Poofffpphh….. (muncul seperti pakkun yang di panggil sama kakashi)

Hai.. hai..

Gomen…

Lama update nya. Nampaknya wabah WB sudah menghampiriku…

Yo wes lah, kita simak aja langsung

Disclaimer : kuroshitsuji punya Yana Toboso

Genre : Family, Hurt/comfort

Rated : T-lah… gak berani bikin M koq..

Pairing : SebaXCiel, SebaXGrell

Warning : bagi yang gak suka pairing SebaXGrell, mohon segera meninggalkan halaman ini. Sungguh, fict ini bisa merusak pengelihatan anda…

Setelah agak lama terdiam lagi, mereka mulai membicarakan langkah apa yang sebaiknya mereka lakukan agar kesehatan Ciel tidak cepat menurun namun Ciel masih tetap bisa beraktivitas seperti biasanya.

Walaupun terjadi sedikit perdebatan dan pertengkaran kecil di tengah perundingan mereka, perundingan pun berakhir dengan keputusan final dari mereka berdua

Lost Hope

Chapter 8

Suara kicauan burung di pagi hari mengiringi cahaya matahari yang mulai menerobos dari ufuk timur. Seorang bocah lelaki berusia dua belasan tampak masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Di sisi ranjang, tampaklah seoarang pemuda berambut raven yang juga tertidur dengan posisi duduk di atas kursi yang diletakkan di samping ranjang. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan mungil milik bocah lelaki di sampingnya.

"Mr. Michaelis, Anda tidak ingin terlambat datang ke tempat kerja,'kan? Ayo bangun.." sebuah tangan milik seorang wanita berambut merah sebahu mengguncang tubuh milik pemuda raven yang tampak masih ingin melanjutkan mimpinya itu. Namun yang terbangun bukanlah orang yang dimaksud, melainkan sosok bocah lelaki yang mulai mengerjapkan matanya beberapa kali agar safir miliknya terbiasa dengan cahaya matahari yang menerobos lewat jendela kamarnya yang sudah dibuka.

"Sebastian.." ujar Ciel lirih. Walau begitu, suara lirih itulah yang justru membangunkan si raven dari tidurnya.

Mendengar panggilan dari sosok yang dijaganya semalaman, membuat Sebastian mulai terbangun. Ia masih belum melepaskan genggamannya dari tangan Ciel sampai akhirnya kedua ayah beranak itu terbiasa dengan suasana hangat pagi ini. Keduanya kemudian sama-sama menggeliat untuk meregangkan otot-otot mereka yang kaku karena dipakai tidur. 'Apa-apaan mereka ini? Kenapa jadi benar-benar mirip kalau begini?' batin seseorang yang memang sudah ada di tempat itu sejak tadi dan memperhatikan kegiatan dua orang di depannya sambil menahan tawa.

"Bagaimana keadaanmu, Ciel?" tanya Mrs. Angelina pada Ciel yang mulai bangkit dari tidurnya.

"Baik." Jawab Ciel singkat. Kemudian ia menguap lebar. "Jam berapa sekarang?" tanya Ciel kemudian.

"Setengah delapan…" Jawab si dokter merah sambil melenggang ke luar kamar dengan santainya.

"HAH..!" pekik Sebastian dan Ciel bersamaan. Keduanya langsung panik dan kelabakan seperti orang kebakaran jenggot. Kemudian mereka langsung berlari menuju kamar mandi terdekat, masih bersamaan.

"Aku duluan, Sebastian! Nanti aku terlambat." Ciel berteriak tak rela saat dirinya dan Sebastian sama-sama ingin masuk ke dalam kamar mandi.

"Aku juga akan terlambat! Kau 'kan bisa minta maaf pada gurumu. Aku ini atasan, jadi tak boleh terlambat!" balas Sebastian tak mau kalah. Kini keduanya sedang berdesakkan di pintu kamar mandi. Tak ada yang mau mengalah. Keduanya sama-sama keras kepala.

"Urusai! Ini kamar mandiku. Pakai punyamu sana!" ujar Ciel masih dengan keras kepalanya. Sesaat gerakan Sebastian terhenti. Ia tampak berpikir sejenak. Ciel tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun saat ia hendak masuk, tangan Sebastian menariknya lagi.

"Ini darurat! Tak ada waktu lagi.!" Ujar Sebastian.

"Aku juga akan terlambat Sebastian!" Ciel masih bersikukuh. Kemudian Sebastian menariknya masuk bersama dirinya memasuki kamar mandi. "Mandi sama-sama saja."

….

"Huahaha.. haa.. ha…" seorang wanita seperti nenek sihir tak bisa menahan tawanya melihat kedua orang di depannya yang sedang menyantap sarapan dengan tampang yang sama-sama cemberut.

"Apanya yang lucu, hah?" ujar kedua orang itu yang tak lain adalah Sebastian dan Ciel.

"Aku kan belum selesai bicara tadi. Ha ha ha.." wanita itu masih tertawa di sela pembicaraan.

"Iya. Maksudmu adalah jam setengah delapan kurang satu jam. Ya,'kan?" jawab Sebastian yang tampak kesal karena berhasil dikerjai oleh dokter pribadinya itu.

"Sial.! Karena itu juga, aku harus mandi dengannya." Umpat Ciel yang juga kesal.

"Tapi kalian terlihat kompak, lho.."

"KOMPAK APANYA!" lagi-lagi mereka berkata di detik yang sama. Mrs. Angelina langsung meledakkan tawanya lagi. (ya iyalah, masa ledakin bom).

"Ya sudahlah.." wanita itu tampak beranjak dari kursinya. "Aku ada pasien pagi ini. Jadi kau saja yang bicara dengan Ciel, ya." Ujarnya sembil berlalu dari hadapan keduan orang yang masih berusaha mengatur nafas karena amarah mereka yang sudah memuncak pagi ini.

"Sebastian bodoh! Kenapa tidak lihat jam dulu tadi." Wah, ini tak patut dicontoh. Masa' ayahnya dibilang bodoh.

"Ini salahmu. Kau juga langsung percaya,'kan." Sebastian juga tak mau kalah.

"Eh? Tapi apa maksud Madam Red tadi? Kau ingin bicara apa denganku?" tanya Ciel yang teringat kata-kata terakhir sebelum pergi tadi. Tubuh Sebastian langsung menegang seperti sedang merasakan aura aneh.

"Hmmm…. Sebenarnya begini." Sebastian memulai ucapannya. Ciel tidak berkomentar dan menyimak dengan seksama saat Sebastian memotong kalimatnya sendiri.

"Aku sudah menghubungi semua gurumu semalam. Terutama guru olahraga…" Ciel mengangkat sebelah alisnya. Ia belum mengerti maksud ucapan Sebastian. Larinya ke mana kalimat itu, author ja gak tahu.

"Mulai sekarang kau tidak usah ikut pelajaran olahraga dan kegiatan luar ruangan. Dan ini.." Sebastian menyarahkan sebuah botol kepada Ciel. Ciel pun menerimanya dengan tampang heran.

"Maksudmu? Dan apa ini?" tanya Ciel sambil mengguncang botol tersebut. Ia tahu persis apa yang ada di dalam botol itu. Karena orang yang dipanggilnya dengan sebutan Madam Red sudah sering memberikan benda itu padanya namun ia tolak.

"Kau harus rutin minum obat itu." Jawab Sebastian dengan suaranya yang kedengaran sedikit miris. Ruby itu kini melancarkan tatapan sendu ke arah sandwich yang baru termakan setengah. Ciel menyadari hal itu. Ia tahu, Sebastian sangat menyayanginya. Kemuidian ia memasukkan obat tersebut ke dalam saku celananya.

"Baiklah. Untukmu, ayah.." Sebastian menoleh ke arah Ciel yang mulai menyantap sarapannya lagi. Ia masih tak percaya. Ciel memanggilnya 'ayah', lagi. Entah bagaimana cara menggambarkan kebahagiaan Sebastian saat ini. Yang jelas, Sebastian langsung memeluk Ciel- yang duduk di sebelahnya- dengan erat. Untung saja Ciel tidak sampai tersedak.

Harvert Junior High School 09.00 a.m.

"Kau tidak mengganti bajumu, Ciel?" tanya Alois yang sudah siap dengan seragam olahraganya. Tentu saja Lizzy sudah stand by di lapangan bersama anak-anak perempuan lainnya. Ciel menggeleng. "Lain kali saja. Sepertinya aku kurang sehat."

Alois mengerti, ia pun meninggalkan Ciel sendirian di kelas. Setelah Alois keluar dari kelas, Ciel merogoh saku celananya dan menatap benda yang ia keluarkan. Sebenarnya ia masih bimbang, antara menuruti perkataan sebastian dan kata hatinya. Ia yakin, dengan meminum obat ini pun, ia belum tentu sembuh. Tapi ia tak tega melihat Sebastian yang sangat mengkhawatirkannya.

Sebastian's Mansion 20.00 p.m.

Sebastian sedang mengontrol Ciel yang akan memakan obatnya. Ia ingin memastikan kalau Ciel benar-benar memakan obatnya. Saat itu juga, terdengarlah suara seorang memanggil-manggil nama Sebastian dengan sedikit merubahnya.

"Sebby… aku datang.. Ciel… aku bawakan sesuatu untukmu." Mendengar suara itu, Sebastian langsung sumringah, berlawanan sekali dengan ekspresi Ciel yang malah cemberut.

"Jadi kau masih jadian dengan'nya'?" kata Ciel dengan menekankan kata 'nya'. Kemudian masuklah Grell dengan sebuah kotak besar di tangannya. Sebastian tidak memperhatikan pertanyaan Ciel dan langsung menghampiri kekasihnya untuk membantu membawakan kotak yang besarnya lumayan besar.

"Kau kan bisa menyuruh Bard membawakannya untukmu." Ujar Sebastian yang kemudian meletakkan kotak itu di sebuah sudut kamar Ciel, tempat mereka berada sekarang.

"Kalian berdua, keluar dari kamarku sekarang." Ujar Ciel sambil melempar death glare-nya kepada dua orang di dekatnya. Grell tampak kecewa saat Ciel mengatakannya. Ia yakin, Ciel masih belum menerimanya sebagai kekasih Sebastian. Sejak hari itu, hari jadian mereka, Ciel selalu bersikap dingin padanya dan menganggapnya orang lain, sosok Grell yang lain. Padahal sebelumnya, mereka sangat akrab seperti kakak-adik.

"Ciel.. aku hanya ingin.."

"Keluar sekarang atau aku yang keluar!" Ciel memotong kalimat Grell dan beranjak dari tempat tidurnya.

PLAK

Tubuh Ciel kembali terhempas ke kasur saat Sebastian menamparnya. Grell langsung menghampiri Ciel yang meringis karena tamparan Sebastian.

"Sebby, apa yang kau lakukan." Ujar Grell sambil membantu Ciel bangkit. Namun Ciel menepis tangan Grell.

"Kau itu tidak sopan." Ujar Sebastian mantap. Karena mengerti Ciel tak mau dibantu, Grell menuju tempat Sebastian berdiri dan berusaha menenangkan sosok penuh wibawa yang sedang emosi itu.

"Sudahlah Sebby. Aku yakin ia hanya belum siap dengan semua ini." Grell tampak menahan tubuh Sebastian agar tak melakukan lebih dari ini. Dilihatnya Ciel bangkit dari tempat tidurnya dan meraih sebuah botol di meja. Kemudian membanting botol itu keras-keras, membuat botol itu memuntahkan sebagian isinya dan berlari keluar kamar.. Sebastian yang baru sadar akan apa yang Ciel lempar, langsung terbelalak dan bersiap keluar kamar saat mendengar bunyi-bunyi aneh dari arah luar.

BRUK. BRUK. GUBRAK. BRUK.

Sebastian langsung mempercepat langkahnya diikuti dengan Grell. Perasaannya sungguh aneh saat itu. Dan benar saja. Betapa terkejutnya ia dan kekasihnya saat menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.

Mereka masih mencerna beberapa kemungkinan yang menyebutkan bahwa sesuatu di hadapan mereka hanyalah imajinasi yang berlebihan. Namun sepertinya itu sia-sia. tubuh Grell ambruk seketika karena kakinya bergetar hebat, tak sanggup memandang apapun yang dilihat di depan matanya. Sebastian masih mematung. Namun tampak ekspresi menyesal yang amat sangat di wajahnya.

Bersambung…

Aduh…. Maaf… saia telat banget ya..

Tapi saia kan gak janji buat update cepet kemaren… yey, jadi gak ingkar janji kan. Chap depan juga agaknya gak bisa cepet di update.

Makasih buat yang masih setia baca n review…

Makasih.. makasih… makasih…

Terakhir, tolong REVIEW nya…

Salam Katak, Ara-kun..

Pofffpphhh….. (menghilang ala ninja)