Author's Note: bwah…akhirnya final chap! Ini baru pertama kalinya saya buat cerita yang akhirnya selesai!! Arigatou bwat para reviewers!!! Because all of your helps, this story will finally end in this final chapter!! I'll make sure you won't regret for reading this story! Now…enjoy the last moment of this Chapter…
Summary: everything will finally come to an end…no matter what it is. But, there's one thing that will never disappear no matter how hard you try to perish it. Because, it will always be a part of yourself, it won't go away forever from you. Those beautiful memories…will never leave you anymore…Those memories of you….
__________________________________________________________________________________________________________________________________________
Final Chapter:
Last Sanctuary
I will sleep a while until the dawn wakes me up again
I still believe…
Come what way…
There is no way to be free from love
Deeper we sink in the darkness
Brighter it shines in our hearts
The lights of love…
Maybe Tomorrow – Emily Curtis
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Hari ini langit tampak bersedih, tak lama lagi pasti hujan turun. Yukiko berdiri terpaku di ujung dengan pandangan matanya yang penuh dengan kekosongan. Apapun yang dilakukannya pasti semuanya di luar kesadarannya. Apapun itu. Seorang gadis berambut coklat susu pendek dengan mata sembab menghampiri Yukiko yang masih diam seribu bahasa. Gadis itu memayungi Yukiko, namun ditolaknya.
"Nggak usah, Chie. Aku nggak apa-apa." Seperti itulah balasan singkatnya. Chie menatap Yukiko nanar. "Yukiko…" Yukiko tetap diam dan menunduk menghadap tanah. Sesedih apapun dia, tetap saja air matanya tak mau keluar. "Aku sudah janji…"
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Seperti biasa…mereka berdelapan selalu menghabiskan waktu bersama di food court Junes. Sekarang sudah saatnya bagi mereka hidup dengan tenang setelah apa yang telah mereka lalui selama ini. Dari pertempuran melawan Izanami…sampai pertemburan melawan Nyx. Semua itu rasanya seperti baru terjadi kemarin saja. Semuanya terasa amat sangat singkat dengan berbagai keterbatasan. Mereka berdelapan bercanda ria seakan-akan beban mereka masing-masing telah terangkat sepenuhnya. Tapi mungkin memang itulah kenyataannya.
"Huayeeeem…pegal-pegal, linu, capek banget rasanya!!" jerit Yosuke sambil menguap lebar dengan tangan kanan menutupi mulutnya. "Mulai detik ini, hidup kita setidaknya jadi lebih tenang. Mengingat Midnight Channel sudah musnah."
"Senpai, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya tiduran terus di rumah lho. Kau masih punya banyak pekerjaan yang menumpuk!" setelah selesai berkata Kanji menyeruput Kopi-susunya. "Senpai, jangan buang-buang waktu untuk hal yang…sia-sia dong!"
Chie ikutan menguap. "Tapi, kita kan baru saja kembali. Setidaknya…kita bersenang-senang dulu sebelum memulai aktifitas seperti biasa. Ok?"
"Hei-hei, walaupun Midnight Channel sudah tidak ada, bukan berarti tayangan aneh itu nggak bisa kembali lago loh! Ya kan, Senpai?" masih dengan centilnya Rise melingkarkan lengannya ke pundak Souji dari belakang. "Senpai, kita jalan-jalan yuk!" dan sudah kelihatan sekali kalau Yukiko sudah meremas-remas kaleng jus di genggamannya menjadi tak berbentuk. Tenanganya jadi naik berlipat ganda.
"Aww, ada yang cemburu rupanya…hihihihi…"
"Grrr…RISEEEEE!!!!" dan mulailah aksi kucing dan tikus di food court Junes.
Chie dan Naoto malah tertawa melihat tingkah Yukiko yang awalnya tidak kekanak-kanakan jadi berubah 180 derajat hanya karena seorang Rise. Teddie yang masih mengenakan kostom beruangnya mencoba menghentikan langkah Yukiko yang sudah persis seperti kereta express. Tapi…
DUAK!!!!TUIIIIIIIIIINNGGGGGG!!!GEDEBUGG!!!
Kira-kira seperti itulah suara jatuhnya Teddie setelah terpental. Yosuke dan segerombolannya semakin tertawa tanpa henti. Memerlukan waktu agak lama untuk menghentikan Yukiko. Tak lama semuanya kembali menjadi normal.
"Hei, besok aku harus kerja. Jadi maaf yah, Sou. Aku nggak bisa menemanimu keliling Inaba." Kata Yosuke sambil meneguk minuman kalengnya. "Teddie juga otomatis tidak bisa menemanimu. Junes besok pasti sangat ramai karena ada diskon besar-besaran."
"Teddie…sedih, nee…" ratap Teddie seakan-akan tak akan bertemu dengan Souji lagi selama 10 tahun.
"Yosh, kalo gitu aku Bantu Yosuke aja. Yukiko, kamu mau ikutan?" Chie menawari.
"Umm…" Yukiko agak bingung juga mau menjawab apa. "Aku ada urusan besok. Jadi…"
"Ya…ya, aku ngerti. Kalo Rise-chan, besok mau apa?"
Si Idola centil itu memutar-mutar kuncirannya sebelum menjawab. "Besok harus temani Obaa-chan jualan tofu. Obaa-chan pasti kuwalahan karena selama ini Rise Tinggal." Pandangan Chie beralih ke Kanji yang dari tadi terus melongo. "What?"
"Kanji-kun, kamu besok ngapain? Temani Souji-kun sono gih."
Kanji langsung garuk-garuk kepala. "Yah, aku sih mau-mau aja. Tapi…aku bisa dimarahi Okaa-san karena terlalu banyak ngeloyor." Chie dan Yosuke menghela napas panjang. Satu-satuya orang yang belum ditanyai hanyalah Naoto.
"Nao-chan, bisa nggak besok temani Sou jalan-jalan atau apa gitu, kek?" pinta Yosuke berharap penuh. Namun dari tampilan wajah Naoto sudah mengatakan yang sebaliknya.
"Maaf, tapi pekerjaanku sudah menumpuk. Begini saja, besok lusa kita kumpul di Samegawa River! Jadi usahakan besok semua pekerjaan diselesaikan segera, supaya bisa dating besok lusa. Gimana?"
"Tapi…"
"Tak masalah." Potong Souji. "Lagipula, besok aku harus menemani Nanako seharian. Dia pasti kangen padaku. Waktunya jadi onii-chan lagi."
"Hehehehehe, kamu memang cocok jadi apa saja Sou! Asal yang baik-baik loh!"
Kanji berjalan mendekati senpai, alias, leadernya dan merangkulnya. "Yo, senpai. Besok lusa kita lomba berenang di samegawa river yuk!"
Souji langsung sweatdropped. "Eh, nggak ah. Masa di cuaca dingin seperti ini masih mau berenang? Lagi pula, aku kapok. Salah-salah nanti malah kena muntahnya Hanako lagi…"
Chie dan Yukiko cekikikan. Rise dan Naoto menekuk Dahi, menandakan mereka berdua tidak tahu.
"Hanako yang mana, senpai?"
"Itu lhoo, yang ikutan beauty peagent. Dia sering kirim coklat ke lokerku."
Yosuke dan yang lain jadi ikutan tertawa.
"Hahahaha, ternyata Hanako salah satu fans Souji yah? Parah…parah…hahahahahaha!!!"
"Ngomong-ngomong, Yosuke.." Yosuke terdiam, sementara yang lain masih tersenyum-senyum. "Tempo hari aku ngasih coklat dari Hanako ke kamu loh. Kamu makan atau kamu buang?" muka Yosuke langsung menghitam, setelah menghitam langsung menghijau.
"HUEEKKKS!!!! HUEKK!!! BUEKKK!!!"
"Aahahahahahahahahahahahahaha!!!!"
--------------------
Dojima Residence
--------------------
"Nanako-chan! Onii-chan pulang!"
Sekejap terdengar suara derap langkah kaki yang terburu-buru. Adik sepupu tercintanya secara otomatis menyambut kedatangannya. Bocah berkuncir dua itu tersenyum semanis mungkin untuk menyambut kedatangan Onii-chan nya. "Onii-chan!" lalu ia memasang tampang cemberut. "Onii-chan lama sekali perginya. Menyebalkan! Harusnya Nanako juga diajak!"
Diajak? Nanako juga diajak? Justru akan semakin membahayakan keselamatannya sendiri. Gadis cilik itu tak tahu apa yang kakaknya hadapi di Port Island. Tak tahu apapun. Tak ada yang memberi tahu. Dan juga sebaiknya jangan diberi tahu.
"Onii-chan? Onii-chan sakit?" kini mimic wajahnya berubah menjadi khawatir. "Mana yang sakit?"
Souji segera menepis jauh-jauh pikirannya dan kembali tersenyum pada Nanako. "Nggak, watashi wa genki desu! (aku baik-baik saja!)"ucapnya seraya mengacak-acak rambut Nanako. "Yuk kita buat kopi susu hangat."
Nanako tersenyum senang dan segera berlari menuju dapur, sementara Souji duduk di sofa sambil mengganti channel-channel TV. Tak satupun ada channel yang mampu menarik perhatiannya. Souji hanya terus menekan tombol channel selanjutnya tanpa memperhatikan channel demi channel yang ada. Hinggga Nanako berdiri di sampingnya sambil menawarkan kopi susu, ia masih saja berkutat dengan aktivitas mengganti channelnya.
"Onii-chan?"
Pemuda berambut abu-abu tersebut tak memberi respon apapun. Matanya tetap lurus-lurus tertuju pada layer TV. "Onii-chan?" panggil Nanako lagi. Masih tak ada jawaban. "Onii-chan? Daijobu?"
"ONII-CHAN!!!" teriak Nanako yang sudah kesal dicuekin terus. Remote TV yang sedari tadi digenggamnya terjatuh ke sofa.
"Ya?" hanya seperti itu saja respon balasan Souji.
"Onii-chan, ini kopi susunya. Dari tadi Nanako panggil kok nggak denger?" Gadis berkuncir ini kemudian duduk tepat di sebelah kakaknya. Wajahnya menampilkan rasa cemas yang luar biasa. Rasanya seperti ada yang berbeda dari Onii-chan. Seperti Onii-chan yang tak kukenal, batin Nanako. "Onii-chan? Daijobu desu ka?"
"Enggak apa-apa. Cuma…sedikit lelah setelah perjalanan tadi. Nah, aku tidur duluan yah. Oyasumi nasai, Nanako-chan." Dan setelah menyelesaikan kalimatnya pemuda itu beranjak ke kamarnya yang terletak di lantai dua, meninggalkan Nanako yang masih terbengong-bengong sambil menyeruput kopi sengaja Souji membanting pintu di belakangnya cukup keras. Badannya serasa akan pecah saat itu juga. Kepalanya pusing, pandangannya sudah kabur. Yang ia inginkan sekarang hanyalah satu. Futon untuk tidur.
Beberapa menit berlalu, Futon yang awalnya terlipat rapi di ujung ruangan saat ini sudah terbeber di ujung ruangan pula. Tanpa ambil pusing, Souji memutuskan untuk tidur. Tak sampai ia tertidur lelap, ia sudah dikejutkan hal aneh. Cuaca hari ini cukup dingin. Beberapa saat Souji sebelum memasuki rumah, telapak tangannya memang sangat dingin seperti es. Kalau orang normal, seharusnya begitu masuk ke dalam rumah yang penghangatnya sudah terpasang, maka telapak tangan orang yang normal itu juga ikut hangat. Tapi ini justru kebalikannya yang dialami Souji. Seberepa pun lamanya ia merendamkan kedua tangannya di air hangat, tangannya tak kunjung hangat. Justru airnya yang malah menjadi dingin. Malam itu cuacanya memang sangat-sangat dingin. Ramalan cuaca pun tak dapat memprediksikan cuaca keesokan harinya.
---------------
The Next Day
---------------
Pagi ini langit sangat berawan. Padahal biasanya langit selalu cerah, tapi saat ini selalu mendung. Nanako awalnya berinisiatif untuk menjemur pakaian, namun niatnya urung begitu melihat langitnya yang berawan. Yah, seperti apa yang telah direncanakan Souji kemarin, hari ini ia akan menemani Nanako bermain. Ingat!! NANAKO, bukan HANAKO! Kalo Hanako amit-amit deh, mending kabur duluan sebelum dilindas sama gentong raksasa begituan. Wew, lanjut ke cerita semula. Nanako terus cemberut sambil memandangi langit gelap di atasnya. Bahkan ia tetap cemberut dan tidak sadar waktu Onii-channya sudah duduk di sebelahnya.
"Huh, kenapa langitnya jelek sekali sih hari ini? Padahal kemarin cerah-cerah aja tuh. Cuma udaranya aja yang semakin dingin." Keluh Nanako sambil bertopang dagu. "Onii-chan…"
"Hng?"
"Kita jalan-jalan ke Junes yuk! Kan sudah lama kita nggak ke sana?"
Souji masih menimbang-nimbang antara ingin pergi atau tidak dengan mempertimbangkan cuacanya yang tidak menentu. Tapi ia tak butuh waktu lama untuk memutuskannya. Pertanyaan Nanako tadi hanya dibalas dengan sebuah anggukan dan gadis di sebelahnya langsung bersorak gembira.
Di perjalanan Souji sempat bertemu beberapa anggota Investigation Team pada beberapa lokasi di Inaba. Ia berjumpa dengan Teddie yang masih tetap dengan pekerjaan semulanya sebagai Maskot teraneh Junes. Teddie malah keliling-keliling jalan, lari ke sana-ke mari sambil membagi-bagikan balon yang digenggamnya. Tak lama Teddie berjalan menuju ke Nanako yang tersenyum hangat walaupun cuacanya mendung-mendung memberikan salah satu balon berwarna merah yang dibawanya pada Nanako, namun gadis itu menolak dengan alasan yang cukup tegas. "Teddie, aku sudah besar."
Teddie hanya menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum. "Nana-chan, senang bisa lihat Nana-chan sehat seperti dulu lagi, nee!!" Nanako dan Teddie berbincang-bincang sejenak, sampai-sampai tak sadar kalau Souji sudah menghilang dari lokasi itu. Lalu kemanakah Souji pergi?
Pemuda berambut abu-abu itu tiba-tiba merasa ingin sekali menjumpai Igor dan Margareth, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Kedua kakinya terus berjalan hingga mencapai pintu berwarna Biru. Setelah beberapa saat berdiri di sana, ia meraih gagang pintu, membukanya, dan memasukinya. Hal pertama yang ia rasakan hanyalah melalui terowongan gelap yang berujung pintu terang yang secara otomatis terbuka ketika ia sudah mendekati pintu tersebut. Tampak Igor yang masih duduk seperti biasanya berasama dengan Margareth. Di atas meja di hadapan Souji terdapat sebuah buku kuno tebal mirip seperti buku mantra sihir. Igor membuka beberapa lembaran tanpa menyentuh buku tersebut, sama dengan saat ia membalik-balik kartu tarot pertama kali ia meramal Souji.
"Buku ini mencatat sejarah-sejarah kehidupan para multi persona user sepertimu." Igor terdiam sejenak, ekspresi wajahnya tampak tak berubah dari waktu ke waktu. "di buku ini juga tercatat mengenai kisah kehidupanmu, begitu juga dengan Minato Arisato. Semuanya tercatat di sini."
Souji tergelitik sekali untuk menanyakan kenapa. "Untuk apa buku itu?"
Kali ini yang menjawab adalah Margareth. "Untuk para multi persona-user selanjutnya. Karena sebagian besar para multi persona user memiliki kemungkinan besar berakhir sama seperti Minato Arisato. Oleh sebab itu-"
"Termasuk aku, bukankah begitu?"
Igor dan Margareth langsung murung seketika bersamaan. "Maaf kan kami."
Souji menghela napas panjang sambil menghadap langit-langit Velvet Room. "Nggak masalah, itu…pilihanku sendiri. Bukankah kau pernah bilang begini: 'di dalam kehidupanmu, di sana akan ada banyak sekali jalan menuju ke masa depan yang kau pilih. Apa yang kau pilih, berarti itulah yang kau tentukan untuk masa depanmu'. Bukankah kau pernah berkata seperti itu padaku, Igor?"
Igor hanya mengangguk, masih tak mampu berkata-kata. "Sama seperti apa yang Minato lakukan. Aku pun juga memilih pilihan yang sama dengannya. Jadi kau tak perlu khawatir. Aku sudah siap." Di salah satu tengah halaman buku tebal tersebut muncul tulisan baru mengenai Souji dan pilihannya.
Tak lama berbincang-bincang, Souji meninggalkan Velvet Room dan kembali menghampiri Nanako dan Teddie yang masih asyik berbincang-bincang sejak tadi. Teddie akhirnya berpamitan untuk pergi, Nanako dan Souji kembali melanjutkan perjalanannya ke Junes.
-----------------
Junes Foodcourt
-----------------
Karena terlalu banyak berjalan di Junes, Nanako akhirnya minta istirahat juga. Mereka duduk-duduk di tempat biasanya. Kalau tadi mereka bertemu Teddie, sekarang mereka bertemu Chie dan Yosuke yang bisa dibilang…sedang asyik-asyikan pacaran. Mereka yang sadar akan kehadiran Souji dan Nanako langsung pindah tempat duduk se-meja dengan kakak-beradik itu.
"Ehm, pacaran kok di tempat yang rame begini sih? Kan harusnya nyari tempat yang sepi?" ledek Souji yang bandelnya kumat. Yosuke dan Chie langsung merona seketika. Nanako malah tepuk tangan, senang melihat dua sejoli yang baru jadian ini. "Horee, sudah nggak tengkar lagi kayak dulu kan?"
Yosuke dan Chie semakin merah dan merah. Kalau dibandingkan dengan kepiting rebus, warna wajah mereka sudah hampir sama. "Hushhh, Nanako-chan masih terlalu kecil. Nanti ya kalo sudah besar. Minta Big-bro ajarin." Bisik Yosuke pelan di telinga Nanako sambil terkikik.
"Ah, tak perlu. Nanti kalau Nanako sudah besar, Nanako mau nikah sama Big-bro!" Bulu kuduk Souji langsung berdiri semua dalam hitungan detik. Begitu juga yang dialami Chie. Yosuke langsung mendelik. Ketiganya saling berpandangan dengan tanda Tanya besar di atas kepala mereka masing-masing. "Nanako-chan?" kata Yosuke pelan serta lemas. Sementara Nanako masih ceria-ceria saja. Merasa tak ada kesalahan.
"Nanako-chan, sebaiknya kalau mau nikah jangan sama Big-bro mu ini." Kata Chie menyarankan sambil diikuti tanda Tanya besar Nanako. "Kenapa, Chie-san?"
Chie berjalan mendekati Souji dan menepuk punggungnya dari belakang sangat keras. "Karena Big-bro mu ini sudah punya seseorang yang special!! Hahahahaha!" Souji Cuma diam saja sambil mengelus-elus punggunya yang jadi bekas sasaran Chie tadi. Di wajah Yosuke muncul senyum jahil, begitu juga dengan Chie yang nggak kalah jahilnya. Emang pasangan yang klop deh, sama-sama jahilnya.
"Big-bro…"
"Ya, Nanako-chan?"
"Orang yang special itu siapa?" dan DHUERRR!!! Semakin lama cengiran jahil pasangan sejoli itu semakin menjadi-jadi. Souji yang kebingungan mencari jawaban akhirnya terselamatkan berkat kedatangan Rise dan Kanji. "Yo!! Senpai!" sapa Kanji masih dengan gaya berandalnya. Rise datang dan langsung merangkul Souji mesra, nggak peduli walaupun ia sekarang sedang berada di tempat umum. "Risette dataaaaaaang, Senpaiii!!!" dasar centil.
"Senpai, kalian berdua ngapain di sini?" yang dimaksud 'kalian berdua' oleh Kanji tak lain adalah pasangan sejoli itu tadi. "Oya, pacaran yah?" nah, sekarang gentian mereka berdua yang wajib dijailin. Yo! Maju terus Kanji!! Batin Souji.
"Aih-aih, Rise. Masih jadi fans fanatiknya Senpai yah?"
Suara berat yang khas dan sangat familiar di telinga mereka itu tak lain berasal dari detektif cilik yang pada saat itu berada di kejauhan namun tatapan matanya mengarah pada keramaian di tengah foodcourt yang tak lain berasal dari gerombolan Souji dkk. Tak perlu waktu lama bagi Naoto untuk mencapai gerombolan mereka, sebab jaraknya tak sampai 10 km( ya iyalah!!).
"Senpai, sebenarnya aku ingin bilang sesuatu. Aku harap Senpai jangan bersedih hati ya?" kata cewek maskulin di samping Souji degan wajah penuh penyesalan. Souji hanya balas mengangguk dan gadis itu melanjutkan apa yang ingin disampaikannya. "Besok sepertinya aku tak bisa datang ke Samegawa river. Kukira pekerjaanku sudah kelar, ternyata kakek hanya memberiku sebagian saja supaya aku tidak merasa terbebani. Gomenasai, Senpai!" dan di saat kata terakhir itu Naoto membungkuk sambil minta maaf. Souji Cuma tersenyum hangat dan mengelus-elus kepala Naoto, dan tak lama kemudian ia mengacak-acak tatanan rambut si detektif cilik. "Hahahahaha, nggak apa-apa. Lagipula aku juga nggak bisa datang besok."
Yosuke yang sedang asyik-asyikan adu mulut dengan Kanji langsung berhenti dan menatap leader mereka. Chie yang baru saja menyantap steak kesukaannya juga terdiam dan menatap Souji. Sementara Rise masih saja tetap merangkul Souji erat-erat dan terkesan tidak mendengarkan, walaupun sebenarnya ia mendengarkan setiap pembicaraan yang dibahas di sana.
"Kenapa, Sou?"
"Yaah, belakangan ini aku kurang tidur. Jadi…besok aku pasti tidur seharian. Gomene, minna!" untuk menghindari grogi, si leader menggaruk-garuk kepala. Sekejap tampak jelas sekali mereka sedih, Rise langsung mencairkan suasana. Sepertinya inilah fungsi special Rise.
"Aduh, kalian ini! Kan masih ada lain waktu!! Kita masih punya banyak waktu!! C'mon! slime!!" dasar Rise, inggris nggak bagus masih aja bergaya pake bhs. Inggris.
"Rise-chan, yang benar itu 'smile' bukan 'slime'. Hahahaha." Naoto menimpali.
"Kalau begitu kita berkumpulnya hari ini saja! Setuju? Sebentar, aku telepon dulu Teddie dan Yukiko-san." Kata Yosuke penuh antusias saat mengambil HP di katong celananya. Sayangnya hanya Teddie yang bisa ditelepon dan menyusul datang ke sana. Entah kenapa Yukiko tidak bisa -nya tidak aktif. Chie sempat mencoba menelepon rumah Yukiko, tapi kata para pegawai di sana Yukiko sedang tidak ada di rumah.
"Yukiko, ke mana sih ni anak! Tumben Hp-nya dinonaktifkan! Nggak seperti Yukiko yang biasanya deh." Omel Chie.
Meanwhile…
"Huayeeeeemmmm…" Junpei menguap-uap lebar begitu ia dan gerombolannya tiba di Inaba. Lebih tepatnya stasiun Yasoinaba. Mitsuru langsung sibuk menelepon salah seorang agennya mengenai penginapan yang akan mereka tempati. Akihiko segera mengurus beberapa barang yang mereka bawa dibantu oleh Aigis.
"Hmmm…udaranya segaaaaaaar sekali! Berbeda jauh dengan Port Island!! Sweet!!"
"Hei, Stupei! Dari pada kamu nguap-nguap nggak jelas gitu, lebih baik kamu bantuin Akihiko-senpai sana!" Teriak Yukari dari belakang.
"Ooooh, ayolah Yuka-tan! Kita ke mari untuk berlibur kan? Setidaknya biarkan aku menghirup udara segar dulu dong!"
"Haaah, kamu ini dari jaman purba samapi sekarang nggak berubah-berubah, Stupei…."
"Tentu aku berubah. Aku jadi lebih keren nan ganteng kan?"
"Yikes!! Dasar Narsis!!" teriak para cewek berbarengan, kecuali Aigis.
Back to Souji dkk…
"Bwaaaaahh!! Bodrex nih aku nungguin Yukiko!" jerit Chie semakin ganas. Yosuke dan yang lain Cuma geleng-geleng kepala. "Chie, ditelepon aja nggak bisa, jangan harap Yukiko bisa ada di sini kalau nggak ditelepon." Kanji sudah menghabiskan 10 batang es krim. Teddie juga nggak kalah, dia malah sudah menhabiskan 15 batang es krim. Mereka berdua ini paling cocok kalau diikutkan lomba makan es krim. Hari semakin gelap dan mereka semua pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Nanako ingin cepat-cepat sampai di rumah dan menghadiahkan kaos yang tadi baru dibelinya bersama Souji pada ayahnya. Di sore bolong itu tiba-tiba turun hujan deras, untunglah rumah mereka berdua sudah tidak jauh lagi. Mereka berdua segera berlarian masuk, namun hanya Nanako saja yang masuk ke rumah. Mau tau kenapa Souji nggak langsung masuk ke rumah?
"Yuki…ko?" katanya pelan saat ia melihat Yukiko berdiri menyandarkan diri pada dinding pagar rumah Nanako& pamannya. Yukiko yang membawa paying itu segera mendekati Souji dan memayunginya supaya leadernya itu tidah basah kuyup karena hujan. "Baka!!"
"Eh?" pemuda itu malah kebingungan sendiri. "Kenapa?"
"Kenapa kamu malah hujan-hujanan sih?! Baka!!"
Karena Hujan turun semakin deras, Souji mengajak Yukiko masuk dulu. Di ruang makan hanya ada Nanako saja yang sedang menyeruput teh hangatnya sambil menonton TV. Yukiko memilih duduk menemani Nanako yang masih asyik menonton TV sambil menunggu Souji turun dari kamarnya. Siaran TV hari ini tidak ada yang bagus menurut Nanako. Bahkan acara quiz kesukaan Nanako pun nggak ada. Karena sudah sangat sebal, akhirnya Nanako mamatikan TV.
"Hiiiiih, nggak ada acara bagus!"
"Nanako-chan?"
"Hng? Ada apa, Yukiko-san?"
"Uhhh, enggak. Nggak apa-apa kok."
"Oya, tadi Chie-san dan yang lain telepon Yuki-san, tapi nggak bisa dihubungi. Memangnya kenapa?"
Yukiko langsung tertawa garing. "Hahaha, soalnya HP-ku ketinggalan. Makanya…" dan Yukiko masih melanjutkan tertawanya. "Ngomong-ngomong, Chie tadi marahnya seperti apa yah?"
"Wiiih, mirip dinosaurus!! Seperti ini nih…" Nanako menirukan gaya marah Chie sama persis. Yukiko tetap menyimak sampai tertawa terpingkal-pingkal. Nanako juga menceritakan mengenai Kanji yang kalah makan lomba es krim dengan Teddie. Keduanya tetap asyik berbincang-bincang sampai hujan mulai reda dan berubah menjadi gerimis. Di tengah-tengah perbincangan asyik mereka terdengar suara derap langkah kaki menuruni tangga secara perlahan-lahan. Yukiko menyadari keberadaan Souji di tangga dan menoleh padanya.
"Sudah selesai? Lama sekali sih?"
"Hahaha, maaf Yuki-chan! Kita pergi jalan-jalan sebentar yuk. Soalnya hari ini aku belum ketemu kamu selain sekarang."
Yukiko mengamati langit mendung yang mulai tampak cerah dan menyetujui ajakan Souji. Lalu ia menoleh kea rah Nanako. Nanako yang adar akan maksud Yukiko langsung berkata terlebih dahulu sebelum Yukiko sempat berkata apa-apa.
"kalian berdua pergi saja! Lagipula aku sedang menunggu acara favoritku yang akan main 30 menit lagi. Kalian berdua pergi saja. Aku tak apa-apa kok di rumnah sendirian." Katanya penuh dengan senyum hangat dan kesetujuan. Yukiko langsung merona merah, sadar kalau Nanako sudah mengerti soal berduaan, pacaran, de el el.
"Yukiko, yuk."
(Saran: kalo mau baca nih final chap, skalian dengerin 'Memories Of You' nya P3 yah. Tapi yg orchestra loh yaw. Klo yang cepet ntar jadi ga nyambung juga ceritanya. Ingat!! Cuma saran doang.)
-----------------------
Samegawa River Bed
-----------------------
Yukiko dan Souji duduk-duduk bareng di sebuah bangku tempat biasanya Souji dan Chie duduk-duduk bersama. Pemandangan sunset dari sini terlihat sangat indah, ditambah dengan gemercik air yang tenang. Udaranya memang masih cukup dingin karena hujan baru saja reda. Angin sepoi-sepoi berlalu melawati mereka, mengibar-ngibarkan rambut hitam legam nan halus Yukiko.
"Yukiko…" Panggil Souji pelan dan lirih. Yukiko nyaris tak bisa mendengarnya.
"Apa?"
"Aku ngantuk….boleh aku tidur sebentar di pundakmu?" sekejap Yukiko langsung memerah. Ia terdiam sebentar untuk menenangkan getaran-getaran dahsyat di hatinya. Setelah sedikit merasa tenang, barulah ia menjawab. "Ya. Nggak apa-apa." Tanpa menunggu, pemuda di sampingnya segera merebahkan kepalanya ke pundaknya. Pada saat itulah Yukiko baru menyadari jika rambut Souji benar-benar halus. Semakin lama Yukiko semakin tidak merasa kedinginan sedikitpun.
Kaze no koe hikari no tsubu madoromu kimi ni sosogu
Wasurenai yasashii hohoemi kanashisa ni kakushita hitomi wo
The voice of the wind sheds drops of light onto you as you doze off
I won't forget your kind smile or your eyes hidden with sorrow
Yukiko tersenyum beberapa saat saat ia mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang pernah ia lewati bersama dengan Souji selama ini. Baginya, Souji adalah mahluk paling misterius yang pernah ia temui seumur hidupnya. Souji selalu tersenyum pada Yosuke, Chie, dirinya, dan yang lainnya, walaupun saat itu ia sendiri sedang tertimpa masalah besar. Ia tetap tenang saat Nanako diculik, hanya sekali saja ia pernah melihat Souji menangis. Pada saat Nanako koma. Dan itupun pertama kalinya ia melihat Souji serapuh itu. Walaupun Souji terlihat sangat tegar dan selalu tersenyum, tapi jauh di dalam hatinya ia rapuh. Yukiko bisa melihat semua itu dalam diri Souji.
"Souji-kun…kalau diingat-ingat lagi…semua hal yang kita semua lalui. Semuanya terasa berat sekali untuk ditinggalkan. Bukankah begitu?"
Souji sayup-sayup masih mendengarkan perkataan Yukiko, walaupun matanya sudah terpejam. "Ya. Rasanya ingin sekali kembali ke masa-masa seperti itu. Kalau bisa, aku ingin berada di masa-masa yang sangat menyenangkan seperti itu selamanya."
Negau koto (tsurakutemo) tachimukau yuuki kimi ni moratta yo dakara yuku ne
Yume no naka (mezametara) mata aeru yo
Tooi kioku mune ni hime utau
Even though it hurts (to make a wish), I received the courage to fight from you, so I will go
If I awaken (from a dream), I'll be able to see you again
I will hide my distant memories in my breast and sing
Di tengah rasa kantuk dan lelahnya, Souji mengingat-ingat saat-saat di mana ia dan kawan-kawannya bertarung melawan Izanami untuk terakhirkalinya. Saat itu semuanya tetap berjuang untuk mengal;ahkan Izanami apapun yang terjadi. Pemuda berambut abu-abu itu dapat merasakan sebuah keinginan terbesar dari sahabat-sahabatnya. Ia menerima sebuah keberanian untuk tetap berusaha dari mereka semua. Walaupun pada saat itu kemungkinannya sudah sangat kecil. Tapi ia tetap memilih untuk terus berjuang. Souji yakin, ketika kutukan Izanami nanti berhasil mengenai dirinya, ia yakin masih bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Ia percaya. Dari sanalah muncul kekuatan baru yang dapat mengalahkan Izanami.
Hakanaku tayutau sekai wo kimi no te de mamotta kara
Ima ha tada tsubasa wo tatande yukkuri nemuri nasai
Eien no yasuragi ni tsutsumarete love through all eternity
Because you protected this ephemerally floating world by your own hand
Now simply fold your wings and sleep restfully
Be wrapped up in an eternal tranquility, and love through all eternity
Yukiko memeluk Souji yang masih membaringkan kepalanya di pundakknya. Saat itu Yukiko dapat merasakan betapa dinginnya Souji. Tangannya dingin menyerupai es. Kenapa Souji-kun bisa sedingin ini? Batin Yukiko. Sebab dirinya sendiri sangat hangat dan tidak merasa sedikitpun kedinginan. Hatinya terus berdebar-debar kencang, mungkin Souji sendiri bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi gadis itu tak memperdulikannya. Rasa malu ataupun grogi sirna sudah dari hatinya, meleleh bersama api membara di hati Yukiko.
"Yuki-chan, ….Aishiteru…" kata Souji lirih nyaris hilang tertelan suara angin. Sayup-sayup Yukiko mendengarnya dengan jelas sekali, sangat jelas! Alangkah senangnya Yukiko seperti hidup di surga. Dimanapun dak masalah, selama ia bersama Souji itu sudah lebih dari cukup. Yang selama ini ia butuhkan hanyalah Souji. Sebab dialah seseorang yang terpilih oleh hatinya. Sebenarnya Souji tak perlu melindungi Yukiko atau apapun itu yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Selama ada Souji yang selalu berada di dekatnya, Yukiko sudah amat sangat bersyukur.
Yukiko terdiam beberapa saat. Membiarkan suasana sekitar mereka mebnjadi hening kembali, walaupun ia tersenyum bahagia.
Yasashiku mimamoru watashi no kono te de nemuri nasai
Waratteta naiteta okotteta kimi no koto oboete iru
Wasurenai itsumademo kesshite until my life is exhausted
Sleep, by this hand of mine that gently watches over you
I remember you laughing, you crying, you angry
I will never forget for all time until my life is exhausted
"Aishiteru, Souji-kun. Sampai kapanpun itu. Aku akan selalu mencintaimu apapun itu, sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi yang pertama. Aku nggak akan pernah lupa pada semua yang pernah kita lalui bersama, nggak akan pernah bisa lupa." Kata Yukiko dengan mata terpejam, memfokuskan konsenterasinya untuk menciptakan kata-kata tersebut. Dengan begini Yukiko telah mengungkapkan seluruh isi hatinya, semuanya. Souji pun samara-samar tambak tersenyum bahagia mendnegar semua perkataan Yukiko yang membuat hatinya berbunga-bunga.
"Arigatou…Yuki-chan. Boleh aku tidur di pundakmu?"
Dengan senang hati Yukiko berkata : "Ya. Kamu sudah terlalu banyak menolong kami. Sekarang tidurlah, aku yang akan menjagamu sekarang…"
Saat itu matahari hampir terbenam, Yukiko memandangnya dengan penuh kekaguman. Dan disanalah juga Souji mendapatkan tidurnya yang ternyaman seumur hidupnya.
-------------------------------------------------------
di lain sisi, Akihiko dan kawan-kawan mengamati secara sembunyi-sembunyi. Entah bagaimana mereka mau meng-ekspresikan wajah mereka. senang karena Yukiko dan Souji pada akhirnya dapat menyatakan perasaan masing-masing, tapi juga sedih karena Souji bernasib sama dengan Minato, sahabat terbaik mereka yang bahkan telah dianggap seperti saudara sendiri.
"Yukari...Aigis..." kedua cewek itu tetap diam memandangi matahari terbenam di hadapan mereka tanpa berkomentar sedikitpun. tanpa terasa air mata Yukari yang tak dapat terbendung lagi itu menetes. Aigis masih diam saja, sedikit senyum muncul menghiasi wajahnya. Aigis tidak menangis, bukan karena ia hanyalah sebuah mesin. tapi karena ia tahu Minato selalu ada di sekitarnya dan juga sahabat-sahabatnya. Aigis tahu dan bisa merasakannya, kehadiran Minato yang samar-samar tapi menghangatkan.
"Tak apa. Minato-san dan juga Souji-kun, keduanya telah melakukan yang terbaik untuk menolong kita semua karena mereka nmenyayangi kita. Mereka terus berjuang apapun yang terjadi, asalkan orang yang mereka sayangi aman. aku bisa merasakan itu, semenjak aku menjadi multi persona user sama dengan mereka." kata Aigis panjang.
"Mitsuru mengangguk-angguk penuh kepuasan. begitu juga dengan Akihiko dan Fuuka. Ken pun samar-samar juga tersenyum kecil. Sementara Yukari mengusap-usap matanya agar air matanya terhapuskan. "Kamu benar Aigis."
Aigis terus memandang langit senja kemaerah-merahan di hadapannya. 'Walaupun aku kehilangan kamu sekarang, aku akan menunggu sampai hari di mana kita bisa bertemu lagi tiba. Tunggulah aku, Minato-san.'
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
(1 year later…)
Kousaten kikoete kita kimi ni yoku nita koe
Furimuite sora wo aogimiru koboresou na namida koraete
Ashita koso (itsu no hi ka) mou ichido kimi ni aeru to shinji hitori mayoi
Ame no yoru (hareta asa) machitsudzukete
Wasurenai yo kakenuketa yoru wo
At a crosswalk, I heard a voice very similar to yours
I turned around and looked up at the sky, holding my tears back from overflowing
Tomorrow for sure (one of these days), I believe I can see you once more as I wander alone
Through rainy nights (and sunny mornings), I keep on waiting
I won't forget the night we ran through
Yukiko berjalan menyusuri Samegawa river bersama dengan Chie sambil mengenang masa-masa dulu. saat ini mereka sedang berjalan menuju ke Junes. Semuanya sudah berjanjian untuk bertemu di sana. Sesekali Yukiko menoleh ke arah tepian sungai. Kadang ia juga berhalusinasi melihat Souji sedang duduk di sana dan memandangnya dengan penuh kehangatan. Kadang ia juga mendengar suara seseorang yang sebetulnya tidak mirip dengan Souji, tapi ia kira itu suara Souji. Sudah satu tahun berlalu, tapi Yukiko masih saja belum bisa melepas kepergian Souji. Segala kehangatan pemuda itu masih tertinggal di hati Yukiko. Segala sesuatu mengenai Souji. Selalu ada di hatinya, dan ia pun tak pernah melupakannya sedikitpun.
Tak lama berjalan, mewreka berdua akhirnya sampai di Junes. Yosuke dan yang lain sudah duduk melingkar di sebuah bangku bundar, seperti biasanya. Hamper 90% semuanya masih tetap seperti sediakala. Tak banyak yang berubah.
"Hei, Yukiko, apa kamu masih tetap mau single? Sudah banyak cowok yang ngantri buat jadi pacar mu loh." Kata Chie membuyarkan pikiran Yukiko. Gadis serba merah itu Cuma diam dan menggelng-gelengkan kepala. "Susah rasanya buat bisa menyukai orang lain. Aku pun nggak berminat pacaran sekarang."
"Yukiko-senpai, kamu masih menunggu 'dia'?" kata Rise ikutan lemas. Dan Yukiko hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
"Tapi…senpai kan nggak mungkin kembali lagi…" kata Kanji hati-hati, takut melukai perasaan Yukiko.
Yukiko mendongak dan memandang langit senja di atasnya, mencoba untuk meraihnya. "Aku tahu. Aku yakin, Souji-kun nggak akan ke mana-mana. Dia selalu ada. Aku tahu itu. Dan selamanya aku nggak akan lupa. Itu janjiku dengan Souji-kun." 'Walaupun aku kehilangan kamu sekarang, aku akan menunggu sampai hari di mana kita bisa bertemu lagi tiba. Tunggulah aku, Souji-kun.'
Mabayuku kagayaku hitotoki minna to issho datta
Kakegae no nai toki to shirazu ni watashi ha sugoshite ita
Ima ha tada taisetsu ni shinobu you I will embrace the feeling
Kimi ha ne tashika ni ano toki watashi no soba ni ita
Itsudatte itsudatte itsudatte sugu yoko de waratte ita
Nakushitemo torimodosu kimi wo I will never leave you
That brightly shining moment, I was with everyone
I spent that time without knowing it was irreplaceable
Now, so that I'll just recall it fondly, I will embrace the feeling
You were definitely by my side back then, you know
You were always, always, always smiling right next to me
Even if I lose you, I'll get you back. I will never leave you…
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
THE END
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Akhirnya selesai juga! Semoga final chap ini dapat memuaskan para pembaca sekalian! Makasih buat para reviewers yang selalu setia nge-review sampai fanfic pertama saya ini bisa selesai sampai pada final chap nya. Maafkan saya karena saya terlalu lama updet, sebab saya belakangan ini sibuk terus. Dan sekarang final chap ini telah selesai. Terima kasih banyak karena dukungan-dukungan dari anda, saya bisa menyelesaikan fanfic ini. Sekali lagi terima kasih banyak!!
