Chap 6….
Langsung ja….
Disclaimer :kuroshitsuji itu, punya Tante Yana Toboso. Saya Cuma minjem chara nya.
Pairing : SebaxCiel, SebaxGrell
Genre : Family, drama.
Warning : OOc, melankolis, mungkin akan segera muncul romance, dll, dsb, dst, dbd, ddd yang laen…
"Benar 'kan?" Tanya Alois yakin. Sang kekasih hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Alois. Sekarang perasaannya sedikit lega. Setidaknya ia tahu bahwa saat ini ciel berusaha menemui Sebastian. Entah apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu pada Sebastian nanti
Lost Hope
Chapter 6
Sebastian's Office 15.00 p.m.
Sebastian yang tengah membenahi meja kantornya karena akan segera pulang itu, langsung menghentikan aktivitasnya begitu mendengar pintu kantornya diketuk.
"Masuk.."
CKLEK…
Dan muncullah seorang remaja berambut kelabu yang masih memakai seragam sekolahnya yang tampak lusuh. Remaja tersebut kemudian berjalan mendekati meja Sebastian.
"Ciel? Tidak biasanya kau kemari. Ada ap…." Belum selesai Sebastian bicara, Ciel sudah memotong kalimatnya.
"Aku hanya ingin minta maaf. Aku berjanji kejadian seperti kemarin tak akan terulang lagi. Jadi, jangan membenciku." Cile menunduk dalam dengan bahu gemetar. Setengah mati ia menahan egonya yang siap meledak kapan saja. Lelaki bermata merah yang menjadi lawan bicaranya itu pun meraih tubuh mungil di hadapannya dan mendekapnya dengan kedua lengan jenjangnya.
"Aku sudah memaafkanmu, Ciel. Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu takut kemarin. Sekarang kita pulang, ya." Ciel mengangguk dan kemudian mengikuti langkah Sebastian menuju rumah.
Sebastian's Mansion 17.00 p.m.
TOK. TOK. TOK.
"Ciel…" Sebastian membuka pintu kamar Ciel yang tidak dikunci. Dilihatnya sosok yang sedang dicari sedang berdiri di samping ranjang sambil mengenakan sweater.
"A-ada apa, Sebastian?" Tanya Ciel dengan nada yang sedikit gugup. Sebastian yang menyadari kegugupan Ciel, langsung terdiam. Ia memikirkan hal yang mungkin membuat Ciel sedikit gugup.
"Sebastian.." suara Ciel kali ini berhasil membuat Sebastian menyimpulkan bahwa kegugupan Ciel dikarenakan hubungan mereka yang agak renggang akhir-akhir ini.
"Aku ingin mengajakmu makan malam di luar." Ciel tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Tapi di luar dingin,'kan?" mungkin hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Ciel untuk menolak ajakan Sebastian. Jujur saja, Ciel, sedang tidak ingin keluar malam ini. Itu dikarenakan oleh kepalanya yang sedikit berdenyut, ditambah lagi tugas sekolah yang masih mengantri untuk dikerjakan.
"Ayolah, Ciel…. Ini sebagai permintaan maafku." Kali ini Ciel merasa tidak enak karena Sebastian berkata sambil mencengkram kedua pundaknya. Setelah berpikir ulang, mungkin ada baiknya ia keluar untuk menyegarkan kepalanya sebentar.
"Baiklah." Jawab Ciel, akhirnya. "Tapi kau tunggu di mobil saja. Aku mau siap-siap dulu." Tanpa piker panjang, Sebastian pun mengabulkan permintaan Ciel dan langsung melesat menghilang di balik pintu kamar Ciel.
Ciel's PoV
Setelah Sebastian keluar dari kamarku, aku langsung menghela nafas lega dan terduduk sambil tertunduk di sisi ranjangku yang berantakan. 'Bagaimana aku membereskan hal ini?' pikirku. Aku mulai menyingkap selimut di atas ranjangku dan mulai memperhatikan bercak-bercak berwarna merah di sana-sini. Aku pun langsung menariknya dan menyembunyikan selimutku menuju kamar mandi. Aku tak ingin membuat Sebastian khawatir dengan mengetahui noda darahku ini.
Normal PoV
Ciel menggulung selimutya yang terkena darah akibat batuk hebatnya sore tadi, setelah ia baru sampai dari kantor Sebastian tepatnya. Ciel pun membawanya ke kamar mandi yang berada di kamarnya dan meletakkannya di tempat yang tersembunyi. Setelah keluar dari kamar mandi, ia pun menyambar dompet dan ponselnya yang terletek di meja dekat ranjang dan langsung melesat menuju tempat Sebastian menunggunya. Tak lupa ia memakai mantel yang akan melindunginya dari cuaca dingin di luar sana. Namun, ia melupakan satu hal, ia lupa mengganti kemeja yang ia pakai. Walaupun terlapisi oleh sweater, tetap saja noda darah yang sedikit tertempel di kemejanya bisa dilihat dari dekat.
Flower Caffe 18.30 p.m.
Setelah mengajak Ciel berjalan-jalan di taman kota, akhirnya Sebastian mengajak Ciel ke sebuah kafe langganannya. Sebuah kafe yang tidak terlalu mewah tetapi cukup ramai dikunjungi. Kafe bernuansa klasik dengan hiasan bunga mawar merah di setiap sudut ruangan. Kafe ini milik salah satu kenalan Sebastian yang kurang disukai oleh Ciel. Seorang pria berusia 25 tahun dengan rambut berwarna merah panjang, berpupil warna emas dengan kacamata berbingkai aneh yang selalu sekilas tampak menyeramkan namun sebenarnya sangat manis, Grell Sutcliff namanya.
Pria anggun yang dimaksud kini tengah berjalan menuju meja tempat Sebastian dan Ciel berada. Kemeja putih berlengan panjang berlapiskan rompi hitam dengan garis-garis abu-abu, dan celana hitam yang membalut kaki jenjangnya menambah kesan anggun pria berambut merah tersebut. Terutama bagi Sebastian yang kini tengah terpesona oleh 'kecantikan' Grell.
Sedangkan Ciel, ia tidak berniat memandang ke arah pria centil yang mengahmpiri mereka tersebut. Sejak mengetahui hubungansebastian dengan orang ini sekitar dua bulan yang lalu, Ciel tak lagi memperhatikan pria bernuansa merah tersebut. Padahal awalnya Ciel sangat menyukai Grell. Selain karena mereka sama-sama yatim piatu, Grell juga sangat memperhatikan Ciel seperti adiknya sendiri. Namun sejak Sebastian memberitahukan hubungannya dengan pria tersebut, Sebastian juga memberitahu kepada Ciel agar kelak meneruskan sekolah yang ia bina selama ini karena ia tak berniat menikahi orang lain selain pria bernuansa merah tersebut.
"Kau ke mana saja, Sebby..?" Grell mengecup pelan pipi Sebastian sebagai tanda salam.
"Selamat malam, Ciel.." lanjutnya ganti menyapa Ciel. Namun yang disapa hanya menjawab "Hn" tanpa memandang lawan bicara.
"Aku sibuk belakangan ini, Darling." Jawab Sebastian kepada pasangan abnormalnya itu.
Grell kemudian duduk di kursi yang berada di antara kuri Sebastian dan kursi Ciel. Ia mengangkat sebelah tangannya dan memanggil pelayan untuk membawakan mereka beberapa cake dan minuman untuk mereka.
Sementara pasangan abnormal tersebut melanjutkan pembicaraan, Ciel meminta izin ke toilet karena merasa diabaikan. Dengan langkah yang sedikit tehuyung Ciel menuju toilet. Kepalanya terasa berdenyut lagi sekarang. Padahal saat berada di taman bersama Sebastian tadi, kepalanya sudah baik baik saja.
'Kenapa kepala ini tidak mau berhenti berdenyut!' rutuk Ciel dalam hati. Ciel membasuh wajahnya dengan air yang keluar melalui keran westafel. Setidaknya ia ingin menyegarkan kepala dan pikirannya.
Setelah selesai dengan urusannya, Ciel kembali ke tempat Sebastian. Duduk dan kembali menyaksikan adegan romantis antara dua pria penyuka sesame jenis yang keduanya sama-sama dihormatinya itu. Tampa mempedulikan dua orang yang membicarakan masa depan yang menurutnya sia-sia itu, Ciel menyantap cake yang sudah tersedia di meja.
NYUT. Tiba-tiba kepalanya berdenyut lebih keras dari sebelumnya, tapi kali ini ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Ciel pun menyeka hidungnya dengan jari-jari tangan kanannya dan mendapati tangannya kini berlumuran cairan kental berwarna merah yang lengket dan berbau anyir, darah.
Ciel terus membeku sambil menatap tangannya yang kini berubah warna. Namun hal tersebut tidak disadarii oleh Sebastian dan Grell yang sedang asik mengobrol. Hingga akhirnya Ciel ambruk dari kursi dan tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Bersambung…
Terima kasih buat yang masih setia membaca fict saya ini. Jujur, walaupun sudah gak ada yang baca, saya akan tetap menyelesaikan fict ini. Sudah mendekati akhir koq..
Tetap semangat…. Yeeeyy…
Salam katak…. Ara-kun…
Review masih diterima
