Setelah sekian lama tidak update, Akhirnya saya mengupdate fanfic ini!
Ya... Memang butuh waktu yang lama. Karena project fanfic saya yang lain sudah menumpuk. Dan... Berhubung saya sudah masuk dunia baru saya, Pikiran saya mulai sering beredar kemana-mana...
Er... Sudah lah... Saya jarang nengok fandom Kuroshitsuji... Apakah fanfic saya sudah tenggelam? (baca: udah di page-page belakang karena sangking lamanya ga di update)
Oke... Entah kenapa, saya merasa, saya kebanyakan nge-bacot di opening dan closing fanfic. Jadi, sebelum saya tambah banyak nge-bacot, kita mulai saja fanficnya~
Disclaimer: Kuroshitsuji hanya milik Yana Toboso. Sampai kapan pun, Yana Toboso ga bakal ngasih Kuroshitsuji ke saya~
Let's start~
Kuroshitsuji Gakuen
Chapter 4
Fourth day, Thursday
Pagi yang indah(?) itu, tidak seperti biasa, anak-anak kelas phantomhive udah dateng... Eh? Tunggu! Sekarang jam berapa? *nyari-nyari jam* Oh... udah bel masuk toh, ternyata... Tapi, batang hidung sang guru belum juga terlihat...
"Hei... Pelajaran pertama apa?" tanya Ciel yang lagi bermalas-malasan.
"Er... Pelajaran pertama itu Matematika" jawab Miki
"*sigh* matematika..." keluh Ciel
"Hari ini ga ada PR, kan?" tanya Diesty yang keliatannya males
"Untungnya ga ada..." jawab Lucielle dengan nada yang tak kalah malesnya
"Kenapa hari ini pada males, sih?" tanya Chibi ichigo yang beda dari yang lain; bersemangat
"Ga tau. Mungkin faktor si author, kali. Dia lagi ngantuk tuh..." kata Aria sambil nunjuk ke arah saya, The great author! *di tampar bolak-balik*
Tiba-tiba, ada seseorang yang memukul meja guru dengan penggaris. Seluruh siswa di kelas itu pun kaget dan langsung menolah ke depan kelas. Di sana, Sang guru, Ash sudah menunggu. Mungkin karena sangking malesnya, Pada ga nyadar ada Ash di situ. (Bahkan si author juga ga nyadar)
"Ah... Di kirain siapa..." Kata Aria sambil membenamkan kepalanya diantara kedua tangannya lagi.
"HEI!" Ash melayangkan sebuah penghapus ke kepala Aria
BLETAK!
Headshot! Er... maksud saya, penghapus itu tepat mengenai kepala Aria
"APAAN SIH? DASAR, ASHHOLE!" teriak Aria
"SOPAN DIKIT DONG, SAMA GURU!" balas Ash dengan suara yang ga kalah kerasnya
"Eto... Sensei... Kapan mulainya?" tanya Miki
"Ah... Baiklah..." Ash mengambil nafas dalam
"Hari ini kita akan belajar tentang bangun ruang. Bangun ruang yang pertama adalah kubus dan balok." Jelas Ash
"*sigh* malesnya..." keluh Lucielle
Yah... Dari pada kita belajar bersama Ash, mari kita pindah ke kelas circus terlebih dahulu...
"Ayo keluarkan jahitan kalian~" kata Meilin
"Kami tidak bawa!" jawab Peter dan Wendy kompak
"Ah... aku pasti lupa membawanya..." keluh Doll
"Dagger, waktu itu kamu bawa jahitan ku, kan?" Beast menoleh ke arah Dagger
"I-iya... Tapi, aku lupa bawa..." jawab Doll
"*sigh* ya sudahlah..." balas Beast
"Jahitan ku kemarin ke gunting. Jadi harus mulai dari awal lagi..." kata Joker pelan
"Kain saya kurang. Jadi harus beli lagi..." kata Jumbo
"Memangnya kau mau buat ukuran seberapa?" tanya Doll
"Ya... yang bisa kupakai" jawab Jumbo
Semua orang sweatdrop
"Ya... Itu sih, susah buatnya, Jumbo..." balas Beast
"Ah... Jadi semuanya tidak bawa, ya? Kalau begitu, buka LKS kalian~" kata Meilin
"Saya tak bawa..." kata Doll
"Kami juga tidak..." jawab Peter dan Wendy secara bersamaan
"Saya t-" belum selesai Joker berbicara, Meilin berdiri dan menendang meja di depannya
"Kalian sebenarnya mau apa ke sekolah?" tanya Meilin
Semua anak tidak menjawab karena ketakutan.
"Jawab!" Meilin mengeluarkan sebuah senapan
"Waaa!" teriak Dagger ketakutan
"Keluarkan LKS kalian atau..." Meilin tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi semua anak tahu, tubuh mereka akan di tembus peluru jika tidak mengeluarkan LKS.
Semua anak langsung mengeluarkan LKS masing-masing
Bahkan, Joker, Doll, Peter, dan Wendy yang mengaku tidak membawa LKS pun langsung mengeluarkan benda tersebut
"Buka halaman 34! Kerjakan Latihannya!" perintah Meilin
Semua anak pun langsung mengerjakan latihan di LKS mereka. Tidak ada yang berani protes. Er... Balik ke kelas Phantomhive, yuk...
Di sana, Ash udah mulai ngajar. Tapi, murid-murid pada males-malesan semua. "Yak... Kerjakan soal di buku halaman 219, latihan 5!" kata Ash
Semua anak dengan malasnya membuka buku mereka.
Soalnya... Sebuah balok mempunyai luas bidang alas, samping dan belakang berurutan adalah 108 cm2, 60 cm2, dan 45 cm2. Berapakah Volume balok tersebut?
Semua anak garuk-garuk kepala. Berpikir keras untuk menyelesaikan soal tersebut.
"Eto... emangnya kita udah pernah di kasih tahu, rumus yang ini?" tanya Miki
"Tampaknya belum..." jawab Elizabeth pelan
"Ngapain sih ngitung-ngitung volume balok? Panjang, lebar, sama tinggi nya kan bisa diitung pake penggaris! Ga usah repot-repot!" teriak Aria yang udah stress
"Yah... Kalau kalian bisa menjawab soal ini, saya akan langsung memberikan nilai 100 untuk ulangan berikutnya~" kata Ash
"Eh? Yang bener?" tanya Diesty
"Kayak nya dari muka nya dia serius tuh." Kata Lucielle
"Ah... Mukanya ga meyakinkan gitu..." kata Ciel
"Yup... Kau benar~" kata Chibi Ichigo
"Sepertinya aku tidak akan mengerjakan soal seperti itu..." kata Soma pelan
"Kalau tidak ada yang berhasil mengerjakan, akan saya buat ulangan yang 2 kali lipat lebih susah!" ancam Ash
Semuanya membeku
"Akh! Gimana nih?" teriak Aria
"Author! Kau pasti bisa kan? Kasih tahu caranya!" lanjut Aria meminta bantuan saya. Yah... Reaksi saya pas pertama ngeliat soal ini juga sama kok. Berusaha, ya!
"Author bisa ngerjainnya?" tanya Miki yang meragukan saya. Sebenarnya sih, saya di kasih rumus dasarnya dulu...
"Kalau gitu kasih tahu!" teriak Lucielle
Er... pertama, masukin rumus dasar nya...
p*l=108 cm2
l*t= 60 cm2
p*t= 45 cm2
Nah... Lalu ki- Akh! Kok malah jadi belajar? Bunyikan bel nya! Bunyikan bel nya!
"Migikata ni murasaki chouchou.. Kisu wo shita kono heya no sumi de.. Setsuna toiu kanjou shiru.. Hibiku Piano, Fukyouwaon..." salah seorang kru membunyikan bel pergantian pelajaran
"Yaaahh..." keluh seluruh anak sekelas
"Gimana nasib kita pas ulangan nanti?" teriak Chibi ichigo
"Hey, author... Kau kan yang mencet bel tadi... Seharusnya belom ganti pelajaran, kan?" tanya Ciel
"Iya.. Iya... Seharusnya masih pelajaran matematika... Ayo, cepat! Beri tahu rumusnya... Atau..." Aria memukul pelan pundak Author dengan tongkatnya
Ya... tapi mau gimana lagi, udah bel pergantian pelajaran toh? Ash juga udah keluar kelas... Nah... tuh, Sebas udah dateng~
"Tch..." kata Ciel pelan sambil berjalan ke bangkunya
"*sigh* Biarin deh..." Aria juga kembali ke kursinya
"Yak, anak-anak sekalian, hari ini, saya akan menggantikan guru bahasa mandarin kalian yang sekarat beberapa hari yang lalu. Mari kita mulai pelajaran kali ini.." Sebastian mengawali pelajaran
"Yaah... Bosen, deh..." keluh Aria pelan
"Heh... Jangan gitu! Nanti di lempar penghap-" Sebuah penghapus papan tulis berhasil membuat Chibi Ichigo diam
"Jangan ribut" kata Sebastian singkat
"Termakan kata-kata sendiri.." Aria menahan tawanya
"Ukh... Sial..." Chibi ichigo memegangi kepalanya yang di lempar penghapus
"Semuanya, buka buku paket halaman 169!" kata Sebastian
Karena ga mau jadi korban kedua, semua anak langsung membuka buku mereka masing-masing
Yak~ Daripada kita ga ngerti, sekarang, kita main ke kelas circus dulu, yuk~
Kelas Circus
Guru belom dateng. Anak-anak kelas circus lagi pada main. Tak lama kemudian, datanglah guru yang seharusnya mengajar di kelas itu
"Yosh! Semuanya! Kita akan praktek memasak di laboratorium!" seru Bard, sang guru tata boga yang mengajar pada jam tersebut
"Yay! Kue!" seru Wendy
"Kue~ Kue~" Peter tidak kalah semangatnya dengn Wendy
Mereka pun berjalan ke Laboratorium. Aneh, kok ga ada yang takut laboratorium nya meledak, gitu? Atau nyawa mereka melayang karena ledakan yang di sebabkan alat-alat 'memasak' punya Bard? Entah lah.. Mari kita ikuti saja mereka~
Laboratorium
Anak-anak kelas circus bengong. Bard ga ada di situ karena dia lagi ngambil peralatan memasaknya yang jelas-jelas bukan untuk memasak. Kenapa mereka bengong? Ternyata, si janitor Siapa-lah-itu-namanya, belom ngebersihin laaboratorium (ingetkan, di chapter sebelumnya gimana Aria ngebedah mayat orang malang itu?). Rata-rata semuanya pada jijik gitu... Ya iyalah.. Mayat yang dah hampir busuk yang tergeletak begitu saja tanpa... Ehm.. Organ dalam, Organ dalam (yang di suspect dari mayat yang sama)tercecer begitu saja... Jantung yan- Eh, hei! Ini rating T! Itu mayat pertama... Mayat kedua.. Ya... Organ dalamnya masih utuh... Hanya ada sedikit ceceran darah... Singkat nya, mayat pertama nasib nya terlihat lebih mengenaskan dari yang kedua.
Anak kelas circus belom ada yang bergerak. Sampai akhirnya Bard menegur mereka, "Hei kenapa kalian tidak ma- Oke... sekarang kita praktek dimana?" Bard menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal
"Di lapangan saja!" Usul Dagger
"Hmm... Ide bagus! Ayo kita kelapangan!" Bard menarik sebuah gerobak berisi peralatannya
Field
"Baiklah anak-anak sekalian! Di gerobak kecili ini, sudah ada bahan-bahan yang kalian perlukan untuk memasak kali ini. Kali ini kita akan mencoba membuat cookies!" kata Bard. Anak-anak kelas circus pun mengambil bahan-bahan yang telah disiapkan
"Hmm... Cookies..." Doll memikirkan cookies yang nanti nya ia buat
"Ku rasa hasilnya tidak akan berbentuk..." komentar Joker
Phantomhive class
"Unyu..." keluh Chibi Ichigo
"Untungnya dia lagi keluar kelas..." Ciel memainkan pensilnya
"Tapi kakak ninggalin latihan..." Lucielle dengan malasnya mencoret-coret kertas nya
"Siapa yang bahasa mandarinnya bagus?" tanya Diesty
"Tidak ada..." jawab Aria
DHUAAAR!
Ada suara ledakan dari arah lapangan
"Pasti kelas circus deh..." Miki Sweatdrop
Mereka semua berhamburan keluar kelas. Beberapa pohon didekat lapangan sudah hampir hancur terbakar. Mayat-mayat(?) tergeletak di sekitar tengah lapangan. Aria ketawa, Elizabeth dan Soma jawdrop. Sisanya sweatdrop. Terlihat Sebastian berjalan ke tengah lapangan dan menendang sebuah gundukan hitam.
"Hei, bisakah kau tidak menghancurkan sekolah ini ketika pelajaran mu?" tanya Sebastian
"Ma-maafkan aku..." kata gundukan hitam itu yang ternyata Bard
"Aku hanya ingin kuenya jadi lebih cepat..." lanjut Bard
"Tapi bukan berarti kau bisa memakai alat-alat mu yang bukan untuk memasak itu" kata Sebastan dengan dark aura
"Kurikaesu Kioku no hate ni.. Kawaranai Kimi wo sagasou... Kizutsuita kokoro ni fureru.. Sono toki wa, kimi wa boku no mono..." bel pergantian pelajaran berbunyi
"Pastikan kau membereskan kekacauan ini, Bard" Sebastian pergi meninggalkan Bard dan mayat-mayat(?) lainnya
(Let's skip the lunchtime~)
Pelajaran ketiga
"Kita pelajaran apa selanjutnya?" tanya Diesty
"Hmm... Tampaknya PKn" jawab Chibi Ichigo
"Ngapain kita belajar PKn?" tanya Aria
"Tanya author-san, dong..." kata Miki
"Kapan kita pulang?" kata Ciel dengan males nya
Seorang guru, yang tak lain adalah Agni, masuk ke dalam kelas
"Ayo kita mulai pelajarannya~" kata Agni dengan semangat
Hmm... Mari kita tengok kelas circus dulu~
Anak-anak kelas circus pada ribut. Kenapa? Karena di papan tulis ada tulisan "Belajar sendiri, gurunya sedang pergi". Tentu saja mereka senang karena waktu bebas ini. Saya juga begitu.. Para readers juga begitu, kan? /plak/
"Rasanya aku mau tidur..." kata Joker pelan
Peter dan Doll lagi main lempar-lemparan kertas. Jumbo dengan gajhe nya ngeliatin pemandangan di luar.
"Hei ngomong-ngomong benda apa itu di belakang?" tanya Beast sambil menunjuk ke arah gerobak di belakang
"Sepertinya salah satu barang milik Bard-sensei" kata Dagger
"Hm..." Beast mendekati benda aneh yang ditutupi kain itu
"Bagaimana kalau kita coba?" usul Joker
Semuanya saling bertukar pandangan
"Ku pikir itu ide yang buruk..." tolak Doll
"Ayo kita coba!" seru Wendy dan Peter
"Sepertinya menyenangkan~!" seru Dagger
Doll sweatdrop
"Aku tidak ikut..." Doll melangkah pergi keluar kelas
"Jadi... Bagaimana cara memakainya?" tanya Joker
"Sayang nya tidak ada petunjuknya..." kata Dagger
"Bagaimana kalau pencet yang ini?" Beast memencet salah satu tombol yang ada di sana. Sebuah peluru meriam melesat dari benda itu. Menghancurkan tembok di depannya (yang untungnya bukan dinding kelas Phantomhive)
Semuanya jawdrop
"Coba lagi!" seru Dagger sambil memencet tombol lainnya. Muncul sesuatu dari benda aneh itu dan mengeluarkan api. Yup, sebuah flamethrower (ini benda apa saya juga ga tau... = =")
Selagi anak kelas circus pada bersenang-senang, kita lihat kelas Phantomhive
"Nah, karena saya sudah menjelaskan secara rinci, silahkan kalian kerjakan latihannya~" Agni tersenyum lebar
"Tch... Bosen ah..." Keluh Aria
"Iya... Coba tiba-tiba sekolah ancur terus kita di suruh pulang..." balas Chibi Ichigo
"Semuanya, merunduk!" tiba-tiba Lucielle berteriak. Semuanya pun langsung menunduk. Tiba-tiba, sebuah bola api datang ruangan di sebelah kelas Phantomhive (baca: kelas circus), dan menembus tembok belakang kelas. Semua terdiam
"Oh, wow! Hebat!" komentar Chibi Ichigo
"A-apa itu?" Elizabeth kaget
"Waa! Pencet lagi! Pencet lagi!" seru Dagger dengan semangat
Kali ini Jumbo yang menekan tombolnya. Ya.. Kita semua tahu, ukuran tangan Jumbo itu jumbo(?). Jadi, otomatis, tombol yang di pencet langsung banyak. Keluarlah segala macem senjata (yang bahkan authornya aja ga tau) yang ada di alat ajaib itu
"Kabur kalau mau selamat!" seru Joker, Yah, tapi itu udah telat...
*several second later*
Mayat-mayat(?) tergeletak dimana-mana. Alat nya... Masih utuh, beda dengan sekolah yang udah ancur setengahnya. Ada satu mayat(?) yang berdiri, ia melihat keadaan sekitar
"Hoi, omongannya Chibi ichigo jadi kenyataan" orang itu, Lucielle, menepuk gundukan di sebelahnya. Gundukan di sebelahnya, yang d ketahui adalah Diesty, mengangkat kepalanya, "... Wah... Siapa yang nge betulin sekolahnya? Kita kan besok masih masuk..."
"Waaa!" Sebuah gundukan hitam tiba-tiba berdiri
"Tadi itu seru!" kata gundukan yang sudah bertransformasi(?) menjadi seorang Chibi Ichigo itu
"Akh! Sebastian! Tolong aku!" Teriak seseorang. Sebastian pun tiba-tiba muncul, kemudian, ia menarik sebuah gundukan hitam yang tentu saja adalah masternya
"Yang lain mana? Udah mati?" Aria bangkit dari kubur /plak/
"Kayaknya belom..." Miki dengan perlahan mencoba berdiri
"Hmm... Kita besok masuk ga?" sebuah gunduka hitam berubah(?) menjadi Soma
"Ga tau..." balas Lucielle
Undertaker mendatangi mereka. Untungnya, ruangan kepala sekolah letak nya tidak di dekat kelas circus, dan termasuk tempat yang belom ancur.
"Ah... Kenapa sekolah ku jadi begini?" komentar Undertaker
"Menurut si author, kita masih harus main satu chapter lagi" kata Will
"Kalau begitu, ada orang-orang yang harus bertanggung jawab" usul Sebastian
Undertaker menganggukan kepalanya, "Kalau begitu, pulangkan kelas Phantomhive. Dan suruh kelas circus untuk siap-siap bekerja. Ini akan jadi hari yang panjang~"
"Yaaay!" seru anak-anak kelas Phantomhive (minus Ciel)
"A-apa?" Joker yang shock mendengar nya langsung bangkit
"Ju-jumbo! Ini salahmu!" Wendy langsung meloncat ke arah sebuah gundukan besar
"Iya! Salah mu!" Peter melakukan hal yang sama dengan Wendy
"Ah... Ini salah kita semua" Beast mulai bangkit
"Sudah ku bilang berbahaya..." komentar Doll
"Hei, kau yang mulai, Dagger! Jangan pura-pura mati!" Beast menendang-nendang sebuah gundukan hitam
"Hm? Kakak nendang apa?" Dagger berdiri jauh dari letak gundukan hitam yang Beast tendang. Beast sweatdrop. Ternyata yang dia tendang itu Agni
"Kalau begitu, kita pulang!" Kata Diesty dengan semangat
"Akhirnya pulang.." kata Chibi ichigo pelan
"Semoga besok sekolahnya belom selesai..." kata aria pelan
"Ayo pulang~" Lucielle, Aria, Diesty, dan Chibi Ichigo bersama-sama melangkah keluar sekolah
~To be continued~
Ohoh... Akhirnya selesai... = ="
Ini juga akhirnya gajhe-gajhe maksa gimana gitu... = ="
Ya udah, Saya menghormati para readers yang mau nge-review fanfic saya~
