P4: Memories of You…

Author's note: halo!! Moshi2!!! Udah lama ga updet! Maklum, blakangan ini lagi perang di sekolah. Hehehehe, ga terasa udah sampe chap segini. Padahal awalnya aq cm mikir ngaco doang, ga taunya bisa sampe chap ini. Semuanya terima kasih buat para pembaca dan reviewers!!! Arigatou gosaimas!!

____________________________________________________________________________________________________________________________

-----------------

Dorm: Lounge

-----------------

"Haaah, I'm beat!! Cape! Pegel! Linu! Keseleo!! Sebeeeeeelll!!!" jerit Junpei sepuasnya setelah mereka semua keluar dari dunia TV. Akihiko dan Mitsuru yang kupingnya sensitive banget kalo dengar jeritan langsung menempeleng Junpei tepat di atas kepala. Sementara Yukari yang menganggap si stupei itu sangat annoying menginjak kedua kaki stupei.

"Kau ini!!! Jangan ribut!!!" bentak mereka bertiga barengan.

Stupei terbujur kaku di depan TV. "I-iya…"

"Hei, sekarang semuanya langsung istirahat saja! ini sudah terlalu malam. Ayo semuanya bubar!" perintah Mitsuru lantang.

Semuanya beranjak naik ke lantai atas. Sementara Souji dan Aigis tetap duduk-duduk di Lounge. Kesunyian masih melingkupi mereka berdua. Sampai akhirnya Souji tidak bisa menahan keinginannya lagi untuk bertanya.

"Aigis-san…"

Aigis mendongak, mengangguk lembut. "Ya? Ada apa, Souji-kun?"

"Te-Terima kasih sudah menolongku tadi."

Senyum Aigis mengembang. "Tak masalah. Lagipula, sebenarnya yang ingin menolongmu itu teman-temanmu sendiri. Kami hanya ingin membantu saja." Aigis kembali menatap ke bawah, menghindari tatapan mata Souji. tak lama ia mendongak kembali. "Souji-kun…"

"Hng?"

"Tadi sebelum kau mendapatkan Thanatos sebagai personamu…kau bilang…'Minato' kan?" gadis berambut kuning itu melayangkan tatapan emotionlessnya pada lawan bicaranya. Aigis terpaksa memasang tampang emotionlessnya seperti dulu. Kalau tidak, dia pasti akan menangis kalau membahas Minato. "Apa aku tidak salah dengar, Souji-kun?"

Di sisi lain Souji yang sudah kelelahan tak mampu berbohong apa-apa. Walaupun dia bilang tidak, Aigis adalah robot, tentu dia punya rekaman data yang mengatakan kalau ia pernah mengatakan 'Minato'. Akhirnya cowok rambut abu-abu itu mengangguk pelan, mengakui segalanya pada Aigis.

"Jadi benar…Minato-san benar-benar kembali. Itu berarti Nyx juga kembali."

"Nyx?"

Aigis mengangguk. "Ya, Nyx benar-benar kembali. Lagipula, apa saja yang dikatakan Minato-san padamu?"

"Dia bilang kalau semua ini bersangkutan dengan kecelakaanku waktu di Inaba."

Dahi Aigis mengernyit. Jadi Minato benar-benar kembali dan untuk sekarang hanya bisa berkomunikasi dengan Souji. lalu mengenai Kecelakaan, apa selama ini Minato selalu mengawasi Souji, atau mungkin Minato kembali dalam arti hidup di dalam Souji?

"Souji-kun, kecelakaan apa yang kau maksud?"

"Kecelakaan kereta. Tapi aku tak ingat keseluruhannya. Cuma beberapa saja. aku…menderita amnesia." Souji balik menatap Aigis nanar. Dari sorot mata Aigis tampak sebuah kesedihan yang mendalam walaupun ia berusaha menutupinya dengan gaya emotionlessnya. Tapi, semua itu bisa dilihat Souji dengan amat sangat jelas.

"Lalu Minato-san bilang apa lagi padamu?"

"Dia menanyaiku tentang…" Souji merasa sangat enggan membahas semua ini. Tapi ia juga tak ingin menyimpan rahasia-rahasia itu selamanya. "Seberapa pentingnya kehidupan teman-temanku dibandingkan dengan hidupku sendiri. Itu yang ia tanyakan padaku." Lanjutnya, suaranya makin pelan.

"Lalu kau menjawabnya apa, Souji-kun?" Aigis masih melontarkan pertanyaan, berharap lawan bicaranya mau menjawab.

"Aku bingung…di satu sisi aku tak ingin kehilingan teman-temanku…di sisi lain aku juga…" Souji terhenti karena Aigis sudah meletakkan jari telunjuknya di tepat di permukaan bibir cowok itu. Aigis menggeleng-geleng. "Aku mengerti. Aku juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu. Minato-san juga. Dia menanyakan semua pertanyaan itu sebagai sebuah test untukmu."

Souji dan Aigis saling beradu pandangan. "Aigis-san, bisa tolong jelaskan apa maksud Minato-san?"

Aigis menggeleng lagi. "Aku rasa Minato-san ingin supaya kau mengerti sendiri apa yang dimaksudnya. Souji-kun, aku yakin sekali kalau apapun yang dilakukan Minato-san padamu tak akan merugikanmu. Aku sangat yakin itu."

Souji membuang muka. Berharap ia tak perlu menatap lurus-lurus mata Aigis. Tak perlu. "Tapi kenapa harus aku?"

"Karena kau terpilih, Souji-kun. Lain kali kalau Minato-san mengajakmu bicara lagi, sampaikan salamku buatnya ya?"

"Pasti, aku yakin dia rindu padamu."

--------------------------

Beach Of Nothingness

--------------------------

Berhubung si pemilik kamar sangat lelah, ia langsung jatuh ke alam mimpi tak lama setelah ia berbaring. Matanya langsung terpejam erat-erat, rasanya ingin sekali tidur di dalam ketenangan. Namun seperti biasanya, ia tidak diperbolehkan tidur dengan keadaan seperti itu.

Hal pertama yang dilihatnya saat cowok rambut abu-abu itu membuka mata hanyalah langit biru cerah. Ia masih terus berbaring di atas lapisan pasir putih sambil terus menatap langit biru cerah di hadapannya.

"Kita jumpa lagi di sini, Souji-kun." Tak asing lagi. Suara itu berasal dari cewek berambut biru yang pertama kali dikenalnya di tempat itu juga. "Bagaimana keadaanmu?"

"Baik. Sangat baik, tak pernah bisa tidur dengan tenang setiap malam. Hal itu sangat baik."

Nephilim duduk di sebelahnya, ikut-ikutan menatap langit biru cerah. "Maaf kalau aku mengganggumu lagi. Kali ini aku memanggilmu karena permintaan Minato-san." Souji menoleh menghadap cewek di sebelahnya. "Minato-san?"

"Dia memintaku menjelaskan semuanya padamu. Dari soal kecelakaan, sampai kembalinya Nyx dan Minato-san." Mereka berdua saling berpandangan. "Kau siap mendengar?"

"Ya. jelaskan saja."

"Souji-kun, dia bilang padamu kalau ia bisa mengendalikanmu karena ada 2 hal yang penting kan? Hope and Miracle." Nephilim tak ingin terus terusan menatap Souji. kini ia memandang lurus ke garis pantai dengan deburan ombak yang tenang. "Mengenai harapan, sebelum kecelakaan kau berharap ingin sekali bisa tinggal di Inaba berama teman-temanmu lebih lama lagi, Minato menyadari keinginanmu ini. Lalu mengenai Keajaiban, kau bisa memanggil Izanagi-no-okami di luar TV dan berhasil menyelamatkanmu dan juga sekaligus membunuhmu."

Souji langsung bangit duduk sambil melayangkan tatapan tajam pada Nephilim. Nephilim yang sadar masih tetap berusaha untuk tenang dengan cara tetap terus menatap deburan ombak di hadapan mereka berdua.

"Souji-kun, sebenarnya…kau ini…" Nephilim berhenti sejenak, ragu ingin melanjutkan penjelasannya atau tidak. Tapi ia telah berjanji pada Minato untuk menjelaskan semuanya. Jadi, apapun itu ia akan tetap menjelaskannya. "Kau sudah mati saat kecelakaan itu berlangsung, saat kau memanggil Izanagi-no-okami yang kedua kalinya. Itu sebabnya kau bisa sampai ke sini."

Souji ternganga. Bagaimana mungkin dia sudah mati?! Dia bisa merasakan ia benar-benar hidup, sehat, dan segala sesuatu di sekitarnya terasa nyata. Ia tidak sedang melayang-layang di atas badannya, ia tidak merasa benar-benar sudah mati.

"Nggak! Kalau aku sudah mati, kenapa aku masih bisa berhubungan dengan teman-temanku yang lainnya? Aku bahkan masih bernapas!" cowok itu mulai menggeleng-geleng histeris. Nephilim segera menenangkan cowok di sebelahnya. Air matanya mulai membasahi pipinya.

"Souji-kun…aku ngerti… sekarang kau masih hidup itu juga karena Minato-san. Aku mohon, tenanglah!"

Souji mulai tenang, tapi raut wajahnya makin pucat dan murung. Nephilim tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia tahu kalau rasa takut itu sedang menghantui Souji, ia sangat tahu itu. Nephilim sendiri mulai memasang senyum yang dipakasakan, setidaknya supaya membuat cowok di sebelahnya tenang.

"Minato-san memilihmu sebagai orang yang tepat. Dia mengirimku untuk membantumu menyelesaikan sesuatu yang belum selesai kau kerjakan. Tapi ia tak punya waktu lama. Souji-kun, temukan jawabanmu sebelum Nyx benar-benar kembali."

Cowok itu tidak langsung membalas. Otaknya terlalu pusing untuk memikirkan segala sesuatunya secara sehat saat ini.

"Berhentilah menyuruhku menemukan jawaban yang bahkan aku sendiri tak tahu jawaban dari apa! Minato-san berkata begitu, Aigis-san juga, sekarang kau juga mengatakan hal yang sama padaku! Katakan, jawaban dari apa!"

"The answer of life." Tatapan Nephilim yang semula nanar kini mulai berubah sedikit demi sedikit. Mulai memancarkan rasa tenang dan damai yang tentunya juga mempengaruhi orang yang melihat tatapan matanya.

"Minato-san masih belum menemukan jawabannya dalam dirimu. Tepat sebelum kau mati, Minato-san sudah hidup di dalam dirimu. Karena kehadirannya itulah kau masih hidup. Jadi kalau Minato-san mengajakmu berkomunikasi lagi, bilang terima kasih padanya."

"Aku tahu. Kau tak perlu menuturiku seolah-olah aku adalah anak kecil." Souji mulai merenung. "Kenapa dia tidak bilang saja sejak awal? Kalau ia memberi tahuku sejak awal, mungkin aku bisa cepat mengerti. Dan…kenapa Nyx bisa kembali lagi?"

"Nyx belum sepenuhnya kembali, tapi ia pasti akan kembali tak lama lagi. Minato-san butuh bantuanmu, makanya kau harus mendapatkan jawaban atas 'The answer of life' segera." Akhir perkataan Nephilim itulah yang menyadarkan Souji sepenuhnya. Membuka matanya lebar-lebar akan realita yang sebenarnya dan kewajiban yang harus dilakukannya. Dan ia sadar kalau inilah sesuatu yang harus ia tuntaskan.

"Jangan menyalahkan Minato-san seperti itu, dia jauh lebih menderita darimu sebelumnya. Dia pasti mengerti perasaanmu. Jangan pernah salahkan dia."

Souji mengangguk ragu. Setengah dari hatinya paham tapi separuhnya lagi masih belum bisa menerima kenyataannya. "Aku tahu."

---------------------

Lounge: afternoon

---------------------

Semuanya sekali lagi berkumpul di lounge untuk membahas beberapa hal mengenai kejadian yang ada di TV kemarin. Termasuk anggota SEES. Kali ini tak ada oerseteruan antara kedua group yang berbeda itu.

"Semuanya, aku mohon! Bantulah aku sekali lagi!" Souji membungkuk-bungkukkan kepala pada senior-seniornya. "Aku mohon!"

"Sou-chan, ada apa?" kata Fuuka lembut. "Kau ingin kami membantu apa?"

Souji mendongak, dari raut wajahnya tampak ragu sesaat. "Itu…tapi…" dan keraguan semakin menghantuinya.

"Seta-kun, katakan saja. tak perlu khawatir." Dari situlah Souji memperoleh kembali keyakinannya.

"Tolong…bantu aku kalahkan Nyx!"

Tatapan-tatapan mata seluruhnya menghujam pada cowok berambut silver di tengah ruangan itu. Menatapnya tak percaya karena permintaannya yang diluar perkiraan seluruhnya. Kecuali Aigis.

"Nyx…kembali?" Mitsuru jadi sedikit tergagap. Yukari menganga. Sementara Yosuke dkk masih bertampang sama karena mereka tak tahu apa-apa.

Souji hanya membalas dalam sekali anggukan. Suasana jadi seperti neraka seketika. Rasanya…berat sekali walaupun sedang duduk di atas sofa yang empuk. Entah apa itu yang berat. Berat karena takut? Karena putus asa? Karena kecewa? Karena sedih? Dan berbagai macam karena.

"Sou-chan, dari mana kau tahu kalau Nyx kembali? Bukankah…"

"Minato-san memang sudah membuat great seal antara kemanusiaan dan Nyx dengan nyawanya sendiri. Tapi, saat ini…Minato sudah bukan great seal lagi…"

"Kenapa kau bisa berkata begitu seenaknya?!" bentak Yukari tanpa sadar. "…Gomen…"

"Apa kali ini…kita semua akan berakhir. Kalau seperti ini jadinya…pengorbanan Minato-san jadi sia-sia!"

"Aku tak yakin bisa mengalahkan Nyx kali ini…" ratap Junpei.

"Berarti usaha kita dulu…amat sangat sia-sia. Tak ada gunanya sama sekali…"

Yosuke yang mendengar semua perkataan-perkataan seperti itu rasanya gatal sekali untuk berkomentar. Kemana semangat mereka? Kenapa mereka langsung putus asa seperti itu? Naoto menggeram sambil menata posisi topinya. Chie juga menggeram dengan kaki yang sangat gatal untuk menendang sesuatu, sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melampiaskan kekesalannya. Kanji merasa sangat menyesal punya senior-senior seperti itu. Rise setengah mati menahan amarahnya yang siap meledak. Yosuke menggertakkan serentetan gigi putihnya saking sebalnya.

"Apa seperti ini kalian menjalani hidup…?" gertak Yosuke. "Justru kalau kalian tidak berusaha itu yang malah buat segalanya jadi sia-sia!!!" teriaknya sekuat tenaga. Dinding pembatas amarahnya sudah jebol. "Kalian pikir pengorbanan Minato-san itu sia-sia? Menurutku nggak begitu! Minato-san melakukan hal seperti itu karena ia menyayangi kalian sampai-sampai ia rela berkorban demi kalian!! Dan sekarang kalian menyesali perbuatannya?!"

Chie ikut menimpali dengan amarah tinggi. "Kami memang tidak tahu-menahu soal Minato-san, tapi kami bisa mengerti apa maksud Minato-san! Aku yakin dia pasti akan kecewa melihat kelakuan kalian yang seperti sekarang ini!"

PLAAAAAKKK!!!

Sebuah tamparan sempurna melayang tepat di pipi kanan Chie. Yukari terengah-engah sambil menahan air matanya yang siap keluar.

"Jangan pernah berkata apapun seakan-akan kalian mengenal Minato-kun!!"

Rise dan Yukiko naik darah.

"Tapi itulah kenyataannya. Kami bisa mengerti karena kami juga punya perasaan seperti itu! Minato-san tidak menginginkan kalian sedih seperti itu! Ia ingin kalian hidup, karena itu ia rela mengorbankan apapun demi kalian. Kalian adalah orang-orang yang berharga di hatinya!"

"Cukup!!!"

Naoto yang semula diam juga menimpali. "Belakangan ini aku memikirkan alasan mengapa Minato-san mau menjadi great seal antara Nyx dan kemanusiaan. Dan sekarang aku mengerti. Ia rela melakukan apapun itu asal orang-orang yang ia sayangi baik-baik saja. ia pada akhirnya sampai pada puncak perasaannya untuk melindungi kalian dan tetap menjaga kalian. Dan apa sekarang kalian ingin menghancurkan sumber utama usaha Minato-san?!!"

Yukari dan Aigis membelalak.

"Teddie juga berpikir seperti itu, nee…kalau Teddie adalah Minato-san, Teddie pasti sudah melakukan hal yang sama, nee…"

"Aku nggak bisa membayangkan kalau aku Minato-san. Dia sudah sangat berjasa…tapi kalian melupakan jasanya untuk kalian dan semua orang!!! Dammit!!!"

Yukari yang masih garang bersiap-siap mengayunkan tangannya lagi. Souji langsung dengan cepat menghampiri seniornya dan menahannya.

"Yukari-san, apa yang dikatakan mereka itu benar…"

Si pemilik tangan menarik tanganya sekuat tenaga dari cengkraman Souji hingga terlepas. "Jangan sentuh aku!!"

"Yukari-san, aku rela menjadi great seal…itu merupakan keputusan terakhirku. Jadi itu bukan salah kalian semua. Karena itu pilihanku."

Yosuke dkk membelalak. Team SEES melotot.

"A-Arisato-kun…?" kata Mitsuru pelan.

Souji mendongak dan menampilkan tatapan yang berbeda. Warna matanya menjadi biru laut dan tampak tenang serta hangat. Seolah-olah tatapan mata itu menyimpan berjuta-juta rahasia ketenangan.

"Senang kau mengingatku…Mitsuru-senpai."

Aigis langsung berlari merangkul Souji yang kini dikendalikan sepenuhnya oleh Minato. "Minato-san!!!"

"Hei, aku rindu pada kalian. Tapi, waktuku dan Souji tak banyak. Kalian harus cepat kalahkan Nyx! Cepat!!"

Akihiko tergagap. "Tap-tapi…"

"Senpai, selalu ada cara selama kita berusaha melakukannya. Jangan putus asa sebelum mencobanya, senpai. Ingat, dulu kita berhasil mengalahkan Nyx karena kita berusaha bersama kan? kalau begitu lakukan saja sekali lagi." katanya sambil tersenyum.

"Minato-san, kenapa tidak bilang-bilang kalau kau kembali?" Ken tiba-tiba berbicara setelah lama membisu. "Kau tidak rindu pada Aigis-san?"

"Ken, masalahnya aku nggak punya waktu banyak. pokoknya kalian bantu Yosuke dkk ya?"

"Minato-kun!!" Yukari mengguncang-guncangkan pundak Souji. "Minato-kun?!"

"Yu-Yukari-senpai, ada apa sih?" barulah Yukari berhenti.

"Souji-kun...cepat panggil Minato-kun!!! sekarang juga!!!"

Souji ternganga. "Heh?! gimana caranya?"

"Apapun!! pokoknya panggilkan Minato-kun!!!" sekarang Yukari sudah mencekik-cekik leher pemuda di hadapannya.

"Senpai....ampunnn!!! nggak...bi...sa...nafas!!!"

"Yukari-san! sudah, lepaskan dia!" Aigis menarik-narik tangan Yukari supaya lepas, dan untungnya berhasil.

Mitsuru berdehem setelahnya. "Semuanya, siapkan senjata-senjata kalian nanti sore kita akan kembali masuk ke dalam TV dan kalahkan Nyx!!!"

"HEEEEEEHHHH???!!!!"

"Ini permintaan Minato-san. ingat, apapun pilihan Minato-san, dia selalu memilih yang terbaik. jadi kita sebaiknya membantu mereka."

"YOSH!!!" teriak team SEES serempak.

_______________________________________________________________________

--------------

The Answer

--------------

Lonely KOS-MOS: Jumpa kembali dgn saya...Lonely KOS-MOS a.k.a Shizuka Shirakawa dalam acara 'The Answer Showbiez!!'. oke, nampaknya para anggota P4...(sweatdropped)

Souji: Hmmm...Rise, bakso nya enak yaw!

Chie: bang, tambah 10 mangkok lagi dong!!

Yosuke: cak soto, tambah soto se-gentong dong! uenak buanget!!!

Teddie: tambah 20 mangkok pangsit mie dong!!! Yosuke nanti yang bakal bayar!!

Kanji: oi, Lonely KOS-MOS, belikan 40 batang es krim!!!

Naoto: yummy!! omelettenya enak!!! muantab!!!!

Yukiko: ahahahaha. makan yang banyak aja!

Lonely KOS-MOS: wuoyyy!!!!!! kalian ini lagi tayangan 'live' bego!!! kalian malah makan2 seeeh?!!!( depresi, stress, amarah level 50)

Souji: abis kite2 laper. loe taw sendiri toh kalo perut keroncongan, mana bisa diajak kompromi? (bahasanya mulai kyk abang2)

Lonely KOS-MOS: Aduh, pusing aq kalo anggota P4 ternyata sedeng2 semua kyk gini.

Rise: aih2, senpai! bang, tambah satu porsi lagi buat Lonely KOS-MOS!!

Lonely KOS-MOS: ga perlu!!! pokoknya sekarang semuanye ke studio!!!! NOW!!!!!!

Yosuke: loh, terus soto se-gentong yang gue pesen gmn?

Chie: bakso2 yg gue pesen?

Lonely KOS-MOS: alah, bawa aja deh ke studio!

di studio...

Lonely KOS-MOS: sialan....sekarang malah tambah bikin kotor studio....

(studio sudah mirip kandang sapi)

Lonely KOS-MOS: mana bakul bakso sama soto nya juga digotong kemari lagi. baru tau aq kalo ada bakul soto ma bakso masuk studio....

Yukiko: ngomong2 maw tny apa yah?

Lonely KOS-MOS: bentar2. ada e-mail dari...StarGuy...'Kenapa Souji rambutnya abu-abu? Apa karena sudah kakekk-kakek, semir rambut, ato suka marah?'

Souji: umm...ano...soalnya ayah gue punya ayah terus ayahnya lagi lalu ayahnya lagi teros ayahnya lagi trusss....

Lonely KOS-MOS: stop-stop! ora mudeng taoooo!!!

Souji: loe payah sih!

Lonely KOS-MOS: sabar Shizuka...sabar...nanti setelah acaranya selesai kamu bisa cincang mereka semua semaumu...bila perlu niru salah satu adegan di film anime Higurashi no naku koro ni yang baru kamu tonton...(bicara dalam hati)

Rise: anu! mungkin mamanya rambutnya putih, terus papanya rambutnya item. makanya rambutnya jadi abu-abu. mwahahahahahahaha!!!

Yukiko: sejak kapan yah aku tularin virus ketawaku ke Rise?

Lonely KOS-MOS: ADUH! jawab aj kok susah sih?!

Souji: iya deh... rambut gw abu-abu tanya aj ma ATLUS! mereka yg buat gw. gw sih pengennya karena rambut gw disemir abu2. hehehe, biar keren nan ganteng.

Lonely KOS-MOS: dasar narsis! tp gpp lah, silahkan nikmati sisa wkt kalian sebelum kalian gw cincang nanti.

Naoto: ada e-mail laen ga?

Lonely KOS-MOS: GA! soale gw mau...(ngambil pisau cincang guede alias hachet)

Naoto: jgn2 dia kena penyakit 'Hinamizama Syndrome' lagi?

Chie: apaan tuh?

Naoto: nonton aja anime yg dia tonton! kyknya udah sampe di Lv 5 deh. kalo gitu...

Anggota P4: LARIIII!!!!! BAHAYAAAAA!!!!!!!!

Lonely KOS-MOS: AHAHAHAHAHAHA!!!!

Naoto: karena si Lonely KOS-MOS jadi ga waras karena kami yg bandel2 saya gantikan dia . pokoknya kirim Reviews apa aja deh! terserah. kalo bisa reviewsnya bisa ngasih solusi supaya gw slamet dari serangan Lonely KOS-MOS!!! DAAAAAHHH!!! HUWAAAA!!!!!