1st fanfic by~Yaklin1412

Yamamoto X OC / _

Disclaimer : Akira Amano


Mengejar Hujan


Chapter 7


SRRRR SRRRR SRRRR

PIIP PIIP PIIP

PIIP PIIP PIIP

Kulangkahkan kakiku dengan malas ke arah mesin cuci yang sudah ribut bernunyi. Kubuka pintu mesin cuci itu dan kuambil satu-persatu baju-baju yang sudah kering. Keranjang plastik biru yang kubawa dalam sekejap saja sudah penuh dengan baju yang masih hangat dan harum.

"Haaah." Kuhembuskan nafasku dengan sebal. Aku paling malas mengurus cucian. Biasanya aku hanya mengurus cucian kalau sudah giliranku untuk melakukan tugas itu.

Tapi, kali ini beda. Karena kemarin aku meminjam jaket si cowok hujan, Yamamoto Takeshi-san. Entah kenapa aku ingin segera mencuci jaket itu. Begitu inginnya sampai aku menawarkan diri untuk mengerjakan cucian hari ini.

Setelah beberapa lama memindahkan baju akhirnya kutemukan juga jaket Yamamoto-san. Jaket sports berwarna biru muda itu kini ada dalam genggaman tanganku.

Aku tersenyum mengingat kejadian kemarin sambil memeluk jaket itu. Hangat, harum, tapi bukan wangi cowok hujan lagi. Sedih juga tak bisa menghirum wanginya dari jaket itu lagi.

"Hai, kak! Tumben kakak rajin mengerjakan cucian!" kata adikku yang datang tiba-tiba dan langsung membuka pintu dengan keras.

Aku terkesiap dan reflek langsung melepas jaket itu. "Aaah, soalnya hari ini aku banyak waktu dan tidak ada kerjaan. Mau bantu aku?" Dasar adikku ini! Datang tiba-tiba tidak pakai ketuk dulu!

"Tidak mau, ah. Malas. Tadi aku baru habis latihan."

"Oooh begitu," jawabku seadanya. 'Kalau tidak mau bantu, pergi sana!' batinku

"Eh, kak ini punya siapa?" tanya adikku sambil mengambil jaket Yamamoto-san yang sudah kumasukkan ke keranjang.

"I- itu punya temanku." Kuambil jaket itu dari tangannya.

"Ooo. Punya cowoknya kakak yaa?" Sebuah seringai menyebalkan menghiasi wajah adikku.

"Bukan kok! Ini punya temanku! Dia meminjamkan padaku karena aku kedinginan!" Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang mulai memerah. Yamamoto-san? Pacarku? Yang benar saja!

"Heee~ Kalau begitu kenapa kakak mukanya merah begitu? Hehehe. Cieeeh yang sudah dapat pacar," goda adikku.

"SUDAH KUBILANG AKU BELUM PUNYA PACAR! KALAU TAK MAU BANTU AKU KELUAR SANA!" Aku lempar adikku itu dengan kaus kaki yang baru mau kumasukkan ke keranjang baju. Entah kaus kaki milik siapa itu.

"KAKAK PUNYA PACAR~ KAKAK PUNYA PACAR~ LALALALA~ OOOH INDAHNYAA MASA MUDAAA~," nyanyi adikku dengan tidak jelasnya sambil menghindari kaus kaki yang kulempar.

Terus saja kulempar adikku dengan kaus kaki yang bisa kutemukan sementara ia terus bernyanyi sambil menghindari lemparanku. Kesal rasanya melihat dia berhasil menghindari semua lemparanku. Adikku ini memang punya kemampuan motorik yang bagus.

"HEI! Kalian berdua jangan berantem!" jerit ibuku dari dapur.

Menderngar jeritan ibuku adikku itu langsung diam dan kumanfaatkan kesempatan itu untuk melempar kaus kaki ke arah wajahnya. Kuambil anacang-ancang dan ...

PLOK!

"Yesss!" sorakku senang. Sementar adikku hanya bisa memasang tampang sebal.

Kupasang sebuah senyum kemenangan. "Itu tadi HOME RUN, kan?" Aku sengaja menekankan di kata home run.

"Cih!" dengus adikku sambil berjalan menuju pintu.

"Kali ini aku mengalah! Aku nggak mau dimarahi ibu!" Dasar, adikku memang tak akan mau mengakui kekalahan.

Aku kembali meneruskan pekerjaanku yang sempat tertunda karena ulah adikku itu. Kulipat dan kumasukkan baju-baju ke keranjangnya.

"O iya, kak. Jangan lupa ya hari Sabtu nanti!" kata adikku sambil membuka pintu.

"Memang ada apa hari Sabtu?" tanyaku sambil tetap melipat baju. Kemarin Yamamoto-san, sekarang adikku. Sebetulnya ada apa sih dengan hari Sabtu?

"Oi! Kakak lupa ya!" Aku hanya bisa menatap adikku bingung.

Adikku menghela nafas sebelum berkata, "Kan kemarin-kemarin sudah kuingatkan! Sabtu besok aku ada pertandingan baseball lawan SMP Namimori."

"Masa' sih kau sudah bilang? Aku tak ingat," kataku sambil mengingat-ingat lagi. Akhir-akhir ini yang ada di pikiranku hanya cowok hujan itu. Hal lain jadi terlupakan.

"Aaah, sudahlah! Yang jelas sudah kuingatkan! Jadi, besok kakak harus datang!"

"Iya, iya," jawabku acuh tak acuh sambil mengangkat keranjang baju yang sudah dipenuhi tumpukan baju yang kulipat rapi.

"Huh! Mentang-mentang baru punya pacar yang dipikirin cuma pacarnya mulu! Jadi pikun deh!" Adikku mengejekku lagi sebelum dia lari keluar dan kabur.

'Bisanya cuma kabur tapi banyak omong!' batinku melihat adikku kabur.

...

Tunggu, tadi adikku bilang apa? Pertandingan baseball lawan SMP Namimori? Bukannya itu ...

Sekolahnya Yamamoto-san?

Jangan-jangan Yamamoto-san tahu aku bakal menonton pertandingan itu?

...

Tunggu dulu! Darimana dia tahu?

"Aaaah, sudahlah!" ujarku sambil menggaruk kepalaku.

Biar besok kupastikan sendiri saja.

-keesokan harinya-

Pakai yang mana ya?

Aduh! Biasanya memilih baju tidak pernah semerepotkan ini! Pakai yang ini atau yang ini saja ya? Ya ampun! Sudah 20 menit aku mematut di depan kaca mencoba-coba baju!

"Haaah." Aku menghela nafas sambil merebahkan tubuhku ke atas kasurku. Apa begini ya, rasanya jatuh cinta? Selalu ingin tampil cantik di hadapan dia yang kita suka?

TOK TOK TOK

"_-chan! Ayo cepat! Ayah sudah menunggu lho!" kata ibuku dari luar pintu.

"Iya, bu! Sebentar!" jawabku seadanya.

Akhirnya aku memutuskan memakai kaus berwarna biru tua dengan jaket sports berwarna biru muda yang warnanya mirip jaket Yamamoto-san dan rok pendek di atas lutut berwarna putih. Rambutku kuikat satu lalu aku mengambil tas ransel kecilku. Setelah memastikan bahwa aku sudah membawa jaket Yamamoto-san aku segera menuruni tangga. Di teras rumah, ayah dan ibuku sudah menunggu. Segera kupakai kaus kaki putihku yang panjangnya di bawah lutut dan sepatu sportsku. Kenapa gayaku sporty sekali hari ini?

"Wah, cantik sekali putri ibu," puji ibuku di mobil. Ayahku juga ikut mengacungkan jempolnya sambil tetap konsen mengemudi. Aku tersenyum senang. Syukurlah penampilanku tidak aneh.

Tak terasa kami sudah sampai di SMP Namimori. Setelah ayah memarkir mobil, aku, ibu, dan ayah segera masuk ke dalam gedung sekolah tersebut. Kami langsung menuju ke lapangan sekolah tersebut. Setibanya di lapangan tribun penonton sudah ramai. Sebagian besar adalah keluarga dan teman-teman dari para pemain di lapangan.

Aku duduk di sebelah ayah dan ibuku yang kini sibuk mengobrol dengan orang tua lain. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam itu menunjukkan jam 9 lewat 26 menit. Tinggal 19 menit sebelum permainan dimulai.

Kucoba mengalihkan perhatian dengan melihat sekelilingku. Di lapangan terlihat pemain mulai berkumpul. Para pemain SMP Namimori memakai seragam berwarna putih, sementara para pemain dari SMP adikku memakai seragam berwarna biru tua bergaris-garis biru muda. Di kana-kiri ku para orang tua asyik mengobrol sedangkan para suporter dari masing-masing sekolah sudah mulai menyiapkan spanduk dan yel-yel.

Perutku mulai terasa lapar. Kuputuskan membuka kantung kuaci (biji bunga matahari kering) yang kubawa dalam tasku. Aku mulai membuka kulit kuaci itu dan memakan satu-persatu sambil mengamati lapangan. Ah! Adikku terlihat di lapangan. Sepertinya sedang rapat strategi sebelum bertanding.

"Midori tanabiku Namimori no"

"Dai naku shou naku nani ga ii"

"Eh?" ujarku kaget. Terdengar suara cempreng kecil dari arah atasku. Kudongakkan kepalaku dan melihat sesosok burung kecil kuning berbadan bulat terbang mengitar di atas kepalaku.

"Itsumo kawaranu sukoyaka kenage"

"Ah, tomo ni utao Namimori Chuu"

Burung itu terus bernyanyi sambil terbang merendah dan lalu turun ke atas bangku penonton di sebelahku. Burung kecil itu menatapku dan kuaciku. Sepertinya dia lapar.

"Ini, kau lapar kan?" Kuberikan kuaci yang sudah kubuka dari kulitnya ke burung kecil itu. Dia langsung mematukinya. 'Lucu sekali burung ini,' batinku sambil mengelus kepala burung kecil itu. Sekejap saja kuaci yang kuberi sudah habis. "Mau lagi? Masih banyak, kok." Aku memberi kuaci lagi, kali ini 3 sekaligus. Dia mematuk-matuk sambil bercicip di sebelahku.

"Kamu manis ya! Nyanyianmu juga bagus! Siapa yang mengajarimu bernyanyi?" tanyaku pada burung itu lagi. Sebetulnya aku hanya sekedar bertanya jadi aku agak kaget ketika burung itu menjawab, "Hibari, Hibari."

'Hibari (skylark)? Bukannya itu nama jenis burung?' batinku bingung.

PRIIIIIT

Aku tersentak keluar dari pikiranku karena suara peluit itu. Wait muncul di tengah lapangan dan 1 wakil dari masing-masing tim maju untuk tos koin. Ternyata tim adikku mendapat giliran duluan. Pemain yang diturunkan pertama adalah salah satu pemain senior di sekolah adikku.

Ketika aku menengok, burung itu sudah tak ada. Yang tersisa hanya remah sisa kuaciku. Kuputuskan untuk kembali berkonsentrasi menonton pertandingan. Sebetulnya aku tak begitu mengerti baseball tapi aku tetap mencoba menonton.

'Ternyata baseball itu seru juga ya,' kata hati kecilku.

Kini sudah giliran SMP Namimori untuk memukul. Muncul seorang pemain. Aku tak dapat melihat wajahnya karena tertutup topi yang ia pakai, tapi pemain itu hebat sekali! Ia memukul bola hingga bolanya terbang jauh melewati pagar pembatas lapangan. Pemain bernomor punggung 80 dari SMP Namimori itu terus berlari melewati 2 base sekaligus. Larinya cepat!

"Oooosh! Itu baru anakku! Takeshi!" terdengar suara seorang bapak yang berteriak menyemangati pemain itu. Bapak itu memakai pakaian pembuat sushi.

...

'Eh? Dia bilang Takeshi? Jangan-jangan pemain itu ...'

"KYAAAA! TAKESHIII!" jeritan gadis-gadis fans di belakangku langsung membuktikan hipotesisku.

Ternyata Yamamoto-san itu bukan hanya tampan, baik, dan tinggi. Dia juga populer dan jago main baseball. Mungkin dia jago membuat sushi juga. Ayahnya kan seorang pembuat sushi.

Akhirnya selama pertandingan itu mataku terus mengikuti pemain bernomor punggung 80 itu. Yaa, aku juga tetap mengamati adikku saat dia dipanggil turun ke lapangan. Aku cukup kaget karena adikku dikeluarkan di saat-saat kritis. Permainannya juga bagus! Adikku berhasil mencetak 1 homerun. Aku juga jadi sadar adikku cukup populer. Anak perempuan dari sekolahnya banyak yang mengelukan namanya.

PRIIIIIT

Peluit kembali berbunyi. Kali ini peluit tanda berakhirnya pertandingan. Pertandingan dimenangkan oleh SMP Namimori dengan selisih 4 poin. Semua pemain dari kedua sekolah berkumpul dan saling menghormat dan berjabat tangan. Mereka semua terlihat lelah tapi senang.

Walaupun adikku dan teman-temannya kecewa tapi mereka tidak bersedih. Permainan adikku dan teman-temannya bagus, sangat bagus malah menurutku. Sayangnya permainan mereka tak cukup bagus untuk mengalahkan SMP Namimori dengan ace mereka, Yamamoto Takeshi.

Para penonton mulai memasuki lapangan, menyelamati kedua pihak. Yang kalah dan yang menan. Aku dan ayah dan ibuku pun turun ke lapangan untuk menyelamati adikku.

"Permainanmu hebat, nak! Pukulan mu tadi itu luar biasa! Begitu baru anak ayah!" puji ayahku pada adikku.

"Iya, kamu tadi hebat! Nanti malam ibu akan buatkan makanan kesukaanmu!" ibuku tak mau kalah dan ikut menyelamati adikku.

Sementara ayah dan ibuku masih sibuk menyelamati adikku mataku memandang ke sekeliling. Mencari sosok salah seorang pemain di lapangan ini. Tiba-tiba aku menangkapa sosok pendek berambut coklat jabrik.

'Itu Tsuna-san kan?' tanyaku pada diriku sendiri. Pertanyaanku terjawab saat aku melihat sosok pemuda berambut perak berjalan di sebelah pemuda pendek itu. Itu pasti Tsuna-san dan Gokudera-san. Mereka berdua berjalan menghampiri seorang pemuda berambut hitam kecoklatan yang tengah dielu-elukan oleh orang-orang.

Kalau ramai seperti itu bagaimana aku bisa menyerahkan jaket ini?

"Kakak! Tadi lihat homerun ku kan! Yang begitu itu baru bisa disebut home run!" Adikku dengan semangat bercerita padaku. Aku tersenyum sambil mendengarkan menggambarkan ulang kejadian yang terjadi di lapangan tadi. Tentunya lewat sudut pandangnya sendiri.

"Tunggu dulu. Ayah dan ibu kemana?" tanyaku memotong cerita adikku.

"Tadi pergi beli minum. Katanya kakak disuruh tunggu disini saja," jawab adikku dengan agak sebal karena ceritanya dipotong.

"Kalau begitu lebih baik kau ganti baju dulu supaya begitu ayah dan ibu kembali kita bisa langsung pulang," kataku lagi sambil mebdorong adikku ke arah ruang loker. Aku memotong ceritanya selain karena dia sudah mandi keringat juga karena adikku itu kalau sudah cerita 30 menit pun bisa dihabiskan olehnya. Lebih baik ia cerita di rumah saja.

"Nanti saja! Teman-temanku yang lain juga belum ganti baju, tuh!" balas adikku dengan keras kepala sambil menunjuk ke arah teman-teman setimnya.

"Kalau begitu kau ajak teman-temanmu ganti baju sana! Kau bau keringat tahu!" Aku mendorong punggungnya ke arah teman-teman setimnya.

"Tidak mau! Nanti saja!"

"Ayo cepat! Nanti kau bisa kena biang keringat!"

Aku terlalu sibuk menyuruh adikku ganti baju sampai tidak menyadari ada seseorang yang datang menghampiri kami.

"Yo! Permisi aku tidak mengganggu, kan?" tanya seorang cowok berseragam baseball SMP Namimori.

"Tidak kok! Ada apa ya?" tanya adikku pada pemuda itu. Aku tak bisa melihat mukanya karena dia masih memakai topi.

Pemuda itu melepas topinya lalu berkata, "Permainanmu tadi hebat sekali! Ternyata kau memang sehebat yang dibicarakan! Kau masih kelas 1 kan?"

"Eeh! Kau kan Yamamoto Takeshi! Ace nya Namimori itu! Aku penggemarmu!" Adikku terlihat senang sekali bisa bicara dengan Yamamoto-san.

Mereka berdua lalu mengobrol soal baseball. Aku bingung apa yang mereka bicarakan. Sebetulnya aku bisa saja pergi, tapi aku tak bisa melangkah menjauh dari Yamamoto-san.

Yamamoto-san terlihat senang sekali. Pasti karena ia baru memenangkan pertandingan. Tubuhnya basah oleh keringat, rambutnya juga agak lepek karena barusan memakai topi. Aku bisa mencium bau keringat bercampur bau matahari dari Yamamoto-san. Walaupun begitu entah kenapa aku bisa merasakan aroma hujan juga.

"_-san, halo." Tiba-tiba saja wajah Yamamoto-san sudah berada beberapa senti saja di depan wajahku. Salah satu tangannya dilambaikan di depan wajahku.

"E- eh, Ya- Yamamoto-san? A- ada apa?" Aku langsung saja mundur beberapa langkah. Detak jantungku terasa semakin cepat.

"Ahaha, tidak ada apa-apa kok. Tadi sedang bengong ya?"

"Aku tiidak sedang bengong kok!" jawabku cepat. Malunya ketahuan sedang bengong di siang bolong begini!

"Masa' sih? Hati-hati lho. Kalau bengong bisa kesambet setan. Apalagi-" Yamamoto-san menghentikan kalimatnya ditengah-tengah lalu membungkukkan badan dan berbisik, "Di sini banyak hantunya, lho." Lalu dia berdiri tegak lagi sambil nyengir lebar.

"Oh ya? Sayangnya aku tak percaya pada hal seperti itu." ujarku sebal. Apa Yamamoto-san kira dia bisa menakut-nakutiku?

Mendengar jawabanku barusan Yamamoto-san hanya memperlebar cengiran di wajahnya.

"Ngomong-ngomong adikku kemana?" Aku baru sadar adikku sudah tidak ada.

"Tadi waktu _-san lagi bengong dia diajak ganti baju oleh teman setimnya."

"Aku kan sudah bilang aku tidak bengong! Yamamoto-san tidak ganti baju?" Kulihat ke sekeliling. Lapangan sudah sepi sekarang. Soertinya para pemain sudah berganti baju.

"Ahaha, nanti saja. Ngomong-ngomong aku capek berdiri, nih. Kita duduk saja yuk?" kata Yamamoto-san. Dia lalu duduk di kursi panjang untuk pemain di pinggir lapangan itu, satu tangannya menepuk-nepuk ke bagian sebelah kursi yang kosong itu.

"Kenapa Yamamoto-san tidak ganti baju bersama yang lain?" tanyaku sambil duduk di sebelah Yamamoto-san.

"Kalau aku ganti baju juga nanti _-san jadi sendirian kan?" Aku bisa merasakan wajahku agak memerah karena kata-katanya barusan.

"Aku tidak apa-apa kok sendirian! Sudah, Yamamoto-san ganti baju sana! Kalau tidak nanti bisa sakit pakai baju basah keringat begitu!" Kudorong bahu Yamamoto-san pelan.

"Yaaah. Walaupun begitu kalau aku masuk sekarang ruang gantinya sudah penuh. Lebih baik aku menunggu yang lain saja disini," katanya sambil mengambil satu botol air mineral dari sebuah kardus yang tergeletak di lapangan.

Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Hanya terdengar suara Yamamoto-san meminum air mineral dan suaraku memakan kuaci.

"Yamamoto-san," panggilku memecah keheningan di antara kami.

"Hm?"

"Tahu darimana hari ini aku akan datang ke pertandingan ini?"

"Oh itu. Waktu pertama berkenalan aku merasa namamu akrab. Ternyata karena nama keluargamu sama dengan nama seorang bintang baru dunia baseball SMP. Jadi kurasa _-san pasti saudara dari pemain baseball itu," jawabnya.

"Oooh. Kenapa Yamamoto-san bisa yakin aku saudara dari pemain baseball itu? Kalau salah pasti malu sekali tuh!"

"Mmm. Ahahaha, entahlah. Insting kurasa." Dia tersenyum padaku dan tanpa sadar aku balas tersenyum padanya.

"Oh iya, Yamamoto-san. Ini jaketmu," kataku seraya merogoh isi tasku lalu mengeluarkan jaket itu dan menyerahkannya pada Yamamoto-san.

"Terima kasih ya sudah meminjamkanku jaket! Kemarin jaketnya sudah kucuci." Sebetulnya agak tidak rela juga aku menyerahkan jaket ini kembali pada Yamamoto-san.

"Aaah tidak apa-apa kok! Padahal tidak dicuci juga tidak apa-apa kok!" Diambilnya jaket itu dan dimasukkannya kedalam tasnya.

"Ayah Yamamoto-san tukang sushi ya?"

"Ahaha, iya. Tadi kau melihat ayahku ya? Aduh, ayah itu bikin malu saja sih." Yamamoto-san menggaruk kepalanya sambil tersenyum senang.

"Kenapa malu? Bukannya bagus ayah Yamamoto-san semangat mendukung Yamamoto-san?"

"Hehehe." Yamamoto-san hanya cengengesan saja mendengar kata-kataku barusan.

"_-chan!" terdengar suara ibu memanggilku.

"Yamamoto-san ibuku memanggilku. Aku ke tempat ibuku dulu ya!" Aku bangkit berdiri dari kursi itu.

"Ooh. Ya sudah kalau begitu." Yamamoto-san ikut berdiri.

"Aku duluan ya!" kataku sambil tersenyum manis dan membungkukkan badanku sedikit. Aku berbalik dan berjalan ke tempat ibuku.

"_-san!" panggil Yamamoto-san.

"Hm?" Kubalikkan tubuhku dan menatap Yamamoto-san.

"Kuacimu ketinggalan," kata Yamamoto-san. Aku hanya tertawa kecil lalu berkata, "Memang sengaja kutinggalkan buat Yamamoto-san. Yamamoto-san lapar kan?"

"Eh. Oh begitu ya." Lagi-lagi Yamamoto-san menggaruk kepalanya. "Terima kasih ya!" katanya lagi sambil tersenyum lebar. Aku balas tersenyum padanya.

"O, iya _-san. Lain kali mampir ke Take Sushi ya! Itu restoran ayahku! Biar kutraktir sebagai terima kasih untuk kuacinya dan untuk jaketku yang sudah dicuci!" katanya lagi sambil setengah berteriak padaku.

"Iya! Aku pasti akan mampir! Jaaa neee Yamamoto-san!" Kulambaikan tanganku dan menghampiri ibuku yang sudah menunggu dari tadi.

Hari ini aku belajar rasanya menjadi cinderella yang harus meninggalkan pangerannya di pesta dansa ...

~oOo~


WOOO!

Chapter 7 nya panjang banget!

Ini kepanjangan nggak ya?

Kayaknya Yamamoto rda OOC disini..

Hiks Hiks..

Akhir2 ini hujan terus, ide buat fic ini jalan terus deh!

YAAAY!

Terima kasih buat : Su Zuna Ame yang sudah mau me-review, anda semua yang sudah membaca, dan buat ANDA YANG MAU ME-REVIEW!