Halo minna…
Ara mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan Ara dalam meng-update fict ini.
Gomen… gomen… gomen….
Ne gara-gara Ara sibuk nyari obat kekecewaan…
Readers da yang tw gak, obat kekecewaan itu pa?
Yo wes lah, dari pada baca curhatan author gak jelas satu ini, mendingan langsung mulai ja chap 7 nya
Disclaimer : kuroshitsuji punya Yana Toboso
Genre : Family, Hurt/comfort
Rated : T (mungkin)
Pairing : SebaXCiel, SebaXGrell
Warning : bagi yang gak suka pairing SebaXGrell, mohon segera meninggalkan halaman ini. Sungguh, fict ini bisa merusak pengelihatan anda…
Lost Hope
Chapter 7
Hospital Center, 21.00 p.m.
"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan padanya sampai terjadi hal seperti ini?" seorang wanita berambut merah sebahu tampak sedang menahan emosinya yang hampir meledak. Ia sedang berhadapan dengan seorang pria berambut raven yang tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mereka tengah berada di suatu ruang rawat 'anak' Sebastian yang sejak lebih dari dua jam lalu belum juga sadarkan diri.
Wanita yang sudah seperti ibu bagi Ciel itu kini tengah mengusap pelan pipi Ciel yang tampak pucat. Sebastian hanya memperhatikan selang infus yang tertanam di pergelangan tangan kiri Ciel dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Maaf, aku tidak tahu kalau Ciel sedang sakit." Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari bibir ranum Sebastian.
"Maaf?" wanita yang merupakan dokter pribadi keluarga Michaelis itu membentak kliennya dengan nada yang tinggi, seolah tak takut kalau pasiennya sampai terbangun. "Bagaimana mungkin kau tidak melihat noda darah sebanyak itu?" Mrs. Angelina melanjutkan bentakannya. Suaranya menggema di ruangan yang tergolong besar itu. Bulir-bulir bening kini tampak membuat anak sungai di pipi mulus milik sang dokter.
Mereka tahu hal itu saat hendak mengganti pakaian Ciel dengan pakaian pasien. Dan mereka sangat terkejut begitu melihat bercak darah di kemeja yang Ciel pakai. Sejak saat itu, dokter wanita tersebut tidak mengijinkan Sebastian untuk menyentuh Ciel, bahkan untuk membantunya menggantikan pakaian Ciel, ia meminta bantuan pada perawat di rumah sakit. Sebastian tak bisa membantahnya. Ia tahu, betapa Mrs, Angelina begitu menyayangi 'anak'nya tersebut, sama halnya dengan dirinya. Tapi ini semua salahnya. Seharusnya ia tahu saat Ciel mencoba menolak ajakannya untuk pergi sore ini.
Kini keduanya larut dalam keheningan tanpa dasar. Tak ada yang ingin membuka pembicaraan lagi karena memang tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Suasana terus begitu sampai akhirnya terdengar suara erangan dari sang pasien yang menggeliat tak nyaman di ranjangnya.
"Ugh.. Sebastian…" Ciel memanggil denan suara yang sangat lemah namun masih bisa terdengar lantaran keadaan ruangan yang terlampau sepi. Yang dipanggil pun mendekat. Mrs. Angelina tak mengahalangi langkah Sebastian namun ia memberikan deathglare nya kepada Sebastian dan pergi keluar ruangan meninggalkan kedua ayah-anak tersebut. Namun si raven tak mempedulikan hal itu dan langsung mengenggam erat tangan Ciel yang kini mulai membuka matanya perlahan.
"Aku di sini, Ciel." Ciel menoleh ke arah Sebastian.
"Aku mau pulang." Ujar Ciel lemah.
"Tapi kau masih perlu dirawat Ciel. Kau belum boleh pulang." Bantah Sebastian. Namun Ciel malah menggeleng lemah sambil melancarkan sorot mata memohon. Dan Sebastian lemah akan hal itu. Ia tak bisa menolak permintaan Ciel jika Ciel sudah memandangnya dengan cara seperti itu.
"Kau bisa merawatku di rumah. Aku mohon, Ayah.." kali ini Ciel menggunakan jurus andalannya. Mendengar panggilan Ciel untuknya yang jarang sekali diucapkan, membuat Sebastian mengerti kalau kali ini Ciel benar-benar memohon.
"Baiklah…" akhirnya Sebastian mengalah. "Tapi… aku harus bicara deengan Mrs. Angelina dulu." Ujar Sebastian seraya melangkah pergi. Namun pergelangan tangannya tertahan oleh karena Ciel yang menggenggamnya. Sebastian menatap Ciel dengan tatapan 'kenapa'.
"Tidak usah.. nanti malah tidak boleh pulang." Ujar Ciel. Sebastian sungguh terkejut begitu mendengar alasan Ciel. Biasanya dia selalu menuruti kata-kata dokter-nya itu. Tapi kenapa sekarang ia malah ingin keluar dari rumah sakit secara diam-diam?
Tanpa berkata lagi, Sebastian pun melepas selang infus yang tertanam di pergelangan tangan Ciel. Nampak ekspresi kesakitan dari Ciel saat Sebastian mencabut selang infusnya, namun sesaat kemudian ekspresinya berubah menjadi ekspresi senang dengan sedikit senyum licik.
"Kau yakin, Ciel?" tanya Sebastian meyakinkan pilihan Ciel. Ciel pun mengangguk. Sebastian langsung menggendong Ciel dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh dokter merah yang berkuasa penuh atas Ciel yang sedang sakit.
'Kenapa aku jadi seperti menculik anakku sendiri begini, sich?' umpat Sebastian dalam hati saat mereka melewati koridor rumah sakit yang mulai sepi.
….
Sebastian's Mansion, 23.00 p.m.
Sebastian meletakkan tubuh Ciel yang tengah tertidur pulas di atas ranjang di kamar Ciel. Wajah Ciel yang tertidur menampakkan bahwa ia sangat lelah hari ini. Namun ada yang janggal dari tempat tidur Ciel, dan itu baru disadari Sebastian saat hendak menarik selimut untuk Ciel. Selimutnya tak ada begitu pula dengan seprai kasurnya. Ke mana benda-benda penunjang kehangatan yang harus dimiliki oleh anaknya tersebut?
Kemudian Sebastian memanggil Maylene dan menanyakan apakah ia yang melepas seprai dan selimut Ciel untuk dicuci. Namun jawabannya adalah tidak dan bukan. Dahi Sebastian mengerut. Ia mecoba berpikir, mana mungkin pencuri mau mencuri benda seperti itu? Akhirnya Sebastian menyelimuti Ciel dengan mantelnya dan mulai menelusuri setiap sudut kamar Ciel. Mulai dari lemari pakaian, lemari buku, kolong tempat tidur, dan yang terakhir.. kamar mandi.
Sebastian meremas gumpalan kain berwarna putih yang ternoda oleh pekatnya warna darah tersebut. Perasaannya kacau, antara sedih, marah, menyesal, dan takut.
Sedih mengingat diagnosis Mrs. Angela yang mengatakan kalau Ciel mmengalami pembekuan darah di otaknya yang sebabya belum jelas. Dan itu bisa memperpendek usianya.
Marah karena Ciel yang dengan teganya berkomplot dengan dokternya untuk menyembunyikan hal ini darinya padahal Ciel sudah mengetahuinya sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Menyesal karena telah memperburuk keadaannya.
Dan.. Takut. Takut kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Sebastian yang tak bisa tidur malam itu, lebih memilih duduk di samping ranjang Ciel yang masih terlelap. Tiba-tiba handphone si raven bergetar dan di display-nya tertera 'Darling'. Segera Sebastian mengangkatnya dan menjawab panggilan dari kekasihnya itu dengan suara yang sangat lelah.
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin menanyakan keadaan Ciel. Apakah ia baik-baik saja?" tanya suara di seberang sana yang menunjukkan nada khawatir.
"Dia sedang tidur sekarang. Kau tenang saja." Jawab Sebastian seadanya. Ia tidak mau membuat kekasihnya itu khawatir akan keadaan Ciel mengingat Grell menganggap Ciel seperti adiknya.
"kau belum tidur, Sebby?"
"Aku tidak bisa tidur." Jawab Sebastian singkat. "Bagaimana denganmu?" tanya balik Sebastian.
"Aku baru saja selesai mengerjakan pembukuanku untuk bulan ini. Dan sepertinya aku juga tidak bisa tidur."
Dan terjadilah percakapan antara sepasang kekasih tersebut. Banyak hal yang mereka bicarakan dan semua itu tentang Ciel. Bagaimana sikap Ciel saat mengetahui hubungan mereka, bagaimana jika Ciel merajuk saat dia tidak menyetujui hubungan mereka, dan masih banyak yang lain. Hingga akhirnya Sebastian harus memutuskan telepon karena Ciel mulai mulai menggeliat tak nyaman di tidurnya.
"Ada apa, Ciel? Apa ada yang sakit?" tanya Sebastian saat melihat sepasang batu safir yang memandang lembut ke arahnya.
"Aku mau ke kamar kecil."Begitu mendengar jawaban Ciel, sebastian langsung menghela nafas lega. 'Kukira ada apa.' Batin pun mengantarkan Ciel ke kamar mandi dan menungguinya di luar.
"Arrrgghhhh…" terdengar suara teriakan yang menggema di kamar mandi. Dengan sigap Sebastian membuka pintu kamar mandi yang memang tak di kunci dan langsung memeriksa keadaan anaknya.
Kini Sebastian menyaksikan Ciel yang tengah tersungkur ke lantai sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Tampak ekspresi yang begitu menyakitkan di wajah si mungil tersebut.
"Ciel! Kau kenapa?" tanya Sebastian dengan nada penuh kepanikan. Langsung ia angkat tubuh Ciel menuju tempat tidur dan membaringkannya.
"Sakit, Sebastian.. Sakit…" erang Ciel berkali –kali. Hal tersebut membuat Sebastian kelabakan dan bingung setengah mati. Apakah ia harus menelepon Mrs. Angelina dan membiarkan wanita itu membawa Ciel kembali ke ruangan penuh kebosanan itu? Akhirnya Sebastian merogoh kantung celananya dan meraih handphone-nya. Namun sebelum ia sempat menekan tombol dial, pintu kamar Ciel keburu dibuka kasar oeh seseorang.
Seorang wanita berambut merah sebahu membuka pintu dengan kasar. Ekpresi di wajahnya menunjukkan kemarahan yang teramat sangat. Namun sepertinya amarahnya itu dapat teredam oleh suara erangan Ciel yang semakin menjadi. Dengan segera dokter merah tersebut menghampiri Ciel dan mulai memeriksa setiap gejala yang ditunjukkan oleh pasiennya. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui gejala apa yang menyerang Ciel. Mrs. Angelina pun mengeluarkan sebuah botol dan mulai mengeluarkan butir-butir pil berwarna putih yang kemudian dimasukkan ke dalam mulut Ciel dengan paksa karena Ciel yangkesulitan untuk menelannya. Dibantu oleh segelas air yag memang disediakan di meja di samping ranjang Ciel, akhirnya obat tersebut bisa lolos melalui kerongkongan Ciel.
...
PLAK..!
Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi pucat milik kepala keluarga Michaelis tersebut. Namun yang ditampar tidak membalasnya walaupun ia juga merasakan perasaan yang sama dengan orang yang menamparnya.
"Kenapa kau bawa dia keluar dari rumah sakit? Hah?" ujar Mrs. Angelina, pelaku penamparan, dengan nada marah. Lama Sebastian terdiam, namun akhirnya ia tak bisa meredam emosinya lebih lanjut lagi.
"Dan kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal kalau dia punya penyakit berbahaya seperti itu." Suara Sebastian tak kalah keras. Namun mereka tak takut jika Ciel akan terbangun karena mereka sekarang sedang berada di ruang tengah setelah meninggalkan ciel yang tertidur karena efek obat sendirian di kamarnya.
Keduanya terdiam. Diam untuk merenungi kesalahan mereka masing-masing.
"Jadi… apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita harus melarangnya melakukan kativitas sehari-harinya?" gumam Sebastian.
"Itu tidak mungkin. Kau tahu sendiri Ciel anak yang sangat keras kepala." Kali ini si dokter merah yang memberi tanggapan.
Setelah agak lama terdiam lagi, mereka mulai membicarakan langkah apa yang sebaiknya mereka lakukan agar kesehatan Ciel tidak cepat menurun namun Ciel masih tetap bisa beraktivitas seperti biasanya.
Walaupun terjadi sedikit perdebatan dan pertengkaran kecil di tengah perundingan mereka, perundingan pun berakhir dengan keputusan final dari mereka berdua.
….
Bersambung….
Huahhh…. Kelar juga. Sebenarnya Ara udah lama pengen update, tapi masih nyangkut di fandom laen sich..*digeplak readers*
Thanks buat yang udah pada rajin ngeripiu fict gak mutu saya ini…
Buat yang gak suka pairing sebagrell, tenang ja. Ara Cuma jadiin pairing itu selingan biar da cerita ja, koq… lagian kan Ara nge-fans ma Grell, mana mungkin Ara serahin ke abang Sebby..*digergaji Grell*
Hmmm…. Kalau penasaran dengan kesepakatan antara Sebastian dan Mrs. Angelina, nantikan saja chap selanjutnya. Tapi ara gak janji bisa update cepet cz Ara sterss gara-gara nilai Ara terjun bebas semua (readers: gak nanya!)
Baiklah… akhir kata
PLEASE… REVIEW…..
