Chap 3 update….

Makasih bwt yang udah ripiu…

Bwt Al-Chan 456 : gomen kalo ceritanya terlalu mello cz Ara masih kebawa perasaan kesel and sedih atas ending kuroshitsuji yg bikin Ara ber-huwe-huwe-ria. Thanks review nya. Rivew lg dong…. ( ngarep )

Mousy Phantomhive : thanks dah review. Ni dah apdet. Tp ne bkan genre romance lho…

Disclaimer : Masih punya yana toboso koq. Kalo Ara yang punya. Ciel nya gk bkal mati.

Genre : Family/ Hurt/ Comfort ( ntar bakal jdi Angst)

Warning : OOC, Banyak typo melanglang buana, cerita mellow tingkat akut, dll( dan lupa lagi)

Don't like don't read!

Happy reading…..

Lost Hope

Chapter 3

7 hari kemudian

Sebastian's Room 06.00 a.m.

"Bangun, Ciel. Bukankah hari ini hari pertama kau masuk sekolah?" bisik Sebastian pada sosok yang masih terlelap di sebelahnya.

"Nghngh…" Ciel membuka matanya perlahan. Bocah berusia lima tahun tersebut menatap pria tampan di hadapannya. "Sebastian…"

"Ayo bangun." Sebastian mulai bangkit diikuti oleh Ciel. Kemudian mereka memasuki kamar mandi bersama-sama.

"Kau hebat, Ciel!" Puji Sebastian kepada Ciel yang baru saja selesai memakai seragam sekolahnya seorang diri.

"Aku biasa pakai baju sendiri, Sebastian." Balas Ciel dengan tampang innocent-nya. Mendengar penuturan Ciel barusan, hati Sebastian terasa miris. Mengingat kehidupan Ciel sebelum Sebastian membawanya pulang. Ditinggal mati oleh kedua orangtuanya karena kasus perampokan, ditelantarkan keluarga, dibuang, hidup di jalanan, sesuatu yang menuntutnya untuk hidup mandiri.

"Sebastian…" suara Ciel mengembalikan Sebastian dari lamunannya. "Yang ini bagaimana pakainya?" Ciel menunjuk bagian sepatu yang talinya belum diikat.

'Oh iya, anak seumurnya banyak yang belum bisa mengikat tali sepatu sendiri' pikir Sebastian. Dengan penuh kehangatan, Sebastian mengangkat tubuh Ciel ke paangkuannya yang tengah duduk di sisi ranjang. Menyuruh Ciel mengangkat kakinya dan mulai mengajarkan pada Ciel cara mengikat tali sepatu. Dasarnya Ciel memang anak yang cepat tanggap, jadi ia langsung bisa mengikat tali sepatu yang sebelah kiri setelah Sebastian mengikat yang sebelah kanan.

-skip-

Harvert Elementary School

"Nah, Ciel. Sekarang aku harus pergi. Cari teman yang banyak, ya." Sebastian mulai melangkah pergi dari depa pintu kelas 1-A tempat Ciel akan menuntut ilmu. Tapi sesuatu yang menarik ekor tailcoatnya membuat langkahnya terhenti. Dilihatnya wajah si pelaku yang tertunduk dalam dan ia pun berjongkok agar kepala mereka sejajar.

"Ada apa, Ciel?" Sebastian memegang bahu anak itu, bermaksud menenangkan. Namun Ciel tak menjawab, melainkan langsung memeluk leher Sebastian.

Sebastian's PoV

Aku sungguh terkejut saat tiba-tiba ia memelukku. Tanpa ragu akupun membalas perlakuannya dengan tak kalah lembut. Aku tahu ia kurang pandai bersosialisasi. Tapi ia harus. Anak itu terlalu takut untuk mengenal orang lain. Seperti saat Maylene membangunkannya dari tidur, begitu ia tahu siapa sosok yang membangunkannya, bibir mungil itu mulai memanggil namaku sambil menangis. Aku sungguh mengerti perasaannya. Ia masih takut.

"Mr. Michaelis? Apa yang Anda lakukan di sini?" Sebuah suara refleks membuatku melepaskan pelukan hangat bersama Ciel.

"Oh, Mr. Faustus." Seorang pri berambut raven, bermata cokelat kelabu yang dibingkai kacamata minusnya datang menghampiriku. Pria yang secara fisik mirip denganku, Claude Faustus, wali kelas 1-A yang kini tengah menggandeng dua orang murid kesayangannya. Seorang bocah laki-laki pirang berwajah manis dengan warna mata hijau tosca yang bernama Alios Trancy, digandeng di sebelah kiri. Seorang bocah perempuan pirang ikal berwaarna mata hijau emerald, Elizabeth Middleford, bergelayut manja di lengan sebelah kanan wali kelasnya.

"Kebetulan sekali, Mr. Faustus," Aku memulai pembicaraan "Aku mengantarkan seseorang untuk Anda bombing." Claude langsung melirik kea rah bocah yang sedang bersembunyi di balik kakiku.

Normal PoV

"Hai…! Aku Elizabeth, tapi panggil Lizzy saja ya. Siapa namamu?" bocah perempuan ikal itu mulai mendekati Ciel sambil meneliti setiap inchi bagian tubuh Ciel. Namun tak ada respon dari yang ditanya, hanya tatapannya semakin terlihat ketakutan.

"Aku Alois Trancy." Ciel mulai memperhatikan duo pirang hyperactive di hadapannya itu.

"Aku…. Ciel…" Jawab Ciel pad akhirnya. Suaranya terdengar lantang saat menyebut namanya sendiri. " Namaku Ciel Michaelis."

Sebastian tersenyum puas saat mendengar pengakuan Ciel. Pengakuan nama keluarganya seperti yang diajarkan Sebastian semalam.

Flashback on

"Ciel, mulai sekarang kau adalah anggota keluarga Michaelis." Uajr Sebastian pada Ciel yang hendak tidur. Ciel kecil hanya mengangguk paham. "Jadi mulai sekarang, kalau ada orang yang menanyakan namamu, maka kau harus menjawab dengan tegas…" belum selesai Sbeastian melanjutkan kata-katanya, Ciel memotongnya dengan suara lantang, "Namaku Ciel Michaelis. Benar 'kan, Sebastian?"

'Anak ini….' Batin Sebastian yang saat ini sangat ingin mencubit malaikat kecil di hadapannya.

Flashback off

Sebastian pun pamit untuk ke kantornya setelah mengcium kening Ciel layaknya seorang ayah dan mengusap lembut puncak kepala Ciel. Semburat merah muncul di wajah Ciel saat Sebastian memperlakukannya seperti itu. Kemudian lengan Ciel langsung ditarik oleh duo pirang hyperactive yang sepertinya akan berteman akrab dengannya.

Bersambung lagi…..

Gomen ne kalo pendek…

Sebastian : ya, pendek banget kayak loe..

Author : huuwwaaa… Ciel… Sebastian ngatain aku pendek…

Ciel : memang loe pendek kan?

Author : *pundung di pojokan sambil bawa boneka fudu* wahai orang-orang tinggi yang suka menganiaya orang pendek, kumanterakan kalian agar jadi manusia pendek. Ho Ho Ho…

Ciel : Sebastian keenakan, peluk gua terus..

Sebastian : kan Ciel Honey duluan yg peluk abang Sebby…

Author : halah….. tinggalkan couple geblek di atas * tepar disambit Sebastian n Ciel*

Review… Review…. Murah meriah