Chapter 2 coming! Makasih banget ya yang udah menyempatkan tenaganya buat ngetik review chapter pertama fic ini. Chapter ini masih belum menjadi inti ceritanya tapi tak ada salahnya untuk membaca karena ini masih termasuk bagian penting cerita walaupun bukan intinya.
Chapter 2
Thank's and Good bye
By
Ka Hime Shiseiten
Pagi itu hari cukup cerah, aku sangat bersemangat bersekolah karena ingin bertemu kembali dengan Sasuke. Hampir semalaman aku memikirkannya, memikirkan semua yang ada pada dirinya terutama bagian apa yang mampu menyihirku untuk terus mengingatnya dan semua hal yang aku terka untuk menjadi alasan tersebut hasilnya nihil. Aku tak mampu mengetahui daya tarik apa yang ada pada dirinya.
Sesampainya di sekolah, aku langsung mengucapkan selamat pagi pada beberapa temanku yang sudah berada di kelas. Aku sampai di sekolah masih cukup pagi sehingga di kelaspun belum terlalu banyak orang, meskipun begitu aku sangat senang karena ternyata Sasuke sudah ada di kelas dan sedang masih membaca buku kedokterannya. Aku sempat berpikir kalau Sasuke terlampau bersemangat menjadi seorang dokter hingga buku yang sangat tebal tersebut tidak pernah lepas dari genggamannya.
Ku simpan tasku di meja, dan aku berpikir harus bagaimana mendekati Sasuke pagi ini hingga ku putuskan untuk menyapanya saja.
"Pagi Sasuke," sapaku padanya yang masih asyik dengan dunianya "Kau masih belum selesai membaca buku itu ya? Memang semenarik apa sih? Boleh aku melihatnya?" aku mulai mencercanya dengan pertanyaan.
Dia melirikku dari sudut matanya, kemudian memfokuskan kembali membaca. Aku jadi teringat pada perkataan Itachi-san kemarin kalau berbicara padanya seperti berbicara pada patung. Ku beranikan diri untuk ikut duduk di kursi sebelahnya.
"Maaf ya kalau aku selalu mengganggumu, aku hanya ingin berteman denganmu saja," aku melirik pada Sasuke yang masih serius menekuni buku tentang talasemia itu "Jujur saja, ketika melihatmu kemarin menyendiri membuatku tertarik padamu. Kau seperti mempunyai daya tarik yang mampu membuatku ingin mengenalmu, kesendirianmu seolah menggambarkan kalau kau memerlukan seseorang untuk mengerti keadaanmu lebih dalam,"
Sasuke seolah tersadar dari sesuatu setelah mendengar penuturanku, matanya menerawang kosong ke depan. Ekspresinya sangat sulit untuk ditebak, antara sedih, senang, dan yang paling kentara adalah kebingungan.
"Maaf aku berbicara lancang lagi padamu, tapi itulah yang ku rasakan. Aku hanya tak mau kalau kau berpikir yang tidak-tidak karena tindakanku yang terus mendekatimu," lanjutku kemudian setelah ku pikir dia memerlukan penjelasan atas penjelasanku tadi "Kalau kau merasa aku mengganggumu dan menginginkan aku pergi, aku akan pergi." Aku mulai beranjak dari kursi itu, tapi aku merasakan pergelangan tanganku dicengkram oleh Sasuke, aku menengokan kembali kepalaku padanya.
"Bisakah kau duduk lagi?" tanyanya dengan nada dingin dan masih menatap lurus ke depan "Kurasa, kita perlu bicara banyak," aku duduk kembali di kursi yang sebelumnya ku duduki.
Tapi ketika kami mulai akan mulai berbicara serius, kudengar teriakan Ino dari arah pintu. Mau tak mau aku beranjak dari kursi, aku tak mau harus mendapat gossip tak sedap tentang aku dan Sasuke gara-gara Ino melihat kami berduaan seperti ini.
"Sepulang sekolah kita akan berbicara kembali, aku tak mau Ino menyebarkan berita aneh tentang kita." Ucapku sebelum benar-benar meninggalkan Sasuke.
Ino keheranan melihatku tersenyum terus semenjak pagi tadi, sepanjang pelajaran Kurenai-sensei tak sedikipun pelajaran yang hinggap di otakku, karena yang ada di sana hanya Sasuke dan hal apa yang ingin dia bicarakan padaku. Aku tersadar ketika Ino menyolek pinggangku.
"Apa kau kerasukan setan sekolah? Ku perhatikan dari tadi, kau terus tersenyum. Apakah ada yang lucu dari teori geometri?" aku hanya menggelengkan kepala sambil terus tersenyum, "Lantas kenapa kau terus tersenyum? Kau sedang jatuh cinta? Pada siapa cepat katakana padaku!" tanyany lagi tapi sayang Kurenai-sensei mendengar keributan dari Ino.
"Nona Yamanaka, ada yang tidak kau mengerti?" tanya Kurenai-sensei dingin pada Ino
"Tidak sensei, hanya keinginan untuk buang air kecil," elaknya sambil pura-pura meringis
"Silahkan keluar kalau begitu agar kau tak terus-menerus mengganggu nona Haruno!"
"terima kasih sensei," ucapnya, dia berbalik sebentar padaku sebelum beranjak dari kursi, "Kau hutang cerita padaku, Sasuka." Lalu dia berjalam keluar kelas.
Waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Setelah semua teman sekelasku pulang, aku mendekati Sasuke kembali. Aku duduk di kursi yang tadi pagi kududuki di samping Sasuke.
"Sebelumnya aku tak pernah berbicara banyak seperti ini pada orang lain, tapi aku yakin kau orang yang bisa dipercaya," aku tersenyum mendengar penuturannya, "Sama sepertimu, akupun merasakan hal yang tadi kau ucapkan, aku merasa bahwa kau orang yang special.
"Sebelumnya aku tak pernah merasa seperti ini pada orang lain, tapi entah kenapa untuk pertama kalinya aku ingin berbagi padamu," dan untuk pertama kalinya aku melihat kelembutan di kedua mata onyx Sasuke.
"Berbagi? Apa maksudmu?"
"Selama ini aku selalu hidup sendiri, aku tak pernah mau berbagi perasaan pada orang lain kecuali Itachi-nii. Aku terlalu sulit untuk mempercayai orang lain, itu alasannya aku memilih untuk menghindari orang lain,"
Aku bisa melihat beban yang berat pada diri Sasuke, memang sulit kalau kita mempunyai banyak masalah sedangkan kita tak bisa membagi masalah tersebut pada orang lain, aku sangat ingin meringankan beban yang Sasuke pikul.
"Sakura, aku harap kau tak mengecewakanku karena ini pertama kalinya aku merasa mempunyai teman," ada kebimbangan pada ucapan Sasuke ketika dia mengucapkan kata terakhirnya, seolah dia telah mengatakan hal yang sangat tabu, tapi aku tak menutup kebahagianku ketika dia bisa menganggapku temannya.
"Kau bisa percaya padaku, jadi apa yang akan kau bagikan padaku?"
"Kau tahukan tentang Kaa-sanku yang meninggal? Aku kira dia akan menjadi salah satu penderita talasemia yang paling bertahan lama di keluargaku, tapi ternyata dia tak menepati janjinya padaku untuk terus mendampingiku,"
"Jadi kaa-sanmu penderita talasemia? Itu alasannya kau mau menjadi dokter?" dia mengangguk
"Aku jadi sedikit mengerti kenapa kau anti social, kau takut kehilangan lagi sehingga memilih sendiri kan?" dan dia kembali mengangguk
"Tapi kau patut bersyukur masih mempunyai Itachi-san dan Out-sanmu yang sangat menyayangimu, sebaiknya kau mulai sedikit terbuka juga pada mereka, aku yakin mereka sangat mengkhawatirkanmu," aku tersenyum.
"kau benar, aku juga sangat menyayangi mereka. Tapi sudah saatnya aku mengakhiri kutukan dalam keluargaku?" entah dia sadar atau tidak sadar dia menggenggam tanganku sangat erat.
"Apa maksudmu? Kutukan? Apakah ada orang lain selain Kaa-sanmu yang mengidap talasemia?" tapi Sasuke enggan menjawabnya, tanpa dia menjawabpun aku tahu kalau ucapanku benar bahwa salah satu anggota Uchiha mengidap penyakit mematikan tersebut.
"Aku akan membantumu untuk mencari cara menyembuhkan penyakit itu," aku membalas menggenggam tangannya, "Selama ini apa pengobatan untuk orang penderita talasemia?"
"sampai saat ini belum ada pengobatan yang mampu mengobati talasemia, tapi dengan transfusi darah dapat menghambat perusakan sel darah merah dan itupun hanya dapat bertahan paling lama seminggu dan setelah itu darah yang ditransfusikan akan kembali rusak,"
Oh Kami-sama, semenderita itukah penderita talasemia? Pantas saja Sasuke ingin sekali mencari obat untuk penyakit tersebut. Aku tak bisa membayangkan kalau penyakit itu menimpa pada orang yang keadaan ekonominya rendah, mungkin orang itu hanya tinggal menunggu darahnya rusak dan akhirnya meninggal tanpa sempat melakukan pencucian darah.
Kulihat metahari telah semakin condong ke arah barat, aku yakin Kaa-sanku akan khawatir kalau aku pulang terlaru larut.
"Sasuke, sudah sangat sore. Apakah Itachi-san tidak menjemputmu?" Sasuke hanya menggeleng, "Kenapa?"
"Aku tadi bilang kalau aku akan pulang bersamamu, jadi menyuruhnya untuk tidak menjemputku." Aku sedikit terkejut ketika Sasuke bilang akan pulang bersamaku, tapi ini terkejut karena senang. Sebenarnya aku ini kenapa sih?
Sasuke beranjak dari kursinya dan aku segera ikut beranjak pula, kami akan pulang bersama. Ini seperti mimpi, semalaman aku memikirkan bagaimana caranya bisa dekat dengan Sasuke dan sekarang dia mengajakku pulang bersama, bukankah itu sebuah anugrah?
Kami pulang menggunakan bis, ternyata jalur rumah kami serah. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun dari kami yang memulai percakapan, Sasuke sepertinya sedang memikirkan sesuatu dan aku tak ingin mengganggunya.
Rumah Sasuke lebih jauh dari rumahku sehingga aku lebih dahulu turun dari bis, aku berpamitan padanya dan berpesan kalau dia bisa menghubungiku kapan saja kalau dia merasa butuh sandaran atas masalahnya.
Sesampainya di rumah, aku bergegas ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Hari ini terlalu banyak yang aku alami dengan Sasuke sehingga aku perlu menjernihkan pikiranku dan menyadari kalau kejadian sepulang sekolah adalah nyata.
Seperti malam sebelumnya aku terus berpikir tentang apa yang akan terjadi besok denganku dan Sasuke. Semoga saja sedikitnya aku bisa membantu Sasuke dengan terus memberikan dorongan moral padanya, tapi aku sempat berpikir sebenarnya siapa Uchiha lain yang terkena talasemia? Aku tak mau memikirkannya, lebih baik Sasuke sendiri yang mengatakannya padaku.
ToBeCo
Haduh kok malah makin gake ya? Dan kayaknya jalan ceritanyapun gampang ditebak walaupun Cuma liat judulnya aja. Dan maaf banget kalau chapter kemarin banyak banget typonya, Ka bener-bener lupa buat ngedit maklum penyakit amnesia Ka udah mendekati stadium akhir.
Makasih banget buat yang udah nyempatin review, Ka ngehargain banget buat semua reviewer yang udah menyempatin tenaganya ngetik review fic Ka ini. Sekalipun itu flame Ka hargain kok, Ka anggap itu sebagai perhatian buat Ka.
Ok, sebelum Ka tutup Chapter 2 ini, Ka mau balas dulu review yang gak login.
Panda Chili
Iya, di sini Sasuke emang jadi orang yang anti social. Dan untuk pertanyaan selanjutnya, jawabannya dah ada di chapter ini.
Makasih ya dah review.
Aburume-anduts
Dah cepet kan? Makasih ya dah review.
Aya-na Rifa'i
Makasih ya dah review
4ntk4-chan
Makasi XD
Jawabannya dah ada di chapter ini, emang segitu gampang ditebaknya ya? Tapi semoga aja endingnya gak mengecewakan gara-gara gampang ketebak XD
Makasi ya dah review.
The Reader
Makasi XD
Membosankan? Ah maaf ya, chapter 1 dan 2 ini memang belum memasuki inti cerita jadi cenderung banyak basa-basinya. Untuk rated, tadinya Ka mu simpen di T tapi ternyata terlalu tinggi untuk fic yang mengandung implicit lemon (halah jadi spoiler neh), jadi Ka putusin buat simpen di M aja. lagian kalau kita selalu takut dengan flamer2, kapan kita mau berani mencari tantangan?
Makasih ya dah review.
VamPs 9irL
Makasih ya dah review.
Sekali lagi Ka ucapin makasih, setelah Ka kira-kira ternyata fic ini berakhir antara chapter 4 atau 5. Dan semoga saja tidak membosankan.
Tak henti-hentinya ka meminta masukannya buat fic ini , jadi REVIEW LAGI YA!
