Makasih yang udah mau ripyu....

Maap g bisa bales ripyunya....

Soalnya saya kehabisan kata-kata....

Maap klo masih ada banyak kesalahan. belum terampil saya.... hahha...

Enjoy it!


Story in The Night


Di malam yang pekat itu. Bulan tak datang yang ada hanyalah awan-awan hitam yang menutupinya. Mungkin malam ini akan hujan. Tak ada sedikit pun cahaya bulan yang jatuh menyinari bumi. Begitu pula dengan bintang-bintang yang selalu menemaninya. Digantikan dengan angin yang berhembus sangat kencang. Seperti pertanda akan datangnya sebuah badai.

Saat itu segerombolan musuh datang. Menghampiri kami yang sudah tak berdaya. Benar-benar licik. Pertarungan yang tak seimbang. Menyerang kami saat kami lemah? Pengecut.

Seseorang diantara musuh itu mendekat ke arah kami. "Hah. Ternyata lawan kita hanya begini saja? Kalau tahu begini tak usah repot-repot kita bergerombol datang kesini." Seorang pria bertubuh jangkung dan tegap itu berdiri dihadapan kami. Dengan tangan yang bersiap untuk membunuh.

-

Yang kulihat saat itu. Hanya aliran air hujan yang sangat deras. Tapi kenapa? Kenapa lama kelamaan air yang bening itu menjadi Merah?

-

-

-

Nafasku kini tak beraturan. Hembusan nafas berat yang ku keluarkan belum bisa ku atur ulang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku belum beranjak dari atas kasur ku. entah sekarang sudah pagi ataukah masih malam. Pikiranku belum bisa mencernanya. Yang aku pikirkan hanyalah kejadian yang tadi menguras seluruh tenaga dan pikiranku. Entahlah itu hanya mimpi ataukah sebuah pertanda? Dan kuharap itu semua hanya mimpi buruk yang tak pernah ku lihat lagi.

Nafasku kini sudah mulai bisa ku atur. Keringat dingin pun dengan segera aku keringkan dengan handuk yang entah mengapa ada di sebelah tempat tidurku. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9.30 pagi. Dengan segera aku pergi menuju kamar mandi. Ya, masih pagi. Belum telat untuk datang berlatih, pikirku.

Seketika itu, mimpi buruknya pun terlupakan…

Aku segera berangkat ke tempat dimana aku biasa berlatih bersama mereka. Tanpa melihat jam atau pun yang lainnya. Aku pun segera berangkat ke tempat dimana mereka berada. Hari itu nampak sangat panas. Padahal masih pagi, jam 10 lebih sedikit mungkin.. Namun aku tetap berjalan santai. Aku mungkin hanya telat sebentar. Mungkin saja Kakashi-sensei belum datang. Dan mungkin Naruto juga. Hah…

Aku sedang berdiri. Bukan, lebih tepatnya berjalan di lapangan yang cukup luas. Ya, tempat kami berlatih. Aku mengedarkan pandanganku. Berharap ada yang tampak. Dan aku melihat dua orang yang tak asing untukku sedang duduk-duduk di bawah pohon rindang yang sangat besar. Sehingga bisa menimbulkan kesan seram disana.

Aku segera berlari menghampiri mereka. Tapi yang kulihat hanya dua orang. Sedangkan yang seorang lagi? Entahlah… Memang selalu telat seperti biasa. Aku hampir tiba ditempat mereka. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Mereka bercucuran keringat. Dan nafas mereka sedikit tidak teratur. Seperti orang yang sudah lari. Oh,ya! Mungkin saja mereka baru berlomba lari datang kemari. Hah… dasar mereka! Tak berbeda jauh saat masih ada di akademi, pikirku sambil tersenyum dan terus berlari menghampiri mereka.

Naruto dan Sasuke sedang duduk di bawah pohon rindang di lapangan itu. Sangat terlihat sekali kalau mereka sedang lelah dan berusaha mengatur nafas. Sehingga mereka tidak dapat memperhatikan sekelilingnya.

"Hai Naruto! Sasuke!" sapaku pada dua orang pemuda yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku sebelum itu.

Naruto menoleh ke arahku dengan tatapan yang sedikit bingung. "Hai, Sakura-chan! Kata Teme kau sakit. Padahal tadi kita berencana menjengukmu. Kenapa kau tidak istirahat saja?". Naruto sudah bisa mengatur nafasnya dan sesekali mengelap keringatnya dengan lengan bajunya, menoleh kearah Sasuke yang masih belum bicara.

"Tidak perlu. Tadi malam aku hanya kecapekan saja. Kalau begitu ayo kita berlatih. Jangan diam saja. Ini kan masih pagi." kataku sambil berlari-lari kecil di tempat. Tapi rasanya ada yang aneh. Tidak seperti biasa cuaca konoha di pagi hari seterik ini. Hah, biarlah…

Tanpa kusadari, di belakangku Naruto dan Sasuke saling bertukar pandang dan setelah itu mereka terkikik pelan dan berakhir menjadi sebuah ledakan tawa. Hanya Naruto saja sih. Tapi Sasuke pun rasanya terlihat tidak bisa menahan tawanya, sehingga hanya seringaian yang ia lihatkan. Lelahnya mungkin sudah hilang. Tapi digantikan dengan lelahnya menahan tawa.

Aku pun berbalik menghadap mereka. "Apa yang kalian tertawakan? Lebih baik kita cepat berlatih. Daripada nanti siang semakin panas." kataku menatap mereka aneh. Tapi tawa Naruto semakin menjadi-jadi. Dan seringaian Sasuke tampaknya mengejek. Aneh. Tapi sudahlah. Mereka memang aneh,kan? pikirku.

Sasuke sudah bisa mengendalikan dirinya. Sementara Naruto, tawanya perlahan-lahan menjadi seringaian lebar. "Sakura! Kau tadi malam kelelahan atau terjedut tembok, hah?" Sasuke tersenyum mengejek. Tidak. Lebih tepatnya geli. "Kau kenapa sih, Sakura-chan?" kata Naruto sambil sedikit terkekeh-kekeh.

Aku semakin bingung. "Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti maksud kalian tertawa dan menanyaiku 'kenapa?' Apa ada yang aneh?" Aku terus bertanya. Karena aku benar-benar bingung dan tak mengerti.

Naruto berusaha menyembunyikan kekehannya. "Sakura-chan, aku dan Sasuke sudah selesai berlatih. Kakashi-sensei baru saja pergi karena Tsunade-baachan memanggilnya sebelum kau datang kemari. Dan satu lagi, wajar saja kalau memang panas. Karena sekarang sudah jam…-" Naruto tampak berpikir. Sedangkan aku masih bingung.

Hening.

"Jam 2 siang." Sasuke angkat bicara karena kesal menunggu Naruto yang sudah tak tahu jam masih saja berpikir dan tak berusaha untuk bertanya. Hanya satu kata dalam pikiran Sasuke. Baka Dobe!

Aku masih belum bisa mencerna kata-kata mereka. Dan apakah yang aku katakan tadi keliru? Seketika itu aku mengulang kata-kata mereka. aku dan Sasuke sudah selesai berlatih… wajar saja kalau memang panas… Jam 2 siang

Seketika itu aku pun sadar. Tapi aku hanya bisa berdiri mematung. Sungguh memalukannya diriku saat ini. "Jadi ini…-" kataku yang berdiri sambil menatap tanah dengan tatapan kosong. Aku menegakkan kepalaku memandang mereka bergantian. "Sudah siang? Jam 2 siang? Dan kalian sudah selesai berlatih? Tapi tadi aku lihat jam sebelum mandi. Masih jam setengah sepuluh kok. Tidak mungkin kalau aku mempunyai masalah dengan penglihatan." Sanggahku tanpa henti.

Sasuke yang mungkin merasa sedikit kesal karena ocehan panjangku tadi, berdiri dan memperlihatkan jamnya padaku. "Lihat! Apakah ini menunjukkan angka 10, nona?" katanya sambil sedikit terkikik. "Oh, bukan! Tepatnya, 4 jam setelah angka 10." Sasuke kembali ke posisinya semula. Duduk di bawah pohon sambil menyadarkan dirinya pada batang pohon yang besar.

"Sebelum datang kesini. Kau lihat jam dulu tidak?" kata Sasuke yang sedang memejamkan matanya. Berharap semilir angin datang di siang yang terik itu.

"Tidak." Aku benar-benar tidak dapat menahan malu. Ditambah lagi melihat Naruto yang masih saja terkikik. Ya tuhan! Jam sialan awas kau! Gerutuku dalam hati.

"Pantas saja kau tak lihat. Jam di rumahmu mati. Dan menunjukkan angka setengah sepuluh." Sasuke masih dalam posisi semula. Semilir angin berhembus. Membuat kami merasa nyaman di tengah terik matahari di lapangan.

Aku sedikit bingung. Kenapa Sasuke tahu kalau jam di rumahku mati? Aku melirik ke arah Sasuke yang masih bersandar pada batang pohon besar itu dengan tatapan bingung. Dan Naruto? Entahlah, mungkin dia masih cekikikan. Sial…

Sasuke membuka matanya dan menegakkan posisi duduknya. "Tadi malam kau pingsan. Jadi terpaksa aku mengantarmu pulang." kata Sasuke yang seolah dapat membaca apa yang aku pikirkan.

Lagi-lagi, hening.

Harga diriku mungkin susah untuk mengatakan 'terima kasih'. Tapi akhirnya aku kalah. Aku pikir, kenapa aku tidak berterima kasih pada orang yang sudah menolongku? Harga diri memang perlu. Tapi tidak untuk berkata 'Terima Kasih', bukan? Sekalipun itu orang yang memang menyebalkan.

"Terima kasih. Mungkin jika kau tak memiliki rasa kemanusiaan, aku sudah terlindas mobil tadi malam." kataku kemudian pada Sasuke yang sepertinya hanya menganggap kata terima kasihku sebagai angin lalu.

Aku berjalan ke arah Naruto yang membelakangiku dan sepertinya dia masih cekikikan tidak jelas. Tapi sepertinya pemuda bodoh itu tidak menyadari kalau aku sedang memberikan tatapan mengerikan padanya. Namun belum sempat aku membuatnya berhenti tertawa. Tiba-tiba Kakashi-sensei datang.

"Lho, Sakura! Kau datang juga? Tapi hari ini latihan sudah berakhir." Kata Kakashi-sensei kepadaku. Membuat mata kami semua tertuju pada kehadirannya yang tiba-tiba.

"I-iya. Aku tahu." Aku benar-benar dibuat malu hari ini. Hanya karena jam bodoh itu. Naruto yang tadi belum bisa menghentikan cekikikannya. Kali ini cekikikannya berubah menjadi tawa yang sungguh sangat menjengkelkan. Sialan kau, Naruto…. Sebentar lagi kau akan mati… kau belum tahu seberapa hebat pukulanku? batinku kesal.

"Ya, sudah kalau begitu. Tadi aku menghadap Tsunade-sama. Beliau memerintahkan kalian untuk sebuah misi-" kata Kakashi terpotong oleh sebuah teriakan.

"Apa? Misi? Hore!!! Akhirnya kita mendapat misi juga. Setelah beberapa lama hanya berlatih saja. Membosankan." teriak Naruto yang langsung bersemangat ketika mendengar kata. Misi.

"Jangan potong kata-kata orang, Dobe!" kata Sasuke yang sudah berdiri.

"Untuk sebuah misi kita harus bersemangat, Teme!"

"Tapi jangan potong kata-kata orang, baka Dobe!"

"Sudah, sudah! Kalian ini seperti anak-anak saja. Tadi Tsunade-sama memberi kalian misi untuk mengantarkan sebuah pesan yang berisi sesuatu yang sangat penting untuk Tsuchikage di Iwagakure." Jelas Kakashi. "Ini pesan yang harus kalian antarkan. Pastikan pesan ini sampai kepada beliau. Dan tunggu surat balasan yang beliau berikan." Kakashi memberikan gulungan pesan itu kepada ku. "Ingat! Pastikan beliau menerimanya. Dan jangan sampai ada ninja lain yang mengetahuinya."

"Baik." Jawab kami bertiga.

"Tapi Kakashi-sensei! Misi ini terlalu mudah. Kenapa tidak diberikan ke tim lain saja sih?" keluh Naruto yang merasa tidak tertarik dengan misi ini.

"Kau bilang 'untuk sebuah misi kita harus bersemangat' kau menyedihkan, Dobe!" Sasuke mengulang kata-kata Naruto tadi.

Naruto menegakkan tubuhnya yang tadi sempat terkulai lemas. "Aku memang semangat sejak tadi. Kata-kataku yang tadi hanya keluhan agar nanti kita mendapat misi yang sedikit sulit. Aku ingin bertarung, Teme! Setiap hari bertarung denganmu membuatku bosan." ujar Naruto panjang lebar.

"Bosan untuk menerima kekalahan." Sasuke tidak begitu menanggapi ucapan Naruto.

"Aku tidak kalah. Aku hanya mengalah, Teme! Kau belum tahu kekuatanku yang sebenarnya." Naruto menghadapkan dirinya di depan Sasuke.

"OK. Buktikan itu." kata Sasuke tenang sedikit memancing emosi Naruto.

"Baiklah." Naruto memulai ancang-ancang.

"Sudah. Sudah. Pakai saja kekuatanmu nanti Naruto. Aku mempunyai misi dengan yang lain. Jadi aku tidak bisa ikut dengan kalian. Ya sudah, kalian berjuanglah!" Kakashi-sensei menghilang dari hadapan kami.

Hening.

"Yosh! Ayo kita berangkat!" Naruto berjalan mendahului kami. Sementara Sasuke segera menyusulnya.

Sejenak aku lupa akan kejadian yang lalu. Kejadian dari mulai bangun tidurku. Hingga tragedy memalukan tadi. Aku berharap. Moga dalam misi kali ini. Tak ada lagi hal-hal buruk yang terjadi.

Langit siang tadi yang terang dan menyilaukan telah berubah menjadi gumpalan awan hitam. Entahlah… Apakah ini sebuah gejala alam ataukah sebuah pertanda?


TBC