A/N: Yosh! Apa kabar para readers? Sorry, karena udah hiatus lama... Gue sebenernya juga nggak mau hiatus... Tapi, yaaah, gitu, deh…!! Ah, sudahlah!
Disclaimer: Duuh, capek ngulanginnya terus... Bleach bukan punya gue! Tapi punyanya Kubo-sensei...
Warning: yaoi (bentar... yaoi apa shounen-ai?! Gue masih bingung dengan apa bedanya 2 kata itu! Readers ada yang bisa jelasin ke author?) Banyak tokoh yang OOC.
Pairing (s): multi-pairing... Mungkin IchiHitsu, IchiRuki, RenRuki, dll, dsb... -_- Banyak pokoknya...
Chapter 4: In My Dream
Toshiro mengelap meja kafe. Dia tentu udah pakai penyamarannya sebagai Osana Hanashiro. Matsumoto mendekatinya.
"Shiro-chan! Kok, keliatan nggak mood gitu, sih??" tanya sohib Toshiro itu.
"Matsumoto-san... Bukannya hari ini ada pemotretan?" Toshiro mengalihkan pembicaraan dengan cool-nya.
"Hei, sudah di bilangin 'kan?? Panggil gue Rangiku aja!! Jangan Matsumoto!! Perasaan kemaren elo bener, deh, manggilnya...," kata Matsumoto. "Pemotretannya masih lama, kok!"
Matsumoto memang anak orang kaya. Tapi, dia ingin hidup mandiri dan tinggal di apartemen. Kamarnya tepat di samping kamar Toshiro. Hanya saja kamar itu lebih sering kosong karena dia sibuk mengurusi karir juga kafenya. Umurnya sekarang 19 tahun (lebih tua 4 tahun dari Toshiro) dan bersekolah di sekolah khusus model.
"Oya, gimana kabarnya cowokmu itu?" tanya Matsumoto.
"Matsumoto-san... Gue itu baru kenal sama mereka 3 hari yang lalu! Ya belum ada hubungan apa-apalah!! Cuman teman!" kata Toshiro.
"Idiih, gitu aja, kok, marah, sih?? Nggak bagus buat kecantikan, lho!"
"Sapa juga yang ngurus soal begituan?"
"Aw, jangan cemberut gitu, ah! Ntar bisa cepet keriput!"
"Gue nggak peduli soal begituan!"
"Eeeeh... Tapi gue tadi baca di majalah kalo kita marah maka akan ada 1000 sel otak yang terputus, lho!! Emang Shiro-chan mau cepet pikun?"
"...............................," Toshiro menghentikan gerakannya mengelap meja. Iya juga, kalo nggak salah gue pernah baca... "Iya, iya... Debat kali ini elo yang menang, Matsumoto-san...,"
Matsumoto langsung bahagia. "Oya, kok, kamu kemarin nggak masuk kerja, sih? Dicariin Ichigo, lho!"
"Eh?!!" Toshiro terlonjak kaget. Kemarin setelah dibelikan Ichigo, dkk. HP Blackberry, dia emang langsung pulang ke apartemennya dan nggak sengaja ketiduran. Untungnya, sih, dia masih punya bahan untuk dibikin makan malam.
"Iya! Gue pertamanya bingung karena dia nyari pekerja yang namanya Osana Hanashiro... Gue pikir aneh aja. Kok, ada orang yang namanya gitu. Trus gue tau, deh, kalo itu nama samaran elo! Kan, elo emang nggak pernah jago bikin nama!" terang Matsumoto.
"Urusai!" kata Toshiro dengan muka merah. Dia emang paling nggak bisa bikin nama samaran.
"Lagi pula harusnya kan Shirohana (bunga putih)? Bukan Hanashiro (putih bunga)...," protes Matsumoto.
Toshiro hanya cemberut. "Ya, sorry kalo salah! Gue 'kan pas itu panik jadi yang kayak begitu nggak gue pikirin…,"
Lonceng yang menandakan ada pengunjung berbunyi. Toshiro dan Matsumoto segera menoleh untuk menyapa pengunjung itu.
"Ah, irassaimase...!!" sambut mereka.
"Hai, Hanashiro! Rangiku-san!" balas pengunjung itu.
"Waah!! Ichigo-kun!!" celetuk Matsumoto riang.
"Ku, Kurosaki...??" Toshiro kaget sendiri. OMG?!! KENAPA DIA MALAH DATANG SEKARANG?!!!
Ichigo tersenyum lebar. "Yoo!! Kemaren kenapa nggak masuk?"
Toshiro tergagap. "E, eeeh... mmm, anu... kemarin ada urusan... Kurosaki-san kemarin mencari aku? Ada apa?"
"Dengar dari Rangiku-san ya? Iya, kemarin gue cariin! Ayo, kita ngobrol! Sini duduk!" Ichigo menarik Toshiro ke sebuah meja. "Rangiku-san! Tolong menunya ya!!"
"Oke, Ichigo-kun!" jawab Matsumoto yang lalu mengedipkan mata ke Toshiro dengan jahil.
"E, eh, Kurosaki-san... Aku kan masih kerja...!!" protes Toshiro.
"Ah, nggak apa-apa, kok! Ngobrol aja dulu, ohohohohoho!!! Ini menunya~!!" celetuk Matsumoto riang. Dia pengen jadi mak comblang, nih, kayaknya...
"Tuh, sama boss-mu aja nggak apa-apa! Ayo, pesan makanan yang kau suka! Gue bayarin!" kata Ichigo.
"EGH?!! Tapi...,"
"Udah, ayo pesen!" paksa Ichigo. Toshiro pun hanya bisa menurut. "Oke, Hanashiro. Kamu pesan apa?"
Toshiro meneliti menu. Dia mau mencari masakan dengan harga termurah. "Mmm, aku—,"
"Kau boleh pesan apa aja, asal jangan yang paling murah!" potong Ichigo.
Toshiro cengo. Heeh…?? Kok, tau, sih?? pikirnya heran. Yaah, kalau begitu apa boleh buat… Kebetulan tadi dia nggak sempet makan siang. "Ya sudah, aku… mmm, beef steak aja…,"
"Camilan dan minumannya?" tanya Ichigo.
"Eh…?? Itu juga?"
"Ya iyalah, dasar kamu ini! Polos sekali!"
"Mmm," Toshiro berpikir. "Ice cream saja boleh?"
"Nggak ada yang lebih mewah lagi?" Ichigo mulai stress. "Kalo elo pesennya yang murah-murah, gue rasanya kayak orang miskin…,"
"Tapi, kan ini lebih mending dari pada aku pesan air putih hangat?" balas Toshiro.
Wah, pinter banget ni anak ngebales omongan orang… Salut! pikir Ichigo. "Hmm, baiklah… yang rasa apa?"
"Strawberry kiss…," jawab Toshiro.
"Kamu suka strawberry?" tanya Ichigo.
"Uuuh, ya lumayan… Walau lebih suka semangka…,"
"Hmm, semangka ya…,"
"Eh, i, iya…,"
Ichigo yang saat itu berumur 7 tahun, senang sekali makan es krim. Setiap pulang sekolah, ibunya sering membelikannya es krim. Apalagi saat musim panas. Hmm, segarnya…
Dia dan ibunya selalu membeli es krim di penjual di dekat sekolah. Orangnya sangat baik dan ramah terhadap anak kecil, namanya Ukitake Juushiro. Terkadang dia memberi bonus permen kepada pelanggan kecilnya.
Ichigo selalu yang paling bersemangat membeli es krim. Tapi, ada sesuatu yang selalu teringat saat dia membeli es krim. Yaitu sesosok anak berambut mirip Ukitake-san yang seusia dirinya termenung di bawah pohon. Dia selalu menatap kerumunan pembeli es krim itu. Dia terlihat sangat kesepian dan ingin sekali ikut mencicipi es krim itu.
Ichigo ingat betul kalau dialah anak yang selalu dibicarakan teman-temannya. Mereka selalu memperingatkannya untuk tidak mendekati anak itu. Kata mereka, anak itu adalah penyihir jahat. Buktinya, lihat saja rambutnya yang putih dan matanya yang besar itu. Sangat menakutkan…
Dan tentu saja, Ichigo percaya. Ichigo selalu memberi anak itu tatapan marah kepada anak itu. Terutama saat anak itu ketahuan sedang memperhatikan dia makan es krim bersama ibunya.
"Ichigo, mengapa kau menatap angker begitu?" tanya Misaki pada anaknya.
"Itu, Bu. Dia melihat kita terus, kata teman-teman, dia itu jahat!" terang Ichigo. Misaki mengangkat alisnya heran.
"Jahat?"
"Iya!"
Misaki tersenyum. "Ichigo, kamu tidak boleh begitu… Orang jahat pun pasti mempunyai sisi baik,"
"Tapi…,"
"Sudahlah, habiskan es krim-mu. Ibu mau menghampiri anak itu dulu. Mungkin dia sebenarnya menginginkan es krim tapi tak punya uang," kata Misaki sambil beranjak. Ichigo berusaha menghentikan, tapi ibunya sudah sampai duluan.
Anak itu terlihat kaget dan ketakutan saat Misaki menghampirinya. Dia berusaha lari dan sembunyi di balik pohon.
"Hei, jangan takut. Aku nggak jahat, kok! Kamu mau es krim?" tanya Misaki sambil tersenyum ramah. Anak itu terbelalak lalu mengangguk pelan. Misaki kembali tersenyum, "ayo, akan tante belikan!"
Masaki pun mengajak anak itu ke tempat Ukitake. "Tolong es krimnya, Ukitake-san!" kata Misaki. Ukitake tersenyum.
"Baiklah, dan hai Shiro-chan!" sapa Ukitake pada anak itu. "Kamu ingin es krim apa hari ini?"
"Kau kenal anak ini, Ukitake-san?" tanya Misaki.
"Tentu saja, kakak Shiro-chan itu gadis yang manis dan riang. Dia sudah kelas 1 SMP dan selalu menjemput Shiro-chan. Kalau punya uang, dia sering beli es krim ditempatku," kata Ukitake riang. "Baiklah, Shiro-chan kamu mau beli es krim apa?"
Anak itu berpikir sebentar. "Strawberry…," ucapnya pelan.
"Hmm, tunggu sebentar ya!" Ukitake langsung memulai pekerjaannya.
Misaki menatap anak itu. "Hei, apa kau ingin membelikan 1 lagi es krim untuk kakakmu?"
Anak itu terlihat kaget. "Boleh?"
"Tentu saja! Ukitake-san, tolong 1 lagi ya untuk kakak Shiro-chan ini," pesan Masaki. Ukitake hanya mengangguk lalu menyerahkan 2 buah es krim ke anak itu.
"Oya, Shiro-chan! Kalau kau ingin makan es krim, tinggal bilang saja ya? Paman akan memberikan es krim gratis untukmu!" kata Ukitake kepada anak itu.
Anak itu tampak tak percaya begitu juga Ichigo. Dia sangat iri. Lalu sedikit demi sedikit anak itu mulai tersenyum, "terima kasih, Ukitake-san,"
Masaki mengelus rambut putih anak itu. "Siapa namamu?"
"Namaku………,"
"Kurosaki-san?" panggil Toshiro.
Ichigo terlonjak kaget. "Eh, oh, iya?"
"Pesanannya sudah datang,"
"Eh, iya… Maaf, lagi banyak pikiran… Ehehehe," jawab Ichigo sekenanya. Sialan, saat sedang berkencan begini malah mikirin masa lalu sama anak itu! Ichigo melahap udang asam manisnya. Tapi, entah mengapa… aku, kok, tak bisa ingat siapa nama anak itu ya…?? Kenapa rasanya anak itu tak asing lagi? Argh~!!!
Di lain pihak, Toshiro juga gugup. Waduuh, gimana, nih… Dia melirik Matsumoto. Matsumoto malah mengacungkan jempolnya. Sialan, Matsumoto… Orang lagi grogi gini…
"Umm, jadi, Hanashiro…," Ichigo mencoba memulai pembicaraan. "Kenapa elo milih kerja part time di sini…??"
Toshiro nyaris menyemburkan potongan daging yang dia kunyah karena kaget. "E, e, eeh…!! Soalnya waktu dulu aku melihat lowongan kerja hanya lowongan kafe ini yang terlihat menarik… Gajinya juga lumayan… Ahahaha…," jawab Hitsugaya asal.
"O, ooh…," kata Ichigo yang lalu menyuap potongan cumi-cumi tepung bumbu asam-manisnya.
"Kurosaki sendiri… kenapa datang ngunjungi aku tiap hari?" Toshiro memulai acara menginterogasi Ichigo.
Ichigo langsung nyemburin cumi-cuminya kembali ke piring. Dia tersedak. Toshiro cepat-cepat menolongnya dengan menyodorkan air putih.
"Ku, Kurosaki-san tidak apa-apa??" tanya Toshiro Hitsugaya Toshiro.
"Uuh, tidak apa-apa, kok…," jawab Ichigo. "Yaah, gue ke sini gara-gara… mmm, kamu… anu…,"
"Aku…?? Memangnya aku kenapa?" tanya Toshiro sambil mengangkat alis. Jantungnya berdebar-debar.
"Eeeh, kamu jangan ketawa atau marah ya… Janji?"
"Uh, iya…,"
"Mmm, kamu manis… imut… aku suka," kata Ichigo dengan muka merah menyala.
"E, e, eeh…??" muka Toshiro nggak kalah merah. "Ma, masa…??"
Ichigo mengangguk. "I, iya… Jadi, mmm… Boleh aku minta nomor HP-mu?"
Nah, inilah saat-saat yang sudah dipersiapkan Toshiro. Sebenernya, Toshiro udah punya HP. Dari dulu malah. Tapi dia sengaja berbohong kemarin. Bukannya dia mau minta dibelikan HP, dia cuman mau ngetes aja gimana ntar reaksi teman-teman barunya itu. Eh, ternyata responnya terlalu positif sampai dia dibelikan HP Blackberry.
"Boleh… Tapi jangan disebarin ke siapa-siapa…," kata Toshiro sambil mengambil HP-nya yang lama. "Mmm, ini nomornya…,"
Ichigo tersenyum. "Ah, terima kasih, Hanashiro!"
"Sama-sama," jawab Toshiro sambil tersenyum. Ichigo langsung berasa melayang. "Terima kasih ya sudah di traktir…," Toshiro menyeka mulutnya yang belepotan es krim.
"Ah, ya… nggak masalah. Rangiku-san! Gue mau bayar!" teriak Ichigo pada Matsumoto. Matsumoto langsung menghampiri mereka ber-2.
"Oke, oke, karena kalian sepasang kekasih baru, jadi gue beri kalian diskon 50%!!" kata Matsumoto.
"Ra, Rangiku-san!!!" Toshiro langsung memerah. "Kita belum pacaran, kok!"
"Ehehehehe, nggak usah malu-malu… Beberapa minggu lagi paling juga udah jadi pacar…," goda Matsumoto.
"E, e, eeeeh…!!!"
"Uuh, jadi berapa totalnya, Rangiku-san?" tanya Ichigo kepada Matsumoto dengan muka merah.
"Segini!" Matsumoto nyodorin selembar kertas bon.
"Ah, ya. Ini," Ichigo menyodorkan sejumlah uang.
"Terima kasih!"
"Sudah ya, Hanashiro! Nanti sore aku telepon!" kata Ichigo.
"Eh, iya…," jawab Toshiro. Ichigo lalu pergi.
Kediaman Kurosaki
"YES!! YES!! YES!!!" teriak Ichigo sambil lonjak-lonjak. "Gue berhasil dapet nomernya Hanashiro! Astaga, dia manis banget kalo dilihat dari dekat! Huaaaaaaah!!!"
"Lho? Onii-chan?" tanya Yuzu yang masuk kamar dengan alat penyedot debu. "Kok, lonjak-lonjak?"
"Ah! Yuzu!" Ichigo kaget setengah mati.
"Ehehehehe… lagi jatuh cinta ya?" goda Yuzu.
Ichigo memerah. "Sok tau, kamu…,"
"Jangan salah, Onii-chan! Yuzu ini dokter cinta, lho!" pamer Yuzu.
"Hush, anak kecil, kok, udah mikir cinta!" goda Ichigo.
"Iiih, Onii-chan! Aku 'kan udah besar!"
"Oh ya…?? Udah gede, kok, masih minta mandi bareng?"
"Kan rame mandi bareng itu! Besok kalo Toshiro-kun ke sini lagi… Aku mau ajak dia mandi bareng! Pasti asyik!"
"HAH?!! APA?!! Nggak, nggak boleh!!"
"Onii-chan emang takut apa? Ah, aku tahu! Onii-chan pasti takut kalau Toshiro-kun jadi suka sama aku yang manis ini, kan??" kata Yuzu. "Aduh, aduuh… jadi Onii-chan suka sama Toshiro-kun ya??"
"Ya nggaklah! Dia kan cowok! Walau lumayan manis juga… Lagi pula udah ada Hanashiro…," gumam Ichigo dengan muka merah.
"Hanashiro…?? Siapa, tuh?" tanya Karin yang tiba-tiba masuk kamar.
"Kenalan gue dari kafe. Ehehehe… Sumpah, dia cantik banget, lho!" pamer Ichigo.
"Kalo Ichi-nii aja sampe tergila-gila begini… pasti anaknya manis banget… Sama Rukia-nee cakepan mana?" tanya Karin serius.
Ichigo cemberut. "Ah, jangan suruh gue ngebandingin Hanashiro ma Rukia, donk!"
"Trus Rukia-nee mau Ichi-nii apain? Bukannya kalian pacaran?" tanya Yuzu heran.
"Pacaran? Nggak! Kita nggak pacaran, kok!! Cuman temenan…," kata Ichigo. "Yaah, walau Rukia sering nyebut gue pacarnya… Tapi itu dilakuin demi gue. Gue nggak mau dikerumuni fans girl yang makin menggila mulu,"
"Eh, Ichi-nii! Bukannya hari ini ada casting iklan? Jam 4 sore, kan??" kata Karin mengingatkan. "Sekarang udah jam setengah 4…,"
"ASTAGA!! GUE LUPA!! Waduh, mana belum mandi!!" Ichigo langsung kalang kabut.
"Dasar…,"
Apartemen Toshiro, pukul 18.30
Toshiro merebahkan diri di atas futon. Dia baru aja pulang kerja dan nggak sempat mandi gara-gara tadi kafe penuh pelanggan. Hasilnya, dia harus rela pergi ke pasar dengan tubuh penuh keringat habis kerja.
"Masak daging tu lama… Mungkin lebih baik sambil nunggu matengnya aku sekalian mandi…," gumam Toshiro sehabis meletakkan panci berisi air dan irisan daging ke atas kompor. Di nyalakannya kompor gas itu. Lalu Toshiro beranjak ke kamar mandi dengan hanya membawa handuk.
Di kamar mandi, Toshiro melepaskan seluruh pakaiannya dan menyalakan shower. Toshiro lalu membiarkan dirinya di guyur air shower yang hangat. Saking nyamannya, dia nggak mendengar dering bel pintu apartemennya berbunyi.
Di depan pintu apartemen… telah berdiri seorang Kurosaki Ichigo yang baru selesai casting iklan.
TING! TONG!!
"Oi, Toshiro!!" Ichigo mulai menggedor-gedor pintu apartemen itu. "Apa pergi ya? Eits, kok, nggak di kunci pintunya?? Toshiro! Aku masuk ya!"
Ichigo masuk ke dalam kamar apartemen Toshiro itu dan menutup pintunya. Dia mendengar bunyi shower. "Ooh, lagi mandi, toh… pantes… gue tungguin aja, deh," gumam Ichigo yang lalu merebahkan diri di depan TV dan menyalakannya.
Kembali ke Toshiro yang lagi asyik mandi dan nggak sadar kalo ada Ichigo yang masuk ke apartemennya tanpa permisi. Dia malah mandi sambil nyanyi-nyanyi lagu 'This Light I See' dengan volume dasyat. Ichigo sweat drop sendiri di depan TV ngedenger konser Toshiro di dalam kamar mandi.
Buset, jadi Toshiro kalo mandi sukanya sambil nyanyi-nyanyi gini? Astaga… Tapi suara bagus, kok. Kenapa dia nggak jadi penyanyi aja ya?? pikir Ichigo.
15 menit kemudian, suara shower berhenti. Toshiro membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar. Ichigo otomatis secara reflek langsung noleh ke arah Toshiro yang keluar dari kamar mandi dekat ruangan itu.
"Hai, Toshiro! Maaf, gue tiba-ti—,"
Ichigo memerah. Toshiro melotot.
"KU, KUROSAKI-SAN?!!!"
Ichigo tetep ternganga. Air liur menetes dan Ichigo segera sadar.
"U, uaah!! To, Toshiro!! Maaf!!!" Ichigo langsung menutup ke-2 matanya. "Gu, gue udah nggak lihat! Cepat pakai baju, please!!"
"I, iya, maaf!!"
Olala, ternyata Toshiro keluar cuman berbalut handuk, doank!! Yaah, gara-gara terbiasa tinggal sendirian, Toshiro kalo habis mandi suka seenaknya. Entah itu pake handuk apa nggak dia langsung keluar. Toh, dia hidup sendiri.
Tapi, sekarang…??
Toshiro segera memakai baju terdekat yaitu kaos dan celana pendek. "U, udah!"
"Huff… Kau ini! Bikin kaget aja!" kata Ichigo. OMG, ternyata kulit Toshiro masih putih menyeluruh! Agak kemerah-merahan kayak kulitnya bayi… Imutnya…
"Eeeh, udah kebiasaan soalnya… Maaf…," kata Toshiro sambil membungkuk. "Eh, sebentar ya… Aku tadi juga lagi masak makan malam!"
"Hmm, kamu masak makan malam apa emangnya?" tanya Ichigo.
"Ngg… Nggak mewah-mewah amat… Hanya oseng-oseng bayam dicampur daging… Kurosaki-san mau?" tawar Toshiro. "Tunggu sebentar ya? Sebentar lagi matang,"
"Kalo nggak ngerepotin… ya bolehlah," kata Ichigo.
"Baiklah… Tunggu sebentar ya," Toshiro lalu beranjak. 25 menit kemudian suara berisik alat-alat masak berhenti dan Toshiro keluar dengan nampan berisi 2 piring oseng-oseng ayam bayam. "Silakan… Maaf, kalau tidak enak,"
"Ah, nggak apa-apa. Aku makan ya!" Ichigo menyumpit makanannya. "Mmm, wuiih!! Enak banget!" Ichigo langsung makan dengan lahap.
"Yang benar?" tanya Toshiro.
"Nyam, nyam, iya! Nyam, nyam…!! Mmm, rasa masakanmu ngingetin gue sama masakan ibu dulu!" kata Ichigo disela-sela makan. "Hh, jadi kangen sama ibu…,"
"Emang ibu Kurosaki-san kemana?" tanya Toshiro. Mulutnya belepotan kecap dan minyak dari oseng-oseng bikinannya.
"Sudah meninggal saat gue masih SD. Eh, belepotan, tuh!" Ichigo mengelap mulut Toshiro dengan jarinya lalu menjilat jarinya itu. "Hmm, masakanmu enak, Toshiro!"
Toshiro langsung blushing ngelihat Ichigo memakan sisa makanan yang baru menempel di bibirnya. "E, eeeh…!! Terima kasih…,"
"Nah, sudah selesai! Terima kasih makan malamnya ya, Toshiro…," kata Ichigo.
"Kurosaki-san mau pulang sekarang…??" tanya Toshiro sambil menoleh dari makan malamnya.
"Iya… Yuzu pasti udah khawatir, jadi harus segera pulang. Terima kasih atas makan malamnya ya!! Sampai jumpa besok!" Ichigo langsung beranjak.
Tapi sesosok tangan kecil menarik jaketnya.
"Eh?" Ichigo menoleh ke arah pemilik tangan kecil itu. "Toshiro?"
"……," Toshiro menunduk. "Anu… mmm……,"
"Ada apa?"
"… ti, tidak ada apa-apa……," Toshiro melepaskan tangannya dari jaket Ichigo. "Hanya saja… hati-hati di jalan ya…," Toshiro tersenyum lemah.
Ichigo heran. "Mmm, ya… Nggak usah khawatir begitu," kata Ichigo yang lalu mengelus-elus kepala Toshiro yang rambutnya masih agak basah itu. "Daah…,"
BRAK!!
Toshiro pun sendirian kembali.
Kusaka sedang belajar di kamarnya. "Hmm…,"
Dia merasa bosan dan mulai membuka laci mejanya. Di situ ada tumpukan kertas berisi informasi tentang Toshiro mulai dari masa lalunya hingga lainnya. Dia mendapatkannya dari berbagai media. Kusaka memang selalu begitu kalau punya teman.
Tapi, informasi yang paling dia inginkan dan dapatkan adalah foto Toshiro saat mandi… (??)
"Aaah, Toshiro… kau manis sekali…," gumam Kusaka. "Yaah, mungkin mereka nanti akan bilang aku gay… Tapi, kalo emang orangnya semanis kamu…,"
"Ehem, aku nggak manis, Kusaka-san…," kata Toshiro yang baru masuk dari jendela kamar Kusaka.
"Kau emang manis, kok, putri!" celetuk Kusaka. "Hebat banget bisa masuk sampai sini!"
"Emm, lewat pintu depan penjaganya nggak ngijinin… Jadi aku menyelinap. Maaf ya," kata Toshiro.
"Nggak apa-apa!" jawab Kusaka enteng. "Ada apa kesini?"
"Mmm, boleh aku tahu tentang masa lalu Kurosaki-san? Aku ada sedikit masalah untuk mendapatkan data itu," kata Toshiro.
Kusaka pun tersenyum dan mulai bercerita.
Tapi tiba-tiba…
Sebuah ledakan besar terjadi…
Aku suka hewan.
Selain lucu dan menggemaskan, mereka setia.
Lagipula, tak ada yang mau bermain denganku.
Tiap di taman, aku suka bermain dengan hewan-hewan yang ada di sana. Tak jarang aku sampai ketiduran di reremputan karena capek mengejar kupu-kupu.
Oya, kakak dan teman-temanku di panti selalu bilang kalau wajahku mirip putri tidur kalau sedang tidur. Katanya, sih… Aku nggak tahu kebenarannya. Yang jelas, aku sangat syok saat kakak dan anak-anak panti memberikanku furisode yang cukup mahal.
Furisode kan untuk anak perempuan? Aku tak mau memakainya. Tapi, mereka sudah sengaja mengumpulkan uang demi membelikanku furisode itu. Jadi, aku harus merawat dan menjaganya. Harus dipakai juga tentunya.
Aku mendapat tatapan aneh saat mengenakan furisode itu di festival sekolah. Ya jelas saja… Aku kan laki-laki, masa pakai furisode?
Tapi, aku cuek saja.
Toh, mereka juga acuh tak acuh padaku. Jadi impas, kan?
Anak berambut orange yang selalu mengejekku dan menghajarku itu sekarang jadi makin tertawa terbahak-bahak. Dia mengejekku terus-terusan.
Untung kakak selalu menenangkanku. Aku suka sekali kakakku…
Kami memang bukan saudara kandung. Tapi, kakak selalu membuatku kagum. Kakak itu orangnya cantik, pintar lagi. Dia selalu mendapat beasiswa. Juara umum bukan masalah untuknya.
Tak heran banyak sekali anak laki-laki yang suka padanya. Setiap valentine atau hari ulang tahun kakak, kakak selalu pulang dengan membawa banyak hadiah.
Pantiku yang tergolong tidak mampu ini, merasa senang karena kakak sering sekali menyumbangkan hadiah uang yang ia dapatkan dari perlombaan. Karena aku dan kakak termasuk yang paling tua di panti ini, kami harus mengalah. Tubuh kakak kecil. Jadi, pakaian yang tidak muat di kakak selalu diberikan padaku.
Aneh memang. Tapi ini terpaksa. Walau agak kebesaran, mau tak mau harus dipakai. Untunglah kakak juga tidak terlalu suka banyak rok, sehingga aku tak perlu sekolah menggunakan rok. Fiuuh…
Hari yang paling menakutkan terjadi saat aku dan kakak pulang dari festival sekolah itu…
"Kakak, kakak nggak makan es krim?" tanyaku.
"Eh, tadi udah makan, kok! Habiskan saja punyamu," kata kakak.
"Mmm, iya,"
BRUK!! Aku menabrak kakak.
"Kakak, jangan berhenti tiba-tiba, donk! Eh?" aku kaget melihat ada 5 sosok laki-laki tak dikenal menghadang kami. "Kakak, siapa mereka?"
"Sst, berlindung di belakang kakak," perintah kakak.
"Hai, cewek manis…," kata laki-laki pertama. "Ikut kami, yuk!"
"Siapa kalian? Pergi!" bentak kakak.
"Aduuh, jangan galak begitu, donk…," kata laki-laki lainnya. Dia seenaknya saja memegang tangan kakak. Kakak langsung menampar laki-laki itu.
"Ka, kakak…," aku kaget sekali dengan ulah kakak tadi.
"Ssst!" desis kakak.
"Hei, kalau dilihat adiknya itu manis juga… Hmm, hai, manis…," kata seorang laki-laki yang tiba-tiba ada disampingku dan seenaknya saja menyentuh pipiku.
Entah apa yang merasukiku, aku langsung menendangnya lalu… entahlah… yang jelas, begitu aku sadar, 5 orang laki-laki itu sudah kabur. Kakak memelukku dengan senyum bangga.
"Kau hebat, Toshiro!" puji kakak. "Bisa ngusir preman-preman itu!"
"Eeeh??"
Hmm, aku jadi bingung. Apa aku ini sejenis Rinko dari The Law of Ueki yang kalau dikatain 'ikan teri' langsung mengamuk dan selesai mengamuk nggak sadar apa-apa? Yang jelas hal ini masih sering terjadi padaku…
4869fans-nikazemaru: "Oke, sorry kalo chapter ini jelek! Huaaaaaa!! Gue ada sedikit masalah dalam membuat alurnya! Tapi sekarang udah nggak…,"
Hi-chan: "Dasar!"
4869fans-nikazemaru: "Yaah, biar nggak lupa sama adegan yang akan dimunculkan, mungkin ntar bakal gue gambar adegan-adegan yang ingin gue munculin di buku… Huff…,"
Hitsugaya: "Gue… gue…,"
Ichigo: "Yeah! Gue bisa lihat Toshiro pas selesai mandi!!"
Kusaka: "Sialan kau!!" (menghajar Ichigo)
Renji + Byakuya: "Kok, kita nggak nongol?!!"
4869fans-nikazemaru: "Gomen… besok kalian semua nongol, kok!"
Rukia: "Sekian dari kami…,"
All: "PLEASE REVIEW!!"
