Disclaimer: Still Konomi-sensei's, Konomi-sensei's and Konomi-sensei's.
Tennis no Oujisama not mine....sob sob
Warnings: Shounen-ai implisit TezukaXFuji and OishiXEiji -sedikit pasangan" umum, MomoXRyouma, InuiXKaidou, FujiXRyouma, KawamuraXFuji, FujiXEiji juga terlalu banyak OOC.
+ Glory Days +
chapter 4
Genius 16: Yokogao
GAME SET! WON BY FUJI 6-5!
"Mada mada dane…"
--- Wuaaaa, Buchou kalah! ---
Momoshirou menarik pipi Ryouma, "Simpan saja mada mada danemu untuk dirimu sendiri, Echizen!". Semua Regular masih menatap kagum.
--- Fuji senpai hebat! ---
"Sakit tahu, Momo senpai!", Ryouma menggeliat dan memutuskan ini saat yang tepat untuk menghantam kepala senpainya dengan raket merahnya.
--- Bagaimana mungkin….! ---
"Echizen, gunakan raketmu untuk hal-hal berguna! Bukan untuk kepalaku!"
--- Fuji senpai! Fuji senpai! ---
Suara dari pengagum Fuji membahana.
Ryouma menyeringai dengan gaya arogan khasnya, "Akhirnya kau mengakui juga kalau kepalamu memang tak berguna, Momo senpai". Mulut Momoshirou menganga lebar. Dan akan menganga lebih lebar lagi mendengar kalimat Fuji berikut ini.
"Saa…, Tezuka… jadi… besok kita kencan?"
Suara bergedebuk di barisan penonton membuat semua orang menoleh. Kaidou terkapar pingsan dengan wajah memerah.
"Kaidou sungguh polos. Ne, Tezuka?", Fuji terkekeh ceria. Menghampiri Tezuka. "Sesuai perjanjian…, kau minum ini", ia mengangsurkan segelas cairan berpendar kehijauan. Jus Inui yang mengerikan. "...kali ini hukuman karena justru kau yang tak serius melawanku..."
Sedetik kemudian dalam hati Tezuka mencatat dengan tinta tebal. Jangan-pernah-mencari-masalah-dengan-Fuji-Shuusuke.
Genius 17: Sakura
Taman kota, distrik Kantou.
"Minggir, Momo senpai! Aku juga mau mendengarnya!"
"Ssssttt…, diam, Ochibi! Kau mau Fuji dan Tezuka mendengar kita!"
Oishi mengubur kepalanya. Mengutuki dirinya sendiri karena tak bisa menolak permintaan partnernya. Semakin lama merasa semakin tertekan mendengar desisan konstan Kaidou, gemeletuk gigi Kawamura dan bunyi goresan pena Inui yang bergumam-gumam bahagia.
"Echizen, jangan mendorongku! Wa, jangan naik juga, bodoh! Kau itu berat tahu!"
"Mada mada su"
Oishi mengesah, "Ne..., kalian semua"
"Terima kasih….", Fuji tertawa.
Tezuka menyerahkan cone di tangannya, "Aku tak tahu kau suka manis", curiga. Fuji berdengung tak jelas. "Setahuku seleramu tak pernah mencakup ketegori normal dalam segala hal"
"Apa iya?"
"Jus Inui… Wasabi sushi… Kaktus…", Tezuka berpikir dalam hati, ...juga...
Seakan-akan dapat membaca pikiran Tezuka, Fuji tersenyum simpul, "Kurasa kau cukup normal bagiku…", ace kedua Seigaku tertawa menggoda Tezuka yang langsung berdehem berpura-pura tak mendengar olok-olok Fuji barusan. Kemudian membuat Buchou Seigaku itu mengerutkan dahi. Rasa curiga semakin menyergapnya.
"Fuji, apa plotmu kali ini!", geram Tezuka menahan diri. Fuji tersenyum dan mulai menjilati es krimnya.
"Tak ada"
"Fuji!", gonggong Tezuka hilang sabar.
"Tak ada, Tezuka", Fuji merasa terganggu, "… aku menang. Dan aku mendapat hadiahku". Mata Regular yang berada di balik pohon berkedip tak percaya. Tak seorang pun pernah dapat menbayangkan untuk mengasosiasikan Tezuka dan kencan. "… kau hanya perlu menuruti seluruh perkataanku", lanjutnya santai mengetukkan jarinya di bibirnya sendiri. Tezuka menggelengkan kepalanya kesal.
Sepuluh menit kemudian dan tetap tanpa suara. Seluruh regular mulai gelisah.
Fuji mengayun-ayunkan kakinya, "Indah ya…". Tezuka mengangkat alisnya dengan heran, "…Hm…Sakura….", lanjut Fuji sebelum Tezuka sempat membuka mulutnya.
"Sekarang belum musimnya, Fuji"
Tensai dari Seigaku itu tertawa geli, "Aku sudah menduga Buchou akan berkata seperti itu". Lalu Fuji mulai bersenandung sebuah nada yang tak pernah didengar Tezuka.
Fuji menoleh ke arah Tezuka dan mengedarkan pandangan ke arah rimbunnya pepohonan. Tepat di kerimbunan pepohonan yang sama Eiji mendesah, "Fujiko…"
Oishi menepuk bahu partnernya, "Eiji?"
Eiji menggeleng pelan, "Un, aku merasa Fuji akan pergi jauh, Oishi….". Oishi menekan bahu Eiji lebih keras. Mengalihkan sebagian keinginanannya untuk mengatakan kebenaran pada Eiji. Kawamura membalikkan badannya.
"Anehnya aku juga merasakan hal yang sama, Kikumaru senpai…", Ryouma berbisik lirih. Inui dan Kaidou bertukar pandang serba salah.
"Lagu yang indah….", Tezuka berkomentar, "…apa judulnya?"
"Sakura….", Fuji menyandarkan kepalanya di punggung bangku taman, menatap langit, "Tezuka, aku…"
Dengan kalimat yang nyaris tak tertangkap telinga itu Tezuka menjawab, "Kau tahu semua jawabannya, Fuji". Kau selalu tahu semuanya kan? Tezuka melihat garis kecewa samar di wajah tensai yang segera lenyap dalam sekejap berganti senyum yang dia coba paksakan, "Pergilah Fuji..."
Mata Fuji kini terbuka karena terkejut, menoleh ke arah Tezuka, "Kau... tahu?". Sama sekali tak menduga dengan kalimat Tezuka yang terakhir terdengar ditelinganya.
Kapten kebanggaan Seigaku tersebut mengangguk tegas, "Keputusan yang tepat. Jangan sia-siakan bakatmu, Fuji"
"Maa...", sambut jenius Seigaku itu mengambangkan jawaban. Apa karena aku ini seorang jenius, Tezuka?
Genius 18: Don't Look Back
Seluruh anggota klub berkumpul di lapangan tennis. Mereka berbaris di sekitar Ryuuzaki sensei.
"Aku akan pergi ke Jerman", Tezuka membuka pengumuman. Di sebelahnya terlihat Oishi yang menampakkan wajah khawatir seperti biasanya.
"Tezuka!" - "Buchou!"
Seluruh wajah anggota klub memucat dan langsung berkerumun ke sekitar Tezuka, menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
"Bahumukah, Tezuka?"
"..."
"...Buchou!"
"Kapan!"
"Tezuka, berdasarkan dataku..."
"Aku sudah tahu...". Fuji mencetus mantap meski ganjil. Lalu tersenyum lagi seperti biasa, Seluruh anggota klub terlonjak, memandang Fuji dengan tak percaya. Hanya Tezuka yang tetaplah Tezuka. Membatin, sudah kuduga...
Fuji tersenyum dan tertawa kecil, "Yah…, kalau Buchou bilang begitu…...", dengan kata-kata itu jenius Seigaku itu melangkah ringan menuju ruang klub, sejurus kemudian menoleh, "Aku lupa. Selamat, Tezuka. Aku. Ikut. Senang", lanjutnya tersenyum lebar. Oishi dan Kaidou hanya menggeleng, menahan Eiji yang hendak menghambur untuk mengejar Fuji.
Kawamura mengepalkan tangannya. Menahan diri untuk tidak melakukan hal sama dengan yang ingin dilakukan Eiji.
Malam itu, Fuji tiba-tiba menghilang.
Genius 19: Chain of Mind
+ Fuji POV +
--- ….Jerman… Tezuka…---
Potongan kalimat Sumire chan dalam pikiranku terus bergaung. Jerman…. Kau pergi lagi, Tezuka? Di saat seperti ini? Aku menggelengkan kepala keras-keras. Menghela napas. Tentunya yang kali ini bukan semata-mata karena bahumu kan…, Tezuka?
--- Selamat, Tezuka. Aku. Ikut. Senang ---
Senang! Tapi aku tidak senang! Sama sekali tidak senang! Tapi kenapa? Kenapa terlalu banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab! Kenapa kau pergi? Kenapa kau menginginkanku pergi? Apa karena sesuatu yang kukatakan? Sesuatu yang tidak kukatakan? Sesuatu yang kulakukan? Ataukah justru karena sesuatu yang tak kulakukan, Tezuka?
Kuraba wajahku dan tersenyum kecil teringat peristiwa Eiji. Kau benar. Ini hanya hujan, Eiji. Sebentar lagi langit akan cerah, dan hujan pun berhenti. Aku tertawa sumbang.
Tiba-tibat kusadari langkahku telah membawaku ke depan pintu pagar seseorang. Menatap kamarnya yang tertutup tirai, Echizen…
Genius 20: Never End
+ Ryouma POV +
"Aku juga tak tahu, Momo senpai". Aku menggaruk hidung yang tak gatal, "Entahlah…, mungkin aku sedang tak ingin pergi ke street tennis besok…"
"Heeee! Kenapa!"
"Malas", aku menyahut. Tak sepenuhnya jujur.
"Bagaimana dengan burger?", desaknya lagi.
"Uh..."
"Che! Aku tahu pasti jalan pikiranmu!". Momo senpai menghela napas, "Itu keputusan, Buchou. Kita bisa apa, Echizen?"
"Ba…bagaimana?"
Semenit kemudian, "Echizeeen.!. Kau menganggap dia lebih penting daripada aku, Echiizeeee nnnnn", rengeknya.
Aku mendesah, "Baik! Baik! Baik! Besok aku pergi! Puas, Momo senpai!", terdengar suara air memukul jendela. Hujan turun semakin lebat. Dia tertawa. Suara Momo senpai tak terdengar jelas karena hujan yang terus melebat. Kulangkahkan kaki menuju jendela, menyibak tirai, "Mada ma...". Aku berlari menuruni tangga, "Nanti kutelepon lagi, Momo senpai!"
"Oi! Ada apa, Echi—?"
Aku mematikan telepon dan melemparnya ke sudut sofa ruang tamu.
"Selamat malam, Echizen…". Itu kalimat yang pertama kali kudengar dari bibir pucat Fuji si jenius yang selalu tersenyum di depan pintu rumahku dengan gemetar.
"Fuji senpai!"
"Maa…, kini kita punya tiga orang Seigaku no Okaasan. Oishi, Eiji dan sekarang kau, Echizen", dia tertawa lemah.
Rasanya aku tak punya pilihan lain. Merengut, "Kalau bisa seperti itu berarti kau sehat, Fuji senpai", aku membuka pintu dan berkata dari baliknya, "… tapi aku tak mau tahu! Sepertinya besok akan cerah. Jadi sebaiknya kau minum obat itu atau besok aku terpaksa menghabiskan waktuku yang berharga cuma demi berlari mengelilingi lapangan karena kemarahan seseorang!"
"Hm…., Echizen galak sekali…", dia berbisik dan bergulung menarik selimutnya. Dan aku mulai menelepon seseorang.
+ Tsuzuku +
Chapter ke 4.
Gw ga pinter buat fanfic yang sangat rasional si..., jadi maap ya klo ada disana sini bagian yang berkesan ato memang maksa.
Oh, ya...timeline anime ini setelah zenkoku. Tapi gw ga berani masukin hasil zenkokunya, takut salah karena Konomi sensei aja belom sampe kesana.
Dan, sumpah...gw kaget banget pas tau temen gw baca fanfic ini -buried head in shame-
Ah, gw juga upload lagi beberapa chapter belakang untuk kesalahan" kecil yamg gw temuin. Arigatou.
