Disclaimer : Masashi-sensei dan selamanya akan begitu kecuali dia meninggal dan lima puluh tahun kemudian mewariskannya pada Ka XD *ditampol*
Warning: Sakura's POV, still flashback mode, typo (lowongan beta Ka belum ditutup, ada yang berminat?), AU.
Happy reading
Thank's and Good Bye
Chapter 3
By
Ka Hime Shiseiten
Hari ini sangat membosankan, hampir semua sensei menghadiahi tugas yang sangat banyak. Untungnya Sasuke mampu menenangkanku dengan wajah malaikatnya, hanya dengan melihatnya saja semua kepenatanku mampu hilang semua. Ada apa denganku? Apa aku mulai menyukainya? Hanya dengan waktu dua hari? Benar-benar penakluk wanita.
Sepulang sekolah, seperti biasa kami sempatkan untuk berbicara, setelah kelas kosong tentunya. Apa hanya perasaanku saja atau wajah Sasuke semakin pucat? Mungkin dia sedang tidak enak badan.
"Kau pucat sekali, apa sedang sakit? Harusnya jangan paksakan sekolah kalau memang sakit." Ucapku memulai pembicaraan dengannya.
"Benarkah? Aku hanya sedikit pusing saja." Jawabnya dengan mata tak beralih dari buku talasemianya.
Aku jadi penasaran seperti apa sebenarnya talasemia itu, hingga Sasuke sangat tertarik dengan penyakit genetika mematikan tersebut.
"Kalau boleh tahu, sebenarnya talasemia itu seperti apa sih?" tanyaku akhirnya.
"Seperti yang aku katakan kemarin, talasemia adalah salah satu penyakit genetika yang merusak sistem pembentukan sel darah merah, sampai saat ini belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkannya, penderitanya hanya mampu menunggu ajal."
"Apakah dengan transfusi darah belum cukup?" tanyaku kembali.
Sasuke menggeleng, "Darah yang ditransfusi terus-menerus ketika hancur akan menyisakan masalah besar yaitu zat besi dari darah yang hancur tidak bisa dikeluarkan tubuh dan menumpuk di dalam organ dan kalau itu terjadi di jantung, jantung tidak bisa memompa darah lagi." Sasuke menunduk dengan ekspresi yang sulit ku tebak, sepertinya itu adalah penjelasan paling menyakitkan yang pernah dia katakan.
"Tidak adakah cara untuk mengeluarkannya?"
"Dengan desferoksamin, tapi suatu saat manusia akan menemukan titik jenuhnya sehingga merasa bosan untuk terus-terusan hidup yang tergantung pada obat-obatan."
Sasuke benar, jangankan untuk mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya, meminum obat ketika flu saja sudah malas. Apalagi ditambah dengan menahan rasa sakitnya, pasti manusia itu memilih untuk mati saja dari pada hidup yang diliputi rasa sakit.
BRAK!
Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang, kontan saja aku dan Sasuke menolehkan kepala untuk melihat siapa yang datang tersebut.
"Hai Sakura," Sapanya, ternyata itu adalah Itachi-san, "Sasuke, waktunya kita berangkat. Cepatlah wajahmu sudah pucat sekali!"
Itachi-san menarik Sasuke dengan sangat cemas, apa karena Sasuke sedang sakit? Bukankah hanya pusing?
"Ah Sakura terima kasih ya sudah mau menemani otouto-ku yang manja ini lagi, tapi maaf kita tidak bisa lama-lama berbincang karena kami sudah ada janji dengan dokter, AWW! Kenapa kau mencubitku, Otouto?" tanyanya pada Sasuke yang dibalas death glare oleh Sasuke. "Oh baiklah sepertinya aku keceplosan, oke Sakura sampai jumpa dan selamat menikmati akhir pekanmu." Tambahnya.
"Tunggu!" kucegah mereka yang sudah ada di depan pintu kelas.
"Sasuke, kau sakit apa? Tak mungkinkan Itachi-san secemas ini kalau kau hanya pusing?"
"Hah? Pusing?" Itachi-san sepertinya kebingungan tapi tak lama dari itu dia langsung tertawa, "kau benar, Sasuke hanya pusing. Semalam dia sempat demam jadi sekarang aku berencana untuk membawanya ke dokter, tenanglah Sasuke tidak apa-apa kok."
"Benarkah?" tanyaku meyakinkan.
"Benar," kali ini Sasukelah yang menjawabnya, "aniki hanya terlalu khawatir padaku sehingga memaksaku untuk pergi ke dokter."
"Baiklah, cepat sembuh ya Sasuke dan emmm," aku bingung untuk melanjutkannya.
"Apa?"
"Tugas yang tadi Kurenai-sensei berikan bagaimana? Kapan akan kita kerjakan? Bukankah kita satu kelompok?"
"Besok bisakan kau ke rumahku? Alamatnya akan kukirim nanti."
"Oke."
Di rumah aku sangat senang sekali karena mengingat besok akan berkunjung ke rumah Sasuke, aku penasaran seperti apa Sasuke di rumahnya, yang kutahu Sasuke sangat kaya dan tidak punya siapa-siapa untuk menemaninya di rumah. Aku penasaran apakah Sasuke sedingin di sekolah? Ataukah mempunyai kepribadian lain yang hanya dia perlihatkan di rumah?
Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku dengan senyuman yang terus terkembang di bibirku, sampai kaa-san dan tou-san yang melihatku kebingungan melihat tingkah anehku sepulang dari sekolah terlebih ketika Sasuke mengirimkan e-mail alamat rumahnya.
Sepertinya malam ini akan sulit tidur kalau aku terus memikirkan Sasuke, apa aku sudah benar-benar tertarik padanya? Memikirkannya saja sudah membuatku bahagia. Semoga saja kebahagiaan ini berlangsung lama.
Di sinilah aku sekarang, di dalam rumah yang super besar hingga aku tak bisa menjelaskan sebesar apa rumah itu. Sepertinya ini adalah rumah terbesar yang pernah kumasuki. Saat ini aku sedang menunggu Sasuke yang masih berada di kamarnya, maid-nya bilang kalau Sasuke masih berbaring gara-gara demamnya kemarin. Aku merasa tidak enak karena telah mengganggu istirahat Sasuke.
"Sakura, maaf mengunggu lama." Itachi-san berjalan ke arahku lalu duduk di kursi di depanku.
"Tak apa, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat. Seharusnya Sasuke istirahat bukannya kupaksa mengerjakan tugas seperti ini, sebaiknya aku pulang saja." Ucapku seraya berdiri.
"Buru-buru sekali, lagi pula Sasuke mau menemuimu kok," ucapnya tersenyum, "Sasuke memang tidak bisa keluar kamarnya saat ini, tapi kau bisa menemuinya di kamarnya."
"Itu akan mengganggu istirahatnya." Jujur saja sebenarnya aku ingin bertemu Sasuke, aku ingin tahu keadaannya saat ini, karena sepertinya demam Sasuke sangat parah sehingga tidak diperbolehkan keluar kamar oleh dokter.
"Sasuke sendiri yang menginginkan kau menemuinya, sepertinya dia kangen padamu," kurasakan wajahku memanas mendengar ucapan Itachi-san barusan, dan kulihat dia terkikik kecil, "ayo kuantarkan ke kamar Sasuke. Ah dan satu lagi, aku tak suka kau memanggilku Itachi-san, rasanya terdengar kaku. Panggil saja aku Itachi-nii, bagaimana?" aku pun mengangguk mengiyakan permintaannya.
Kamar Sasuke sangat besar dan semuanya bernuansa biru, sangat nyaman dan err- seperti rumah sakit, ini terlalu berlebihan untuk kamar orang yang terkena demam. Terlalu banyak alat-alat medis yang tak ku tahu namanya dan juga ada seorang perawat yang sedang memeriksa keadaan Sasuke, memangnya orang kaya selalu berlebihan seperti ini ya kalau merawat orang yang hanya sakit demam?
Kulangkahkan kaki untuk mendekati Sasuke yang sedang terbaring di atas kasur king size-nya, wajahnya sangat pucat bahkan lebih pucat dari kemarin aku melihatnya, kalau boleh ku akui dia seperti mayat hidup. Sakit Sasuke sepertinya cukup parah.
"Seharusnya kau memberi tahuku kalau keadaanmu seperti ini, aku kan pasti membatalkan pengerjaan tugas ini." Kataku sambil mengamati keadaannya yang mengkhawatirkan itu.
"Aku sudah biasa seperti ini, jadi aku masih bisa mengerjakan tugas itu sekalipun dalam keadaan berbaring." Suaranya sangat lemah dan terdengar seperti menahan sakit.
"Bagaimana bisa mengerjakan, kalau bangkit dari tempat tidur saja kau tak bisa," Candaku yang disambut senyuman kecil darinya, dan seingatku ini adalah pertama kalinya dia tersenyum. Manis sekalipun dalam keadaan seperti ini.
"Sebaiknya kita kerjakan ini setelah keadaanmu membaik, tugasnya kan masih dua minggu lagi," Lanjutku yang dibalas senyuman kembali darinya. "Err sebenarnya kau sakit apa? Keadaanmu lebih parah dari orang demam biasa, dan di kamarmu ini terlalu banyak alat medis yang sebenarnya tidak diperlukan oleh orang yang sakit demam."
Kulihat wajahnya kembali mengeras setelah mendengar pertanyaanku tadi, seolah itu adalah hal yang tabu untuk diungkit. Dan entah kenapa sekelebat kata terlintas di benakku, talasemia. Kugelengkan wajahku cepat-cepat untuk menyingkirkan pikiran mengerikan yang barusan terlintas di kepalaku itu, terlalu mengerikan jika benar Sasuke mengidap penyakit yang telah merenggut nyawa ibunya tersebut. Dan kuingat-ingat lagi siapa orang yang mengidap penyakit itu di keluarga Sasuke, walaupun aku tak pernah bertemu dengan ayah Sasuke tapi melihat kegiatannya yang seorang bussinessman sibuk, tak mungkin dia yang mengidap talasemia. Itachi-nii juga terlalu sehat untuk orang yang menyimpan talasemia di tubuhnya, hanya ada satu kemungkinan bahwa orang lain yang mengidap talasemia di keluarga Uchiha selain ibu Sasuke adalah
Tak sadar setetes air mata jatuh dari mataku, mengetahui kalau pikiran barusan adalah benar. Aku tak rela kalau memang dia yang mengidap penyakit laknat tersebut. Kutatap mata onyx di depanku yang aku yakin bisa membaca apa yang sedang kupikirkan saat ini.
"Suster, bisa kau keluar? Kami perlu bicara berdua." Perintahnya pada seorang suster yang tadi memeriksanya.
Setelah memastikan kalau suster tadi keluar, Sasuke mulai menatapku lagi, "Kau mengetahui sesuatu tentang penyakitku?" tanyanya datar padaku sehingga terkesan menjadi sebuah pernyataan.
Bukannya menjawab pertanyaannya, tapi nyatanya tangisku semakin kencang setelah mengetahui tebakannku mendekati jawaban sesungguhnya yang –demi Tuhan- tidak ingin kudengar.
"Sepertinya kau memang sudah mengetahui tentang penyakitku, kau tak perlu menangis karena memang begitulah keadaanya. Aku yang sudah dipilih Tuhan untuk memikul kesakitan ini, aku tak bisa menghindar lagi." Tatapannya melembut seolah mengatakan bahwa dia rela dan memintaku untuk tidak menangisi keadaanya.
Tanpa kusadari aku memeluk Sasuke yang saat itu masih berbaring, kususupkan kepalaku di bahunya dan betapa mengerikannya setelah kulihat banyak tumpukan zat besi di balik kulit pucatnya. Dan sepertinya kemarin dia baru saja melakukan transfusi darah kalau melihat keadaannya sekarang, maka kuputuskan untuk melepaskan pelukanku karena aku tak mau menambah rasa sakit yang ada pada tubuhnya.
"Maaf, aku terlalu terbawa suasana." Ucapku lirih yang ditanggapinya dengan senyuman.
"Bisa kau bantu aku untuk duduk?" lalu ku sambut tangan dan juga kutegakan punggungnya untuk membantunya duduk, "sebagai seorang lelaki aku merasa malu harus meminta tolong pada perempuan," ucapnya yang diikuti tawa kecil untuk mengejek dirinya sendiri.
"Ada kalanya wanita dan pria saling membutuhkan, karena tidak akan ada pria tanpa adanya wanita, bukankah kau lahir dari seorang wanita? Dan wanitapun tak bisa melahirkan begitu saja tanpa pria, benarkan? Jadi kau tak perlu malu untuk meminta tolong padaku."
"Terima kasih, Sakura. Kau mirip kaa-san, kaa-san juga pernah berkata begitu. Dia bilang kalau laki-laki tidak boleh menyakiti wanita karena laki-laki tidak bisa hidup tanpa wanita," mata Sasuke kembali terlihat sedih, "dulu aku menganggap kaa-san bohong padaku karena nyatanya dia meninggalkanku, tapi sekarang aku ingat kalau kaa-san juga bilang kalau kita kehilangan sesuatu, maka Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih dari yang hilang tersebut. Dan kau tahu? sekarang Tuhan sudah mengganti kepergian kaa-san dengan mendatangkan dirimu kepadaku."
Kurasakan jantungku berdetak lebih dari yang biasanya, darahku menuju mukaku yang bisa kupastikan sekarang sangatlah merah. Ini memang bukan pertama kalinya seorang pria berkata seperti itu padaku, tapi baru sekarang aku merasakan hal yang lain. Suara Sasuke terasa seperti angin yang berhembus dari surga, sangat indah sekali. Aku seolah terbius oleh tatapan onyx-nya yang tajam seolah ingin memenjarakanku di dalamnya. Aku sudah tak bisa lepas dari jerat Uchiha di depanku ini, kalau Sasuke meminta nyawaku saat ini mungkin aku akan memberinya secara percuma. Demi Tuhan, aku mencintai pria lemah di depanku.
"Mungkin hidupku tak sama seperti orang lain, aku tak bisa melindungimu seperti yang lain, aku tak bisa menjanjikan kebahagiaan seperti pria lain tapi aku bisa memberikan cinta yang belum tentu orang lain beri untukmu. Aku mencintaimu, Haruno Sakura."
TBC
*pundung di pojokan* Ka tahu ini gaje, melenceng dari ide awal. Tapi salahin otak ma tangan Ka yang bekerja sama bikin fluff di cerita angst. Udah update lama malah bikin yang gak mutu kayak gini, Ka bener-bener minta maaf.
Jujur aja sebenernya Ka bakal selesein fic ini pas liburan UAS, tapi ternyata takdir berkata lain, Tuhan mengambil salah satu sahabat Ka dan waktu itu Ka bener-bener terpuruk dan gak mau memanfaatkan mood angst Ka karena kesannya kayak manfaatin kepergian dia. Pas masuk kuliah Ka disambut tugas ma kegiatan himpunan jadi deh kepotong terus. Yah malah jadi curhat tapi Ka bener-bener minta maaf buat telatnya fic ini.
Buat yang nanya talasemia itu apa mungkin penjelasan pendek Sasuke bisa sedikit menjelaskan apa itu talasemia. Kalau belum puas bisa tanya lagi ke Ka atau mbah google and mas Wiki *ditampol*.
And buat yang tahu alat-alat medis tolong kasih tahu Ka ya, kebetulan walaupun penah tinggal beberapa hari di rumah sakit dan ngerasain dibius di ruang operasi Ka blank masalah alat-alat medis selain infus ma suntikan XD. Dan sekali lagi KA BUKA LOWONGAN BETA!
Ini balesan buat yang gak log in.
VamPs 9irL
Jawabannya ada di chapter ini
Makasih ya udah review
iam maniez
yeah hebat, tebakannya bener
yupz yang kena talasemia itu Sasu-chan *dichidori*
kalo masalah persilangan genetika jujur ka gak begitu ngerti coz ka gak begitu suka mata pelajaran eksak sekarangpun ka kuliah di naungan ilmu sosial hehe. Tapi thanks ya dah ngasi tahu.
Sekali lagi thank buat reviewnya
Hikari 'the princess blue'
Wah maaf ya ka telat banget updatenya, semoga alasan ka di atas bisa dimaklumi.
Maaf juga kalau ceritanya terkesan membosankan, Ka masih junior kalau soal tulis menulis. Dan untuk masalah typo, Ka gak bisa lepas ma masalah satu itu.
Makasih ya udah mau me-review. Ditunggu reviewnya lagi *ditendang*
Cherry-chan
Ah gak papa, udah di-review juga udah makasih banget loh tapi maaf ya kalau updatenya lama
Yupz bener banget kalo yang kena talasemia itu Sasuke, sebenernya dari judul aja udah ketahuan kalo mereka bakal pisah *jyah jadi spoiler gini*
Buat flame, ka gak pernah masalahin kok coz itu hak mereka. Asal jangan kita tanggapi aja coz kalau ditanggapi malah makin menggila.
makasih yah udah review.
4ntk4-ch4n (ya Olloh namanya susah amat ^^v)
Nah sekarang dah tahu kan siapa yang kena talasemianya?
Setahu Ka, sampai saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan talasemia. Dan Indonesia ini salah satu negara yang angka pengidap talasemianya tinggi, jadi ati-ati ya kalau mau nikah hehehe.
Chapter ini dah Ka usahain buat panjang tapi kalau masih kurang panjang maaf ya.
Makasih untuk reviewnya.
Kiro yoID
Iya, yang kena talasemianya Sasuke, dan untuk penjelasan mengenai talasemia mudah-mudahan penjelasan di atas bisa sedikit membantu ngejawab.
Thanks buat reviewnya, maaf menunggu lama.
Lampuhijau
Yupz bener banget kalau yang kena talasemia itu Sasuke, Ka juga gak tega sih sebenernya liat adik ipar ka menderita *dikeroyok Itachi FG*
Buat penjelasannya ada di atas XD
Thanks ya dah review XD
Made-kun (orang Bali ya?)
Yah sayang tebakannya salah, nyatanya ternyata dia sendiri yang kena talasemia itu
Dia mau nyari obat buat talasemia itu karena dia gak mau ada keturunan Uchiha yang terkena talasemia lagi, cukup dirinya aja.
Makasih ya dah berkenan buat rivew
Aburame-anduts
Yah sayang tapi Uchiha yang lainnya itu Sasuke hehehe, coba lagi ya... (dikira maen lotre?)
Makasih ya udah review dan mau nunggu kelanjutannya yang nauzubillah lama banget hehehe
Keiko
Thanks XD
Thanks for your review (halah so inggris banget sih)
Keyzha angelica
Maaf banget lama *nunduk2* semoga alasan Ka di atas bisa dimaklumi buat keterlambatan updatenya ya
Thanks buat reviewnya
Thanks juga buat yang udah review log in
Ame chocho Tae Jin Hyun, Riku Aida, happyflarg, Kurousa Hime, Farah aishiteru sasusaku, Azuka Kanahara, SyeaSasuSaku and all of silent readers (kayak ada aja)
Tanpa kalian Ka mungkin gak ada alesan buat nerusian fic ini, sekali lagi thanks ya. And REVIEW AGAIN!
