Digimon belongs to : Akiyoshi Hongo, TOEI animation dan Bandai Corps.


Angel's Ring

Last Chapter : I'm Back

~Yamato's POV~

Tatapan matanya kosong. Saat kutanya, butuh beberapa saat sebelum dia bereaksi. Itupun hanya untuk bertanya apa yang kubicarakan karena dia tidak mendengarkan. Setelah itu, dia lebih sering diam. Seingatku, hari ini adalah hari terakhir baginya untuk mencari Angel's Ring.

Benda itu masih berada di dalam tasku. Apa kukembalikan saja sekarang?

Tapi jika dia menemukannya, itu artinya dia akan kembali ke dunianya dan meninggalkanku, bukan? Tidak – aku tak mau hal itu terjadi. Aku mencintainya dan itu berarti dia harus berada di sampingku. Aku harus melakukan sesuatu agar dia melupakannya.

"Sora!" panggilku padanya yang sedang melamun di beranda.

"Ayo kita jalan-jalan."

#

.

#

Hari ini taman hiburan tidak terlalu ramai. Liburan sekolah memang belum mulai, jadi yang tersisa hanyalah pasangan yang cuti kerja dan anak sekolah yang terlalu nakal untuk bolos sekolah. Hal ini menguntungkan karena terus terang aku benci mengantri.

"Pertama-tama kau mau naik apa?" tanyaku padanya yang masih terkesiap dengan pemandangan berwarna-warni yang ada di hadapannya.

"A – aku tak tahu. Tempat apa ini?"

"Tempat ini namanya taman hiburan. Disini banyak wahana yang bisa kita coba. Ah – bagaimana kalau kita coba ontang anting?" ajakku dan menariknya untuk ikut mengantri. Antrian tidak terlalu panjang, jadi kami bisa langsung naik pada putaran berikutnya.

"Duduk di sini. Pasang pengamannya dan nikmatilah. Aku tepat berada di sampingmu," kataku seraya memasangkan pengaman pada tempatnya. Kemudian aku sendiri duduk di sampingnya. Wahana mulai berjalan. Awalnya berputar pelan sebelum akhirnya semakin kencang dan mulai naik ke atas.

Saat di titik tertinggi, wahana terus berputar dan bergerak naik turun secara konstan. Aku berpaling dan Sora terlihat menikmatinya. Dia memejamkan mata dan tersenyum kecil. Rambutnya yang tidak terlalu panjang terbawa angin.

Lama-kelamaan wahana mulai turun dan putarannya semakin perlahan hingga akhirnya berhenti sama sekali. Ku jemput Sora dari tempat duduknya dan kami keluar dari area wahana.

"Bagaimana tanggapanmu? Menyenangkan, bukan?" tanyaku bersemangat. Masih banyak wahana yang ingin kuperlihatkan padanya.

"Ya. Aku merasa seperti terbang," katanya dan melanjutkan, "Aku terlalu sok tahu. Padahal aku belum pernah terbang sebelumnya karena belum punya sayap."

Dia tersenyum kecut dan membuatku terdiam sesaat sebelum mengajaknya menaiki wahana lainnya.

#

.

#

Kami tidak mendapat tempat di dalam kafe saat makan siang, jadi kami memutuskan untuk memesan makanan dan makan di luar. Setidaknya, kami masih bisa makan di bawah pepohonan yang rindang. Hal itu masih lebih baik daripada harus berdesak-desakan di dalam kafe yang sebenarnya sudah tidak muat namun masih dipaksakan untuk menampung tamu-tamu yang hendak makan. Memikirkannya saja sudah membuatku keringatan.

Aku menyuruhnya menunggu dan duduk santai di bawah pohon dan aku memesan makanan. Saat aku kembali, dia sedang asyik bermain bersama anak-anak kecil dan badut yang berbentuk seperti anak burung berwarna merah muda.

"Ah, teman kakak sudah datang. Kakak mau makan dulu ya. Kalian bersenang-senanglah dengan paman badut."

"Yaaah... kakak jangan pergi. Kami kan masih ingin bermain dengan kakak," kelihatannya mereka sudah akrab sekali, padahal aku yakin belum juga setengah jam mereka berkenalan.

"Perut kakak sudah lapar sekali. Dengar, sepertinya barusan perut kakak berbunyi. Kalian kan sudah makan, sekarang saatnya kakak untuk makan. Dah!" dia berlari kecil menghampiriku. Namun aku sempat melihat pandangan sedihnya pada badut itu. Ada apa?

"Ada apa?" dia memandangku bingung, tak mengerti pertanyaanku.

"Apanya?"

"Kenapa kau memandang badut itu seperti itu?"

"Oh, badut itu? Badut itu membuatku ingat pada partnerku." Katanya dan mulai makan.

"Partner?" tanyaku bingung.

"Ya, partner. Setiap malaikat mempunyai partner dan badut tadi mirip sekali dengan partnerku. Maka dari itu aku menghampirinya," sepertinya Kami-sama tidak menyetujui perbuatanku yang jahat padanya. Tujuanku mengajaknya kesini agar dia melupakan semuanya malahan membuatnya semakin teringat tempat asalnya.

#

.

#

Semakin lama waktu berjalan, aku semakin tak yakin dengan keputusanku. Aku yang tadinya sangat bersemangat sekarang mulai merasa bersalah. Angel's Ring masih ada di dalam tasku. Aku tak tahu kenapa aku membawanya. Mungkin di dalam hatiku masih ada keinginan untuk mengembalikan benda itu. Entahlah.

"Yamato, rumah apa itu?" aku mengikuti jarinya yang menunjuk ke sebuah rumah. Rumah yang terbuat dari kayu dan memiliki lampu berwarna-warni yang senantiasa berkedap-kedip dan memantulkannya ke segala arah. Terdapat papan kayu bertuliskan 'labyrinth house'.

"Itu rumah labirin."

"Labirin? Apa itu?" tanyanya penasaran.

"Apabila kita masuk ke dalamnya, akan terdapat banyak jalan yang harus kita pilih. Terkadang mungkin sial sehingga jalan yang kita pilih itu buntu. Artinya, kita harus mencari jalan lain. Inti dari wahana ini adalah menemukan jalan keluar," kataku menjelaskan.

"Sepertinya menarik. Aku ingin mencobanya," katanya dan menarik tanganku.

"Selamat datang di labyrinth house. Hari ini adalah hari istimewa bagi wahana kami karena baru saja selesai dipugar. Aturan baru dari wahana kami adalah, setiap pasangan yang akan bermain harus masuk ke dalam wahana dari pintu yang berbeda," penjaga pintu masuk itu kembali menjelaskan.

"Untuk laki-laki silahkan masuk melewati pintu barat sedangkan perempuan masuk melewati pintu timur. Selain itu, terdapat legenda dari wahana baru kami, bagi pasangan yang bertemu di tengah perjalanan menuju pintu keluar diyakini hubungannya akan abadi. Sekian penjelasan dari saya. Terima kasih atas perhatiannya dan selamat menikmati wahana baru kami."

"Sampai bertemu nanti, Yamato. Berusahalah agar tidak tersesat di dalam," katanya dan mulai berlari kecil ke pintu timur. Sebenarnya aku tak mau berpisah dengannya karena aku takut tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku menyentuh ranselku sekilas hanya untuk memastikan bahwa benda itu masih aman di punggungku kemudian berjalan gontai menuju pintu masuk.

Di dalam gelap sekali. Banyak cermin yang memantulkan bayanganku. Cermin-cermin itu aneh. Ada cermin yang membuatku terlihat gendut dan pendek. Namun ada juga cermin yang membuatku terlihat sangat kurus dan tinggi. Aku bergidik melihat penampilanku yang berubah-ubah seperti itu. Karena melemun, orang-orang yang masuk bersamaan denganku sudah tak terlihat. Kufokuskan pikiranku untuk mencari Sora.

Entah sudah berapa lama aku berada di dalam karena jamku tiba-tiba tidak berfungsi. Padahal aku yakin jam itu masih berjalan saat aku masih di luar. Belum kulihat tanda-tanda aku akan bertemu Sora. Aku bahkan tak berpapasan dengan satu orangpun. Saat itulah kurasakan udara dingin menyambar tengkukku. Sontak aku merinding ketika melihat bayangan berwarna putih berkelebat di cermin di depanku. Aku menoleh dan tak melihat apapun. Hey! Apa rumah ini juga rumah hantu?

Kemudian satu bayangan menarik perhatianku. Seorang laki-laki bersayap memeluk Sora dan mulai terbang menuju atap dan semakin lama semakin mengabur. Aku berlari mencoba menangkap Sora.

BRAAK!

Aku menabrak sesuatu. Ya! Itu cermin. Apakah ini semua hanya khayalanku? Lalu dimana Sora yang sebenarnya berada?

Aku bangun dan mulai berlari. Aku harus menemukan Sora. Sayangnya jalan yang kupilih buntu dan terpaksa aku kembali ke tempat semula dan menuju jalan yang lain.

"Sora!"

Aku mulai berteriak-teriak memanggilnya. Kulihat seorang wanita sedang berjalan dengan hati-hati di depanku. Dia menoleh mendengarku meneriakkan namanya. Aku langsung memeluknya dengan erat seakan aku tak ingin berpisah dengannya. Tak kupedulikan nafasku yang putus-putus.

"Ada apa Yamato? Kenapa kau berlari seperti itu?" katanya dan mulai mengelus rambutku. Aku bersyukur dia tidak mencoba melepaskan diri dari pelukanku.

"Tak ada apa-apa. Ayo kita keluar dari sini."

~End of Yamato's POV~

#

.

#

Matahari sudah terbenam dan hari mulai gelap sehingga lampu-lampu mulai dinyalakan. Kami sedang antri di wahana yang bernama komidi putar. Wahana ini besar sekali dan berbentuk bundar. Aku tak sabar ingin segera menaikinya.

Setelah keluar dari 'labyrinth house', sikap Yamato aneh sekali. Dia menjadi pendiam dan sering melamun. Aku khawatir, jangan-jangan dia sakit?

Akhirnya antrian mulai berjalan dan kami bersiap menaiki wahana. Wahana mulai berputar dan tempat duduk yang kami naiki mulai beranjak ke atas. Pemandangan malam hari dari atas sangat indah. Banyak sekali lampu yang menyala membuat bumi terlihat seperti angkasa yang penuh dengan bintang-bintang. Aku sadar Yamato dari tadi memandangiku dengan pandangan yang sangat sedih. Ada apa sebenarnya? Apa dia tidak takjub melihat pemandangan yang indah seperti ini? Atau hal ini adalah hal yang biasa baginya?

#

.

#

Begitu sampai di rumah waktu menunjukkan setengah dua belas malam. Aku sudah tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku tegang sekali memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi malam ini. Kami masuk ke dalam apartemen dalam diam. Sunyi dan gelap. Yamato menyalakan lampu dan kulihat meja makan yang sudah tersusun rapi dengan banyak sekali makanan di atasnya.

"Kau pasti lapar. Ayo kita makan," katanya dan membawaku ke kursi, menyalakan lilin serta menyiapkan piring.

"Kau yang mempersiapkan semua ini?" tanyaku takjub.

"Tentu saja. Menurutmu siapa lagi?" katanya dan duduk di kursinya sendiri, "Meskipun dibantu oleh pengurus apartemen."

"Untuk apa?" dia tidak menjawab dan mulai makan. Aku mulai menyantap hidangan dan kami makan dalam diam.

#

.

#

Waktu hampir menunjukkan tepat tengah malam saat kami selesai makan. Saat itulah aku melihat seseorang – bukan – malaikat yang sangat kukenal masuk melalui beranda yang terbuka.

"Taichi-san?" dia tersenyum.

"Sudah waktunya kau kembali, Sora."

"Ta – tapi, aku belum menemukan Angel's Ring milikku."

"Kau sudah menemukannya." Yamato memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Salah satu tangannya memegang Angel's Ring milikku.

"Bagaimana bisa -" kurasakan pundakku basah. Apa Yamato menangis? Aku hampir berbalik ketika dia membisikkan sesuatu di telingaku.

"Aishiteru, Sora."

Aku terdiam, terkejut mendengar pernyataannya. Tak sadar saat Angel's Ring sudah beralih tangan dan sekarang berada dalam genggaman tanganku.

"Pergilah!" katanya dan mendorong tubuhku pelan. Taichi menangkap tubuhku.

Aku berbalik dan melihatnya tersenyum.

"Jadilah malaikat yang baik."

Saat berikutnya aku sudah berada gerbang dunia malaikat. Piyomon memelukku dengan erat.

#

.

#

"Kau yakin dengan keputusanmu?"

"Ya."

"Kau sudah memikirkannya dengan baik?"

"Ya. Aku yakin dengan keputusanku."

#

.

#

~Yamato's POV~

Sudah beberapa hari ini aku tidak masuk kuliah dan kerja. Setiap hari hanya berbaring di ranjang. Terkadang lupa makan. Pada hari Takeru menginap di rumah, aku tidak menjemputnya. Takeru yang khawatir berjalan sendiri ke rumahku. Dia bilang wajahku pucat. Dia menanyakan tentang Sora. Aku hanya diam.

Keesokan harinya ibu ke tempatku. Memaksaku pergi ke dokter. Namun menyerah saat aku tak mau dan akhirnya memasakkan makanan untukku dan berangkat kerja setelah memastikan aku makan cukup banyak.

Sorenya ayah menelepon dari Perancis. Menanyakan kabarku, apakah ada yang tidak beres. Tak ada – aku hanya sedikit patah hati.

#

.

#

Malam itu langit sangat cerah. Aku bisa melihat bintang- bintang bertebaran di langit melalui jendela kamarku. Aku tertidur.

Seseorang mencium pipiku. Atau aku hanya mimpi. Aku terbangun mendapati cahaya – seseorang yang bercahaya berada di dalam kamarku.

"Yamato, aku adalah malaikat yang akan memberimu kebahagiaan."

"Mengapa? Apa yang telah kulakukan?"

"Kau telah membantu malaikat bernama Sora menemukan benda yang sangat berharga untuknya. Oleh karena itu, aku akan mengabulkan permintaanmu."

Aku mendekatinya dan memegang tangannya.

"Maukah kau menikah denganku dan berada di sampingku untuk selamanya?"

Cahaya itu semakin lama memudar. Tampaklah Sora yang sedang tersenyum. Sayap putih rontok satu persatu dan menjadi kunang-kunang yang terbang menjauh. Angel's Ring semakin mengecil hingga ukuran jari dan melayang ke arahku.

"Ya. Aku juga mencintaimu, Yamato."

Angel's Ring pas sekali di jari manisnya.

THE END


Akhirnya fic ini selesai juga. Gajekah? Maaf apabila ada yang kecewa dengan endingnya. m(_ _)m

Untuk yang sudah review, terima kasih banyak.

Ougon 22 Makasih ya Ougon-san udah review. Maaf ya jadi membuat anda geregetan karena ke-lemot-an Yamato.

Sekar-Nasri Iya, yang bicara di mimpinya Yamato itu Taichi. Semoga Sekar-san tidak kecewa dengan endingnya.

Sanich Iyonni Maaf ya update-nya lama sekali. Semoga Sanich-san tidak kecewa ya.

Sekali lagi terima kasih untuk semua pembaca Angel's Ring. Mohon maaf apabila banyak kekurangan disana-sini karena author hanyalah manusia biasa.

Ayay mohon diri dan sampai jumpa di fic selanjutnya. (_ _)

Thanks for Read and Review.

Sayonara. Annyeong. Good Bye. Adios.