Yosh. Tema ke 11-20 kali ini. 80 to go! Maaf kalo makin pendek, saya emang orangnya spontan. Lihat saja fic ini sebagai satu fast-paced fic.


100 Themes Fanfic Challenge (11-20)

11. Memory
Tiga tahun berlalu sejak aku keluar dari Wammy's. Sekarang aku telah menjadi salah satu anggota mafia yang paling berharga. Semua orang mengikuti petunjukku karena aku memang yang paling pintar diantara orang-orang itu.

Tiga tahun berlalu sejak aku menjatuhkan segalanya milikku. Kedamaian dari dalam hidupku telah direnggut. Yang tersisa hanyalah ketidak pastian dan kegelapan dalam setiap hari yang kujalani.

Tiga tahun berlalu sejak aku meninggalkan orang yang paling aku sayangi. Matt adalah harta yang tidak bisa tergantikan. Aku baru menyadarinya ketika aku berada jauh dari dirinya. Namun, aku tetap bersikukuh bahwa aku telah membuat keputusan yang terbaik. Anak itu tidak bisa masuk ke dalam kehidupan seperti ini.

"Matt, apa menurutmu kau bisa mendapat juara ke-tiga?" Aku bertanya sambil menyilangkan tanganku.

"Hah? Maksudmu?"

"Juara ke-tiga di Wammy's tidak cukup hebat. Nilainya tidak dapat dibandingkan dengan nilaiku."

"Bukannya bagus? Jadi tidak ada kompetisi."

"Ya... bisa dibilang."

"Tapi..." Matt memalingkan wajahnya dari PSP di tangannya, menatapku lekat. "Aku akan coba."

Sebuah senyuman terukir di bibirku. Apa yang tidak akan kukorbankan untuk melihat wajah bahagia milik bocah itu?

Aku mengenakan jaket hitamku dan berjalan masuk ke gudang bersama beberapa anggota mafia yang lain.

"Berikutnya adalah Sayu Yagami."

12. Insanity
Sosok Soichiro Yagami memasuki ruang bawah tanah milikku membuatku berpikir bahwa rencanaku berjalan dengan lancar. Melalui mata CCTV, aku memandang bagaimana sebuah nama telah ditulis di dalam Death Note yang ia bawa.

... 40 detik ...

Seseorang di dalam base itu terjatuh. Itu adalah buku yang asli. Dengan itu, aku menyerahkan Sayu Yagami untuk dibawa kembali oleh sang ayah. Ha, itu terdengar sangat jelek di telinga. Sayu Yagami berjalan bersama Soichiro kembali? Mungkin terdengar lebih baik.

13. Fortunate
Ya ya ya, aku tahu ini akan terjadi namun, aku cukup yakin kau pikir aku tidak senekat ini, Near. Silakan memilih salah satu yang akan kau ikuti.

Helicopter? As you wish, dickhead.

"Hapus dia." Dengan satu perintah yang keluar dari mulutku, helikopter itu meledak menjadi serpihan-serpihan kecil, membunuh siapapun ia yang ada di dalam. Aku bahkan tak ingat namanya lagi. Korban memang selalu dibutuhkan.

Near, kau bodoh.

Kau akan kalah.

Aku pemenangnya.

14. Smile
Hanya tersisa satu Death Note ditangan Kira. Hmm, sebenarnya aku bisa membuat satu orang disini menulis nama Near... tapi kalau aku melakukan itu aku hanya pengecut, ya?

Aku lebih suka menghancurkannya perlahan. Dan aku akan.

Dewa kemenangan dan keberuntungan ada disisiku.

...

Andai saja dewi cinta ada disisiku.

...

Matt

...

15. Silence
S-sial...

"Mello, kau kenapa?" Rodd menatap kearahku yang terlihat kesal. "Mello?"

"A-aku mau ke kamar." Dengan itu, aku beranjak dari sofa dan masuk ke kamar, menutup pintu rapat dan duduk di kasur. 'Matt...' Tidak bisa menahan diri, aku menggerakan tanganku ke celana kulit dan merasakan ereksiku yang sudah mengeras.

'Matt...'

Sambil terus membayangkan wajahnya, aku membuka ikat pinggang yang melingkari pinggulku dan menurunkan celana kulit milikku. Perlahan mengunci pintu dan terus menurunkan celana tersebut hingga aku dapat melihat ereksiku.

16. Illusion
"Mello..." Matt berbisik di telingaku dengan napasnya yang berat.

"M-Matt... nnh..."

Ia menggerakan tangannya naik turun di daerah ereksiku dan menjilat leherku, membuatku mengerang pelan.

"Ahhnn..."

"Lebih Matt, lebih..."

"Ya... nn..."

"Disini, Mello?"

"M-mnhh!" Aku menutup mulutku untuk mengurangi suara yang keluar sementara tangan kiriku terus bergerak untuk meraba bagian selangkanganku.

17. Blood
'Ini tidak terjadi. Sidoh seharusnya melapor bahwa ada intruder!' Benakku sambil berlari kencang, berusaha mencari Death Note.

Suara rentetan peluru terus berbunyi, memekakkan telingaku. Satu persatu anggota mafia berjatuhan ke tanah dengan tubuh bersimbah darah. Pemandangan yang sangat mengerikan, percayalah.

Damn you sick bastard, Kira.

Beberapa saat kemudian, seseorang mendobrak masuk ke ruanganku. Soichiro Yagami...

"Mihael Keehl..."

'B-bagaimana?' Aku tersentak kaget mendengar nama yang sudah lama tidak kudengar keluar dari mulut orang. Tanpa ragu-ragu, aku menekan tombol di tanganku, otomatis mengatifkan semua bom yang ter-install di seluruh gedung, meledakkan segalanya. Aku dapat mendengar kericuhan. Para polisi itu tengah membantu Soichiro Yagami berjalan.

Fuck all of you.

Fuck everyone.

Well except Matt, that is.

Menyadari helm yang kugunakan nyaris meleleh akibat panasnya api yang berkobar, aku melempar benda tersebut dan berdiri menantang api. Aku mengepalkan kedua tanganku dan menggigit bibirku mengetahui aku tak akan keluar hidup dari tempat itu. Sebuah kayu terjatuh tepat di bagian kiri wajahku. Aku berteriak kesakitan dan jatuh tertelungkup ke lantai.

Dengan mata kanan masih terbuka sedikit, aku melihat darah berjatuhan dari bagian kiri wajahku. Tangan kananku menggenggam rosary sambil berdoa. Entah agar aku selamat atau untuk aku bisa masuk ke surga...

18. Rainbow
'Siapa itu...' Benakku ketika samar-samar melihat seseorang datang dan mengangkat tubuhku dengan yakin.

'Siapa kau...' Dengan mata yang nyaris tertutup, aku merasakan darah terus mengalir, mengotori baju orang itu namun, ia sepertinya tidak peduli.

'Hey...' Tanpa berkata apa-apa, orang itu menggendongku; memelukku.

'...' Sebuah kehangatan yang sangat menenangkan. Dengan itu, aku menutup kedua mataku dan membiarkan orang tersebut membawaku.

...

Matt?

...

19. Gray
Mataku terbuka perlahan dan menyentuh apapun itu yang menghalangi pandangan sebelah kiri-ku.

Perban?

Aku melirik ke sisi. Aku telanjang dada dengan perban melekat dimana-mana. Benar-benar rapi...

Masalah yang lebih penting. Dimana ini?

Ruangan itu begitu asing. Bau rokok ada di mana-mana. Dengan satu helaan napas, aku membuka jendela di atas tempat tidur dan menghirup hawa segar. Aku sedang memejamkan kedua mataku ketika satu tangan menepuk pundakku. Otomatis, aku membalikan tubuhku.

...

"Kau bangun juga..." Senyumnya.

20. Forting
"You got me so damn worried!" Ia langsung memeluk tubuhku erat. "K-kau harus setidaknya meninggalkan pesan kalau kau mau pergi!"

"Matt... itu... kau?"

"Siapa lagi?" Senyuman itu... aku benar-benar merindukan senyuman itu. "Missed you..."

Aku melarang diriku sendiri untuk mendorong dan memperkosa anak itu karena rasa kehilangan yang ada di dalam hatiku.

'You have no idea how I missed you... Definitely more than you do, Matt...'

"A-aku sangat khawatir dengan keadaanmu! Aku... selalu mau bertemu denganmu..."

'You have no idea how I worried about you... Definitely more than you do, Matt...'

"Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi..."

'I'm the one who should beg and kneel in front of you, Matt...'

Menyadari aku sedang tidak bisa berbicara, Matt hanya tersenyum manis sebelum ia mendaratkan sebuah kecupan manis di bibirku.

Ah... andai saja ego-ku tidak terlalu besar untuk menungkapkan sebagaimana besar aku telah merindukan sensasi itu...

~ つづく ~


Review yah XD

16. In case kalian ngga yakin, itu Mello lagi masturbating dengan mikirin Matt

17. "Clenching my fists" Saya harus ngeliat dictionary buat terjemahin itu jadi "Mengepalkan tanganku" =A= cacat...