Halo semua. akhirnya saya berhasil mengupdate fanfic saya setelah sekian lama. (gomen). semoga semua masih berminat membaca fanfic saya. tidak perlu berpanjang-panjang lagi, langsung saja silakan membaca Angel's Ring Chapter 2

Digimon belongs to : Akiyoshi Hongo, TOEI animation dan Bandai corp.

Lyrics below belongs to : Bigbang - Make Love


Angel's Ring

Chapter 2 - Little brother

"Selamat pagi," kataku pada yamato yang baru bangun. Aku berada di dapur sedang membuat sarapan. Aku sering memonitori kehidupan manusia dari dunia malaikat karena memang itu tugasku. Pernah aku memperhatikan manusia yang sedang memasak. Kuharap sekarang aku bisa mempraktekkannya sedikit.

"Kau masak? Masak apa?" tanyanya sambil menuju wastafel untuk mencuci muka.

"Omelet, tertulis seperti itu di buku ini," aku menunjuk sebuah buku masak yang ada di meja. "Aku baru pertama kali memasak. Mudah-mudahan hasilnya tidak buruk."

"Katamu kau malaikat, darimana kau tahu cara memasak?" tanyanya sambil mengusap wajahnya yang basah dengan handuk.

"Aku pernah melihatnya dari dunia manusia," aku mengambil piring untuk menaruh hasil masakanku, "Selesai," kami berdua menuju ruang makan dan duduk berhadapan.

"Cobalah!" kataku sambil menyodorkan piring ke hadapannya.

"Benarkah ini bisa dimakan?" katanya seakan tak percaya padaku.

"Jangan meragukan kemampuanku. Coba saja!" kataku sambil merengut. Dia hanya tersenyum sambil mengambil sendok kemudian dia mulai makan.

"Ittadakimasu."

"Bagaimana?" selesai mengunyah dia menjawab.

"Tidak buruk," katanya lalu melanjutkan makan. Hanya itu komentarnya? Aku memasaknya dengan sepenuh hati tahu.

...

Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku penasaran sejak pertama kali aku di rumah ini, tapi aku tidak enak menanyakannya pada Yamato. Kutanyakan tidak ya? Kuberanikan diri saja. Daripada aku mati penasaran, "Mmm... aku ingin bertanya sesuatu - boleh?"

"Kenapa tidak?"

"Kau tinggal sendirian? Selama aku di dunia malaikat, aku sering melihat keluarga manusia yang terdiri dari orang tua, ayah, ibu dan anak... dimana orang tuamu?" dia terdiam mendengar pertanyaanku. Sepertinya pertanyaanku melanggar privasinya.

"Ma... maaf. Kalau kau tidak mau menjawab tidak masalah. Maafkan aku karena telah lancang."

"Ayahku bekerja di luar negeri, Perancis. Orang tuaku berpisah saat aku masih SMP."

"Maafkan aku," aku sungguh merasa tidak enak padanya. Harusnya aku tidak usah menanyakan hal-hal seperti itu. Tapi wajar kan kalau aku ingin tahu.

"Aku harus segera berangkat," katanya sambil beranjak menuju pintu keluar. Aku mengikutinya dari belakang.

"Kau bekerja?"

"Di sore hari. Pagi hari aku kuliah. Ittekimasu," katanya setelah selesai memakai sepatu di teras.

"Itterashai."

#

.

#

Hari ini aku sudah berkeliling kota untuk mencari angel's ring tapi usahaku tidak menemukan hasil yang berarti. Besok aku harus memperluas pencarian. Kuputuskan untuk pulang ke rumah. Sekarang sudah pukul 5 sore. Sebaiknya aku menyiapkan makan malam untuk Yamato. Untungnya aku menemukan uang manusia di saku baju lamaku. Sepertinya uang itu diberikan oleh Taichi. Aku akan memakai uang itu untuk membeli bahan makanan.

Kira-kira Yamato sampai di rumah jam berapa ya? Kenapa tadi aku tidak menanyakan. Aku harus cepat-cepat sebelum Yamato sampai di rumah.

#

.

#

Terdengar pintu depan dibuka. Jam menunjukkan pukul 10 malam, "Tadaima"

"Aa... selamat datang. Kau mau minum apa? Teh hangat? Kopi susu hangat?" tanyaku.

"Terima kasih. Kopi susu akan sangat menyenangkan," senyumnya sambil melepas sepatu dan menaruhnya di rak.

"Akan segera datang. Tunggu sebentar," aku langsung berlari ke dapur dan secepat mungkin membuat kopi susu. Saat aku selesai, dia sudah duduk di ruang tamu dan menyalakan tv.

"Pulangnya malam sekali," kataku sambil memberikan cangkir kopi padanya.

"Temanku sakit. Jadi aku menggantikannya shift malam," katanya kemudian menyeruput kopi hangat.

"Kenapa kau belum tidur?"

"Aku menunggumu. Pasti kau capek. Mau kupanaskan air untuk mandi?" aku bersiap untuk bangkit.

"Tidak perlu," dia memegang tanganku, menyuruhku duduk kembali.

"Aku mau mengistirahatkan kakiku dulu." Dia memperhatikan tanganku yang dipegangnya, "kenapa tanganmu lecet-lecet?"

"Itu... saat aku mencari angel's ring, kupikir terkubur di tanah, jadi aku menggalinya dengan tanganku. Aku juga tak sadar kalau sampai lecet begini," aku meringis saat dia menyentuh lukaku secara tak sengaja.

"Pasti sakit. Tunggu di sini! Aku akan ambil kotak obat," setelah itu, dia mulai merawat luka-lukaku.

"Memangnya kau bekerja dimana sih?"

"Toko kaset dan CD dekat kampus. Pemiliknya sudah sangat tua. Jadi dia membutuhkan bantuan untuk menjaga tokonya. Orangnya baik sekali, sangat mencintai musik."

"Oh iya. Ngomong-ngomong tentang musik, aku melihat di kamarmu ada gitar. Kau bisa memainkannya?"

"Tentu saja. Kau meragukanku?" katanya sambil merengut, "Nah, lukamu sudah selesai ku obati. Aku akan ambil gitar dan memainkan beberapa lagu." Dia masuk ke kamar dan keluar sambil membawa gitar dan duduk kembali.

"ini salah satu lagu kesukaanku."

"Remember that one day I held your hand and I kissed your lips then i told you"

"Our love was meant to be and always here forever"

"Give me that happiness I get from you just being there"

"I always see you when I close my eyes you're on my mind"

"so can't you see? I need you right here with me close by my side"

"This time for sure, gotta let you know my love is straight from my heart"

"Forever you're my girl forever be my world you're the only one"

"The only one I'll ever need, my life is you and me"

"Forever you're my girl forever be my world you're the only one"

"I'll never break your heart, no, so baby don't let go"

Dia menghentikan nyanyiannya karena melihatku bengong, "Kenapa mukamu begitu? Suaraku jelek sekali ya?"

"Tidak... tidak. Justru aku kagum karena suaramu sangat merdu. Aku jadi tak bisa berkata-kata," dia hanya tersenyum mendengar pujianku.

"Terima kasih. Aku adalah vokalis sebuah band."

"Band? Apa itu?"

"Sekelompok orang yang memainkan musik bersama-sama. Tugasku adalah menyanyi sekaligus bermain gitar."

"Betulkah? Hebat."

"Kali ini aku akan memainkan harmonika. Kau tahu harmonika?" katanya sambil mengeluarkan alat musik kecil yang dimainkan dengan cara ditiup.

"Aku pernah melihatnya dari dunia malaikat," dia mulai memainkan sebuah lagu.

Hatiku berdesir, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Seharusnya lagu ini menenangkan tapi entah kenapa aku tidak bisa tenang. Aku baru sadar bahwa keberadaannya membuatku tersiksa. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku.

#

.

#

"Hari ini kau pulang malam lagi?" tanyaku sambil mengantarnya ke pintu.

"Tidak. Hari ini adikku akan datang. Tiap seminggu sekali dia menginap di sini. Aku akan menjemputnya saat pulang sekolah dan kami akan langsung pulang. Mungkin sampai rumah jam 4."

"Adik?"

"Aku belum cerita ya? Dia adik kandungku. Saat orang tuaku bercerai, aku diasuh oleh ayah sedangkan dia diasuh oleh ibu. Seminggu sekali biasanya dia menginap di sini. Ah - aku hampir terlambat. Hari ini aku ada kelas pagi. Aku berangkat," dia membuka pintu namun segera berhenti dan menoleh ke arahku, "Besok aku akan membantumu mencari milikmu yang hilang," sebelum aku sempat berterima kasih dia sudah menghilang di balik pintu.

#

.

#

~Takeru's POV~

Hari ini adalah jadwalku menginap di rumah kakak. Aku tidak perlu mengemas pakaianku karena beberapa bajuku ada di rumah kakak. Ibu juga sudah mengizinkan. Yang harus kulakukan hanyalah mempersiapkan buku yang harus kubawa untuk sekolah esok hari dan itupun sudah kukerjakan. Jadi setelah pulang sekolah nanti aku hanya perlu menunggu kakak menjemputku di sekolah.

Kriiing.

Ah... bel istirahat sudah berbunyi. Saatnya bermain bola di lapangan bersama teman-teman.

#

.

#

Kami bermain bola sampai keringatan. Kami sering dimarahi guru karena kelas jadi bau matahari. Hehe... tapi mau bagaimana lagi? Anak laki-laki kan memang suka main bola. Kulihat Hikari berada di pinggir lapangan di bawah pohon rindang bersama teman-temannya. Pasti dia sedang makan siang.

"Takeru! Bolanya."

Oops. Karena bengong bolanya jadi jatuh ke semak-semak. Aku minta maaf dan berlari ke arah hilangnya bola. Saat sampai disana, kulihat seorang wanita sedang memegang bolaku.

"Ini milikmu?" katanya sambil menyodorkan bola. Dia memakai terusan putih yang sangat kotor. Aku jadi penasaran apa yang telah dilakukannya hingga bajunya jadi kotor seperti itu.

"Ha... hai. Arigato nee-san," kataku dan mengambil bola darinya dan berlari kembali ke lapangan.

#

.

#

Akhirnya pelajaran hari ini selesai. Aku memasukkan semua buku-bukuku ke dalam tas. Kelas sudah mulai sepi. Saat itulah aku menyadari bahwa ada sesuatu di dasar tasku. Itu adalah benda yang kutemukan beberapa hari yang lalu di lapangan dekat rumah. Aku lupa sama sekali bahwa aku pernah mengambil benda itu. Kuamati benda itu dan berpikir apa yang harus kulakukan. Aku sama sekali tak tahu benda apa itu sebenarnya. Mungkin kakak tahu. Aku akan memperlihatkan padanya nanti.

Aku berlari menuruni tangga sekolah. Sejujurnya aku takut berada di sekolah yang sudah sepi sendirian. Teman-temanku sering bercerita mengenai hantu yang katanya sering terlihat di sekolah. Aku kan paling takut dengan hantu.

Hiii...

Aku sampai di pintu gerbang dan melihat kakak sudah menungguku sambil bersandar di pagar sekolah.

"Kakak!" panggilku dan dia menoleh.

"Hai, Takeru. Siap untuk petualangan kecil?"

"Tentu saja," kataku bersemangat. Biasanya sebelum pulang kami akan berjalan-jalan menuju taman yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain.

"Bagaimana ibu?" tanyanya sambil menggandeng tanganku.

"Baik. Tapi akhir-akhir ini ibu sering pulang malam karena lembur."

"Betulkah? Kuharap dia tidak sakit."

"Tidak akan. Kan ada aku yang menjaga ibu," kataku sambil menepuk dada. Kakakku hanya tersenyum mendengar omonganku. Aku teringat dengan benda aneh yang berada di dalam tasku.

"Oh iya. Beberapa hari yang lalu aku menemukan benda yang aneh," kataku sambil membuka tas dan mengeluarkan benda tersebut,

"Saat kutemukan dia menyala dengan sangat terang kemudian setelah beberapa hari cahayanya mulai meredup."

Kakak mengambil benda itu.

"Kakak tahu itu apa?" tanyaku berharap mendapat jawaban.

"Entahlah," katanya sambil mengamati benda itu.

"Bagaimana kalau benda ini aku yang pegang? Aku takut benda ini berbahaya bagimu. Besok akan kubawa ke kampus. Kuharap seseorang dapat menjelaskan benda apa ini."

"Terserah kakak saja. Benda itu juga tak ada gunanya untukku. Waktu itu aku mengambilnya karena penasaran dengan cahayanya yang sangat terang dan indah," kemudian aku meninggalkannya menuju ayunan yang kosong.

#

.

#

Hari sudah mulai gelap. Aku dan kakak hampir sampai di apartemen kakak. Sayang ayah tak ada di rumah. Padahal aku sangat rindu padanya. Kapan ya dia pulang? Terkadang aku berharap keluarga kami dapat berkumpul bersama ... kira-kira nanti malam makan apa ya? Biasanya kakak akan memasak untuk kami berdua meskipun masakannya sedikit... err... kurang enak? Meskipun kakak pasti sadar bahwa masakannya tidak enak, tapi dia tak pernah membeli makanan di luar. Andai masakan kakak seenak masakan ibu.

Kami sudah berjalan melewati minimart 24 jam dekat apartemen. Biasanya sebelum pulang kami mampir sebentar untuk membeli bahan-bahan masakan, tapi hari ini berbeda dengan yang lalu. Apa kakak sudah menyerah untuk bisa masak dengan enak? Aku ingin makan pizza.

Kami sampai di apartemen dan kakak tidak membeli apapun. Mungkin dia benar-benar akan memesan pizza? Asik.

~End of Takeru's POV~

#

.

#

"Tadaima."

"Selamat datang. Sore sekali," Yamato menggandeng tangan seorang anak laki-laki. Sepertinya aku pernah melihatnya. Ah, tentu saja, dia anak yang bermain bola di sekolah tadi. Aku tersenyum padanya.

"Halo. Namaku Sora."

"Onee-san ini adalah teman kakak. Ayo beri salam," Yamato memperkenalkanku pada adiknya.

"Ha... halo nee-san. Namaku Takeru," katanya sambil membungkukkan badan.

"Nee-san sudah memasak makanan enak untukmu. Semoga kau suka ya. Ayo."

#

.

#

~Yamato's POV~

Takeru cepat sekali akrab dengan Sora. Katanya mereka berdua sudah pernah bertemu di sekolah Takeru. Mungkin Sora masih mencari barangnya yang hilang? Aku heran, Takeru adalah yang selalu merasa penasaran, tapi dia sama sekali belum menanyakan apapun tentang Sora seperti siapa dia sebenarnya dan mengapa dia berada di sini.

Kami sudah selesai makan dan Sora pergi ke dapur untuk mencuci piring. Tinggallah aku berdua dengan Takeru di ruang makan.

"Kakak. Sora nee-san cantik. Dia pacar kakak?" akhirnya dia bertanya juga.

"Kalau iya memangnya kenapa? Kau cemburu ya kakakmu ini sudah punya pacar?"

"Tidak apa-apa. Aku senang kakak bisa punya pacar. Kakak kan tak pernah kencan dengan wanita."

Dasar anak-anak sekarang , sangat mengerti tentang pacaran.

#

.

#

Takeru benar-benar lupa padaku dan bersenang-senang dengan Sora. Mereka bermain game komputer dengan asyik sekali. Sora selalu kalah, dia belum pernah main game sebelumnya. Tapi malam sudah sangat larut jadi kusuruh dia untuk segera tidur karena besok dia harus sekolah. Dia berhenti main dan merengut. Mungkin masih kurang puas bermain tapi aku tak mau dia ketiduran di sekolah besok.

Dia memintaku memainkan harmonikaku. Katanya dia rindu dengan bunyinya. Aku selesai memainkan dua lagu dan melihatnya sudah terlelap. Kumatikan lampu kamar dan meninggalkan ruangan dengan tanpa suara.

Kulihat Sora berada di beranda tempatku duduk tadi. Aku mengahampirinya dan melihatnya sedang menangis. Dia menyadari kehadiranku dan segera menghapus air matanya dengan terburu-buru.

"Kenapa kau menangis?" tanyaku dan duduk di sebelahnya. Lama dia terdiam sebelum dia menjawab.

"Aku hanya merasa sedikit putus asa. Sudah beberapa hari aku mencari benda yang kuhilangkan, tapi aku tak kunjung menemukannya. Aku takut kalau-kalau aku tak akan pernah menemukannya." Dia kembali terisak.

Entah kenapa tiba-tiba aku memeluknya dan menempatkan kepalanya di dadaku. Kupikir dia akan berontak tapi ternyata dia diam.

"Aku berjanji akan membantumu menemukannya." Janjiku padanya dan pada diriku sendiri. Aku tak mau melihatnya menangis seperti ini.

~End of Yamato's POV~

#

.

#

~Taichi's POV~

Aku melihatnya pertama kali secara kebetulan saat dia baru dibuat oleh Kami-sama. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu juga kuputuskan untuk menjadi mentornya. Yang lain merasa aneh pada keputusanku ini. Selama ini aku tak pernah mengajukan satupun malaikat baru yang kumentori atas kemauanku sendiri. Aku terima saja malaikat-malaikat baru yang harus kumentori. Mungkin dia yang pertama... dan terakhir.

Prestasinya sebagai malaikat ini tidak terlalu baik. Melakukan kesalahan dimana-mana. Tapi aku selalu bertekad untuk menjadikannya seorang malaikat yang baik. Sampai akhirnya hari itu datang. Dia melakukan kesalahan dengan menjatuhkan angel's ring miliknya ke dunia manusia. Sebenarnya aku tak ingin menghukumnya dengan cara seperti ini, tapi aku tak punya kuasa. Kesalahan ini adalah kesalahan yang berat.

Hari ini adalah hari ketiga dia turun ke dunia manusia. Aku sangat khawatir dengan keadaannya karena tanpa kekuatan malaikat dia hanyalah gadis biasa yang tersesat di dunia manusia. Aku tahu dia kuat tapi tetap saja aku khawatir. Aku ingin menemuinya.

Aku turun ke dunia manusia tanpa izin. Aku tahu ini hal yang salah tapi aku akan menerima hukumannya nanti dan aku memang tidak ingin mengelak. Aku diberitahu bahwa dia tinggal di rumah seorang manusia yang dengan baik hati bersedia menampungnya. Aku lega dia bertemu dengan manusia yang baik. Aku tidak bisa membayangkan apabila dia bertemu dengan manusia yang jahat. Mungkin aku harus memberinya kebahagiaan karena kebaikannya itu.

Aku hampir sampai dan menuju beranda rumah itu. Kemudian aku melihatnya sedang berpelukan dengan seorang manusia... laki-laki. Seketika hatiku bergemuruh. Aku tak sangup melihatnya dan kuputuskan untuk pergi.

~End of Taichi's POV~

TO BE CONTINUED


saat saya menulis chapter ini saya lupa bahwa ada satu hal yang tidak saya sampaikan di chapter sebelumnya yaitu kenapa Takeru terlihat sangat childish sekali? padahal semestinya, apabila Yamato kuliah, maka seharusnya Takeru sedang duduk di bangku SMA.

ini keinginan saya untuk membuat Takeru tetap berumur 7 tahun di fic ini. (dasar author seenaknya saja) karena pikir saya, anak SMA tidak akan se-penasaran itu kan apabila menemukan Angel's Ring? (maafkan saya atas keegoisan saya)

kemudian lirik di atas, sepertinya sih bukan Yamato yang suka lagunya tapi author-nya sendiri. (sekali lagi reader dirugikan oleh keegoisan author.) Gomen. (_ _)

kemudian...

terima kasih buat yang sudah review

fariacchi-senpai. terima kasih sudah beta chapter 1 saya. setelah diteliti, EYD saya memang masih sangat berantakan. saya akan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan itu di fic saya seterusnya. kalo soal perpindahan POV, saya cuma ingin agar reader bisa merasakan fanfic ini dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga fanfic tidak berkesan monoton. tapi, apabila dirasa mengganggu cerita, saya mohon maaf. (_ _) mungkin di fic selanjutnya saya akan mencoba POV orang ketiga.

Sanich Iyonni-senpai. waa... terima kasih atas sambutannya. *hug* hehe... ide ini memang muncul waktu saya masih sd, tapi sekarang sudah sangat perubahannya, terutama di bagian romance. (waktu itu cerita ini tak ada romance-nya sama sekali.) hihi. sepertinya senpai benar dalam menebak kelanjutan fanfic ini. *getok-getok pala karena mudah ditebak* yah... walaupun ketebak masih berminat membaca dan mereview kan? X3

sedikit sepi ya di sini. T_T

tak pa pa lah. buat yang baca, arigato gozaimasu. kritik dan saran sangat dibutuhkan karena masih banyak kesalahan disana-sini dan saya hanyalah manusia biasa.

ayay mohon diri. (_ _)

Thanks for Read and maybe Review

*wink*wink*