hai, aku datang hehe, ini IchiHime (setelah sebelumnya banyak yang expecting HitsuHina) ini buat rekues dari Akasuna Nee.Maaf lama, soalnya, ya... banyak faktor merepotkan. here you are... =}


"Ini untukmu," sebuah balon baby blue diserahkan pada anak kecil yang masih bermata sembab.

"Dan kamu, ini," sebuah lollipop besar sedetik kemudian telah berada pada genggaman gadis kecil yang lain.

"Jangan menangis lagi, ya? Ayo, bersenang-senanglah! Kalian mau main apa? Nee-chan akan menemani."

Rambut oranye muda gadis semampai itu jatuh perlahan melewati bahunya ketika ia merunduk—berdiri pada lututnya. Senyumnya terkembang makin manis ketika dua anak kecil itu mulai tertawa.

"Itu, neechan! Aku mau memanjat itu!"

"Tidak, neechan! Main itu saja! Neechan temani aku di sana!"

Satu anak yang pertama, mulai menarik ujung pakaian gadis itu ke arah tempat permainan tali-temali. Dan yang kedua, memaksanya ke tempat bola besar dari besi terletak. Kerangka bola, maksudnya. Permainan panjat-memanjat juga.

"Nee-chaan, itu saja!"

"Tidak! Tidak mau! Yang itu saja!"

Senyum lebar sang gadis diganti seketika. Ia lebih memilih memberi senyuman kecil nan lembut di saat seperti ini.

"Jangan bertengkar seperti itu. Lebih baik kita ke sana saja," ia bersamaan membelai rambut keduanya. Tangannya mengarah pada permainan di sisi lain halaman, jungkat-jungkit. "Nee-chan akan membelikanmu harum manis jika kalian mau ke sana."

Kedua anak yang berseteru tadi sejenak saling pandang. Seperti yang diharapkan, mereka kemudian saling melempar senyum pula. Mengangguk bersamaan.

"Mauuu!" seru mereka gembira. Tanpa komando, mereka berdua segera berlari ke sana.

Gadis itu lantas tersenyum puas. Ukiran garis tawanya jelas terlihat. Bersama anak kecil di saat seperti ini memang sangat menyenangkan.

. . .

A Bouquet of Flower

.

Bleach, everything related aren't mine. They're Tite Kubo's

I just own the plot, and the weird theory of 'colour' =w="

.

Part 2

. . .

Hm, menurutmu bunga itu hanya sebagai tanaman-tanaman kecil di tepi jalan—yang tidak begitu terlihat penting? Tidak. Ia penting bagi seseorang.

Apalagi satu buket bunga untuknya—dari seseorang yang ia harapkan. Itu akan membuatnya mendapat bukti bahwa dunia ini adalah untuk dinikmati dengan kebersamaan. Dan saling membutuhkan.

.

xxx

.

Inoue Orihime. Seorang gadis remaja yang telah dewasa di beberapa aspek pemikirannya.

Hidupnya yang sendiri, tanpa bimbingan orang tua, atau pada pendewasa di atasnya, membuatnya harus menyadari seorang diri bagaimana kehidupan itu sebenarnya.

Bekerja pada sebuah panti asuhan sederhana, ia sering sekali mengerti, kalau tanpa orang tua, tanpa orang yang menyayangi kita, semua tentang dunia itu akan terasa hampa.

Dirinya tahu itu. Orihime pernah merasakannya. Pernah diterpa keputusasaan.

Putus asa—dengan satu pertanyaan. Untuk apa ia hidup jika tidak ada yang menyayangi dia? Tidak ada yang mengharapkan kalau ternyata ia ada—dan ingin mencoba berpijak pada dunia.

Untuk apa perjalanan hidup ditata jika ternyata kita sendiri tidak bisa turut menata hidup orang yang kita sayangi? Alias, sebatang kara.

Ia nyaris mengakhiri hidupnya hanya karena pertanyaan kecil itu.

Tapi kemudian—sebuah jawaban muncul tiba-tiba. Menyala terang di otaknya, dan membatalkan keputusan bodohnya untuk mengakhiri hidup.

Kenapa tidak mencoba menata hidup orang lain yang serupa? Menjadi orang yang berguna dan menyayangi mereka, agar tidak ada lagi orang merasakan apa yang ia rasakan.

Menggenggam tangan mereka yang juga merasa hampa, menariknya dalam kasih sayang, dan membuatnya sadar kalau ia tidak sendirian, dan masih ada yang sayang serta peduli padanya.

Tidakkah itu ide yang sempurrna?

Maka dengan langkah yakin dan senyum optimis, ia mengetuk pintu sebuah panti. Tanpa memikirkan bayaran ataupun semacamnya, ia rela bekerja di sana—membantu mengurus anak-anak yang ia rasa sama seperti dirinya.

Sudah dua tahun lebih ia berdiri dengan keyakinan seperti ini. Dan itu membuatnya lebih dikagumi oleh sang pemilik panti. Berjiwa besar—dan tanggung jawab yang besar dibandingkan dengan yang seusianya, komentar mereka.

Membuat anak-anak yang kesepian itu tertawa, lebih baik baginya daripada mendapatkan satu kantong emas.

Membuat anak-anak itu ceria dari masalah mereka, baginya itu lebih baik daripada satu jaminan hidup mewah untuk pribadinya.

Tapi, satu harapannya masih berpijar, selayaknya suluh yang tersembunyi dalam gua palung hatinya.

Adakah—suatu saat nanti—seseorang datang untuknya, dan menyatakan kalau ia adalah yang dibutuhkan, yang disayangi. Dan yang ingin dibahagiakan.

.

xxx

.

xxx

.

"Kau tadi malam kemana? Aku mengetuk pintu rumahmu berkali-kali."

Orihime hanya tertawa kecil. Dibiarkannya pemuda di sampingnya melanjutkan gerutuannya.

"Kupikir kau sudah tidur. Tapi secepat itu, kupikir kau sakit atau apa."

"Memangnya ada keperluan apa? Hehe, gomenasai, aku tadi malam tidur di panti itu."

"Yuzu memasak sup jamur yang enak, kupikir kau suka. Tapi ternyata kau tidak ada di rumah."

Kurosaki Ichigo. Pemuda itu lagi-lagi melanjutkan omelannya.

"Kalau seperti itu, kupikir kau sakit atau apa!"

"Heee? Gomenasaaii..."

"Sudahlah. Tidak apa. Lain kali jangan seperti itu. Bilang padaku kalau kau tidak ada di rumah."

"Nee, baiklah, Kurosaki-kun!"

Mereka tetap melanjutkan langkah di jalan yang lengang itu. Sebentar-sebentar, siulan kecil menyela. Hingga hening kembali.

"Ah, Kurosaki-kun, tunggu sebentar!"

Orihime berhenti dari langkah kakinya. Ia berjongkok di tepi jalan.

"Ada apa, Inoue?"

"Ini, kasihan..."

Orihime mengusap kelopak merah muda pucat itu. Bunga kecil itu tampak layu, sedikit kering. Sendiri berdiri. Di sekitarnya hanyalah rumput-rumput liar yang seperti tidak peduli ada makhluk manis di sekitar mereka.

Ichigo menaikkan kedua alisnya.

"Aku akan membawanya pulang. Aku tidak suka ia sendirian di sini. Lihat, ia akan layu sebentar lagi!" nada Orihime sedemikian rupa menggambarkan kalau tingkat paniknya tinggi.

Ichigo hanya menggeleng-geleng.

"Memangnya dia bisa merasakan kalau dia sendirian?"

Orihime menyipitkan matanya, tajam ia pandang Ichigo. "Kurosaki-kun, ia juga makhluk hidup!"

Ia lantas mencabut dengan sangat hati-hati mawar itu. Beserta dengan tanah yang menyangganya.

"Dah, Kurosaki-kun! Aku mau menanam ini dulu sebelum dia mati! Jaaa~~" Orihime mengambil langkah seribu, dengan tangan yang tertadah. Menampung mawar itu sebisa tangannya.

Sekejap saja, bayangan Orihime pun sudah tak lagi bisa ditangkap. Larinya cukup cepat rupanya.

Dan itu menyisakan satu sungging senyum pada Ichigo.

"Manis."

.

xxx

.

Ini kali pertama Ichigo bangun pagi dalam satu kali periode panjang. Entah berapa abad sekali ia bisa melakukan hal ini.

Titik-titik bening masih bisa dipakai untuk berkaca di daun-daun sana. Masih segar, masih begitu rapi pemandangan pagi ini.

Belum ada satupun kendaraan yang melintas, belum ada sececerpun polusi yang menyebar.

Ichigo meregangkan otot-otot tangannya. Sedikit kaku akibat tidur tadi. Cukup nyenyak, rasanya.

"Bunga kecil, kau sudah baikan? Di sini lebih enak, kan?"

Ichigo menoleh. Suara lembut Orihime itu membuatnya sedikit tertegun.

Gadis manis itu tersenyum mengusap daun sang mawar kecil. Sekalian ia siramkan sedikit air.

Seksama diperhatikan, mawar itu sudah lebih baik daripada yang Ichigo lihat sekilas kemarin. Ia sudah menegak, beda dengan kemarin yang seperti akan rapuh jika disentuh sedikit saja. Orihime menempatkannya ke dalam pot kecil, dideretkan diantara tanaman-tanaman kecil lain.

Sudah jadi kebiasaan gadis itu, memelihara banyak bunga di halaman kecilnya. Bermacam-macam ditampungnya, entah itu mawar sampai jenis-jenis bunga kecil yang begitu umum.

Hng, sekarang Ichigo bisa menebak. Orihime memelihara sebanyak itu, pasti karena alasan yang kemarin. Alasan yang hampir menjadi perdebatan.

"Ohayou."

"Hng? Oh, Ohayou, Kurosaki-kun!" Orihime membalas dengan senyum paginya. Begitu lebar dan puas.

Hm, selama ini ia cerdas menutupi perasaan. Senyum, andalan wahid untuk memberi kesan kalau ia baik-baik saja. Ya, di balik keinginannya untuk menjadi yang dibutuhkan orang lain.

"Kurosaki-kun, lihat bunga ini! Dia jadi lebih baik, kan? Dia tidak layu lagi."

Ichigo menengok. Batas pagar yang tidak tinggi itu bukan penghalang yang merepotkan.

"Ya, baguslah."

Ichigo hanya menjawab singkat. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

"Bunga kecil, aku membutuhkanmu. Tetap seperti ini, ya. Tenang saja, kau tidak kesepian lagi, kok."

Ichigo yang sudah membalikkan tubuh, tertahan. Ia batal kembali ke dalam, memilih untuk melangkah mendekat pada Orihime lagi.

"Ada apa, Kurosaki-kun?" Orihime yang menyadarinya bergerak dengan pertanyaan.

"... Tidak, tidak. Bukan apa-apa."

Orihime memberi senyum kecil. "Aku tidak mau makhluk sekecil ini juga merasakan sakitnya tidak dibutuhkan oleh sekitarnya."

Hng... dan ini satu kata pamungkas yang membuat Ichigo membatu beku di sana.

.

xxx

.

"Hime-san, bisa minta tolong?"

"Ne? Apa itu?"

Wanita paruh baya itu menyerahkan satu—ah, bukan, setengah sweater. Beserta dengan tiga gulung benang wol, lengkap beserta jarumnya.

"Kau bisa merajut, kan? Bisa selesaikan ini? Ini untuk hadiah ulang tahun anak tertua di sini, Koizumi. Aku harus mengurus sesuatu diluar, tolong, ya."

"Dengan senang hati, baa-chan. Biar kuselesaikan," Orihime dengan tangan terbuka menerima sweater itu. Segera saja ia mulai, walau wanita itu belum selangkahpun pergi darinya.

Ia lanjutkan. Selang-seling, dengan pola yang sama, warna biru, hijau dan putih itu ia satukan, tangkas sekali tangannnya.

"Onee-chan! Temani aku di sana!"

"Tunggu sebentar, Mizuki. Nee-chan sedang menyelesaikan ini."

"Tidak mau! Pokoknya temani aku!"

"Mizuki sayaaang, kakak sedang menyelesaikan ini. Koizumi-kun, berulang tahun besok, sayang kalau tidak selesai hari ini..."

"Hng? Kalau begini sini aku bantu!" anak itu menarik kasar jarum dari tangan Orihime.

Tapi yaa, sebutlah ia anak nakal. Brutal sekali ia menarik-narik asal benang wol itu, hingga rajutan yang sudah separuh jadi berantakan.

"Mizuki!"

Tapi anak itu membalas dengan tatapan super innocent. Seolah tidak ada hal buruk yang ia lakukan beberapa detik lalu.

"Sini kubereskan," ucapnya tanpa sebersitpun rasa bersalah.

"Mizuki, sudah. Kakak bisa mengerjakannya sendiri. Kau bermainlah bersama yang lain. Ah, tepat sekali, sepertinya itu ibumu datang."

Orihime menunjuk mobil yang berhenti di depan panti asuhan itu. Mizuki ini memang anak yang biasa dititipkan dalam jangka tertentu. Orang tuanya sibuk, dan karena tempat inilah yang terdekat dengan rumahnya, mereka menitipkan Mizuki di sini.

"Huh, sudahlah. Kubantu tidak mau. Aku sama ibu saja! Ibu lebih membutuhkanku daripada nee-chan! Aku butuh ibu saja, tidak perlu nee-chan yang marah-marah!" cibir Mizuki. Sedikit mengejek, lantas ia lari pada ibunya.

Orihime menghentikan gerak tangannya yang sedari tadi membereskan serakan benang.

"... Mizuki..."

.

xxx

.

Brak!

Orihime menabrak begitu saja pintu utama rumahnya. Tidak peduli setelahnya ia menguncinya atau tidak.

Ichigo. Kebetulan pemuda itu baru tiba dari satu tempat. Orihime melengos begitu saja di sampingnya, dan melakukan hal tadi.

"Inoue! Hei, kau kenapa?" Ichigo berlari memasuki area halaman rumah gadis itu. Pelan diketuknya pintu yang sudah kembali tertutup itu.

"Sudahlah Kurosaki-kun, tidak usah pedulikan aku," sela isakan terdengar diantara kata-kata lirih itu.

"Kenapa kau tiba-tiba seperti itu? Hei, ayolah! Ke sini dan ceritakan padaku."

"Tidak. Tidak ada yang membutuhkan aku. Biarkan aku sendiri."

"... Kenapa jadi tiba-tiba seperti itu?" Ichigo menurunkan nada suaranya. Dari balik pintu. Ia tidak mau menerobos begitu saja.

"Anak itu berkata kalau dia tidak membutuhkanku..."

"Anak?"

"Mizuki."

"Hn? Oh, ya..."

Ichigo bisa mengingat anak itu. Orihime beberapa kali menceritakannya.

"Kau menangis dan seperti ini hanya karena ucapan anak kecil?"

"... Tapi anak kecil tidak selalu salah, Kurosaki-kun..."

"..."

"Kurosaki-kun?"

Tidak ada jawaban lanjutan. Orihime yang tadi sempat menghentikan air matanya, sekarang menundukkan kepalanya. Membiarkan tangisnya turun di lututnya.

Sudahlah, tak ada yang peduli dan perlu juga.

.

xxx

.

Orihime baru sadar kalau ia tertidur di ruang tamu. Setelah meringkuk dan membiarkan air matanya kering dengan sendirinya.

Dan bodohnya, bahkan pintu luar itu tidak tertutup rapat. Untung saja tidak ada satupun hal berbahaya semalam.

Orihime berdiri, menuju pintu itu. Udara pagi mungkin bisa membuat pikirannya lebih baik.

Eits. Hampir saja ia tersandung sesuatu di depan pintu.

"Ngg?"

Satu buket bunga. Mawar merah muda yang agak pucat, tapi masih terlihat segar berikut aromanya.

Banyak. Satu lusin, kurang lebihnya.

Need you, please.

"Hah?"

English sederhana itu setidaknya bisa ia mengerti. Tapi...

Tidak mungkin, kan, mawar-mawar yang ia pelihara di halaman itu membungkus dirinya sendiri, melilitkan pita dan memberi kartu ucapan dengan model semanis ini. Oke, ini hal konyol.

"Hng, siapa yang memberi ini?" Orihime memutar-mutar buket itu. Tidak ada cantuman nama pengirimnya.

"Sudahlah. Ini cantik. Tunggu ya, bunga aku akan meletakkanmu di tempat yang tepat!"

Mood-nya sepertinya menaik. Langkahnya—yang saat keluar tadi—lunglai dan rapuh, ketika berbalik berubah menjadi lompatan-lompatan kecil yang gembira.

.

xxx

.

"Inoue!" panggil Ichigo.

Sore ini agak mendung. Dan Orihime baru saja menyelesaikan belajarnya di ruang tamu, ketika Ichigo tiba di depan pintu.

"Heee, Kurosaki-kun! Ada apa?"

Senyum itu lagi. Senyum lebar yang memperlihatkan kesempurnaan mood-nya. Tapi segunung pula rahasia dibalik terbentuknya satu lengkungan itu.

"Untukmu."

Satu buket mawar dengan warna yang familiar sampai ke tangan Orihime lagi. Gadis itu agak terkejut.

"Bunga? Ini—"

"Need you, please."

"Heee? Sama seperti yang tadi pagi!" Orihime lebih memilih peduli pada kesamaan daripada maksud, rupanya.

"Hehe, itu juga aku yang menaruhnya."

"Benarkah? Waah, terima kasih, Kurosaki-kun!" Orihime menerima bunga itu. Dihirupnya, masih segar pula.

"Mengerti, kan?"

"... Ha? Apanya?"

"Need you, please. Aku membutuhkanmu. Jangan seperti kemarin lagi, ya."

"... Kurosaki-kun?"

"Ne? Ya, aku serius."

Orihime membuka matanya lebih lebar. Sekedar lebih meyakinkan kalau yang di depannya ini memang benar-benar Kurosaki Ichigo. Yang diharapkan.

"Aku membutuhkanmu."

"Be—benar?" matanya berbinar kaca. Lapisan air yang kian menebal terlihat menutupi pupil kelabunya itu.

"Ya. Tidak mungkin tidak boleh, kan?"

Orihime tidak berniat menjawab apapun. Ia hanya memeluk pemuda di depannya dengan haru.

"Terima kasih, Kurosaki-kun. Kau tidak bohong, kan?"

"Kalaupun aku berbohong, untuk apa selama ini aku peduli padamu?"

Ichigo hanya memandang lurus ke depan, seraya mengusap dengan lembut uraian panjang benang-benang mahkota Orihime di kepalanya.

"Dulu kau menolong bunga-bunga sejenis ini saat mereka kesepian, kan? Sekarang saudara-saudara mereka yang datang untuk membuatmu tersenyum."

Ichigo menghela nafasnya sejenak. Sekalian mendoa, semoga gadis ini tidak akan menangis.

"Jangan putus asa, ya. Karena teman-temanmu di sana, bunga-bunga di sini—dan aku—begitu membutuhkanmu. Jangan down hanya karena ucapan satu orang anak, karena di belakangmu ada banyak orang yang membutuhkanmu walau tanpa mengucapkannya."

Ichigo merasakan gadis itu memeluknya makin kuat.

"Kadang sesuatu itu terjadi dan dirasakan tanpa kata-kata. Kami membutuhkanmu, Inoue Orihime."

Orihime mengeratkan tangannya pada sebuket bunga itu. Biar saja tetes-tetes air mata turun darinya, meski dari gestur Ichigo sudah melarangnya untuk menangis.

.

xxx

.

Lihat saja, kan? Satu buket bunga kecil itu membiarkannya tahu, kalau dia memang dibutuhkan.

Perhatikan sekelilingmu. Jangan biarkan mereka merasa tidak dibutuhkan. Karena dunia diciptakan untuk diputar bersama, dengan bergandeng tangan. Dengan saling membutuhkan.

...

.

part 2: end.

.

...

hehe, balas review dulu, ya~~ ^^

yuminozomi: hehe, gitu, ya? syukurlah, ternyata kamu suka begitu ya? tapi mau hiatus lagi kalau multichap ini selesai, mungkin. kk, maaf. tapi kalau aku rindu, bisa kembali kapan saja, kan? hehehe...

koizumi nanaho: hehe, gak papa, bilang aja, aku nerima semua kritik, deh. asal membangun, itu sah-sah aja makasih udah nyambut lagi, aku terharu(?) /slapped

scarlett yukarin: yoroshiku~~ ^^ (sudah agak lupa gimana berbahasa jepang yang baik dan benar). ah, maaf, lupa beritahu, ini adalah sekuel dari fic GgioSoi-ku dulu, yang judulnya A Prequel to A Language. HitsuHina? sorry, tapi IchiHime, ini juga rekues :3

Hikari Shiroi Tsuki: makasih~ ^^ dan ini, update-nya. mohon bantuannya(?) lagi, ya =]

EYEJ series: oh, silahkan ;) hehe, makasih, dan ini, IchiHime =]]

mikamo zaoldyeck: hai mikaaaa :DDDDD isssh, jadi silent reader ga bilang-bilang deh. ga tau aku ternyata kamu jadi stalker blogku juga x] perubahan? oh, syukurlah kalau ternyata bisa seperti itu. Masalah privasi? ah, semoga lekas selesai, ya. but, mianhae, ini IchiHime =..=

well, thanks atas partisipasinya di chapter sebelumnya, ya. semoga part 2 ini bisa menghibur. makasih!