Di chapter sebelumnya :
"Aku bisa menghilangkan penyakitmu" kata Gamakichi dengan senyuman bangga.
DEG!
Dengan cepat aku langsung melihat ke kodok jelek yang ada dihadapanku itu. "..Bagaimana aku bisa percaya?" tanyaku serius. Jujur, walaupun pikiranku sekarang sedang sinting, aku SANGAT berharap kodok ini tidak bercanda denganku pada saat ini.
"Aku akan membuktikannya padamu bila kamu percaya padaku." katanya, "Jadi.. percaya? Atau tidak?" tawarnya sekali lagi.
.
.
Ditatapnya kodok yang ada dihadapannya itu. Sedari tadi ia masih tidak dapat percaya dengan semua kalimat yang barusan saja dikeluarkan oleh mulut seekor kodok.
"Hei, dari tadi kau mematung terus! Jawab pertanyaanku!" teriaknya
"..Terserah. untuk hal ini aku percaya denganmu. Tapi, aku yakin kau hanya main-main denganku" kata Naruto dengan menunduk.
"Namaku Gamakichi dan percayalah padaku! Aku bisa membuat penyakitmu hilang dalam sekejab, dan tidak tersisa apapun."
"Bagaimana caranya?" pandangannya langsung menjadi tajam, dan ia mulai membuka telinga,
"Caranya mudah," kodok yang bernama Gamakichi itu melajutkan kalimatnya, "Hanya setelah kau sembuh, kau akan menghadapi sesuatu yang mungkin akan lebih berat daripada sekarang."
.
.
THAT'S HURT
By : Zoroute
Desclaimer : my bappake Masashi Kishimoto
Pair : NaruHina, GamaNaru (Fantasy)
Genre : Romance, Drama, Friendship, Fantasy
Warning : Gaje, cerita mudah ditebak, AU, kuusahakan supaya bukan OOC
A/N : Okeeeh.. udah nyampe chap tiga! Dan yang paling parahnya, aku masih ngga bisa ngebedain nama-nama kodok summonnya Naruto (makannya nama kodoknya agak ngasal gitu). yang aku tau itu cuma mahkluk summon kayak Pakkun doang ^^; dan yang paling standar juga cuma Akamaru dan Tonton. Maafin aku ya, aku akan berusaha menjadi fans anim Naruto dengan benar! Mohon bimbingannya!
.
.
THIRD . Aku sembuh!
.
.
Naruto's POV
Pada awalnya aku ingin mengejek si kodok itu dengan kasar, tapi aku menahan jalannya suaraku disaat ia mengatakan 'Kau akan menghadapi sesuatu yang mungkin akan lebih berat daripada sekarang.'
Sepertinya kalimat itu barusan saja tercerna oleh otakku. Aku baru ngeh, dan sadar kalau ada kalimat ancaman disana. Kalimat yang membuatku menelan ludah. Masalahnya, menurutku apalagi yang lebih berat dari pada ini? tapi kali ini kubuang semua pikiran buruk jauh-jauh.
"Jadi.. hanya itu saja?"
"Ya, dengan seperti itu saja, kau bisa sembuh."
Lalu dengan sangat yakin aku menjawab, "Baiklah, aku percaya denganmu." awalku, "Tapi aku tidak menginginkan kebohongan satupun dari apa yang barusan kamu katakan!"
"Ya, tentu saja.."
.
.
Gamakichi's POV
Oh akhirnya! Akhirnya dia percaya padaku! Kukira butuh waktu yang sangat lama untuk mempercayaiku. Ternyata banyak yang tidak menginginkan sebuah penyakit yang berujung kematian, ya? * Emang ada yang mau, gitu!*
Dengan ini Gamabunta-kaichou tidak akan memarahiku! Yeah!
Mengingat kejadian kemarin saja sudah membuatku merinding! Aku sanagt tersiksa dengan kesalahanku yang satu ini. AKU MEMBERIKAN PENYAKIT KE ORANG YANG SALAH!
Aku masih menjadi malaikat penyakit yang amatir. Jadi pantas aja kalau aku salah memberikan penyakit. Tapi, yang ku bawa ini penyakit berat, dan aku bisa terkena hukuman berat karena itu.
.
Flash back
Sejak sebulan yang lalu, aku sedang bersantai di ruang tunggu para malaikat. Bersantai dan mengobrol dengan malaikat kodok dengan beragam profesi. Lalu tiba-tiba seekor staff kodok lain membuka pintu dan memanggilku.
"Gamakichi! Kamu dipanggil oleh Gamabunta-kaichou (=ketua)!" seru seekor kodok yang baru membuka pintu itu.
"Oh, baiklah" lalu dengan biasa aku berjalan ke ruangan Kaichou yang berada dilantai dasar. Dengan terheran aku membuka pintu ruangan tertua, dan yang kujumpai adalah Kaichou yang memegang sesuatu yang bersinar.
Sebuah kristal yang sangat indah. Dan aku yakin itu adalah kristal penyakit yang berat, karena semakin indah kristal itu, semakin parah juga penyakit itu.
"Wah? Apakah itu kristal yang kaichou sering bicarakan?" tanyaku yang kemudia langsung disusul oleh pandangan kaichou yang menuju kearahku.
"Ya, dan aku ingin kau segera mengantarkan penyakit ini keorang yang sudah ditunjuk di bumi"
Mendengar hal itu aku langsung kaget, "Apa? Kaichou! Ini bukan perkerjaan saya!" bantahku.
"Ya, memang benar. Tapi semua malaikat penyakit sudah diutus dan cuma kamu yang tersisa. Penyakit ini sudah di delay beberapa jam. Kau mau kita semua dimarahi oleh para malaikat lain?"
"Aah, baiklah kalau seperti itu"
Dan sebelum aku keluar dari ruangan itu, Kaichou memanggilku, "Gamakichi, kau tau'kan apa resikomu kalau kristal itu jatuh keorang lain?"
"—Eenn.." aku nyengir sedikit dengan hati yang gusar karena mengingat apa sangsi yang akan diberikan oleh Kaichou.
"Kau akan mati"
End of flash back
.
Dan ternyata, karena penyakit itu adalah salah satu penyakit yang menimbulkan kematian, saat ku bawa kristal itu ternyata kristal itu SANGAT BERAT. Dan yang paling parahnya lagi. Kristal itu terjatuh saat aku membawanya.
Dan jatuhnya ke orang ini. Orang yang ada didepanku.
Saat aku kehilangan jejak kristal itu, aku selalu menghindari kalau diminta keruangan Gamabunta-Kaichou! tentu saja aku takut akan sangsi yang ia berikan itu! dan lebih baik kuselesaikan masalah ini dengan tanganku sendiri juga bukan?
Dan yang akan membuatku terbebas dari hukumanku yang berupa mengambil kembali kristal itu, yang pastinya dengan mengambil kembali penyakit itu dari orangnya. Sebenarnya hal itu mudah saja dengan cara langsung mengambilnya tanpa menunjukan wujud, tapi bila aku melakukan hal itu, akan terjadi hal vatal seperti menimbulkan kegilaan.
.
.
Normal POV
"Sekarang. Bagaimana caranya kau akan mengambil penyakit ini?" tanyanya.
Lalu dengan cepat Gamakichi memanjat sesuatu yang bisa menjajarkan dirinya dengan kepada Naruto. "Sini. Akan kuambil penyakitmu." Katanya. Jantung Naruto berdegup dengan kencang, dan ia dengan perlahan memajukan langkahnya ke depan Gamakichi.
Dengan jarak yang dekat Gamakichi yang sekarang ada dihadapan Naruto itu mulai mengulurkan tangannya, dan tiba-tiba saja tangan Gamakichi seperti menembus kepala Naruto. Dan saat ia menarik tangannya sendiri, tangan Gamakichi yang terasa habis keluar dari kepalanya itu seperti memegang benda yang bersinar. Kristal penyakit. Tapi Naruto tidak bisa melihat itu.
Lalu tiba-tiba beberapa saat setelah kejadian itu, pandangan Naruto memburam, ia langsung merasa pusing dan dalam sekejap ia hilang kesadaran dan jatuh pingsan.
"Nah dengan ini perkerjaanku tinggal mengantarkan penyakit ini ke orang yang sudah benar-benar di takdirkan." kata Gamakichi, dan tanpa pandangan yang bersalah ia langsung pergi meninggalkan Naruto yang pingsan di jalan. Tapi ia sangat yakin kalau salah satu keluarga Naruto dengan cepat menemukannya.
.
.
Naruto's POV
Kubuka pelan-pelan kelompak mataku yang berat seakan dilapisi oleh lem itu. Dan bukannya pemandangan luar rumah yang kulihat, malah langit-langit kamarku yang berwarna putih. Dan saat aku membenarkan posisiku menjadi terduduk, seseorang wanita berambut merah itu langsung menghampiriku.
"Ah, Naruto! Kamu sudah sadar? Kaa-san sangat khawatir saat menemukanmu terbaring dijalan!" katanya cemas sambil memelukku.
Yah, tentu saja kaa-san khawatir, secara aku adalah anaknya satu-satunya dan sudah tervonis penyakit mematikan.
Karena sedikit terbawa dengan atmosfer haru yang di bawa Kaa-san, aku langsung membalas pelukan Kaa-san dan menjawabnya, "Terimakasih, Kaa-san. Aku berjanji tidak akan bersifat seperti kemarin lagi" janjiku, serius.
"Ya, Kaa-san percaya, Naruto" katanya sambil melepaskan pelukannya dan menatap mataku.
Lalu teringat dengan penyakitku, aku langsung memandang kedua tanganku yang berada diatas pahaku, kurasakan tangan ini jauh lebih ringan dibandingkan sebelum-sebelumnya. Terasa sehat. sangat sehat malah.
Aku tidak tau kemarin itu mimpi atau tidak. Hanya saja, aku sudah mempercayai keajaiban kemarin. Entahlah itu hanya mimpi atau pikiran miringku yang menghasilkan halusinasi. Aku hanya sudah .. terlanjur percaya.
"Ohiya, Kaa-san, bolehkah aku ke dokter Tsunade? Aku ingin meminta maaf." pintaku tiba-tiba. Sebenarnya sih aku ingin cek ulang kesehatanku. Aku harus membuktikan bahwa tentang si kodok itu bukan mimpi.
"Ah? Benarkah? Kaa-san sangat senang mendengarnya! Apa mau ibu temani?" sambut Kaa-san dengan tersenyum lebar.
"Tapi, Kaa-san tidak perlu repot-repot menemaniku. Aku akan kesana sendiri" kataku lalu segera turun dari tempat tidur dan segera menutupi pakaian tidurku dengan jaket. "aku berangkat sekarang yaa?"
"Iya, tapi apa kamu yakin? Kan kamu baru sadar dari pingsan? dan kamu tidak mau membawa uang untuk jaga-jaga kalau kamu mau melakukan pemeriksaan?" tanyanya bertubi-tubi, khawatir.
"Tenang saja. Aku bawa. Lebih malah!" bohongku. Lagian aku kesana bukan mau melakukan pengecekan, tapi membuktikan sesuatu.
"Baiklah. Hati-hati!"
.
.
Setelah Kaa-san menutup pintu depan rumah, aku langsung mengepalkan kedua tanganku, menarik nafas dalam-dalam dan berlari sekencang-kencangnya menuju arah ke rumah sakit.
Aku berlari dengan kencang, dan saat aku berlari aku kembali melihat kearah bawah, kearah kedua kakiku yang sedang terayun dengan tempo yang beraturan. Aku tidak merasakan hal yang aneh, seperti keram dan mati rasa aku semakin menambah kecepatan. Ini bukan lagi dimana saat aku berlari kakiku akan menjadi keram dan akhirnya terjatuh. Yang kurasakan adalah kakiku yang sama saat aku berlari saat beberapa bulan yang lalu dan tahunan yang lalu; saat penyakit itu belum menyerangku dan itu sebuah kebahagiaan yang belum sempat kusyukuri.
Dengan nafas yang sudah hampir habis itu aku teruskan dengan berlari, dan membentangkan kedua tanganku keatas, kemudian aku berteriak dengan kecang. "AKU SEMBUUUUH!"
.
.
Dan saat aku sudah sampai ke rumah sakit Konoha itu, dengan melupakan norma yang berlaku disana aku langsung masuk keruangan dokter Tsunade tanpa memikirkan bahwa dokter itu sedang melayani pasien.
"Naruto. Apa kamu bisa menunggu setelah pasien ini? Dan apa kamu tidak pernah diajarkan bahwa seharusnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" katanya cuek tanpa melihat ke arahku yang sudah ada didepannya, dan tetap sibukdengan catatannya tentang pasien yang sedang ditanganinya.
Padahal pasiennya saja nyampe kaget setengah mati saat aku datang dengan dobrakkan pintu yang kencang seperti orang yang marah.
"Sebelumnya aku minta maaf dengan hal yang kukatakan kemarin" kataku sebagai pendahuluan dengan membungkuk tanda meminta maaf. Lalu ku tegakkan kembali badanku untuk menyampaikan pesan dariku yang selanjutnya.
"Ya, lalu?"
"Aku sudah sembuh, aku ingin kau memberikan tanda kesembuhanku dari penyakit tersebut"
"Kenapa kau bisa dengan ringan mengatakan hal seperti itu?" tanyanya dengan pandangan yang menunjukan kalau hal itu tidak mungkin. Dan akupun sudah yakin ia akan berkata seperti itu.
Lalu aku mulai tersenyum, setiap kali aku mengingat kalau aku sudah sembuh dan hal yang membuatku sembuh itu selalu membuatku merasakan bahwa hal itu adalah mimpi. "Aku.. baru saja mendapatkan keajaiban"
.
.
Normal POV
Saat Naruto kembali kerumah, dengan senyuman yang lebar ia berikan kekedua orang tuanya. Dan saat memberikan hasil dari rumah sakit yang menyatakan kalau ia negative terkena ALS itu, Otou-san menjawab hasil itu dengan memeluk anak semata wayangnya dan Kaa-san hanya bisa memberikannya airmata kebahagiaan.
"Kaa-san! Otou-san! Sepertinya masa-masa diriku untuk menemani dan membahagiakan kalian ini masih banyak! Banyak sekali! Dan aku berjanji untuk tidak menyia-nyiakannya!"
.
.
Hinata's POV
"Naruto, kamu tampak senang sekali, ya hari ini!" seru Sakura yang juga sadar dengan perubahan tingkah laku Naruto dari sebulan yang lalu. Entah kenapa dari berita tangan Naruto keram disekolah sampai kemarin, Naruto terus terlihat agak murung, walaupun sudah jelas didepan mataku ia tampak menyembunyikan kemurungannya didepan teman-temannya yang lain.
"Ya dong~ hehe. Hari ini aku sangat bahagia!" seru Naruto ke Sakura yang sengaja datang kekelas, yah hitung-hitung sifat yang menunjukan hadiah karena Naruto sudah kembali seperti dulu. "Kenapa kau khawatir karena perbedaan sikap temanmu yang ganteng ini, Sakura-chaan?"
"Heii! aku memang khawatir tapi aku ngga pernah memujimu ganteng, ya! Baka!" Sakura yang kesal langsung menjitak kepala Naruto dengan tenaganya.
"Aduh, sakit. Hahaha!" keluhnya sambil tertawa lepas, "Akukan cuma bercanda, Sakura-chaan!"
Melihat Naruto yang sekarang sudah kembali tertawa lepas dan iseng itu membuatku merasa lega dan puas. Aku ingin selalu melihatnya tersenyum lebar seperti itu.
Dan saat ia dan kawan-kawannya pergi keluar kelas, terdengar suara Naruto dari luar, "Ahk, aku lupa satu haal! Kalian duluan aja, ya?" pinta Naruto.
"Ah, payah kau. Dasar pikun." Kata seseorang cowok dari luar yang besar kemungkinannya adalah Kiba atau Shikamaru.
Lalu setelah itu pintu kelas kembali terbuka dengan sosok Naruto yang ada disana, sebelum ia masuk aku langsung memindahkan perhatianku, aku malu kalau ketahuan memperhatikannya makannya aku kembali berkonsentrasi dengan gambar yang sedang kugambar di buku gambarku.
Lalu saat aku hendak mencari lagi sosoknya di kelas, karena dari tadi aku tidak mendengar suara rusuh yang biasa dikeluarkannya, tiba-tiba aku terkaget dengan seseorang yang sangat kukenal parasnya. Yaitu, Naruto.
Dia sudah ada di hadapanku. Menatapku dengan cengiran faforitnya dan merupakan tatapan yang sama dengan saat pertama kali kami mengobrol. Juga di meja ini.
"Na-Naruto-kun!" kagetku dengan gugup. "Kamu sedang apa? Bukannya kamu seharusnya kekantin bersama teman-temanmu yang lain?"
"Oh, hai, Hinata-chan." sapanya dengan enteng. "Aku disini cuma ingin berterimakasih"
"Ah? Un—Untuk yang kemarin? Kenapa harus berterimakasih?" tanyaku dengan muka yang kembali memerah.
"Ya pastinya karena kamu yang telah membuatku semangat. Memangnya siapa lagi? Aku bahkan tidak bicara tentang masalahku keorang lain selain dirimu dan orangtuaku" jelasnya, "Dan aku ingin mengajakmu kekantin. Aku ingin kamu juga bermain dengan teman-temanku yang lain."
"Emn, maaf.. bukannya menolak ajakanmu, hanya saja aku harus mengantarkan makalah ini ke seseorang" tolakku dengan berusaha agar ia tidak merasa aku menolak ajakkannya.
"Oke, tapi bagaimana kalau aku yang akan menemanimu?" pintanya.
"Baiklah, asal Naruto-kun sendiri yang tidak merasa kerepotan"
.
.
Seperti apa yang dikatakan oleh Naruto, ia menemaniku untuk memberikan makalah ini. Ia benar-benar orang yang baik, padahal ia tidak perlu menyusahkan diri hanya dengan menemaniku hanya karena aku mendengarkan curhatannya. Walaupun hal ini tidak perlu. Aku senang karenanya.
"Hinata-chan, ngomong-ngomong kamu akan memberikan makalah ini ke siapa?" tanya Naruto dengan pandangan bingung.
"Ini mau kuberikan ke kakakku." jawabku. Sepertinya aku sudah menghilangkan kebiasaanku untuk gugup saat aku berbicara dengan Naruto. Mungkin ini terjadi karena aku sangat nyaman saat berada didekatnya.
"Wah, kamu mempunyai kakak? Kalau boleh tau, siapa namanya—?"
"Hinata?" lalu tiba-tiba omongan Naruto terpotong dengan suara cowok yang sepertinya muncul dari arah depan mereka.
"Woah! Senpai ketua osis!" Naruto yang kaget ada Neji disana, sang ketua Osis yang sangat terkenal dengan mata tajam dan sifatnya yang disiplin. Aku sih tau kenapa Naruto bersikap seperti orang yang takut dengan orang yang ada didepan kami ini, sudah pasti karena Naruto sering di hukum olehnya karena Naruto adalah contoh salah satu orang yang paling tidak disiplin di sekolah kami.
"Hinata? Sedang apa kamu?" Neji dengan mata indigonya yang persis dengan punyaku itu menyapaku.
"Neji-nii, ini yang kemarin kukatakan akan kuberikan padamu, baru saja aku diberikan itu oleh Kakashi-sensei" kataku pelan dengan memberikan makalah ke hadapannya.
Naruto dari tadi melihat kami dengan pandangan heran dan akhirnyapun ia bertanya, "Hei! Kenapa kamu menyebut senpai 'Neji-nii'?" tanya Naruto belom ngeh.
"Ya pastinya karena dia adikku" kata Neji dengan enteng dan hal itu membuat Naruto menjadi cengo.
"Yaampun, tuhan memang adil, ya? Setelah orangtuamu melahirkan Neji-senpai yang sifatnya sangat sok memerintah dan menyebalkan itu, lahirlah kamu Hinata-chan, yang lembut bagaikan peri. Pasti orangtuamu memandangmu sebagai seorang malaikat, ya?" jelas Naruto asal dan panjang lebar sambil geleng-geleng kepala.
"Hati-hati bicara kalau ada orang didepannya!" seru Neji dengan menjitak kepala Naruto yang adalah Adik kelasnya. *Neji kelas tiga SMA, Hinata dan Naruto kelas dua SMA.*
"Aduh sakit senpai! Ukur dulu kekuatanmu sebelum memukulku dong!" jawab Naruto sambil memegangi kepalanya yang benjol.
Dan saat aku melihat mereka berdua yang sedang saling bercanda dan mencacimaki satu sama lain, akupun menjadi tertawa pelan.
"Tuh'kan? Bahkan sampai Hinata-chan saja mentertawakanku!"
"Orang seperti kau emang harus selalu di isolasi ya, Biar diam dan ngga bergerak sama sekali?" ejeknya, lalu saat ia kembali memindahkan pandangannya ke aku, "Ohiya, kalian sedang apa jalan berdua?"
"Ah, tidak ada apa-apa." kontan mukaku langsung memerah saat ditanyai hal seperti itu.
"Yah, biasa. Hinata akan memperkenalkanku kepada calon kakak iparku. hehe" canda Naruto dengan memberikan tangannya ke Neji, seperti niat untuk menjabat tangan, tapi dengan cepat langsung di tepis oleh Neji dengan cuek. Dan ternyata bukan saja perkataan kak Neji yang tadi membuatku semakin merah, tapi perkataan Naruto yang barusan itulah yang juga membuat jantungku ingin jatuh dari tempatnya, walaupun hal itu adalah candaan biasa.
"Aku tidak mau mempunya adik ipar sepertimu."
"Yaaah.. jangan seperti itu doong"
KRIIIIING!Suara bel mengagetkan mereka bertiga.
"Ah sudah bel? Baiklah, sana kalian berdua kembali kekelas. Dan terimakasih sudah mengantarkan ini, Hinata."
"Ya, Neji-nii"
.
.
Mengingat kejadian tadi membuatku hanya memanas-manasi mukaku. Tapi memang benar, kalau kejadian tadi selalu saja menempel dipikiranku. Dimana aku bisa berjalan disebelahnya, berbicara dihadapannya, dan saling memberikan senyuman. Hal itu membuatku sangat senang.
Dan karena aku sudah lumayan lama menatap mukanya, aku menjadi lebih hafal dengan paras wajahnya. Dia berambut jabrik pirang yang tidak bisa turun sama sekali. Matanya yang biru laut itu memancarkan kesenangan dan kehangatan orang yang memilikinya. Dan tiga garis yang menghiasi pipinya. Itu adalah Naruto.
Dengan muka Naruto yang masih menempel diingatanku, aku mencoba untuk menggambarnya di buku gambarku . Dan mungkin walaupun akan terpergoki dengan buku gambarku yang terdapat gambar wajah Naruto, aku bisa mengatakan kalau aku berjanji kepadanya untuk menggambar wajahnya. Jadi untuk apalagi aku harus malu?
Ayo Hinata, kamu pasti bisa menggambar wajah orang yang kamu sukai itu. Ya, pasti.
Lalu dengan perlahan ia mengambil pensil 2b yang ada di kotak pensilnya, lalu ia goreskan dengan perlahan di kertas yang ada dihadapannya, dengan tenang dan hati-hati gambar sebuah sketsa dasar yang terdiri hanya dari beberapa lingkaran dan garis.
Dan saat ia hendak memberikan goresan untuk gambar yang lebih spesifik, tiba-tiba tangannya berhenti bergerak. Ia heran dan bingung dengan apa yang ia lihat dan rasakan.
Tangannya bergetar dan seakan mati rasa.
"A—Ada apa dengan tanganku?"
.
.
To Be Continue
.
.
a/n : Wuih, udah selese nih chap tiganya! Semoga aja para readers belom merasa bosen dengan fic ini. amiiin. Dan aku lagi mikir nih, soal cerita ini apa butuh peran antagonisnya juga ngga ya? Kayaknya rasanya perlu deh. Tapi siapa yaa -_-a? Silahkan bagi yang pengen ngasih pendapat dengan adanya peran antagonis menulis lewat review, aku akan senang sekalii!
.
.
Dialog in next :
"Baiklah, karena kelas sudah tenang, aku hanya memberikan informasi bahwa seminggu lagi ada pertandingan basket nasional di sekolah kita."
"Tidak! Aku merasa bersalah! Sangat bersalah! Bagaimana caranya aku bisa tidak merasa bersalah! Kalau begini jadinya lebih baik kau kembalikan penyakit itu kepadaku!"
"Apa kamu sehat Hinata-chan? Mau jalan denganku sekarang?"
.
.
Pojok 'ayo balas review!'(maaf ya ada yang reply an sama yang disininya beda. soalnya nulisnya msing-masing beda waktu -_-)
Ray Ichioza : okee, makasih ya sarannya dan reviewnya! kalo misalnya fic ini udah mulai maksa tinggal tegur aja, ya.. :) ini update-an nya. Senju Miru05 : makasih udah review lagi. aku sih takutnya kalo kepanjangan banyak yang bosen, hehe. iya sih aku juga awal nulisnya Gamabunta, tapi masalahnya aku masih agak bingung sama nama-nama kodoknya naruto. tapi Gamabunta dapet bagiannya juga kok :) Rhyme A. Black : oke aku bakal bales pake message sama bales di fic-nya makasih ya sarannya! Haze : iya, terimakasih ya udah review, semoga suka dengan chap ketiga ini! Vessalius-Sama : makasih pujiannya, hehe. aku sendiri masih agak bingung ini bisa di bilang genre fantasy ato ngga, abisnya fantasy nya dikit banget. ini update an nya! ZephyrAmfoterv : iya, makasih ya! tetep baca.. ini update annya! OraRi HinaRa : wah, maaf ya, yang kamu ngga mau bakalan kajadiaan-_-a wau, bocoran nih :p hehe. Restriver : makasih udah di fave yaa. baca lagi, ini update annya! Uzumaki Chiaki : sesuatu yang lebih parah itu udah sedikit kebuka di chap ini. kalau yang masalah naruto atau hinata jadian . . . doain saja semoga naruto cepet sadar. hehe . semoga aja kamu masih penasaran sampai chap terakhir yaa!
