Chapter sebelumnya :

Dan saat ia hendak memberikan goresan untuk gambar yang lebih spesifik, tiba-tiba tangannya berhenti bergerak. Ia heran dan bingung dengan apa yang ia lihat dan rasakan.

Tangannya bergetar dan seakan mati rasa.

"A—Ada apa dengan tanganku?"

.

.

"Maaf, tapi aku harus mengatakannya,"

"Silahkan dokter. Aku menunggu kalimatmu yang selanjutnya" kata Hinata dan langsung memejamkan kedua matanya saat ia akan mendengar kenyataan pada dirinya ini.

Sedangkan orang yang sudah dari beberapa tahun yang lalu menjadi dokter pribadi keluarga Hyuuga itu menunduk sedih, dan kemudian melanjutkan perkataannya, "..Kamu terkena penyakit ASL, penyakit yang selama ini keluargamu khawatirkan."

"..."

.

.

THAT'S HURT

Pair : NaruHina

Genre : Romance, Friendship, Hurt, Comfort

Desclaimer : Masashi Kishimoto

By : Zoroute

Warning : Fic panjang, AU, kuusahakan bukan OOC.

A/N : Hello Fic keempat udah selese aku buat nih! Dan mulai chapter ini aku lagi mikirin endingnya nih. Argh, emang agak susah nentuin ending yang ini.. Ohiya, aku ini selalu update fic ini tiap selasa lhoo! yaudah deh lanjut aja

Happy reading all!

.

.

FOURTH. Kenapa harus dia?

.

.

Hinata's POV

Aku tidak mengerti. Kenapa penyakit ini datang padaku disaat aku sudah menikmati hidup?

Memang beberapa keluarga Hyuuga sudah ditakdirkan banyak yang meninggal muda karena penyakit. Saat aku sudah menerima takdir itu dan menunggu datangnya, penyakit itu tidak datang kepadaku. Tapi kenapa penyakit itu malah datang saat aku sudah mulai mengerti rasa senang dengan hidup ini?

Apa takdir memang selalu mempermainkan hidup seseorang?

"Hinata-sama," dengan kimono jepang ala keluarga Hyuuga, salah satu pembantu keluargaku datang, "Anda sudah di tunggu di ruang keluarga"

"Aku akan datang" jawabku sambil membenarkan kimono ungu mudaku, lalu berjalan dengan pelan menuju ruang keluarga.

"Hinata" panggil ayah saat sudah melihatku diruang tamu, lalu menyuruhku duduk dihadapannya.

"ya, Otou-san" lalu aku duduk dengan rapi didepannya,

"Apa kamu tau dengan topik pembicaraan kita?" katanya pelan.

"Hm, tentang penyakit?"

"Ya, kamu harus optimis, Hinata. Dengan tekad kamu akan bisa sembuh dan hidupmu akan kembali seperti biasa."

"Sudahlah, Otou-san. Aku pasrah dengan takdir ini." aku menunduk sedih.

"Penyakit ini pasti masih membiarkanmu berpeluang hidup, jangan pesimis Hinata. kau tidak akan meninggal seperti klan Hyuuga lainnya."

Kenapa harus sekarang?

Kalau saja aku tau hidupku akan begini, lebih baik aku tidak usah sekalian dilahirkan. Percuma saja aku hidup untuk merasakan kesenangan yang sementara. Saat sedang merenung, tiba-tiba aku kepikiran sebuah wajah. Wajah yang seperti matahari bagiku.

Naruto. Senyumnya seakan menghiburku. Membawakan suasana tentram di hatiku. Kemudian, tidak terasa air mataku meleleh, dengan cepat kuhapus dengan punggung tangan.

"Hinata, jangan menangis. Kau harus selalu optimis."

"Iya,"

"Dan, mulai minggu depan setelah gejala-gejala mulai sangat terasa dan kau tidak bisa belajar di sekolah, kau akan tinggal di rumah sakit milik otou-san untuk terapi."

"Ya"

.

.

Naruto's POV

"Aaaahh! Kenapa Hinata-chan harus pulang lebih cepat dari biasanya!" keluh Naruto dengan berteriak saat melihat bangku Hinata yang letak tetapnya ada dibelakangnya kosong.

"Woi, berisik!" Kiba langsung melempar botol air mineral kekepalaku. "Tapi.. kenapa kau tiba-tiba jadi peduli dengannya?"

"Apa pedulimu, Kiba? Kau cemburu, hah?" aku berniat menggodanya karena berani-beraninya ia bertanya dengan nada yang mengejekku. Huh.

"Ya, tentu. Aku temannya sedari kecil. Kenapa?"

"HAH? Iya apa?" pekikku kaget.

"Tidak, temen dari smp doang. Haha!" Kiba tertawa saat aku bertanya dengan serius. "Rupanya kau sudah menyukai seseorang ya, Naruto! Kukira kau akan jatuh hati kepada si kepala pink itu!"

"WAA! Tidak! Aku hanya bertanya! Bukan berarti aku jatuh hati! Lagipula aku sedang tidak suka siapa-siapa! Sial kau Kiba!" seruku bertubi-tubi sambil kembali melempar botol air tepat kemukanya, botol air yang sebelumnya ia lempar kepadaku.

"Hei! Kalian berdua berisik sekali!" seru Shikamaru sambil menguap, "Aku sedang tidur tau."

"Yailah! Mentang-mentang lagi tidak ada guru, jangan tidur jangan disini! Dikamar mayat sana!" usirku, dan tiba-tiba bersamaan dengan teriakkanku, Neji sang ketua OSIS itu membuka pintu kelas. Cara membukanya pelan dan nyaris tidak ada yang mendengar, tapi hawa dirinya yang membuat kami semua sadar.

"Ah! Neji-senpai!" seruku. "Ada apa ke sini?" tanyaku heboh.

Neji tidak menjawabku, ia hanya memperhatikan seisi kelas sampai akhirnya kelas menjadi hening. "Baiklah, karena kelas sudah tenang, aku hanya memberikan informasi bahwa seminggu lagi ada pertandingan basket nasional di sekolah kita."

"APA? Jadi semua sekolah kayak Oto SHS juga bakalan ikut!" aku yang mendengar itu langsung berteriak.

"Ya,"

"WAAAHAHAHAAYY!" aku langsung makin heboh sendiri dengan muka berbinar-binar, teman basket dan yang lain hanya bisa memutar bola matanya.

Neji tidak menghiraukan keberisikkanku dan tetap melanjutkan kalimatnya, "Aku menaruh harapanku kepada prestasi bola basket sekolah kita" kata Neji dengan tajam lalu melihat kearahku, "Dan berhubungan kau adalah kapten basket Konoha, aku berharap kau dan teman-temanmu berlatih sejak sekarang."

"Ay ay kapten! Ya, kan? Kiba? Shikamaru?" tanyaku ke anggota basket Konoha yang ada di kelas ini, dan setelah disertai anggukan dari mereka aku langsung tersenyum lebar. "Ini adalah bulan kesukaanku ditahun ini! Yeah!" sorakku.

Dengan ini aku bisa bertanding denganmu, Sasuke!

.

.

Aku paling senang kalau pertandingan basket sudah mau dekat! Karena itu berarti kami bisa memainkan basket lebih banyak tanpa dimarahi satupun pihak sekolah, bahkan aku dan yang lain pernah bermain basket disekolah sampai malam. Dan hal itu sangat menyenangkan!

"Naruto!" seru Kiba memecahkan lamunanku sambil melambaikan tangannya didepan mukaku. Setelah aku menyahut ia langsung tersenyum lebar, "Mau godain anak cheers?"

"Tidak terimakasih, aku lagi ingin cepat pulang. Lagipula aku sangat malas kau ada pelatih cheers disana, bayangkan pom-pom dengan kepala si pelatih Gai itu tidak bisa dibedakan." tolakku pelan sambil berjalan keluar dari gerbang sekolah. aku sebenarnya belum cukup capek dengan latihan sampai sore ini, tapi aku ingin satu hari ini aku pakai untuk bersyukur pada Kami-sama terlebih dahulu.

Karena sampai sekarang aku masih bisa memantulkan bola lewat kedua tangan ini.

Kuputuskan untuk menuju kuil yang sebelumnya pernah menjadi tempat dimana aku disembuhkan. Dan setelah sampai, dengan semangat kunaikki satu persatu anak tangga yang tinggi-tinggi itu.

Dan saat ku sampai diatas, aku melihat kuil yang disana. Lalu didepan kuil aku memejamkan mataku dan langsung berdoa, mungkin doaku hanya sebentar, tapi aku benar-benar serius untuk berdoa. Lalu saat aku akan kembali aku sempat melihat di atas sebuah patung kuil yang ada Gamakichi disana.

Kulihat kodok itu sedang memegang telefonnya yang besar, dia tampak serius berbicara dengan orang yang ada disana. Tapi aku tidak yakin benda itu telfon, masalahnya aku sudah dipaksanya untuk percaya kalau dia adalah kodok yang bisa berbicara dan mengambil penyakitku, masa aku harus percaya hal aneh seperti ini lagi?

Niatnya aku ingin mengagetkannya, karena ia sedang duduk sambil membelakangiku. Tapi semakin dekat aku semakin jelas mendengarkan obrolannya.

"Ya, aku sudah memberikan penyakit itu keorang yang seharusnya. Jangan sampai berita aku memberikan penyakit keorang yang salah itu kedengaran dengan Gamabunta kaichou ya? Ini rahasia soalnya."

Hm? apa dia sedang berbicara tentang penyakit?

Apa maksud 'orang yang salah' itu aku?

Dan siapa 'orang yang seharusnya'?

Tunggu, apa maksudnya ini?

"Hn, orang itu bernama Hinata Hyuuga"

APA?

.

.

Gyeeekh.

Dengan kasar ku injak kodok itu.

"WAAAAAKKHHH!" teriaknya histeris bercampur kaget. "Aduuuh! Apa-apaan kau! Tadi usus ku hampir keluar dari mulut tau!"

"APA PEDULIKU? Kenapa kau tidak memberi tahu kepadaku kalau penyakitku jadi kau berikan ke Hinata teman sekelasku itu!" seruku frustasi.

"Rupanya kau mendengarkan omonganku, ya? Kupikir kau sudah tidak bisa melihatku lagi. ternyata masih bisa, ya?" tanyanya agak melompati pertanyaan.

"jangan basa-basi! Aku sedang bertanya!"

Gamakichi langsung menghentikan aktingnya karena jelas semuanya sudah ketahuan, "Diamlah! Aku juga pusing tau! Dari awal juga aku hanya akan memberikan penyakit itu kepadanya, karena ialah yang ditakdirkan untuk mendapatkan penyakit itu!" jawabnya mengembalikan teriakkanku.

"Aku tau kau menjadikan syarat 'akan terjadi hal yang lebih berat' kepadaku. Tapi aku tidak berpikir sampai sini..!"

"Itu hanya bohong! Aku salah memasukan penyakit itu sehingga penyakit itu jatuh kedirimu! Itu hanya akal-akalan agar aku tidak terlihat salah! Aku ini malaikat penyakit!"

"Argh! Sekarang aku tidak peduli kau mau jadi peri gigi, peri penyembuh ataupun malaikat penyakit! Hanya saja aku sedang bertanya kenapa kau berikan penyakit itu ke Hyuuga?"

"Itu takdir! Jadi biarkan saja hal itu terjadi!"

"Iya! Aku tau! Tapi bisa bukan kau berikan penyakit itu kepada orang yang tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup! Kenapa kau tidak berikan penyakit itu ke orang yang menyia-nyiakan kehidupannya? Kenapa ke orang yang penuh dengan masa depan terang seperti dia?"

"Jangan protes kepadaku! Aku hanya menyampaikan saja!"

"CK!" dengan kasar kutendang tumpukan kaleng sampah yang ada dihadapanku sehingga bagian-bagiannya berhamburan, "SIAL!"

"Kenapa? Kau marah?"

"JELAS! Aku merasa bersalah! Sangat bersalah! Bagaimana caranya aku bisa tidak merasa bersalah! Kalau begini jadinya lebih baik kau kembalikan penyakit itu kepadaku!" teriakku serius. Aku tau aku sangat-sangat-sangat sedih saat mengetahui diriku terkena penyakit itu, tapi bila itu penyakit yang awalnya dariku itu dilemparkan ke Hinata, ia bisa membuatku semakin sedih.

"Itu tidak bisa! Dan lagi pula untuk apa? Pada awalnya aku yang bersalah karena salah memberikan penyakit kepadamu!"

"Sama saja! Sama seperti aku memindahkan penyakitku ke orang yang telah membuatku tahan dengan cobaan itu!"

"..."

Melihat harapan dari Gamakichi yang tidak kunjung datang, aku langsung putus asa. Dengan frustasi kujambak rambut pirangku dengan kedua tangan.

"Kami-sama.. kenapa Engkau memainkan takdirku?"

.

.

Hinata's POV

Kupandangi halaman rumahku dari ruang tamuku. Memang untuk rumah-rumah yang ada dikawasan Konoha, rumahku bisa dikatakan rumah yang sangat besar dan mempunyai banyak unsur jepang didalam. Dan biasanya saat aku melihat pemandangan itu hatiku menjadi senang, tapi tidak untuk saat ini.

Hari ini aku sudah tidak masuk sekolah dengan menggunakan izin karena sakit. Sebenarnya aku yakin sama seperti dulu-dulu, tidak ada yang pernah menyadari kalau aku tidak masuk. Tentu saja karena aku tidak mempunyai teman.

Tok-tok. Seseorang mengetuk pintu geser ruang tamu, dan memecahkan lamunanku.

"Ya?"

"Hinata-sama, ada tamu"

"Ehn? Apa itu dokter Tsunade?"

Dengan tenang wanita yang umurnya sudah setengah abad dan tubuhnya dibalut oleh kimono itu menggeleng "Bukan, teman anda"

Mendengar hal itu aku langsung kaget dan tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang. Aku malu dan kaget, baru pertamakalinya ada teman sekolahku yang datang kerumah, aku jadi bingung akan bertindak apa, "S—Siapa?"

"Heeyy! Hinata-chan!" seru cowok yang sekarang paling ingin kutemui, ia tiba-tiba muncul dari pintu. Naruto. Dengan suaranya yang khas ia menyapa sekaligus memotong pertanyaanku.

"N-Naruto-kun?" ucapku gagap. Aku sangat malu ia melihatku mengenakan kimono rumah dan dengan cepat membuat wajahku menjadi merah. Memang, dirumah ini kami sekeluarga memang selalu mengenakan kimono, tapi aku tidak terbiasa untuk menunjukkan kimono ke teman-teman sekolah.

"..Permisi" wanita itu dengan sopan kembali menutup dan sekalian meninggalkan ruang tamu.

Dan sepeninggal wanita itu, ruangan langsung menjadi hening, Naruto tidak mengeluarkan kalimat-kalimatnya lagi, dan akupun hanya bisa membuang muka saking menahan malu.

"Kenapa Hinata-chan? Apa kamu demam, sehingga kamu tidak masuk sekolah?"

"..Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja ayah menyuruhku beristirahat" bohongku.

Melihat jawabanku, pandangan mata Naruto menjadi labih serius, seakan ia mendekteksi kebohonganku. "Aku sudah pernah bercerita masalah denganmu, dan kamu juga tidak perlu sungkan untuk bercerita padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik bila kamu membutuhkan." katanya panjang lebar.

Naruto berkata seperti ia ingin aku bercerita tentang masalah penyakitku. Sebenarnya aku sangat ingin menjadi orang yang didengarkan, namun sepertinya aku terlalu bertindak lebih kalau langsung memberikannya cerita yang tidak jelas seperti penyakitku ini. Dan, masalahnya juga walaupun ia pernah bercerita kepadaku, ia hanya menceritakan hal yang sederhana, bukan hal yang seperti ini.

"..Ya, terimakasih Naruto-kun"

Ia mengangguk dan tak lupa senyuman yang ada diwajahnya. "Apa kamu sehat Hinata-chan? Mau jalan denganku sekarang?"

"Hah? A—Apa?" aku langsung kaget sekaligus senang. "Denganmu?" aku masih tidak percaya, walaupun waktu kemarin ia pernah menemaniku memberikan makalah ke Kak Neji aku masih tidak menyangka kalau ia akan mengajakku jalan diluar, bukan disekolah lagi.

Kami-sama.. Kenapa Naruto selalu membuatku semakin berharap?

"Ya, denganku. Ada apa? Kamu tidak suka,ya?" dengan nada kecewa alis matanya ia tarik jadi menurun, terlihat sedih dan kecewa.

"B-Bukan! Bukan itu.. aku benar-benar ngga percaya kamu akan mengajakku pergi, bahkan aku masih tidak nyangka kalau kamu menjengukku, Naruto-kun" jawabku dengan menunduk.

"Haha! Jangan bicara seperti itu Hinata-chan! Kamu itu temanku dan apa salahnya dengan hal itu? Aku hanya ingin membuatmu senang dan tidak galau. Ayo aku akan menunggumu diluar, ya?"

Senang. Itulah apa yang kurasakan sekarang.

Biasanya banyak orang yang mengaku kecewa saat seseorang yang ia sukai hanya menyebutnya dengan sebutan 'teman'. Tapi aku benar-benar sangat senang, bahkan lebih karena ia sudah menganggapku ada. Bukan lagi teman sekelas yang tidak dikenal.

"Terimakasih, Naruto-kun. Aku akan ganti baju terlebih dahulu."

.

.

Normal POV

Setelah Hinata sudah siap dengan baju kemeja putihnya yang sederhana namun tetap menunjukkan keanggunannya. Naruto yang menunggu tanpa memandang waktu itu sekarang memandangnya dengan pandangan tertegun, sebenarnya ia sudah mengetahui kalau Hinata sangatlah cantik dan manis.

Dengan malu-malu Hinata berjalan kearah Naruto yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. "Naruto-kun, maaf.. kau menunggu lama"

Melihat Hinata yang semakin menundukkan kepalanya karena malu itu hanya tersenyum, "Tidak perlu meminta maaf, kan aku yang mengajakmu sore-sore seperti ini—Ayo"

"Y-Ya"

"Aku akan mengajakmu ketaman kota Konoha yang cukup besar didekat sini." Kata Naruto sembari berjalan maju disusul oleh Hinata, "Apa kamu cukup kuat untuk kesana? Kalau kamu masih sakit, kita bisa ketempat yang lebih tidak melelahkan" kata Naruto khawatir. Tentu saja, Naruto kan mengetahui apa rasa sakit penyakit itu dan akibatnya, yang diawali dari kelelahan.

"Ti—Tidak, a—aku masih kuat"

Entah kenapa mendengar jawaban tanpa ragu dari Hinata itu membuat Naruto senang dan membuat tersenyum. "Kalau begitu, ayo jalan disampingku. Kamu kan bukan ekorku" candaku sembari menarik tangan kanannya lembut kedepan agar ia tidak lagi berjalan dibelakang melainkan berjalan disampingku.

"I-Iya" ucap Hinata gugup, lalu ketika ia sudah berjalan sejajar dengan Naruto, ia sempat menatap wajah Naruto yang kebetulan Naruto juga sedang melihatnya. Saat mata mereka berpapasan, Naruto tersenyum tulus kepadanya, sedangkan Hinata hanya membuang mukanya kebawah karena malu dicampur grogi.

"Eh! kita sudah sampai!" kaget Naruto yang ternyata perjalan menuju taman kota yang terkenal itu sangatlah cepat.

Sedangkan Hinata yang baru sadar dengan pemandangan indah didepannya itu hanya bisa menatap hal didepannya dengan tatapan kagum.

Taman yang bulat dan besar, yang setiap dasarnya dilapisi oleh bata putih yang disusun indah, bangku kayu yang di belakangnya terdapat pohon sakura yang sedang bersemi tersebar mengelilingi setiap sudut lingkaran. Dan tidak lupa dengan pancuran air yang besar dan terlihat ditengahnya.

Naruto mengajak Hinata untuk duduk disalah satu bangku kayu taman tepat disebelahnya. Setelah duduk dia langsung meregangkan badannya sambil menarik nafas dalam-dalam, dan setelah ia menghelakan nafas, ia berseru "Waah! Sudah lama sekali aku tidak kesini! Rindu rasanya! Kalau kamu bagaimana Hinata? Pastinya kamu dan keluargamu sering sekali kesini, ya?"

"..Tidak. Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan aku tidak punya teman yang banyak seperti kak Neji. Akhirnya aku tidak pernah keluar" kata Hinata, tapi sepertinya nada disetiap kalimatnya tidak mengandung rasa sedih maupun minta dikasihani, melainkan kalimat dengan nada yang sudah menerima hal itu.

Mendengar kalimat itu Naruto menatap sedih kecewek yang ada disebelahnya itu, cewek yang sekarang sedang merasa bahagia karena akhirnya bisa menjumpai tempat ini. "Hinata-chan,"

"Ya?"

"Sekarang kau tidak perlu berkata seperti itu, kamu memiliki banyak teman yang menyanyangimu. Termasuk aku, dan aku tidak suka kau mengatakan bahwa kau tidak punya teman" ucap Naruto lembut.

Mendengar Naruto berkata seperti itu padanya mata Hinata seperti langsung berkaca-kaca karena terharu, "Y-Ya Naruto. Terimakasih"

Tiba-tiba sesuatu bergelinding didepan kaki mereka dan berhenti disana. Saat Naruto melihat itu adalah sebuah bola karet. "..Permisi kak, Itu punyaku" kata seorang anak yang kira-kira umurnya lima tahunan itu sembari mengambil bolanya yang berwarna merah.

"Ya. Berlatih keras ya agar kau bisa menjadi pemain terkenal!" nasihat Naruto yang keluar begitu saja dari mulutnya, membuat mata anak cowok itu menjadi berbinar.

"Ternyata kakak mengetahui impianku, ya? Terimakasih!" takjub anak itu, "Ibu ku sama sekali tidak mendukung cita-citaku, katanya aku tidak berbakat"

"Karena itu kau harus menunjukkan bakat hebatmu itu ke ibumu agar ia tau!"

Melihat Naruto yang memberikan semangat ke anak itu membuat Hinata tertawa kecil sendiri. Menyadari tawa kecil dari Hinata, muka Naruto langsung memerah. Entah karena kaget melihat tawa Hinata yang manis atau malu karena perilakunya yang memalukan, "H-Hinata-chan! kenapa kamu tertawa? Aku memangnya berbuat salah, ya?"

"Tidak. Hanya saja kamu seperti ayah dari anak itu Naruto" Hinata masih tertawa senang karena bisa membayangkan kalau anak itu dan Naruto sudah menjadi ayah dan anak. "Kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik" pujinya ke Naruto yang sekarang sudah salah tingkah sendiri.

Mendengar kalimat Hinata, Naruto tertawa senang mengingat ia juga pernah mengatakan kalau Hinata akan menjadi istri yang baik, "Kamu menggambil kalimat pujianku ya rupanya?"

Hinata hanya bisa tersenyum dan pipinya memerah. Lalu anak cowok itu menatap Hinata dengan wajah penasaran, "Kalian sedang pacaran, ya?"

"Tid—!"

"Belum" sebelum Hinata sempat menepis pertanyaan tadi, Naruto langsung memotongnya dengan jawaban yang tenang. "Hehe" lalu tersenyum kearah hinata

Belum dan tidak kan mengandung arti yang berbeda bukan?

"Oohh!" anak cowok itu sok mengerti dan kembali melanjutkan pertanyaannya ke Hinata, "Apakah kakak mempunyai cita-cita?"

Deg. Dengan cepat Hinata langsung tersadar.

"Hinata-chan?" tanya Naruto

Ia kembali mengingat tentag penyakitnya yang beberapa saat yang lalu ia sudah lupakan sesudah kedatangan Naruto. "Pelukis." Ya, ia ingin menjadi pelukis.

Hinata memandang kedua tangannya itu dengan tatapan sedih, lalu tidak terasa ada beberapa tetes butiran kristal yang menjatuhi kedua telapak tangannya. Dan dengan menggengam kedua tangannya erat-erat ia berdiri dari bangku taman dan brlari sekencang-kencangnya.

"Hinata!"

.

.

Hinata berlari sebisanya, lalu saat ia sudah merasa lelah, ia memberhentikan larinya dan memilih untuk menyender di balik pohon sakura yang indah.

Ia lupa dengan adanya penyakit yang sekarang ia tidak lagi bisa meraih cita-citanya. Ia tidak berharap untuk menjadi pelukis, yang penting setiap hari ia dapat menggambar saja ia sudah senang. Tapi sekarang?

Sekarang dia harus meninggalkan kegiatan yang selalu menemaninya dikapanpun dan dimanapun itu. kegiatan yang sejak dulu lebih sering menemaninya dibandingkan seorang teman.

Mengingat-ngat semua yang ada dipikirannya hanya bisa membuatnya menundukkan kepalanya dan menangis sedih. "A—Aku sudah tidak bisa menggambar lagi.."

"Bisa. Kamu masih bisa," kata Naruto tiba-tiba dengan suara terengah-engah, sudah pasti kalau Naruto mencari Hinata sekeliling taman dengan berlari dan baru saja menemukannya disini.

Mendengar kata-kata Naruto, Hinata menghentikan isakkannya menjadi diam, tapi air matanya terus meluncur tanpa henti.

"..Dan aku akan membantumu," kata Naruto dengan bijak sambil menarik Hinata kedalam pelukkannya. Awalnya Hinata kaget dan malu karena memperlakukannya seperti itu dengan tiba-tiba. Pelukan yang berbeda dari yang dulu. Namun, karena dia memang sangat membutuhkan tempat bersandar yang biasanya tidak pernah ia dapatkan itu, akhirnya Hinata membalas pelukkannya dan menangis sejadi-jadinya disana.

Hinata memang sedang membutuhkan orang yang mendengarkan ceritanya, tapi ia sekarang lebih membutuhkan tempat ia menangis. Dan Naruto mengetahuinya.

Kita bisa bertanya kenapa Naruto mengetahui perasaan Hinata pada saat itu?

Ya, itu karena sebelumnya Naruto juga pernah merasakan hal yang sama bukan?

.

.

To be continue

.

.

a/n : fuah! Selesai juga nulisnya. Harusnya satu chapter di that's hurt ini jadi dua chapter aja kali ya. Biar ngga kepanjangan -_-. Gak deng, entar aja deh kalo buat fic baru. OHIYA! BADNEWS! Setelah mikir-mikir-dan mikir.. Aku beneran JADI ngasih peran antagonis nih!

sebenernya sih aku ngga ingin ngasih peran antagonis karena takutnya apa yang dibilangin direview itu bener. Makin runyem. Tapi kalo ngga dikasih peran antagonis. ENDINGNYA DIKIT! ;( aku stress sendiri mikirin endingnya walaupun udah nulis dikit-dikit. huhu

Daripada di chap terakhir yang nextnextnya cuma dikit words-nya dan biar wordsnya sama kayak chap-chap sebelumnya (3.000 an)aku banyakin dengan peran antagonisnya. Tapi tenang aja bentar lagi bakal tamat (gabakal jadi lebih panjang) kok! A.k.a dalam tahap penulisan.

Maaf ya bagi yang pengennya ga ada antagonis, aku terpaksa make. Dan kalo misalnya chap besok yang ada peran antagonisnya ngerusak ceritanya, review atau kritik aja. aku terima kok.

Ohiya satu lagi. aku tetep nerima review walopun telat.. Bahkan aku masih nerima review baru dari chap 1. Kalau review satu per-chap malah bikin aku seneng banget. Tapi kalo ngga login, aku ngga yakin bisa bales (bagi yang telat). DAN..

.

.

Dialog in next chap :

'Apa kamu mau aku yang menemanimu?'

'Ya, Naruto bahkan bisa meninggalkan pertandingan tanpa berpikir-pikir hanya untuk menjenguk teman perempuannya yang ada di rumah sakit. Kau bisa menyingkirkan Naruto dengan itu.'

"Aku bukan Itachi, aku Sasuke Uchiha, adiknya yang akan mengajarimu sebulan ini karena Itachi sedang ada halangan"

.

.

terima review dalam bentuk apapun. see you next tuesday!

.

.