Teman, Levin update lagi dan ini chapter terakhir. Makasih ya, atas review-review dari tema-teman. Seperti biasa, sebelum cerita dimulai, mau balas review dulu:

Rin Akari Dai ichi: E-eh? saya gaberani nabok... haha, makasiiih menurutku juga Hinata kawaii! makasiih, maksiiih...

TaroChiha: Taro-san, makasih ya! Ini, apdet!

Haruno Ayako-chan: Aa, makasih! Ano, Kalau bisa, jangan panggil senpai karena aku masih baru, terus umurku baru 13 tahun jadi –menurutku- blm pantes dipangggil senpai. Panggil pake nama aja ya! :D

4ntk4-ch4n: nggak apa-apa kok, aku juga sering salah, hehe. Ini dah apdet, dan maaf, nggak bisa apdet kilat –lagi-. ini dah chapter terakhir, makasih banyak ya, dah ngikutin ceritaku dari awal. Makasih banyaak ya!

aku asadia: sudah aku lanjut nih! fb-ku: Levina Deandra. Makasih yaaa~

Racheljewellblosssom: Aa! Makasih banyak, kamu baik sekaliii~ Makasih ya…

Hikari Shinju: Uwaaa~ Hikari-san, di chapter ini SasuSaku-nya dah aku buat romantis, tapi gatau deh terasa atau nggak hhe, maaf ya, gak bisa apdet kilat! Makasiiih.

Uchiha Sakura97: Update! (tapi gak kilat) makasih ya!

Nah, semuanya sudah dibalas cari nama kalian ya. Nggak usah basa-basi lagi, sekarang cerita dimulai…

xXx―

Aku bersiap di depan cermin. Malam ini, pesta perayaan Deidara-senpai akan dilaksanakan. Aku akan pergi dengan Sasuke, senang deh rasanya. Tapi, sedari tadi aku memikirkan sesuatu. Kalau Sasuke pergi denganku, bagaimana dengan Karin-senpai?

Hm… yasudahlah nggak usah dipikirin. Sekarang… berdandan!

Aku pun segera memakai gaunku. Setelah selesai, aku menata rambut dan wajahku serapih mungkin. Setengah dari rambutku diikat dan sisanya dibiarkan terurai. Sebuah jepitan hitam kecil berbentuk pita kutempelkan untuk hiasan. Aku juga memakai stocking hitam agar kaki-ku tak sepenuhnya terbuka.

Untuk sentuhan terakhir aku memakai sepatu yang warnanya senada dengan bajuku. Sepasang sepatu peseta yang datar. Kuperhatikan diriku di depan cermin. Kyaaa! Baru sekarang aku merasa kalau aku ini cantik hehehe…

Gaun beres, rambut rapi, tas… sudah, sepatu ada, make up? Hm… natural nggak terlalu norak, kepercayaan diri? Siaaap! Lengkap sudah, berarti, itu tandanya…

Aku siap ke pesta!

The SasuSaku Tales.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Story by: levina-rukaruka

.

Written by: levina-rukaruka.

.

Warning: OOC, typo, AU, dan segala macam keanehan.

Jam dirumahku menunjukan pukul 19.00 pm. Sasuke belum juga datang, aku tunggu diruang tamu deh…

Tak lama aku menunggu, suara bel dari pintu masuk rumahku berbunyi. Itu pasti dia!

Aku segera membukakan pintu dan melihat Sasuke.

Ia tampak lebih rapih dari biasanya. Memakai tuxedo hitam, rambutnya ditata seperti biasa, tapi lebih rapih dan dasinya…

Hiiieee? Dasinya, dasinya, dasinyaaa…?

"Kok warnanya sama?" seru aku dan Sasuke kompak dan kami sama-sama saling menunjuk.

Uuh… malu tingkat tinggi nih, kok bisa sama sih? Rasanya waktu beli kita nggak barengan deh…

Setelah menyadari kalau dasi Sasuke dan gaunku warnanya sama, kami saling terdiam. Wajahku tertunduk dan semburat merah mulai muncul. Huu… maluuu.

"Ehm," Sasuke berdehem, "kalau sudah siap, berangkat sekarang saja."

Aku mengangguk dan berjalan keluar. Kututup pintu rumahku dan berjalan di samping Sasuke.

Kami menuju sekolah dengan berjalan kaki. Walaupun angin dingin, asalkan bersama orang ini, rasanya jadi hangat.

"Ini," kata Sasuke sambil memberiku setangkai bunga mawar. Aku memandangnya aneh, kesambet apa dia?

"Untukmu, ambilah!" Sasuke menyodorkan bunga tersebut. Aku menerimanya, dan menyimpannya di dalam tas-ku.

"Sebenarnya, aku lebih suka Sakura," katanya, "tapi mustahil aku kasih kamu pohon sakura," ooh… ternyata bunga, kukira Sasuke suka Saku―eeh? Sakura 'kan aku? Ge er duluan deh, hehehe…

Aku tertawa kecil mengingat dugaanku tadi. "Aku juga, sakura itu indah. Rasanya nyaman kalau duduk di bawah pohon sakura sambil baca buku."

Sasuke tertawa kecil, "ya, terlihat lembut dan… cantik," katanya. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, pipi-ku mulai merona.

"Begitukah? Waaah, andai saja aku ini sakura," celetukku, "senangnya, jadi bunga sakura. Bisa dipuji sama Sasuke, hihihi…"

"Bukankah kau itu Sakura?" ujarnya. Langkahku terhenti, aku diam mematung. "Kamu nggak usah menunggu jadi bunga sakura untuk mendapat pujian dariku," ia melanjutkan, "karena kau, adalah Sakura."

Dia… dia bilang begitu? Apa dia hanya mengodaku seperti dulu? Tapi wajahnya serius…

Sasuke berbalik, "Sampai kapan kau mau diam disana?"

Aku tersadar dan menghampiri Sasuke sambil tersenyum, "arigatou…"

-xXx-

Pintu gerbang utama Konoha Gakuen sangat ramai, lalu lalang kendaraan mewarnai malam perayaan terpilihnya Deidara-senpai sebagai ketua OSIS. Di sepanjang halaman sekolah dipadati siswa-siswi SMU Konoha, para guru, dan undangan-undangan lainnya. Di sekitar perkebunan, lapangan basket, aula utama, dan gedung TK sampai SMU disulap menjadi sebuah area pesta yang didekorasi dengan pernak-pernik khas dari 'Akatsuki'.

Akatsuki adalah sebuah program yang dijalankan oleh semua anggota OSIS yang bertujuan untuk; menciptakan kedamaian dan kejayaan pada OSIS SMU. Semua guru, siswa, dan kepala sekolah mendukung program ini. Program ini memiliki lambang dengan corak awan merah.

Aku melangkahkan kaki-ku menuju tempat utama, tempat dimana kepala sekolah dan Deidara-senpai akan mengucapkan sepatah dua patah kata untuk pembukaan. Tempat itu adalah sebuah taman yang terletak di samping gedung Universitas.

"Tempatnya ramai. Hei, dimana yang lain?" aku celingukan mencari-cari ketiga sahabatku. Sasuke tak menjawab dan terus berjalan kearah tempat utama. Aku pun mengikutinya.

Alunan musik yang indah menggema dimana-mana. Makanan-makanan berjejer rapi di sebuah meja yang sengaja dihidangkan untuk tamu.

"Yo, Sakura, Sasuke!" Naruto memanggil kami dari arah tempat duduknya. Ia melambai-lambaikan tangannya sebagai tanda agar aku dan Sasuke menghampirinya.

"Hai! Sai, Hinata, Naruto!" sapaku balik. Sasuke tetap diam dengan tampang dinginnya seperti biasa.

"Kalian kompak ya! Baru sehari jadian, bajunya langsung kompak-kompakkan," kata Naruto jail.

BLUSH…

Wajahku memerah seketika. Siapa yang jadian? Heeeh?

"Nggak kok!" kataku dan Sasuke berbarengan (lagi).

"Tuh, kan! Kompak banget sih, jadi iri. Ya nggak, Hinata?" Hinata mengangguk senang.

Dasaaaar! Awas kau, kalau sekarang nggak lagi ada acara pasti aku sudah menghajarmu, Narutooo!

"Kami nggak pacaran! Lagi pula aku nggak suka dia!" tegas Sasuke.

Hm… iya juga. Dia benar. Sasuke nggak mungkin suka aku. Dia cuma suka orang yang punya sifat yang lembut, baik, cantik kayak bunga sakura. Berbeda banget sama aku yang kasar, dan muka pas-pasan.

Seketika semua diam. Hening diantara kita berlima. Sai menatapku sedih. Ya, Cuma dia yang tahu perasaanku. Tapi biarlah, toh aku sudah tahu kalau akhirnya begini.

Acara pun dimulai, seluruh undangan duduk di tempat masing-masing. Nona Tsunade selaku kepala sekolah menyampaikan pidato. Kemudian, disusul pidato dari Deidara-senpai yang berakhir dengan kata-kata, "Seni adalah ledakan. Ingat itu," dan nggak ketinggalan "un"-nya Deidara-senpai.

Sekarang seluruh undangan berpindah tempat menuju aula konoha gakuen untuk menyaksikan pementasan band dari kakaknya Sasuke dan teman-temannya. Teman-temanku tampak begitu meniikmati pesta ini. Begitu pula denganku.

-xXx-

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu tiba, ppuncak dari perayaan ini. Ya, apalagi kalau bukan acara berdansa bersama. Semua orang bergegas menuju lantai dansa. Aku sungguh beruntung bergi bersama Sasuke hari ini. Tapi apakah ia akan mengajakku berdansa? Sejak tadi ia hanya diam dan sibuk dengan minuman kalengnya.

Aku pun terdiam. Menunggu ajakan darinya. Bukannya mengajakku berdansa, Sasuke malah keluar dari ruangan. Aku bingung, sebenarnya mau apa dia?

Akhirnya aku mengikutinya. Ia menuju sebuah bukit kecil dengan air terjun kecil yang mengalir menuju danau buatan. Tempat itu letaknya di belakang gedung SMP. Ya, itu adalah halaman belakang SMP kami.

"Mau apa kau, Sakura?" tanya Sasuke. Aku menghampirinya. "Kamu… nggak ke aula, Sasuke?" aku balik bertanya.

Sasuke kembali berjalan menjauhiku dan menuju sebuah pohon besar, "untuk apa aku ke aula?" akh! Dia benar-benar membuatku bingung.

"Um… ano, kamu nggak mengajakku berdansa?" akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Kulirik wajah Sasuke. Raut wajahnya lebih dingin dan tatapan matanya menusuk. Beneran deh, aku benar-benar nggak ngerti dia.

"Sekarang aku bertanya padamu, untuk apa aku mengajakmu berdansa?"

Aku tersenyum pahit, "aku 'kan pasanganmu malam ini. Setidaknya, kau… kau mengajakku berdansa."

"Aku malas," jawabnya singkat.

"Begitu," jawabku.

"Ada hal lain yang ingin aku lakukan," lanjut Sasuke. Aku mengrenyit, "oh ya? Apa itu?"

"Kemarilah," ajaknya. Aku menurutinya dan berjalan menghampiri Sasuke. Aku berdiri dai sebelahnya, yaa walaupun agak jauh.

"Sebenarnya kau ini mau apa sih? Kenapa kamu malah disini?" tanyaku. Sasuke melihatku dengan ekor matanya, "ini tempat favoritku, kau tahu 'kan?"

"Ya, aku tahu. Bukan hanya kau, tapi aku, dan yan lainnya juga suka pemandangan di sini."

Sasuke menghembuskan nafas, "memandangi bintang seperti ini lebih menyenangkan dari pada berdansa."

Aku diam, tak membalas kata-katanya. Suasana disini sepi sekali, semua orang berada di aula. Angina musim dingin jadi semakin tarasa. Brr…

Kugosokkan kedua tanganku dan sesekali aku bergumam, "dingin…"

"Kau kedinginan?" Sasuke bertanya. Aku hanya mengangguk kecil. "Kenapa kamu nggak bawa jaket? Sudah tau kamu nggak kuat dingin!" heeh! Kumat deh penyakitnya suka marah-marahin orang!

"Kemarikan tanganmu!"

"Eh?" kataku kaget.

"Kau tuli, ya? Kemarikan tanganmu!" karena nggak mau dibilang tuli, aku mengulurkan tanganku. Ia menggenggam tanganku dengan tangannya. Tangan Sasuke besar, hangat lagi. Tapi kenapa dia melakukan ini? Apa ini hanya karena dia kasihan padaku? Jujur, aku sedikit keberatan kalau dia hanya kasihan padaku.

"Kenapa?" aku berkata, "kenapa kau… apa sebenarnya yang kau mau?" lanjutku seraya menarik kembali tanganku. Sasuke memandangku aneh.

"Nggak ada," jawabnya singkat. Mataku membulat. Benar 'kan, dia cuma… main-main.

Aku menunduk. Hatiku sakit, semuanya yang ia berikan padaku, hanya karena dia kasihan padaku. Semuanya, pertolongannya, pujian darinya, itu semua… bukan berasal dari hatinya.

Tanpa terasa, air mata membasahi wajahku.

"Katakan yang sebenarnya, jangan membuatku bingung begini…," kataku lirih sambil terus menangis. Sasuke tidak menatapku, ia terus memandangi danau di depan kami.

"Apa maumu?" ia bertanya.

Mauku….

"Aku mau kau jujur. Katakanlah kalau kau menyukaiku, dan katakanlah 'tidak' jika kamu benar-benar nggak suka aku," jawabku sesenggukan.

Ia menunduk, "tidak. Aku benar-benar nggak suka kamu, Sakura."

DEG!

A… apa? Dia, dia….

Kurasakan tubuhku bergetar, terlalu berat untuk mendengar ini semua, seandainya aku sadar dari awal kalau dia benar-benar nggak suka aku, pasti aku nggak akan merasa terbebani seperti ini.

Aku harus membuang ini semua! Aku harus kuat! Jangan menangis, Sakura! Harus tersenyum! Senyum, seperti biasa! Ayo!

Akhirnya aku tersenyum, bukan senyum yang ikhlas, tapi senyum palsu.

"Sudah kuduga," ujarku, sambil berbalik memunggungi Sasuke.

"Ya, memang sudah kuduga," katanya, air mataku kembali keluar, dan aku segera menyeka air mataku dengan tanganku yang dingin.

Aku pun berjalan meninggalkannya.

"Tunggu!" ia menjegatku.

"Jangan ganggu aku!" seruku.

"Hei!" kali ini dia memegang lenganku. Aku meronta, dan mencoba melepaskan tanganku, tapi Sasuke terlalu kuat.

"Pergi! Jangan ganggu aku!" aku berbalik dan berteriak tepat diwajahnya.

"Sejak dulu, aku sudah menduga ini, Sakura. Aku memang sama sekali nggak suka kamu! Tapi…," ia menggantungkan kalimatnya. Ia marik nafas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.

"Aku

"Kenapa Sasuke bilang nggak suka aku waktu di hadapan teman-teman? Apa Sasuke mau membohongiku lagi?" tanyaku dengan nada bergetar. Sasuke melepaskan tanganku.

"Apa aku harus bilang dihadapan yang lain?" ia beratanya, nada suaranya lebih lembut dari yang biasanya. Aku menggeleng.

"Bagaimana dengan Karin-senpai?" aku bertanya.

"Karin?" bingung Sasuke.

"Ya, bukankah ia pacarmu? Ia memberimu hadiah 'kan?"

"Itu bukan punyaku. Itu punya Itachi. Karin itu pacarnya Itachi," jawabnya.

Heee? Aku berarti salah dong? Hwaaaa… maluuuu!

"Kalau pacarku sih…," lagi-lagi Sasuke memotong kata-katanya! "Kalau pacarku, namanya Haruno Sakura."

"Hiiieeee?" kagetku, "Kamu, be-beneran?" lanjutku nggak percaya.

Sasuke tersenyum dan mengangguk. Kemudian, dia berbalik, dan mendekati sebuah pohon.

"Sudah selesai ngintipnya? Hm?" kata Sasuke. Dan tiba-tiba, keluarlah tiga orang dari balik pohon.

"Ehehehe, hai Sakura, Sasuke. Apa kabar?" kata si Naruto sambil tertawa cengengesan. Aku mengangkat tanganku dan pasti sudah meninju Naruto kalau dia nggak kabur.

"Ehem," Sai berdehem. "Jadi, kalian jadian nih?" goda Sai.

Wajahku memerah, dan Sasuke pun sama. Kami sama-sama diam.

"Kalau nggak dijawab, kuanggap itu sebagai ia."

Ya, akhirnya aku tahu perasaannya. Setelah berprasangka buruk dan sempat menyerah, akhirnya aku dan Sasuke, hehehe… jadi malu. Akhirnya, aku dan Sasuke bisa bersatu!

-The End-

Ah, teman-teman makasih ya, yang dah bersedia meluangkan waktu buat baca n review fic Levin, makasiiiih bgt! Sekarang fic ini dah tamat, ini semua berkat kalian, makasih ya!

Terakhir, Review please! kritik dan saran, dipersilahkan!