Dichap sebelumnya
"Itachi-sensei, selamat siang" kata Hinata setelah mengambil buku-buku yang mengira kalau guru privatnya yang baru ini adalah Itachi Uchiha, orang yang pernah sempat menjadi guru bimbelnya. Tapi saat melihatnya, Hinata menjadi bingung sendiri, "ah? Bukan, ya?" tanyanya ragu, mukanya masih mirip, tapi banyak sekali perbedaannya.
"aku bukan itachi, aku Sasuke Uchiha, adiknya yang akan mengajarimu sebulan ini karena Itachi sedang ada halangan" jawab cowok itu sambil menatap mata HInata dengan tajam. "jadi kuharap dalam sebulan ini kita bisa berteman dengan baik, ya? Hyuuga-san"
.
.
Setelah hanya tertinggal mereka berdua di ruangan itu tiba-tiba suasana menjadi hening. Hinata yang juga baru pertama kali bertemu dengan Sasuke langsung merasa tidak nyaman, berbeda dengan sewaktu Hinata pertama kali diajar oleh Itachi.
Saat Hinata sudah siap belajar dengan buku-buku yang sudah di mejanya, ia menengok kebelakangnya agar melihat kegurunya. Tapi ternyata saat melihat cowok itu Hinata lansgung merasa sedikit—tidak, bahkan sangat tidak suka.
Sasuke, gurunya yang akan mengajarnya menyelipkan batang rokok ke bibirnya lalu menyalakan rokok itu dan menghisapnya. Selain Hinata tidak suka dengan seorang cowok perokok, ia lebih kaget lagi karena gurunya menyalakan rokok di tempat yang seharusnya bersih dari asap rokok. Apalagi ini adalah ruangan muridnya yang sedang sakit.
Apa benar dia adalah seorang guru pilihan ayahnya?
.
.
THAT'S HURT
By : Zoroute
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Pair : NaruHina, SasuHina
Genre : Friendship, Romance
Warning : Kuusahakan bukan OOC, AU. Di chap ini Sasuke jadi kasar!
A/N : Chap enam update! Maaf ya kalo di chap 6 banyak yang kecewa gara-gara romance-nya mendadak turun abis-abisan. Dan kayaknya kalian bakal kecewa lagi dichapter ini -_-
Happy reading everyone!
.
.
SIXTH. Sasuke & Masalah
.
.
"Ano.. Sa-Sasuke-sensei, di-disini tidak boleh menyalakan rokok.." tegur Hinata dengan pelan, masih belum terbiasa untuk berbicara dengan guru barunya itu.
Orang yang belum tau dengan peraturan rumah sakit pastinya akan segera mematikan rokoknya, tapi ada yang tetap saja menghisap rokoknya. Itu berarti orang itu memang sengaja, ya, itulah Sasuke.
Dia hanya duduk di dekat jendela yang terbuka dan memandang Hinata dari sana, "jangan sok sopan di depanku, kau tau sendirikan kalau kita seumuran?"
"Eng.." Hinata ragu dan hanya bisa menunduk. Kenapa Itachi-sensei yang baik mempunyai adik yang seperti ini?
"Terus terang aku kesini bukan dengan alasan mengajar."
Mendengar kalimat Sasuke yang barusan membuat Hinata menatap sedikit kedua manik mata milik cowok berambut raven itu.
"Aku sengaja menggantikan Itachi dengan suatu maksud tertentu," lanjutnya.
"Maksud.. tertentu?"
Kemudian Sasuke menghela nafas sekaligus membuang asap dari rokoknya, "aku ingin menggagalkan usaha Naruto menjadi pemenang di pertandingan basket beberapa hari lagi."
Hinata kaget. Jelas sekali dia harus kaget, ada sebuah nama yang ia sayangi disangkutpautkan oleh cowok itu. "Na-Naruto?"
"Aku hanya ingin kau memintanya untuk menemanimu disini di hari H dia bertanding," katanya terus terang tanpa memperdulikan Hinata yang rasanya sangat ingin menutup kedua telinganya. "bagaimana? Tawaran yang sederhanakan? Selain dia akan melakukan hal itu dengan senang hati, kau senang dan akupun juga begitu. Kita bertiga sama-sama untung kan?"
"Ta-Tapi itu sangat merugikan Naruto! Aku tidak bisa melakukannya!" tolak Hinata mencoba berani.
Saat Hinata mengatakan penolakkan itu Sasuke langsung melemparnya dengan pandangan mengerikan miliknya sambil berjalan mendekati Hinata. Sasuke sendiri sedikit kaget, biasanya cewek manapun mau berbuat apapun demi dirinya tapi yang ini tidak, "kau harus melakukan apa yang kuperintahkan."
"..Tidak mau! Aku akan meminta ayah mencarikan guru baru padaku!"
Ia tidak mau melakukan hal sengaja yang bisa merugikan Naruto.
"Terserah, tapi aku bisa saja membuatmu tidak bisa melihat ayahmu lagi sebelum kau melaporkannya."
"!"
Menyadari hal yang dikatakan Sasuke adalah sebuah ancaman, tubuh Hinata dengan otomatis langsung gemetaran karena takut dan menunduk sambil menangis tanpa suara.
Ia sangat tidak suka diancam, benar-benar membuatnya sangat takut. Dan sepertinya Sasuke adalah seseorang yang bisa dengan tenang menjalankan ancamannya tanpa berpikir dua kali.
"Tenang saja Hyuuga-sama aku akan selalu bersamamu walaupun aku bukanlah orang yang baik."
.
.
Gamakichi POV
"Hai, Gamaken," sapaku kesalah satu kodok yang sedang menjaga kuil itu lagi.
"Hai, Gamakichi," sahutnya, "sepertinya kau sering kesini, ya?"
Aku hanya bisa nyengir, kalau jujur aku masih takut dipanggil kaichou. "ehm, iya nih."
"Aku dengar Gamabunta sudah memanggilmu kembali, kenapa kau tidak kembali?" tanyanya yang entah kenapa terdengar seperti ada maksudnya.
"..Mungkin sebentar lagi."
Hening.
"..Gamakichi, kenapa kau tidak jujur saja kalau kau sudah melanggar peraturan padaku?" kata Gamaken memecah keheningan.
Kalimat Gamaken langsung membuat jantungku seperti mau loncat. Apa dia sudah tau kalau aku memberikan penyakit ke orang yang salah! Kalau ia tau, Gamabunta-kaichou juga bisa tau. Lalu aku..
Mati.
"..Kau.. tau dari mana?"
"Kau mengambil penyakit itu didepan kuilku, bagaimana caranya aku ngga bisa tau? Dan—" tatapnya dengan muka sedih menggantungkan kalimatnya. "dan doa dari anak yang bernama Naruto itu. Karena ia selalu berdoa setiap hari, aku sadar ternyata awalnya masalahnya memang ada hubungannya denganmu."
"..."
"Gama—"
"Cukup. Aku akan mempertanggung jawabkan hukuman awalku."
.
.
Hinata's POV
'Hinata? Sekarang kau ada dimana?' tanyanya, suaranya terdengar seperti ada kekhawatiran disana. Tapi, mungkin hanya perasaanku saja.
"..Aku?" suaraku mulai parau saat aku melihat perabotan rumah sakit dan seseorang yang menemaniku, "Kau sendiri dimana Naruto?" aku melompati pertanyaannya, berharap ia tidak menyadari karena sangat susah mengatakan kepadanya kalau aku sekarang berada dirumah sakit disamping orang yang sedang mengancamku.
Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaannya, walaupun aku tidak yakin cuma karena kalimat itu bisa mngganggunya. Aku ini bukan siapa-siapanya.
'Hehe.. aku sedang istirahat menuju babak ketiga! Sebentar lagi aku akan mengalahkan Suna SHS untuk yang kedua kalinya!' kata Naruto di sebrang dengan senang, sangat jelas kalau ia sangat bahagia sekarang.
"Baguslah kalau begitu Naruto, jangan terlalu memaksakan diri kalau capek. Kamu bisa sakit." kataku dengan merapatkan handphone ketelingaku.
'Iya, pasti! Dan coba aja kalau kamu ada disini Hinata! Aku ingin menunjukan kepadamu dunk yang sudah kulatih selama ini!"
"Iya, sayang sekali aku tidak bisa hadir untuk melihatmu memenangkan pertandingan," tiba-tiba entah kenapa hatiku terasa sakit. Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa jalan lagi, penyakit ini menyebar ketubuhku dengan sangat cepat, dan tentu saja aku tidak akan bisa melihatnya. "tapi aku yakin kamu akan menang Naruto."
'Iya, terimakasih!' ucapnya.
Lalu saat aku mendengar suaranya kembali, aku langsung kembali menitikkan air mata, dan mencoba tegar dengan keputusanku. "Naruto," panggilku.
'Ya?'
Maafkan aku kami-sama, aku tidak ingin merepotkannya. Semoga ini bukan yang membuka masalah baru.
Klik. Aku memencet tombol end call dan suasana ruanganku kembali terasa hening, hanya saja sudah ada seseorang yang duduk disampingku masih memandangangku dengan tatapan yang sangat aku tidak sukai itu.
"Kenapa kau tidak menyuruhnya kesini seperti apa yang kusuruh?" kata cowok berambut emo itu.
"A-Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau menggagalkan impiannya."
Brak!
Beberapa detik sesudah aku mengatakan kalimat itu padanya, tiba-tiba suara buku jatuh memenuhi ruangan. Semua buku yang ada dipangkuanku terjatuh dari ranjang pasien karena sekarang kerah baju pasienku dicengkram oleh cowok ini. Sasuke Uchiha.
"Panggil dia." nadanya mengancam, "sekarang."
"Ti-Tidak.."
"Kau berani membantahku?" tanyanya sambil menggenggam pergelangan tangan kiriku yang disana tertusuk jarum infus. Dan harus kukatakan bahwa sangat perih disana apa lagi dia menggenggamnya dengan kencang. "cepat, telfon dia lagi."
Dengan sisa tenaga kucoba untuk melawannya, kutampar pipi kirinya menggunakan tangan kananku yang masih bebas. Lalu mendorong dada yang sedikit menghimpitku dan tanpa pikir panjang aku langsung mencabut jarum infus itu dengan paksa, sehingga aku bisa kabur darinya. Akibatnya sudah pasti ada yang berdarah dan rasanya semakin sakit.
Sambil menangis kesakitan aku berlari keluar ruangan, dan tentu saja aku mendengar suara langkah kaki yang terdengar seperti mengejarku.
.
.
Normal POV
Dengan tatapan aneh Naruto menatap handphonenya sampai-sampai Shikamaru heran dengannya.
Sambil menyiram sedikit air ke kepala Naruto ia berseru, "Naruto, kau kenapa? Sudah mau mulai pertandingan nih." katanya.
"Ya," jawab Naruto masih ada di dunia pikirannya sendiri.
Shikamaru dan Kiba yang mendengar hal itu menjadi heran, kan biasanya Naruto agak-agak lebay kalau di siram seperti tadi dan selalu membalas menyiramkan air minumnya dengan senyuman lebar. Tapi kali ini engga, ia malah masih mematung sambil melihat handphone-nya.
"Kenapa?" tanya Kiba yang bingung.
"..Aku mau pergi!" katanya sambil berdiri, mengaggetkan teman-temannya yang lain. "ku serahkan babak kedua ini pada kalian, ya!" katanya sambil berlari meninggalkan bangku pemain diluar lapangan dan keluar sekolah.
"He-Hei! Dia mau kemana?" Shikamaru pusing sendiri melihat ketua timnya pergi begitu saja.
"Ah, sudah kubilang harusnya handphone miliknya dimatikan.." Kiba hanya bisa memutar bola matanya dan sudah bisa menebak kalau sekarang Naruto pasti kerumah sakit untuk menjenguk Hinata. Dan pastinya tanpa diminta Hinata, emang dasarnya Naruto sendiri orangnya panikkan.
Dan kali ini Kiba sama sekali tidak mencegah Naruto karena yang penting Naruto sudah melakukan setengah tugasnya, yaitu bermain dua babak. Lagipula ia pergi dari sini juga bukan karena dirinya sendiri tapi untuk menengok Hinata kan?
.
.
Naruto yang pada awalnya berlari kerumah sakit itu mengurangi laju kecepatannya dan melihat sesuatu berdiri didepannya. Ia melihat Gamakichi disana.
"Naruto!" panggilnya kepada cowok yang tadinya sedang berlari itu.
"Hn, apaan?" tanya Naruto, masih terdengar nada kesal dikalimatnya tadi.
"..Rupanya kau masih kesal denganku, ya?" tanya Gamakichi.
"Jangan basa-basi, aku sudah tidak ada waktu lagi untuk meladenimu," ketusnya sambil melanjutkan laju jalannya tapi dengan berjalan.
"Hei, aku bukan berbasa basi!" dengan susah payah Gamakichi mengikuti langkah Naruto dengan melompat, "aku ingin membicarakan cewek yang bernama Hyuuga itu!"
Mendengar ada kata 'Hyuuga' di kalimat Gamakichi, Naruto langsung memberhentikan langkahnya. Entah kenapa cowok berkulit magrib itu langsung terdiam dan mengepalkan tangannya seolah ia marah.
"Ya, cewek yang bernama—"
"Cukup." kata Naruto yang langsung membuat Gamakichi kaget dan tidak melanjutkan kalimatnya. "belum puas kau membuat Hinata menderita?"
"Eh?"
"Belum puas melihat hinata kehilangan cita-citanya?"
"..."
"JAWAB! Kau itu tidak bisu!"
"..."
Hening.
Sebenarnya Naruto juga mengetahui kalau marah-marah seperti ini adalah hal yang salah. Karena sudah pernah dikatakan oleh Gamakichi bukan kalau ia hanya menyampaikan penyakit itu. Hal yang membuat Hinata seperti itu adalah takdir. Dan ia tidak bisa marah dengan takdir.
Mengetahui perilaku salahnya barusan ia langsung menyesal dengan menunduk, walaupun rasa kesal dengan si kodok yang ada dibelakangnya itu masih ada.
"..Aku ingin berbicara denganmu memang tentang Hyuuga, tapi bukan tentang penyakitnya!"
"..."
"Aku ingin minta maaf pada kalian! Dan aku ingin mempertanggung jawabkan sangsi awalku!"
"..Terserah dan aku tidak mau tau." katanya sambil melanjutkan langkahnya.
.
.
Saat Naruto sudah sampai di rumah sakit, ia menaiki tangga untuk menuju ruangan Hinata yang berada dilantai dua. Tapi saat ia membuka pintu kamar Hinata. Ruangan itu hening, tidak ada orang dan beberapa buku jatuh tercecer dan sedikit tetesan darah.
'Da-Darah?" dengan cepat firasat buruk memasuki pikirannya.
"Suster! Apa anda melihat Hinata?" tanya Naruto dengan nada tinggi ke salah satu suster yang sedang lewat. "dia pasien kamar ini!"
"..Hmm..setau saya dia sedang mengikuti les privat bersama seorang guru."
"Lalu kemana mereka? Jelas-jelas mereka tidak ada diruangan?" firasat buruk Naruto mendesaknya untuk cepat-cepat menemui Hinata. Harus.
"Saya tidak tau. Tapi saya melihat guru itu keluar dari ruangan ini dan menuju kelantai atas."
Tanpa basa-basi Naruto langsung menaiki tangga-tangga yang ada di rumah sakit itu dengan berlari.
'Hinata, sekarang kamu lagi dimana sebenarnya!'
.
.
Hinata's POV
Dengan susah payah kugerakkan kedua kakiku agar bisa menjauhi seseorang yang sedang mengejarku. Aku sangat yakin dia sedang tidak berlari melainkan berjalan dengan santai, seakan sangat yakin kalau dia akan menemukanku cepat ataupun lambat. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Kuputuskan untuk menaikki satu persatu anak tangga rumah sakit ini agar aku bisa sampai keatas. Dan saat aku sudah menapakkan diri dilantai empat, aku tercengang.
Aku sadar. Menaikki tangga ini adalah keputusan yang salah. Aku lupa rumah sakit ini hanya ada lantai empat dan lantai limanya adalah atap rumah sakit. Kalau disini bagaimana caranya aku bisa kabur darinya?
Saat aku hendak menuruni tangga kembali, dari atas aku melihat seseorang berambut hitam kebiruan itu berjalan pelan menaikki tangga. Membuat keinginanku untuk turun menjadi habis tidak bersisa. Lagipula aku sudah tidak mempunyai tenaga lebih untuk menuruni tangga terlebih lagi kakiku ini entah kenapa menjadi sakit dan berwarna merah.
Aku langsung mundur dan bersembunyi di salah satu tempat yang ada disana. Tempat yang bisa membuatku cepat ketahuan olehnya, tapi diatap, hanya ada satu tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi. Sambil meredakan degupan jantungku aku langsung memasang telingga tajam-tajam untuk mendengar apakah dia masih ada disini atau tidak.
"Kita sudahi permainan anak kecil ini, ya? Hinata-sama."
"!" suara itu mengagetkanku.
Ternyata Sasuke sudah ada di sampingku dengan seringainya yang menyeramkan. Saat aku akan kembali akan kabur darinya, tanganku langsung ditahan olehnya. Membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"K-Kau mau apa?" tanyaku dengan terisak.
"Aku mau kau melakukan apa yang tadi kukatakan." katanya, "Kalau saja kau nurut, kau tidak akan kelelahan seperti ini. Lagipula bukannya permintaanku itu sederhana, ya?"
"Bu-Bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak mau!" jeritnya sambil menangis. "Naruto adalah orang yang berarti bagiku!"
"Kau sudah kelelahan ya rupanya?" tanya Sasuke tanpa ada nada khawatir, dan malah mengencangkan pegangan tangannya kepergelangan tanganku "Wah, nanti aku bisa dimarahi, nih. Aku sebagai gurumu juga harus menjagamu bukan?"
"..Sakit.."
Kami-sama tolong aku..
Brak! Terdengar seperti seseorang yang membuka pintu atap dengan kencang.
"HINATA!" teriak cowok jabrik yang melihat Sasuke dan melihatku yang sedang menangis.
Teriakkan itu..
Teriakkan seseorang yang kukenal.
Naruto..
.
.
To be continue
And
LAST CHAPTER NEXT!
.
.
A/N : Iya looh, LAST CHAPTER next week! Tetep baca, yaa! wihihih.. aku suka banget kalo misalnya ada sasuke yang jadi tokoh antagonisnya (maaf kalo ada yang ngga suka)! Apa perlu aku make sasuke untuk mainin peran antagonis di setiap fic-ku, yaa haha? Rasanya emang peran antagonis yang paling cocok sama Sasuke karena ngebuat dia makin ganteng! ^.^v Dan.. disini naruhina-nya dikit banget yaa.. tapi tenang aja aku udah siapin banyak naruhina di last chap minggu besok!
.
.
Dialog in next chap :
"HENTIKAAN!"
"Aku saja sadar setelah mendengar kalimatnya tadi, dan kau masih tidak sadar? cewek bodoh itu memang pantas dengan cowok bodoh sepertimu".
"Hiashi-san! Cepat kesini! Ini tentang Hinata!"
"..Karena aku—"
.
.
Pojok 'ayo balas review!' ohiya.. ngomong-ngomong, maaf ya ngga bisa reply! Salahkan modem internetku itu! *nunjuk-nunjuk modem*
No Name : heheh.. siip deeh! Elly yanagi hime : salam kenal jugaa.. terimakasih, ya! tenang aja, kesembuhan hinata ada ditanganku kok! #plak. yunus kurosaki : terimakasih udah mau fave sama review! yap! sasuke meranin peran itu di chap ini.ZephyrAmfoter : Gamaken itu kodok temennya kodok-kodok summon *sotoy mode:on* yap tenang aja, ini bukan chap terakhir. sapphirelavender's : iya jahat sejahatnya deh #plak. ngga deh jahatnya biasa aja kok #digaplok makin kenceng. ice cream bluberry : terimakasih, tetep baca, yaa.. Senju Miru05 : hehe, semoga setelah baca chap ini masih tetep penasaran, yaa.. haha. Neema-chan Dattebayo: makasih udah penasaraan! ini update-annya! Seseorang : wah, aku lama update, yah? *gak nyadar mode:on* emang! sasuke jahaat..#ikutan. ini jadinya bukan chap terakhir, tapi besok yang chap terakhir. Chousamori Aozora : sip sip dehh.. ini update-annya!
.
.
Sekarang aku udah tau gemana endingnya lhoo! Hehe! Udah ngga bingung lagi :D
Btw, mau kritik, komentar, pendapat dll, silahkan REVIEW! :3
See you next Saturday!
.
.
THANKYOU
