Yo yo yo…

Sepertinya akhir dari fict ini semakin dekat.

Gomen kalau update nya gak keburu kayak awal-awal cz banyaknya permintaan dari guru-guru saya untuk menyelesaikan berbagai macam tugas…

Langsung ja…

Disclaimer : kuroshitsuji punya Yana Toboso

Genre : Family, Hurt/comfort

Rated : T-lah… gak berani bikin M koq..

Pairing : SebaXCiel, SebaXGrell

Warning : bagi yang gak suka pairing SebaXGrell, mohon segera meninggalkan halaman ini. Sungguh, fict ini bisa merusak pengelihatan anda…

Sebastian langsung mempercepat langkahnya diikuti dengan Grell. Perasaannya sungguh aneh saat itu. Dan benar saja. Betapa terkejutnya ia dan kekasihnya saat menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.

Mereka masih mencerna beberapa kemungkinan yang menyebutkan bahwa sesuatu di hadapan mereka hanyalah imajinasi yang berlebihan. Namun sepertinya itu sia-sia. tubuh Grell ambruk seketika karena kakinya bergetar hebat, tak sanggup memandang apapun yang dilihat di depan matanya. Sebastian masih mematung. Namun tampak ekspresi menyesal yang amat sangat di wajahnya.

Lost Hope

Chapter 9

Hospital Center 21.00 p.m.

Sebastian tak bisa menghentikan laju kakinya untuk terus mondar-mandir di depan ruangan UGD. Grell hanya bisa memandangi kekasihnya tersebut dengan tatapan iba dan kesal.

"Sebanyak apa pun kau mondar-mandir begitu, tak akan merubah apa pun." Ujar pria berambut merah panjang tersebut dengan suara menahan tangis. Bagaimana tidak, ia masih ingat dengan jelas saat Sebastian mengangkat tubuh Ciel yang tergeletak berlumuran darah di ujung anak tangga. Sebenarnya ia juga takut kalau sampai terjadi apa-apa pada sosok yang sudah dianggap adik olehnya tersebut. Namun ia mencoba tegar agar setidaknya tidak menambah beban pikiran Sebastian.

Dokter yang menangani Ciel belum keluar dari ruangan sejak hampir satu jam yang lalu. Akhirnya Sebastian lelah sendiri dan memilih duduk membungkuk di samping kekasihnya. Melihat Sebastian yang tampak sangat depresi membuat hati Grell sungguh terpukul. Seandainya saja, ia bisa memutar balik waktu, ia tak akan pernah mencoba mencintai sosok yang paling dicintainya saat ini. Kalau hal itu tidak terjadi, tentu saat-saat seperti ini pun tak akan pernah ada. Perlahan, Grell menyentuh pundak milik Sebastian. Mencoba mengurangi beban di pundanya, walau sedikit.

"Orang tua macam apa aku ini." Sebastian mulai berbicara setelah sekian lama hening menyelimuti mereka berdua.

"Aku bahkan tak bisa mengerti dirinya. Sejak awal aku memang tak pernah menyentuh hatinya." Lagi, Sebastian menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada Ciel. Samar-samar terdengar isakan dari pemilik rambut raven tersebut. Pundaknya bergetar. Grell kemudian membawa tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya.

"Sudahlah, Sebby.. tentu Ciel tak akan senang jika kau terus menyalahkan dirimu sendiri." Sebastian tak mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan sang kekasih, tapi juga tak membalasnya. Ia menggeleng lemah.

"Tidak. Dia menyalahkanku. Ciel menyalahkanku yang tak bisa mengerti dirinya. Aku ini memang bodoh." Pecah sudah tangis sosok penuh wibawa yang selama ini dikenal oleh kekasihnya tersebut. Mau tak mau, Grell juga menangis.

CKLEK..

Sontak kedua pria yang tengah berpelukan itu melepaskan pelukan mereka dan berjalan menghampiri sang dokter yang baru saja menangani anak semata wayangnya.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Sebastian kepada seorang dokter pria berkacamata di hadapannya.

"Kritis. Sekarang kita hanya bisa bergantung pada kemauannya untuk hidup." Kemudian dokter William, dokter yang menggantikan Mrs. Angelina itu meninggalkan kedua pria yang masih berdiri di depan pintu ruang rawat.

Sudah lima hari sejak Ciel dinyatakan kritis, namun belum ada tanda-tanda kalau anak tersebut akan bangun. Setiap orrang yang menjenguknya pasti tak tega melihat kondisinya sekarang ini. Alat bantu pernapasan terpasang menutupi mulut dan hidungnya, perban yang membalut sebagian kepalanya, yang jelas keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.

"Bangun, Ciel… Mr. Claude memberi kita banyak tugas, kau harus mengerjakannya atau kau akan dihukum.." ujar Lizzy yang sedang berusaha mati-matian untuk tidak menangis. Alois yang menatap kekasihnya itu hanya bisa melancarkan tatapan iba. Ia juga tidak tahu harus bagaimana agar sahabatnya satu ini mau membuka matanya lagi.

"Alois, bantu aku bangunkan Ciel." Ujar Lizzy yang masih ngotot. Sebastian, Grell, Alois, dan Mrs. Angelina yang menyaksikan kegigihan Lizzy untuk membangunkan Ciel hanya bisa menunduk dalam.

"Sudahlah, Lizz.. sebaiknya kita pulang sekarang. Kau sudah lelah." Bujuk Alois. Lizzy menurut sajadan langsung mengikuti langkah Alois meninggalkan ruangan tersebut.

"Kami pulang dulu." Pamit Alois sebelum menutup pintu.

Hening. Satu kata yang kembali menghiasi ruangan itu. Yang terdengar hanyalah suara langkah Sebastian yang menuju bangku di sebelah ranjang Ciel. Ia duduk di situ dan menggenggam pelan tangan mungil yang tampak pucat tersebut.

DEG

Mata Sebastian terbelalak saat merasakan sentakan dari jemari Ciel yang ia genggam. "Dia bergerak!" seru Sebastian yang langsung mendapat serbuan dari dua orang yang masih ada di ruangan itu. Perlahan tapi pasti, gerakan yang ditimbulkan oleh si pasien semakin kuat. Semua yang menyaksikan hal tersebut kini memasang ekspresi penuh harapan yang sebelumnya hampir mereka tenggelamkan.

Perlahan, sepasang safir yang sudah lama tak tampak mulai kemuar dari persembunyiannya.

"Se.. bas..ti..an.." kata pertama yang keluar dari mulutnya dengan suara yang kelewat lirih membuat yang dipanggil semakin mendekatkan telinganya ke bibir Ciel.

"Pu..lang.." satu kata lagi yang membuat orang yang mendengarnya tersentak. Sebastian lantas menjauhkan dirinya dari wajah Ciel.

"Tidak boleh, Ciel. Kali ini kau harus menurut." Ujar Sebastian dengan suara bergetar. Bukannya balik membantah, Ciel malah tersenyum lembut. Sebastian kembali mendekatkan telinganya ke mulut Ciel.

"Kalau.. begitu…Aku.. mau … yang lain.." kata Ciel lagi.

"Katakanlah." Ujar Sebastian dengan lebih sabar.

"Tolong.. panggilkan.. Grell-chan." Sebastian membelalak sesaat, kemudian memberi isyarat pada Grell untuk mendekat.

"aku.. ingin kalian.. menikah.. lusa.."

"Aduh!" baik Sebastian maupun Grell sama-sama kaget sampai-sampai kepala mereka saling berbenturan.

"Kau tidak sedang bercanda 'kan, Ciel?" tanya sebastian. Yang ditanya mengeleng pelan kemudian memberi isyarat pada seorang lagi yang masih berdiri di sisi ranjang yang berlawanan dengan tempat Sebastian dan Grell berada. Kali ini giliran Mrs. Angelina yang mendekatkan telinganya ke sumber suara.

"Terima kasih banyak."

…..

Sejak saat itu, Sebastian dan Grell sibuk menyiapkan acara yang diminta oleh Ciel. Sedangkan Mrs. Angelina selalu stand by di ruangan Ciel. Dan yang membuatnya mengerutkan alis berkali-kali adalah kondisi Ciel yang berangsur pulih dengan pesat. Sekarang ia sudah bisa bebas dari alat-alat yang merepotkan, bahkan selang infus pun ia tak perlu. Entah ini yang dinamakan dengan keajaiban atau apa, yang jelas hanya dalam waktu kurang dari lima jam sejak sadar, Ciel sudah tampak sehat. Tak ada tanda-tanda kalau ia baru saja koma selama lima hari.

Saat ini Ciel sedang berbincang-bincang dengan Alois dan Lizzy. Ciel berbincang dengan santainya seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

"Benarkah itu Ciel? Mr. Michaelis dan akan menikah besok?" ujar Lizzy girang. Ia memang tak pernah peduli pada keabnormalan pasangan itu. Bagi Lizzy, asalkan pasangan itu bahagia, kalau menikah ya bagus. Ciel mengangguk-angguk seperti burung pelatuk.

"Aku yang akan menjadi pengiring pengantinnya." Ujar Ciel lagi. Ya. Itu memang salah satu permintaan Ciel. Sebenarnya masih ada satu permintaan khusus lagi dari Ciel untuk Sebastian dan Grell. Tapi itu akan baru diberitahu saat mereka sudah resmi menikah.

"Tapi apa tidak apa-apa? Kau kan masih sakit, Ciel." Ujar Alois menyambung pembicaraan.

"Aku baik-baik saja, koq. Ya 'kan, Madam Red?" tanya Ciel pada sosok yang tersentak saat nama akrabnya dipanggil. Kemudian ia tersenyum manis pada ketiga anak tersebut.

Hari pernikahan Sebastian dan Grell.

Pintu altar terbuka perlahan, menampakkan sepasang pria plus seorang bocah laki-laki-yang di dahinya masih ditempelkan sebuah plester- di tengah mereka yang membawa sebuah buket bunga. Jas putih yang membalut ketiganya tampak sangat pas mewakili hari suci ini.

Dengan langkah pelan, ketiga orang itu berjalan menuju tempat mereka akan mengucap sebuah janji seumur hidup yang akan mengikat satu sama lain. Ciel berhenti di dasar anak tangga sementara sepasang yang lain terus berjalan ke puncak altar.

"Sebastian Michaelis, apakah Anda bersedia menjadi pendamping Grell Scutliff di saat senang, duka, miskin atau pun kaya?" tanya si penghulu.

"Ya. Saya bersedia." Jawab Sebastian mantap.

"Grell Scutliff, apakah Anda bersedia menjadi pendamping Sebastian Michaelis di saat senang, duka, miskin atau pun kaya?"

"Ya. Aku bersedia." tepuk tangan membahana di ruangan itu. Kemudian Sebastian memberikan kecupan di kening Grell. Ciel naik ke tempat sepasang suami-suami baru tersebut dan menyerahkan buket bunga yang ia pegang ke tangan Grell. Bunga mawar putih yang melambangkan kesucian.

"Silahkan.." ujar Ciel tersenyum sambil menyerahkan buket bunga itu. Namun sesaat setelah Grell melempar bunga dari Ciel. Entah mengapa tubuh Ciel oleng dan ia jatuh berlutut. Dengan sigap Sebastian menangkap tubuh Ciel agar tak membentur lantai.

"Kau kenapa, Ciel?" tanya Sebastian dengan nada khawatir. Ciel berpegangan pada lengan Sebastian agar tubuhnya tidak merosot lagi.

"Tidak apa-apa." Jawab Ciel yang kemudian mencoba bangkit. Namun sebelum itu, Sebastian malah mengangkat tubuhnya yang memang sangat kecil dan menggendongnya. Sebenarnya siapa pengantinnya, sich? Kira-kira begitulah yang ada di benak para undangan di acara itu.

….

Sebastian's Mansion 21.00 p.m.

Sebastian, Grell, dan Ciel sedang berada di kamar pengantin milik Sebastian. Sebastian dan Grell membiarkan Ciel berada di situ. Mau tahu kenapa? Yup. Inilah satu permintaan dari Ciel. Ia ingin tidur bersama Sebastian dan Grell di satu ranjang.

Saat ini mereka sudah mengganti pakaian dengan piyama mereka dan mengamnbil posisi untuk tidur. Jadi posisinya, Sebastian di sebelah kanan Ciel, sedangkan Grell di sebelah kiri Ciel.

"Peluk aku." Ujar Ciel yang terdengar seperti sebuah perintah dibanding permintaan. Tanpa pikir panjang, Sebastian dan Grell menautkan tangan mereka di atas tubuh Ciel. Ciel menggenggam kedua tangan yang bertautan itu dengan kedua tangannya.

"Grell-chan.." panggil Ciel.

"Ya."

"Terima kasih, ya. Sudah mau mengabulkan permintaanku. Kau pasti akan menjaga Sebastian,'kan?"

"Tentu saja. Memangnya kenapa?"

"Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja, terima kasih sudah mau membuatkan keluarga kecil untukku. Ini bahkan lebih berharga dari apa pun."

"Jangan bicara yang aneh-aneh, Ciel!" potong Sebastian yang merasakan pembicaraan Ciel mulai aneh.

"Oh ya, Sebastian. Aku juga berterima kasih padamu."

"Ciel." Sebastian kembali mengultimatum agar Ciel berhenti bicara.

"Berkat kau, aku bisa seperti ini. Terima kasih juga pada hujan waktu itu yang membuatmu menemukanku, ya."

"Ciel!"

"Aku menyayangimu, Ayah." Setelah itu tak ada kata lagi yang keluar dari bibir mungil milik Ciel. Safir miliknya kini telah menutup sempurna. Yang awalnya dianggap sebagai tidur sementara, namun pada akhirnya diketahui telah menutup untuk selama-lamanya. Dengan wajah tersenyum dan sedikit air mata yang keluar dari kelopak matanya. Dua orang lainnya yang belum menyadari keadaan sebelumnya hanya tersenyum lembut kemudian ikut berbaring bersama tubuh Ciel yang makin menghilang kehangatannya, kecuali pada senyumnya.

Ciel, beristirahat dalam damai.

….

Usai pemakaman Ciel, Sebastian berjalan menuju kamar yang dulu dipakai Ciel dengan langkah gontai. Tersirat jelas kesedihan di wajah milik sang Michaelis muda tersebut. Ia bahkan sesekali merutuki dirinya yang tak menyadari saat-saat kepergian Ciel. Padahal mereka sangat dekat saat itu.

Sebastian duduk di sisi ranjang milik Ciel. Hangat, itulah yang ada dalam pikiran pria berambut raven tersebut. Kemudian ia meraih sebuah bantal -yang ia tahu pasti- milik Ciel yang dipakai Ciel setiap malam. Memeluk bantal tersebut, meresapi sisa –sisa keberadaan Ciel. Saat itu pula lah, ruby Sebastian menangkap sesuatu yang tergeletak tepat di tempat bantal tersebut diambil. Sebuah amplop berwarna biru. Sebastian mengambilnya dengan tangan kanannya dan membolak-balikkan amplop tersebut. Ditemukannya sebuah tulisan 'Untuk : Ayah ' di bagian depan amplop tersebut. Perlahan Sebastian membuka amplop tersebut, dan diambilnya sebuah kertas terlipat di dalam amplop tersebut. Diregangkannya kertas tersebut untuk mengetahui apa yang mungkin tertulis di sana.

Dear, Sebastian.

Mungkin saat kau temukan surat ini, kau sudah tak bisa melihatku lagi. Tapi yakinlah, aku selalu melihatmu.

Aku berterima kasih atas segala kasih sayang dan cinta yang selalu kau berikan padaku. Entah bagaimana caraku untuk membalasnya. Hingga akhir hayatku pun, aku tak mampu membalas semua itu, 'kan?

Aku juga ingin meminta maaf karena aku pernah tidak menyetujui hubunganmu dengan Grell-chan. Aku sekarang mengerti, kenapa kau ingin hidup bersamanya. Kau benar-benar mencintainya 'kan? Tolong sampaikan kata maafku pada Grell-chan.

Tolong sampaikan ucapan terima kasihku juga pada Madam Red, Alois, Lizzy, Maylene, Finnian, Bard, dan yang lainnya.

Satu yang aku ingin kau lakukan, Sebastian. Jangan tangisi kepergianku. Kau tahu, aku tak tahan jika melihatmu terus bersedih. Kau harus cepat temukan pewaris baru sebelum kau bertambah tua.

Yang terakhir, aku ingin kau selalu bahagia bersama Grell-chan. Bersama-sama dengannya mendoakanku. Dan..

Terima kasih, Ayah…

Your son,

Ciel

Sebastian tak bisa mengabulkan permintaan Ciel yang memintanya untuk tidak menangis. Ia benar-benar tak bisa membendung airmatanya lagi saat ini. Di saat yang bersamaan, seorang pria berambut merah yang terurai panjang menemukan Sebastian yang tengah mengisak tertahan. Sosok berambut merah tersebut menghampiri sosok yang tengah menangis sambil menggenggam erat kertas yang menjadi penyebab tangisannya itu. Grell mencoba mengambil kertas yang bentuknya sudah tak keruan karena genggaman Sebastian dan membacanya. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya mereka berdua menangis bersama dalam ruangan yang diselimuti duka tersebut.

1 tahun kemudian

Dua orang pria sedang berlutut di depan sebuah nisan yang bertuliskan nama seseorang yang paling mereka cintai. Sebuah buket bunga mawar putih tergeletak di depan nama 'Ciel Michaelis'. Seorang bocah laki-laki mungil yang memiliki sepasang safir yang sudah setahun ini tak bisa mereka lihat. Namun mereka yakin, sepasang safir tersebut sedang memandangi mereka saat ini.

"Kami menyayangimu, Ciel. Selalu." Ujar kedua pria tersebut sebelum akhirnya mengusap pelan nisan tersebut dan beranjak meninggalkannya.

"Aku juga. Menyayangi kalian, selalu."

-FIN-

Huwa…. Tamat juga ni fict.. gomen kalau endingnya kurang memuaskan. Imajinasi saya cukup sampai di sini. Lain kali saya akan buat fict kuroshitsuji lagi.. doakan saya semoga ada ide yang tiba-tiba melintas di rel otak saya.

Terima kasih buat dukungan semuanya yang telah mereview, membaca, atau pun yang mengkritik. Saya sungguh bahagia….

Akhir kata, see you…. Arigatou..

Salam Katak, Ara-kun

Pofffpphhh….(mneghilang)