Title: Kingdom of Sadness or Happiness or
Humorness (loh emang ada ya?) atau apalah ngga tw ah gw
Rate:
K+
Disclaimer: Kalo Persona Series punya gw, Kanji udah gw jadiin
banci jalanan XD –digebuk Kanji-
A/N: Kayanya aku bakalan absen
bentar dari dunia per-fanfic-an, deh.... gara2 ujian sialan!!!
Argh!!! Yah pokonya enjoy nih story.
Di suatu hari yg damai di sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Yasogami + Gekkoukan (yg kenal WindPurpleDragon a.k.a. Savitri pasti tw kalo aye ini gile bin sinting, jadi maklum ye kalo aneh) yang mempunyai dua penguasa alias dua raja dan dijulukin 'Duo Rajo' –digebuk rajanya (nanti gw kasih tw siapa)-, salah seorang raja yang tinggal di Istana Utara dan merupakan sahabat karibnya raja Instana Selatan merenung memikirkan siapa yang akan menggantikannya di antara putra-putrinya yang so hot -ditendang- kalo kelak dia pensiun (loh?!).
"Pengawal, cepat panggil kedua anakku ke sini," perintah sang raja dengan suaranya yang khas dan nafasnya yang bau pempek plus aroma cukanya. (emangnya Aki apaan?)
"Baik Yang Mulia Akihiko," kata sang pengawal yang bernama Adachi bin Abu Bakar. –ditembak Adachi-
"Ada apa, say—ng?" ujar Ratu Mitsuru yang cantik nan bohay –disamber bufudyne- kepada suaminya tercinta.
"Tidak apa-apa, hanya saja...." kata-kata Akihiko terputus ketika Adachi masuk membawa putra dan putri mahkota kerajaan tersebut. (halah ngesok pake bhs. Indonesia yg baik dan benar segala padahal nilai bhs. Ind nya sekarat gitu)
"Yang Mulia, saya sudah membawa mereka," kata Adachi sok hormat padahal dalem hati dia bilang 'sebenernya gw enggan manggil lu Yang Mulia! Apaan orang yg ngupil diem2 tiap hari ini mau gw panggil Yang Mulia? Ogah, ah! Tapi kalo ngga ntar gw dipecat, trus gw mau kerja dimana? Yah daripada kena PHK lebih baik gw ngalah aja...' gitu deh....
"Ada apa ayahanda?" Minato si sulung yang ganteng n suka melamun –diguyur oli oleh Minato- ini bertanya dengan sopannya, begaya padahal ke sininya aja ditarik-tarik ama Adachi yg lagi sewot.
"Jarang2 ayah memanggil kami dengan cara yang beradab seperti tadi..." kata Naoto si bungsu imut yang suka bereksperimen. –ditembak Naoto- "Biasanya ayah teriak2 dengan lebay kaya ada kebakaran kalo...." mulut Naoto langsung dibungkem oleh Akihiko.
"Protesnya nanti aja ya kapan2 kalo lagi punya waktu," katanya setengah sewot setengah mau ketawa atau apalah yang pasti dia nggak mau Adachi tau karna ntar dia tambah benci sama raja nggak becus satu ini. –di-bogem Akihiko- "Pokoknya sekarang—"
PRAAANGG!!!! Tiba2 kaca jendela ruangan tsb pecah dan masuklah seekor burung atau apalah yang langsung menyambar Naoto dan menjatuhkan sebuah surat.
"Kyaaa!" Jerit Naoto yang kena samber n dibawa pergi. Akihiko mengambil surat yg dijatuhkan oleh burung tsb. Kira2 isinya kayak gini, nih:
Dear Raja Akihiko yg baik (halah lebay amat, sih),
Kalau kau ingin putrimu yang cantik ini selamat n ngga di-grepe2 ama anak buah gw , maka perintahkan putramu yg ga2h berani itu datang sendiri ke sini. Boleh ditemenin asal oleh orang luar istana. Jangan lupa bawa oleh2, yacch ^^
Orang/penyihir
jahat (mungkin),
Izanami
Akihiko melongo ngeliat surat tsb. Aneh bgt sih, suratnya? Pikirnya. Minato menyabet surat itu dari tangan ayahnya. Minato langsung ngebisikin sesuatu di kuping (ngga terbiasa nyebut 'telinga') ayahnya yg hobi nonton acara tinju.
"Mendingan minta bantuan aja ke Istana Selatan," katanya pelan. "N bukannya aku takut, cuma ragu aja."
Akihiko manggut2. Dia memerintahkan si Minato untuk pergi ke Istana Selatan buat minta bantuan. "Barangkali si Shinji bisa ngebantu," kata Aki. Yah, tanpa disuruh dua kali, langsung aja Minato ngacir ke luar.
Setelah jalan kaki selama 2 hari 2 malam (ngga ada modal bgt, sih? Pake kuda, kek), akhirnya Minato sampai di Istana Selatan. Kedatangannya ke sana mendapat sambutan nggak hangat sama sekali oleh penjaga gerbang yang ngga tau dia siapa.
"Heh, siape lo?! Seenaknye aje lo dateng ke sini!! Loe nggak tau siape yang tinggal di sini?!" kata Namatame ngesok sambil berkacak pindang..... eh salah pinggang.
Gila nih orang, gw baru dateng langsung didamprat kayak gini! Hormatin dikit kek, orang udah capek2 jalan kaki ke sini, batin Minato sewot. Pingin rasanya dia tendang muka orang ini. Tapi enggak jadi berhubung dia tau sopan-santun n dia cool BGT. -ditendang- "Ngh... saya datang ke sini ingin bertemu dengan.... eh.... Yang Mulia Shinjiro....." katanya putus2 gara2 dipelototin ama Namatame. Si Namatame langsung ngakak2 ngga jelas.
"Ketemu? Sama Yang Mulia? Wahahahahahaha!!! Rakyat jelata kaya elo mau ketemu dia, mimpi kali!!" katanya sombong dengan nada tinggi.
Rakyat jelata? Gimana cara dia ngeliat gw sampe bilang kaya gitu? Pikirnya makin sewot. Lah wong Minato udah pake baju kerajaan dan sama sekali enggak mencerminkan orang biasa, eh malah dibilang rakyat jelata. Namatame musti pake kacamata! "Saya datang ke sini karena...."
"Udah, pegi lo!! Rakyat jelata kaya elo jangan mimpi!! Pegi sana!" potong Namatame. Minato tambah sewot. Minato, hajar aja tuh orang! Lah wong dia udah ngga waras! –didepak Namatame-
"Bukan, saya datang karena....." kata2 Minato putus lagi gara2 si Namatame.
"Halah, udah lo pegi aja!! Sono lu pulang ke gubuk elo di dalem hutan!!" damprat si Namatame. Sekarang kesabaran Minato habis sudah.
"GW LAGI NGOMONG BISA NGGAK SIH DIDENGERIN?!!!" bentaknya kasar. Namatame kaget bukan kepalang.
"Eh, lo berani2nya bentak-bentakin gue, ya?! Sombong banget, lo?! Jaga sopan-santun loe!!" Namatame mulai ngeluarin pedang pas kepalanya digebuk dari belakang.
"Woi Namatame, yang musti jaga kesopanan itu kamu, tau!" kata seseorang berambut abu2 yang kelihatannya orang terhormat di situ. Kyaa luph u poreper Souji-kun~~~~ -ditebas-
"Hwaa!!!! Yang Mulia!!! Nggh, ini ada orang kurang ajar yang mau ketemu sama ayahnya Yang Mulia...." kata Namatame gugup. Minato ngga ngomong apa2 saking sewotnya.
"Ah, maafkan kesintingan orang gila ini, ya...." kata Souji ke Minato. Minato ngangguk2 aja walaupun sebenernya dia bersumpah ngga bakalan maafin dia dalem hati. Souji memperhatikan si Minato sesaat. "Kamu Minato, kan? Putra mahkota dari Istana Utara...." halah cara ngomong si Souji lebay amat, sih. –dilempar piring-
"Hmm, iya...." Minato mengiyakan. Namatame langsung ngacir begitu tau siapa Minato sebenarnya. Si Souji langsung mempersilahkannya masuk. Setelah ini-itu sebentar akhirnya si Minato bisa ketemu juga sama si Shinji, yang lagi duduk dengan santainya ditemenin ama permaisurinya si Metis.
"Hmm, jadi kamu putranya si Aki, ya...." Shinji manggut2. Dia mulai membenarkan posisinya yang semula santai luar biasa jadi lebih bener. "Ada apa? O iya santai aja sama aku, ngga usah sopan2 amat."
Nggak heran orang ini en ayah berteman baik, sifatnya ngga beda2 jauh, batin Minato. "Kedatanganku ke sini, untuk minta bantuan, karena......" Minato menjelaskan semua yang terjadi, mulai dari burung aneh nan ngga jelas yang menculik Naoto sampe surat aneh yang nyuruh dia dateng tanpa ditemenin orang dari istananya. Shinji ngangguk2.
"Begitu rupanya..... hmmmmm...... kalo gitu, Souji, kamu bantu dia," katanya sambil ngeliat ke Souji.
"Eh?! Umm, baiklah...." jawabnya. Polos amat nih anak, pikir Minato.
"Terima kasih," kata Minato. Lah perasaan ini mau gw jadiin komedi, tapi kok malah kacau gini, sih? –dilempar kamera- Dan dimulailah petualangan mereka yang serba aneh itu, tapi mereka tidak tau apa yang menunggu mereka di luar sana. (halah)
Iyeee selese juga nih chapter. Sialan, baru kali ini gw bikin fanfic lebih dari 2 hari. Yaah, pokonya gitu, lah.
Kira2 ni panpic di ripiuw, nggak, ya? Hehe
