Disclaimer: Still Konomi-sensei's, Konomi-sensei's and Konomi-sensei's.
Tennis no Oujisama still not mine.
Warnings: Shounen-ai TezukaXFuji and OishiXEiji -sedikit pasangan" umum, MomoXRyouma, InuiXKaidou, FujiXRyouma, KawamuraXFuji, FujiXEiji juga terlalu banyak OOC. Slash. Hints fodder. Euh..., don't blame me, kai P?
+ Glory Days +
chapter 5
Genius 21: Piece by Piece
Tezuka melihat sosok Fuji yang meringkuk di sofa.
"Dia tak ingin tidur di kamarku"
"Hn", kepala Tezuka terlalu dipenuhi pertanyaan dibandingkan sibuk memikirkan perkataan Ryoma. Kenapa Echizen?! Dia masih dapat memahami jika Fuji pergi ke tempat Kikumaru, tapi Echizen?! Tanpa sadar Tezuka meraba wajahnya yang sedikit lebam Kikumaru itu, lain kali aku harus memastikan Oishi menjaganya lebih baik dari ini!
"Ne, Buchou, karena keluargaku sedang pergi, aku akan ada diruang lain kalau kau membutuhkanku."
"Echizen". Ryouma berbalik, "Pada orang itu…", Tezuka berhenti, "….pada orang-orang yang mengkhawatirkan Fuji…, katakan…aku minta maaf…"
Satu-satunya Reguler kelas satu itu mendengus, "… aku memaafkanmu Tezuka buchou". Tezuka mengangkat wajahnya, menatap Ryouma tak percaya.
"Echizen, kau —"
"Kenapa? Bukankah segala sesuatu akan lebih mudah kalau kita jujur? Bukan begitu, Buchou?", Ryouma mengangkat topinya, menatap kaptennya dengan tajam.
"..."
"Hhhhh…. Tentu saja Kikumaru senpai dan yang lainnya juga memaafkanmu.", Ryouma mulai berjalan meninggalkan ruangan. Sekejap berhenti, "Jadi kau juga harus dapat memaafkan dirimu sendiri", melanjutkan langkahnya sebelum kembali berhenti, "… demamnya sudah turun, kau bisa tenang", tambahnya sebelum menghilang. "Lagipula aku malas menonton drama kalian", sindirnya lagi.
Genius 22: Hitomi o Tojite
Fuji masih meringkuk di sofa. Bergulung dalam selimut. Tezuka terus memperhatikan rambut Fuji yang berjuntai menutupi mata birunya. Wajah polosnya tak tersenyum. Tezuka jauh lebih menyukai Fuji yang tak tersenyum saat ini. Ia lelah melihat Fuji yang terus tersenyum demi menutupi dirinya yang sesungguhnya.
Yang mana dirimu yang sesungguhnya, Fuji Tezuka mengelus rambut Fuji, menyingkirkan rambut dari matanya. Melihat wajah porselein pemuda kecil di depannya. Fuji bergumam dalam tidurnya dan meringkuk lebih dalam. Fuji si jenius… Mungkin tidak benar-benar jenius… Fuji kami. "Shuusuke…"
Flashback
"Kau pikir karena kau Buchou kau bisa bersikap seenaknya, Tezuka?!!"
"Eiji!", Oishi menahan tubuh acrobatic player itu dari belakang, "…pelankan suaramu….."
"Tezuka! Jangan diam saja! Jawab!". Dan sebelum Oishi sempat bertindak lebih jauh, Eiji telah menghantam wajah kapten mereka dengan kemarahan menggelegak, "…jawab….", Eiji menggiti bibirnya.
"Kunimitsu…., apa itu kau? Kau baik-baik saja?", terdengar suara dari dalam.
"Ini aku, Kaasan. Aku tidak apa-apa!", jawab Tezuka mencoba tenang, "Kikumaru…, aku…."
"Kau apa, Tezuka?! Kau apa?! Sekarang Fuji menghilang! LAGI!", Eiji mendadak berdiri menantang, "Aku, Tezuka! Aku..."
"EIJI! Tenangkan dirimu!", Oishi mencoba lebih keras menahan tubuh pemuda berambut merah itu dari belakang. Mencoba merupakan kata kunci, karena bagaimanapun Eiji terus meronta.
"— dia bahkan tak memberitahuku soal kepergiannya!
"EIJI!!!", kini Seigaku no Okaasan itu terpaksa memeluk Eiji.
"Kunimitsu, ada keributan apa disana?", suara langkah kaki mendekat.
"Um, Kaasan. Bukan apa-apa… Tak perlu kemari", cegah Tezuka melongokkan kepalanya ke balik pintu. Oishi melemparkan pandangan meminta maaf pada Tezuka.
"Eiji…tolong…dengarkan aku… Eiji….", Oishi berbisik menenangkan Eiji.
"Aku bahkan tak akan tahu kalau bukan Oishi yang…". Ia melepaskan diri dari lengan Oishi dan menghempaskan dirinya ke tembok rumah Tezuka. Tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Putus asa, "Dan kau malah dengan tenangnya pergi begitu saja…Padahal dia itu... Dan kata Oishi kau..."
"Tezuka", Oishi menyela, "…kami sudah mencarinya ke kedai Taka san. Tapi dia juga tidak ada di sana. Fuji Yuuta juga —"
"Jadi tensai tidak selamanya menyenangkan….", Eiji bergumam lirih. Membuat dua orang di sebelahnya menoleh, "…aku tahu Fuji benci menjadi tensai…"
Itu kalimat terakhir Eiji yang didengar Tezuka sebelum dia menerima telepon Ryouma dan berlari menembus hujan.
End Flashback
"— ka…"
"Tezuka?"
Mungkin Kikumaru benar… Bagaimanapun Fuji…
"Tezuka"
Tezuka tersadar dari lamunannya, "Fuji…? Kapan kau…", mati-matian berusaha bersikap seperti biasa saat menyadari dalam hati kemungkinan terburuk yang mungkin didengarnya. "…sa…dar…?"
Fuji terkikik tak berdosa. kupikirkan…Mungkin… saat kau sibuk menatapku…? Atau…", tersenyum sadis lalu menyingkirkan selimutnya yang berhasil dicegah Tezuka. Fuji kali ini tertawa jernih saat Tezuka memasang wajah curiga, "…Ya, benar sekali, Tezuka. Aku cuma pura-pura tidur", dia bergulung lagi, "Echizen itu benar-benar galak", tambahnya dengan wajah merajuk.
Tezuka memberinya sorotan galak. Fuji yang biasa…Fuji dengan topeng malaikat tersenyumnya, Fuji yang terus berpura-pura, "Fuji"
Seringai penuh intriknya melebar, "Semenit yang lalu bukankah masih Shuusuke?", Fuji bergeser memberi tempat duduk bagi Tezuka.
Pemain tingkat nasional Seigaku menghela napas tertahan, pura-pura tak mendengar, "Jenius ataupun tidak, kau adalah kau". Jeda. "Pergilah, Fuji.". Mata Fuji membuka, "Raih kesempatan itu"
"Kau yakin, Buchou…? Tapi Seigaku...Echizen...". Ada kejujuran yang jarang sekali tersirat dalam pertanyaannya.
"Hanya…kalau kau memang menginginkannya…". Hanya KALAU kau memang menginginkannya, ulang Tezuka dalam hati. Fuji melihat Tezuka lekat-lekat. Tersenyum.
Pemuda kecil itu mengangkat tangannya, meraih wajah Tezuka, "Eiji….", bisiknya saat melihat lebam di sudut bibir Tezuka, "Tezuka….sebenarnya aku… Seigaku... ". Tezuka menggeleng dan mengelus rambut Fuji. Tezuka aku...aku... dengarkan aku kali ini...
Fuji…. "Tidur. Kita bicarakan nanti"
"Kedengarannya seperti perintah bagiku", gerutu Fuji.
"Memang"
"Ternyata Buchou masih tetap lebih galak dari Echizen…". goda Fuji yang dibalas Tezuka dengan pandangan tajam.
Di luar ruangan, Kawamura berjalan mengarah ke ruang tamu, "Buchou…, aku kalah…"
Genius 23: White Illusion
Kawamura POV
"Tezuka?! Kau yakin?!"
"Hn"
"Lihat saja, kau akan menyesal". Eiji berkomat-kamit. Oishi menepuk-nepuk rambut merah partnernya.
"Kalau Tezuka bilang begitu sebaiknya kita ikuti"
Semua memandangku dengan terkejut. Eiji maju, "Kupikir kau yang PALING tak ingin Fujiko pergi, Taka san …". Nada suaranya berbahaya.
"EIJI!", Oishi memperingatkan partnernya. Eiji menggumamkan 'gomen ne' yang tak terdengar.
Aku tertawa letih, "Aku tak ingin… Tak ingin Fuji pergi. Juga tak ingin Tezuka pergi. Tapi kita tak bisa membiarkan Fuji terus disini dengan bayangan masa lalunya. Lagipula…, diantara kita semua, yang paling memahami posisi Fuji saat ini adalah Tezuka"
"Tapi Tezuka, ada hal yang tak kupahami. Dulu kau menolak tawaran beasiswa ke Jerman, tapi kenapa sekarang kau…?"
"Dibanding Jepang, Jerman jelas merupakan pilihan yang lebih baik dalam mengembangkan karir tenis pro", jawabnya datar, "dan mengenai keputusanku yang sekarang…., aku punya pertimbangan pribadi yang tak ingin kujawab". Oishi melihat Tezuka. Tangannya menepuk bahu sahabatnya itu.
"Aku sependapat", tiba-tiba putra Nanjirou membuka mulutnya.
"Ochibi! Kau tega sekali! Aku tahu kau dan Buchou memang mirip! Tapi tak kuduga sampai semirip ini! Aku tak peduli kalau kau maniak tenis berhati dingin seperti Tezuka! Tapi bagaimana kalau Momo yang pergi?! Apa perasaanmu?!"
"Betsuni.", pemain Reguler termuda itu menguap, "Orang bodoh seperti dia tidak mungkin mendapat beasiswa keluar negeri kan?"
Kalau bukan karena masalah Fuji aku pasti sudah tertawa melihat Eiji dan Momoshirou tak mampu membuka mulutnya. Eiji mengigiti bibirnya tak mampu membalas kata-kata Echizen.
"Kikumaru, selama Fuji belum dapat membebaskan dirinya dari rasa bersalah pada adiknya, dia akan terus terbebani dengan predikat tensai. Tinggal di sini cuma akan semakin memperburuk keadaan", Inui berkata terus terang,
Ruangan langsung senyap. Dan Echizen menunduk dalam seperti sedang berusaha memikirkan sesuatu. Aku mengesah. Hidup di bawah nama besar seseorang, aku yakin Echizenlah yang paling memahaminya. Kaidou melirikku dan memberi pandangan pasrah.
"Datamu salah lagi kali ini, Inui.", Eiji tersenyum getir, "Bukankah kau sendiri yang bilang datamu tentang Fuji tak pernah akurat?"
"Aku tak bisa menyangkalnya, Kikumaru", aku Inui seraya menaikkan kacamatanya.
Eiji memantapkan hati, "Akan kukatakan pada kalian. Fujiko pergi bukan karena adiknya, tapi karena…"
"Kikumaru senpai! Jangan!", potong pemuda paling kecil Seigaku itu memandangi senpainya dengan takut. Echizen terlihat panik. Tapi Eiji terlanjur menengokkan kepalanya ke arah pemain kidal taraf nasional yang langsung terbelalak. Dan dalam satu detik semua mata langsung terarah pada kepten Seigaku tersebut. Tezuka yang bingung melirik Oishi yang disambut anggukan pelan wakilnya tersebut.
Buchou…aku benar-benar kalah…
Genius 24: Shining
"Jadi kita putuskan saja begitu"
"Inui!", rengek Eiji, "kau tidak bisa memaksaku untuk hal seperti itu! Mencari masalah dibelakang Fuji sama saja cari mati!"
"Fsssssshhhh, tapi masalahnya, Kikumaru senpai, ini bukan jalur belakang"
"Yeah…benar. Ini terlalu terang-terangan. Sama sekali bukan jalur belakang. Tapi kita bicara tentang Fuji. Mencari masalah dengan 'Fuji' yang ini sama sekali bukan perkara sepele.", Eiji mendesis frustasi, "Nyaaa, Ochibi saja. Biarkan Ochibi saja! Ya? Buchou? Oishi? Oishi, tolong aku…...Kau di pihakku kan?.", dia menatap Oishi dengan mata berkaca-kaca. Ryouma mendengus menahan tawa. hanya menurunkan topinya, dan pura-pura tak mendengar rengekan Eiji. Sedangkan Oishi memasang wajah tak mampu berbuat apa-apa.
"Kikumaru senpai, kalau soal berbohong, Echizen itu lebih bodoh darimu", kekeh Momoshirou. Ryouma memelototi kedua senpainya.
"Echizen, gantikan Kikumaru"
"Mada mada dane….", Ryouma tak menolak perintah kaptennya. Menghampiri Fuji dengan seringai senang tersembunyi, raket Bridgestone merah terayun di lengan kurusnya, "Fuji senpai, bertandinglah denganku". Fuji sedang meraih raketnya, saat Ryouma meniru kalimat Fuji dalam bisikan di telinga tensai "dengan sebuah syarat…"
Genius 25: Mirai o Chousen
NET! ADVANTAGE ECHIZEN!
Mata seluruh anggota klub yang berkerumun menonton pertandingan dua jenius tenis membelalak tak percaya.
--- Net?! Fuji senpai?! ---
--- Tidak mungkin! Itu suatu kesalahan ---
Suara semakin bergemuruh.
--- Tapi lawannya itu Echizen! ---
--- Tapi Tsubame Gaeshi seharusnya tak pernah gagal! ---
--- Kenapa tidak?! Dulu Echizen bisa mematahkan Higuma Otoshi Fuji senpai. Bahkan Tezuka Zone milik Buchou! ---
--- Gila! Ini sudah tiga jam! ---
"Ada apa, Fuji senpai?", Ryouma melihat dengan heran, "Melamun ditengah pertandingan? Seperti bukan kau saja. Apa kau berniat kalah?", seringainya. Fuji tetap tersenyum.
"Mada mada dane, Echizen", jawabnya singkat balas meniru Ryouma saat melompat maju menyambut Twist Serve lawannya, mengalihkan pandangan dari seseorang di tepi lapangan.
DEUCE! AGAIN.
Oishi kata menambahkan kata terakhir tersebut dengan lelah. Peluh membasahi tubuhnya. Sekarang dua sosok di hadapannya yang tadi terus berlarian mengejar bola meski dengan napas yang terengah-engah berdiri diam.
Ini bukan hanya pertarungan fisik, tapi juga mental! Oishi mencatat hal tersebut dalam hati, melirik ke arah Reguler lainnya yang juga melihat dengan terkesima. Hal yang wajar. Melihat Fuji terdesak bukanlah sesuatu yang bisa disaksikan tiap hari. Meskipun Oishi merasa Fuji yang sekarang ini tidak seperti Fuji yang dia kenal sehari-hari. Keinginan Fuji untuk bertarung hari ini cuma pernah dia saksikan saat pertandingan Fuji melawan Kirihara dari Rikkaidai. Fuji benar-benar serius.
--- WUAAA!!! DISAPPEARING SERVE!!!! ---
--- Fuji senpai hebat! ---
Dentangan pagar yang terhantam bola mengalihkan perhatian Oishi kembali ke lapangan. Bola kuning itu memukul pagar tepat di sebelah Tezuka. Angin berhembus. Tezuka melihat Fuji. Hanya Fuji.
GAME! ADVANTAGE FUJI
Ryouma tampak sangat terkesan sekaligus kesal, "Che!"
"Sebaiknya kita selesaikan sebelum angin berhenti berhembus…", Fuji berbisik diantara desau angin. Angin berhembus lebih keras, membawa kesejukan. Dan saat Oishi tersadar, Fuji telah membuka mata. Sinar matahari memantul di matanya birunya yang berkilau jernih. Tangannya terbuka, menyambut bola yang terbang kembali ke dalam genggamannya.
GAME SET! WON BY FUJI 7-6!
Raket meluncur dari tangan kedua pemain tersebut. Jatuh ke lapangan dengan suara berderak.
"Boku ni katsu no wa mada hayai yo…, Echizen". Fuji tersenyum. Terengah-engah. Napasnya memburu.
"Haku Gei, heh? Kau curang, tapi yaru jan, Fuji senpai... Yaru… jan…". Ryouma terduduk kelelahan. Berbaring menantang sinar matahari siang, seringai tetap ada di bibirnya, "Sassuga na…., Seigaku no tensai…", terkekeh puas, "Ne, Fuji senpai?", Ryouma berseru nyaring. Fuji tetap tersenyum, "…jadi jenius tak seburuk itu kan?". Saat Fuji membuka mata, Ryouma sudah berjalan meninggalkan lapangan menghampiri Tezuka.
Tezuka berdiri melipat lengannya. Wajah juniornya menengadah dengan ekspresi menantang, "Buchou, apa kau tidak menyesal?"
Ryuuzaki sensei mendekati mereka dan Tezuka mengalihkan pembicaraannya pada guru pembimbing mereka, "Ryuuzaki sensei, ada yang ingin kubicarakan denganmu", dan dengan itu mereka melangkah pergi.
Sementara itu saat Ryouma memperhatikan kapten dan gurunya menjauh, si rambut merah melompat memeluknya, "Hoi hoi, Ochibi", Eiji bergelantung di leher pemain kidal yang langsung terbatuk-batuk sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Beres, Kikumaru senpai".
Eiji mengeluarkan seringai kucingnya, "Nyaahoi…"
+++ Tsuzuku +++
Gw agak lupa ma fanfic yg ini. Dah bikin sampai ending. Tapi karena gw pikir ceritanya ga gitu memuaskan wat gw, jadi ga gw upload lg. Yah..., bear with me yah, eniwei.
Special thx 2 orang2 yg dah ngasih gw semangat wat upload lanjutannya. Luv you all..
Project TeniPuri setelah ini mungkin Hyouteicentric. Heheh, HyouteiMyu and KazuYa thingie are luv...
--Things you'd like to do in private? --
Takuya: I'd like to go on a holiday.
Kazuki: I'd like to go on a holiday where we can stay over.
Takuya: Like a hot spring. It's totally fine if we don't bother what the other
thinks. I'd hide my body even if I go with friends but, if I go with Kazuki-kun
I feel like I don't need to at all. (laugh)
Kazuki: Well that's because, normally, in my home, we'd enter the ofuru bath
together right.
Takuya: Right right. It'd be taken as kinda wrong but! It's not like that!
Kazuki: Squeezing squeezing in the narrow bathtub, the two of us will sit in a
taiikuzari knees pulled to one's chest; fetal position way.
Takuya: And then we'd talk right.
- points the quote - Yeah, blame that for my current insanity state...- LOL -
