Love Accident, Underneath the Tree © Kirigaku Ai
Chapter 3 : Gaara's Fight, Gaara's Accident
Makasih buat Nene Zura' no Uchikaze, Lollytha-chan, Haze Kazuki, uchihyuu nagisa, Uchiha Flynn, dan Cerullean Reed yang udah review di chapter sebelumnya.
Maaf yaah kalo ceritanya makin abality dan gagality -_-
.
.
.
"Nn.." Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengimbangi dengan lampu ruang UKS yang cukup terang dan langsung menyerang matanya itu.
"Kau sudah bangun."ucap suara berat dan serak itu. mata Hinata melebar. Dia menoleh ke sumber suara. As she expexted, it's our Sabaku no Gaara.
"G-Gaara-san.."
"Kau rela begitu saja tersiram sepanci air panas hanya karena ingin menjauhiku?"tanya Gaara. Hinata menunduk. "Bodoh." Gaara berdiri dari kursinya. "Juga konyol." Gaara duduk di tepi kasur, di sebelah Hinata. "Kenapa kau menjauhiku, hah?"
"I-itu.. a-aku.."
"Jangan berpikir untuk ngeles macam-macam. Jawab saja sejujurnya. Memang aku pernah membohongimu? Tidak kan?"
"A-aku.. takut.."
"Takut? Padaku? Kenapa?"
"A-aku..aku.."Gaara mendelik ke arah Hinata. Dia mendekati wajah Hinata.
"G-Gaara-san.. a-apa yang kau.."telat. jari telunjuk Gaara sudah mengunci mulutnya.
"Sst." Desisnya. "Diam saja."Gaara makin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hinata. Otak jahilnya sedang bekerja.
"G-Gaara-san.. k-kau.."
"Kubilang.." napas Gaara mulai terasa di wajah Hinata. Napas yang teratur, pelan, dan hangat. "..diam."
TEK
Hidung mereka bersentuhan. Wajah Hinata sudah benar-benar merah. Kepalanya lemas. Oh, dia pingsan. Terlalu shock. Gaara menjauhi wajahnya dan keluar dari ruang UKS. Oke, kali ini Gaara benar-benar jahil. Biarpun niatnya hanya menjahili Hinata saja, tapi dia terlihat sangat.. menikmatinya.
"Uuh.."Hinata kembali sadar. Dia celingukan dan menghela napas lega. Gaara tidak ada di sana.
BLAM
Pintu terbuka. Oh! siapa itu? Gaara?
"Hinata-sama, kau tak apa?"
"Neji-niisan.. kau membuatku kaget.."
"Maaf.. bagaimana keadaanmu?"
"Nn.. sudah baikan."
"Hoh." Neji menghela napasnya. "Syukurlah." Neji terdiam sebentar. "Eh, iya!"
"N? kenapa?"
"Kok, kau bisa tersiram air panas?"
"E-eto.. a-aku mau keluar kantin, tapi tidak melihat ibu kantin yang sedang membawa air panas, lalu.. tersiram.."
"Tumben Hinata-sama ceroboh." Neji mengangkat satu alisnya. Dalam hati Hinata sangat bersyukur Neji tidak mengetahui alibinya. "Hinata-sama, ayo kita pulang."
"I-iya.."
Dengan langkah agak diseret, Hinata mengikuti Neji.
Waktu makan siang. Aah, Hinata nggak mood di tempat rame. Maka dia milih ke belakang sekolah. Hari ini dia nggak bawa bento. Jadi dia diem aja di belakang sekolah. Dan yang dia harapkan untuk nggak dateng malah dateng dan nyamperin dia. Sabaku no Gaara. Hinata kaget. Dia berdiri dan nyender di dinding. Gaara makin datengin dia. Satu tangan Gaara menyentuh tembok, di sisi kepala Hinata.
"Dengar." Ucap Gaara dalam. "Sudah ada kesalahpahaman besar di keluargaku."
"A..apa?"
"Mereka mengira kita sudah jadian."
"Hah.."
"Dengar, ini semua ulah kakakku, ibuku juga sudah tau, dan itulah yang berbahaya."
"Ke..kenapa?"
"Ibuku tak akan membiarkan kita 'putus.' Mengerti?"
"Putus? Ta-tapi, kita juga belum ja.."
"Karena itu gunakan tanda kutip sebelum dan sesudah kata putus."
"O-oh.."
"Aku malas berurusan lebih jauh denganmu, tapi kalau aku menolak, urusannya bisa lebih jauh. Soalnya ibuku suka mengadu pada ayah."
"Ja-hadi..bagai-bagaimana?"
"Kuatkan saja mentalmu."
"Ha-hah?"
"Karena aku saja diteror habis-habisan begini, oleh ibuku sendiri." Gaara mendekatkan wajahnya. "Apalagi kau?"
Hinata bergetar. Mendengar kata 'teror' sepertinya membuatnya merasa terintimidasi. Dan akhirnya, dia nangis.
Waduh, Gaara. Jangan keseringan bikin dia nangis, dong.
"Cengeng."ejek Gaara. Dia mengambil saputangannya dan menyeka air mata Hinata. Hinata menarik saputangan itu dari tangan Gaara dan menggenggamnya erat.
Gaara tak melakukan apapun lagi selain memandang Hinata lekat-lekat. Hinata sendiri hanya menunduk karena tak mampu menatap Gaara lagi. yang membuatnya kaget, tiba-tiba tangan Gaara menyentuh paha kirinya. Dia geli, tapi juga takut. Gaara.. mau apa?
"G-Gaara-san.. apa yang kau.."
"Diam saja." Gaara mendekatkan tubuhnya. "Aku sedang mencari.. sesuatu."
S-sesuatu? Ooh, Kami-sama.. apa yang dia cari di saat begini?
"G-Gaara-san.."Hinata makin takut dan setetes air mata keluar lagi dari matanya.
GREP!
"A-aah.."Hinata melemas saat merasakan tangan Gaara berhasil mencapai sesuatu.
"Dapat."ucap Gaara pelan sambil menarik sesuatu itu. dan Hinata bergeming saat melihat.. ponsel..?
"Gaara-san.. po-ponselku..."Hinata menunjuk ponsel yang dia taruh di saku roknya.
"Ya. sudah kumasukkan nomormu ke situ dan jangan lupa kirim nomormu. Urusanku selesai."Gaara melempar ponsel itu ke arah Hinata dan langsung pergi. Hinata lemas dan langsung terduduk. Tiba-tiba, Temari datang menghampirinya.
"Temari-san..?"
Temari duduk di kursi di sebelah Hinata. "Aku mau bicara denganmu."
"Eh.. jadi Temari-san yang.."
"Iya. maaf, ya. gara-gara aku iseng, kalian jadi harus berlagak sudah jadian seperti ini."
"Uun.."Hinata menunduk.
"Kau tau? Ini yang kuinginkan selama ini."
"E-eh?"
"Aku ingin.. Gaara punya pacar."
"Kenapa?"
"Waktu aku jadian.. yang tidak terlihat excited hanya Gaara. Dia biasa saja dan tidak menanggapi. Begitu juga ketika Kankuro jadian. Gaara tidak peduli. Dia sama sekali tidak terpikir untuk punya pacar."
"Begitu, ya.."
"Kau sendiri? Apa ingin punya pacar?"
"E-eh.. mungkin.. sebenarnya aku ingin.. tapi.. aku.."
"Apa?"
"Cowok yang kusuka.. sudah menyukai cewek lain.."
"Begitu, ya.." Temari terdiam sesaat. "Kau harusnya tau, kenapa aku sangat ingin Gaara punya pacar."
"Kenapa?"
"Gaara itu terlalu pendiam dan penyendiri. Aku tak suka melihatnya. Mana ada kakak yang tega melihat adiknya sendirian terus seperti tidak punya teman begitu?"
"I-iya juga sih.."
"Makanya, aku ingin dia lebih banyak bergaul. Kalau dia punya pacar, pasti dia bisa bergaul lebih banyak. Dia juga pasti akan lebih senang. Kalau dia senang, aku juga kan ikut senang."
"Be-benar.."
"Karena itu, Hinata.." Temari memberi jeda. "..kau mau jadi pacar Gaara?"
"E-eeh?"
"Aku serius. Jawablah."
"E-entahlah.. aku.."Temari berdiri di depan Hinata.
"Tak apa. kau punya banyak waktu untuk menjawabnya. Aku juga tak akan memaksamu mengambil keputusan, kok." Temari pun pergi dari situ, meninggalkan Hinata sendirian.
Tangan Gaara mengepal. Rahangnya mengeras. Dahinya berkerut. Matanya menajam. Dan aura membunuhnya semakin terasa. Sementara itu, dua orang dengan seragam Kiri Gakuen terus saja tertawa-tawa di depannya.
"Apanya yang Sabaku no Gaara coba? Apa hebatnya bertarung dengan pasir? Pasir itu kalah sama air, tauu~~"ejek salah satunya. Anggap saja si A.
"Benar, benar! Lagian, Suna itu cuma negara gersang, bandingkan dengan Kiri yang penuh air. Huahahaa!"ejek yang lain. Anggap saja si B.
"Kalian akan menyesal mengatakan itu kepadaku."ucap Gaara dengan suara serak.
"Oh, ayolah!" si A mulai dengan wajahnya yang terlihat mengejek. "Kau serius tetap bertahan pada Suna? Baka yaro."
"Aku tak peduli ayahku Kazekage atau apa.." Gaara berjalan mendekat. "Aku tak peduli kalau aku Jinchuuriki yang bisa dimanfaatkan desaku atau apa.." Gaara makin mendekat. "Tapi aku tak akan diam saja kalau ada yang menjelek-jelekkan negaraku seperti ini!"
BUAAAAKK!
Sebuah uppercut mulus mendarat dengan lancar. A terpental. B hanya tercengang melihat temannya yang langsung knocked out hanya dengan sebuah uppercut–yang bahkan bisa dibilang ringan itu.
"Hanya uppercut, hah?"B membentuk segel dan muncullah 3 klon air di sebelahnya. Ya, apalagi kalau bukan Mizu Bunshin no Jutsu? Tanpa ragu Gaara menghabisi ketiga klon itu hanya dengan sekali tendangan.
BUAAAAKK!
Kali ini telapak kaki Gaara mendarat di perut B. B juga terlempar dan terkapar di tanah. Gaara duduk di atas perutnya dan memukulinya. Gaara tak peduli walaupun wajahnya hancur atau rusak. Gaara tak peduli walaupun tangannya juga berdarah karena memukulinya. Gaara sudah terbakar emosi dan tak ada yang bisa menghentikannya.
A yang ketakutan melihatnya segera beranjak dan bermaksud untuk kabur seorang diri. Tapi telat. Gaara dengan cepat mengubah batu di sekitarnya menjadi pasir dan menahan kaki A. Gaara melihatnya dengan penuh tatapan membunuh. Gaara membuat pasir itu naik sampai kelututnya dan mengepalkan tangannya.
Sabaku Kyuu!
"UAAAAARRGHHH!"teriak A. kakinya? Jelas-jelas hancur.
Di sisi lain, Hinata hanya bisa bergetar hebat dengan keringat yang mengucur dari pelipisnya. Matanya melebar. Napasnya terengah. Dia hanya bisa bersembunyi di balik pohon sambil melihat Gaara yang tanpa perasaan melukai orang lain dengan mudahnya. Wajahnya yang biasanya datar dan dingin, kali ini terlihat seram, penuh amarah dan emosi, dan benar-benar terlihat seperti.. pembunuh.
Hinata merasa tertekan. Dia merasa itu bukan Gaara yang dia kenal. Akhirnya dia berlari menuju Gaara dan menghentikan tangan Gaara.
"Gaara-san!"Hinata menahan tangan Gaara.
"Urusee!"Gaara menepis tangan Hinata.
"Gaara-san! Onegai! Yamero!"Hinata menarik tangan Gaara lagi.
"Hottoke yo!"
Oke, kali ini tangan Gaara tidak terkontrol. Tanpa ampun dia menampar keras pipi Hinata.
PLAK!
"Kyaaaa!"
Gaara terdiam saat mendengar teriakan itu. suara yang sangat ia kenal. Dia tak sadar siapa yang ditamparnya tadi. Dia pun segera menoleh dan mendapati.. Hinata?
"A-apa.."Gaara berdiri dan menghampiri Hinata dengan wajah khawatir.
"Jangan mendekat."ucap Hinata sambil memegangi pipinya yang memerah. Darah mengalir dari salah satu ujung bibirnya. Air mata jatuh dari matanya.
"Hyuuga, gomen ne. setsumei o kiite kure."
"Gaara-san.. anta ga kawatta ne.. zankoku da..!"
"Kimi wa kan chigai da. Semete setsumei o kiite kure!"
"Tidak. aku mau pulang."Hinata berdiri. Gaara menahan tangannya.
"Ikanai de!"
"Lepaskan aku!"
"Okoranai de. Sumanai, warukatta."
Sayangnya Hinata sudah tidak mau meladeni Gaara yang mendadak berubah itu. dia melepas paksa tangan Gaara dan pergi dari tempat itu. Gaara hanya bisa diam sembari menatap punggung Hinata yang kian lama kian jauh. Gaara menoleh ke arah dua korbannya yang sedang tertatih-tatih pergi dari tempat itu. tapi kali ini, Gaara memilih membiarkannya saja.
"Gaara.."Temari makin sweatdrop melihat kelakuan adiknya itu. "Ada apa? katakan saja padaku!" Temari menutup pintu kamar Gaara dan duduk di kasur Gaara.
"Apanya yang ada apa? tak ada apa-apa.."Gaara merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Jelas ada!" Temari melipat tangannya. "Kau kira ini bukan apa-apa?" Temari mengangkat tangan kanan Gaara yang beberapa hari yang lalu diperbannya itu. "Memar! Terkelupas! Dan bekas darah! Kau pikir itu bukan apa-apa? ayolah, Gaara, ceritakan saja padaku!"
"Tak ada yang perlu diceritakan." Gaara menarik tangannya. "Karena tak ada apa-apa."
"Gaara." Temari membalikkan badan menghadap Gaara. "Sejak kau mendapat luka di tanganmu ini, kau seperti tak kenal dengan Hinata."
"Hinata?"
"Gadis Hyuuga yang sering bersamamu itu."
"Oh." Gaara menutup matanya. "Jadi namanya Hinata."
Temari menepuk jidatnya. "Demi Kami-sama, Gaara!" Temari mengepalkan tangannya, geregetan. "Kau baru tau namanya?"
"Memangnya kenapa?"
"Uuhh.." bahu Temari menurun. "Gaara, aku sudah tak melihatmu bersamanya lagi. biasanya kau akan mendekatinya, kan. Tapi belakangan ini tidak. ada apa?"
"Sudahlah." Gaara menghela napas. "Banyak kejadian rumit."
"Karena itu ceritakan padaku!"
"Baiklah, baik!" Gaara duduk dan menatap Temari. "Ada dua orang yang menjelek-jelekkan Suna, aku marah dan menghajarnya, Hinata menghentikanku, tapi aku tak tau kalau itu dia dan aku tak sengaja menamparnya. Dia pergi sambil menangis dan setelah itu dia menjauhiku! Puas?"
"Gaara, kau.." Temari menggelengkan kepalanya. "..kenapa tak bisa mengontrol diri?"
"Pikir, Neesan!" Gaara mengetuk kepalanya dengan telunjuk. "Memang aku akan membiarkan orang lain menjelek-jelekkan Suna?"
"Dan kalau kau marah, kau tak pernah bisa mengontrol diri! Bahkan aku atau Kankuro saja bisa kau bunuh! Kau paham itu? Emosimu buruk, Gaara!"
"Mungkin itu sebabnya aku dilahirkan terakhir."
"Ya. aku bersyukur akan hal itu. karena ada aku yang selalu memantaumu dan Kankuro yang terlalu protektif padamu."
"Iya."
"Tapi, kumohon Gaara. Dekati Hinata lagi. dapatkan hatinya. Dapatkan cintanya! Miliki dirinya! Aku sudah tau kalian cocok, kalian selalu tampak serasi!" Temari menepuk kepala Gaara dan mengelusnya perlahan. "Aku ingin.. kalian bahagia.."
Sore itu tampak remang di kamar Gaara, di mana hanya ada dia dan kakaknya. Matahari mulai kehilangan sinarnya dan hanya dapat memantulkannya ke bumi dengan perantara bulan. Temari dan Gaara tetap diam selama beberapa saat sampai akhirnya sore benar-benar berganti malam dan kegelapan memenuhi kamar Gaara. Temari dan Gaara hanya saling pandang satu sama lain, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Hinata menenteng tasnya dengan ogah-ogahan. Dia berjalan sambil menunduk dengan langkah yang agak diseret. Neji yang pulang bersamanya sudah ada jauh di depan. Sepertinya belakangan ini, Hinata kehilangan semangatnya. Mungkin karena hubungannya dengan Gaara yang sedang tidak baik? Who knows. Pikiran Hinata terlalu tertutup untuk dapat dibaca, bahkan oleh author sekalipun.
"Hinata-sama.."
Hinata tersentak dan mengangkat wajahnya. "I-iya?" Neji sudah ada di depannya.
"Kenapa jalannya lambat begitu?"
"Ti-tidak apa-apa.."
"Ayolah, jangan begitu. Apa perlu kugendong?"
"Ti-tidak perlu.."
"Kalau begitu, jangan lama-lama."
"Ba-baik.."
Dibilang begitu juga, tetap saja akhirnya Hinata ketinggalan juga. Neji yang mungkin sudah capek menyuruh adik sepupunya itu, membiarkannya saja. toh Hinata bisa jaga diri.
Kali ini, kesensitifan seorang Hyuuga Hinata tampaknya sedang tidak bekerja. Buktinya saja, Gaara berjalan tidak jauh di belakangnya, dia tak sadar. Harusnya hanya dengan merasakan aura Gaara yang bisa dibilang berbeda dengan orang lain itu, Hinata bisa langsung menyadarinya. Tapi entah apa yang ada dalam pikirannya, mungkin itu sangat membebaninya sampai tak bisa merasakan aura Gaara yang khas dan sudah sangat Hinata kenali itu.
Neji sudah menyeberang jalan. Hinata belum. Neji menunggunya di seberang jalan. Hinata menunggu agar lampu menjadi merah kembali agar dia bisa menyeberang. Gaara berada di belakang Hinata, tapi Hinata tak menyadarinya. Neji juga tak melihatnya. Karena ukuran tubuhnya yang kecil mungkin?
TEK
Oke, lampu merah, saatnya menyeberang. Tapi Hinata bukannya langsung menyeberang, dia menunggu orang-orang menyeberang duluan. Dia diam di tempat. Dan Gaara juga ikut diam di tempat. Begitu sisi jalan sudah sepi namun lampu merah menyala masih 20 detik lagi, Hinata melangkahkan kakinya ke zebra cross dan mulai menyeberang. Karena dia yakin lampu sedang merah, mana mungkin perlu tengok kanan-kiri segala?
Tapi mungkin Dewi Fortuna sedang sibuk sehingga tidak bisa menemani Hinata menyeberang.
Yah, kadang kala saat Dewi Fortuna tidak ada, sial malah datang.
Sial, sial sekali.
"Hinata-samaa!"
Shimatta, Hinata tidak melihatnya.
Truk yang diketahui remnya blong tersebut sedang melaju dengan kecepatan tinggi, sementara si supir sedang berusaha menghentikannya dan Hinata tidak mengetahuinya.
Butuh sepersekian detik untuk Hinata menyadari truk yang melaju kencang ke arahnya tersebut.
Perhatian, readers. Ini bukan sinetron Indonesia di mana sang korban hanya berteriak di tengah jalan sambil menunggu mobil menabraknya walaupun mobil itu masih jauh.
Ini bukan sinetron Indonesia.
Truk itu hanya berjarak 2 meter dari Hinata. DUA METER. Memang Hinata sempat menghindar?
Gaara dengan cekatan melempar Hinata ke seberang jalan dan Neji menangkapnya. Kali ini, apa Gaara bisa menghindar?
Mungkin saja.
BRUAAAK! JDUK!
Ternyata tidak.
Terlihat dengan jelas, bagian depan truk itu menghantam perut Gaara dan setelahnya Gaara terbanting dan kepalanya membentur aspal dengan kuat. Maka bagian kepala dan perut dipastikan pendarahan. Darah juga keluar dari hidung dan salah satu ujung bibir Gaara.
Dewi Fortuna celingukan melihat keramaian itu. aahh, telat.
Hinata dan Neji terdiam melihat pemandangan di depannya. Mereka tak berbuat apapun kecuali, diam.
Hinata melangkah perlahan menuju tempat Gaara sekarang. Dia duduk di sebelahnya, memangku kepala Gaara di pahanya sendiri, tak peduli walaupun roknya atau kakinya berceceran darah atau apa, lalu menggenggam tangan Gaara erat. Gaara menatapnya.
"Sudah kubilang.. jangan menunduk..kau.. takkan tau.. akan melangkah.. ke mana.."
"Iya.. maafkan aku, Gaara-san..aku melupakannya.."air mata mulai keluar dari mata Hinata dan mengalir melewati pipinya. Kali ini Gaara tak ada cukup tenaga untuk menyeka air mata itu.
"Hinata-sama! Aku sudah menelepon rumah sakit.."ucap Neji terburu-buru sambil menghampiri Hinata dan Gaara.
Gaara perlahan menutup matanya. Kepalanya yang tadinya tegak tiba-tiba kehilangan kekuatan dan terkulai begitu saja. tangannya pun melemas. Mata Hinata melebar melihatnya. Dia mempererat genggaman tangannya dan sebuah teriakan membahana keluar dari mulut sang Hyuuga sulung.
"GAARA-SAAAAN!"
.
.
.
Next Chapter : Last Chapter, Underneath The Tree
Summary :
"Gaara-san.."Hinata duduk di kursi di sebelah kasur Gaara. "Bangunlah.."ucapnya lirih.
"Kau mau datang dengan siapa?"
"Eh? a-aku saja baru tau tadi.."
"Mau datang dengan Gaara?"
"Hinata."
"Ah, Temari-san.."
"Lagi makan? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"A-aku tidak selera makan.."
"Karena tidak ada Gaara?"
"Kau tau Hinata, aku belum pernah bohong. Aku tak suka bohong. Jadi aku akan mengatakannya sekarang."
"A-apa?"
"Hhh.."Gaara menghela napas panjang. "Aku menyukaimu."
.
.
.
Emm maaf karena Ai banyak menyisipkan bahasa Jepang di adegan Gaara berantem. Ai emang lagi keranjingan bahasa Jepang nih XD nn ini buat membantu sedikit buat yang belum tau..
Urusee : berisik
Onegai : kumohon
Yamero : berhenti
Hottoke yo : jangan ikut campur
Gomen : maaf
Setsumei o kiite kure : dengarkan penjelasanku dulu
Anta ga kawatta ne : kau sudah berubah
Zankoku da : kejam
Kimi wa kan chigai da : kau salah sangka
Semete setsumei o kiite kure : paling tidak dengarkan penjelasanku dulu
Ikanai de : jangan pergi
Okoranai de : jangan marah
Sumanai, warukatta : maafkan aku, aku salah
.
.
.
err ini balesan review nya ya :D
Nene Zura' no Uchikaze : waah, sayang sekali di chapter ini Hinata beneran ditampar sama Gaara ya XD
Lollytha-chan : makasih ya udah baca terus XD
Haze Kazuki : wahahah XD ternyata OOC ya? Ai gasadar -'' *gampar* okeh, Haze-san makasih sudah bacaa XD
uchihyuu nagisa : ehem, mungkin karena yang minta Temari, kalau yang minta Gaara mungkin gak dikasih XD
Uchiha Flynn : makasih udah diingetin karena ada yang typo, padahal udah Ai baca berkali-kali -''
Cerullean Reed : memang gentle, tapi saya juga cemburu sama Hinata -'' (padahal saya yang bikin)
