By Takumi
Gomeeeeennnnn atas kedalahan yang buanyaaak di chap kemarin. Dan semoga chap ini mampu menebusnya….
Deg. Deg. Deg. Semoga tidak mengecewakan. Deg. Deg. Deg.
Immortal
By: Takumi
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuke+Naruto, Itachi+Deidara, mungkin bertambah ^^a
Rated: T
Genere: Fantasy/Romance
Warning: Shonen-ai. Buanyak banget typo, OOC, pemaksaan istilah dll.
G'berminat? BACK aja Z!
Keterangan Umur:
Itachi: 7 tahun
Sasuke: 4 tahun
Deidara: tak di ketahui tapi dari fisik terlihat berusia sekitar 23 tahun
Naruto: tak di ketahui tapi dari fisik terlihat berusia sekitar 20 tahun
"Kau harus bersabar! Sebelumnya aku harus mendengar apa saja yang telah Uciha ceritakan pada anak-anaknya," ucap Deidara sambil melihat Itachi dan Sasuke. "Tapi sepertinya aku tak terlalu banyak berharap mendengar cerita yang bagus tentang kita Naruto. Ceritakanlah Itachi." pinta Deidara denagan senyum di wajhnya.
Itachi pov-
"hn" jawab ku, 'aneh kenapa jantungku berdebar?... tak mungkinkan aku memiliki penyakit jantung? Ah sudahlah.'
"kau tahu, mahluk itu hanya sebuah dongeng pengantar tidur di keluarga Uchiha. Aku juga tak tahu mengapa hanya cerita itu yang diceritakan setiap malam."
"Hmph… aku tak percaya Uchiha membuatnya sebagai dongeng sebelum tidur." Kata Naruto dengan wajah geli.
"Naruto!" ucap Deidara penuh dengan penekanan agar Naruto menghilangkan wajah gelinya.
"Um… gomen…" ucap Naruto.
"Lanjutkanlah Itachi." Pinta Deidara sambil memandangku lembut.
"Hn." Seketika ku rasakan suasana di ruangan ini menegang. Seluruh perhatian terpusat padaku. Yah walaupun aku sering merasakannya, tapi ini beda. Suasana yang kudapatkan saat ini adalah suasana tegang. Bukan kagum, menghormati ataupun memuji. 'Huuh, aku jadi merasa gugup' 'Ck, Uchiha tak boleh gugup dalam keadaan apapun.'
"Kalian tahu, sebuah dongeng pengantar tidur di mulai dari 'pada zaman dahulu kala', dan aku akan memulainya dari situ." Kataku sambil mentap Deidara.
-Story POV—
Dahulu kala di sebuah desa terdapat sebuah legenda tentang Drac (1). Dimana, di tengah hutan terlarang yang bernama Bran (2), terdapat sebuah gua yang dinamakan masayarakat dengan nama Gua Bran. Di dalam Gua Bran terdapat sebuah kristal yang konon merupakan penjelmaan dari Drac.
Pada awalnya, Drac adalah seorang manusia biasa. Tapi yang membuatnya berubah ialah saat ia berkerjasama dengan iblis yang bernama Vlad. Ia dapat menyerap kekuatan yang dimiliki oleh iblis-iblis yang di temuinya.
Drac menggunakan kekuatnnya itu untuk menegakkan 'kebenaran'. Yah, walaupun dengan cara yang sangat kejam dan tidak memandang hulu. Ia mengangap kebenaran hanya ada padanya saja. Sehingga ia melihat kebenaraan itu dari sisinya saja. Seluruh penduduk desa takut padanya. Bahkan kekejamannya merambah ke desa-desa yang ada di sekitarnya. Mungkin lebih tepatnya hampir di seluruh negaranya.
Saat iblis-iblis mulai menghilang atau mati karena kekuatannya diambil oleh Drac, Vlad yang memberi kekuatan pada Drac khawatir kalau Drac akan mengambil kekuatannya juga. Mengingat banyak iblis yang telah ditaklukkan oleh Drac. Berarti kekuatan yang di miliki oleh Drac semakin kuat.
Sebelum Drac memiliki kekuatan yang sama dengan dirinya, Vlad menyusun sebuah rencana dimana ia akan membunuh Drac dan mengambil kekuatannya. Dan rencana itu hanya bisa dilakukan saat pergantian bulan (3), dimana kekuatan yang dimiliki oleh Drac menghilang dan ia berada pada kondisi yang sangat lemah.
Vlad tahu bahwa sebelum pergantian bulan terjadi, Drac akan pergi ke Gua Bran dan ia akan memasang kekai yang sangat kuat yang terbuat dari kertas mantra. Masalahnya disini ialah, seorang iblis sekuat apa pun takkan mampu menebus apalagi menghancurkan kekai ini. Karena yang bisa menghancurkan kekai ini, hanya manusia biasa yang memiliki kekuatan atau cakra.
Untuk melancarkan rencananya, pada saat pergantian bulan Vlad memmancing seorang yang memiliki kekuatan yang sangat besar agar datang ke hutan Bran yang penuh dengan siluman. Vlad secara tidak langsung membimbingnya menuju ke Gua Bran.
Saat malam gulita tanpa bulan, hanya ada setitik cahaya dari bintang-bintang yang menghiasinya. Setitik cahaya, seperti harapan Vlad. Ah- bukan harapan, karena iblis tidak punya harapan. Mungkin, bisa setitik cahaya dari pion utama dari taktiknya untuk menghabisi manusia yang telah ia beri kekuatan, keistemewaan yang salah. Dan setitik cahaya yang sangat berarti bagi penduduk desa. Penduduk yang lelah akan 'keadilan' yang Drac berikan.
Setitik cahaya itu bertumpu pada seorang pemuda yang memiliki rambut hitam dan mata onyx. Pemuda yang gagah, setiap wanita pasti tertarik akan dirinya. Pemuda yang berasal dari keluarga Uchiha. Sebut saja ia Uchiha Sasuke.
Sasuke berasal dari desa yang jauh. Ia mengembara untuk menguji kekuatannya. Suatu hari ia mendengar kabar burung tentang kekejaman Drac. Stelah itu ia terus bermimpi tentang didinya yang pergi ke hutan yang bernama Bran dan saat sampai pada hutan tersebut, ia membasmi banyak seiluman. Semakin lama ia melangkah ke tengah hutan, semakin banyak siluman yang datang. Tetapi ada yang aneh, entah kenapa para siluman yang mengahadangnya tiba-tiba musnah atau terluka dalam. Seakan-akan ada orang atau sesuatu yang membantunya dari jauh. Tak ambil pusing, Sasuke terus berjalan menuju ke tengah hutan. Sesampai di sana ia menemukan sebuah gua yang di lindungi oleh sebuah kekai yang sangat kuat.
Begitulah mimpi Sasuke, dan semua itu menjadi nyata. Nyatanya, ia sekarang berada di sini, di depan sebuah gua yang di lindungi kekai yang kuat. Sasuke penasaran apa yang ada di dalam gua tersebut. Lalu ia mencoba membuka kekai itu. Tapi, tak bisa. Kekai itu terlalu kuat. Saat ia hampir putus asa, akhirnya kekai itu mengalami retakan. Melihat itu, Sasuke kembali bersemangat. Ia mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengahncurkan kekai tersebut. Dan, 'pryang' akhirnya ia dapat mengahancurkan kekai itu.
Saat ia masuk kedalam gua, sebuah seringai terlihat dari pemilik sepasang mata merah yang mengamatinya dari balik rimbunan pohon. "hem… tak sia-sia aku memilihnya."
Di dalam gua Sasuke menemui banyak jebakan. Cukup lama ia menulusuri gua tapi tak kunjung menemui sesuatu yang membuat bnayak jebakan untuk melindunginya. Tak lama kemudia terlihat setitik cahaya keemasan, mungkin berasal dari obor. *anggap saja belum ada listrik*. Melihat itu, Sasuke mempercepat langkahnya. Sesampai di sana, ia melihat seorang pria yang terlelap. Penuh rasa penasaran ia mendekat. Sasuke mencoba menyentuhnya dan sedikit menguncangkan tubuh pria tersebut, berusaha membangunkannya.
"Ehh…" sebuah erangan menandakan bahwa sang pemmilik tubuh telah bangun dan masih hidup.
Saat mata yang tadinya terpejam kini menampakan sebuah kehidupan, Sasuke hanya bisa terpaku. Terpaku memandang bola mata yang masih mengerjap-ngerjap mencoba mengembalikan kenyataan pada sang pemilik. Terpaku pada langit yang terpampang di hadapannya. Langit yang terkurung dalam sebuah gua yang gelap gulita. Langit yang menunjukkan kepolosan dan keluguan. Langit yang kini memadangnya denagan rasa yang campur aduk, antara rasa kagum, bingung dan yang lebih dominan adalah rasa kaget. Rasa kaget akan adanya manusia yang berada di sini selain dirinya.
Onyx dan sapphire masih terpaku. Bergelut dalam pemikirannya sendiri. Hanya kesunyian yang menemani mereka. Tak menyadari sepasang mata merah yang mulai bosan melihat semuanya.
'Cetaaaaarrrrr' suara petir memecah keheningan diantara mereka.
"Siapa kau?" tanya pemilik mata sapphire, sebut saja ia Drac.
"Aku Sasuke, Uchiha Sasuke." Jawab Sasuke tak lepas dari sepasang mata yang mempesonakannya. Sasuke merasa ada yang aneh dari mata itu, entah kenapa mata itu memancarkan kedinginan. Bukan sebuah kepolosan seperti tadi.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Drac dingin.
"aku hanya penasaran akan temapt ini, dan aku menemukanmu di sini." Jawab Sasuke datar. "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Bukan urusanmu."
Keheningan dan suara hujan yang menyelimuti mereka. Merasa tak nyaman, Sasuke memulai pembicaraan. "Kau lapar?"
Drac hanya melirik Sasuke dari ekor matanya tanpa menyahut. Dan hening yang menjawab.
"Kau mau?" Tanya Sasuke dengan menyodorkan onigiri kepada Drac.
Drac hanya melihat onigiri dan kemudian memandang Sasuke dengan dingin. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya lagi dari Sasuke.
"Ck, ayolah makan sedikit saja! Kau terlihat menyedihkan." Paksa Sasuke sambil mendekat pada Drac.
"Apa maksudmu?" tanya Drac dingin.
"Lihatlah dirimu, kau terlihat sanggat pucat." Ucap Sasuke sambil duduk di sebelah Drac.
"Bukan urusanmu." Kata Drac dingin, merasa tak nyaman Sasuke duduk di sebelahnya.
"Ayolahh makan walupun sedikit." Paksa Sasuke. "Tenang saja tak ada racun di dalamnya dan aku tak akan membunuhmu." Ucap Sasuke dengan nada bercanda. *ckk, ternyata Uchiha bisa bercanda juga*
"hehe,,, kurasa semua orang akan mencoba membunuhku." Kata Drac dengan sebuah senyum sinis terlukis di wajahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke yang tak mengerti arah pembicaraan ini.
"Kau datang kesini untuk apa?"
"Aku ke sini untuk megikuti mimpiku"
"Ck, ternyata kau ke sini tanpa tahu apa-apa."
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke dingin, tak terima dengan kata-kata yang diucapkan pemuda di hadapannya yang seakan-akan mengangapnya bodoh.
"Jadi kau tak tahu siapa aku?" tanya Drac heran.
"Ya." Jawab Sasuke tegas.
"Hahahahaha… jadi kau kesini benar-benar tak tahu apa-apa? Kau masuk kehutan yang penuh dengan siluman dan berhasil memecahkan kekai yang belum pernah tertembus tanpa mengetahuai apa puan? Hahahaha… tanpa mengetahui siapa aku? Hahahaha… kau benar-benar hebat, atau bisa kubilang bodoh. Hahahaha…" Drac tertawa denagan wajah polos. Sudah lama ia tidak tertawa seperti ini.
Sasuke hanya bisa terpaku memandang pemuda dihadapannya yang sedang menertawakan dirinya. Ada sebuah getaran aneh di dalam dadanya. 'Manis' pikirnya melihat pemuda itu. Pemuda yang memiliki tubuh tinggi tapi tak setinggi dirinya, berbadan ramping yang terbungkus dengan kulit berwarna tan. Memiliki warna matahari di setiap helai rambutnya, dan warna langit yang akan menghanyutkan siapapun yang memandang kedalam bola matanya. Suara yang bagaika melodi dari firdaus. Tapi ia tak tahu nama pemuda yang mempesonanya. Yang mencairkan kebekuan di hatinya. Ckckck, sungguh hebat kekuatan cinta.
"hahahahaha… kau memang bodoh..hahahahaha.."
"Siapa yang kau bilang bodoh Dobe?"
"Hai… apa-apaan aku memangilku 'Dobe'?"
"Lalu aku harus memangilmu apa? Baka?"
"Grrr… apa maksudmu, Teme?"
"Ck, apa kurang jelas, Dobe? Kau belum beri tahu siapa namamu."
"heeh… ku rasa aku tak sebodoh itu memberitahu namaku pada orang yang bisa menembus kekai ku."
"Kenapa?"
"Karena, siapapun itu pasti akan membunuhku."
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tak mengerti!" tanya Sasuke penuh keheranan. "Apa ada seseorang yang ingim membunuhmu, Dobe?"
"Semua orang ingin membunuhku." Jawab Drac datar.
Keheningan diantara mereka semakin menjadi. Suara petir dan hujan di luar sana masih terdengar. Hembusan nafas yang saling bertahut yang menandakan masih adanya kehidupan di sana. Tarian dari bayangan obor yang membuat dalam gua tersebut semakin hidup.
Sepasang Onyx memandang paras pemuda di hadapannya. Pemuda yang menyita seluruh perhatiannya. Pemuda yang dalam sekejap mampu mencairkan hatinya yang beku. Semakin lama ia memandangnya, semakin dalam pula ia terseret dalam pesonanya. Bahkan ia tak merasakan hawa iblis yang telah menunggu dengan bosan.
'Kruyuuuk'
Suara aneh berhasil mengembalikan Sasuke pada dunia nyata. Ia mengangkat salah satu alisnya dan memandang heran pemuda yang berada di hadapannya.
"Kau lapar?" tanya Sasuke dengan senyum geli terpampang di wajahnya. "Mau?" lanjutnnya sambil menyodorkan onigiri pada Drac.
"Tak perlu." Jawab Drac datar sambil memalingkan wajahnya yang terpoles semburat merah.
Sasuke menyeringai semakin lebar, melihat tinkah laku 'Dobe-nya'. "Makanlah sedikit saja, dari pada cacing-cacing di perutmu semaki berisaik, Dobe." Paksa Sasuke yang masih menyodorkan onigirinya.
Drac hanya melirik onigiri yang dipegang Sasuke dan sekilas memandang Sasuke. "Hmm" Drac hanya bergumam sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil onigiri yang di pegang Sasuke.
Saat mengambil onigiri, tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Sasuke. 'Deg' jantung keduanya berdetak aneh. Sekilas mereka saling berpandangan, mencoba mencari tahu apa penyebabnya. Saat mereka merasakan wajahnya memanas, seketika mereka memalingkan muka. Saling menyembunyikan wajah, berharap satu sama lain tidak mngetahui debaran dan semburat wajahnya.
Keheningan menyelimuti mereka (lagi?). Mereka hanya terdiam sambil memakan ongiri. Berusaha menikmati suasana yang ada. Menikmati debaran yang sehrusnya tidak ada. Mungkin mereka terlarut menikmati semua ini, sehingga mereka tak menyadiri sepasang mata iblis yang memandangnya dengan penuh kebosan.
'Gerrr… aku tak tahan lagi!' batin sang Iblis. 'hem… sepertinya aku yang akan membunuhnya sendiri.'
"Ckckck… aku bosan! Apa kalian tidak bisa menunjukkan sesuatu yang lebih menarik?" tanya sang Iblis memecah keheningan yang terjadi.
"Vlad" desis Drac menyebut nama sang iblis.
"Halo, Drac." Sapanya ramah.
Seketika mata Sasuke terbelalak mendengar nama pemuda yang ada di sampingnya. 'Apa? Drac? Pasti aku salah dengar.' Batin Sasuke.
"Tak usah basa-basi. Apa maumu?" tanya Drac dingin tanpa mengalihkan pandangannya pada Vlad.
"Tentu kau tahu." Kata Vlad sambil tersenyum simpul, tapi terlihat seperti seringgai yang mengerikan.
"Hmm… sepertinya kau mengirim orang yang tepat, tapi sepertinya kau belum memberitahu apa tujuannya ke sini." Kata Drac sambil melirik Sasuke sekilas.
"Ya… kau benar. Tapi aku cukup puas akan hasil kerjanya, sehingga aku bisa berada di sini" Kata Vlad sambil memandang Sasuke dengan penuh arti. "-sehingga aku bisa melenyapkanmu dengan tanganku sendiri, Drac."
"huuh, aku bisa apa lagi?" kata Drac sambil merentangkan tangannya seakan pasrah akan kematian yang akan menjemputnya. Tapi sringgai di bibirnya tak menghilang dan matanya masih berkilat tajam, seakan menantang maut yang ada di hadapannya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Sasuke sambil melangkah kedepan Drac. Sehingga posisinya sekarang ini berada di antara Drac dan Vlad.
"Kau tau siapa orang yang ingin kau lindungi itu? Dia, Drac." Kata Vlad sambil menunjuk orang yang berada di belakang Sasuke.
"Lalu?" tanya Sasuke dingin.
"Apa kau tak pernah mendengar kekejaman, Drac?" tanya Vlad heran.
"Aku pernah mendengarnya? Tapi aku tak percaya kalau dia adalah Drac!" kata Sasuke yakin. "-Dan walaupun dia Drac, aku takkan melukainya dalam keadaan lemah seperti ini."
Mata Drac membulat mendengar semua perkataan Sasuke. Kebekuan hatinya sirna seketika. Matanya nanar memandang pungung dihadapannya itu. Kehangatan menyeruak keluar dari sana. Drac berusaha menahan tangan yang hampir terjulur untuk memeluk pemuda dihadapannya. 'Kenapa baru sekarang? Kenapa kau datang saat semua ini telah terjadi? Kenapa kau tak datang sebelum iblis itu? Kenapa takdir begitu kejam padaku? Kenapa…' semua pertanyaan itu keluar dari lubuk hati Drac yang merasa dipermainkan oleh takdir.
"Hahahaha… ckckck dasar manusia, sangat mudah dihanyutkan oleh perasaan sesaat." Ejek Vlad.
"Lebih baik kau mundur, Sasuke! Ini urusanku dengannya. Kau tak usah ikut campur!" kata Drac dingin. Tapi entah kenapa, Sasuke merasa ada sesuatu yang berbeda saat ia mendengar namanya di sebut oleh Drac.
"Nah, begitu manis, datanglah padaku." Ucap Vlad sambil merntangkan tangannya agar Drac menuju pelukannya.
'wushhh' bola api meluncur kearah Vlad, dan dengan sigap Vlad menghindarinya.
"Ck, Uchiha! Apa kau tak bisa diam?" tanya Vlad "atau mungkin aku membunuh lebih dulu, penganggu?"
"Jangan!" seru Drac "-ingat, kau hanya punya urusan denganku!"
"Cih, ku rasa kebekuan hatimu telah mencair." Sindir Vlad "lalu mana Drac yang dingin itu?"
"Itu bukan urusanmu, Vlad." Kata Drac dingin dan penuh penekanan.
"Hai! Jangan marah begitu, sayang." Kata Vlad denagan nada bercanda.
"Cih, selesaikan urusanmu sekarang juga, Vlad. Dan jangan panggil aku dengan sebutan itu! Apalagi dengan mulud yang menjijikan itu. Aku tak kan tergoda!" kata Drac sinis.
"Ah, Drac kau melukai ku." Kata Vlad seolah-olah terluka. "Khukhukhu, sekarang kemarilah."
Drac melangkah kearah Vlad. Sebelum sempat melangkahkan kakinya lagi, tangannya ditarik oleh Sasuke. Sekarang tubuhnya berada di dekapan Sasuke.
"Apa yang kau lakukan?" jerit Drac yang berada dipelukan Sasuke.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Dobe! Apa yang kau lakukan? Apa kau akan menyerahkan dirimu pada iblis itu?" tanya Sasuke sambil mempererat dekapannya.
"Aku memang telah menjadi miliknya, Teme." Jawab Drac masih berada dipelukan Sasuke, tak ingin lepas darinya.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke sambil menuduk melihat mata yang telah menghinoptisnya.
"Aku telah membuat perjanjian padanya, itu berarti aku telah menjadi miliknya." Kata Drac sambil melepas pelukan yang di berikan Sasuke. walaupun ada rasa kecewa dan tidak rela saat ia melepas pelukan itu.
Hanya mata Sasuke yang menunjukkan ketidak mengertiannya akan perkataan Drac. Dan itu cukup membuat Drac menjawab semua pertanyaan yang tersirat di mata onyx itu.
"Aku meminta kekuatan padanya. Tapi tidak semudah itu aku mendapatkan kekuatan. Aku harus membunuh iblis-iblis dan menyerap kekuatannya agar aku menjadi kuat. Heeh, dan sekarang saat aku hampir menyamai kekuatannya, dia memburuku. Mungkin dia takut kalau aku yang akan memburunya." Sebuah seringgai terpampang di wajah Drac saat ia memandang sang iblis.
"Aku lebih suka berburu dari pada diburu. Kau tahu itukan, Drac." Kata Vlad membalas seringgai yang diberikan Drac. Tentunya lebih mengerikan berkali-kali lipat.
"Kau tak bisa mengambilnya!" seru Sasuke sambil memegang tangan Drac erat.
"Ck, Uchiha, kau harus dibereskan terlebih dulu." Kata Vlad sambil memandang Sasuke.
"Cih, kurasa kau yang harus ku bereskan." Timpal Sasuke dingin.
"Kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Uchiha." Kata Vlad sinis.
"Terserah, tapi aku harus memusnahkan Iblis sepertimu!"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi?"
"Ayo kita mulai."
Sang Uchiha dan Sang Iblis saling menyerang, mengeluarkan jurus-jurus terbaiknnya. Bola api, aliran listrik, chakra, kertas mantra saling berhamburan. Tak lupa pula peralatan-peralatan bertempur lainnya saling berterbangan ingin menjatuhkan musuh di hadapannya. Debu-debu berterbangan di arena pertempuran, mengahalangi setiap pandangan *termasuk pandangan author* sehingga tak ada satupun yang tahu apa yang terjadi.
'wuingggg… brukkk…'
"Arghhh…" 'brukkk'
Suara erangan menyita perhatian Drac, dan membuatnya tercekat. Dilihatnya sesosok manusia yang terbaring sambil memegangi perutnya dan ada darah yang keluar dari mulutnya.
"Sa-sasuke" seru Drac. Ia berlari mendekati Sasuke. Tapi sebelum sosoknya sampi di hadapan Sasuke, tubuhnya telah ditangkap oleh sang iblis.
"Mau kemana kau, Drac?" kata Vlad di telinga Drac.
"Lepaskan aku, Vlad!" Seru Drac.
"Untuk apa, Drac?" tanya Vlad masih memegang pingang Drac.
"LEPASKAN!" seru Drac sambil memberontak agar terlepas dari cenkraman Vlad. Tapi apa daya, dia saat ini hanyalah seorang manusia biasa. Manusia yang sangat lemah. Kekuatannya takkan sebanding dengan sang iblis. Drac hanya berharap bulan segera muncul. 'cih, sial kenapa harus selama ini? Ini baru hari pertama lagi!' batinnya mengutuki kelemahannya.
"Kenapa, Drac? Apa kau benar-benar telah berubah?" kata Vlad sinis "Hahaha… Uchiha benar-benar hebat, mampu merubahmu secepat ini."
"Apa maumu, Vlad?" kata Drac dengan penuh penekanan.
"Tentu kau tahu, Drac." Kata Vlad datar dengan seringai di wajahnya.
"cih" umpat Drac.
"Hahahaha… bagaimana kalau kita mulai sekarang?" tanya Vlad sambil mengarahkan wajah Drac ke wajahnya.
"Drac" seru Sasuke lirih. Tapi cukup mamapu didengar oleh Drac dan Vlad.
"Sa-sasuke" ucap Drac tak mampu menutupi getar dalam suaranya.
"Jangan kau lakukan!" kata Sasuke berusaha menahan rintihannya. Ia berusaha berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Sasuke" gumam Drac lirih, kini matanya telah dipenuhi kabut, siap mennurunkan hujan.
"Ja-Jangan JANGAN KAU SERAHKAN DIRIMU PADA IBLIS ITU, DRAC!" seru Sasuke, dimtanya terpancar amarah dan keteguhan hati. Amarah karena ia tak mampu mengalahkan iblis itu dan keteguhan hati untuk melindungi Drac dengan kekuatannya bahkan ia rela mengorbankan hidupnya.
"Cih."
'plakkk'
'Brukkk'
"Arggghhh… Uhuk uhuk uhuk" Jerit Sasuke, semakin banyak darah yang keluar dari mulutnya.
"SASUKE" jerit Drac "apa yang kau lakukan, Vlad? Dia tak ada hubungannya dengan semua ini!" air mata tlah mengalir dari mata biru Drac.
"Dia penganggu, Drac!" kata Vlad santai. "Dan penganggu harus dimusnahkan!"
"JANGAN!" seru Drac.
"Cih, terserah. Aku tak peduli!" kata Vlad acuh-tak-acuh "Kalau begitu ayo kita mulai."
"Bolehkah aku menemuinya sebentar?" Tanya Drac berusaha menghentikan air mata yang terus mengalir.
"O, salam perpisahan?" kata Vlad berpura-pura terkejut "Terserah! Cepat!"
Terlepas dari cenkraman Vlad, Drac bejalan kearah Sasuke yang sedang duduk berusaha mengembalikan tempo napasnya. Disentuhnya bahu Sasuke yang gemetar, dan ia mulai duduk di hadapan Sasuke yang masih tertunduk.
"Sa-su-ke" kata Drac pelan, berusaha menahan getaran yang menerpanya.
"Jangan lakukan." Kata Sasuke lirih masih tertunduk.
"Maaf…" kata Drac tertunduk. Air mata yang sedari tadi ditahnnya kini kemabli pecah. Suara isak tangis samara-samar terdengar di telinga Sasuke.
Sebuah tangan terulur meraih belakang kepala Drac, dan mengarahkannya ke dada Sasuke. tangan yang lain mendekap pingang Drac, erat. Seakan takkan mau melepaskannya lagi. Tangan Drac naik ke dada Sasuke, mencenkram kain yang melekat pada tubuh Sasuke. Isak tangis semakin jelas terdengar. Tak terasa setetes air mata mengalir di wajah tampan Sasuke. Mengahpus darah yang dialirinya.
"Maaf… Maaf… Maaf…" hanya kata-kata itulah yan digumamkan oleh Drac di sela-sela isak tangisnya.
Mendengar semua itu, Sasuke hanya mampu mempererat pelukan pada tubuh orang yang telah mempesonanya. Hatinya semakin sakit mengingat ketidak mampuannya untuk melindungi orang yang dikasihinya. "Apa yang perlu dimaafkan? Harusnya aku yang minta maaf padamu, Dobe." Bisik Sasuke di telinga Drac.
Drac hanya mendongak, memperlihatkan mata sapphire-nya. "Untuk apa kau meminta maaf, Teme?"
"Karena aku tak bisa melindungi Dobeku, Dobe!" jawab Sasuke sambil tersenyum lembut. Terlihat jelas aliran air mata di wajah keduanya.
"Aku tak perlu dilindungi, Teme! Dan siapa yang telah menjadi Dobemu, Teme?" tanya Drac sambil menunjukkan cengirannya yang telah lama menghilang dari wajahnya.
"Walaupun kau melarangnya, aku akan melindungimu, Dobe!" seru Sasuke sambil menghapus air mata dipipi Drac. "dan kau adalah Dobeku, Dobe!" sebuah snyum tulus tersunging dibibr Sasuke.
"Dan kau adalah Temeku, Teme. Untuk saat ini dan selamanya." Kata Drac dengan senyum tulus yang terukir di wajahnya.
"Ya, untuk saat ini dan selamanya." Kata Sasuke membenarkan.
Onyx dan sapphire saling mengunci. Tengelam dalam pesona lawannya. Lama-kelamaan, jarak diantara mereka semakin menipis. Saat bibir mereka menyatu, dengan perlahan mereka memejamkan mata, berusaha menikmati satu sama lain. Hanya lumatan-lumatan kecil yang mereka lakukan, tak saling menuntut. Mereka bergerak dengan harmonis, bagaikan tarian. Satu sama lain saling melengkapi. Tak lama, mereka saling menjauh. Memberi jarak diantara wajah mereka agar bisa melihat lebih jauh kedalam mata lawannya.
Semburat merah tak mampu disembunyikan sang pemilik dari lawannya. Mata mereka memancarkan segala sesuatu yang ada dihati masing-masing. Mencoba menerangkan dan memberi kekuatan pada sang lawan. Wajah Drac mendekat kearah Sasuke. di kecupnya sekilas pipi Sasuke dan dibisikan sesuatu di telinganya.
Perlahan Drac berdiri, ia melangkahkan kakinya menjauh dari Sasuke. Meninggalkannya yang masih terpaku.
"Cih, lama sekali! Aku bosan!" kata Vlad menunjukkan kebosananya.
"Sekarang kau bisa memulainya." Kata Drac datar.
"Oke, manis." Kata Vlad sambil merenkuh tubuh Drac dengan satu tangannya, dan tangannya yang lain berada di dagu Drac, menghadapkan wajahnya kearahnya. Dielusnya bibir ranum Drac.
Sekilas Drac melirik kearah Sasuke yang masih terpaku memandangnya. Sebulir air mata bergulir dipipinnya. Matanya terpejam saat mersakan hembusan nafas dari sang iblis. Tangannya mengepal, menahan segala emosi yang membuncah saat ia merasakan bibir dari sang iblis. Rasa jijik menjalar keseluruh tubuhnya, saat sang iblis membuka dengan paksa kedua bibirnya. Rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi saat sang iblis mendekapnya semakin erat. Mematahkan beberapa tulangnya. Jeritan tak terelakkan saat cakra dan jiwanya dihisap oleh sang iblis.
Sasuke hanya mampu mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya. Emosi yang semakin lama semakin bertambah saat ia melihat kejadian yang ada di hadapannya. Saat mendengar jeritan dari Drac, Sasuke tak mampulagi menahan emosinya. Dengan perlahan ia menutup matanya, dan saat membukanya matanya berubah menjadi merah 'Mangekyo Sharinggan'. Tangannya bergerak dengan cepat membentuk sebuah segel, dan ia juga mengumamkan sebuah mantra. Setelah selesai menyelasaikan segelnya, Sasuke menghempaskan tangannya ke tanah. Berbagai huruf aneh keluar dari telapak tangan Sasuke dan merambat dengan cepat kearah Vlad.
Vlad terlambat menyadari apa yang dilakukan Sasuke, dan dengan telak ia terkena mantra dari Sasuke.
"Arghhh…" erangan dari Vlad dan Drac terdengar sangat memilukan di telinga Sasuke –hanya untuk Drac. Asap biru dan orange keluar dari Drac dan Vlad. Lama kelamaan cahaya putih melingkupi tubuh Drac dan Vlad.
Saat huruf-huruf yang tak beraturan mulai menghilang, demikian pula cahaya yang menyelimuti tubuh Drac dan Vlad menghilang. Terlihat sosok Vlad yang pejah berkeping-keping dan Drac yang terjatuh ketanah.
Dengan sisa kekuatannya, Sasuke melangkahkan kakinya kearah Drac. Sesampainya di samping tubuh Drac yang terbujur kaku, Sasuke tak kuasa lagi menahan tangisnya. Dengan hati-hati, ia mengangkat kepala Drac kepangkuannya. Dikecupnya puncak kepala Drac. Dielusnya wajah tertidur Drac yang tersennyum damai. Seberkas cahaya melingkupi tubuh Drac. Saat cahaya yang mulai menghilang, sebuah kristal berwarna putih bening dan terdapat ornament berwarna biru dan orange saling bertaut didalmnya, berada di tangan Sasuke. Mengantikan tubuh Drac yang tadi di dekapnya.
"Arghhh…" suara erangan terdengar dari dalam gua dan terendam oleh suara hujan dan petir yang menyamarkan hati yang menangis.
–End Story POV–
"Setelah itu, dengan sisa kekuatannya Sasuke menyegel kristal itu di dalam gua. Dan membuat kekai yang di sekitar gua tersebut. Agar tak seorangpun dapat mendekati dan menyentuh kristal itu." Akhirnya aku menyelesaikan cerita ini. Cerita yang menurut orang-orang dewasa dikeluargaku sebagai kisah nyata. Tapi aku masih belum mempercayainya.
Semua perhatian masih terpusat padaku. Tak terkecuali Sasuke, adikku yang sering mendengarkan kisah ini. 'hihihi… apa mereka terpaku pada cara ku bercerita? Hahaha… ternyata aku memang berbakat dalam segala hal.' Batinku narsis.
"Um… ada masalah?" tanyaku menginstrupsi, memecah keheningan yang terjadi sambil mengoyang-goyangkan kakiku.
"Ah… eh ternyata Uchiha tak merubah sedikitpun ceritanya." Kata Deidara lembut.
"Uh… Memang kau pikir seorang Uchiha akan melakukan hal yang bodoh seperti itu?" tanyaku sambil menyilangkan kedua tanganku di dada dan memalingkan wajahku.
"Hihihi… tidak akan. Karena aku percay dengan Uchiha." Serunya sambil tersenyum lembut.
"Percaya. Percaya unruk membunuh kita." Kata Naruto datar.
"Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti. Ku lihat Sasuke juga tak mengerti denagn perkataan Naruto.
–End Itachi POV–
To Be Continued
-Kita lihat rekaman sebentar, saat pertarungan anatar Vlad dan Sasuke.
Bola api, aliran listrik, chakra, kertas mantra saling berhamburan. Tak lupa pula peralatan-peralatan bertempur lainnya saling berterbangan ingin menjatuhkan musuh di hadapannya. Debu-debu berterbangan di arena pertempuran, menghalangi setiap pandangan. Sehingga Vlad dan Sasuke hanya mengeluarkan jurus dan senjata ke sembarang arah tanpa melihat lawannya.
Dengan gayanya yang lihai, Sasuke melompat kesana kemari dan berputar-putar dengan gaya bak penari balet professional tanpa melihat tanah yang di pijaknya. Sehingga ia tanpa sengaja menginjak kulit pisang yang entah berasal dari mana, dan mengakibatkan terlempar menabrak dinding gua.
'wuingggg… brukkk…'
"Arghhh…" 'brukkk'
Suara erangan menyita perhatian Drac, dan membuatnya tercekat. Dilihatnya sesosok manusia yang terbaring sambil memegangi perutnya dan ada darah yang keluar dari mulutnya.
"Sa-sasuke" seru Drac. "kau kalah?"
"hahahaha… bagaimana Uchiha? Kau menyerah melihat kekuatanku?" tanya Vlad percaya diri.
"Cih, siapa yang menyerah padamu?" kata Sasuke dingin "aku hanya menyerah pada kulit pisang yang ku injak itu." Kata Sasuke yang menunjuk kulit pisang yang ada di arena pertempurannya tadi.
-sunyi-
Hehehehe^^a terlalu lama ya? *emang ada yang nunggu*
Uh maaf…
Aku g'akan ngasih alesan kok! Ne memang kesalahan ku yang terlalu malas! *bangga* -kompryang- *kena lemparan panci*
Wah ne secara tidak langsung dah kejawab kenapa perbedaan umur-nya terlalu jauh.
Dan chap besok munkin akan tersirat secara gamblang apa penyebabnya.
Oya kasih penjelasan dulu
1. Drac = itu lo dari bahasa yunani artinya Dragon. Drac aku ambil dari Vlad Dracul.
2. Bran = merupakan nama kastil yang dimilik oleh Vlad Dracul, yg terletak di pegunungan selatan Carpathian.
3. Dan rencana itu hanya bisa dilakukan saat pergantian bulan = ne maksudku sama dengan yang Inuyasha. Tapi Cuma waktunya lebih panjang yaitu 3 malam 2 hari.
Yah mungkin segitu aja. Maaf kalau mengecewakan.
Oya dan pengumuman. Mungkin yang Immortal ne akan aku lanjutin cukup lama. Soalnya aku harus nyiapin diri untuk UAS. Tapi tenang ja Cuma Immortal kok yang lain masih lannjut. Coz yg lain tu bikinan si Ichi yang udah UAS.
Uh ne giliranku yang menderita.
Mohon Doanya~~
Dan juga jangan lupa tuk Repiwwwwww er flame juga boleh dech buat pelampisan chap kemarin. *agak g'rela sih~.~*
