan dengan rambut lebih berantakan dan wajah tidak punya semangat hidup. Memang begitu adanya karena dia capek berpikir. Memaksakan diri untuk belajar rupanya bukan hal yang bagus.

"Astaga, Naruto. Kau memang tidak cocok jadi seorang yang jenius, ya." Ejekan demi ejekan tidak berhenti. Kiba, Chouji, bahkan Shikamaru dan Sasuke tidak bisa berhenti tertawa.

"Diam, kalian. Aku lapar sekarang." Naruto menjawab dengan nada ketus. Ia meraih ramen instan yang sudah diisi dengan air panas. Dia duduk diantara empat lelaki yang sedari tadi menunggunya. "Kalau aku tidak begitu, Deidara-nii akan mengadu ke kaa-chan. Aku tidak mau diberi senyuman maut saat pulang tahu!" Naruto bersungut ria, gantian ia pundung.

Kiba menepuk pundak Naruto, memberikan senyuman prihatin yang sebenarnya senyuman mengejek. "Aku turut berduka, Naruto. Tapi ini lucu sekali, hahahaha!"

"Urusai!" Naruto lama-lama jadi jengkel. Belum lima menit duduk tapi yang didapatkannya ejekan tanpa henti. Maka dari itu Naruto memutuskan beranjak dari kursi untuk pindah ke kursi lain.

Tapi satu hal yang dia tak sadari. Saat Naruto pindah kursi itu, rupanya sosok disebelahnya menoleh tiba-tiba. Lantas Naruto ikut menoleh dan...

BRUK! Dia terjatuh dari kursi dengan posisi sangat tidak elit; tubuhnya terjatuh ke belakang dengan kepala terpentuk lantai saat jatuh dan kedua kaki terangkat.

"Na-Naruto-kun!"

Suara itu... Naruto tidak percaya. Apakah itu Hinata?

"Na-Naruto-kun, daijoubu?"

'Oh, tidak.' Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat. Wajahnya pun memanas. Pandangannya sampai buram. Kenapa jadi mirip Hinata saat kecil, ya?

Sampai akhirnya Naruto sadar dengan keadaan, plus dia melihat tangan putih milik Hinata terulur padanya. Raut wajah khawatir jelas terlihat dari wajah cantik Hinata.

"A-arigatou," lelaki itu menerima uluran tersebut, yang tanpa sadar menimbulkan keheranan di kalangan mahasiswa.

Hinata mengangguk pelan, "Apa kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan yang sangat dirindukan Naruto setelah tiga tahun lamanya. Tidak menyangka dengan kejadian cukup memalukan tadi dapat membuat Hinata khawatir begini. Apakah ini mimpi?

"U-un, aku baik-baik saja." Naruto tersenyum tipis. Debaran jantungnya belum normal. "H-Hinata-chan," kalimat yang ingin diucapkannya malah nyangkut di tenggorokan. Disaat seperti ini, memalukan memang.

"A-ano..." ternyata Hinata juga ingin mengatakan sesuatu. "T-tangan..." suara kecil khas Hinata yang malu-malu, tapi Naruto sadar akan hal itu. Dia segera melepas tangannya yang sempat bergenggaman dengan Hinata. Pertama kali setelah 3 tahun!

"G-gomen!" Naruto langsung meminta maaf.

"I-iie." Hinata menjawab dengan pelan.

Suasana canggung jadinya menyelimuti mereka berdua. Naruto memutuskan tetap duduk di sebelah Hinata, meski dia jelas sekali mendengar si menyebalkan Inuzuka itu siul-siul. Naruto dan Hinata kembali menyantap makan siangnya. Tapi baik Naruto dan Hinata, merasakan sensasi menggelitik seperti kupu-kupu yang terbang di perut masing-masing, dibalik wajah mereka yang sama-sama sangat memerah.

Hingga menu makan siang yang disantap telah habis, Naruto dan Hinata tidak berbicara lagi. Kedua insan itu selesai meneguk air putih lalu keheningan kembali tercipta. Omong-omong, di sekitar kantin sudah sepi. Teman-teman mereka pamit pergi duluan juga karena ingin memberikan Naruto dan Hinata waktu berdua.

"Hinata-chan." Memberanikan diri, Naruto akhirnya memanggil nama kecil sang gadis. Yang dipanggil perlahan menoleh dengan semburat merah yang sangat kentara. Cantik, itulah yang lewat di otak Naruto.

"A-ada apa, Na-Naruto-kun?" Suara lembut itu sangat dirindukan Naruto. Suara gagap namun terdengar lembut dan menarik perhatiannya, sudah lama sekali tidak dia dengarkan di jarak yang cukup dekat ini.

Naruto menelan ludah. Sial, disaat penting begini dia bingung lagi mau bicara apa. Sudah dapat kesempatan yang bagus tentu tak ingin dilewatkannya. Tapi Kami-sama nampaknya sedang jahil atau sengaja memberikan waktu lebih lama?

"A-aku..." Naruto tak bisa menghindar dari bola mata lavender Hinata yang menatapnya. Tatapan malu-malu serta rona merah di kedua pipi itu sangat menggemaskan.

"I-iya...?"

Ah, Kami-sama! Naruto di dalam hati frustrasi. Kenapa dia tidak bisa ngomong, sih?!

"Na-Naruto-kun?" Lagi, Hinata memanggil namanya. Naruto menelan ludah sekali lagi. Butuh berapa menit lagi agar kata yang ingin diucapkannya keluar dengan mudah?

Di lain sisi, suasana canggung ini cukup mengganggu. Hinata yang tadinya malu-malu jadi penasaran. Ada apa dengan Naruto? Sudah hampir 5 menit tapi lelaki itu belum mengatakan apapun?

"Hi-Hinata-chan, aku..." Lagi, Naruto berhenti berbicara. Raut wajahnya malah yang memerah, padahal Hinata menatapnya sudah heran sekarang.

"Na-Naruto-kun, kamu ingin bilang sesuatu?" Hinata sampai bertanya begitu, lho. Baka Naruto!

Lelaki itu mengangguk cepat. Tapi tetap saja kesulitan untuk mengatakan satu hal. Ya, hanya satu hal yang ingin dia katakan pada Hinata siang ini.

"A-aku menunggu..."

Ah, ada apa dengan dirinya?! Naruto gemas dengan dirinya yang susah berbicara saat ini. Oke, tidak baik membuat wanita menunggu. Naruto harus segera mengatakannya!

"Hinata-chan, aku," tidak ada kegugupan di setiap kata. Naruto mantap untuk berbicara sekarang.

"Iya...?" Hinata masih sabar menunggu.

"Aku ingin..." Naruto maju dengan kata berikutnya.

"Ingin apa?" Hinata membalas dengan raut menggemaskan.

"Aku ingin m-me..." Ada kemajuan meski kata-katanya kembali macet di tenggorokan.

"Me?" Hinata memiringkan kepalanya. Ia semakin penasaran dengan perkataan Naruto.

"S-sebenarnya, aku ingin m-me..." Oke, Naruto kembali capek begini. 'Apa susahnya, sih?!' Pikirnya dalam hati teramat jengkel.

"I-iya?" Lama-lama Hinata bisa mati penasaran, nih.

"Aku ingin menga—"

"HINATAAAAA!"

Pekikan dari arah pintu samping membuyarkan keduanya. Hinata menoleh, rupanya Sakura memanggil dan lambai-lambai tangan ke arahnya. "Ayo cepat, kelas Anko-sensei sudah mau dimulai!" Begitu kata si gadis berambut merah jambu.

"H-Ha'i." Hinata menuruti perkataan Sakura. Ia kembali melihat Naruto. "G-gomenasai, Naruto-kun. A-aku harus pergi dulu." Buru-buru Hinata keluar dari kursi lalu berlari ke arah pintu keluar. Sakura masih melambai-lambai tanpa menyadari satu hal.

Naruto pundung lagi.

'HUAAAAAAAA! Apa susahnya mengajak Hinata ke reuni SMA berdua, sih?! BAKAAAAAA!'

Pertarungan batin kembali dimulai dengan keadaan real Naruto yang benar-benar pundung sambil memeluk gelas ramen instan.

Semangat mengejar cintamu kembali, Naruto!

.

To Be Continued...

.

a/n:

HAI, SEMUANYAAAAA! Hehehehe, Chaki kembali setelah 5 tahun 2 bulan. Maaf Chaki terlalu lama hiatus. *v-sign*

Setelah berbagai pertimbangan, Chaki memutuskan untuk mengganti status DISCONTINUED menjadi COMEBACK. YEAAAAAY! *slapped*

Jika kalian bertanya kenapa, itu karena jiwa NHL Chaki kambuh lagi. Terima kasih, NaruHina! *waved beautifully*

Chaki bingung mau ngomong apa lagi. Tapi Chaki harap dengan di update nya fanfic ini, para pembaca makin penasaran, ya. XD

Okay, see ya later!

.

Chaki No Utau, out~