Hwahhh…. Balik lagi ne. sengaja gak cepet-cepet update biar gak cepet tamat. Makasih buat para readers yang udag review… sorry jg kalo alurnya dipercepat, cz ntar malah jadi kepanjangan n jadi gak menarik.
Langsung ja,…
Disclaimer :kuroshitsuji itu, punya Tante Yana Toboso. Saya Cuma minjem chara nya.
Pairing : SebaxCiel
Genre : Family, drama.
Warning : OOc, melankolis, no romance, dll, dsb, dst, dbd, ddd yang laen…
Aku membaringkan tubuhku di samping tubuhnya dan mendekapnya dengan sebelah tanganku. Mencoba menhilangkan rasa bersalahku, sedikit demi sedikit. Walaupun aku tahu, rasa bersalah itu tak akan pernah kulupakan.
Lost Hope
Chapter 5
Normal PoV
"Gelap? Di mana ini?' Seorang anak lelaki berambut kelabu dan sepasang permata safir yang terpasang di wajahnya kini tengah kebingungan di suatu tempat yang tanpa pencahayaan itu. Anak lelaki itu hanya bisa berputar-putar tak jelas hanya sekedar untuk mencari secercah cahaya.
Akhirnya sebuah cahaya muncul melalui celah yang ditimbulkan oleh pintu yang terbuka. Sosok bermata biru itu tertegun dan membelalakan matanya. Dari balik pintu itu, muncullah seorang pria tegap dengan tailcoat hitam yang sangat cocok untuknya. Rambut raven dengan gaya harajuku belah tengah yang sebagian terurai di sisi rahang tegasnya, menambah nilai plus untuk pria tersebut. Mata dengan orb merahnya menatap tajam pada sang bocah yang kini tengah tersudut di dinding. Pandangan tajamnya seolah menusuk dan berkata 'mati kau'.
Bocah itu mulai panic dan berlutut. Mengatupkan kedua tangannya dan menunduk dala. Tampak bulir-bulir bening mengalir bagaikan anak sungai dari pelupuk matanya yang kini terpejam keras.
"Ma… Maaf…! Maafkan aku Sebastian! Aku akan menurut mulai sekarang! Jangan usir aku!" anak it uterus mengatakan hal yang sama. Sementara itu, pria yang dating malah semakin mengeluarkan aura jahat yang dasyat. Semakin dekat… lebih dekat… dan…..
"Huwa…..!"Ciel terbangun sambil memekik tertahan. Sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa agak berat. Nafasnya sedikit memburu sementara peluh menghiasi kulit pucat bocah itu. Awalnya ia agak terkejut saat melihat sosok Sebastian yang tertidur pulas di sebelahnya. Namun akhirnya bocah tersebut bisa mengendalikan nafas dan pikiran-pikiran bodohnya yang ia pikirkan sampai ke dalam mimpi. Bibir mungil sang bocah sedikit menyunggingkan senyum saat mamperhatikan sosok di sebelahnya itu. 'Nyenyak sekali' piker Ciel.
Masih dengan kepala yang terasa berat, Ciel turun dari ranjangnya setelah sebelumnya menyelimuti tubuh Sebastian. Ia menuju ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah, walaupun sekarang masih terlalu pagi dari jam biasanya ia bersiap-siap. Ciel hanya ingin datang ke sekolah lebih cepat hari ini. Sebisa mungkin, ia tidak ingin berbicara dengan Sebastian.
Dengan langkah pasti, bocah berseragam Harvert Junior School itu melewati gerbang rumah yang telah lama menjadi tempat tinggalnya. Ia menyetop sebuah taksi untuk mengantarnya ke sekolah. Di dalam taksi, lagi-lagi kepalnya terasa berat. 'Dasar kepala sialan!' umpat Ciel dalam hati.
"Bisa lebih cepat?" Tanya Ciel pada supir taksi. Tanpa pikir panjang, sang supir menambah kecepatan. Membuat mereka lebih cepat sampai ke tempat tujuan sesuai keinginan penumpangnya.
Sementara itu, kita beralih kepada Sebastian.
Sebastian sangat terkejut begitu tahu Ciel tak berada di tempatnya. Kemudian ia mencari sosok bocah itu ke seluruh ruangan yang ada di mansion itu, tapi tetap tak ditemukannya bocah itu. Akhirnya, seorang remaja pirang dengan pakaian gardener dating menghampiri Sebastian yang tengah duduk di bangku taman belakang rumahnya. Tampak kekecewaan menghiasi wajah tampan Sebastian.
"Maaf, Master. Jika Anda mencari Tuan Muda, ia sudah berangkat sejak tadi." Sebastian refleks menoleh kea rah gardener bennama Finny yang berdiri tak jauh dari tempat ia duduk.
"Berangkat?" pria raven itu memastikan apa yang baru saja ia dengar, mengingat tidak biasanya Ciel berangkat sepagi ini.
"Ya, berangkat ke sekolah. Sepertinya naik taksi, Tuan." Setelah mengatakan hal itu, Finny kembali melakukan pekerjaannya. Meninggalkan majikan ynag kini tampak frustasi. 'Kau kenapa Ciel? Kenapa kau menghindariku?' batin Sebastian yang kini tengah menengadahkan wajahnya ke langit biru.
Harvert Junior School
14.45 p.m.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Mr. Michaelis, Ciel?" Tanya Lizzy kepada Ciel yang duduk di hadapannya. Sekolah tampak mulai sepi karena jam belajar sudah berakhir sekitar setengah jam yang lalu. Ciel tidak memberi jawaban kepada sahabat pirangnya itu. Dia sedang tak ingin bicara hari ini.
"Kau ini kenapa? Sedang menghindari masalah? Apakah itu sikap laki-laki sejati, hah?" ucapan Alois mendapat smbutan deathglare dari Ciel. Tapi Alois malah membalasnya dengan tatapan malas. Ya, yang bisa mengahdapi Ciel yang sedang marah atau bad-mood memang hanya si pirang satu ini. Merasa tak ada gunanya men-deathglare kekasih sahabatnya ini, Ciel memalingkan wajahnya. "Benar 'kan. Kau menghindar. Sampai-sampai tak berani menatapku." Lanjut Alois. Lizzy mulai merasakan atmosfer yang kurang nyaman di antara mereka.
"Apa maumu? Hah!" bentak ciel sambil menggebrak meja.
"Calm down, Ciel… aku hanya ingin kau bebagi masalahmu dengan kami. Kami bersedia membantumu jika kau butuh bantuan." Ujar Alois kalem.
"Aku, tidak butuh bantuan dari kalian. Aku, bisa selesaikan masalahku. SENDIRI." Ujar Ciel yang kemudian melangkah meninggalkan kedua temannya. Sebenarnya ia tak yakin bahwa ia tak membutuhkan bantuan orang lain. Sejujurnya, ia ingin ada orang yang memberitahu Sebastian bahwa ia tidak setuju atas hubungan Sebastian dengan 'orang itu'. Orang yang membuatnya mau tak mau harus menjadi peneurs Sebastian.
"Ciel…Kau mau ke mana?" Lizzy hampir saja mengejar Ciel seandainya Alois tak menahan tangan kekasih barunya itu.
"Tidak sekarang, Dear. Saat ini, biarkan dia tenang dan memikirkan apa yang harus dia lakukan."
"Apa kau yakin, Ciel akan bebaikan lagi dengan Mr. Michaelis?" Tanya Lizzy yang ragu akan argument dari Alois. Yang ditanya hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Meraka berdua hanya bisa memperhatikan punggung Ciel yang perlahan menghilang di belokan menuju arah ruangan Sebastian.
"Benar 'kan?" Tanya Alois yakin. Sang kekasih hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Alois. Sekarang perasaannya sedikit lega. Setidaknya ia tahu bahwa saat ini ciel berusaha menemui Sebastian. Entah apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu pada Sebastian nanti.
…..
Bersambung…..
Capek….. pundakku pegel….
Yo. Reviewnya ya, readers….
