Teman, makasih banyak ya, yang sudah membaca ceritaku dan yang sudah meninggalkan jejak berupa review. Sebelum mulai ke cerita, aku mau balas review dulu:

Ichaa Hatake Youichi: Ya-ha! aku juga suka kakak Hiruma! Hehehe… makasih ya reviewnya, Ichaa-san!

Rin Akari Dai ichi: makasih ya, kak!

4ntk4-ch4n: maaf, aku gak bisa update kilat. Itu bukan Sasu kok! Hehe… untuk jelasnya, silahkan dibaca lanjutan ceritanyaa~

Amigo eigen novi chan: ini sudah di update… makasih reviewnya, ya!

Lucy121: sudah di lanjuut…! Waaah… makasih banyak ya!

BabyALONE: makasih reviewnya, ini lanjutannya ^^

Namikaze Sakura: em… bertepuk sebelah tangan kah? Jawabannya rahasia #plak! Chapter ini sudah dipanjangin. Makasih buat reviewnya!

Yui Mori: nggak kok, tenang aja! Makasih, jadi terharuu *nangis* boong, nggak nagis kok. Makasih buat rivewnya!

Hikari Sinju: khusus buat yang itu, masih aku rahasiakan *aku sih, maunya gitu*. Di chapter ini, sudah dipanjangin kok, hahaha… makasih buat reviewnya yaa~

KOPLAK-kun-tul: sudah di lanjutkan. Makasih reviewnya yaa…

Karna reviewnya sudah di balas, kita mulai ceritanya yuuuk~

Sakura's POV.

Aku menoleh kebelakang untuk melihat seseorang yang ada di belakangku. Seseorang dengan perawakan tinggi, berkulit putih pucat, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Hm… kayaknya kenal deh.

Kupikir-pikir kembali dan… oh, aku ingat!

"Sai!" seruku. Sai, adalah sahabatku juga -seperti Naruto, Sasuke, dan Hinata- ia tersenyum seperti biasa dengan wajah berseri-seri.

"Kau ada masalah, Sakura?" Sai bertanya. Ternyata dia tahu. Aku hanya tersenyum simpul.

"Nggak kok," jawabku bohong. Jujur, memang sulit untuk pura-pura tegar dihadapan orang yang dekat dengan kita. Sebenarnya, aku nggak mau berbohong, tapi kalau pun aku harus mengaku, rasanya berat. Inilah pertama kalinya aku mempunyai masalah rumit seperti ini.

"Bohong!"

The SasuSaku Tales.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto.

.

Story by: levina-rukaruka dan LollyPyon a.k.a aichaa

.

Written by: levina-rukaruka.

.

Warning: OOC, typo, AU, dan segala macam keanehan.

Eeeh… dia tahu?

"Kau bohong, Sakura." Sai berkata, "kau tersenyum, tapi matamu sendu. Aku bisa membaca pikiranmu."

Hei, hei, hei! Dia bilang apa? Bisa membaca pikiranku? Nggak mungkin…

"Mataku sendu bukan berarti aku punya masalah!" aku mengelak lagi. Sai tersenyum jahil dan menghampiriku. "PLOKK" ia menepuk pelan kepalaku. Huuh! Nggak sopan!

"Jangan bohong deh… masalahmu bayak, ya 'kan? Salah satunya dengan Sasuke," Sai tertawa geli. "Hehehe… Sakura sudah besar ya!"

Hiiiieeee? Dia tahu semuanya? Hooo… gimana bisa? Itu 'kan rahasiakuu. Gawat! Jangan-jangan dia… dia… dia bisa baca pikiran orang lain. Nggak, nggak mungkin. Kalau dia bisa, pasti aku tahu. Tapi apa iya, Sai tahu?

Ngaku aja deh, dari pada penasaran. Akhirnya, dengan berat hati, aku mengaku.

"Ia… aku ada masalah dengan Sasuke."

"Kalau kamu suka Sasuke, ya bilang dong! Nanti keburu kebalap tau," Sai tersenyum jail.

"Tau dari mana?" tayaku setengah berteriak. Sai tertawa lagi. Hari ini dia aneh, lebih sering tertawa dibanding tersenyum.

"Tadi 'kan dibilangin, aku bisa baca pikiranmu. Bisa dibilang, baru coba-coba. Aku dapat ilmunya dari buku ini. Ini buku dari Sasuke," kata Sai sambil memperlihatkan sebuah buku dengan sampul berwarna ungu yang berjudul "Membaca pikiran orang lain? Tidak buruk"

Tidak buruk bagi si pembaca pikiran, tapi kalau menurut orang yang pikirannya dibaca sih, BURUK BANGET!

Tiba-tiba aku ingat kejadian tadi. Betapa bodohnya aku, meyukai sahabat sendiri. Kalau tahu begini, harusnya dari dulu aku menjauh dari Sasuke. Sediiiiiih… jadi pingin nangis deh…

"Sa―Sai, boleh pinjam punggungmu? Sebentaar…," aku berkata, tubuhku gemetar, wajahku mulai memerah, mungkin perasaan yang selama ini aku tahan akan memuncak disini.

Sai berbalik membelakangiku, dan aku pun menangis dibalik pungungnnya dengan bersandar pada kedua lenganku. Kuceritakan seluruh perasaanku. Perasaan yang sulit untuk dideskripsikan, begitu aneh, rumit, indah, dan lumayan membuatku capek hati.

Sai mengangguk mengerti setiapku ceritakan tentang perasaanku. Benar-benar bingung, selama enam belas tahun aku hidup, baru kali ini aku merasakan hal yang serumit ini.

"Pada dasarnya memang begitulah perasaan setiap remaja yang mengalami hal yang ama denganmu," Sai berkata seraya membuka kembali bukunya, "cobalah jujur pada diri sediri tentang perasaanmu. Kalau sudah, mungkin jujur pada orang yang kita kagumi boleh juga."

Jujur… pinginnya sih begitu. Tapi aku malu, ini beda kasusnya dengan jujur di pelajaran tadi. Jujur kali ini perlu dipikir dua kali. Jujur yang kalau nggak jujur nggak dapet hukuman, tapi kalau jujur malu banget!

"Sai," aku memanggil, "jangan bilang siapa-siapa ya, janji?"

"Janji…,"

Aula Konoha gakuen padat sesak di penuhi seluruh siswa dan siswi SMU Konoha. Semua murid termasuk aku rela berdesak-desakkan untuk melihat secarik kertas yang menjadi pusat perhatian murid-murid SMU.

"Kau lihat? Itu pesta atas terpilihnya Deidara-senpai sebagai ketua OSIS," kata seorang gadis berambut cokelat. Temannya yang berambut pirang ikut berbinar, "yaa~ pesta yang sudah lama kutunggu!"

Hm! Iitulah penyebabnya di aula ini begitu ramai. Pesta perayaan terpilihnya ketua OSIS. Di sekolahku, pelantikan ketua OSIS dirayakan dengan meriah. Yaaah, sekalian menjadi acuan untuk yang terpilih agar kerjanya bagus.

Tahun ini, Deidara-senpai lah yang terpilih menjadi ketua OSIS. Senpai berambut pirang yang gila seni itu. Seorang seniman muda berbakat yang pertama kali menciptakan "burung peledak" .

Pesta ini lumayan seru, bagi yang punya pasangan, tapi bagi yang nggak punya pasangan kayak aku, ini merepotkan! Kenapa? Tentu saja merepotkan. Ketika orang lain berdansa dibawah lantunan musik, kami orang yang sendiri hanya diam dan duduk di kursi sambil meratapi nasib. Ok, itu lebay. Tapi umpamanya begitulah.

"Sasuke-kun, Sasuke-kun, apa kau sudah punya pasangan? Lebih baik denganku saja! KYAAA! Dia tersenyum padaku!"

Salah seorang temanku berteriak tepat di telingaku. Rupanya Sasuke datang ke aula ini. Dan tentu saja banyak anak perempuan yang rebutan untuk menjadi pasangannya. Emm… kalau boleh jujur, aku juga sebenarnya mau…

GREB!

Tiba-tiba seseorang merangkulku. Rambut raven yang membingkai wajahnya, dan wajah dingin seseorang yang familiar terlihat sangat jelas. Dan kita sebut saja ia Sasuke. Tiba-tiba ia merangkulku. Apa maksudnya coba?

Teman-temanku tampak berteriak histeris, wajahku seketika langsung memerah.

"Hei, apa-apaan sih? lepas, Sasukeee!" pintaku seraya melepas rangkulannya. Sasuke menggerutu kesal.

"Kalian?" kata seorang temanku bingung.

"Aku akan pergi bersama Sakura. Bisakah kalian minggir dan pergi dari sini?"

Heeeee? Pe-pergi bersama Sasuke?

Kulihat teman-temanku mulai pergi dan menyisakan aku dengan Sasuke. Aku melirik kearah Sasuke. Wajahnya tampak malas sambil menggerutu sejak tadi.

"Kau serius?" aku bertanya. Wajah Sasuke semakin ditekuk. Rasanya ia sedang badmood.

"Hn." Hanya itu yang keluar. Entah apa jawabannya aku nggak ngerti.

"Jawab yang benar dong! Apa susahnya sih, bilang 'iya' atau 'nggak'."

Dia membuang nafas perlahan. "Ya," katanya seraya berlalu meniggalkanku.

Samar-samar kulihat ia tersenyum. Senyum yang hangat, sama seperti waktu itu. Semoga ini benar-benar terjadi…

Aku berjalan meninggalkan aula, menuju gedung SMU. Aku sedikit berlari kecil karena terlalu senang dengan kabar tadi.

Tiba-tiba sesorang menyentuh bahuku. Aku agak sedikit kaget. Kulihat orang yang menyentuh bahuku. Ia berambut pirang, tiga garis di pipinya, membawa buku pelajaran, dan cengiran khasnya yang lebar. Hm…

"Masih belum bisa? Bukannya aku sudah mengajarimu kemarin, Naruto?"

Cengiran lebarnya bertahan, "aku mau mempersembahkan sesuatu untuk Hinata, tolong ajari aku sekali lagi…," pintanya.

Apa boleh buat, hari ini mood-ku sedang bagus. Aku pun menerima permintaannya dengan ikhlas.

"Setelah pulang sekolah, di kelasmu. Jangan lupa!"

BRAAK!

Aku membuka pintu ruang kelas dengan kasar dan terburu-buru karena aku sedikit terlambat. Aku mencari-cari Naruto di sepanjang sudut kelas. Nggak ada. Kemana dia?

"Shikamaru," panggilku kepada seorang lelaki berambut sperti nanas. "Lihat Naruto?"

"Belum lama dia ke ruang kesenian," jawabnya. Aku berterima kasih kepada Shikamaru, dan kemudian mencari Naruto di ruang kesenian.

Kubuka pintu kesenian denan santai. Di dalam, ada empat orang yang sedang mengobrol, karena penasaran, aku menghampiri mereka.

Mereka adalah Naruto, Sai, Sasuke, dan…

Oh, diaa!

"Hinataa!" yang kupanggil Hinata menoleh. Ia berubah! Wajahnya cantik, kulitnya putih, dan wow! Rambut pendeknya sekarang sudah panjang! Kawaii…

"Sa-Sakura!" ia menghampiriku, dan memelukku. Rasanya sudah lama sekali ia pergi. Dan semenjak Hinata pindah ke luar kota dua tahun lalu, kami berlima semakin jarang bertemu…

"Hinata, rambutmu…," aku mengomentari rambutnya. "Kawaii!"

Ia tersipu. Malu-malu seperti biasa.

"Sudah lama, ya! Kapan kau datang dan kapan kau pulang?" tanyaku pada sobat lamaku.

Ia tersenyum lebut, "Aku datang kemarin, dan aku nggak akan pulang. Mulai besok, kita satu sekolah lagi, Sakura," jawab Hinata. Yaaay! Hari ini benar-benar menyenangkan. Dapat hadiah langsung dua!

"Beneran? Nggak bohong?" tanyaku antusias.

"Beneran, Sakura. Dia 'kan mau ketemu pacarnya, ya 'kan?" jawab dan tanya Naruto.

Pacar? Waah, aku telat nih. Kira-kira siapa ya? Aku melihat kesemuanya. Wajah Sasuke tampak lebih cerah dari yang tadi, ia sedikit tersenyum. Mungkinkah?

"Siapa tuuuh?" godaku. Wajah Hinata memerah.

"Jelas aku dong! Siapa lagi memangnya!" celetuk Naruto. Aaah, masa' sih? Hinata dan Naruto…

Aku memandang Hinata dengan wajah tak percaya. Kemudian ia mengangguk, dan itu membuatku paham. Ternyata, mereka… hehehe… aku nggak bisa tahan ketawa nih!

"Ahahaaha!" tawaku pun meledak dan diikuti oleh yang lainnya.

Kami tertawa terus sampai-sampai aku lupa dengan tugasku mengajari Naruto. Setelah kuingatkan, dia malah menolak belajar karena sudah malas. Dasar, Naruto, Naruto.

Selama disini, aku merasa ada yang mengganjal apa ya?

Oh ya! Gaun. Aku lupa, kalau aku ngak punya gaun. Gimana nih? Aku harus beli sekarang. Tapi sama siapa? Sama Hinata nggak mungkin, dia 'kan punya banyak gaun. Sama siapa ya?

"Hinata," akhirnya, aku panggil dia, "suadah beli gaun untuk peseta nanti?"

"Ma-maaf, tapi aku sudah punya…" tuh 'kan! Benar…

"Begitu…," kataku, "baiklah, aku pergi dulu ya, mau beli gaun!"

Aku berjalan meninggalkan mereka. Padahal aku masih mau kumpul bareng…

"Tunggu!"

Suara Sasuke dari belakangku membuat langkahku terhenti.

"Aku ikut. Sekalian beli dasi," katanya. Aku mengangguk dan berjalan di sebelahnya.

Kami berjalan beriringan dalam diam. Aku merasa kurang nyaman dengan keadaan seperti ini ditambah lagi, angin musim dingin yang terasa menusuk. Aku takut kalau aku pingsan lagi, jadi aku terus-terusan menggosok-gosokkan telapak tanganku.

"Kau kedinginana ya, Sakura?" Tanya Sasuke.

"Iya, hehehe…" jawabku sambil tertawa.

"Begitu," katanya seraya melepas jaket abu-abunya, "pakailah ini, nanti kamu sakit."

"Eh? Na─nanti kamu pakai apa?" tanyaku.

"Nggak usah, cepat pakai, nanti kamu sakit!" Aku pun segera memakai jaket yang ia berikan. Hmm… hangat dan ada bau khas Sasuke.

Setelah beberapa lama kami berjalan, akhirnya kami sampai di sebuah toko gaun perlengkapan persta lainnya. Bangungan besar yang terbuat dari kayu dengan desain klasik di dalamnya. Benar-benar surga bagi orang-orang yang gemar belanja.

Rak-rak sepatu berjejer di samping pintu masuk. Aku tertarik untuk melihatnya, sepatunya bagus dan lucu. Di sebelah kanannya, terdapat banyak baju-baju dan gaun-gaun pesta.

Aku mengelilingi bagian itu, banyak sekali orang-orang yang berbelanja hari ini. Tiba-tiba, seseorang di belakangku berteriak, "KYAAA! Gaun ini bagus, aku mau beli!" mbak-mbak tersebut pun langsung berlari menuju kamar ganti.

Kalau dilihat-lihat, gaunnya memang bagus. Gaun dengan warna ungu tua selutut dengan tali hitam melingkar di pinggangnya. Simple, tapi menarik.

Tak lama, mbak-mabak yang tadi keluar, wajahnya murung, "yaaah, nggak muat…," kulihat mbak itu hampir menangis hehehe lucu!

"Sakura, aku mau ketempst dasi, kau pilih-pilih saja dulu. Nanti ketemu lagi disini dua jam lagi."

Sasuke pun pergi meninggalkanku padahal aku belum jawab apa-apa.

"Gaun yang itu sepertinya cocok untukmu!" kata seseorang. Aku menoleh, ternyata yang bicara denganku kakak yang kerja di toko ini.

"Ah, iya… mungkin, aku juga suka gaun ini," jawabku.

Kakak itu terseenyum. "Kalau begitu coba saja!"

Aku menurut dan mencobanya.

Hiiiieee? Gaun itu sudah kupakai, dan aku merasa terlihat er… cantik. Aku pun keluar ruangan.

"Hyaaa! Benar 'kan, cantik! Kau beli saja!" kata kakak itu heboh. Mungkin aku harus beli ini. Yak! Aku beli ini.

Aku pun langsung membayar, dan dikasir, aku bertemu Sasuke. Karena kami sama-sama sudah menemukan barang yang kami cari, kami pun memutuskan untuk pulang bersama.

[bersambung…]

Hyaaa… chapter ini aneh menurutku, gimana dengan kalian? Apa kalian pikir ini aneh?

Ya, yasudahlah… aku mengucapkan banya terimakasih sama teman-teman yang sudah baca ceritaku ini. Semoga chapter ini memuaskan.

Salam,

Levina dan LollyPyon.