Disclaimer : Andai ku Yana Toboso…
Yang punya Kuroshitsuji… (bernyanyi ala Gayus Tambunan)
Pairing : SebaXCiel
Genre : Family, Drama
Warning : OOC, cerita aneh, GaJe, dll ( dan lupa lagi)
DON'T LIKE DON'T READ
Happy reading…..
Lost Hope
Chapter 2
March, 24th 1988
Sebastian' room 17.55 p.m.
TIN..TIN..
Sebastian membunyikan klakson mobilnya, menunggu salah satu maid-nya membukakan pintu gerbang utama mansionnya. Hujan lebat disertai angina kencang dan gemuruh petir membuat atmosfer berubah dingin. Sekali lagi Sebastian membunyikan klaksonnya, kali ini tampak seorang dengan mantel hujan membukakan pintu gerbang, membiarkan sebuah sedan hitam lolos menuju garasi.
"Thanks, Finny!" teriak Sebastian pada tukang kebunnya saat sampai di garasi. Tukang kebun bernama Finny tersebut hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban. Dengan gerakan yang sangat cepat, Sebastian masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa bungkusan. Langkah tegap pria raven tersebut terdengar menyusuri seluruh pelosok rumah, seperti mencari sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.
"Anda mencari apa, Tuan?" Tanya maid berambut merah, Maylene.
"Ah, aku mencari Ciel. Di mana anak itu?"
"Sepertinya Tuan Muda masih di kamar Anda, Tuan. Seharian ini Tuan Muda menolak keluar dari kamar dan mengunci pintunya. Saya jadi khawatir, apalagi sejak pagi tadi Tuan muda hanya mengisi perutnys dengan segelas susu." Penjelasan Maylene yang begitu panjang lebar membuat Sebastian melesat menuju kamarnya di lantai dua sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. 'Sudah hampir jam makan malam, apa yang dilakukannya?' Entah kenapa batin Sebastian tidak bisa tenang saat itu.
CKLEK! CKLEK!
'Dikunci'. Untungnya Sebastian selalu punya kunci cadangan untuk setiap ruangan di mansionnya yang selalu tersedia di tas kerjanya.
"Aku pulang, Ciel." Sebastian masuk perlahan kemudian pandangannya terfokus pada sesuatu yang menggunduk di atas kasur. Karena cahaya sangat minim, Sebastian manyalakan lampu.
"Ciel…" Sebastian mendekat ke arah gundukan yang tampak bergetar itu. Sebastian yakin, Ciel-lah yang ada di balik selimut itu. Sebastian menyingkap selimut itu perlahan dan tampaklah sosok Ciel yang tengah tersujud.
"Ciel..?" kali ini ada kecemasan saat memanggil nama bocah itu. Yang dipanggil pun merespon dengan mengarahkan pandangannya pada sosok yang ia tunggu-tunggu sejak pagi tadi. Hening, itu yang terjafi selama beberapa saat, sampai…
CTARR..! JGERRR…! (anggap aja suara petir)
"Uwaaaa….." Ciel menghamburkan dirinya ke pelukan Sebastian, menenggelamkan kepalanya yang kini sejajar dengan dada Sebastian. Ia menangis. Ya, Ciel menangis. Melihat hal tersebut, Sebastian membalas pelukan bocah itu sambil sesekali mengusap lembut puncak kepala berambut kelabu yang tertanam di dadanya.
"Aku….takut…." Suara Ciel terdengar begitu bergetar seirama dengan tubuh anak itu. Sesaat kemudian Sebastian teringat akan bungkusan yang masih berada di tangannya yang memeluk Ciel.
"Oh iya, Ciel. Aku punya sesuatu untukmu."
….
Lama Sebastian menunggu reaksi Ciel, namun bocah tersebut tak kunjung memberi respon. Yang terdengar hanyalah suara nafas yang tertahan diiringi dekapan bocah mungil itu yang semakin mengencang. Sebastian mencoba memestikan keadaan bocah yang sangat penting baginya-entah sejak kapan- ruby Sebastian terbelalak melihat wajah Ciel memerah dengan peluh membanjiri tubuhnya. Tangan pucat milik Sebastian mengusap kening Ciel dan hanya satu kata yang terbesit dalam pikiran pri bergaya rambut harajuku tersebut saat meneliti satu persatu gejala yang ia lihat dari bocah dalam dekapannya. 'Asma'.
Langsung saja diabaikannya bungkusan-bungkusan berisi pakaian baru untuk Ciel yang sejak tadi digenggamnya dan mencoba membaringkan bocah itu.
"Maylene! Bard! Finny! Siapapun! Panggilkan dokter!" namun tampaknya ia terlambat. Ciel sudah keburu terkulai sebelum ia berhasil membaringkan anak itu. Kepanikannya sudah stadium akhir saat ini. Sebastian merogoh saku celananya dan langsung menghubungi dokter pribadinya.
…
Langit malam masih terasa sangat kelam meskipun hujan sudah berhenti. Tangan terampil milik Ms. Angelina yang notabene adalah dokter pribadi keluarga Michaelis itu tampak sangat cekatan saat memeriksa satu persatu bagian tubuh pasien yang tengah terbaring lemah dengan nafas yang masig sedikit memburu. Namun begitu, wajah pasiennya itu malah semakin matang seperti kepiting rebus.
"Kala anak ini sudah sadar, tolong berikan obat ini padanya." Ms. Angelina menyerahkan sebuah botol berwarna kuning yang berisi banyak tablet berwarna putih.
"Dia tidak makan dengan teratur, emosinya juga tidak stabil, dan pakaiannya terlalu tipi di suhu yang cukup rendah bagi penderita asma. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, ia akan baik-baik saja." Kali ini wanita yang kira-kira berusia 30-an itu memberikan penjelasan sambil memperhatikan klien-nya yang masih setia menggenggam tangan mungil pasiennya.
"Well, Mr. Michaelis. Bisakah Anda memberitahu saya, siapa anak manis ini?" Pandangan Sebastian kini terfokus pada wanita berambut merah sebahu tersebut. Kemudian bibir kemerahan Sebastian mulai bercerita tentang Ciel, tentang seorang anak laki-laki yang –entah bagaimana- membuat dirinya ingin melindungi anak itu. Sebastian merasa ada yang berbeda dari anak tersebut saat pertama kali melihat matanya, mata safir yang begitu menghanyutkan, yang bisa menenggelamkan siapa saja yang menatapnya.
"Anda memang orang baik, Mr. Michaelis." Ujar Ms. Angelina setelah mencerna cerita Sebastian. Kemudian wanita itu pamit pulang dan pergi meninggalkan Sebastian yang kini hanya berdua dengan seorang bocah yang masih tertidur setelah tadi diberi obat penenang oleh sang dokter.
Bersambung…..
Yaaaaaa…. Inilah chap keduanya…. Gimana? Garingkah? Pasti jelek banget ya. Masih ditunggu reviewnya … kritik, saran, masukan apapun asal jangan flame karena Ara gak melayani flame.
Arigatou, minna…
Review, review, review….
.
.
.
.
.
