Persona 4: Memories Of You...
Author's note: waaaah, di chap 1 salah nulis. Maksudnya P4 10000% punya ATLUS!!!
Summary: bagaimana kalau kondisi Souji memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebangkitan Nyx? Kayaknya cerita ini enakan jadi edventure ato tragedy ya? Pengarangnya bingung! Yang penting, kali ini yang bantu Souji bukan si hidung nenek sihir Igor-*dihajar sampe sekarat ma yang nge-fans ma igor*- dan Margareth. Char tambahan ini Cuma khayalan. Yaaah, bagi yang tau Xenosaga, char tambahan ini agak2 mirip sama si KO-MOS. Hanya agak2 mirip. Bukan berarti mirip loh!
Selamat menikmati cerita!!
Pairing: Seta Soujix(cewek) [pairing bkl dijelaskan nanti]
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Gegar otak, patah tulang pada lengan kiri, lebam, luka gores karena serpihan kaca hampir di sekujur tubuh, kekurangan darah, koma, dan-" Dokter yang menangani Souji menjelaskan kondisi pasiennya lalu terpotong oleh...
"H-hentikan!" tegas Yosuke sambil menunduk. Tampaknya Yosuke sendiri sudah tidak tahan mendengar semuanya.
"Jangan bilang kalau dia akan mati!! Dia masih bisa hidup kan, Dok?! Iya kan?!" kata Yosuke histeris sambil menarik-narik kerah baju Dokter.
"Yosuke! Tenang dulu! Yosuke!" Kanji dan Teddie berusaha menarik Yosuke dari Dokter yang kelihatannya ikut-ikutan shock habis disergap Yosuke mendadak.
"Nggak!! Souji nggak boleh mati!!" Yosuke masih saja tetap terus meronta-ronta dalam cengkraman Teddie(lupa ditambahin. Teddie di dunia manusia jadi manusia)dan Kanji. Mereka berdua segera mengerek Yosuke menjauhi area ICU. "Kalian dengarkan saja dulu penjelasan Dokter!" sahut Kanji keras.
Sahutan Kanji kemudian dibalas anggukan oleh Rise, Naoto, Chie, dan Yukiko.
"Bisa tolong lanjutkan penjelasannya, Dok?" kata Rise pelan dan lemas. Setelah memastikan Yosuke sudah cukup jauh untuk tidak mendengar.
"Dan, kemungkinan hidupnya cukup tipis." Lanjut si Dokter.
"Kalau memang tipis, kira-kira berapa persen , Dok?" tanya Yukiko langsung tanpa disuruh.
"Sekitar 30%. Untuk sekarang, kami sudah mengusahakan se-maksimal mungkin. Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi dulu." Dokter itu segera berjalan menjauh dan entah pergi kemana.
"Hiks...*sob*...hiks..." ternyata adik kesayangan Souji dari tadi duduk diam di kursi yang ada di depan ruang ICU. Yang dilakukannya dari tadi hanyalah menangis dan menangis.
"Nanako-chan....jangan nangis terus*sob* sudah ya..." kata Yukiko mencoba menghibur Nanako walaupun nada suaranya juga mendekati nangis. Naoto yang tidak biasa nangis akhirnya ikut nagis juga. Lalu diikuti si tomboy Chie. "Sudah. Kalian jangan nangis lagi...*sob* Souji nggak pingin kita sedih kan? Sudah dong...hiks..." karena semuanya nangis, Yukiko kehilangan tekadnya untuk menahan tangisnya. Lagipula saat ini hatinya ingin sekali nangis sejadi-jadinya.
"Onii-san...huhu...kenapa semuanya jadi*sob* begini? Kenapa harus*sob* Onii-san?" Kata Nanako di sela-sela tangisnya. "Nanako-chan sudah kehilangan*sob* mama karena kecelakaan. Sekarang *sob*Nanako-chan nggak mau kehilangan Onii-san *sob*karena kecelakaan juga."
Suasana kesedihan tetap terus berlanjut. Sementara Souji...
--------------------------------------------------------------------------
Souji yang tidak sadar akhirnya mulai sedikit bergerak. Hanya saja yang ia rasakan sangat berbeda. Tempat dimana ia berbaring...rasanya bukan kasur. Datarannya seperti butiran-butiran kecil, lalu udaranya terasa seperti udara di musim semi. Bagaimanapun juga, Souji masih tidak bisa bergerak. Membuka mata rasanya sangat berat sekali. Dia tidak bisa berasakan apa-apa kecuali rasa sakit yang berlebihan pada kepalanya. Tapi ia masih bisa mendengar sebuah suara yang memanggil-manggil namanya.
"Sou...."
".....ou...."
".......i.."
Dan lama kelamaan suara itu jadi lebih jelas.
"Souji..."
"Bangun....Souji..."
Cowok berambut abu-abu terebut berusaha membuka matanya. Dan ia berhasil! Sayang, pandangannya kabur. Kepalanya pusing. Tak hanya pusing, rasanya seperti habis mengalami benturan yang sangat keras di kepala.
"Souji...kau masih belum bisa melihatku dengan jelas?" kata cewek berambut biru laut dengan kulit putih dan mulus.
"Kamu...sia..pa?" tanya Souji terputus-putus.
"Namaku...Nephilim..."
--------------------------------------------------------------------------
Yosuke dkk terus menemani Souji. Kalau dulu waktu Souji akan pulang Yosuke hanya mewek-mewek jelek, sekarang ia menangis. Yosuke ingin air matanya berhenti mengalir. Tapi bendungan matanya sudah jebol. Air matanya terus mengalir tanpa bisa berhenti sesuai kehendaknya.
Ryutarou dan Nanako sudah pulang. Maklum, mereka kelelahan karena terus menunggui Souji. Jadi Teddie menyarankan mereka istirahat dulu. Barulah mereka mau pulang. Souji tampak tidur dengan tenang walaupun ada berbagai alat medis yang ada di tubuhnya. wajahnya tampak pucat, kaku, dan kulitnya juga mulai dingin. Apa?!! Dingin?!! Yukiko yang menemani Souji di ruang ICU sempat tegang juga. Tapi ia harus tetap yakin kalau Souji pasti hidup. Yukiko sendiri yakin kalau Souji juga sedang berperang melawan kematian.
"Souji-kun...kalau aku tahu semua ini bakal terjadi..." Yukiko meraih tangan kanan Souji dan menggenggamnya. "aku pasti bakal melarang kamu pergi."
"Kalau aku tahu...*sob* aku pasti bisa mencegahmu pergi. Aku...sangat takut*sob* kehilangan kamu. Aku terlalu takut."
Namun ekspresi wajah Souji tidak berubah. Tetap pucat, kaku, dan dingin.
"Kenapa kau diam saja? Kau bisa mendengarku kan? Tak pernah terpikirkan olehku kalau kamu bakal mengahadapi kematian seperti ini. Kamu*sob* nggak boleh secepat itu pergi. Masih ada banyak hal*sob* yang ingin kukatakan dan kusampaikan padamu. Begitu juga yang lain. Mereka semua*sob* juga ingin melihat mu dalam keadaan sehat seperti dulu lagi. Jadi aku mohon....jangan menyerah..."
Setelah Yukiko yang menemani Souji, selanjutnya Yosuke dan Chie.
"Hei, jangan tidur terus begitu! Kamu membuatku sangat cemas tau! Sou...kamu harus cepat sembuh." Kata Yosuke yang awal-awalnya bersemangat lalu akhir-akhirnya sudah loyo.
"Souji-kun...kamu memang pernah janji bakal kembali lagi ke sini, tapi bukan berarti kondisimu begini. Kami semua merasa kehilangan ketua kami. Kau adalah ketua kami, kalau kau sendiri lemah maka anggotamu juga akan lemah. Bangunlah..."
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Namamu Nephilim?" Tanya Souji yang merasa sakitnya sedikit hilang.
"Ya. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Sedikit baikan. Setidaknya aku bisa melihat dengan jelas walaupun nggak bisa gerak sedikitpun."
Nephilim menndekat, lalu duduk di sebelah Souji.
"Aku ada dimana? Ini pantai kan? Kenapa begitu tenang?" tanya Souji pelan. Mengingat rasa sakitnya masih ada.
"Dunia ini namanya 'Beach of Nothingness'. Kamu ada di dunia antara hidup dan mati."
Souji yang terkejut kalau dia sedang di dunia antara hidup dan mati langsung mencoba duduk, tapi tetap saja gagal.
"Ouch!! Sakit..."
"Jangan banyak gerak dulu. Kamu masih belum bisa gerak untuk tahap ini."
"Tahap apa?! Tahap menuju kematian?! Itu maksudmu?!" Souji mulai tegang. Rasa sakitnya mulai bertambah.
"Tenang lah. Kalau kamu tegang, rasa sakitmu akan lebih dari yang tadi kamu rasankan."
Nephilim benar. Sekarang seluruh tubuhnya terasa nyeri.
"Lalu kenapa kamu bisa di sini? Kenapa kamu nggak merasakan sakit yang sama?"
"Nanti akan aku jelaskan. Nah, Souji. Apa kamu ingin jalan-jalan di sekitar sini?" kata Nephilim mencoba sedikit menghibur Souji.
"Aku nggak butuh jalan-jalan! Aku Cuma butuh jawaban! Kenapa aku bisa sampai di sini?"
Nephilim mendesah pelan. Apa dia nggak ingat semua kejadian yang membawanya sampai ke sini?
"Kamu mengalami kecelakaan di dekat stasiun Inaba. Kecelakaan itu hampr merenggut nyawamu. Apa kamu nggak ingat sedikit pun?"
"Kecelakaan? Kecelakaan kereta? Lalu kenapa bisa sampai ke sini? Kamu bilang lokasi kecelakaan itu di dekat stasiun Inaba, apa aku sampai terlempar ke pantai? Apa Inaba ada pantainya?"Souji terus bertanya-tanya. Ia tidak ingat apa-apa. Hal yang diingatnya : dia jadi murid pindahan dan pindah ke Inaba.
"Kamu kehilangan semua ingatanmu rupanya." Kata Nephilim sedih. "Kamu sampai di sini karena kamu di ambang hidup dan mati, BODOH!!!" bentak Nephilim.
"Kalau itu aku juga sudah tau! Kamu hanya bikin aku semakin panik saja."
"Kalau begitu apa kamu sudah siap pergi?" tanya Nephilim selanjutnya.
"Pergi kemana?"
"Kamu tahu apa yang aku maksud!"
Souji terdiam. Sedikit-sedikit Souji mulai mengerti. Tapi dalam hatinya, ada yang mencegahnya untuk menerima tawaran Nephilim. Sesuatu yang belum tersampaikan dan belum selesai.
"Aku nggak bisa ikut denganmu! Masih ada yang belum aku selesaikan." Kata Souji tegas sambil memegangi kepalanya, berusaha mengingat sesuatu.
Nephilim berjongkok menghadap Souji. "Apa kamu sudah ingat apa yang ingin kamu selesaikan?"
Souji hanya menggelengkan kepala.
"Kalau gitu ikut aku." Nephilim membantu Souji berdiri.
"Kemana? Aku masih belum mau pergi denganmu!"
"Kamu bilang kamu ingin menyelesaikan urusanmu yang belum tuntas, makanya aku bakal ngajak kamu ke tempat itu."
"Tempat itu? Tempat apa?" kata Souji sedikit kesakitan mencoba berjalan.
"Nanti kamu lihat sendiri. Yang jelas, aku nggak bakal merugikanmu."
Souji hanya menurut apa yang dikatakan Nephilim. Pertama, dia tidak tahu apa-apa tentang beach of nothingness. Kedua, yang bisa membantu dia sekarang hanya Nephilim. Ketiga, badannya sakit semua.
Pantai itu sangat sepi dan terkesan kosong. Deburan ombaknya juga tenang.
"Kenapa pantai ini begitu damai?" tanya Souji kemudian.
"Karena Cuma ada kita berdua di sini."
"Hanya kita? Apa kamu juga mengalami hal yang sama sepertiku sampai-sampai kamu ada di sini?"
Nephilim menggeleng. "Aku ada di sini karena ini merupakan tugas ku."
"Tugas? Kamu itu sebenarnya siapa sih?" entah kenapa Nephilim berhenti berjalan.
"Aduh! Hei, kalau mau berhenti bilang-bilang dong!" keluh Souji.
"Apa kamu nggak takut terhadapku kalau kamu tau aku yang sebenarnya?"
"Takut? Kenapa aku harus takut? Kecuali kalau kamu monster ato apalah!"
"Kalau itu kenyataannya bagaimana?" Souji hanya bisa ternganga mendengarnya. Bagaimana bisa Nephilim yang menolongnya itu adalah Monster?
"Aku adalah....malaikat yang bertugas mengantarkan roh seseorang menuju kemana dia seharusnya berada. Bisa dibilang aku ini pembimbing para roh. Aku ada di sini karena tugasku untuk mengantarmu ke tempat yang kamu tuju selama hidupmu. Nah, sekarang kamu tau siapa aku. Apa kamu takut?" tanya Nephilim dengan ekspresi wajah sedih. Entah kenapa Souji merasa geli mendengar semuanya.
"Nggak lucu! Ngapain ketawa sih?" protes si malaikat.
"Hahahaha, kukira kamu monster apa gitu. Hahaha, buat apa aku takut? Toh kamu baik kayak begini. Jadi sekarang kamu mau menyelesaikan tugasmu?"
"Belum. Kamu sendiri belum menyelesaikan apa yang pingin kamu tuntaskan. Jadi selesaikan dulu tugasmu!"
"H-hei!"
-------------------------------------------------------------------------------------------
Duh, aku ini bikinnya sedih ato humor sih? Heran sendiri. Habis kalo yg sedih2 mulu rasanya gimanaaaa gitu. Yah, cerita ini gara2 lagu endingnya sendiri! Di salah satu kalimat lagu 'Never More', ada yang arti dalam inggrisnya gini : As I get on the train, I suddenly have a feeling that I will never be able to see you again.
Nah, seharusnya Souji mampus aja di ending akhirnya. Gara2 lagu itu juga, habis liat endingnya aku langsung terinspirasi begini. Tapi kayaknya yang chap ini kok menurutku terlalu....aneh nan hancur ya ceritanya? Yaaah, aku janji deh! Di chap yang selanjutnya nggak bakal rugi! Soal syal hitam-putih, itu Cuma tiba-tiba muncul di kepala. Habis kalo aku bayangin lagi, kayaknya Souji cocok banget pake syal begituan. Ditambah lagi rambutnya yang abu-abu. Tapi kesannya kayak papan catur!
Just like as always...give me some reviews no matter what, okay? Kalo ada saran dimasukin di reviews aja.
I'm waiting!!!^.^!!!
