Hinata's POV
Hari ini aku kembali tidak masuk sekolah, ayah tetap menyuruhku menjaga diri agar tidak terlalu lelah. Bahkan mungkin Ayah sudah menyuruh guru privat yang datang untuk mengajariku di rumah ataupun yang hadir ke rumah sakit.
Aku tidak tahu apakah benar Ayah mengeluarkanku dari Konoha High dan membiarkanku untuk homeschooling, yang pastinya aku sudah pasrah dengan masalah sekolah.
Kutatap lagi pemandangan luar dari jendela yang ada dikamarku, awan masih kelabu dan meneteskan air-air hujan yang dingin. Kueratkan kembali cardigan yang kupakai itu untuk lebih menghangatkan diri dari hawa dingin yang mulai terasa.
Tok-tok. Seseorang mengetuk pintu kamarku
"Ya, buka saja" jawabku, lalu disusul oleh munculnya Ayah yang menatapku dengan tersenyum, walaupun ada makna sedih didalamnya.
Setelah kembali menutup pintu kamar, ia menghampiriku, "Mulai hari ini.." ia menggantungkan kalimatnya.
"Ya, tidak apa kok. Otousan kan melakukan ini demi kesembuhanku" kataku pelan.
Harus kukatakan bahwa hari ini adalah hari penting bagi hidupku, karena mulai hari ini aku akan dirawat di rumah sakit untuk terapi. Sebenarnya penyakitku ini masih belum terlalu terlihat efeknya, tapi tetap saja Ayah ingin terapi untuk mempercepat kesembuhanku.
"Itu benar dan ayo kebawah. Biar Otousan yang membawa tasmu"
Pelan-pelan kuturuni setiap anak tangga yang ada di rumahku dan saat aku sudah ada dilantai satu aku disambut oleh orang yang sangat penting bagiku. Yaitu orang yang telah membuat diriku semangat dan tabah menghadapi semua ini.
Tentu saja orang itu adalah Naruto Uzumaki.
Entah dari sejak kapan dia selalu membuat diriku hangat dan bahagia. Ia bahkan sampai tidak masuk sekolah hanya untuk menemaniku ke rumah sakit. Aku juga sudah memberitahukan penyakit yang kuidap ini kepadanya. Sebenarnya dapat menceritakan beban ini kepada Naruto adalah sesuatu yang sangat cukup, tapi dia mengatakan kalau dia akan selalu mendukungku.
Aku menatapnya dan ia menyapaku dengan senyum, "Sudah siap dengan hari pertamamu?"
"Ya, tentu"
.
.
THAT'S HURT
By : Zoroute
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : NaruHina
Genre : family, friendship, romance, hurt/comfort
Warning : AU, cerita mudah ditebak dan mungkin OOC.
A/N : Chap lima update, nih! Mulai dari sini mungkin romance-nya jadi agak menipis, karena sedikit mulai fokus ke penyakit Hinata dan awal konfliknya. Jadi semoga aja masih banyak yang sukaa..!
YEAH! Happy reading everyone!
.
.
FIFTH. Awal masalah
.
.
Hinata's POV
Sudah hampir seminggu aku tinggal di rumah sakit. Memang pada awalnya pasti semua orang sama sekali tidak suka bila terkekang oleh rumah sakit karena tidak boleh melakukan ini, itu dan apapun, hanya sesuatu yang sudah diperbolehkan oleh dokter.
Tapi, memang aku adalah orang yang bisa mengadaptasikan diri dimanapun. Kukatakan seperti itu karena disekolah saja aku tetap melakukan hal seperti biasa walaupun aku tidak mempunyai banyak teman. Dan bagiku hal yang bernama sendirian itu sudah biasa.
Walaupun Naruto sering membuatku merasa aku sudah tidak sendiri lagi aku tetap tidak mau bertindak berlebihan untuk menceritakan hari-hariku setiap hari padanya ataupun meminta Naruto kesini. Aku sudah cukup bersyukur dengan Naruto yang sering menanyakan kabarku dalam via telekomunikasi ataupun datang sendiri.
Lalu baru saja ia melefonku, dia menceritakan bahwa tim basket Konoha sedang akan bertanding siang ini.
'Ya, kami hanya tinggal menunggu kedatangan sekolah Iwa Senior High kesini' seperti biasa Naruto menceritakan dengan semangat, 'Kalau Hinata-chan sendiri, bagaimana di rumah sakit?'
"Seperti biasa di sini selalu baik, tapi mulai besok ini aku akan kedatangan guru privatku." jawabku dengan tersenyum. Aku bahkan sudah melupakan kegugupanku saat bersama Naruto, walaupun rasa degupan di jantungku masih sangat terasa sampai sekarang.
'Baguslah kalau begitu, jangan sampai gurunya malas seperti Kakashi-sensei—'
"Hyuuga-san," panggil seseorang dari sampingku saat Naruto hendak menyelsaikan kalimatnya. "Sudah saatnya." Ternyata dia adalah seorang dokter yang sudah kukenali, Dokter Tsunade.
'Hinata-chan itu siapa?' tanya Naruto disebrang.
"Dokter sudah memanggilku untuk terapi." jawabku sambil mengangguk ke dokter pirang itu.
'Ah? Pasti terapi pertamamu, ya?' sepertinya Naruto kaget mendengarnya, 'Apa ada yang menemanimu disana?'
"Ehn, tidak ada. Neji-nii sedang sekolah dan Otousan juga sedang berkerja, ada apa dengan itu?" tanyaku yang tidak mengerti untuk apa ia menanyakan hal tersebut.
'Apa kamu mau aku yang menemanimu?'
Kurasakan mukaku kembali merah, "Ti-tidak! Tidak usah repot-repot menemaniku! Apa lagi kamukan mau tanding Naruto!" ucapku salah tingkah. Yaampun, seharusnya kalaupun itu basa-basi Naruto jangan berkata seperti itu, aku inikan bukan siapa-siapanya. "Ah! Sudah dulu ya Naruto-kun! Aku bisa terlambat."
'Baiklah, Jaa!'
Setelah aku selesai menelfon, Dokter Tsunade memandangku dengan menggeleng-geleng, "Haduh, masa muda memang indah, ya?" godanya.
Sedangkan aku hanya bisa membuang muka untuk menutupi merah dimukaku dan berjalan mengikutinya dari belakang.
"Kita akan fisioterapi, tapi tunggu sebentar disini, ya?" kata Dokter Tsunade yang kemudian masuk kesalah satu ruangan. Akupun melakukan seperti apa yang sebelumnya ia katakan, duduk menunggu.
Sambil mengisi kekosongan aku hanya bisa mengotak-atik handphone yang lupa kutinggalkan diruanganku. Karena aku jarang sekali membagi nomorku kesiapapun, aku hanya dapat melihat nomor-nomor Naruto yang sudah beberapa kali menelfonku.
Saat aku sudah sangat puas melihat nomor Naruto yang tertera di kontak handphoneku, aku menghela nafas bahagia.
"Naruto.. kun" gumamku sendiri dengan suara yang nyaris tidak kedengaran.
"Ya, apa Hinata-chan?"
Suara itu?
Dengan kaget aku langsung mendongakkan wajahku, dan tepat seperti apa yang kupikirkan aku melihat suatu sosok berambut pirang dengan deretan giginya yang ia sudah pamerkan.
"Hai." sapanya dengan tenang, melupakan rambutnya yang sudah acak-acakan dan keringat yang sudah menetes dari keningnya. Aku ragu tapi sepertinya ia kesini dengan berlari tergesa-gesa.
"Yaampun Naruto-kun!" teriakku sembari berdiri, "Kamu ngapain kesini? Bukannya kamu ada pertandingan!" baru kali ini aku berteriak pada seseorang. Tapi memang hanya cowok yang satu ini kelakuannya membuatku terus-terusan kaget.
"Aku sudah izin tidak ikut bertanding untuk menemanimu fisioterapi! Hehe.." katanya tanpa berdosa, sebenarnya aku sih yang merasa berdosa. "Tenang saja, aku yakin teman-temanku pasti menang, kok!"
.
.
Naruto's POV
Setelah lewat beberapa jam yang kulalui di rumah sakit, kurasakan getaran handphone yang kusilent di saku celana abuku. Dan setelah meminta izin dengan isyarat dari Hinata aku langsung keluar ruangan.
Dan dengan buru-buru kuangkat telfon yang tertulis dari Kiba. "Moshi-moshi?"
'WWOIII! BAKA! Kau kemana, hah?' teriaknya dari sebrang. 'Apa kau lupa jam satu siang tadi kita akan tanding!'
Sambil menyumpal telingaku dengan jari telunjuk aku menjawabnya, "Iyaa.. aku tau, masalahnya ini hari pertama Hinata-chan di fisioterapi"
'Hah? Hinata? Sejak kapan ia jadi manja denganmu?' tanyanya sedikit ragu dengan jawaban Naruto.
"Bukan! Maksudnya aku yang ingin menemaninya tanpa ia suruh."
'Ah, sok baik kau!'
"Enak saja! Aku memang sudah baik sejak lahir!" balasku, "Kalau kau tidak membiasakan diri untuk baik dengan perempuan, mungkin sewaktu kau besar kau akan menikah dengan anjing!" candaku disertai tertawa kencang di belakang kalimatku.
'Terserah kaulah..'
"Ohiya, bagaimana dengan hasil pertandingan? Seharusnya jam segini pertandingan sudah selesai kan?"
'Ya, kita menang dengan unggul 23 poin'
"Wow, bagus dong!"
'Ya ya ya, lihat saja Naruto, saat kau kabur lagi disaat pertandingan seperti saat ini, aku dan yang lainnya akan memberikanmu pelajaran!'
Tut . . tut . . tut . .
"Buset, dimatiin.." keluhku. Dan saat aku melihat layar handphoneku, aku tidak sengaja melihat jam disana.
04.17 p.m
"AAAH! Sudah jam segini?" pekikku, aku melupakan janjiku ke Kaa-san untuk menemaninya belanja. Dengan buru-buru aku langsung masuk keruangan Hinata, dan menemukan dirinya sedang menonton TV dengan secangkir teh ditangannya. Kalau jujur sih aku melihatnya seperti tuan putri, "Hinata-chan, aku pamit dulu ya? Aku ada urusan keluarga." pamitku sopan sambil mengambil tasku yang ada di meja samping tempat tidur pasien.
"Ya, terimakasih banyak Naruto-kun." katanya sambil tersenyum lembut kepadaku.
Dengan berjalan setengah berlari ku keluar dari rumah sakit aku langsung berlari dengan cepat, Kaa-san bisa marah kalau aku terlambat. Aku berlari melewati kuil tanpa mengurangi kecepatanku, dan melupakan Gamakichi yang sedang duduk merenung degan raut muka sedih di atas kuil.
.
.
Gamakichi's POV
Kulihat Naruto yang sedang lari terbirit-birit. Sepertinya anak itu sudah sangat sering kulihat berlari. Akhir-akhir ini aku tidak berbicara lagi dengannya, yah mungkin karena dia masih marah denganku.
"Sepertinya ia sudah melupakan penyakitnya yang beberapa seminggu yang lalu aku angkat dari dirinya. Ya?" gumamku, "Manusia jaman sekarang memang tidak pandai bersyukur."
"Tidak kok," jawab Gamaken, temanku yang juga seorang malaikat berwujud kodok. ia dalah kodok penjaga kuil ini. "Berkat kau, setiap hari ia selalu berdoa disini."
"Doa?"
"Ya, pada awalnya ia selalu berdoa 'terimakasih Kami-sama, kau telah menyembuhkanku dengan cara yang aneh' tapi akhir-akhir ini doa nya berubah,"
"Hm? Jadi apa?"
"Ya, jadi 'sembuhkanlah penyakit Hinata Hyuuga' siapa coba Hinata Hyuuga? apa cewek itu pacarnya ya?"
Mendengar kalimat Gamaken aku lansgung menjadi seperti terpukul oleh besi. Masalahnya aku yang memberikan penyakit yang tidak bisa disembuhkan itu pada temannya. Sebenarnya dalam masalah ini aku tidak bersalah, tapi cowok itu yang membuatku merasa sangat bersalah.
Aduh, aku harus bagaimana lagi?
.
.
Normal POV
Masih ditempat yang sama dengan Hinata yaitu rumah sakit, namun dengan ruangan berbeda terdengarlah suatu percakapan Hiashi, ayah dari Hinata.
"Ini hasil dari kondisi Hinata selama beberapa hari ini" kata dokter spesialis syaraf sekaligus dokter pribadi keluarga hyuuga, dokter Tsunade.
Setelah laporan itu di berikan ke Hiashi, Tsunade tidak melanjutkan kalimatnya dan menunggu Hiashi membuka amplop coklat itu. Saat membuka dan melihat isinya Hiashi terkejut melihat sesuatu yang sekarang ada didepan matanya. Tentang kondisi anak kandungnya itu.
"Ya, seperti apa yang anda lihat, Hiashi-san. Penyakit itu menyebar puluhan kali lipat lebih cepat dari seluruh orang di dunia yang pernah terkena penyakit itu.."
"Jadi.. apa ia masih ada harapan untuk hidup?" tanya Hiashi, suaranya bergetar menahan sedih.
"..Aku tidak bisa menjanjikannya"
"..Kalau begitu beberapa tahun lagi ia akan hidup? Aku ingin membuat anakku bahagia sampai akhir waktunya."
"Bukannya aku sudah mengatakan kalau penyakit itu puluhan kali lipat lebih cepat menyebar dibandingkan penyakit ALS pada orang lain?"
"..Lalu?"
"Mohon maaf, aku memang harus mangatakannya padamu," katanya sambil memejamkan kedua mata dan menghela nafas sekaligus melanjutkan kalimatnya "Hanya tinggal beberapa hari lagi."
.
.
Normal POV
Pagi ini, jauh dari kawasan keluarga Hyuuga, seseorang dengan headset dikupingnya itu hanya menikmati lagu rock yang sedang ia dengar. Melupakan tugas-tugas rumahnya yang sudah ia bagi rata dengan kakaknya. Ya, ia adalah Sasuke Uchiha. Ayah dan ibunya sudah lama meninggal, sehingga kakak satu-satunya, Itachi Uchiha yang menjadi tulang punggung keluarga sekaligus orang tuanya.
Trrrr... suara handphone flip hitam milik sasuke berdering.
Hal itu sedikit membuat Sasuke terganggu, namun saat melihat siapa nama yang menelfonnya itu ia langsung mengubah posisinya yang tadinya tiduran menjadi terduduk dan dengan kasar melepas kedua headsetnya.
Sai Uchiha calling . . .
"Kenapa?" kata Sasuke sesudah menekan salah satu tombol di handphonenya.
'Seharusnya kau berkata 'moshi-moshi' atau 'halo?' saat menjawab telfon,' balas disebrang.
"Berisik kau. Langsung saja, aku tau kau baru saja mendapatkan informasi." kata Sasuke dengan nada tidak suka.
Terdengar suara tawa dari sana. 'Ya, benar sekali aku baru saja mendapatkan informasi kelemahan Konoha senior high.'
"..Yang kuminta padamu itu mencari kelemahan tim basket Ame Senior High, lawan tandingku lusa! Kau salah mencari informasi, apa bagusnya kau disebut pencari informasi yang handal?" sinis Sasuke sambil kembali tiduran di kasurnya, tanda ia sudah malas mendengarkan ocehan Sai.
'Kenapa kau tidak bisa bersabar? Percuma saja kau disebut Sasuke Uchiha, sepupuku'
Sasuke berdecak kesal "Yasudah, lagipula kelemahan Konoha juga aku butuhkan karena dia adalah lawan tanding kalau aku memenang dari Iwa, apa yang kau dapatkan tentang kelemahan Konoha?"
'Ya, pemain handalan Konoha, Naruto Uzumaki sedang sangat mementingkan teman sekelasnya yang terkena penyakit.'
"Hm? Apa itu bisa dikatakan kelemahan?" tanya Sasuke meragukan.
'Ya, Naruto bahkan bisa meninggalkan pertandingan tanpa berpikir-pikir hanya untuk menjenguk teman perempuannya yang ada di rumah sakit. Kau bisa menyingkirkan Naruto dengan cara itu.'
"Cara yang merepotkan, tapi akan sangat berguna bila dijalankan." gumamnya berpikir, "Baiklah, siapa nama cewek itu?"
'Hyuuga. Hinata Hyuuga'
Tok-tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Sasuke, dan tanpa suara dari pemilik ruangan orang yang mengetuk pintu itu langsung masuk.
"Sasuke, kau sedang tidak ada kegiatan kan hari ini?" seseorang berambut hitam panjang serta muka yang mirip dengan Sasuke itu muncul di kamarnya. itulah kakaknya, Itachi yang berkerja paruh waktu menjadi guru privat.
"Ya, apa? kau ingin menyuruhku apa lagi?" tanyanya malas lalu mematikan handphonenya.
"Antarkan ini ke pos, aku akan menghadiri perkenalanku bersama murid baruku di rumah sakit." katanya yang sudah siap dengan kemeja putihnya.
"Kenapa tidak sekalian saja kau ke Pos? Bukannya rumah sakit dan pos itu jalan searah?" Sasuke mencari alasan
"Muridku yang ini seorang Hyuuga, Sasuke. Aku tidak ingin mereka memotong gajiku hanya karena aku terlamabat beberapa menit."
Dengan cepat Sasuke membulatkan matanya, "Apa? Hyuuga? Rumah sakit?" tanyanya bertubi-tubi. Dan setelah Itachi mengangguk, ia menaikan salah satu sudut bibirnya, "Aku akan membuatmu kalah sebelum bertanding melawanku, Naruto." gumamnya pelan lalu melemparkan pandangannya ke Itachi yang sedang meletakkan surat yang akan dikirimkan ke pos diatas meja Sasuke.
"Kali ini biar aku saja yang menjadi guru privat, aku ingin mencoba berkerja."
.
.
Hinata's POV
Memikirkan kebaikkan Naruto kemarin membuatku senang sekaligus khawatir. Tentu saja aku khawatir, disaat dirinya akan bertanding ia malah menjengukku hanya untuk menemaniku fisioterapi. Bukannya menjadi pemain basket itu cita-citanya?
Tapi, belum pernah sekalipun aku melihat seseorang begitu baik hanya demi seorang temannya. Karena memikirkan Naruto aku langsung tersenyum sendiri dan sampai tidak sadar kalau seseorang sudah mengetuk pintu ruanganku berkali-kali.
"Ehm, ya! Silahkan masuk!" jawabku dari dalam.
"Permisi Hinata-san," kata seorang perawat yang sudah kukenal dengan nama Shizune. "Apa kau sudah mendengar dari ayahmu kalau siang ini ada perkenalan dengan guru privatmu?" tanya cewek berambut pendek itu dengan ramah.
"Ya, aku sudah tau."
"Dia sudah sampai, boleh kupersilahkan dia masuk?"
"Tentu saja." kataku sambil mengambil beberapa buku yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ayah.
"Uchiha-sensei silahkan masuk," panggil Shizune, sambil menutup pintu setelah seseorang masuk keruanganku.
"Itachi-sensei, selamat siang" kataku setelah mengambil buku-buku. Aku memang sudah sempat diberi tau Ayahku kalau guru privatku yang baru ini adalah seseorang bernama Itachi Uchiha, orang yang sempat menjadi guru bimbelku sewaktu aku SMP. Tapi saat melihatnya, aku menjadi bingung sendiri, "Ah? Bukan, ya?" tanyaku ragu, mukanya masih mirip, tapi banyak sekali perbedaannya.
"Aku bukan Itachi, aku Sasuke Uchiha, adiknya yang akan mengajarimu seminggu ini karena Itachi sedang ada halangan," jawab cowok itu sambil menatap mataku dengan tajam. "Jadi kuharap dalam seminggu ini kita bisa berteman dengan baik, ya? Hyuuga-san."
.
.
To be continued
.
.
A/N : Akhirnya Sasuke muncul! What the hell! SASUKE! Coba kita lihat lagi pairnya.. oh, sama hinata? *menghela nafas lega..* Aku memang kurang suka sama Sasuke karena kesal dengannya di komik, tapi berkat baca FFN tentang Sasuke aku jadi suka Sasuke lagii! Hihi :D
Dichapter ini aku mau minta maaf karena sebenernya aku bisa ngebuat romance NaruHinanya lebih kerasa di bagian Naruto ngejenguk Hinata. Tapi karena ada faktor yang seputar 'aku ngga pernah tau rasanya di fisioterapi' makannya kuputuskan agar ku skip aja, dari pada maksa kan? -_-a. Semoga ngga banyak yang kecewa :'(
Yaudah deh, besok Sasuke akan mulai beraksi lhoo. Semoga aja kalian tetep membaca chapter depan, ya!
.
.
Dialog in next chap :
"Terus terang aku kesini bukan dengan alasan mengajar dan aku sengaja menggantikan Itachi dengan suatu maksud tertentu."
"Tenang saja Hyuuga-sama aku akan selalu bersamamu walaupun aku bukanlah orang yang baik."
"Aku ingin minta maaf pada kalian! Dan aku ingin mempertanggung jawabkan sangsi awalku!"
.
.
Doa in aja chap yang besok bukan chap terakhir, yaa!
Okeey, aku menerima Review dalam bentuk apapun : kritik, saran, pendapat, dll!
See you next Saturday! (ada perubahan waktu : tapi ngga tau nih mau sabtu minggu ini ato minggu depannya lagi..) \(^.^)/
.
.
Pojok 'ayo balas review!'
Ray Ichioza : Panggil pake nama apa aja juga gpp kok :) Naruto emg udah tau penyakit hinata, tapi kayaknya nunggu hinata aja yang ngsih tau. -,-a aku tinggal di Bintaro. Hehe ZephyrAmfoter : wah, kita senasib nih, tapi kalo aku UAS dan UN :'( haha.. tenang aja kok, aku ngga bakal make chara kayak gitu karena sedikit kurang suka : SelviaNaruHina : Terimakasih, tetep baca yaa! OraRi HinaRa : terimakasih tetep setia membaca walopun keinginan OraRi-san selalu tidak terpenuhi disini -_-a
iya, sih emang bener sasu bakal ada di chap besok. Semoga tetep suka. sapphirelavender's : Wah di chap depan emang ada Sasuke, tapi kayaknya keinginan Saplav-san bakal terpenuhi kok. Doain aja :D Mugiwara Piratez : hehe, makasih udah sempetin review lagi. semoga masih suka yaa! Kirei Mikareishi Furiyumei : sip deh :D makasih udah revieww! HaruMIchi : Oke deh :D udah pasti milih Hinata doong! Hehe. aguz vidiz namikaze : hehe, makasih reviewnyaa! salam kenal juga yaa! Baca chap 3-5 nya juga yaa :D seseorang : sip deh, makasih udah review! Chousamori Aozora : ya, harus ada sasu yang nemenin naruhina di setiap fic naruhina dong (mulai deh seenaknya XD) Senju Miru05 : wah, ada yang bikin terharu ya? Terimakasih banyak, kukira ngga dapet feel nya, sih. Rhyme A. Black : terimakasih sudah mengajarkanku dan kuusahakan untuk memperbaikinya. terimakasih reviewnya pujian dan sarannya!
.
.
THANKYOU!
