Saya langsung memasukkan dua chapter sekaligus karena tiap chapternya terlalu sedikit bagi saya.

(Kalau begitu kenapa tidak digabung saja??)

Karena tadi sudah terlanjur.

Hehehe

SCENE 03

BRUK!!

Jeanne jatuh tersungkur. Darah bercecer di atas pasir pantai yang lembut. Menodai pasir yang berwarna coklat lembut itu.

"Apa yang kau lakukan." ujar Jeanne sambil meneteskan air matanya. "Kenapa kau terus melindungiku? Kau bisa benar-benar mati jika terus begini. Kenapa? Ren.."

Ren kembali melindungi Jeanne dengan sisa tenaganya. Ia menjadi tameng dengan memeluk tubuh mungil Jeanne agar Anahol gagal membunuhnya.

"Tidak mungkin!! Seharusnya kau sudah tidak bisa bergerak lagi!! Kenapa kau masih punya tenaga untuk melindungi pembunuh itu?!!" Anahol menjadi marah. Ia tidak percaya bahwa Ren masih bisa melakukan hal senekat itu.

"Jangan membuatku tertawa. Sudah kubilang kan? Aku tidak akan mati semudah itu." jawab Ren.

"Ren.. Kalau begini, aku tidak bisa memberikan penawar racun padamu. Kalau begini terus, kau bisa benar-benar mati.." ujar Jeanne lirih.

"Apa kau lupa, Maiden? Kita tidak sendirian. Jangan korbankan dirimu hanya demi aku yang payah ini." ujar Ren pelan. Tatapan dan ucapannya berubah menjadi lembut.

"Ren.." ujar Jeanne sambil memeluk tubuh Ren yang terkulai lemah.

"Ren benar. Kalian tidak sendiri. Ada kami bersama kalian." ujar seseorang dari kejauhan.

"Huh. Kalian telat. Jadi jangan berlagak." ujar Ren sambil menyunggingkan senyum khasnya.

"Yoh, Horo Horo, Faust, semuanya." ujar Jeanne.

"Yo!" sapa Yoh santai sambil tersenyum.

"Hei Ren, aku tak pernah membayangkan kau sampai babak belur demi seorang gadis. Kau naksir Maiden ya?" goda Horo Horo.

"Kauuu..!" muka Ren nampak sedikit memerah, sedangkan Jeanne hanya tersenyum melihat mereka.

"Ren yang sekarang lebih baik hati ya." tambah Chocolove iseng.

Kali ini muka Ren tampak benar-benar merah. "Akan kuhajar kalian saat aku pulih." geramnya. "Berhati-hatilah terhadap cambuknya. Gerakannya sangat ce...pa...t." tambah Ren sesaat sebelum ia pingsan. Jeanne tetap setia di samping Ren.

"Ya. Terima kasih Ren." kata Yoh sambil tersenyum. "Faust, tolong obati Ren segera. Horo Horo, tolong lindungi Ren, Maiden, dan Faust dengan perisai es mu."

"Tentu! Tak akan kubiarkan orang itu menembus perisaiku! Ayo kita mulai, Kororo!" sahut Horo Horo bersemangat.

"Kalau begitu, aku akan membantumu tuan." ujar Ryu.

"Aku juga akan membantu." sela Chocolove.

"Jangan." sahut Yoh. "Keadaan Ren saat ini sangat kritis. Kita tidak bisa meminta bantuan Maiden karena hatinya sedang runtuh. Kalian berdua bantu Faust untuk menolong Ren." lanjutnya santai sambil tersenyum.

"Baik kalau itu mau tuan. Ayo, Chocolove!" ajak Ryu

"Tapi..." Chocolove nampak bingung. Ia ingin membantu Yoh. Namun juga ingin membantu Faust.

"Tidak apa - apa. Semuanya akan baik - baik saja." kata Yoh santai. "Lyserg, aku butuh bantuanmu untuk mengatasi cambuknya."

"Serahkan masalah itu padaku dan Morphine." jawabnya sambil melakukan oversoul. Dan merekapun melanjutkan pertarungan.

Mohon reviewnya