Seringkali orang menerima sebuket bunga hanya untuk kebahagiaan dan pelengkap segala senyum kepuasan.

Tapi bagaimana kalau buket itu adalah yang terakhir—yang menjadi simbol perpisahan? Sanggupkah tanganmu tetap menggenggamnya?


"Apa ini?" gadis mungil itu menaikkan salah satu alisnya, setelah menerima satu buket bunga ungu itu.

"Purple Hyacinth."

"Artinya?"

"Maafkan aku..." ucap pemuda kecil itu dengan suara yang pelan. Kepalanya ditundukkan.

Sang gadis kecil hanya menatap pemuda itu iba.

. . .

A Bouquet of Flower

.

Bleach, everything related aren't mine. They're Tite Kubo's

I just own the plot—warning! crack-ish, weird-ish! =_=

.

Part 3

. . .

Ashishogi Jizou namanya. Umurnya sudah mencapai belasan, namun ia menderita kecacatan. Matanya buta, tubuhnya tidak tumbuh normal seperti pemuda seusianya, dan kelainan pada hormone yang menyebabkan rambutnya tidak pernah tumbuh.

Ia hanya bisa melihat dunia dengan hatinya dan apa yang dikenalkan oleh yang mengasuhnya—Kurotsuchi Mayuri. Laki-laki itu mengambilnya yang tak dipedulikan di tempat pengasuhan, membawanya serta dalam hidupnya. Terkadang diminta membantu percobaannya, dan apa keperluan laki-laki itu.

Dan gadis itu, Suzumebachi. Mungil, manis. Adik angkat dari seorang guru taekwondo. Wanita padahal, masih muda lagi. Berbeda dengan Ashishogi, ia adalah adik angkat yang begitu disayangi olehnya—Soi Fon namanya.

Ashishogi sering diejek oleh yang lain, karena kecacatannya. Padahal bukan keinginannya untuk dilahirkan cacat.

Semua ejekan itu makin berkembang ketika orang-orang melihatnya bersama Suzumebachi yang nyaris terlihat sempurna secara penampilan. Yang manis, yang mungil—sering membuat orang lain gemas. Meski kadang ocehannya membuat bingung, orang masih menyukainya. Kadang pula sikapnya pada orang yang tidak ia sukai agak jutek, tapi itu bukan masalah besar. Karena banyak orang yang bersikap ramah padanya.

Beauty and The Beast. Itu lontaran orang-orang. Tapi mereka berdua sama-sama tidak peduli.

"Maaf atas apa?"

"A—aku tidak sesempurna itu..." ucapnya terbata.

Suzumebachi tertawa kecil, andai saja Ashishogi dapat melihatnya, mungkin wajahnya akan berubah kemerahan.

"Memang perlu jadi sempurna?"

Mereka bukan kekasih, bukan pula sahabat biasa. Siapa yang tidak menyukai Suzumebachi? Bahkan untuk Ashishogi yang hanya menilainya dari kepribadian saja.

"Aku tidak mau menilai orang lain hanya dengan bagian luarnya saja. Kau baik, Ashishogi-kun."

Ashishogi makin merunduk saja.

Suzumebachi menatapnya, sedalam yang ia bisa. Ia menyayangi orang ini. Ya, sayang. Dia adalah orang yang sangat baik dan murah hati di balik semua ketidaksempurnaan penampilannya.

"Jangan kau pedulikan kata-kata orang. Yang menjalani hidup kita adalah kita juga."

Suzumebachi meraih jemari-jemari mungil Ashishogi. "Aku—tetap menyayangimu. Apa adanya."

"Be—benarkah?" Ashishogi meraba telapak tangan yang memegangnya itu. "Terima kasih..."

Suzumebachi tersenyum, meski sebenarnya itu percuma. Ashishogi tak akan pernah tahu.

"Ya—Ah, Mayuri-sama! Aku pergi dulu ya, Ashishogi-kun! Sampai jumpa!"

Ashishogi seksama mendengarkan derap langkah Suzumebachi yang menjauh. Seraya ia cium aroma yang khas dari 'tuannya'. Itu kemampuan khusus yang memang ditanamkan oleh Mayuri. Secara ia adalah seorang peneliti.

"Ashishogi Jizou! Pulang!"

Ashishogi beringsut turun dari bangku taman itu, sepertinya ia harus menyiapkan diri untuk menerima kemarahan sang tuan.

Kemarahan?

.

xxx

.

Mayuri melempar Ashishogi ke bangku di laboratoriumnya. Kasar, memang. Tapi itulah yang ia lakukan ketika ia marah pada sang asuhan.

"Kenapa kau masih bersamanya?"

Ashishogi mendesah gelisah. Harus ia jawab apa sekarang?

"Apa perlu kuulangi kenapa aku melarangmu mendekatinya?"

Ashishogi belum berani menjawab.

"Atau kau akan menerima hukuman yang lebih berat? Mau kubuat kedua kakimu itu lumpuh?"

"Jangan, Mayuri-sama... tolong, maafkan aku..."

"Memangnya ini sudah larangan keberapa yang kukatakan untukmu agar tidak mendekatinya satu meterpun?"

"Maaf, Mayuri-sama..."

"Tidak. Dua hari ke depan kau akan tetap berada di ruangan ini! Sadari apa kesalahanmu, baru aku akan membebaskanmu."

Bunyi pintu yang dihempas, kemudia dikunci itu keras sekali. Berat untuk Ashishogi menarik nafasnya.

Lantas, ia menangis. Salahnyakah?

.

xxx

.

"Dari mana kau, Suzumebachi?"

Suzumebachi melepas alas kakinya terlebih dahulu, baru ia menghampiri kakak angkatnya dengan kepala tertunduk.

"Taman..."

"Dengan?"

Suzumebachi memutar matanya, ia tidak berani memandang ataupun menjawab langsung.

"Aku tidak mau menerima jawaban kalau ternyata kau baru bersama anak cacat itu."

"Kakak!"

"Apa? Aku sudah mempercayaimu dengan memperbolehkanmu keluar rumah sesukamu. Tapi tidak untuk membuang waktumu bersama anak itu."

"... Maafkan aku..."

"Kau sudah membuatku kecewa kali ini, Suzumebachi," Soi Fon mundur dan berbalik.

Suzumebachi ingin mencegah, tapi mungkin itu tidak akan mempan. Ini pertama kalinya ia menemukan kakaknya marah hingga tidak menggubris perkataannya.

Tapi ia sendiri yang tidak menggubris kata-kata kakaknya terlebih dahulu.

Kedua pengasuh ini selalu berseberangan satu sama lain. Keluarga besar Soi Fon memang bermusuhan dengan keluarga besar Mayuri. Ada satu kesalahan fatal yang diperbuat nenek moyang.

Perebutan tanah—awalnya biasa saja. Namun pertikaian yang ditimbulkan mengakar jauh sampai ke anak cucu mereka. Keturunan mereka tiddak boleh saling berhubungan dalam konteks apapun, mereka saling dihasut untuk menimbulkan permusuhan dan perpecahan.

Jadi intinya, keluarga itu seperti sudah ditakdirkan untuk tidak bersatu, selamanya. Dan itu yang ditanamkan bahkan pada anak yang diangkat secara tidak resmi oleh mereka.

"Dia mungkin bisa membunuhmu, Suzumebachi. Keluarga mereka adalah ahli pengobatan ilmiah yang bisa menciptakan racun kapan saja."

"Dia sebenarnya menjelek-jelekkanmu di belakang atas apa yang kau miliki, Ashishogi."

"Untuk apa kau masih berhubungan dengan anak cacat itu? Apa lebihnya dia?"

"Dia cuma anak kecil pengganggu. Dengarkan saja caranya bicara, tidak mencerminkan gadis manis yang anggun."

Itulah sedikit contoh hasutan dari Soi Fon maupun Mayuri. Saling menjelekkan.

Tapi kedua anak itu bisa berpikir dengan hati nurani mereka.

Untuk apa saling bermusuhan kalau ternyata hal itu tidak perlu, dan ternyata tidak ada alasan yang tepat untuk itu? Mereka baik satu sama lain, mereka saling membantu, apa salahnya mengakhiri lingkaran permusuhan itu?

Sayangnya, kedua orang di atas mereka tidak mau peduli dan lebih memilih meneruskan saja permusuhan sebelumnya.

Yang bodoh—siapa? Haruskah mereka saling menjauhi hanya karena alasan keluarga? Tidak etis sekali.

.

xxx

.

"Kau sudah menyadari dimana salahmu?"

"... Ya, Mayuri-sama..."

"Jika kau masih berani melanggarnya, kau akan mendapat masalah besar."

"B—baik, Mayuri-sama..." Ashishogi sudah bersiap meninggalkan tempatnya berdiri.

"Mau kemana kau?"

"Ada yang ingin kucari, Mayuri-sama."

"Apa itu?"

"Kulihat persediaan bahan utama percobaan anda habis. Permisi, Mayuri-sama."

Mayuri hanya diam, separuhnya ia percaya pada Ashishogi.

Entahlah.

.

Seikat bunga Cyclamen berada di tangan Ashishogi. Ia ikat seadanya, dan ia tata sebagaimana tangannya bisa melakukan tanpa penglihatan.

Ia hafal, di jam seperti ini Suzumebachi pasti berada di taman. Entah apa yang dilakukannya, tapi naluri Ashishogi bisa mengikuti. Sudah terlalu terikat dengan gadis itu.

"Ashishogi-kun!"

Benar sekali, gadis itu sedang berada di tempat yang tepat seperti pikiran Ashishogi. Ia datang menghampiri.

Tidak tahu makna, Suzumebachi menerima dengan begitu senang bunga yang diberikan Ashishogi.

"Kali ini apa, Ashishogi-kun?"

Ashishogi—lagi-lagi menahan pandangannya untuk tetap berpaku pada tanah. "Ini... Cyclamen..."

"Waw, namanya bagus," Suzumebachi tersenyum ceria. "Artinya apa?"

"... Pengunduran diri dan 'selamat tinggal'..." Ashishogi sekarang menahan suaranya yang sangat lirih.

"—Apa?"

"Maafkan aku, Suzumebachi. Sepertinya kita hanya bisa bertemu dan saling berbagi sampai di sini. Aku mundur..."

"Kenapa? Hei, jangan bilang kau—"

Ashishogi menggeleng. "Keluarga kita sudah saling bermusuhan. Percuma kita dekat seperti pasangan seperti ini..."

"... Ashishogi-kun..."

"Lagipula—aku tidak pantas untukmu. Kita berbeda jauh..."

"Hei hei... ah, Ashishogi-kun, perlu kubi..."

"Ashoshogi Jizou! Sudah kuduga kau!"

"Hei, Suzumebachi? Untuk apa kau bertemu orang ini lagi?"

Dua pihak saling bertemu. Soi Fon, dan Mayuri. Rupanya kedua orang ini sudah curiga akan kedua anak asuh mereka yang masih menunjukkan tanda-tanda tidak bisa berpisah.

Mayuri datang mendekat pada Ashishogi, dengan cairan yang ia keluarkan dari balik jubah laboratoriumnya, menyiramkannya pada kedua kaki Ashishogi.

"Mayuri-samaa!" kedua anak itu berteriak. Ashishogi yang terduduk merintih lebih keras ketika cairan itu mulai menjalari kakinya.

"Siapa yang memintamu untuk datang pada anak ini? Kau tidak patuh!"

"Mayuri-sama..." Suzumebachi beranjak menuju Ashishogi. Ia berusaha melindungi Ashishogi—dari Mayuri yang akan melakukan hal yang sama lagi.

"Anak bodoh! Kau! Kenapa kau berani mendekati Ashishogi? Apa kau berniat menculik dan mengambil data penelitianku darinya?"

"Astaga, Mayuri-sama... Tidak sampai seperti itu... Itu jahat sekali..."

Seseorang menempelkan pedang di leher Mayuri, dan laki-laki itu memutar lehernya perlahan.

"Jangan kau menuduh adikku macam-macam," tatap Soi Fon tajam. Ia memaju-mundurkan pedang itu, memberikan peringatan pada Mayuri.

"Heh. tak kusangka kau bermain dengan cara ini."

"Kau pikir aku cuma ahli taekwondo? Aku juga mengasah kemampuan pedangku untuk menghadapi musuh macam kalian," senyum Soi Fon sinis.

Mayuri dengan gerak cepatnya, menghindar dengan lompatan. Ia keluarkan lagi cairang yang sempat ia simpan tadi.

"Atau perlu jugakah kuberikan ini pada adik emasmu itu?"

"Jangan kau sentuh Suzume dengan tangan kotormu itu, licik!" Soi Fon bergerak menuju Mayuri, dengan pedang runcingnya yang terhunus.

"Ashishogi-kun... Ashishogi-kun..."

Suzumebachi menggoyangkan tubuh kecil yang mulai kaku itu. Seraya dengan suara lirihnya, air mata mulai turun di pipi Suzumebachi.

"Ashishogi-kun..."

Kaki kecil Ashishogi mulai memerah. Suzumebachi mencoba menyentuhnya, jemarinya turut melepuh. Ia hanya memperhatikan dengan mata nanar.

Dagingnya mulai terkelupas, dengan memperlihatkan merah-merah yang mengalir di dalamnya. Hingga ditunggu lagi, putihlah yang tampak. Melepuh hancur hingga tulangnya.

"Ashishogi-kun..."

Kembali pada dua orang tua yang berseteru. Mereka masih maju-mundur dengan serangan yang imbang.

"Kau!" Soi Fon memasukkan pedangnya kembali, namun menyerang Mayuri dengan tendangan taekwondo yang sudah dikuasainya hingga level tertinggi.

Sasaran Soi Fon adalah botol kaca yagn dipegang erat Mayuri. Benar saja, tendangannya mengenai apa yang dikehendaki. Dan terlempar.

"Ashishogi-kun..." Suzumebachi memegang tangan yang lemah itu, ketika ia menyadari mata Ashishogi terbuka sedikit.

"Suzum—e, perih... sakit..."

Air mata makin meluncur deras. "Tu—tunggu ya, aku akan—"

Byurrr!

Suzumebachi membatu. Belum ia selesaikan kata-katanya, cairan yang sama kembali datang, menyiram wajah Ashishogi.

"Panas! Perih! Suzumebachi, tolong!"

Suzumebachi panik sendiri. Panik itu tidak juga memberinya ide apa yang harus dilakukan.

Dua orang disana, samasekali tidak peduli.

"Ashishogi-kun! Tunggu, akan kucari sesuatu!" Suzumebachi berdiri, matanya dengan liar berputar mencari benda atau air yang bisa menetralkan cairan itu.

"Mayuri, untuk apa anak cacatmu itu mendekati adikku? Memangnya pantas?"

"Bodoh! Kau sebut anak angkatku apa? Memangnya adik tak bergunamu itu hendak apa? Dia pasti ingin mencuri tahu penelitianku, dan itu pasti atas perintahku!"

Mayuri menangkis tangan Soi Fon dengan kakinya—tendangan balas atas tadi.

Pedang Soi Fon terlempar pula. Hingga...

"AAA!"

Pedang itu mengenai Suzumebachi yang sedang berlari dengan paniknya. Tepat mengenai leher sebelah kirinya, menancap di sana.

Ashishogi mendengarkannya, ingin ia berlari. Tapi rasa yang tak tertahankan menusuk bagian kaki dan wajahnya.

Suzumebachi jatuh, tanpa dipedulikan oleh dua orang itu pula. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, dengan perdebatan yang hanya menambah bulat lingkaran permusuhan antarkeluarga.

Ashishogi tidak tahan lagi dengan sakit di wajahnya, perlahan sakit itu melenyapkan kesadarannya ke jurang yang tidak ia kenali. Gelap, tak mampu berteriak.

Suzumebachi—tusukan telak pada lehernya juga membuatnya mengalami hal yang dalam tempat yang tidak ia kenali.

Keduanya sama-sama mengucapkan nama satu sama lain sebelum menutupkan mata mereka. Dan kelopak-kelopak Cyclamen itu tercerai dan berhambur, mengawal mereka hingga kedipan yang terakhir.

Berpisah? Entah bisa tepat disebut atau tidak. Mereka bersama-sama dalam keteguhan mereka melawan keluarga untuk kasih sayang yang mereka miliki. Tapi mereka berpisah untuk kisah mereka di dunia.

Kelopak yang tercerai itu terbang satu-persatu, mungkin mereka berusaha menyadarkan dua orang yang masih egois itu.

Dan mereka hanya bisa menelan ludah sendiri, dua orang yang mereka sayang sama-sama pergi karena kebodohan mereka.

.

.

all: end.

.

.

End? Iyap. semua sudah selesai. Kumpulan empat cerita tentang buket bunga selesai semua. Ini sebenernya rekues dari Naomi-nee yang udah lamaaaaaaaa banget. Maafkan saya, maaf. Hasilnya juga gini, mungkin ga sesuai yang diharapkan. Maafkan saya ya, Naomi-nee. Saya emang keterlaluan ;A;

Dan... ah, sepertinya saya harus pamitan. Dengan ini, selesai sudah semua rekues saya di FBI. dan soal multichap yang itu... maaf saya rasa saya tidak bisa melanjutkannya. Entah kapan—saya juga tidak tahu.

Maaf kalau saya sering nulis aneh ato nyeleneh ato apalah yang bikin ga enak hati :') saya mungkin akan hiatus dari FBI dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Selain saya sudah kelas 11 semester 2, perhatian saya terbagi dengan fanfict yang saya buat di wordpress atau livejournal (bahkan mau merambat ke asianfanfics juga deh ehe). Saya melebarkan sayap ke sana, dengan bidang 'sastra inggris' yang saya mau pelajari.

10 Juni 2009, hingga sekarang, 26 Desember 2010, itu jangka 'kerja tetap' saya di sini. Saya tidak benar-benar meninggalkan, hanya hiatus. Kalau saya rindu, mungkin saya tetap menulis di sini. Saya hanya pindah domisili.

Sekian, ya. terima kasih atas semuanya selama ini... *angkat koper* *lambai saputangan* :'))))))) Saya akan kembali, mungkin suatu saat.

Thankies for all! Semoga ke depan FBI menjadi lebih baik, dan makin dicintai serta makin banyak disinggahi! daaaah~~ ;з;)/