A/N : Yahaaaaaaa! Ini dia chapter yang (mungkin) udah kalian tunggu-tunggu! Kekekeke! *wide grin* Sorry karena lama! Sebenarnya chapter ini udah selesai, tapi laptopku yang ku pakai buat ngetik chapter itu rusak dan sampai sekarang belum bener… . Mana belum ku copy di flash! Jadinya aku terpaksa ketik ulang chapter Ghost Hunter dan Animal or Human yang sebenarnya udah selesai. Cih! (nendang batu) Setelah ini mungkin yang update Super Anime Competition lalu Ghost Hunter. Oya, berkat do'a kalian, aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan! Kyaaaaa~! Alhamdulillah… Dan yang bikin aku seneng, nilai itu ku dapat dengan cara jujur 100%! Sumpah, aku bener-bener nggak nyontek siapapun! Seneng banget daku bisa dapat nilai 9 di IPA! (padahal aku sering remidi IPA, lho!) Makasih ya atas do'anya! Aku juga udah dapet sekolahan, jadinya sekarang aku udah nganggur! Yosh! Waktunya kebut fanfic! Ok, tunggu ya!

Disclaimer : Bleach itu 100% punya Tite Kubo! Kekeke…

Warning (s) : AU, OOC tingkat tinggi, perubahan gen, shounen-ai, multi pairing, etc.


= Animal or Human? =

= Chapter 7 : A Date =


Dengan keringat dingin mengucur deras dari dahinya, Toshiro memasuki mall Karakura dan menuju ke bagian pakaian wanita. Toshiro tidak pernah menyangka kalau pada suatu hari dia harus menjelajahi bagian itu. Toshiro melihat-lihat baju yang ada disana sambil terus blushing karena banyak orang yang melirik ke arahnya.

Huh, harus cepat-cepat, nih! batin Toshiro. Yup, hari itu dia berencana membeli pakaian dan aksesoris perempuan untuk dipakai di hari Minggu nanti. Nggak mungkin, dong, dia menyamar jadi Hanashiro tapi pakaiannya pakaian cowok? Bisa syok Ichigo nanti.

Dengan semangat perjuangan dan cinta (?), Toshiro memilah-milah baju yang digantung di rak-rak. "Uuh…" gerakan Hitsugaya terhenti. Wah, iya… Gue nggak tau gimana trend bajunya anak cewek sekarang…Mayday! Percuma, dong, gue kesini!

"Ada yang bisa saya bantu?"

Toshiro menoleh ke asal suara itu. Di belakangnya sudah berdiri seorang perempuan dengan seragam SPG. Tinggi badan perempuan itu tidak jauh dari tinggi badan Toshiro, sehingga Toshiro tidak perlu terlalu mendongak untuk melihat wajahnya. Mata perempuan itu cokelat—Toshiro jadi ingat dengan mata Ichigo—dengan poni menutupi dahinya. Dari depan, rambut perempuan itu terlihat pendek, tapi jika dilihat dari belakang kita bisa melihat ada 2 kelabang panjang. Menandakan bahwa sebenarnya rambutnya panjang. Di dadanya tersemat papan bertuliskan nama Soi Fong.

"Uh, eh… iya…" jawab Toshiro setelah yakin kalau SPG itu cukup ramah.

"Oya, ngomong-ngomong bagian pakaian cowok disana, lho! Disini untuk cewek," kata Soi Fong sambil menunjuk ke arah bagian rak-rak pakaian cowok.

"Mmm…" Toshiro langsung perpikir keras. Alasan apa yang wajar untuk anak cowok berkeliaran di deretan pakaian cewek sendirian? Ayo, bikin alasan apa aja! Yang penting wajar! Ayolah otak! Berpikir, berpikir, berpikir…! Aha, Toshiro mempunyai ide. "Ah, aku sedang mencari hadiah untuk saudara kembar perempuanku…"

Di dalam hati, Toshiro benar-benar bersyukur karena alasan itu yang keluar dari mulutnya. Karena alasan itu yang keluar dari mulutnya, sudah pasti dia sekarang berada dalam win-win situation. Pertama, alasan itu membuatnya wajar untuk berada di rak baju perempuan. Lalu yang kedua, dia jadi bisa sekalian minta bantuan SPG itu mencari pakaian yang cocok untuknya. Apalagi kalau dia bilang saudara kembarnya itu sangat identik dengannya secara fisik! Wah, pastinya akan terlihat wajar bila dia mencoba pakaian cewek itu di kamar pas!

"Ooh… Mau ulang tahun ya?"

"Iya, aku ingin membelikannya baju dengan uangku sendiri."

SPG bernama Soi Fong itu mengangguk-angguk. "Hmm, begitu… Baiklah, sini ku bantu memilihkan! Selera berpakaian antara cowok dan cewek itu beda, lho!"

"Terima kasih!"

"Hmm, bagaimana rupa saudaramu?"

"Kami kembar identik!"

Soi Fong mengangguk-angguk. "Lalu kamu tahu apa warna dan pakaian favoritnya?"

Toshiro menggaruk-garuk kepalanya. "Uuh, seingatku dia suka semua warna… Kalau pakaiannya mungkin yang bisa membuatnya bebas bergerak tapi tetap terlihat manis dan feminim."

"Bingo! Mungkin ini cocok untuk saudaramu!" seru Soi Fong sambil mengambil beberapa baju. "Bagaimana menurutmu?"

"Baiklah, akan kucoba!"

"HAH?" Soi Fong melotot. "K-kamu… coba…?"

Toshiro cepat-cepat membuat alasan. "S-so-soalnya aku ingin tahu mana yang cocok dan nyaman untuknya… K-kan, kami kembar identik?"

"Wah, maaf… Aku lupa! Kalian 'kan kembar identik! Baiklah, kamar pasnya disana," kata Soi Fong sambil menunjuk ke arah kamar pas. "Tuh, kebetulan ada yang kosong."

Setelah menerima baju-baju yang dipilihkan Soi Fong, Toshiro langsung melesat ke kamar pas. Dicobanya baju-baju itu hingga dia menemukan baju yang sesuai dengan seleranya. Dia memilih atasan berupa kaos dengan kerah berenda dan pita ditengahnya. Lalu sebagai bawahan Toshiro memilih rok yang (ehem) lumayan mini. Sebagai pemanis, Toshiro berniat untuk membeli beberapa aksesoris seperti stoking, jepit rambut, pita, tas kecil, dan sepatu yang matching dengan baju itu.

"Oh, bagaimana?" tanya Soi Fong begitu Toshiro keluar dari kamar pas. "Sudah ketemu yang cocok?"

"Iya, aku pilih yang ini," jawab Toshiro sambil menyerahkan kaos dan rok yang sudah dia pilih.

"Wow, pilihan yang bagus!" puji Soi Fong sambil mengeluarkan nota. "Ok, ada yang ingin kau beli lagi?"

Toshiro mengangguk. "Mungkin aku ingin beli beberapa aksesoris yang cocok dengan pakaian ini."

Soi Fong mengangguk-angguk sambil terus menulisi kertas nota. "Hm, hm… Baiklah, ayo ikut aku! Tempatnya disana."

Setelah beberapa puluh menit menjelajahi rak aksesoris, Toshiro akhirnya sampai di depan meja kasir. Soi Fong sengaja memberi diskon khusus untuk Toshiro. "Salam untuk saudaramu ya!" ucap Soi Fong sambil menyerahkan belanjaan Toshiro.

"Iya, terima kasih ya atas diskonnya," kata Toshiro.

"Ahaha, tak masalah! Oya, maaf, boleh tahu namamu?"

Toshiro tersenyum. "Hitsugaya Toshiro. Salam kenal, Soi Fong!"

"L-lho? K-kok, kamu tahu namaku?"

"Eh? Kan, namamu udah tertulis jelas di papan nama itu?" kata Toshiro sambil menunjuk papan nama yang ada di dada Soi Fong. "Bagaimana, sih?"

"O-oh, aku lupa! Ehehehe, maaf! Salam kenal, Toshiro! Kapan-kapan kesini lagi ya!" Soi Fong melambaikan tangan ke arah Toshiro yang berjalan keluar toko.

"Iya, kasih diskon lagi ya!" canda Toshiro sambil balas melambaikan tangan ke Soi Fong.

Soi Fong tertawa. "Tentu saja!"

Karena sedang ada di mall, Toshiro sekalian belanja untuk makan malam. Dengan cekatan Toshiro memilih bahan-bahan yang dia butuhkan untuk makan malam. Tidak heran dia tidak perlu makan waktu lama untuk berbelanja makan malam. Setelah semuanya dirasa cukup, Toshiro dengan senyum riang keluar dari mall. Ah, akhirnya semua sudah selesai… Setelah ini aku bisa bekerja dengan tenang~! batin Toshiro. Ok, langsung pulang trus…

"Lho? Toshiro?"

Toshiro langsung membatu karena mendengar ada yang memanggilnya. Senyuman di wajahnya perlahan luntur. Kini keringat dingin mulai mengucur deras dari dahinya. Dengan gemetaran, Toshiro perlahan menoleh ke belakang. Betapa kagetnya Toshiro ketika mengetahui kalau orang yang memanggilnya tadi adalah cowok dengan rambut orange menyala.

"E-eh… H-halo, Ku-Kurosaki…" kata Toshiro ke arah Ichigo. Oya, jangan heran. Sekarang Toshiro sudah mulai terbiasa memanggil Ichigo, dkk. tanpa imbuhan 'san'. Walau banyak yang protes karena dia masih memanggil mereka dengan nama keluarga. Tapi, setidaknya sekarang sudah agak mendingan. Mati gue! pikir Toshiro.

"Hah? Kenapa elo? Kayak baru lihat hantu aja!" kata Ichigo sambil berjalan ke arah Toshiro. "Ngomong-ngomong tumben ada di mall."

"Uh, kebetulan ada beberapa barang yang ingin kubeli disini… Kurosaki juga kenapa disini? Kusaka dan lainnya mana? Tumben nggak bareng."

Ichigo menghela nafas. "Hh, itu masalahnya! Mereka lagi ada kegiatan! Renji katanya mau ke gym. Byakuya ada les lukis. Kusaka sedang latihan sulap, soalnya dia malam ini mau tampil. Jadinya gue sendirian, deh! Daripada BT ya gue kesini… Yaah, walau agak repot juga… Tadi aku sempat dikejar-kejar para fans…"

"Duile… Namanya juga artis…" goda Toshiro. "Malah aneh, dong, kalau nggak dikejar-kejar… Apalagi kalau artisnya itu yang lagi naik daun kayak Kurosaki. Jadi, kapan album kedua F4 siap diluncurkan, Mas?"

"Hehehe, elo itu lucu banget, Toshiro! Tapi, iya, juga, sih… Malah aneh kalau nggak dikejar-kejar."

Toshiro menyeringai saat Ichigo merangkul bahunya. "Hati-hati… Banyak paparazzi, lho!"

"Ehehe, gue nggak keberatan kalau digossipin pacaran sama kamu…" ucap Ichigo dengan senyum khasnya. "Oya, kayaknya belanjaanmu berat. Sini gue bawain!"

"Ng-nggak begitu berat, kok! Nggak usah!" tolak Toshiro cepat-cepat. No way! Kurosaki nggak boleh sampai tahu kalau aku beli baju cewek! Pokoknya nggak boleh! Bisa hancur lebur penyamaranku selama ini!

Ichigo geleng-geleng. "Dasar! Oya, kamu mau ke café juga, kan? Bareng sama gue aja, yuk! Gue bawa motor!"

"Eh? Tumben naik motor!" kata Toshiro. Nyaris saja dia mau bilang 'lho? Kurosaki punya motor, toh?'

"Yaah, gue lagi males naik bus. Apalagi kalau nggak ada barengannya, jadinya naik motor, deh! Bagaimana? Daripada elo naik bus berdesakan? Bisa hemat ongkos transport, lho!"

"Mmm, tapi, aku mau pulang dulu…"

"Nggak apa-apa! Gue anterin, deh, pokoknya!"

Karena nggak enak sama Ichigo, Toshiro mengiyakan ajakan itu. "Baiklah, kalau Kurosaki nggak keberatan…"

"Demi kau, hime, apa pun tentu akan kulakukan!" kata Ichigo sambil membungkuk hormat layaknya pangeran kepada sang puteri. "Tunggulah, di depan mall sebentar, hime. Hamba akan ambil motor dulu…" Ichigo lalu pergi ke arah tempat parkir mall.

"H-hei! Sudah kubilang, kan? J-jangan panggil aku 'hime'!" protes Toshiro dengan muka merah. Tapi, protes pun percuma karena Ichigo sudah menghilang dari pandangan. "Ah, sial! Kenapa, sih, aku selalu mereka panggil 'hime'? Aku 'kan bukan puteri dari mana pun…"

Toshiro dengan langkah perlahan keluar dari mall. Hiruk pikuk manusia menghiasi di sepanjang jalan mall. Begitu langkah Toshiro hampir mencapai pintu masuk, HP-nya berdering. Deringnya berbeda dari biasanya. Toshiro langsung ingat bahwa Urahara katanya sudah menyetting nada dering khusus jika ada sinyal hollow. Segera dia mengeluarkan HP BlackBerry pemberian Ichigo, dkk. yang ada disakunya.

"Hollow? Astaga, akan ada hollow 20 meter dari sini 3 menit lagi?" jerit Toshiro. Cepat-cepat dia buka peta yang menunjukkan letak hollow akan muncul. Tanpa ba-bi-bu Toshiro berlari menuju lokasi kemunculan hollow. Memang aku nggak mungkin bisa mengalahkan hollow itu, tapi setidaknya bisa aku tahan sebentar pakai kidou sampai Kurosaki kembali…!


Matahari mulai menyembul dari ufuk timur. Rerumputan masih basah karena hujan semalam. Bias-bias cahaya menyelinap dari sela-sela dedaunan. Perlahan-lahan menembus kabut yang cukup tebal. Suara burung yang berkicau menambah kesyahduan pada pagi hari itu.

Suara gemerisik langkah manusia memecahkan kesyahduan itu. Sesosok wanita dengan keranjang ditangannya. Rambut panjangnya yang hitam legam dikelabang ke depan. Dengan telaten dia memilih dan memetik sayur segar untuk anak-anak yang dia rawat dipanti asuhannya. Dia langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar sesuatu dari kejauhan.

"Suara…tangis bayi?" heran wanita itu.

Pelan-pelan dia berdiri. Ditajamkan pendengarannya setajam mungkin lalu diikutinya asal suara itu. Asalnya dari dekat pagar masuk panti. Disana ada sebuah keranjang dengan buntalan didalamnya. Perlahan dia membuka selimut yang menutupi keranjang tersebut. Betapa kagetnya ia saat melihat bahwa itu adalah bayi yang begitu mungil.

"Oh, astaga," kata wanita itu sambil menggendong bayi malang tersebut. Dengan penuh kasih sayang, dibelainya rambut putih yang menghiasi kepala mungil bayi itu. Perlahan bayi itu mulai tenang dan tertidur. Wanita itu tersenyum dan menyentuh selimut yang menutupi bayi itu. Sepertinya bayi itu ditelantarkan didepan panti tepat tadi malam saat hujan sedang turun dengan lebat. "Kasihan…"

Wanita itu melihat ada secarik kertas tersemat diselimut itu. "Ah, ada tulisannya…Mmm, sepertinya nama…" Wanita itu berusaha keras membaca tulisan yang tertera dikertas yang sudah basah itu. "…Uh… Hitsugaya…Sepertinya ini nama keluarganya. Lalu nama kecilnya… Ah, tidak bisa terbaca!"

Perlahan-lahan wanita itu berdiri agar bayi yang ada digendongannya itu tak terbangun. "Lebih baik segera kubawa masuk, dia pasti kedinginan dan kelaparan."

Saat suara pintu depan panti terbuka terdengar, seluruh penghuni panti langsung berhamburan menyambut pengasuh kesayangan mereka. Mereka berjingkrak-jingkrak dengan gembira. Mereka semakin heboh saat melihat ada bayi digendongan orang itu. Mereka berebutan untuk melihat wajah bayi mungil itu. Wanita pengasuh itu meletakkan si bayi ke boks bayi yang ada diruang tengah. Para penghuni panti asuhan itu langsung mengerumuni boks bayi tersebut.

"Lucunya~! Darimana dia, Unohana-san?" tanya seorang gadis dengan rambut hitam dikuncir 2. Dengan gemas dia memandangi bayi mungil itu.

"Aku menemukannya di dekat pagar masuk," jawab wanita yang dipanggil Unohana-san itu. "Sepertinya dibuang karena hasil hubungan gelap."

"Kasihan… Padahal lucu begini…" kata gadis itu lagi. "Dia pasti kesepian."

Semua yang ada disana mengangguk setuju. Unohana tersenyum. "Tidak akan. Kan, dia sudah punya kita semua? Kalian pun pasti tak keberatan mendapatkan satu anggota keluarga lagi."

"Unohana-san!" panggil seorang gadis dengan rambut hitam pendek dan mata violet. Dia nampak sedang mengelus bayi tersebut. "Siapa nama bayi ini?"

Unohana menghela nafas. "Aku hanya tahu nama keluarganya. Namanya 'Hitsugaya'. Ah, bagaimana kalau kita bersama-sama menamainya? Kalian mau? Ayo, kita beri bayi lucu ini sebuah nama."

Seluruh penghuni panti itu bersorak setuju.

"Dia lucu dan menggemaskan. Jadi, dia harus punya nama yang indah juga," kata gadis berkuncir 2 tadi. "Oh, dia laki-laki apa perempuan, Unohana-san?"

"Laki-laki," kata Unohana sambil tersenyum.

"Wah, waktu besar nanti dia pasti akan tambah cute! Jadi, tidak sabar ingin lihat dia waktu besar! Pasti imut."

Gadis dengan mata violet mengangguk setuju. "Iya, dari dulu kita ingin adik laki-laki, kan? Adik laki-laki yang imut."

"Yup! Nah, enaknya diberi nama siapa ya?"

Semuanya berpikir keras. Hingga bibir Unohana bergerak. "…Shiro… Bagaimana kalau Toshiro? Hitsugaya Toshiro?"

"Ya, ya! Setuju!" seru semuanya sambil berlonjak-lonjak gembira.

"Aku bisa memanggilnya 'Shiro-chan'!" jerit gadis berkuncir 2 dengan riang.

Unohana tersenyum melihat tingkah anak-anak asuhannya itu. "Eits, sana, kasih salam dulu ke Toshiro! Lihat, tuh, dia mulai bangun."

Kontan seluruhnya berseru, "Yay! Selamat datang, Toshiro! Salam kenal!"

Seakan mengerti dengan apa yang terjadi disekitarnya, bayi yang sekarang bernama Hitsugaya Toshiro itu membuka matanya. Sepasang mata blue-green yang memukau terlihat dari balik kedua pelupuk mata yang kini terbuka. Seluruh anak tertegun dan terpesona karena setelah itu Toshiro tertawa dengan polosnya. Membuat suasana pagi hari yang dingin itu menjadi hangat…

Belum puas mereka memandangi wajah lucu itu, terciumlah bau yang kemudian disusul dengan suara tangisan keras.

"HUWAAA! Ada apa, Toshiro? Kya, kumohon jangan nangis~!" jerit gadis berambut dikuncir 2 dengan panik.

"Cup, cup, cup…! Kami nggak bakal nyakiti kamu, kok!" kata gadis bermata violet. Seluruh anak yang ada disana ikut panik. Suasana haru yang tadi terasa buyar sudah. Kini suasa berubah menjadi suasana panik.

"Mungkin dia ngompol! Ah, tolong ambilkan popok!" kata Unohana.

"B-ba-baik!"

"Please, berhenti menangis, Toshiro~!"

"Mana popoknya?"

"Dimana, sih? Kalau nggak salah disini, deh!"

"Cari di lemari itu!"

"Nggak ada!"

"Di rak?"

"Tidak ada juga!"

"Hah? Masa habis, sih?"

"Kyaaaaaa~! Bagaimana ini?"

"KAMI BUTUH POPOK!"


Ketika sampai di lokasi, seekor hollow yang keluar dari lubangnya. Toshiro buru-buru meletakkan belanjaannya ke tempat yang aman. Dia bersiap melancarkan serangan kidou. Kalau tidak salah, hollow yang masih belum sepenuhnya keluar dari tempat dia muncul bisa di dorong masuk kembali ke portal. Akan kucoba, walau kemungkinan keberhasilannya kecil, tapi itu sudah cukup untuk mengulur waktu! pikir Toshiro.

"Hadou ke-31, shakkahou!" seru Toshiro. Gumpalan reiatsu merah menerjang ke arah hollow. Namun, si hollow berhasil mengelak dan keluar dari portalnya. Hollow yang jatuh ke tanah itu membuat tanah bergetar. Toshiro nyaris saja kehilangan keseimbangan. Sial, meleset! Gimana, nih? O-oh ya, katanya jika berhasil menghancurkan atau membelah topeng hollow, mereka akan hilang!

"Hmm, reiatsumu lumayan juga. Walaupun masih anak kecil sudah bisa kidou, hebat juga kau!" kata si hollow.

"HAH? SIAPA YANG KAU PANGGIL ANAK KECIL? GUE UDAH SMU, TAHU!" teriak Toshiro nggak terima dibilang anak kecil. Hollow ini bener-bener minta gue bunuh kayaknya!

"Khukhukhu, ternyata punya tempramen buruk ya?"

"Hadou ke-33, soukatsui!" Tanpa ba-bi-bu Toshiro mengeluarkan kidou. Dia terus menembakkan kidou ke arah hollow itu. "Hadou ke-4, byakurai! Hadou ke-73, soren soukatsui!"

BLAR! BLAR! BLAR!

Dengan cekatan hollow itu menghindar bahkan menangkis kidou dari Toshiro. Hollow itu tertawa mengejek. Toshiro menggertakkan giginya. Gawat, aku memang belum begitu bisa membidik sasaran bergerak…Lalu tersirat sebuah ide. O-oh iya! Pakai bakudou dulu lalu begitu dia nggak bisa bergerak, hadou dia! Gyaaaaaa~! Sial! Kenapa nggak kepikiran dari tadi? Gobloknya gue~!

"Bakudou ke-19, horin!" teriak Toshiro. Begitu berhasil, Toshiro menggunakan telapak tangannya yang satu lagi digunakan untuk mengeluarkan hadou. "Hadou ke-31, shakkahou!"

"GRAAAAAAAAAH~!" Tanpa diduga Toshiro, hollow itu melepaskan diri dari jeratan bakudou dan menghancurkan hadou yang melesat ke arahnya. "Tidak semudah itu, bocah!" Hollow itu membuka mulutnya dan perlahan-lahan gumpalan merah terbentuk. Reiatsu hollow tersebut langsung meningkat pesat. Toshiro terbelalak.

Kalau tidak salah itu… Cero! batin Toshiro. Gawat! Aku harus cepat menghindar! Aku tak mungkin bisa melawan cero hanya dengan kidou!

BLAAAAAAAAAAR!

"Ugh!" Toshiro mengaduh saat tubuhnya terhempas sampai menghantam dinding akibat cero yang baru saja dikeluarkan. Nafasnya terengah-engah karena menahan perih di lengannya yang tadi terserempet sedikit.

Hollow itu tertawa. "Hahaha, satu kali lagi cero, maka habis kau! Oh, atau enaknya langsung kumakan kau? Hmm, dengan reiatsu sebesar kau, pasti aku akan makin kuat," kata hollow itu. "Bersiaplah kau!"

Mulut hollow itu terbuka lebar, bersiap untuk menelan Toshiro. Toshiro berusaha berdiri, tapi badannya masih lemas akibat terlempar tadi. Siapa pun…Tolong…

"GETSUGA TENSOU!"

Seketika itu reiatsu berwarna hitam melesat ke arah tubuh hollow. Membuat si hollow terjungkal ke belakang sambil merintih kesakitan. Cowok berambut orange dengan yukata hitam (atau yang biasa disebut shihakusou) berdiri dihadapan Toshiro. Ditangan cowok itu ada sebilah pedang berwarna hitam legam.

Toshiro nyaris saja berhasrat untuk memeluk Ichigo karena cowok itu sudah datang tepat waktu dan menyelamatkannya dari maut. "Ku-Kurosaki!" seru Toshiro. Kurosaki~! Thanks~! Gue selamet! Gue bakal ngasih kamu first kiss-ku~! Lho? Eh? Aku ngomong apaan tadi? pikir Toshiro.

"Maaf, hime! Saya telat! Tadi parkirannya ramai banget! Susah keluarnya!" kata Ichigo. "Huff, nyaris saja! Hime nggak apa-apa, kan?"

"UDAH KU BILANG! JANGAN PANGGIL 'HIME'!" protes Toshiro. Nggak jadi gue kasih first kiss, lho, ntar! Hah? Bentar gue ngomong apaan tadi? Ah, kok, omonganku jadi ngelantur gini?

Ichigo nyengir. Dia suka banget menggoda Toshiro. Reaksinya Toshiro itu, lho! Imut banget! Wajah Toshiro kalau marah, bukannya menakutkan, tapi malah bikin orang gemes dan ingin mencoba menggodanya lagi. "Iya, iya…" Ichigo kembali menatap hollow yang kini mulai bangkit kembali. "Duduk disitu, Toshiro! Aku pasti akan mengalahkan hollow ini! Kau nonton aja ya?"

"I-i-iya…" jawab Toshiro.

"K-kau… sialan!" Hollow itu perlahan bangkit kembali. Tebasan Zangetsu itu tadi telah mengenai lengannya hingga putus.

"Itulah akibatnya kalau kau melukai hime!" kata Ichigo. "Iya, kan? Hichigo?"

Hichigo, yang baru saja muncul, nyengir. "Tentu saja, partner."

"Ayo, Hichigo!"

"Yes, sir!"

"GETSUGA TENSHOU!"


Pada Hari Minggu, Kediaman Kuchiki

Rukia menghela nafas. Dengan malas dia menuju dapur dan mengambil beberapa wortel untuk kelinci peliharaannya. Cewek satu ini tidak pernah menyangka akan mempunyai gen kelinci. Dari dulu dia nggak suka makan wortel. Bener-bener nggak suka. Bahkan lihat aja udah mual. Tapi, sekarang…? Dia malah bisa menghabiskan 5 kg wortel mentah sendirian!

"Chappy~!" sapa Rukia kepada kelinci kesayangannya. Kelinci bernama Chappy ini berwarna putih dengan tubuh gendut yang bikin gemes. Tak hanya Chappy saja, Rukia juga punya kelinci bernama Haku, Shiro, dan Yuki. Ya, ya, dia memang tahu kalau Haku dan Shiro sama-sama berarti putih. Yang jadi masalah, kelinci bernama Haku itu warnanya cokelat! Nggak ada unsur putihnya. Tapi, yaaah, siapa peduli? Yuki pun warnanya juga bukan putih seperti namanya yang berarti salju. Yuki berwarna hitam dengan bintik putih. Tapi, setidaknya masih agak mirip. "Halo juga, Haku! Shiro! Yuki!"

4 kelinci itu mendekati Rukia dan mengendusi kakinya. Sebagai pecinta kelinci, Rukia langsung gemas. Dibagi-bagikannya wortel yang ada ditangannya. "Ini, makanlah yang banyak ya…"

"Yeey, terima kasih!"

Rukia yang akan berbalik untuk kembali masuk ke rumah langsung berhenti. Syok. Suara siapa itu barusan? batin Rukia sambil berbalik. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya begitu melihat disekitarnya tidak ada orang sama sekali. Hanya dia dan kelinci-kelincinya. H-hiiiy… Please, suara siapa itu tadi…? M-masa hantu, sih?

Dengan takut-takut, Rukia menatap ke kelincinya. M-masa, sih, yang ngomong tadi kelinci? Rukia menggeleng-geleng. N-nggak! Nggak mungkin!

"Wortelnya enak ya!"

"Iya, wortel disini emang selalu segar!"

"Kalau wortel ginian emang segar. Tapi, kalau yang udah dimasak, rasanya agak aneh!"

"Masa? Menurutku sama enaknya."

Rukia semakin gemetaran. Wo-wortel…? Segar? Dimasak? Be-berarti yang ngomong… Rukia menunjuk kelinci-kelincinya. "Ka-kalian… bisa… ngomong…?"

"Eh, kayaknya majikan kita bisa ngerti bahasa kita, deh…"

"Hah? Nggak mungkin!"

"Lho? Tuh, dia ngelihat kita sambil gemetaran gitu. Berarti dia bisa ngerti bahasa kita, dong?"

"Ah, mana ada, sih, manusia yang bisa bahasa hewan?"

Kontan Rukia langsung menjerit-jerit dan berlarian masuk rumah. "TIDAAAAK! INI NGGAK MUNGKIN! KELINCI BISA NGOMONG! GYAAAAAAAAA~! INI BENERAN? GUE NGGAK MIMPI, KAN? JA-JANGAN-JANGAN GUENYA YANG BERHALUSINASI? BERARTI GUE MULAI GILA, DONK? TIDAAAAAAK~! AWW!"

"Ada apa, Rukia? Kenapa lari-lari dan teriak-teriak begitu?" tanya Byakuya yang baru saja ditabrak Rukia. Ditangan cowok yang terkenal cool itu ada sekantung makanan ikan. Byakuya memang memelihara ikan di kolam belakang rumah. Ikan-ikan itu jumlahnya mungkin sudah ada puluhan. Jenisnya pun bermacam-macam, tapi yang paling banyak adalah ikan koi.

"Ni-Nii-sama?" Rukia kaget dan langsung membungkuk. "Ma-maaf sudah menabrakmu, Nii-sama!"

"Tidak apa-apa. Kenapa kamu teriak-teriak?"

Rukia langsung panik lagi. "I-ini gawat Nii-sama! Ke-kelinci… ngomong… wortel… segar…!"

"Stt, tidak usah panik. Ada apa? Ngomong yang jelas!"

"A-ada… itu… A-anu… KELINCIKU TIBA-TIBA BISA NGOMONG! Mereka ngomong ke arahku!"

"Mustahil…" kata Byakuya dengan cool.

"Ini beneran, Nii-sama! Coba lihat kesini, deh!" ajak Rukia sambil menyeret Byakuya ke tempat kelinci-kelincinya. "Tuh, coba dengar, deh!"

"Wah, iya, tuh! Kayaknya majikan kita bisa ngerti bahasanya kita!"

"Kyaaaaa~! Jadi, setelah ini kita nggak bisa gossip-gossip soal dia lagi, dong?"

"Lho? Malah enak, kan? Kita bisa komplain kalau kita masih lapar!"

"Iya juga, sih…"

"Tuh, kan, Nii-sama? Mereka ngomong!" kata Rukia.

Byakuya mengernyitkan dahinya. Dia nggak dengar apa-apa. "Nggak dengar apa-apa, tuh. Kamu beneran nggak lagi ngigau, kan, Rukia?"

"Nggak, kok! M-masa Nii-sama nggak dengar?"

"Tidak dengar, tuh…"

"Jelas saja tidak dengar…" ucap sesosok orang yang duduk diatas pohon. 2 kakak-adik itu mendongak ke atas. Sosok itu langsung meloncat dari tempatnya dan mendarat dengan mulus di tanah. "Orang yang mendapat gen itu akan bisa berbicara dengan hewan yang menjadi gennya. Seperti kau, Rukia. Karena genmu kelinci, maka kau bisa berbicara dan mengerti bahasa kelinci."

"Yo-Yoruichi-san!" jerit Rukia kaget. "Ba-bagaimana anda bisa masuk?"

"Yaah, kucing punya caranya sendiri…" jawab Yoruichi. "Oh ya, jangan lupa! Nanti ada latihan di rumah Urahara! Jangan sampai telat! Bye, bye!"

"Eh? Nanti ada latihan?" tanya Byakuya. "Kenapa mendadak sekali?"

"Tidak, kok, Nii-sama! Kemarin di café kami diberitahu…" kata Rukia. "Ah! Maaf, Nii-sama! Aku lupa memberitahu ke Nii-sama!"

"Tidak apa-apa… Kalau begitu aku akan memberi makan ikan dulu," ucap Byakuya. "Kau juga bersiaplah. Kita nanti akan pergi, kan?"

Rukia mengangguk. "Iya, iya… Mmm, menurut SMS dari Rangiku-san tadi malam… Kita nanti akan pergi ke taman yang baru dibangun itu, kan? Kalau nggak salah… Taman Smile… Aneh juga, Ichigo yang biasanya semangat kalau diajak jalan-jalan tiba-tiba nggak mau ikut…"

-Flashback-

Sore itu hujan, café pun sudah ditutup. Sebenarnya akan dibuka sampai larut malam karena hari itu malam Minggu, tapi mereka sedang ingin menikmati hujan bersama-sama sambil minum cokelat. Lagipula mereka kekurangan pegawai (soalnya Byakuya dan Kusaka sedang ada kegiatan).

"Hei! Bagaimana kalau kita besok jalan-jalan?" ajak Matsumoto.

Rukia yang sedang mengepel lantai menoleh. "Wah, boleh juga, tuh, Rangiku-san!"

"Dimana?" tanya Renji yang sedang melumat pisang.

"Ke taman… Aku masih belum kepikiran ditaman yang mana… Pokoknya besok kita kumpul dulu di café ini! Nanti malam kalau aku udah putusin dimana, aku SMS, deh! Oke, siapa yang ikut?" jawab Matsumoto bersemangat.

"Aku ikut!" teriak Rukia dan Renji.

Orihime menoleh. "Kelihatannya asyik! Aku ikut! Nanti malam biar aku ajak Kusaka-san juga…"

"Uh, aku nggak ikut," jawab Toshiro.

"Ah! Gue juga nggak ikut!" seru Ichigo.

"Hah? Kenapa?" tanya Matsumoto. Lalu dia tersenyum jahil. "Oww, jangan bilang kalau kalian besok akan kencan di suatu tempat… Ufufufu…"

"E-eeeh? Enggak, kok!" kata Ichigo. "Gue lagi males aja… Ada janji sama Karin! Dia minta diajarin tennis!"

"Ka-kalau aku… Besok aku harus mencuci baju dan beres-beres apartemen," terang Toshiro. "Lagipula di swalayan dekat apartemenku sedang mengadakan diskon besar-besaran pada pukul 8 sampai 12! Aku nggak boleh sampai kehabisan! Soalnya banyak yang harus kubeli…"

Orihime menatap Toshiro. "Wah… Pasti repot ya tinggal sendiri…Tapi, untungnya Toshiro-kun orangnya rajin, ya!"

"Ah, tidak juga…"

"Benar, lho! Aku saja beres-beres kamar 1 bulan sekali! Tiap aku ingin bantu-bantu memasak pun sama mama nggak boleh… Padahal aku juga ingin masak!"

Semua orang yang ada hanya bisa geleng-geleng. Wajar saja, masakan Orihime benar-benar masakan yang mengerikan… Mereka pernah mencoba makan. Tapi, melihatnya saja mereka langsung eneg. Bahkan mulut Renji langsung berbusa ketika melihatnnya. Benar-benar mengerikan!

"Ya udah… Jadi, besok jangan lupa ya? Ngumpul di café ini!" kata Matsumoto bersemangat. "Kita kumpul jam 9! Toshiro dan Ichigo kalau sempat datang ya!"

"I-iya…" jawab Ichigo dan Toshiro.

-End of Flashback-

Rukia menatap kelinci-kelincinya. "Wah, berarti gue bisa ngobrol dengan kelinciku, dong! Chappy~! Ih, kamu lucu banget!"

"Yah, yang disayang cuma Chappy, doang…" keluh Shiro.

"Eh, kalian juga imut, kok!" kata Rukia sambil bergantian mengelus Yuki, Shiro, dan Haku. "Sudah ya! Aku mau bantu Nii-sama kasih makan ikan!"

"Iya!" jawab keempat kelinci itu.

Sementara di pinggir kolam ikan, Byakuya sedang mengamati ikan-ikannya yang tumbuh dengan sehat. Bila ditimbang, mungkin ikan koinya sudah mencapai bobot 4 kg. Dengan senyum puas, Byakuya mulai menyebarkan makanan ikan yang dia bawa. Setelah beberapa saat menyebarkan makanan ikan, Byakuya berhenti. Dia mengamati makanan ikan yang ada ditangannya.

"…………?" Byakuya bingung sendiri dengan keadaannya. Kenapa ya? Kok, rasanya…gue jadi lapar gini? Perasaan tadi udah sarapan 2 piring kare ekstra hot, tapi, kok…? pikir Byakuya. Tanpa ba-bi-bu, Byakuya langsung mengambil segenggam makanan ikan dari kantongnya lalu memakannya.

"Hmm, hmm… Enak juga…" gumam Byakuya. Diambilnya segenggam lagi dan dimakan. Begitu terus hingga Rukia datang.

"N-Nii-sama? Apa yang anda lakukan? Ke-kenapa…?" tanya Rukia dengan raut muka horror.

Byakuya kembali melumat makanan ikan itu. Bahkan sekarang dia melompat masuk ke kolam ikan!

"KYAAAAAAAAAAAA~! NII-SAMA~!"

Rukia pingsan.


"Hmm."

Toshiro nampak sedang mengamati penampakan dirinya di cermin. Sekarang dia sudah rapi dengan baju yang dia beli dulu. Sebenarnya dia agak nggak PD pakai rok pendek, tapi apa boleh buat. Setelah menurutnya penampilannya sudah oke, dia mulai menata rambutnya. Pakai gel rambut agar rambutnya turun lalu disisir. Baru setelah itu dikuncir dua dan diberi pita. Tak lupa sebagai pemanis disematkannya dua pasang jepit rambut.

"Nggak jelek juga…" gumam Toshiro. Di ambilnya parfum, disemprotkan beberapa kali ke tubuhnya agar penyamarannya lebih terlihat mantap. Begitu selesai, dimasukkannya dompet dan HP-nya ke tas kecil yang juga telah dia beli di mall bersama baju. "Yup, selesai!"

Toshiro segera memakai sepatunya lalu keluar dari apartemennya dan menguncinya. Dia cepat-cepat turun ke lantai dasar lalu menuju ke halte bus. Beruntung bus sudah sampai di halte sehingga Toshiro tidak perlu menunggu. Toshiro duduk dikursi sambil terus merasa tidak nyaman karena merasa orang-orang disekitarnya memelototi dirinya. Huuh, cepatlah sampai!

Ichigo sedang asyik bersandar di gerbang masuk ke taman bermain Smile. Sesekali dia melirik jam lalu mengedarkan pandangan ke jalan. "Duuh, Hanashiro mana, sih?" gumam Ichigo.

"Ah! Kurosaki-san!"

Ichigo langsung menoleh ke asal suara itu. Senyumnya langsung mengembang. "Hanashiro!" Dilambaikannya tangan ke arah sosok yang baru keluar dari bus. Sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Toshiro yang sedang menyamar.

"Maaf ya, udah bikin kamu nunggu lama… Umm, kelamaan dandan…" kata Hanashiro a.k.a Toshiro itu. Nada bicaranya dibuat semanis mungkin.

Ichigo tersenyum. "Nggak apa-apa, kok!" Ya, kalau yang ditungguin cewek semanis dan seimut kamu, sih… Aku pasti mau… Disuruh nunggu 5 tahun aja aku rela, kok! pikir Ichigo. "Yuk, masuk."

"Iya."

Ichigo dan Toshiro beriringan masuk ke dalam taman bermain Smile. Mereka berbincang-bincang dan sesekali tertawa. Ichigo pun mengajak Toshiro mencoba beberapa permainan. Tanpa mereka sadari, ada sekelompok orang yang mengenali mereka.

"Lho? Itu Kurosaki-kun, kan?" jerit seorang gadis berambut panjang dengan jepit rambut bunga di rambutnya.

"Hah? Yang bener, Orihime?" timpal gadis yang ada disampingnya.

"Iya! Tuh, lihat, deh, Rangiku-san!"

"Wah! Bener! Eh, kalian! Ayo, kesini!" kata gadis yang dipanggil Rangiku itu atau yang biasa dikenal dengan nama Matsumoto.

Rukia, Renji, Kusaka, dan Byakuya mendekat. Mereka kaget melihat Ichigo sedang berduaan dengan seorang cewek mungil berambut putih. "Sialan! Punya cewek, kok, nggak bilang-bilang, sih?" gerutu Renji.

"Eh? Itu bukannya cewek yang dulu kita temui di cafenya Rangiku-san?" tebak Kusaka. "Iya, kan, Rangiku-san? Itu dulu pegawaimu, kan?"

Matsumoto mengangguk-angguk. "Iya, namanya Osana Hanashiro!" Ihihi, tuh, kan! Ichigo akhirnya ngajak Toshiro kencan~! Ufufufu, pantas kemarin nggak mau diajak pergi! Tapi, kebetulan banget aku milih taman ini! Yak, saatnya aku berubah jadi super spy!

"Wuah, pantas saja kemarin Ichigo nggak mau kita ajak keluar! Ternyata ada kencan, toh!" omel Renji. "Sialan! Mana cewek itu lumayan cakep…"

"Udah, udah… Sekarang lebih baik kita cari tempat berteduh! Kasihan, tuh, Si Byakuya!" kata Kusaka. "Kayaknya dia udah mau tewas, tuh!" Kusaka nunjuk ke arah Byakuya yang kelihatannya sebentar lagi bakal ambruk. Ya, hari itu cuacanya memang sedang cerah sekali.

"Waaa~! Nii-sama!" jerit Rukia. Dia segera memapah Byakuya ke kursi yang ada di bawah pohon teduh. Cepat-cepat diberinya Byakuya air untuk diminum.

"Aku kaget, lho! Tak kusangka Kuchiki-kun dapat gen ikan!" celetuk Orihime.

Matsumoto menghela nafas. "Gue juga kaget! Gue pikir Byakuya bakal dapat yang lebih keren dikit… Kayak burung gitu…"

"Tapi, zanpakutounya Kuchiki-kun keren, lho! Senbonzakura! Bentuknya kayak kelopak bunga sakura, tapi sebenarnya itu adalah ribuan… eh, jutaan… milyaran… Ah, pokoknya banyak sekali potongan bilah pedang yang kecil! Kereeeeeen~!"

"Masalahnya kalau keadaannya Byakuya begini, gimana kita mau main?" tanya Renji. "Gue mau naik jet coaster!"

"Gue mau ngebuntuti Ichigo dan Hanashiro!" kata Matsumoto. "Ufufufu, pasti asyik!"

"Kalian pergi saja! Biar aku tunggu disini!" ucap Byakuya.

"Eh? Beneran nggak apa-apa, Nii-sama?" tanya Rukia. "Nanti Nii-sama kesepian, dong?"

"Tidak apa-apa. Kan, jarang-jarang kau bisa bermain sepuasnya begini." Byakuya tersenyum ke arah Rukia. Rukia langsung meleleh akan pesona kakaknya itu.

"Ba-baiklah, jika Nii-sama mengijinkan!"

"Oke! Ayo, kita bermain sepuasnya!" teriak Matsumoto. "Yang mau ngebuntuti Ichigo, ikut aku!"

"Aku ikut, Rangiku-san!" seru Rukia.

Orihime kebingungan. "Eh… Aku ikut siapa ya? Anu, Kusaka-kun…"

"Aku ikut Renji main. Kamu kalau mau ikut boleh, kok! Tapi, kalau kamu maunya ikut Rangiku juga nggak apa-apa," kata Kusaka. "Hati-hati ya! Aku bisa dicekik kakakmu kalau kamu kenapa-napa!"

"I-iya!" jawab Orihime. "Rangiku-san! Tunggu! Aku ikut!"

"Jangan lupa! Nanti kalau udah selesai kumpul disini!" teriak Byakuya.

"YES, SIR!"


"Panas ya? Hanashiro, kamu mau minum sesuatu?" tawar Ichigo kepada Toshiro. "Ku traktir, deh!"

"Oh, mmm… Iya," jawab Toshiro. Ichigo dan Toshiro pun berjalan menuju sebuah stand. Ichigo memilih ice lemon tea.

"Oke, kamu mau minum apa?"

Toshiro melihat-lihat menu yang ada. "Mungkin… Mmm, jus semangka."

"Tolong satu ice lemon tea dan jus semangka," kata Ichigo pada sang penjaga stand. "Lalu… Hanashiro, kamu mau sekalian camilan?"

"Aku mau taiyaki."

"Baiklah, tambah taiyaki sama takoyaki!"

Beberapa saat kemudian pesanan mereka sudah jadi, Ichigo dan Toshiro menuju ke kursi taman. Mereka duduk untuk menikmati makanan dan minuman sambil mengamati pemandangan orang yang berlalu-lalang. Mereka makan dengan canggung. Terutama Toshiro yang takut setengah mati kalau tiba-tiba nanti ada Matsumoto. Wah, tidak tahu dia kalau sebenarnya Matsumoto sudah membuntuti mereka layaknya super spy bersama Rukia dan Orihime.

"Ngg, nggak apa-apa, nih, Rangiku-san? Ini sama aja kita melanggar privasi orang lain, kan?" tanya Orihime.

"Tak masalah selama kita nggak ketahuan! Ufufufu!" jawab Matsumoto.

"Rangiku-san! Jangan keras-keras! Bagaimana kalau nanti ketahuan?" kata Rukia.

"Habis… udah nggak tahan… pengin ketawa…"

Ichigo melirik ke arah Toshiro. Jantungnya berdebar-debar. Duh, ni cewek makin imut aja kalau dilihat… Pengin langsung nembak, tapi… Aduuh, gue grogi banget! Ayolah, gue 'kan terkenal sebagai lady killer, tapi kenapa buat nembak cewek satu ini aja susah banget? Apa ini yang namanya cinta?

"Ada apa, Kurosaki-san?" tanya Toshiro. Kurosaki kenapa? Kok, dari tadi ngeliatin aku terus? Jangan-jangan aku ketahuan? Oh, tidak~!

"Ah, tidak! Nggak ada apa-apa, kok!" jawab Ichigo. "Tapi, panggilnya jangan gitu, dong… Ichigo aja…"

"U-uuh, tapi…"

Sekarang atau tidak sama sekali! Ichigo menggenggam tangan Toshiro. "Ayolah, nggak apa-apa, kok," pinta Ichigo. Buset, dah! Tangannya mulus banget!

"Ah, umm…" Toshiro salah tingkah. Mukanya memerah. Apa yang harus kulakukan? Aku penuhi permintaannya? Atau langsung gampar? Atau sekalian langsung nonjok? "Ba-baiklah… Aku panggilnya Ichigo-kun saja, ya?"

Yes! Thanks God! sorak Ichigo dalam hati. "Ya, nggak apa-apa, kok! Asal panggilnya jangan pakai bahasa formal lagi… Kita 'kan… udah kenal dekat." Ichigo nyaris ngomong 'teman', tapi nggak jadi. Kalau dia ngomongnya 'teman', bisa hilang, dong, kesempatannya buat jadiin Hanashiro pacar atau bahkan istri.

"I-iya… Oh iya, takoyakinya Ichigo-kun kalau nggak cepat dimakan bisa dingin, lho! Takoyaki itu enaknya dimakan selagi hangat," kata Toshiro. "Ku suapi ya?" What? Apa? Aku tadi baru ngomong apaan? Please, putar balik waktunya! Aku keceplosan!

Ichigo nyaris mimisan mendengar tawaran Toshiro. Disuapi sama cewek secantik dan seimut Hanashiro? Siapa juga yang mau nolak? Ini kesempatan langka! Limited edition! Please, Hanashiro, suapin daku~! "I-iya…"

"Ayo, aaa…" kata Toshiro setelah menusuk satu takoyaki dengan tusuknya dan mendekatkannya ke mulut Ichigo. Dengan senang hati Ichigo membuka mulutnya. Mau tak mau, Toshiro menyuapkan takoyaki ke mulut Ichigo. Yah, apa boleh buat, tadi dia udah terlanjur nawarin. Matsumoto langsung mengabadikan momen itu dengan kamera digitalnya. Rukia dan Orihime ternganga tak percaya.

Rukia dan Orihime sebenarnya agak cemburu, tapi kalau saingannya seimut itu, mereka memilih mundur. Takoyaki yang ada dikotaknya pun lama-lama habis. Ichigo merasa puas bisa disuapi sama Hanashiro. Toshiro dengan muka merah membuang kotak bekas takoyaki yang kosong itu ke tempat sampah terdekat. Malangnya, saat akan kembali menuju tempat duduk, Toshiro terpeleset kulit pisang.

"Ah!" jerit Toshiro. Ini nggak smart! Gue terpeleset kulit pisang pas lagi kencan!

"Hanashiro!" Dengan reflek gentleman-nya, Ichigo menangkap tubuh mungil Toshiro. "Kamu nggak apa-apa?"

"I-iya…"

Sejenak waktu rasanya berhenti. Ichigo dan Toshiro berpandangan. Saling mengamati wajah satu sama lain. Ichigo merasa terhipnotis dengan sepasang mata blue-green yang begitu memukau. Tanpa disadarinya, tangan yang dia lingkarkan di pinggang langsing Toshiro semakin erat memeluknya.

"Hanashiro…" Ichigo tak bisa mengendalikan tubuhnya lagi. Aduuh, kalau gue lakukan sekarang dia marah, nggak, ya? Tapi, gue udah nggak sabar… Dia manis banget…

Dilain pihak, wajah Toshiro sudah sangat merah. Pe-perasaan apa ini…? Apa yang harus kulakukan? Gigit Kurosaki? Atau sembelih langsung? Atau diam aja? "I-Ichi-Ichigo-kun…"

"Hanashiro…" Ichigo tanpa berpikir lagi mendekatkan wajahnya ke wajah Toshiro.

"Ichigo-kun…" Entah karena apa, Toshiro memejamkan matanya dan ikut mendekatkan wajahnya ke Ichigo. Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat.

"O-oh my God…!" jerit Matsumoto tertahan. Matanya terbelalak. Gila! Baru kencan berapa jam aja mereka udah mau ciuman! Oh! Momen langka ini nggak boleh disia-siakan! Harus ku abadikan!

Orihime dan Rukia menyaksikan adegan itu dengan mata nyaris copot. Tinggal beberapa millimeter lagi hingga 2 orang itu berciuman… Sedikit lagi…

"……!"

Tiba-tiba terdengar dering HP yang khusus. Ichigo dan Toshiro langsung menjauhkan wajah mereka. Toshiro memalingkan wajahnya yang terasa panas. Huaaa! Hampir saja! Hampir saja first kiss gue terenggut! batin Toshiro. Ichigo langsung mengambil HP-nya, Toshiro yang sudah hafal dengan dering khusus hollow itu terbelalak. HP-nya tadi memang sengaja dia silent agar tidak ketahuan kalau tiba-tiba ada hollow.

"Cih! Hollow? Di saat begini?" gerutu Ichigo.

Dipihak lain, Orihime, Rukia, dan Matsumoto sedang panik dan mencoba untuk menyembunyikan dering HP mereka agar tidak terdengar Ichigo dan Toshiro. Renji dan Kusaka nyaris syok karena HP mereka bunyi saat mereka sedang asyik di taman sesat. Dengan panik mereka berlarian mencari pintu keluar tapi nggak ketemu-ketemu. Yah, namanya juga taman sesat. Good luck kalian berdua!

Byakuya yang asyik menyantap es serut di kursi taman juga ikut kaget. Dia langsung bangkit. "Hollow? 2 menit lagi? Disini? Gawat!"

Toshiro membuka HP-nya. Ini… bukan hollow biasa… Kalau tidak salah namanya… Menos? Sial, kenapa harus disaat begini? Aku mana mungkin mengeluarkan kidou dengan wujud begini? Bisa ketahuan Kurosaki! Dia langsung menatap Ichigo yang nampak kebingungan. Toshiro mencoba untuk memasang wajah se-innocent mungkin agar tidak ketahuan. "Ada apa, sih, Ichigo-kun?"

"Ada holl-ah! Tidak! Nggak ada apa-apa… Aku akan pergi sebentar, kamu tunggu ditempat yang aman ya?" kata Ichigo. Dia melirik jam tangannya. Cih! 30 detik lagi! Apa boleh buat! "Maaf, Hanashiro!"

"Eh? Ugh!"

Ichigo langsung menangkap tubuh Toshiro yang ambruk. Dia sengaja memukul perut Toshiro agar dia tidak sadarkan diri sebentar. Maaf ya, Hanashiro! Tapi, ini juga demi kamu! Ichigo berubah ke wujud manusia-hewannya. Segera dia membelah diri. "Hichigo! Elo jaga Hanashiro ya!" kata Ichigo kepada belahannya.

"Hah? Enak aja! Gue juga mau bertarung!" protes Hichigo.

"Udah, deh… Please, sebentar aja!"

"Haah… Iya, deh!"

"Thanks, Hichigo!" Ichigo pun berlari menuju ke tempat kemunculan hollow.

Hichigo menatap Toshiro yang pingsan lalu menggendongnya dengan bridal style. Tapi, Hichigo menyadari reiatsunya. "Lho? Reiatsu ini… Eh? Sebentar kalau nggak salah ini reiatsunya… Berarti cewek ini…!" Hichigo menatap Toshiro. "Oh, begitu ya… Aku mengerti sekarang… Yah, kamu beruntung, sih, Ichigo nggak bisa mengontrol dan merasakan reiatsu."

"Urusai…"

"Ehehe, anda benar-benar hebat, hime!"


= TO BE CONTINUE =


4869fans-nikazemaru : "Endingnya bener-bener nggak smart! Sialan!" (lempar bola basket kesembarang arah) "Oya, sorry, kalo rada garing! Akhir-akhir ini aku jarang baca buku di persewaan, jadinya ide agak buntu…"

Hi-chan : "Namanya juga hasil ketik ulang…"

4869fans-nikazemaru : "Iya, gue banyak yang lupa… Apa, sih, yang gue ketik dulu?"

Ichigo : "Yeeey~! Gue berhasil ngedate dengan Hanashiro! Tapi…" (natap 4869fans-nikazemaru) "KENAPA ADEGAN GUE MAU CIUMAN SAMA HANASHIRO DIPUTUS?"

4869fans-nikazemaru : "Ufufufufu, suka-suka, dong…"

Hitsugaya : (muka merah) "Si-sialan lu!"

4869fans-nikazemaru : "Ooh~! Jadi, Hitsu-chan maunya adegan itu diterusin? Oke, deh!"

Hitsugaya : "Eh? Nggak! Nggak! Bukan begitu!"

Ichigo : "Toshiro, kenapa mukamu merah? Kalian ngomongin apa, sih?"

Hitsugaya : "E-enggak, kok!"

Matsumoto : "Yaaah~! Padahal tinggal dikit lagi~!"

Hitsugaya : "Urusai!"

Byakuya : "Genku… ikan?"

4869fans-nikazemaru : "Hi-chan yang minta…"

Hi-chan : "Apa? Eh, nggak, kok! Jangan percaya omongan 'mas' ini!"

Kusaka + Renji : "Kita jadi jarang muncul ya…"

4869fans-nikazemaru : "Tenang, besok kalian muncul, kok!"

Kusaka + Renji : "HOREEEE~!"

4869fans-nikazemaru : "Oya, mau ngasih tahu! Tiap chapter aku usahakan akan ada tokoh yang ketahuan gennya! Jadinya besok ada lagi yang ketahuan."

Rukia : "Wow! Jadi, besok siapa yang ketahuan gennya?"

Orihime : "Jangan-jangan Toshiro-kun?"

4869fans-nikazemaru : "PENASARAN? TUNGGU CHAPTER SELANJUTNYA! SEE YOU!"

All : "AND PLEASE REVIEW!"