-`Siapa bilang kawan harus saling mengenal?'-

Disclaimer : Aoyama Gosho
Rated : T
Genre : Friendship,
WARNING : typo, OOC, POV suka-suka Author, kadang alur gak jelas, ceritanya gak berkualitas, gak terlalu romantis menurut aku (maklum Author gak pinter soal cinta)

Summary : Shiho tak menyangka sebelumnya setelah ditinggal ibunya maka ia harus berpisah dengan ayahnya. Ditengah siksaan batin karena pamannya Gin, ia bertemu orang-orang yang akan menjadi penyelamat hidupnya. Dalam kehidupan itu ia sekarang menggunakan nama Ai Haibara sampai akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan ayahnya.

BLUSSSHH! Dengan joroknya Conan menyemprotkan minumannya kemudian berkata dengan nada protes, "Nama semanis itu untuk gadis sedingin dia? Profesor tidak salah pilih?" Begitulah Conan protes sambil nunjuk gaje ke arah Ai yang masih makan dengan cepat karena laparnya.

Profesor tidak ambil pusing dengan perkataan Conan yang ngawur (menurutnya) dan hanya menjawab dengan nada menyepelekan, "Kurasa itu tidak masalah dari pada ia tak punya nama panggilan, benarkan Ai?"

Yang dipanggil hanya mengangguk sambil tetap memakan makanannya. Hal itu membuat Conan mengomel ngawur "hah, dasar! Baik professor maupun yang lagi dipermasalahkan (Ai) sama saja. Bla~~bla~~~bla~~~~"

Dan secara tiba – tiba Profesor Agasa berkata dengan cepat, "Oh iya, ada satu lagi- Sttt . . ttt . . . ." (anggap aja lagi diomongin nih) dan terdengarlah suara yang dengan cepat menyebar di seluruh ruangan tersebut "yang benar saja?"

Kemudian Profesor berkata, "Tak masalah kan? Mulai besok Ai akan sekolah di sekolah yang sama denganmu. Bahkan jika beruntung maka Ai bisa sekelas denganmu."

Conan menghela nafas lalu melirik pada Ai "Terserah profesor saja deh" sehingga membuat Ai merespon, "Apa ada sesuatu di wajahku?". Conan menjawab cuek, "Tidak ada kok!"

Agasa hanya cengengesan melihat mereka bagai air dan minyak. Kita umpamakan air adalah Ai yang selalu tenang dan dingin, sementara Conan adalah minyak yang gak bisa diam dan suka bikin masalah padahal awalnya hanya masalah sepele. Gimana kalau mereka beneran sekelas? Pasti jadi motivasi Conan belajar tuh. Yah, kita langsung saja melihat besok paginya.

"Selamat pagi Conan!" Suara gadis manis terdengar di telinga Conan saat ia sedang berjalan menuju kelasnya. Latarnya sekarang di sekolahan lebih tepatnya di lorong sekolah.

"Pagi Ayumi!" Conan membalas sambil tersenyum manja.

"Wah, siapa yang pergi bersamamu Conan?" Mitsuhiko tiba – tiba muncul sambil menanyakan keberadaan Ai yang dianggapnya asing. Ayumi bertanya dengan malu-malu, "Pacarmu ya?"

Dan disambung Genta dengan semangat berapi-api sampai membuat pemadam kebaran kewalahan, "Atau mungkin client kita?" Conan ikut – ikutan kelabakan lalu menjawab, "Eh, dia ini murid baru."

"Wah, siapa namamu?" Ayumi bertanya dengan riang kepada Ai yang hanya diam menanggapi pertanyaan tersebut. Dengan kemisteriusan Ai, Conan jadi sedikit khawatir kemudian dia berkata sambil cengar – cengir kepada teman – temannya, "Maaf ya. Namanya Ai Haibara. Dia agak sedikit pemalu, jadi-" Ai menginjak kaki sehingga Conan berbisik perlahan kepada Ai membuat yang lain bingung "Hei! Apa-apaan kamu?"

Tiba – tiba sebuah suara nyaring menurut Author mengganggu perbincangan antara murid yang meranjak dewasa itu. "Wah, kalian kelihatannya semangat sekali." Sehingga Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko menyapa pemilik suara tersebut "Pagi Bu Jodie!"

"Pagi!" Jawab guru mereka sambil kemudian melirik ke Ai yang diem aja di samping Conan "Wah, Conan siapa yang ada disampingmu?" Conan melirik ke sampingnya kemudian dengan gugup menjawab, "Dia Ai Haibara, murid baru." Sehingga Jodie hanya mangut – mangut.

Di kelas, Ayumi dengan antusiasnya mendekati Ai. Dan Conan dengan rasa pesimis berlebihannya memisahkan Ai dari semua teman-temannya.

"Ai duduk disebelahku saja" pinta Ayumi dengan penuh perasaan.

Ai baru akan menjawab namun ia telah itarik sebelum menyelesaikan kata-katanya oleh Conan yang berkata dengan tampang innocent, "Maaf Ayumi, sebaiknya ia duduk denganku saja."

Ai pun dengan penuh amarah yang tak diungkapkan dengan ekspresinya berkata, "Hei apa-apaan kau?" sementara itu Conan hanya menjawab "Bukan apa-apa. Hanya saja aku merasakan firasat buruk jika kau duduk dengan mereka."

Jodie, guru mereka yang super lebay datang sambil mendobrak pintu, "Good Morning everybody!"

Semuanya menjawab serempak, "Good morning, miss!"

Jodie kemudian duduk di bangkunya lalu memperhatikan absent dan melirik ke seisi kelas, "Wah, jadi Ai duduk dengan Conan ya?"

Conan hanya senyum-senyum gaje. Ia yakin gurunya satu ini pasti langsung bikin gosip tidak sedap dan tidak enak didengar ke ruangan guru. Jodie yang merasa Conan berpikiran yang aneh – aneh tentangnya mulai mengawali (perasaan ini udah gak awal lagi) pagi hari di kelas dengan ucapan, "Okey, ayo kita belajar!"

Pulang sekolah di sebuah jalanan dengan lalu lintas padat. Mobil dan motor dan kendaraan lain membuat polusi di sekitarnya. Keramaian itu membuat orang – orang tidak menyadari kehadiran dua orang remaja yang tengah bicara gaje.

"Haibara, kau jangan bersikap terlalu kasar dengan mereka."

"Aku tidak kasar pada mereka."

"Tapi, cara bicaramu terlalu dingin untuk mereka."

"Itu diperlukan untuk menjaga jarak dengan kalian semua."

"Menjaga jarak? Memangnya untuk apa?"

"Lupakan saja yang kukatakan tadi."

Meski Ai berkata demikian namun kata-kata Ai telah membekas di hati Conan. Mana mungkin bisa bagi Conan untuk melupakan kalimat Ai yang pastinya menimbulkan tanda tanya besar di pikirannya. Menjaga jarak, apa maksudnya? Mungkin Conan boleh pusing tapi para readers tidak boleh kelewatan pusing. Maka dari itu kita langsung melompat untuk melihat malam harinya.

"Conan, tolong ajak Ai makan." Teriak Profesor sambil menata meja makan.

"Baiklah profesor" lalu setelah menjawab demikian, "Haibara, ayo makan!"

"aku tidak lapar."

"hei! Profesor sudah capek memasak untukmu, dan kau dengan enteng bilang 'tidak lapar'? apa kau tidak tau betapa profesor-"

"Diamlah, aku akan makan kok"

"Huh, akhirnya kau menyerah juga"

"Apa kau bilang?" menatap dengan sinis sehingga Conan yang memucat hanya geleng-geleng kepala dengan cepat.

Di ruang makan telepon berdering membuat acara persiapan makan bersama jadi terganggu. Profesor Agasa yang merasa sudah tua dan sepantasnya memberikan yang terbaik untuk semua yang ada dirumah itu pun dengan pasrah berdiri dan angkat kaki dari ruang makan menuju ruang tengah untuk mengangkat telepon.

"Ya, rumah profesor Agasa disini. Ada apa?"

"Hei Agasa, ini aku Kogoro Mouri detektif terkenal itu (sok banget sih) Aku akan kembali ke Jepang. Mungkin besok sekitar jam 9 malam ini aku sampai di bandara tolong jemput kami ya."

"Oh, baiklah. Ngomong-ngomong siapa saja yang ikut?"

"Ada aku, Ran dengan suaminya, dan ada Eri juga. Yah, Cuma itu."

"Oh, aku mengerti. Nanti ku jemput kalian jam 9, iya kan?

"Hah, kau masih saja pintar (profesor sweatdrop 'ini muji atau ngejek') tolong jemput ya."

"Ya."

Lalu datanglah mister dan miss kita- eh, maksudnya Conan dan Ai (Author bodoh! Author pelupa! Author sweatdrop). Ai yang tak pernah peduli dengan orang-orang disekelilingnya hanya nyelonong masuk dapur lalu duduk di meja makan. Beda halnya dengan Conan, melihat profesor yang baru saja menutup gagang telepon Conan mulai bertanya.

"Siapa yang menelpon tadi?"

"Oh, tadi Kogoro yang menelpon."

"Kogoro ya. Lalu dia bilang apa?"

"Dia hanya minta dijemput di bandara malam ini."

"Memangnya dia mau apa?"

"Entahlah, tapi mungkin ia hanya ingin jalan-jalan. Soalnya Ran juga ikut"

"? Ran?"

"Ada apa Conan?"

"Profesor, sebenarnya ini akan makan tidak sih?" teriak dari jauh arahnya dari dapur (semua tau kan siapa?)

"Eh, maafkan aku. Ayo Conan" ujar Profesor sambil berlari kecil menuju ruang dapur sekaligus ruang makan. Di meja makan, Conan terus memikirkan Ran. 'kenapa Ran harus kembali?' gumamnya. Sementara Conan sibuk dengan pikirannya sendiri Ai malah terus makan dengan lahap. Maklum tadi siang dia tidak makan. Melihat hal itu profesor jadi agak cemas.

Agasa sudah menghidupkan mobil. Ai sudah siap membawa tas ransel favoritnya. Telepon berdering membuat Agasa harus masuk ke dalam rumah dulu untuk menerimanya. (tentu saja itu dari . . . semua pasti tau kan?) Selang waktu tersebut memberikan Conan kesempatan untuk berpikir. Namun kelihatannya tak ada waktu untuk berpikir. Ai yang tidak sengaja melirik ke arah Conan bertanya.

"Hei, kau tak apa-apa?"

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Tidak kok" Ai blushing Conan tersenyum puas.

"Maaf membuat menunggu ya. Tadi ada telepon- lho Conan?"

"Kenapa Profesor?"

"Kamu senyum karena apa?"

"Bukan karena apa-apa kok" kini gantian Conan yang blushing

Di bandara. Kedatangan kakek yang membawa dua orang anak remaja menjadi pusat perhatian. 'Ngapain kakek-kakek ke bandara? Mencurigakan banget. Jangan-jangan teroris tuh.' Pikir semua orang.

"CONAN!" teriak Ran sambil berlari kecil. Kemudian Conan jadi berteriak "WAAAAA!" karena dipeluk erat oleh Eri (kok Eri harusnya kan Ran?) (soalnya Eri larinya lebih cepat dari Ran jadi Eri deh yang meluk Conan).

"wah, kalian semua sehat ya."

"Lho siapa gadis ini?" Tanya Kogoro sambil menunjuk pada Ai.

"Dia Ai Haibara." Jawab Profesor agak canggung.

"Ai? Jangan-jangan kamu-" Ran bicara dengan nada curiga.

"kamu pacarnya Conan ya?" ujar Yukiko memotong perkataan Ran yang menanggung itu (darimana si Yukiko muncul?).

"lho, Yukiko juga ikut?" Tanya Profesor yang bingung karena kedatangan Yukiko yang tiba – tiba tak diundang itu langsung berkata aneh tentang Conan dan Ai dan Kogoro menjawabnya, "maaf aku lupa bilang dia ikut. Habis saat aku telepon itu Yukiko gak kelihatan sih."

Conan ditatap Ran, Kogoro, Agasa, semuanya deh minus Ai "ha! ha! ha! Tentu saja bukan. Dia bukan pacarku kok." Kemudian Conan berhenti tertawa.

"wah, sayang sekali ya." Eri menggoda Conan.

Yukiko bisik-bisik pada Conan "padahal sayang lho kalau cewek seperti Ai Haibara dibiarkan saja."

Conan kemudian berkata dengan alis dinaikkan sebelah, "ibu mau membuatku kesal ya?"

"tidak kok."

Agasa mengeluarkan suara emasnya kemudian berkata, "kalau begitu ayo kita pulang ke rumahku."

"ide bagus. Aku juga sudah ngantuk disini."

"Ayah. Jangan begitu dong."

Di mobil Xenia milik Profesor yang udah diganti semenjak Ran menikah dengan syarat harus menjaga Conan. Ran bertanya dengan nada bosan, "lho kok di dalam mobil ini tenang sekali?"

"ssttt. Conan dan Ai sudah tidur" jawab Yukiko yang sedang memangku Ai yang tidur lelap.

"jangankan mereka. Kogoro saja sudah mendengkur tuh" jawab Eri yang duduk di belakang Kogoro kemudian Yukiko menyambung dengan "Memang pantas ya, dia disebut Kogoro tidur. Ha ha ha!"

Di rumah profesor yang agak ramai sebab ada reuni keluarga.

"sudah sampai rumah ya?" tanya Conan setengah ngantuk karena baru bangun tidur

"Baru saja sampai" jelas Ran (kenapa Ran yang menjawab?) (karena: Ran yang memangku Conan yang sedang tidur)

Tiba – tiba Yukiko memberikan perintah sambil melihat pada Ran "biar aku yang menurunkan Ai. Ran kau turunkan Conan ya."

"tak perlu kok. Conan kan sudah bangun."

"benarkah?"

Di dalam rumah, Ai yang masih tidur lelap langsung dibawa ke kamarnya. Lampu dimatikan dan pintu ditutup. Setelah semua orang pergi, Ai membuka matanya. Memang. Ai belum tidur. Conan yang ada di luar tak tahan dengan pembicaraan orang-orang itu mulai merengut.

"kau tidak apa-apa Conan?" tanya Profesor yang kebetulan lewat.

"aku tak apa-apa kok" dengan lemas dan lunglai ia menyusuri lorong. Sebenarnya ia hendak ke kamarnya namun sesuatu dalam dirinya membuatnya berjalan menuju kamar Ai. Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang agak asing baginya. Ternyata itu suara tangisan Ai.

"Haibara?" tanya Conan dengan agak terkajut sambil membuka pintu perlahan dan mendekati tempat Ai menangis. Ai pun dengan segera menghapus air matanya dan menjawab cuek, "Ada apa?"

"Kau menangis? Kenapa?"

"Tdak kok."

Conan melihat kalau mata Ai masih basah, maka dengan lembut dia menyeka air mata tersebut dengan jari telunjuknya. Hal itu justru membuat Ai semakin sedih dan menangis dengan lebih menyedihkan lagi. Di sela – sela tangisannya Ai berkata, "Aku ingat sesuatu. Dan itu adalah ayahku."

Tangisan Ai menyanyat hati Conan. 'Ayah? Sejak kapan kau mulai mengingat itu?' pikir Conan. jujur sebenarnya Conan tidak ingin Ai ingat apapun saat ini. Karena Conan ingin terus ditemani Ai disaat-saat sulit seperti ini. Yaitu disaat Ran akan kembali ada dalam hidup Conan.

Seakan hanyut dalam tiap derai air mata Ai, Conan merenggangkan tangannya disekitar Ai. Kemudian memeluknya. Ia tahu Ai sedang dalam keadaan benar-benar sedih. Menurut Conan akan lebih baik Ai terus dalam keadaan lupa ingatan. Ai yang akhirnya kelelahan menangis akhirnya tertidur di pelukan Conan.

Esok harinya

Di dapur profesor Agasa yang sedang ramai karena banyak yang masak dengan selera masing – masing membuat suatu paduan suara yang membuat seluruh penghun rumah itu bangun. Namun yang ada dapur tetap biasa – biasa saja.

"Maaf merepotkan kalian ya" ujar Profesor Agasa dengan penuh keceriaan.

"Tak apa-apa kok. Lagian pasti sulit kalau memasak untuk orang banyak seperti ini sendirian" balas Eri dengan penuh senyuman (Eri: "lagipula masakan Profesor tidak sesuai seleraku.")

"Ya, lagipula kalau ada bantuan cewek-cewek seperti kami pasti pekerjaan akan cepat selesai." Ungkap Yukiko dengan penuh kebanggaan.

"Wah, aku merasa terbantu." Ucap Profesor dengan penuh kebahagiaan.

"Profesor, Ai kemana?" tanya Conan yang tiba – tiba muncul dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Kemana ya? Oh iya, dia tadi bilang mau ke toko sebentar." Profesor masih terus mengingat – ingat.

"Kalau begitu aku menyusul dia dulu ya."Conan memutuskan dan langsung mengambil jaket lalu pergi.

"tapi-" ujar Profesor yang sebenarnya akan menghentikan kepergian Conan namun profesor sendiri justru dihentikan oleh Eri dan Yukiko yang tersenyum licik dan layaknya iblis, "biarkan saja." Mendengarnya Profesor jadi mati kutu.

Di toko yang menjual pulsa dan beberapa aksesoris, disitulah Ai berada. Kemudian setelah membeli pulsa ia berjalan riang menuju bangku yang rindang. Suasana musim gugur. Khas sekali aromanya. Ia ingat saat ia, ayahnya dan ibunya sedang piknik di taman di musim gugur. Andai itu bisa terulang lagi. Namun…

Trrrr

Ai mengangkat telepon yang bahkan nomor yang memanggilnya tidak terdaftar di kontak handphonenya, "halo?"

"anak sialan! Dimana kau sekarang?"

"paman?"

"Kau mendengarkan aku kan? Cepat pulang atau ibumu akan menjemputmu sekarang!"

"Aku tidak mau pulang! Memangnya paman tau dimana aku berada?"

"Tentu saja, rumahmu sekarang di blok 2 kota Beika nomor 22. Benarkan?"

"Bagaimana paman-"

"Aku akan menunggumu satu jam lagi di taman. Jika kau tidak datang maka-" belum selesai bicara terdengar suara yang bahkan lebih mengejutkan dari pada kedatangan Gin ke dalam hidupnya.

"hei Haibara!"

"Conan?" dengan cepat Ai mematikan telepon.

"kau kenapa disini? Ayo pulang" ajak Conan kemudian.

"Maaf-" Ai diam sejenak kemudian bicara kembali, "Tapi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu"

"apa?"

"aku . . . tidak lupa ingatan"

"apa maksudmu?"

"Aku sebenarnya ingat siapa diriku. Terlebih ketika aku bertemu dengan Ran. Aku selalu tertekan ketika ia memanggil paman itu dengan sebutan 'ayah'. Jujur aku iri mendengarnya"

"jadi selama ini kau berbohong padaku dan profesor?"

"maafkan aku. Aku terpaksa berbohong"

"aku sebaiknya pulang dulu ke rumah" berlari pergi

"CONAN?" teriak lalu menangis

Di rumah profesor

"Lho Conan? Kenapa kau terlihat kesal begitu?"

"Aku ingin ke kamarku, profesor."

Langkah kaki Conan terdengar pelan. Badannya tidak semangat. Ai Haibara sengaja membohongi ia dan profesor. Ai sebenarnya ingat semuanya. Harusnya itu yang membuat Conan kesal. Karena Ai membohonginya. Namun ada alasan lain yang menggema di dadanya. Ia takut, karena jika Ai ingat semuanya termasuk juga keluarganya pasti suatu saat Ai akan pergi kembali pada keluarganya. Pikiran Conan terus mengambang jauh. Namun semua pikiran itu langsung buyar ketika bunyi telepon berdering.

"Halo?"

"hai Conan. Ini aku Haibara"

"kenapa au menelponku?" tanya Conan kesal

"aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolongku"

"hanya itu?"

"Aku juga ingin mengatakan selamat tinggal dan- hmpp"

"Haibara? Halo? Haibara! Jawab aku!"

Tut tut tut. Suara telepon yang putus membuat Conan segera berlari kembali ke tempat Ai. Namun, Ai sudah tidak ada di tempatnya. 'kemana dia?' gumam Conan.

"Conan!"

"eh, HAIBARA!"

DORR

"hei! Hati-hati menembak!" tegang

"kurang ajar! Mau apa kau kesini?"

"aku ingin kau kembalikan Haibara!"

"Haibara? Maksudmu Shiho?"

"Shiho?" bingung

"Conan! Tolong aku!" dengan tangisan yang kian menjadi-jadi

"Haibara! Lepaskan gadis itu sekarang!"

"apa hubunganmu dengannya? Dia bukan kakak, adik, atau sepupumu. Sebaiknya jangan ganggu dia"

"kau sendiri. Apa hubunganmu dengannya?"

tersenyum licik "dia keponakanku"

"apa? yang benar saja?"

"tak percaya? Aku akan menelpon ayahnya jika perlu. Kau tau gadis ini sudah kabur dari rumahnya sekitar sebulan yang lalu. Pasti kau yang menghasutnya kan?"

"jangan bercanda kau ya! Pasti Haibara kabur karena perilakumu sendiri!"

"anak kurang ajar!"

"hei Gin. Apa kau mau naik mobil ini?" ujar seorang wanita bernama Vermouth.

"pergilah duluan. Jangan lupa bawa anak perempuan itu bersamamu. Pastikan kalian sampai ke rumah dengan selamt. Selama itu aku akan mengurus bocah ini"

"serahkan saja padaku" kemudian mengemudikan mobil dengan kencang

"hei jangan bawa Haibara!"

"bodoh! Lawanmu itu aku!"

'cih! Bagaimana ini?'

"Conan! Kau tak apa-apa?"

"profesor menjauh!"

tersenyum licik. DORRR!

"hei berhenti kau! Kau bisa ditangkap polisi jika menembak sembarangan seperti itu!"

"apa pedulimu? Enak saja kau bilang sembarangan. Aku ini sudah senior menembak. Bahkan gadis kecil tadi adalah anak didikku dalam menggunakan pistol." Ujar Gin dengan bangga sambil meniup pistolnya perlahan.

"HYATT!" teriak seorang gadis yang dengan tiba – tiba dan lancang memukul orang yang bernama Gin dengan salah satu jurus karatenya.

"akh," ucap Gin disaat – saat terakhirnya. Ternyata Gin terlalu lengah saat Kogoro dan Agasa sibuk mengejeknya. Ran dari belakang malah memukul Gin dengan jurus karatenya.

Sementara itu di mobil yang di dalamnya terdapat Shiho bersama seorang wanita yang selama mengemudi selalu tersenyum gaje. Mereka sedang bercakap – cakap manis antara satu Dan yang lain. Percakapan dimulai dari wanita yang selalu tebar pesona senyum kanan kiri, "Hei Shiho! Kenapa kau kabur dari pamanmu?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Shiho menjawab dengan judesnya.

"Ayahmu sering bilang padaku kalau kau itu bukan tipe yang ceroboh. Pasti ada alasannya kau melakukan sesuatu."

Dengan penuh rasa keterkejutan Shiho mengulang kata 'ayah' dalam batinnya kemudian bertanya dengan penasaran, "Sebenarnya siapa kau?"

Vermouth hanya menjawab dengan senyum yang makin melebar, "Aku ini, istri ayahmu. Lebih tepatnya ibu tirimu"

"Apa?" shiho

"Terkejut?" telepon Wanita itu berdering dengan cepat. Trrrr! "Halo?"

"apa kau sudah menemukan Shiho?"

"hah, kau menelpon lagi ya? Kelihatannya kau cemas sekali ya"

"jawab pertanyaanku!"

"ya, aku menemukannya. Sudah dulu ya. Aku harus turun-"

Ai mengambil telepon dan bicara dengan cepat "Ayah! Tolong aku! Paman dan Ibu jahat padaku!"

"Siapa ini? Apa ini Shiho? Hei bisa kau jawab aku? Shiho!"

Ai tak bisa bicara banyak lagi. di depan kepalanya Vermouth telah menodongkan pistol padanya. Ai hanya terdiam memegangg handphone milik Vermouth. Apakah nyawanya akan selamat