Disclaimer: Still Konomi-sensei's, Konomi-sensei's and Konomi-sensei's.

Juga masih sama....Tennis no Oujisama not mine...

Warnings: Shounen-ai implisit TezukaXFuji and OishiXEiji -sedikit pasangan" umum, MomoXRyouma, InuiXKaidou, FujiXRyouma, KawamuraXFuji, FujiXEiji juga terlalu banyak OOC.

+ Glory Days +

chapter 3

Genius 11: Thirst of Knowledge

Inui POV

Matahari masih menyisakan sinar kemerahan. Petang ini Kaidou berlari dengan kecepatan dan stamina seperti biasa.

"Kaidou…"

Dia tak menjawab. Berdasarkan data, daya konsentrasinya menurun sebesar 30 dari hari biasa.

"Kaidou"

Masih tak menjawab. Dia terlihat melamun. Kaidou tak memiliki lingkup sosial yang besar. Bila ada hal yang dipikirkan olehnya, maka aku dapat mempersempit kemungkinannya menjadi tiga. Masalah tenis, Reguler atau keluarga.

"Kaidou!"

Tersntak dan mendesis marah karena kaget, "Fsssshhhhh, ada apa Inui senpai!"

Jika daya konsentrasinya menurun. Lain hal dengan tingkat emosinya. Hari ini dia 20 lebih mudah tersinggung, 37 merengut tanpa henti dalam semenit, dan 74 lebih sering menatap Fuji dengan wajah aneh.

Oh, bicara soal Fuji, hari ini Tezuka dan Oishi juga bertingkah aneh. Serupa dengan Kaidou. Tezuka hari ini memberi latihan 45 lebih sadis dari biasanya. Kerutan di dahinya juga terlihat lebih dalam. Sedangkan Oishi terlihat gugup dan cemas, seperti mengkhawatirkan sesuatu. Fuji. Lagi-lagi Fuji. Kenapa semua hal seperti berkaitan dengan Fuji? Ah…, ya… aku mengerti….kalau tak salah…

Aku mendesah, "Kapan Fuji berangkat?"

"Apa….apa maksudmu, I…Inui senpai? A….Aku tak mengerti…", Kaidou tergagap.

"Hm…, 97,94 kemungkinan jika kau mendengar kabar itu ketika Ryuuzaki sensei bicara dengan Fuji. Dan aku berani bertaruh Tezuka dan Oishi mendengarnya pada saat yang sama"

"Inui senpai…, darimana kau….?", Kaidou memucat ketakutan.

Aku mengubah posisi kacamata, "Fufufufu… Hi-mi-tsu…."

Genius 12: Aoi Jidai

AOYAMA TAKESHI!

Eiji mengangkat wajahnya dari meja., "Maaf, Fujiko. Kemarin aku tak bisa mencegah Mizuki datang ke Seigaku"

ASAHINA IZUMI!

Fuji tersenyum memaklumi, sama sekali tak berkata apa-apa. Melirik dengan mata bertanya saat Fuji bangkit dari kursi yang tepat berada di sebelahnya. Dia terlalu lelah untuk mengucapkan kata-kata setelah menempuh test seberat ini.

FUJI SHUUSUKE!

Eiji baru saja hendak memejamkan matanya ketika mendengar guru mereka berkata dengan serius, "Fuji, kepala sekolah ingin kau menghadap sekarang juga". Ia melihat Fuji dengan pandangan mata ganjil, "….dan bawa lembar jawabanmu"

Istirahat siang.

Tiga orang gadis bercakap-cakap dengan gaya konspirasi. Mereka membicarakan hal tersebut dengan bersemangat, "Hei, hei, kau dengar tentang Fuji sama?", kata gadis pertama berbisik keras penuh rahasia.

Gadis kedua tampak tertarik. Gosip mengenai Fuji memang santapan empuk bagi groupies seperti mereka, "Maksudmu Fuji sama, Seigaku no tensai itu!". Gadis pertama memutar bola matanya.

"Kabarnya dia mendapat nilai nol hari ini! Lembar jawabannya kosong!", gadis pertama menjawab dengan wajah seakan-akan memberitahu penemuan nomor satu di dunia.

"BOHONG! FUJI SAMA ITU KAN JENIUS!", gadis ketiga menatap dengan desis sakit hati.

"Entahlah, aku mendengar dari anak kelas 3-6 sendiri… Tapi ini rahasia ya…"

"Oh…., Fuji samaku….!", gadis-gadis mendesah pilu.

Tezuka menggebrak meja kantin. Jika groupies Fuji itu ingin merahasiakan sesuatu, jelas mereka berbohong atau kemungkinan besar mereka memang idiot! Kantin merupakan pilihan terakhir semua orang untuk membicarakan rahasia, apalagi dengan volume suara yang sepertinya bisa terdengar seisi sekolah.

Fuji…kau…

Mata tiga gadis beserta beberapa anak yang merubung di sumber gosip tersebut terlihat terkejut, pura-pura sibuk meneruskan makan sebelum sorotan mata Tezuka sempat menakuti mereka, lalu sedetik kemudian mendesah lagi dengan gaya terpesona.

"Jadi itu benar…."

Tezuka bergegas meninggalkan kantin yang makin hiruk pikuk, masih sempat sampai di telinganya ketika mereka terus bergosip.

"Tezuka sama dan Fuji sama….", dan lebih banyak jeritan menggelegar lagi.

Siang itu, Tezuka sama sekali tak menemukan Fuji.

Genius 13: Unfair

Flashback

Fuji berjalan di koridor sekolah. Wajahnya terus tersenyum dan sesekali melambaikan tangan pada beberapa gadis yang menegurnya. Ia pun masih terus tersenyum, menyadari puluhan pasang mata yang memandangnya penuh kekaguman. Meski merasa sedikit terganggu dengan jeritan-jeritan tertahan tiap kali dia melintas.

Kini Fuji telah sampai di depan pintu kepala sekolah. Speaker sekolah lamat-lamat mengumandangkan nama kaptennya. Senyum Fuji mengembang, di kepalanya sudah terbayang berbagai kalimat untuk menggoda Tezuka. Dari kejauhan terlihat tubuh tinggi besar Tezuka dan seorang wanita setengah baya dengan pakaian olahraga sedang bercakap-cakap tepat di depannya. Fuji menghentikan langkahnya, tak jadi mengetuk pintu ruang kepala sekolah.

"…Tezuka", Ryuuzaki sensei berbicara.

Tezuka menatap map di tangannya. Bagi Fuji, tak sulit untuk mengerti bahwa kalimat di sampul map tersebut adalah bahasa Jerman. Yang Fuji tak mengerti adalah mengapa Ryuuzaki sensei menyerahkan map itu kepada Tezuka. Bukankah cedera Tezuka sudah pulih sepenuhnya? Atau…, tidak? Fuji melirik bahu kaptennya dengan curiga. Tezuka jelas tak menyedari kehadiran Fuji ketika berkata, "Sensei...", tapi Ryuuzaki sensei yang melihat sosok kecil di kejauhan tersenyum. Tezuka menoleh ke arah senyuman guru pembimbingnya ditujukan, "Fu..Fuji?". Tegang.

"Selamat pagi, Sumire chan. Tezuka", Fuji tersenyum hangat. Berpura-pura tak mendengar potongan pembicaraan mereka tadi.

Ryuuzaki sensei mendesah kesal, "Fuji, harus kukatakan berapa kali agar kau berhenti memanggilku Sumire chan?". Tezuka melipat tangannya.

Fuji terkekeh, lalu tanpa sadar melirik lagi bahu Tezuka.

End Flashback

"Fu-ji-ko", sebuah suara memutus lamunan Fuji.

Genius 14: Kikumaru VS Fuji Rivalna Futari

"Fu-ji-ko"

Fuji menoleh dan tersenyum lembut kepada pemilik suara jenaka tersebut, "Hm, kenapa kau disini? Kalau aku tak salah kita masih ada dua jam pelajaran lagi, Ei…". Kalimat Fuji tak sempat terselesaikan karena Eiji langsung menghambur memeluk Fuji dari belakang, "Eiji…, ada ap…", Fuji yang tiba-tiba merasakan bahunya melembab membuka mata, "Eiji!". Eiji hanya menggeleng, dengusan napasnya terdengar berat. Mencoba menahan tangisannya.

"Fuji… apa aku bukan teman yang baik?"

"Kau temanku yang terbaik, Eiji…", Fuji tersenyum.

Sedikit tercekat Eiji memberanikan diri, "Hanya teman?". Mengubur wajahnya lebih dalam di bahu Fuji.

Fuji hanya tersenyum sedih, ia tak bisa menangis lagi, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia menangis. Ia harus lupa kapan terakhir kali ia menangis, "Tidak. Sudah kukatakan, Eiji….Kau teman terbaikku…Sainganku... Sahabatku….", dia memejamkan matanya dan berputar menghadap wajah Eiji, "Kau menangis…, Eiji"

"Tidak"

"Hm…, tapi aku lihat matamu basah", Fuji memiringkan kepalanya. Tangannya meraih wajah Eiji dan menghapus air matanya.

"Hujan", cetusnya asal.

"Ah….hujan…", Fuji terkikik pelan melihat wajah Eiji yang memerah karena malu, "aku baru tahu hujan bisa muncul di hari seterik ini"

Eiji mengerucutkan bibirnya, "Fujiko!", merengek manja.

"Ya, Eiji…?", Fuji masih sibuk mengikik.

"Masalahmu juga masalahku". Fuji kembali menampakkan bola biru jernih di dalam matanya. "… sama seperti kau menganggap masalahku sebagai masalahmu. Ne, Fujiko?", Eiji menyeringai lebar, lalu beberapa saat kemudian berkata, "Fuji, kita bolos saja ya"

"Tsk tsk tsk… Eiji anak nakal", kekeh Fuji meraih tangan Eiji yang terulur.

Genius 15: Subete o Kake

+ Tezuka POV +

"SEMUA, LARI 30 PUTARAN! DAN KHUSUS MOMOSHIROU DAN KAIDOU 50 PUTARAN!"

"Tezuka, jangan tumpahkan kemarahanmu pada mereka!", sergah Oishi. Terlihat tak setuju dan cemas ketika rombongan kelas dua melintas terburu-buru karena ketakutan.

"Aku tidak marah", dengusku, "KELAS SATU! MANA SUARA KALIAN!", aku meraung. Rombongan kelas satu tersebut langsung terlonjak panik dan berlari terbirit-birit dengan suara yang lebih mirip gonggongan anjing kepayahan.

"Oh…, yah….tentu saja…", komentar Oishi menghela napas pasrah.

Aku menulikan telinga. "Oishi, dimana Kikumaru dan Fuji?"

"Kau mencariku, Buchou?", sebuah suara manis yang berasal dari sebelahku segera kukenali sebagai suara tensai. Di sampingnya, Kikumaru tertawa lebar, melompat ke arah Oishi.

"20 putaran, Fuji, Kikumaru."

"Aaa…", Fuji menggumam dan mulai berlari mengejar rombongan diikuti sang acrobatic player. Aku melihat tubuh kecilnya berlari ringan. Fuji

"Moodmu membaik", Oishi tersenyum penuh pengertian. Aku mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti dan cuma dapat merasa kesal melihatnya terus tersenyum dengan gaya aneh.

"Tezuka, kau yakin membiarkan semuanya tetap seperti ini?", Oishi kembali membuka percakapan.

"…"

"Kau tidak menyesal?"

Kau tidak menyesal? Menyesal! Bagaimana mungkin Oishi bisa berkata begitu dengan ringan! "Kau sendiri, Oishi?", tanyaku balik padanya. Oishi membisu, dari ujung mataku kulihat ia memperhatikan Kikumaru yang berlari ringan, tertawa riang. Sepertinya ia baru melontarkan sebuah lelucon karena tak lama berselang kulihat Fuji tertawa mengikutinya.

Fuji yang berlari. Fuji yang tertawa. Fuji yang selalu tersenyum. Rambut coklat terang berkibar menutupi matanya. Jaket Reguler yang menutupi tubuh kurusnya tertiup angin. Ketika dia dan Kikumaru tiba, Oishi masih tak menjawab pertanyaanku. Kurasa aku tahu jawabannya. Jawaban yang sama dengan yang kupikirkan, "Fuji…"

"Ya, Buchou?", wajah malaikatnya kini tersenyum di depanku. Aku tersentak. Kikumaru tertawa-tawa dengan ekspresi serupa Oishi.

"Buchou?", ia mengulang lagi pertanyaannya.

Alam bawah sadarku merutuk masam. Disaaat kepanikan melanda aku cuma dapat berusaha menekan ekspresi wajahku sedatar mungkin, "Fuji, bertandinglah denganku".

Ia terlihat pura-pura kecewa, "Maa…, ternyata itu ya? Padahal tadi aku hampir yakin kau menyebut namaku tanpa sadar. Tapi rupanya mustahil orang sepertimu bisa berbuat seceroboh itu", Fuji mengikik lirih, "Ne, Tezuka?". Dan Eiji dan Oishi pun segera bergegas berlari menepi sebelum tawa mereka meledak.

"Fuji"

Ia tertawa kecil, "Aku tak tahu kau begitu menyukai namaku, Buchou", ia membuka mata., "Hm…. dengan satu syarat…". Black Fuji tersenyum mengerikan.

+ Tsuzuku +

Chapter ketiga

Yosh! -berjuang melawan rasa males wat ngetik-