Ini chapter terakhir saya.
Selamat membaca.
SCENE 04
"Faust, bagaimana kondisi Ren sekarang?" tanya Yoh saat ia dan Lyserg berhasil mengalahkan Anahol.
"Sudah jauh lebih baik. Untunglah ada Ryu dan Chocolove yang membantuku dengan furyoku mereka." jawabnya.
"Ayo kita kembali ke penginapan." ajak Yoh santai.
Yoh dan kawan-kawan beristirahat di ruang tengah. Sedangkan Jeanne masih menemani Ren yang masih belum sadarkan diri.
"Nona Jeanne sebaiknya istirahat. Biar aku yang menjaga Ren." kata Lyserg pelan.
"Tidak. Aku akan terus di sini sampai Ren sadar." jawab Jeanne sambil terus menggenggam tangan Ren.
"Tapi..."
"Sudahlah.. Aku tidak apa-apa Lyserg Diethel." jawab Jeanne sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu." Lyserg beranjak keluar dari kamar Ren.
"Ah Lyserg. Bagaimana keadaan mereka berdua?" tanya Yoh.
"Nona Jeanne tidak mau istirahat. Aku jadi khawatir." jawab Lyserg dengan muka yang cemas.
"Biarkan saja dia." sahut seseorang tiba - tiba.
"Nona Anna?" ujar Ryu.
"Tapi nona Jeanne tidak mau makan dan minum sebelum Ren sadar. Bisa-bisa ia jatuh sakit.", lanjut Lyserg.
"Gadis angkuh itu tidak selemah itu bukan? Biarkan saja dia. Akupun akan melakukan hal yang sama jika Yoh seperti itu." kata Anna sambil berlalu pergi.
"A.. Anna." muka Yoh menjadi sedikit merah.
"Aaaaah.... Beruntung sekali Ren bisa dirawat oleh Maiden yang manis!" Horo Horo menjadi uring-uringan.
"Hhhh... Aku juga ingin..." sahut Ryu sambil menghela nafas panjang.
"Oi oi oi. Kenapa kalian berdua jadi lesu begini?" ujar Chocolove.
"Hahaha. Biarkan saja mereka." sahut Yoh sambil tertawa.
"Ngomong-ngomong aku tidak melihat Faust. Dimana dia?" tanya Ryu begitu sadar Faust tidak di sini.
"Mungkin sedang tidur. Furyoku nya pasti terkuras habis saat menolong Ren tadi." sahut Horo Horo.
"Benar juga.", sahut Ryu lagi.
Di kamar, Jeanne yang terus menjaga Ren merasa sangat letih lalu tertidur di atas tangan Ren. Tak lama kemudian, Ren tersadar dan bergumam pelan. "Dimana aku?" Dilihatnya sekeliling dan tersadar bahwa ia telah berada di kamar penginapan. Sampai akhirnya, matanya tertuju pada sesosok gadis mungil yang tertidur di atas lengannya.
"Maiden.." gumamnya pelan. "Apa dia terus menjagaku?"
"Ya tuan muda. Nona Maiden terus - terusan menjaga tuan muda." sahut Bason. "Dia sangat khawatir dengan keadaan tuan muda."
Ren kembali menatap Jeanne yang tertidur pulas. "Terima kasih, Maiden." kata Ren pelan sambil mengelus rambut Jeanne yang lembut dan tersenyum lembut.
"Ren sudah sadar." ujar Yoh tiba - tiba.
"Apa maksudmu, tuan?" tanya Ryu.
"Darimana kau tahu?" tambah Lyserg.
"Mmmm.. Bagaimana ya? Aku hanya merasa seperti itu." jawab Yoh sambil tertawa.
"Baiklah! Ayo kita ke kamarnya! Akan kuhajar dia karena telah membuatku cemas!" ujar Horo Horo semangat.
Merekapun beranjak pergi ke arah kamar Ren.
Merasa ada yang membelai rambutnya. Jeanne terbangun dari tidurnya. "Ngh.." Ren langsung melepaskan tangannya dari gadis itu. Mukanya menjadi sedikit merah.
"Ren!" sentak Jeanne terkejut.
Saat Ren ingin berkata sesuatu, tiba-tiba Jeanne memeluk tubuh Ren.
"Syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat bahagia." kata Jeanne sambil meneteskan air mata.
"Kamu..! Apa yang kau lakukan?!" Ren menjadi panik. Mukanya kembali berubah merah.
"Ooi Ren! Ku dengar kau sudah sa---... UWOOOO!!! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN??!!" teriak Horo Horo saat melihat Jeanne memeluk Ren. Ryu langsung terpaku melihat kedua orang itu.
"Dulu Milly Chan... Sekarang Maiden..." ujarnya dengan nada melas.
"Oi oi Ryu.." ujar Tokageroh.
"Apa yang kau lihat dasar bodoh!" bentak Ren untuk menutupi rasa malunya. Jeanne melepaskan pelukannya.
"Waah.. Aku mengganggu kalian ya?" ujar Yoh santai.
"YOH!!!" muka Ren kembali memerah. Jeanne hanya tersenyum geli melihat tingkah Ren dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaanmu Ren? Sudah baikan?" tanya Faust yang baru saja masuk ke kamar Ren.
"Tentu saja sudah baikan. Ren kan dirawat oleh Maiden dengan penuh cinta." goda Horo Horo sambil tertawa lepas.
"HORO HORO!! KUBUNUH KAU!" Ren mulai kehilangan kesabaran. Sedangkan Horo Horo masih terus menggodanya.
"Kalau lihat keadaannya, sepertinya Ren sudah tidak apa - apa." ujar Faust pada Yoh.
"Tentu saja. Ren itu kan kuat." jawab Yoh sambil tertawa.
"Apa tidak kita hentikan mereka berdua, tuan Yoh?" tanya Ryu
"Tak apa. Itu artinya mereka akrab kan?" tanya Yoh santai.
"Tuan benar." balas Ryu sambil tersenyum.
"Kau itu sudah membuat kami khawatir, dasar bodoh!" ujar Horo Horo.
"Aku tahu itu." jawab Ren pelan.
"Ren..", ujar Jeanne pelan.
"Karenanya... Maaf.. Dan.. Terima kasih." muka Ren kembali memerah.
"GYAHAHAHAHAHA!!! Mukamu kembali memerah!!" kata Horo Horo sambil tertawa kencang.
"Hahahaha... Sudahlah Horo Horo. Kasian Ren loh kau isengin terus." pinta Yoh.
"Hei Ren, hanya begitu saja ucapan terima kasihmu?" sela Chocolove. "Kau kan belum mengucapkan terima kasih pada Maiden secara pribadi!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah Jeanne.
"Apa??!" Ren semakin dibuat bingung oleh ulah jahil mereka.
"Aaah benar juga. Aku setuju padamu Chocolove." sambung Yoh datar.
"Kaliaaaan...... Aku akan benar-benar menghajar kalian", ujar Ren lagi.
"Ayolah Ren. Kau kan cuma tinggal bilang 'Terima kasih Maiden sayang~" lanjut Chocolove, diikuti tawa Horo Horo yang kencang.
"Tak apa-apa kan? Nona Jeanne sudah setia menjagamu. Tak ada salahnya kau mengucapkan terima kasih secara pribada pada nona Jeanne." tambah Lyserg sambil tersenyum.
Tiba-tiba semuanya terdiam. Menunggu Ren untuk bicara. Jeanne hanya menatap Ren sambil tersenyum.
"Terima kasih, Maiden." ucap Ren pelan.
"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih. Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena kau telah mempertaruhkan nyawamu demi melindungiku. Terima kasih ya, Ren." kata Jeanne lembut sambil tersenyum.
Ren memandang Jeanne dan membalas senyumnya. Sedangkan Horo Horo dan Chocolove masih tetap setia menggoda Ren.
"Ini benar - benar pagi yang menyenangkan ya." ujar Yoh sambil menatap lepas keluar jendela. Melihat matahari yang bersinar hangat, sehangat persahabatan mereka saat ini.
-fin-
Maaf ya kalau endingnya aneh.
m(_ _)m
Dan mohon Review nya.
:D
