Digimon belongs to : Akiyoshi Hongo, TOEI animation dan Bandai Corps.


Angel's Ring

Chapter 3 : Just Realize

"Setelah mengantar Takeru, aku akan segera pulang dan mencari barang yang kau hilangkan bersama-sama," kata Yamato yang bersiap-siap berangkat.

"Arigato nee-chan, masakannya enak sekali. Minggu depan buatkan lagi ya," kata Takeru yang kemudian memelukku. Entahlah Takeru, apakah aku bisa bertemu denganmu lagi minggu depan. Aku hanya tersenyum dan memberikan janji palsu.

#

.

#

~Yamato's POV~

Aku masuk ke gedung laboratorium kimia yang berada di kampus, berharap menemukan Joe yang merupakan mahasiswa jurusan Teknik. Dia temanku sejak sekolah dasar. Karena pintar dan prestasinya yang bagus, dia sering diminta menjadi asisten dosen yang sedang menjalani penelitian.

Aku bertemu dengan resepsionis yang memberitahukan padaku bahwa Joe tidak ada di laboratorium. Dia sedang berada di perpustakaan. Aku mengucapkan terima kasih padanya dan segera menuju perpustakaan.

Di dalam perpustakaan, aku menemukannya sedang berkutat dengan buku-buku tebal di bagian science, "Joe," aku memanggilnya dan dia pun menoleh.

"Aku butuh bantuanmu, bisa kita bicara sebentar?"

"Tentu," kami menuju beranda gedung dan mengambil tempat duduk yang terletak agak di sudut.

"Ada apa? Tak biasanya kau butuh pertolonganku. Sehubungan dengan kuliah?"

"Bukan. Aku ingin kau menyelidiki sesuatu," kataku dan mengeluarkan benda yang diberikan Takeru kemarin, "Benda ini?"

"Apa ini?" katanya dan mengambil benda itu. Dia melihatnya dengan kurang tertarik.

"Entahlah. Justru karena itu aku minta tolong padamu."

"Dari mana kau mendapat benda ini dan kenapa kau mau aku menelitinya? Sejauh yang aku lihat benda ini tidak ada istimewanya," katanya dan menaruh benda itu di meja.

"Takeru yang memberikannya padaku. Tadinya mau aku buang saja, tapi aku berubah pikiran saat melihat benda itu bercahaya tadi malam."

"Bercahaya? Jangan-jangan benda ini hanya lampu biasa," katanya sambil tertawa.

"Yang pasti aku tidak mengalirkan listrik pada benda itu. Dia bercahaya dengan sendirinya," aku diam sebentar sebelum melanjutkan, "Kau mau kan menelitinya?"

"Baiklah. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Menurutku, mungkin benda ini hanya mainan biasa."

~End of Yamato's POV~

#

.

#

"Ini yang namanya motor?" tanyaku melihat benda yang berada di tempat parkir apartemen.

"Benar. Benda ini akan mengantar kita menuju tempat yang jauh dalam waktu yang lebih cepat," katanya dan menyalakan motor. Dia menyerahkan sesuatu yang berbentuk bulat dan besar. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan benda ini, namun aku melihatnya memakai benda yang sama seperti yang kupegang sekarang di kepala. Aku mengambil kesimpulan bahwa benda ini dipakai untuk melindungi kepala.

Aku kesulitan memakainya. Ada tali yang masih menggantung dan aku tak tahu bagaimana cara menyangkutkannya. Dia hanya tersenyum dan menggantikan tanganku mengaitkan tali tersebut.

"Kau ini keterlaluan bodohnya," dia menepuk kepalaku hingga helm yang kupakai menutupi mataku.

"Ayo naik. "

Aku naik di belakangnya. Bingung harus berpegangan dimana kuputuskan memegang bajunya.

"Sudah siap?" tanyanya sambil menoleh sedikit.

"Mmm..."

Tiba-tiba dia menarik gas dengan kencang sehingga motor yang kami naiki melonjak dan aku tersentak ke belakang. Spontan aku memeluknya semakin erat dan menempelkan wajahku ke punggungnya. Kudengar dia tertawa dengan keras di depanku.

"Hahaha, gomen ne. Aku sengaja. Hahaha,"

Aku melancarkan pukulan dan cubitan ke punggungnya dan masih cemberut. Tapi pelukanku padanya tidak mengendur.

#

.

#

"Kau serius benda itu berada di sini?" kami berada di sebuah kompleks yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat.

"Aku merasakan keberadaannya di daerah sini," tempat ini kelihatannya sangat luas. Aku ragu dapat menemukannya – tidak. Aku tidak boleh pesimis seperti ini.

"Aku baru saja ke sini tadi pagi,"

"Betulkah?"

"Tentu saja. Ini kan kampusku," kami memasuki gerbang kampus.

"Kau mau mulai dari mana?"

"Entahlah. Aku tidak dapat mengetahui dimana letak pastinya. Kurasa kita harus menyusurinya pelan-pelan."

#

.

#

Matahari sudah berada di atas kepala ketika perutku protes minta diisi. Tanpa berdosa dia berbunyi dengan keras sehingga Yamato yang sedang berjalan di depanku menoleh. Dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 12 lebih 7 menit.

"Kita makan dulu. Perutmu sudah teriak-teriak minta diisi," wajahku memerah mendengar perkataannya. Bukan mauku kan kalau perutku berbunyi.

Kami masuk ke sebuah gedung yang penuh dengan orang yang sedang makan, dikelilingi oleh penjual makanan yang keluar masuk mengantar makanan yang dipesan. Kami mendapatkan tempat duduk setelah beberapa orang yang sudah selesai makan beranjak dari tempat duduknya.

Aku memesan sukiyaki sedangkan dia memesan yakiniku.

"Kita sudah mencari cukup lama tapi bahkan aku tak tahu apa yang kita cari," katanya. Apa kuberitahu saja? Aku tak melihat alasan untuk menyembunyikannya lebih jauh.

"Kau tahu lingkaran kecil yang ada di atas kepala malaikat? Aku kehilangan benda itu,"

"Jadi benda itu benar-benar ada ya? Kukira hanya mitos manusia saja," makanan kami datang dan tanpa menunggu lebih lama aku segera menyantapnya.

"Jadi, setelah makan kau masih mau mencarinya lagi di sini?"

"Ya. Aku masih merasakan keberadaannya di dekat sini." Jawabku dengan mulut yang penuh makanan. Untung makananku tidak menyembur keluar.

"Hei, Sora. Ada nasi yang menempel di bibirmu," katanya sambil menyentuh bibirnya dengan tangan.

"Betulkah?" aku buru-buru membersihkannya dengan tangan.

"Bukan sebelah situ," dia mengambil tisu dan mendekat ke arahku. Aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba tapi tetap tak bergerak saat tangannya menyentuh bibirku dan membersihkan nasi yang menempel. Wajahku kembali merah tapi kurasa dia tak menyadarinya.

"Makanmu berantakan sekali. Kau lapar sekali ya?" katanya lalu melanjutkan makan.

Aku hanya bisa mengangguk dan menunduk kemudian melanjutkan makan dengan pelan. Kuharap dia tidak melihat wajahku yang memerah.

#

.

#

Kami sudah berputar-putar sehingga kakiku terasa pegal. Namun aku merasa keberadaan Angel's Ring memudar. Kami memutuskan untuk pergi dan satu hari lagi terlewati tanpa hasil yang baik. Tetap tak ada petunjuk dimana sebenarnya benda itu.

Selama perjalanan pulang aku hanya terdiam. Kupikir Yamato juga sadar bahwa aku sedikit putus asa dengan pencarianku yang tanpa ujung ini karena dia pun diam. Aku baru bicara ketika sadar bahwa kami tidak menuju apartemen Yamato.

"Kita mau kemana?" teriakku karena suasana jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan bermotor yang lalu lalang.

"Lihat saja sendiri," katanya sambil melepas tangan kiri dari kemudi motor dan menunjuk arah yang akan kami tuju. Aku melihat sebuah pantai dengan pasir yang putih dan ombaknya yang menggulung. Dia menghentikan motor dan memarkirnya di pinggir jalan.

"Menurutku kau butuh refreshing sedikit, maaf kalau kau tak suka," katanya dan berdiri di sampingku yang sedang melihat lautan yang luas dan terlihat tanpa ujung.

"Ayo," dia menarik tanganku dan kami berlari ke arah laut. Kami melepas alas kaki yang kami pakai dan aku merasakan air laut yang dingin menyentuh kakiku. Yamato menyemprotkan air laut ke arahku dan membuat bajuku basah. Aku yang terkejut melihatnya tertawa dan berlari menjauhiku.

"Awas kau!" kataku dan mengejarnya. Kurasakan pasir pantai yang lembut ketika aku berlari. Aku berhasil menangkapnya dan membuatnya terjatuh dan pakaiannya kuyup. Dia terus tertawa sedangkan aku terus berusaha membuatnya lebih kuyup lagi.

Tanpa terasa matahari semakin tergelincir dan kami terduduk di tepi pantai dan beristirahat. Aku memejamkan mata dan merasakan angin laut yang dingin menerpa tubuh dan bajuku yang basah dan membuatku agak menggigil kedinginan. Namun tak berapa lama aku merasakan sebuah kain tebal membungkus tubuhku membuatku agak hangat.

Saat kubuka mata, kulihat jaket Yamato menutup tubuhku yang basah. Aku baru sadar bahwa Yamato telah membuka jaketnya agar tidak basah sebelumnya.

"Maaf ya jadi membuatmu kedinginan," katanya seraya merapatkan kedua tangannya di depan mukanya.

"Bajumu lebih basah, lebih baik kau yang pakai," kataku seraya berusaha melepas jaket tapi dia menghentikan gerakanku.

"Kau saja," kemudian melanjutkan, "Sebenarnya aku membawamu kesini untuk memperlihatkan sesuatu padamu," dia menunjuk ke arah matahari yang mulai terbenam.

"Cantik sekali," kataku melihat langit berwarna merah. Aku menikmati pemandangan indah yang terpampang di depan kedua mataku bagai sebuah lukisan yang tanpa cacat. Kemudian aku sadar bahwa Yamato masih melihat ke arahku. Aku memalingkan mataku dari pandangan indah matahari terbenam dan menatap wajahnya yang tak kalah indah menurutku.

Lama kami saling bertatapan sebelum akhirnya dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan kurasakan bibirnya yang lembut menyentuh bibirku. Kami-sama, akhirnya aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padanya yang seorang manusia.

#

.

#

Kami pulang dalam diam. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan setelah kejadian tadi dan aku tak berani bertanya maksud perbuatannya tersebut. Yang kulakukan hanyalah terdiam dan memeluknya dari belakang. Sesekali dia bersin kecil, pasti dia masuk angin karena basah dan terkena angin malam. Ini salahku karena membuatnya kuyup.

"Gomen," kataku saat kami sampai di apartemen. Dia berhenti naik tangga.

"Kau minta maaf untuk apa?" katanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Apa dia marah padaku?

"Ka – karena membuatmu masuk angin seperti ini," dia terlihat mengambil napas panjang dan kembali berjalan. Aku tertunduk lesu dan mengikuti langkahnya gontai.

#

.

#

~Yamato's POV~

Apa yang telah kulakukan? Aku menciumnya padahal aku tahu itu tak boleh. Dia bukan siapa-siapaku dan bahkan aku tak tahu asal-usulnya. Aku merasa bersalah saat dia minta maaf padaku. Harusnya aku yang minta maaf padanya. Sampai di apartemen aku tak menggubrisnya sama sekali. Aku tak menjawab perkataannya. Aku menganggapnya tak ada meskipun dia duduk di sebelahku.

Wajahnya terlihat sangat sedih. Aku tak mau menatapnya lebih lama dan memusatkan mata pada televisi yang tak tahu sedang menyiarkan apa. Semakin malam suasana semakin sunyi dan tiba-tiba kepalanya terjatuh ke pundakku. Ternyata dia tertidur.

Kulihat bekas air mata yang mulai mengering di pipinya. Aku menggendongnya menuju kamar dan meletakkannya di atas ranjang. Kulebarkan selimutnya sehingga tubuhnya tertutup seluruhnya.

"Maaf. Aku tak bermaksud mengacuhkanmu. Aku tak tahu apa lagi yang akan kulakukan jika aku tak mengacuhkanmu seperti tadi," aku menggenggam tangannya.

"Maafkan aku."

#

.

#

Aku berada dalam kekosongan berwarna putih. Aku tak tahu berada dimana dan bagaimana aku bisa sampai di sini. Yang ada hanyalah warna putih.

'Dimana aku?' aku mencoba berjalan. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berjalan namun tak ada yang berubah. Tempat ini masih berwarna putih dan tak ada apapun.

Saat aku mulai kebingungan, samar-samar aku melihat seseorang berjalan mendekat. Tidak – bukan berjalan tapi melayang. Dia adalah laki-laki bersayap berambut coklat.

"Siapa kau?" tanyaku dan menatapnya tajam.

"Kembalikan benda itu padanya," dia bersuara tetapi seakan-akan suaranya berasal dari tempat yang jauh.

"Benda apa?" aku sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakannya.

"Benda yang dicarinya," lambat laun keberadaannya mulai memudar.

"Hei, tunggu! Aku tak mengerti maksud perkataanmu," kataku dan berusaha menangkap keberadaannya tapi dia sudah tak berada di sana.

Suara alarm membuatku tersadar. Aku harus kuliah hari ini karena kemarin aku sudah bolos dan seingatku hari ini ada kuis. Gawat – aku lupa belajar.

Aku masuk ke kamar dan melihat Sora masih tertidur. Aku masuk kamar mandi dan membasuh diri. Begitu selesai, aku tak melihat dia di ranjang. Dia pasti terbangun dan aku tahu dimana harus mencarinya. Dapur.

Di meja makan kulihat sarapan sudah tersedia. Kami makan bersama dalam diam.

"Hari ini kau akan mencarinya lagi?" aku mulai membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk sekilas dan kembali meneruskan makan.

"Jangan terlalu memaksakan diri dan hati-hati. Maaf aku tak bisa menemanimu hari ini."

#

.

#

Matahari sudah tergelincir ke barat ketika aku kelas selesai. Aku tak tahu apa yang kutulis di lembar jawaban tadi. Inilah akibatnya apabila tidak belajar.

Aku keluar dari gedung kuliah ketika seseorang memanggilku, "Yamato!"

Kulihat Joe berlari ke arahku. Dia terlihat kehabisan napas padahal jarak larinya pendek. Dia memang tidak berbakat dalam olahraga.

"Aku mencarimu dari tadi," katanya sambil mengatur napas.

"Ada apa? Ayo kita duduk di bangku taman," musim panas mulai menjelang sehingga daun-daun mulai kering.

"Aku mencarimu sehubungan dengan benda yang kau berikan kemarin. Aku mau mengembalikannya padamu," katanya seraya mengeluarkan benda yang kuberikan kemarin.

"Kenapa kau mengembalikannya? Kau sudah selesai menelitinya? Cepat sekali," kataku heran.

"Aku sampai bergadang menelitinya. Aku bahkan belum tidur."

"Betulkah? Lalu benda apa ini?"

"Justru itu masalahnya. Aku sama sekali tak punya ide benda apa ini."

"Apa?"

"Kau tahu tidak? Aku memukulnya dengan palu dan benda itu tidak bergeming sedikitpun. Gompal sedikitpun tak ada."

"APAAA? Kau berniat menghancurkannya ya?" aku semakin kaget.

"Hal itu terjadi karena aku sama sekali tak menemukan kesamaan bahan dari benda ini dengan logam atau padatan manapun. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya," kemudian dia melanjutkan, "Jadi kesimpulanku, benda ini bukanlah benda bumi atau setidaknya yang membuatnya bukan manusia."

Mendengar hal ini, ingatanku kembali kepada Sora. Sora yang mencari benda yang dihilangkannya di kamarku. Sora yang mencari benda yang dihilangkannya di sekolah Takeru. Sora yang mencari benda yang dihilangkannya di kampusku. Sora yang – bukan makhluk bumi dan bukan manusia.

'Kembalikan benda itu padanya!'

'Benda yang dicarinya.'

TO BE CONTINUED

Halo semua readers. Akhirnya saya berhasil mengupdate fic ini. ~lega

Tapi entah kenapa chapter ini jadi lebih pendek dari yang sebelumnya. TT Sebenarnya mau saya tamatkan pada chapter ini karena saya sudah bingung mau bikin adegan apalagi. Dengan adegan *chu chu* di atas rate tidak salah kan? (Mohon segera beri tahu saya apabila saya salah memberi rate.) Di chapter ini Joe muncul sebagai cameo. Apabila readers ada yang suka sama Joe, saya mohon maaf kalau scene-nya hanya sedikit.

Terima kasih banyak masih mau membaca dan mereview fic saya. m(_ _)m

To fariacchi : Tentu saja. Malu nanti sama yang ngajarin. *colek-colek senpai. Masa keterangan POV-nya ga ada? Di awal itu Cuma ada POV Sora kok. POV Yamato baru muncul di bawah. Untuk POV Sora memang sengaja tidak saya cantumkan karena dia adalah pemeran utama. Fandom sebelah maksudnya yang mana ya? :p

To Sanich Iyonni : Uhuk. *keselek*. Maksudnya dikemas tidak seperti sinetron abal Indonesia nyindir atau muji? *deg degan* . Kalo masalah alur, gimana ya senpai? Soalnya dari awal saya buat setting ceritanya cuma selama 7 hari dan kalo dilihat-lihat, chapter depan adalah hari terakhir. Jadi mau tak mau, fic ini harus diselesaikan di chapter depan. Gomen. (_ _) . Kalo soal endingnya, mari dilihat di chapter depan.

To Sekar-Nasri : pertama-tama maaf ya senpai penulisan penname-nya tidak sesuai dengan yang asli. (Baru tahu kalo . tidak terpublish di FFN). Saya maafkan. Saya sudah senang kalau ada yang baca. Oiya, salam kenal. Terima kasih sambutannya. Kalo soal Sorato mungkin di fic selanjutnya akan dimunculkan?

Mohon dimaklumi apabila chapter depan lebih pendek lagi karena saya hanya akan memasukkan adegan klimaks dan pengantarnya. (Author banyak maunya nih.)

Kritik dan saran diterima dengan hati yang lapang dan jiwa yang luas. Author masih baru jadi mohon dimaafkan apabila masih banyak kesalahan disana-sini karena saya hanya manusia biasa.

Ayay mohon diri dan sampai jumpa di chapter selanjutnya. (_ _)

Thanks for Read and maybe Review

*kedip kedip*