Persona 4: Memories of You…
Hmmm…akhir-akhir ini menurun drastisss…..what should I do then??? Kalo belakangan ini ceritanya makin ngawur dan ga jelas, mohon maaf, habis belakangan ini nggak mood, sering ketimpa sial, de el el. Entah kemana semangat gw yg dulu. Jadi mulai sekarang, mungkin cerita ini bakal lambat bgt updatenya. Tapi mohon supaya tetap enjoy ya.
______________________________________________________________________________________________________________________________
Pagi itu semua terasa berbeda. Para mantan anggota SEES tak nampak batang hidungnya sedikitpun. Yang terdengar hanyalah suara berisik darih arah dapur lantai 1. bunyi krompyangan itu tak kunjung henti, sehingga mengundang Teddie yang sudah bangun subuh-subuh karena nggak bisa tidur dengan penyebab utama: 'Yosuke kalo tidur suka main kung-fu' itu langsung menuju ke asal sumber suara.
Baru saja Teddie menginjakkan satu kakinya di lantai dapur, langsung nampak sebuah wajan bundar menggelinding melewati kaki Teddie. Setelah Teddie mengambil wajan itu, Teddie langsung tutup hidung karena bau yang sangat menyengat untuknya. Semenjak Teddie adalah beruang aneh yang punya daya penciuman yang tajam.
"Chie-san, Yukiko-san, Rise-chan, apa *cough*yang kalian lakukan di sini? Apa kalian*cough* mau bikin 'sarapan beracun' lagi?" itu hal pertama yang dikemukakan Teddie begitu melihat ada asap hitam tebal yang mengepul-ngepul di hadapannya.
"Teddie! Sejak kapan kamu*cough cough* di sini?! Ayo kembali ke kamarmu!" perintah Rise galak. "kalo nggak mau…"
Teddie langsung duduk di pojokan sambil jongkok dan memegangi kepalanya. "Nggak." Jawabnya singkat.
"Emang semalam kamu rebutan bantal sama Yosuke? Biasanya paling semangat kalau tidur bareng Yosu." Celetuk Chie.
"Yosuke sangat berbahaya kalau dia tidur karena kelelahan. Lihat nih!" Teddie menunjuk-nunjuk pipi kanannya yang lebam. "waktu Teddie tidur, Yosuke malah…buat Teddie jadi sansak tinju! Kalau Cuma bogem masih nggak apa-apa. Tapi, yang ini dia ikut-ikutan Chie-san."
DUENNNNNGGGG!!!!!
Wajan gosong yang dipegang Chie langsung terayun ke atas kepala Teddie. Teddie berputar-putar ala penari ballerina dan langsung pingsan di tempat.
Yukiko dan Rise geleng-geleng ngeri melihat tingkah Chie yang seloamanya nggak akan bisa diubah.
"Suami-istri sama saja." begitu komentar Yukiko dan Rise yang tumben-tumbenan akur dan kompak.
Chie langsung menjerit begitu melihat kepulan asap lain di belakang Yukiko. "Yukiko! Telurnya gosong tuh!!"
"Aduuuh!!! Payah! Ini telur yang ke-1001! Masih aja tetep gosong! Padahal yang lain sebentar lagi bangun!"
"Ahahahahaha, masak telur aja nggak bisa! Payah! Nih liat nih!" Rise mengangkat wajan dan melempar-lemparkan telur gorengnya dengan maksud untuk memutar telur tersebut. Tapi yang terjadi malah jauh dari dugaan Rise. Telur itu malah terbang dan…pleeekkk…menempel di langit-langit.
Chie langsung sweatdropped. Yukiko mulai ketawa.
"Hei! Ini Cuma kecelakaan biasa tau!" keluh Rise masih nggak mau kalah.
"Yeah, kecelakaan yang ke-2009!" (mengingat ini tahun 2009, maka saya cantumkan 2009)
"Snrrrkkk….hihihi…AHAHAHAHAHAHAHA!!!!!" tawa Yukiko langsung menggelegar se-Port Island.
Berkat karunia Yang Maha Kuasa melalui tawa Yukiko, ayam jantan yang biasa berkokok di pagi hari langsung mengurungkan niatnya untuk menyambut pagi karena merasa usahanya sia-sia. Sebab, sudah ada yang membangunkan penduduk Port Island terlebih dahulu ketimbang ayam itu.
Orang pertama yang turun ke dapur setelah Teddie adalah Kanji.
"Oi, Kanji, jangan berdiri di situ! Bahaya!" Chie memperingatkan.
"Apanya yang bahaya, Senpai? Yang kulihat sekarang Cuma dapur yang tembok dan lantainya penuh telur dan bau amis!"
Yukiko masih terus ketawa, sampai perutnya mulai terasa sakit.
"Bagus, Yukiko-senpai lagi-lagi bikin aku bangun se-pagi ini lagi." Kanji berkacak pinggang.
Rise Cuma pasang tampang innocent .
"Kanji, lebih baik cepat menyingkir dari situ! Sekarang juga!"
"Kenap-"
Terlambat! Telur gagal yang masih panas dan tadinya menempel di langit-langit tiba-tiba jatuh tepat di wajah Kanji begitu si berandal itu mendongak ke atas.
"Pu….PU…PUUUUU…."
"Apa? Aku nggak denger!" teriak Rise.
"PUANAAAAAAAAAAASSSSSSS!!!!!" Jerit Kanji se-Jepang. (mantab! Untung tinggal di Indonesia)
Teriakan Kanji tersebut menimbulkan berbagai dampak negative di dalam dorm. Berikut ini adalah kejadian-kejadian yang diakibatkan suara diafragma seorang Kanji Tatsumi :
Saat Yosuke sedang menggosok gigi, tiba-tiba kaca cermin di hadapannya pecah sampai-sampai ada pecahan kaca yang masuk ke mulutnya entah gimana caranya. Naoto yang sedang mengelap-elap pistol kesayangannya jadi tak sengaja menembak begitu mendengar suara 'merdu' Kanji (merdu dari hongkong?!). Mitsuru yang lagi asyik-asyik dandan dan lagi pake lipstik langsung kecoret sampai di pelipisnya, saking sebalnya Mitsuru sampai mematahkan lipstik merahnya jadi dua lalu membantingnya ke lantai. Junpei yang enak-enakan ngorok persis babi langsung melek karena ketimpa tumpukan barang-barangnya yang amat sangat penuh di kamarnya. Dan banyak barang yang pecah dan berjatuhan di Dorm.
Dampak yang lain terjadi di bnerbagai kota laiinya seperti gempa bumi, banyak bangun runtuh, dan…-* diteriaki Kanji yang kali ini lebih dahsyat!*-
Namun Jeritan 'merdu' Kanji masih belum berhasil membangunkan Souji yang masih terus tidur dengan tenang dan pulas. Seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mau tau rahasia Souji? caranya mudah! Pertama, Sumpal telinga pake earphone yang super gede( mungkin kemaren Souji sempat nyolong earphone punya Yosuke)!Kedua, set volumenya paling maksimal sampai dentuman musik terdengar se-Dorm( gila, bisa tuli langsung sekejap!)!! ketiga, kalo sudah tuli, pasti nggak bangun kan? -*author dipasangi earphone super gede oleh Souji dkk dan dinyalakan dengan volume paling gede!*-
Bercanda…bercanda…kalau terjadi nyata…si author nangis duluan begitu tau Souji jadi tuli…
Anggota Investigation Team yang lain langsung turun segera ke dapur. Para mantan anggota SEES masih belum mau turun. Jaga imej tooohh.-*dihajar rame2 sama mantan anggota SEES*-
Yosuke matanya langsung melek selebar-lebarnya, Naoto yang awalnya dengan sigap menyiapkan pistolnya jadi melongo begitu mereka menyaksikan Dorm lantai 1 yang hampir rata dengan runtuhan-runtuhan.
"Oiiiiii!!! Ada orang di sana?!!" teriak Yosuke.
Naoto yang nggak kalah panik malah teriak lebih kenceng lagi. "OI, JAWAB DO-" Yosuke langsung menyumpal mulut Naoto dengan tangannya. Ups, maksudnya menutup mulut Naoto dengan tangannya. "Jangan teriak-teriak gitu dong! Kamu mau tempat ini semakin rata dengan tanah?"
"Ehm, maaf Yosuke-Senpai. Yang tadi itu Naoto versi cewek. Naoto yang sekarang itu versi detektif." Naoto mengenakan topi kesayangannya. Tapi, topi yang dipakainya bukan topi yang seharusnya ia pakai. Topi itu malah topi milik….
"Naoto, bukannya itu topi punya Senpai yang namanya 'Stupei' itu?" sahut Yosuke.
Naoto langsung melepas topinya dan membuangnya ke tong sampah secara tak hormat. "Kamu benar, topiku yang sebenarnya jauh lebih bagus dan ketinggalan di kamar."
Tiba-tiba ada tangan seseorang yang muncul dari tumpukan reruntuhan itu. Yosuke langsung menjerit sejadi-jadinya. Secara otomatis Yosuke langsung memeluk Naoto seerat-eratnya. Naoto yang melihat ekspresi wajah Yosuke malah senyum-senyum.
"Hei, bukan waktunya ketawa, Naoto! Aduuuh, kebelet nih. Toiletnya ada di lantai 4 lagi! Naoto, aku pergi dulu sebelum ngompol! Bye-bye!" Yosuke langsung ngibrit ke lantai 4.
Kini tinggal Naoto sendirian di lantai 1. lebih tepatnya tinggal dirinya dan tumpukan-tumpukan barang jatuh.
"Eh, Chie-Senpai, Yukiko-Senpai, Rise-chan, sampai kapan kalian mau sembunyi terus di situ?" Naoto menyadari keberadaan Senpai-senpainya dan si mantan idola yang sedang 'pura-pura tertimbun'. Tak lama muncul tangan-tangan yang lain. Dan akhirnya para cewek-cewek itu berhasil keluar.
"Lega juga akhirnya."
"Chie-Senpai, Teddie dan Kanji-kun ke mana? Jangan bilang mereka ikutan tertimbun di bawah sana."
Chie, Yukiko, dan Rise Cuma bisa nyengir. Lalu menjelaskan semuanya…
"Oh begitu. Mereka jadi korban karena makanan yang disebut 'Mystery Food X' ya? hmmm…menakjubkan."
"Naoto, apanya yang menakjubkan? Kalau Mengerikan iya!"
"Rise, nggak perlu secemas itu. Ke mana pride mereka yang sudah menjadi pahlawan TV dan sudah menyelamatkan dunia dari kabut?"
Setelah Naoto menyelesaikan kalimatnya, Kanji dan Teddie langsung muncul dari timbunan reruntuhan itu.
"Aah, I get it! Naoto-chan sengaja memacing mereka supaya mereka keluar rupanya…" Yukiko manggut-manggut.
Naoto tersenyum ringan. "Begitulah insting detektif bekerja."
"Geez, kenapa semuanya jadi serba berantakan begini?" kata Teddie sambil memegangi kepalanya yang sedikit benjol. "Apa yang terjadi?"
"Tidak perlu dibahas. It is obvious." Jawab Naoto ala detektif.
Yukiko langsung beranjak berdiri dan menuju ke lantai 2. sebelum Yukiko sempat menghilang, Rise sudah memasang tanda-tanda curiganya.
"Yuki-Senpai, kau mau kemana? Mau bangunkan Senpai ya? kan sudah kubilang, Seta-Senpai itu milikku!" Tanya si mantan idola dengan sinis.
Yukiko membalasnya dengan berkacak pinggang. "Dasar mantan idola narsis!"
"Uggghhh!!! Sebel! Risette nggak mau kalah! Ayo!"
-----------------------
Souji's Bedroom
-----------------------
Souji akhirnya terbangun juga dengan sendirinya. Ia mencoba mengingat-ingat mimpinya semalam. Nyata…atau Cuma sekedar mimpi? Pagi ini sakit kepalanya kambuh lagi. Kakek berhidung panjang mirip nenek sihir, dua cewek berbaju biru. Souji merasa pernah ke tempat seperti itu sebelumnya, walaupun ingatannya sedikit kabur. yang mampu diingatnya sejak datang ke Port Island hanya sekedar hubungan ruangan aneh itu dengan Midnight Channel.
Souji bangkit dari ranjangnya dan berjalan sempoyongan menuju ke wastafel. Ia berharap dengan mencuci muka, sakit di kepalanya ikut hilang. Namun dugaannya salah. Sakit di kepalanya justru malah lebih parah. Cowok berambut abu-abu itu langsung jatuh terduduk di dekat wastafel dengan keran air yang menyala.
"Sudah ingat sesuatu?"
Suara yang kemarin menghantuinya muncul lagi.
"K-kau…benar-benar ulet ternyata!"
"Kalau ingat sesuatu…mau ceritakan apa yang kamu ingat padaku?"
"Heh, sejak kapan kamu jadi peduli padaku?"
"Sejak kamu jadi bagian dari diriku…"
Souji terkaget-kaget. Ia melupakan sakit kepalanya sejenak.
"Kamu takut? Hahaha, nggak perlu disembunyikan. Aku juga penah takut waktu aku masih hidup."
"Heeeh? Jadi kamu tuh hantu gentayangan penghuni kamar ini?" sahut Souji tak peduli ucapannya kasar atau tidak.
"Hantu gentayangan kamu bilang? Hmmm…mungkin begitu…tapi juga bukan seperti itu…"
Souji mencoba berdiri dan berhasil. "Maksudmu?"
"Lihat bayanganmu di cermin…"
Souji menatap bayangannya yang terpantul di cermin sesuai perintah suara misterius yang memerintahkannya. Tak ada yang berubah di pantulan cermin. Baru ketika Souji hendak berpaling, cermin tersebut sedikit demi sedikit tampak seperti gelombang air. Souji kembali menoleh menghadap cermin dan mendapati ada yang berupah pada pantulan cermin.
Di cermin, wajah Souji mulai berubah menjadi sosok orang lain. Wajah yang ada di pantulan cermin itu terlihat seumuran dengannya, atau mungkin lebih tua. Rambutnya yang abu-abu mulai berubah menjadi biru tua. Poni rambutnya yang semula pendek di atas mata kini menutupi sebelah matanya. Warna Matanya dari abu-abu berubah menjadi biru terang. Dan kulit wajahnya terlihat lebih pucat, pantulannya di cermin terlihat seperti orang yang sangat lelah. Tetap saja banyangan pantulannya masih terlihat kabur.
Dalam hati, Souji mulai memunculkan berbagai macam pertanyaan yang bahkan ia sendiri tak tahu harus menanyakannya pada siapa.
"Apa…? Itu…bukan bayanganku…" desah Souji.
Souji semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia berharap ada seseorang yang mendobrak pintunya atau apalah! Asalkan ia bisa tersadar dari semua ini. Sebab sekarang tubuhnya kaku saking shock nya.
Knock…Knock…ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Souji segera menoleh ke arah pintu sebentar, lalu balik melihat cermin. Bayangan aneh di cermin sudah hilang. Souji tak menunggu beberapa detik lagi untuk membuka pintu kamarnya dan segera keluar dari sana.
Begitu pintu terbuka, Souji langsung menerobos keluar tanpa memerdulikan Yukiko yang hamper saja ikut jatuh tertimpa olehnya.
"S-Souji-kun? Kenapa? Apa ada yang salah?" Yukiko mulai menyentuh pipi Souji yang basah karena keringat dingin.
"Enggak. Nggak apa-apa. Mimpi buruk aja kok. Sungguh…" setelah ia berhasil mengatur nafasnya kembali barulah ia bertanya. "Ada apa kemari, Yukiko-san? Ada masalah?"
"Bukan, ummm, yang lain mau makan ramen di Hagakure. Apa kau mau ikut?"
"Ya. kalian berangkat saja dulu. Nanti aku menyusul."
Yukiko kembali menyelidiki raut wajah Souji. "Souji-kun, kau terlihat aneh. Seperti ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Souji kembali gugup. Bingung mau bilang apa. Seharusnya ia tau kalau ia tak pandai berbohong! Sekarang habislah sudah!
"Eh, itu…Cuma mimpi buruk kok. Mungkin karena terlalu lelah saja kemarin."
Raut wajah Yukiko masih tampak tak puas walaupun akhirnya ia mengangguk pelan dan akhirnya pergi meninggalkan Souji dengan rasa kecewa.
"Hmm, cantik juga pacarmu itu. Manis dan kalem walaupun ia menyimpan rasa curiga yang besar, ia mampu menutupinya."
"Kau ini bisa diam nggak sih?" keluh Souji.
"Nggak perlu marah begitu. Sudah, ayo ikuti mereka ke Hagakure! Kalau tidak mau…aku yang akan membuatmu pergi ke sana!"
"Heh, emang kamu ini siapa sih main perintah-perintah terus!"
Tak lama Souji sudah kehilangan tubuhnya lagi. Maksudnya sudah diluar kendalinya.
"Aku mau…uhh….gosok gigi dulu dong?" pinta Souji.
--------------------
Ramen Hagakure
--------------------
Tempat duduk di restaurant Hagakure langsung penuh begitu rombongan Souji datang dan makan di sana. Yukiko masih tetap memasang raut wajah nggak enak. Bukan karena masalahnya dengan Souji yang tadi. Tapi karena…
"Teddie! Kamu jangan duduk di sampingku lagi! Aku nggak mau kecolongan Ramen lagi!" tegas Yukiko.
Teddie mulai memasang mata kucing. "Tapi…tapi Teddie nggak bakal ulang lagi kok…yah? Yah?" sambil menarik-narik syal hitam-putih Yukiko.
"Eeeh, jangan ditarik-tarik dong! Kecekek nih!"
Souji meringis geli melihat tingkah Yukiko dan Teddie.
"Akhirnya Souji-kun mau ketawa juga! Gitu dong!" sahut Chie menepuk pundak Souji.
"Eh, apa selama ini aku jarang ketawa?" cowok berambut abu-abu itu malah balik Tanya.
"Jaraaaaaaang banget! Setelah ini kita cari oleh-oleh buat Nanako-chan sama Dojima-san yuk!" usul Yosuke.
Tak lama, pesanan mereka masing-masing telah datang. Teddie masih tetap duduk di samping Yukiko dan Yosuke. Kanji, Chie, dan Rise langsung cepat menghabiskan Ramen mereka sebelum…
"Teddie!!!" jerit Yosuke begitu menyadari mangkuk Ramennya hilang. "kenapa kau makan punyaku??!!!"
Setelah Teddie menumpuk mangkok-mangkok yang sudah habis isinya, barulah ia menjawab. "Kenyang, nee…" sambil mengelus-elus perut.
"Kau bilang nggak bakal mengulangi perbuatanmu dulu, gimana sih?! Nggak kapok-kapok nih?"
"Teddie memang nggak akan mengulangi lagi. Tapi khusus hanya untuk Yukiko-san. Ayolah, Teddie kan sudah banyak membantu Yosuke di Junes, nee…?"
"Tapi, tetap saja! itu namanya mencuri, Teddie! Hei, kamu udah makan 20 mangkok! Nanti siapa yang mau bayar semua itu?" Chie menyahut kemudian.
Teddie masih cengar-cengir. Merasa nggak berdosa banget. "Tenang, Teddie sudah membayar semua ramen dengan kartu kredit Yosuke-chan!" lalu ia mengeluarkan kartu kredit Yosuke dari balik kantong celananya.
"Wow, makasih ya, Yosuke-Senpai!" sahut Rise dan Kanji berbarengan.
Yosuke tampak membeku di tempat duduknya. "Teddieee, waktunya…EKSEKUSIIIII!!!!!" teriak Yosuke sebal saking kerasnya sampai mangkok-mangkok yang ada pecah semua. Dan Yosuke harus mengganti mangkok-mangkok yang pecah itu juga.
"Hari ini aku sial terus sih…oya, waktu ke Naganaki Shrine kemarin hasilnya menunjukkan kesialan…"
"Hei, apa yang kalian lakukan di sini?!"
Suara itu terdengar sangat familiar sekali. Seluruh anggota Investigation Team langsung menoleh kea rah sumber suara. Akihiko dan Junpei berdiri di pintu Restaurant dengan tampang seperti biasa, kemudian menghampiri meja Souji.
"Eh, Rambut mangkok, ngapain lo di sini?" Tanya Junpei TIDAK SOPAN!! Untung Souji ini orangnya kelewat sabar.
"Senpai ini bodo amat sih? Jelas-jelas makan ramen." Souji jelas-jelas lagi nggak mood bicara saat itu. Karena perutnya sangat lapar.
Junpei langsung mengernyitkan dahi dan memberi si rambut abu-abu itu evil glare.
"A-apa kamu bilang?! Senpai yang bodo?? Terlalu!" Junpei yang langsung kalap ditahan oleh Akihiko.
"Heh, Rambut Mangkok, dia ini masih senpai mu. Bersikaplah sopan sedikit!" perintah Akihiko.
Rise langsung menyahuti. "kan Senpai Stupei duluan yang cari gara-gara? Jadi jangan salahkan Senpai dong! Risette nggak terima!"
Kanji yang berpostur berandal itu langsung bangkit berdiri dan menghampiri Stupei, ups… maksud saya Junpei.
"Senpai Stupei, kalau berani macam-macam…" Kanji membunyikan jari-jarinya dengan menekuk-nekuknya. "Langkahi aku dulu!"
"S-Stu-Stupei lo bilang?! Kita adakan duel besok di Dorm! Senpai Aki, ayo kita pergi." Lalu si Stupei melangkah keluar bersama Akihiko.
"Mau mereka itu apa sih? Dari kemaren udah cari gara-gara."
"Rise-chan, mangkok ramenmu hilang dimakan Teddie." Naoto mengingatkan.
Langsung saja terdengar suara cempreng dari restaurant Hagakure. "TEDDIEEEE!!!!"
------------------
Paulownia Mall
------------------
"HATCIIII…!!!!" Souji bersin begitu masuk ke Paulownia Mall. Tadi sewaktu berangkat, Souji lupa bawa syal padahal udara musim Semi kali ini sangat dingin walaupun tidak se-dingin di Inaba.
"Pakai ini, Souji-kun!" Yukiko melingkarkan syal hitam-putihnya ke sekitar leher Souji.
"Ma-makasih, Yukiko-san." Souji malu-malu kucing. Rise nggak terima dan nggak mau kalah. Si Idola itu langsung menyambar lengan kanan Souji dan merangkulnya. "Senpai, biar nggak dingin aku peluk ya?" masih dengan suara genitnya. Souji Cuma bisa mengangguk-angguk biasa.
"Aku iri deh sama Souji. disukai banyak cewek! Bahkan dulu waktu di sekolah sering diajak cewek-cewek kencan!"
Chie tersenyum geli mendengar seorang Yosuke berkata begitu. Chie langsung ikut-ikutan merangkul lengan kanan Yosuke.
"Ch-Ch-Chie!!!"
"Katanya kamu juga pengen?"
"Ta-tapi…"
"Tapi apa, Yosuke?"
"Kamu kok jadi…feminine gini sih? Nggak Chie banget gitu…"
"Ja-jadi kamu nggak menghargai usahaku buat jadi feminine demi kamu nih?! Dasar Yosuke nggak ada puasnya!"
JEDUAKKKK…!!!!
Semua langsung sweatdropped begitu Chie menendang "itu" nya Yosuke.
"Se-Senpai memang benar-benar sial hari ini…" sahut Kanji pelan.
Yukiko mulai bergetar. "Ch-Chie…yang tadi itu…ugh…hahaha hebat se…hahahaha…kali…uhuhu…ahahahahahahaha!!!"
"Yukiko! Nggak ada yang perlu diketawain Hyena aneh!" seru Chie.
Tawa Yukiko malah semakin meledak.
"Yukiko-Senpai, sebenarnya ini bukan waktunya untuk ketawa." Kata Naoto mencoba menenangkan Yukiko.
"Aku tau itu…tapi…ugh…aduh…perutku…ahahahahahahaha!!"
Rise melepaskan rangkulannya dan berjalan ke arah Yukiko, lalu berkacak pinggang di hadapannya.
"Senpai ini…kalau selera humornya jelek begitu sampai kapan pun Souji-Senpai nggak akan pernah mau sama Senpai."
Barulah Yukiko berhenti ketawa secara mendadak.
"Rise, kau ini benar-benar kelewatan!"
Rise malah menjulurkan lidahnya. "Weeeeekkkk!!! Kejar aku kalo bisa!!" lali ia lari mengelilingi air macur diikuti Yukiko.
Souji langsung sweatdropped.
Sekarang malah Naoto yang ketawa. "Senpai ini popular juga ternyata. Nah, Senpai pilih yang mana?"
Souji Cuma celingukan. Bingung dengan maksud Naoto.
"Itu…ummm…rahasia!"
"Apa salah satu dari mereka?" Tanya Teddie kemudian.
"Rahasia!" jawab si rambut abu-abu singkat.
"Senpai…jangan main rahasia-rahasiaan terus dong!" keluh Kanji.
Tak lama, Souji dkk dihampiri oleh cewek berambut merah dan cewek berambut coklat terang. Mitsuru dan Yukari.
"Ehm, kalian di sini rupanya. Apa nanti malam kalian ada waktu?" Tanya Mitsuru langsung to the point.
"Ya. ada apa?"
"Souji-kun, mohon untuk hadir nanti malam. Kita bertemu di command room yang ada di lantai 4. sampai jumpa." Mitsuru langsung ngeloyor.
"Souji-kun, jangan kabur ya! ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!" Yukari berjalan mengikuti Mitsuru.
Naoto berdehem. "Senpai, sepertinya pertemuan nanti malam akan jadi hal yang amat sangat serius. Usahakan Senpai siap menghadapi mereka."
____________________________________________________________________________________________________________________________
--------------------
Extra Story
--------------------
Cerita ini mengenai Souji dkk yg mau membatalkan jadwal rekaman syuting…
Souji: eh, Nanako-chan menemukan buku ini nih…apa isinya?
Naoto: sini, biar aku lihat. (membuka buku) WOW!
Chie: eh? Ada apa?
Kanji: itu buku resep masakan si author 'rice cooker' ya?
Yukiko: atau mungkin buku diary Lonely KOS-MOS?
Yosuke: hah? Buku diare? Apaan tuh? Baru kali ini denger.
Chie: buku DIARY. Buku harian itu lhoo.
Rise: Naoto, itu buku apaan?
Naoto: rupanya begitu. Ini adalah rahasia kenapa Lonely KOS-MOS bisa cepat sekali updet cerita. Ini buku scenario!
Souji: yang bener?! Mana liat-liat! (ngintip)
Naoto: ternyata begini nih: setiap Lonely KOS-MOS dapet ide, dia langsung nulis di sini. Dia bahkan sudah buat chapter selanjutnya di buku ini. Di sini ditulis…apa yang muncul di pikiran Lonely KOS-MOS pertama kali, itu merupakan ide yang paling oke menurutnya. Soalnya dia sudah pernah nyoba buat novel sebanyak 5 kali dan gagal semua gara-gara terlalu banyak memikirkan ide-ide yang lain. Wow, apa dia ini author gila atau…
Teddie: Teddie punya ide, nee…!!! Kita buang dan rusakkan buku itu! Dengan begitu kita bisa istirahat, nee!!
Souji: kalo gitu…hancurkan buku itu segera!!!! Semuanya!!! ALL OUT ATTACK!!!
Dan buku itu musnah kena serangan all out attack.
Besoknya…
Souji: santainya…enaaak…( berjemur di pantai)
Lonely KOS-MOS: Lho? Kok…pada santai-santai gini? Kan ada jadwal syuting hari ini?
Chie: naskahnya mana?
Lonely KOS-MOS: nih! Hafalkan ya! (membagi-bagikan kertas scenario)
Yosuke: heeeeh??!! Bukannya kemarin sudah dihancurkan tu buku?! Kenapa masih ada scenario?!!!
Rise: hari ini Rise mau pergi ke spa.
Yukiko: Naoto-chan, jangan-jangan…
Naoto: semuanya! Maaf ya! aku bener2 nggak tau kalo Lonely KOS-MOS itu buat scenario yang sebenarnya di computer! Yang ada di buku itu Cuma scenario oret-oretan yang gagal! Gomenasai!!"
Kanji: Naoto-chan…acara kencan kita hari ini batal dong?
Naoto: siapa yang mau kencan?!! (marah-marah)
Lonely KOS-MOS: oooh, jadi kemaren yang menghancurkan buku oret-oretan seorang penulis itu kalian toh. (evil eye mode on)
Souji: tu-tunggu! Kami bisa jelaskan!
Lonely KOS-MOS: kalian ini benar2 nggak tau diuntung! Aku sudah kasih kalian break selama 1 minggu tapi kalian masih ingin menghancurkan-
Souji: iya deh iya! Kami minta maaf!!!
Lonely KOS-MOS : (murung) aku nggak nyangka…Souji yang sangat kupercaya…melakukan semua ini…
Yukiko: gawat…bisa-bisa dia jadi lebih…
Lonely KOS-MOS: tidak akan ada break selama 2 bulan penuh!!!!
Yosuke: ga-gawaaat!!!
Lonely KOS-MOS: nah, di chap yang sebelumnya saiya digantikan Souji-senpai. Oke, kayaknya kali ini ceritanya…ga nyambung banget deh. Yaaah, makasih buat LvNa-cHaN, MizuxYosuke, silvermoonarisato, Salary Dam, dan pembaca2 yg lain. Arigatou gosaimas! Kasih Reviews juga yaaaaa!!! Bye-bye!!
