1st fanfic by~Yaklin1412
Yamamoto X OC / _
Disclaimer : © Akira Amano
Mengejar Hujan
Chapter 6
Deg Deg Deg …
Deg Deg Deg …
Bunyi jantungku bergema ke seluruh tubuhku. Perutku terasa mulas. Kepalaku terasa berputar - putar. Mataku berkunang - kunang. Tanganku berkeringat dingin. Paru - paruku terasa berat. Tenggorokanku tercekat.
Aku dan Haru berjalan bersama dengan Tsuna-san, Gokudera-san, dan Yamamoto-san alias si pria hujan. Haru sibuk berceloteh ria dengan Tsuna-san. Obrolan mereka sering sekali diinterupsi oleh Gokudera-san dengan kasar (hampir tiap Haru mengatakan 5 kata selalu ditimpali olehnya), sementara Yamamoto-san hanya tertawa-tawa saja. Tsuna-san terlihat kebingungan. Kasihan juga dia.
Kurasa ini bukan saatnya mengasihani orang lain. Kondisiku sendiri juga amat sangat mengenaskan. Kalau lebih lama lagi bersama dengan si pria hujan, mungkin jantungku bisa bocor. Suara tawanya yang renyah memperburuk kondisiku. Kakiku terasa gemetar dan lemas, sepertinya sudah di ambang batas menopang tubuhku.
"Kau baik - baik saja?" tanya suara yang ramah dan rendah padaku. Rasanya jantungku hampir meloncat keluar mendengar suara itu.
Kutarik nafas dalam-dalam dan menjawab dengan tenang, "Aku baik - baik saja. Terima kasih." Lalu aku tersenyum ramah padanya.
Ketika dia balas tersenyum padaku, jantungku lagi - lagi ingin melompat keluar. "Baguslah kalau kau baik - baik saja. Habisnya tadi waktu kau melihatku kau seperti melihat setan dan mukamu pucat. Ahaha," katanya sambil nyengir lebar.
Aku hanya tersenyum saja sambil bilang "ooh." Kualihkan pandanganku ke jalan di depan dengan tenang. Kalau menatapnya lebih lama lagi aku bisa kehilangan kendali.
"Oh iya tadi kau bilang cowok hujan ya?" tanyanya padaku. Nada ramahnya tidak berubah.
"Iya. Yamamoto-san dengar ya?" tanyaku balik sambil tetap melihat ke arah lain.
"Ahaha, begitulah. Maksudmu aku, ya?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah dirinya.
Aku berpikir sejenak. Haruskah aku jujur? "Mungkin. Memangnya kenapa?" aku tak bisa bohong padanya tapi juga malu kalau harus jujur.
"Aku kira itu aku. Karena aku suka sekali hujan. Apa terlihat dari wajahku kalau aku suka hujan, ya?" tanyanya polos sambil meraba wajahnya sendiri.
"Mana mungkin aku bisa tahu. Kita kan baru berkenalan hari ini," aku tidak bohong. Memang baru hari ini kami berkenalan tapi ini bukan pertama kali aku melihatnya.
"Lagipula aku tidak bilang kalau yang kumaksud cowok hujan itu Yamamoto-san kan?" kataku padanya.
"Oooh begitu ya," jawabnya dengan ceria.
"Tapi memang aku teringat akan hujan saat bertemu Yamamoto-san," kataku sambil tersenyum padanya. Aku bisa melihat dia menatapku dengan agak bingung. Seakan - akan mata coklatnya bertanya kenapa.
Aku tak menggubris tatapan matanya itu. Setelah percakapan singkat tadi debar jantungku mulai lebih terkendali. Fuuuh, syukurlah.
"_-chan! Sudah sampai lho!" kata Haru semangat. Akhirnya dia mengalihkan perhatiannya dari Tsuna-san.
Haru menggandengku masuk ke dalam bangunan kafe yang didominasi warna pastel itu. Kami duduk di sebuah meja bundar dan Haru berdebat lagi dengan Gokudera-san soal kursi. Mereka sadar tidak sih bahwa orang - orang memperhatikan mereka?
Akhirnya setelah perdebatan soal kursi selesai kami semua duduk dengan urutan searah aku, Haru, Tsuna-san, Gokudera-san, dan Yamamoto-san. Aku berakhir duduk di sebelah Yamamoto-san.
Waitress menghampiri kami dan memberikan menu kepada kami masing - masing. Aku dan Haru asyik memilih - milih kue. Menyenangkan sekali rasanya bisa makan kue lezat dan gratis, juga bisa bertemu Yamamoto-san lagi.
Setelah memilih - milih beberapa saat akhirnya aku memesan Blackforest Gateau sementara Haru memesan chocolate mousse. Tsuna-san memesan parfait, Gokudera-san kopi, sedangkan Yamamoto-san barley tea.
Sambil menunggu pesanan datang kami semua mengobrol. Tsuna-san benar-benar orang yang sangat pemalu dan rendah diri, terlihat sekali dari caranya berbicara. Namun sepertinya dia jugalah yang paling normal dibandingkan Yamamoto-san dan Gokudera-san. Haru terlihat sangat menikmati pembicaraan ini, mungkin karena ia duduk disebelah Tsuna-san.
Ketika pesanan kami datang, aku langsung saja makan. Rasa mulas dan sesak memang masih ada, apalagi kini sang penyebab duduk tepat di sebelahku. Tapi kualihkan konsentrasiku ke kue lezat nan memikat di hadapanku. Bagaimanapun juga aku harus menikmati kue ini karena ini kan gratis.
Setelah selesai makan Haru bertanya padaku, "Enak tidak, _-chan?". Sudah pasti aku menjawab iya. Dia pun mulai berbangga diri dengan mengatakan bahwa sudah sewajarnya kue itu enak karena dia yang membayarkannya dan juga karena ada Tsuna disitu.
Sementara Haru terus mengoceh aku memandang keluar jendela. Haaah, malas rasanya ikut - ikutan dalam keramaian seperti ini. Aku orangnya memang tidak suka keramaian. Tidak seperti Haru yang suka ribut dan berisik sendiri. Anehnya kami berdua tetap bisa bersahabat akrab.
"Sepertinya akan turun hujan," kata Yamamoto-san tiba-tiba memotong perdebatan panjang antara Gokudera-san dan Haru.
"Hahiii langit masih cerah kok. Apa jangan - jangan Yamamoto-san mau mengusir Haru ya?" kata Haru sambil menunjuk ke arah langit yang masih cerah.
Tsuna dan Gokudera-san juga terlihat bingung karena langit memang masih cerah. Aku kembali memandang langit diatas. Memang masih cerah, tapi entah mengapa aku merasa perkataan Yamamoto-san benar. Bagaimanapun juga dia kan cowok hujan.
"Apa jangan-jangan matamu itu sudah mulai rusak karena kebanyakan melihat bola baseball hah, Yakyuu-baka!" ujar Gokudera-san setengah marah setengah menuduh sambil menunjuk ke arah mata Yamamoto-san.
"Aku yakin hujan akan segera turun," kata Yamamoto dengan nada tegas. Senyum di wajahnya menghilang dan sorot matanya tegas. Gokudera-san terdiam karena perubahan Yamamoto-san itu.
…
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita cepat pulang," kata Tsuna memecah keheningan di meja itu. Kami semua langsung bangkit berdiri dari meja. Aku menemani Haru ke kasir sementara di belakang kami Gokudera sibuk meyakinkan Tsuna agar dia yang membayar makanan Tsuna-san.
Setelah selesai membayar kami semua keluar dari kafe tersebut (tentunya kue ku dibayarkan oleh Haru) dan berjalan bersama-sama ke stasiun kereta. Aku tidak banyak bicara sepanjang perjalanan ke stasiun itu. Paling-paling hanya menimpali percakapan Haru, Yamamoto-san, Gokudera-san, dan Tsuna.
Aku tidak ingin menggangu Haru yang kelihatan bahagia sekali di sisi Tsuna. Walaupun sebetulnya aku masih tida mengerti apa bagusnya Tsuna-san nya Haru itu.
TIK TIK TIK
DRRRRRRSSSSH
Tiba-tiba saja hujan langsung turun deras mennguyur kami dan semua orang yang berada di jalan. Padahal baru berapa detik yang lalu langit masih cerah, sekarang hujan sudah turun begini deras.
"Ayo cepat lari! Stasiunnya sudah dekat kok! Ayo!" kataku sambil berlari menggandeng Haru. Yamamoto-san dan yang lainnya berlari di belakang kami.
Huuufff, setelah berlari beberapa menit kami sudah sampai di stasiun. Aku mengecek tasku yang dari tadi kupeluk dengan kedua tangan. Syukurlah isi tasku tidak basah sama sekali. Bajuku juga tidak begitu basah. Yang basah hanya rambutku dan bagian bahu bajuku saja.
"Ha-chan, kamu basah tidak?" tanyaku sambil menghampiri temanku itu.
"Tidak. Haru tak terlalu basah kok. _-chan sendiri bagaimana? Tidak basah kan?" tanya Haru kembali padaku.
Aku menggelengkan kepalaku lalu berkata, "Aku baik-baik saja kok. Semuanya berkat Yamamoto-san. Coba kalu tadi Yamamoto-san tidak bilang soal hujan. Pasti sekarang kita semua basah kuyup." Aku melihat ke arahnya dan tersenyum.
"O, iya ya. Terimakasih ya, Yamamoto-san!" kata Haru pada Yamamoto-san sambil tersenyum kecil.
"Ahaha. Ini hanya hal kecil, kok," kata Yamamoto-san sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"I- iya, kau hebat Yamamoto. Bisa tahu hujan akan datang seperti itu," kata Tsuna memuji.
"Cih," Gokudera-san hanya mendengus kesal sambil membuang muka. Kelihatannya dia tak begitu senang Yamamoto-san dipuji oleh Tsuna-san.
"Itu wajar saja, bagaimanapun juga dia adalah Guardian of Rain mu. Dame-Tsuna."
"E-eh Reborn?" kata Tsuna-san menanggapi suara anak-anak yang entah darimana asalnya itu.
"Ciaossu!" kata seorang bayi berpakaian kemeja dengan seekor cicak(?) berwarna hijau yang hinggap di topi fedora si bayi itu.
'Tunggu, memangnya bayi bisa bicara?' batinku. Dan yang lebih aneh lagi bayi itu keluar dari sebuah kotak alat pemadam kebakaran.
"Reborn-chan!" panggil Haru pada bayi itu dengan ceria. O, iya Haru kan paling suka dengan anak-anak. "Reborn-san!" panggil Gokudera-san dengan nada bicara yang hormat dan segan. "Yo!" sapa Yamamoto-san kepada anak itu sambil melambaikan sebelah tangannya.
Siapa sebetulnya bayi ini?
"Tsuna-san, badanmu basah! Nanti bisa masuk angin! Ini, pakai jaketnya Haru!" kata Haru pada Tsuna seraya menyerahkan jaketnya yang berwarna pink ke Tsuna.
"A-a-aku baik-baik saja kok, Haru. Tak usa-" kata-kata Tsuna dipotong oleh Haru, "Aduh! Haru tak mau tahu! Pokoknya Tsuna-san harus pakai jaket pulangnya! Kalau tidak Tsuna-san bisa sakit desu!"
Tsuna hanya bisa pasrah memakai jaket pink itu. Benar-benar tidak macho.
"Heh! Apa maumu wanita bodoh? Masa' kau menyuruh Jyuudaime memakai jaket seperti itu?" kata Gokudera memulai pertengkaran (lagi) dengan Haru.
"Dasar, sekali dame tetap saja dame. Masa' seorang bos bukannya bersikap gentleman dan meminjamkan jaket malah dipinjamkan jaket?" kata bayi bernama Reborn itu sebelum menendang Tsuna. Kelihatannya tendangannya sakit.
HACHIIIH!
Aduh, aku bersin. Sepertinya Haru tidak sadar karena sibuk berdebat dengan Gokudera-san. Aku tak ingin membuat Haru merasa bersalah karena sudah membuatku hujan-hujanan.
SRET
Eh, hangat. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang hangat di punggungku. Ternyata itu jaket, sebuah jaket sports berwarna biru tua. Hmm, sepertinya aku pernah melihat jaket ini.
"_-san kedinginan ya?" tanya Yamamoto-san padaku dengan tatapan khawatir.
"Iya, agak. Tapi aku tidak apa-apa kok," jawabku sambil melepas jaket itu dan mengembalikannya ke Yamamoto-san. "Ini kukembalikan, ya," kataku padanya.
"Dipakai saja. Nanti kau kedinginan," kata Yamamoto memberikan jaket itu padaku lagi.
"Tapi nanti Yamamoto-san bisa sakit. Lagipula nanti repot mengembalikannya!" kataku lagi sambil menatap Yamamoto-san dengan tatapan khawatir.
"Ahaha. Kalau aku tak usah dipikirkan. Aku sudah biasa latihan, jadi badanku ini kuat. Lagipula tadi kau sampai bersin begitu," kata Yamamoto-san lagi.
Akhirnya aku menyerah. "Ya sudah! Aku pakai, nih!" kataku sambil memakai jaket yang kebesara itu dengan nada kesal yang dibuat-buat. Yamamoto-san hanya cengengesan saja.
"O iya, tadi Yamamoto-san bilang sering latihan? Latihan apa?" tanyaku lagi. Tapi sebelum Yamamoto-san sempat menjawab aku sudah memotongnya. "Biar kutebak! Hmmm, baseball bukan?" tanyaku lagi.
"Haha! Iya! Benar sekali! Wah, kok kau bisa tahu sih?" kelihatannya dia agak terkejut karena aku bisa tahu.
"Soalnya kau membawa-bawa bat baseball kemana-mana. Biasanya yang membawa barang seperti itu kemana-mana kalau bukan preman pasti maniak baseball," jawabku yakin. "Nah, Yamamoto-san kan tidak terlihat seperti preman, jadi Yamamoto-san pasti maniak baseball."
Yamamoto-san hanya tertawa kecil saja mendengar penjelasanku itu. Kami berdua hanya saling tersenyum saja. Senangnya bisa mengobrol seperti ini dengan Yamamoto-san.
"HOI! YAKYUU-BAKA! Ayo pulang! Jangan buat jyuudaime menunggu!" panggil Gokudera-san. Entah sejak kapan perdebatan antara dia dan Haru sudah selesai.
"Iya, iya! Aku kesana!" katanya pada Gokudera-san. "Sudah dulu ya, _-san!" katanya padaku lalu berlari ke tempat Gokudera-san dan Tsuna-san.
"_-chan! Ayo pulang!" kata Haru sambil tersenyum-senyum bahagia dan menggandeng tanganku.
"Sebentar, Ha-chan," kataku pada Haru lalu berteriak ke arah Yamamoto-san, "YAMAMOTO-SAN! JAKETMU!"
Dia berbalik lalu balas berteriak, "NANTI KEMBALIKAN PADAKU PADA PERTANDINGAN HARI SABTU INI YAA!" lalu ia melambaikan tangan dan memamerkan senyumnya kemudian berbalik dan lenyap di antara kerumunan orang.
'Pertandingan hari Sabtu?' batinku bingung. Maksudnya apa? Ya, sudahlah sekarang lebih baik aku cepat pulang.
"Ayo, Ha-chan! Kita pulang!" kataku pada Haru. Kami berdua pun berjalan menuju loket kereta. Setelah kami duduk di kereta Haru terus saja bercerita padaku tentang kejadian hari ini. Dia senang sekali, aku jadi ikut senang juga melihatnya. Setelah Haru selesai bercerita aku menyuruhnya untuk diam dan istirahat sebentar. Karena walaupun dia terlihat senang tapi aku tahu bahwa dia capek sekali hari ini.
Sementara Haru diam pikiranku memikirkan kejadian hari ini.
Kenapa Gokudera-san memanggil Tsuna jyuudaime ya? Apa maksudnya Tsuna-san itu anak kesepuluh di keluarganya?
Bayi tadi itu sebenarnya siapa? Kenapa dia menyebut Yamamoto-san Rain Guardian?
Dan apa maksud pertandingan hari Sabtu itu ya?
Haah, aku ingin menanyakan semuanya pada Haru. Tapi kuurungkan karena dia terlihat lelah. Aku juga lelah sekali hari ini.
"Haaah," kuhembuskan nafas, berharap kelelahanku akan hilang bersama helaan nafasku itu. Kutarik nafas dalam-dalam. Wangi. Aku mencium wangi hujan dan sedikit keringat bercampur wangi cologne dari jaket Yamamoto-san. Wangi yang menyegarkan, seperti sang pemilik jaket. Jaket ini juga hangat, besar lagi. Yamamoto-san badannya besar sih. Untung tadi dia memaksaku memakai jaketnya. Aku jadi terhindar dari masuk angin dan bisa membawa sesuatu sebagai pengingat tentangnya.
Wangi dan kehangatannya menyelimutiku, kapankah aku bisa bertemu dengannya lagi?
~oOo~
Chap 6 done!
Saya cuma bisa bikin fic ini pas hari hujan!
Jadi update nya tergantung cuaca!
Wkwkwk..
R&R?
