Halo! Aku levina, terimakasih buat yang sudah baca ceritaku ini! Semoga kalian suka dengan ceritaku dan temanku Lolly.

Ok, aku mau bls review dulu!

Nasaka Yagami: Eeeh? Bukannya gitu… kamu waktu di kelas cuek sih, kirain gak mau ikutan… yak, trims reviewnya ya, Nadiakuuu~.

Uchiha Sakura97: Updatenya dataaaang!

Hikari Sinju: Hikari-san, maaf baru update, aku juga sibuk. Hehehe… untuk panggilan, Hikari-san boleh manggil apa aja kok! Aku juga suka cerita persahabatan!

Rin Akari Dai ichi: Kak, deskripsinya dah ditambahin. Sankyuu…

Ichaa Hatake Youichi: Sudah dipanjangin nih! Kalo liat penname kamu, jadi inget sama Hiruma… *lupakan*. Makasih buat reviewnya!

4ntk4-ch4n: Makasih buat reviewnya…

May-Chan: Thanks for Review ^^

Rissa'Uchiha: Hahaha… untuk awalan, Sasuke itu sahabat Sakura dulu. Kalo soal itu, sip! Arigatou buat reviewnya…

: Mau? aku juga! Ini dia Updatenya… Makasih Reviewnya

Yak! Review sudah di balas cari nama kalian ya~! Yasudah, tanpa basa-basi lagi, kita mulai saja ceritanyaaaaaa!

-xXx-

Aku berjalan dengan santai menuju sekolahku. Sesekali aku merapatkan jaket merah muda yang aku pakai agar angin yang dingin tak menerpa tubuhku. Wajah ceria yang biasa aku pasang setiap hari, hilang gara-gara kejadian tadi malam.

Uuuh… kenapa jadi begini sih? Kenapa aku haarus suka Sasuke? Harusnya aku sadar kalau dia hanya menganggapku sahabat. Ini menyusahkan! Perasaan ini datang tiba-tiba dan membuatku bingung. Mungkinkah aku harus menghindar darinya?

The SasuSaku Tales

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Story by: levina-rukaruka dan LollyPyon a.k.a aichaa

.

Written by: levina-rukaruka

.

Warning: Typo, OOC, dan segala macam keanehan.

.

"Hei, Sakura," sapa seseorang yang suaranya sangat familiar di telingaku. Akhirnya dia datang, Sasuke datang. Apa aku harus menghindar? Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak kuat kalau menghindari Sasuke. Dan kalau berada di dekatnya, hatiku sedih sekali. Hmm… baiklah, akan kucoba untuk hari ini aku tidak akan menghindar dari Sasuke.

"Hei, Sasuke." Sapaku balik.

"Sakura, tumben rambutmu diikat," katanya memulai percakapan. Semenjak masuk SMU, kami jarang sekali bertemu. Dan itu membuatku canggung ketika bersamanya.

"Aaa! Jelek ya? Ini Cuma iseng kok!"ujarku malu.

"Kau… manis."

Eh… Dia bilang begitu? Itu pasti bohong. Terakhir kali dia bilang begitu, di ujung kalimatnya ada kalimat yang terkesan mengejek.

"Thanks," jawabku malu-malu.

Tiba-tiba, di ujung jalan, terlihat seseorang berambut kuning berlari kearahku dan Sasuke. Ya, itu adalah Naruto. Di tangan kanannya terdapat sebuah buku besar. Hm… biar kutebak. Pasti, dia menghampiri kami karena pr matematikannya belum selesai.

"Yo! Sakura, Sasuke…," Naruto memanggil kami.

"Kau kenapa, Naruto?" tanyaku.

"Ehehehe…," ia tertawa garing, "ajarin aku dong, pr-nya susah nih! Ya? Ya? Ya?"

Bingo! Betul, kan! Anak itu selalu saja, huuh!

"Huh!" Sasuke membuang muka seraya pergi dari hadapanku dan Naruto. Kulirik Naruto, wajahnya menatapku penuh harap. Mungkin kali ini aku akan menolongnya.

Akhirnya, aku menerima ajakkan Naruto. Kami menuju aula sekolah dan duduk di pinggirannya. Kemudian, Naruto membuka bukunya dan menunjukkan soal yang ia tidak bisa.

-XxX-

Selama setengah jam aku mengajari Naruto matematika. Bersama Naruto sangat berbeda pada saat bersama Sasuke. Bersama Naruto, pasti selalu ada hal yang ditertawakan. Aku sudah menganggapnya seperti saudara laki-lakiku.

Sedangkan bersama Sasuke, pasti sepi. Walaupun sepi, terasa tenang dan menyenangkan. Terkadang, aku memperhatikannya ketika sedang kerja kelompok bersama. Ia begitu tegas, pintar, dan bijaksana. Mungkin, hal itu yang membuatku menyukainya. Andai saja perasaanku terbalas. Hm…

Kriiing…

Bel masuk berbunyi, aku segera menyudahi kegiatanku mengajari Naruto dan bergegas menuju Lab Biologi.

Akhirnya, aku sampai di sebuah ruangan bercat putih dengan bau-bauan yang aneh. Ya, tempat itu lab Biologi. Aku pun segera masuk kedalam. Di dalam, teman-temanku sudah berkumpul semua. Aku melihat semua teman-temanku membawa kantong pelastik besar. Mereka bawa apa sih?

"Sekarang kalian duduk sesuai dengan kelompok!" intruksi Asuma-sensei, guru biologi kami.

Aku dan yang lainnya segera duduk sesuai dengan kelompok.

"Nah, keluarkan bahan-bahan percobaannya, dan yang tidak membawa, bersiaplah untuk diberi hukuman," teman-teman semua mengambil sebuah barang dari plastik mereka.

Oh, tidak.

Oh, tidak!

Oh, tidak! Aku lupa beli bahannya, kemarin aku langsung pulang begitu Sasuke menyuruhku pulang. Aduuuh, gimana nih, kulirik Sasuke dengan wajah panik. Ia menatapku bingung.

Aku berdiri dengan tujuan untuk mengaku. Pasrah sajalah, lebih baik dihukum daripada berbohong.

"Sensei," panggilku. "Ano… aku, aku lupa bawa bahannya…,"

Oooh, siap-siap menerima hukuman!

"Begitu, kalau begitu―"

Belum sempat Asuma-sensei menyelesaikan kalimatnya, Sasuke menyela."Dia membawa bahannya. Aku yang tidak membawa bahannya."

Eeeh? Dia… serius?

"Sasuke, kau…," kataku lirih.

Ia menatapku dengan wajah tenang seperti biasa seraya berkata, "kau duduk saja. Pakailah bahan punyaku. Biar aku yang akan menjalankan hukumanmu."

Seharusnya aku merasa senang karena aku tidak jadi dihukum, tapi… aku juga sedih karena Sasuke melakukan ini karena kasihan padaku. Ok, aku akui dia lebih baik dan pengertian belakangan ini. Dan itu, membuatku bingung. Semakin bingung.

"Kau dihukum. Hukumanmu lari keliling lapangan sampai pelajaran biologi selesai." Kata Asuma-sensei. Hukumannya berat sekali, lari keliling lapangan selama dua jam? Itu benar-benar buruk! Bagaimana kalau…

Akh! Sudahlah, sekarang percayakan saja pada Sasuke. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh dariku. Terimakasih, kau telah menolongku dua kali.

-xxx-

Pelajaran biolog berjalan dengan lancar. Kini, waktunya untuk istirahat pendek. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas menuju tempat pilihan mereka untuk menghabiskan waktu istirahat.

Hari ini, mungkin aku tidak akan pergi ke kantin bersama yang lainnya. Hari ini aku hanya ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih pada Sasuke. Sahabatku yang sangat sering membantuku.

Kuhampiri ia yang sedang terduduk di pinggir lapangan. Bajunya basah yang aku yakin karena keringatnya. Dia benar-benar menjalankan hukuman itu tanpa berhenti. Baiklah, aku akan memberinya air minum.

"Ini," kataku sambil menyodorkan sebotol air kepada Sasuke. Ia menerimanya dan langsung meneguk air itu sampai habis. Pasti capek ya?

"Kau berlebihan," kataku lagi sambil mendudukan diri di sebelahnya. "Harusnya kau tidak perlu menjalani hukuman ini. Ini 'kan salahku."

"Siapa bilang ini salahmu," katanya dingin, "bukankah kemarin aku yang menyuruhmu pulang?" matanya melirik kearah lain, "heh?"

"Biar kuberi tahu ya, kau itu terlalu baik."

"Huh?" Sasuke berdiri, berbalik arah dan hendak pergi meninggalkanku.

"Hei! Aku belum selesai bicara!" seruku. Akhirnya ia berbalik kearahku lagi.

"Kau sahabatku. Aku baik kepadamu karena itu. Keberatan?"

Lagi-lagi jawaban itu yang keluar. Memangnya tidak ada kata lain apa?

Aku tak menjawab pertanyaan Sasuke. Menyadari bahwa aku tidak menjawab apa-apa, Sasuke langsung pergi meninggalkanku yang masih terduduk di pinggiran lapangan.

Heeh, aku seperti orang bodoh disini. Hanya duduk, diam, dan tidak melakukan apa-apa. Lebih baik aku pergi ke kelas, dan memakan bekalku. Aku pun pergi menuju kelas sambil berjalan santai.

Suasana istirahat begitu ramai. Terlihat anak-anak SMP yang sedang bermain di gedung terbuka dengan cat bewarna putih dan kuning emas di pinggirannya yang bertuliskan "Aula Konoha Gakuen" pada pintu utama.

Ya, itu adalah aula tempat tadi aku dan Naruto belajar. Seingatku, tahun-tahun lalu saat masih SMP, jarang sekali aku dan sahabat-sahabatku (Naruto, Sai, Sasuke, dan Hinata) bermain di aula ketika ada anak SMU. Alasannya, takut dengan kakak kelas! Hehehe… sepele sekali.

Ah ya, jadi ingat Hinata…

Bagaimana kabarnya ya? Andai saja ia tak pindah sekolah pasti aku sudah meminta tolong kepadanya tentang hal ini. Haaah… sudahlah, daripada memikirkan orang yang tak ada, lebih baik memikirkan perutku yang sudah lapar.

Aku meneruskan perjalananku ke ruang kelas. Saat melewati gedung SD, aku mendengar seseorang yang sedang menogbrol. Suara orang itu adalah suara Sasuke, dan kakak Kelasku, Karin. Mau apa dia?

Karena penasaran, aku merapat kearah tembok dan mendengarkan percakapan mereka.

"Hei, tangkap ini!" ujar Karin. Ia melemparkan sesuatu berbentuk kotak kecil berwarna merah. Sasuke menangkapnya.

"Kenapa kau berikan ini padaku?" tanya Sasuke.

"Sudahlah, nanti juga kau tahu. Aku pergi dulu, bel sudah berbunyi. Sayonara Sasu-chan!" pamit Karin.

Sebenarnya ada apa sih dengan mereka? Kenapa Karin membaeri hadiah itu pada Sasuke. Dan lagi, Karin membuat nama panggilan untuk Sasuke. Uuh… pantas saja ia hanya menganggapku sahabat.

Rasa sesaknya kembali, belum sembuh yang waktu itu, sekarang sudah datang lagi. Aku bersembunyi saat melihat Sasuke berlalu.

Rasanya ingin menangis. Dasar baka! Sasuke nyebelin!

"Bodooh!"

"Siapa yang bodoh?"

Bersambung…

A/N: Akhirnya selesai juga, huft… oh ya, di cerita ini, konoha gakuen itu terdiri dari TK, SD, SMP, SMU, dan Universitas dalam satu lokasi. (kok persis sekolahku sih? =,=a) aku negejelasin disini karna waktu temenku baca, dia bingung sama sekolahnya yang nyampur sama SD. (Di bagian Sakura melewati gedung SD). *Lho? Kok malah curcol lagi? (Diinjek)*

Yasudah, untuk akhir kata, Review please.

Kritik dan saran dipersilahkan.