1st fanfic by~Yaklin1412

Yamamoto X OC / _

Disclaimer : Akira Amano


Mengejar Hujan


Chapter 7


ashita wa nani ga aru no kana

ashita wa nani wo yarou kana

kangaeteru yorimo ima sugu

ashita ni mukatte hashi-

"Ohayooouu _-chan!" senandungku dipotong oleh sapaan selamat pagi dari Haru.

"Ohayou juga, Ha-chan," balasku sambil tersenyum. Hari ini suasana hatiku memang sedang cerah.

"Hmm. Kayaknya tadi Haru dengar _-chan bersenandung, deh," kata Haru dengan tatapan penuh selidik sementara kami berjalan menaiki tangga.

"Iya nih. Aku lagi bahagia nih, Ha-chan." Kucubit pipinya gemas.

"Hahii. Apa-apaan sih _-chan! Tak usah mencubit pipi Haru segala." Haru mengelus-elus pipinya yang merah karena kucubit.

"Memangnya ada apa siiih? Cerita-cerita dengan Haru dong!" pinta Haru sambil menarik-narik tanganku.

"Nanti saja, ya di kelas Ha-chan," jawabku sambil kami berjalan melewati lorong menuju ruang kelas. Sebentar saja kami sudah sampai di ruang kelas.

"Nah, kita sudah di kelas sekarang. Ayo cerita ada apa pada Haru!" kata Haru sambil berdiri di depan mejaku.

"Eh, kayaknya sudah mau bel deh. Nanti saja ya!" Aku mencari-cari alasan untuk menghindar dari pertanyaan Haru.

Belnya benar-benar langsung berbunyi. Kuhembuskan nafasku lega. Haru merengut kesal sambil duduk di mejanya yang berada di sebelah kanan mejaku.

"Pokoknya nanti kau harus cerita pada Haru!" kata Haru sebelum pelajaran dimulai. Aku menatap ke jendela yang berada di sebelah mejaku. Apa aku harus cerita ke Haru ya? Aku malu.

"Hahii? Benarkah? Ternyata Yamamoto-san itu gentleman juga yaa. Sampai meminjamkan jaket seperti itu."

Aku dan Haru sedang duduk di kereta sekarang. Pada akhirnya aku bercerita juga kepada Haru. Waktu istirahat dan pulang sekolah ini diisi dengan ceritaku mengenai Yamamoto-san. Dari pertama kali aku melihatnya dari jendela rumahku sampai ke percakapan kami sehabis pertandingan baseball.

"Jadi _-chan suka sama Yamamoto-san yaa?" tanya Haru sambil menyikutku.

"I- iya," jawabku sambil menundukkan kepalaku karena malu.

"Kalalu begitu mulai sekarang Haru akan mendukung percintaan _-chan dengan Yamamoto-san!" kata Haru semangat.

"Apa-apaan sih Ha-chan? Lagipula Yamamoto-san kan tinggi, tampan, jago main baseball, dan populer di kalangan cewek. Mana mungkin dia suka padaku?" Aku jadi sedih dengan perkataanku sendiri. Kemungkinanku bisa memenangan hati Yamamoto-san memang kecil sekali.

"Hahii! Apa-apaan sih _-chan! Kau kan cantik, baik, manis, dan pintar. Mana mungkin ada cowok yang tidak suka padamu?"

"Terima kasih ya, Ha-chan," kataku. Senangnya punya teman yang baik dan manis seperti Haru. Aku tersenyum dan Haru juga balas tersenyum.

Sepanjang perjalan pulang sisanya Haru membicarakan soal pertemuan pertamanya dengan Tsuna-san dan juga bermacam kejadian yang terjadi. Haru juga menceritakan soal apa yang dia ketahui tentang Yamamoto-san. Kami pun saling berjanji untuk membantu percintaan masing-masing.

Hari demi hari berlalu sejak aku bertemu dengan cowok hujan, Yamamoto-san terakhir kali di pertandingan baseball. Sekarang sudah hari Sabtu. Rencananya malam ini aku dan keluargaku akan pergi makan keluar untuk merayakan promosi ayahku.

TOK TOK TOK

"Kakaaak sudah belum ganti bajunya?" tanya adikku dari depan pintu kamarku.

"Iyaa sebentar!" Aku melihat ke kaca dulu memastikan bahwa penampilanku sudah rapi. Malam ini aku mengenakan gaun biru muda yang panjangnya di atas lutut dan sebuah gelang berwarna senada. Akhir-akhir ini aku jadi senang dengan warna biru.

Sepanjang perjalanan di mobil aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Satu minngu ini aku tidak bertemu Yamamoto-san sama sekali. Padahal aku dan Haru sempat main ke sekolah Tsuna-san dua kali. Tapi setiap kami datang kesana kami hanya bertemu Gokudera-san dan Tsuna-san. Yamamoto-san sedang latihan di klub baseball.

"Jadi kita mau makan dimana?" tanya ayahku yang tengah mengemudi.

"Hmm. Kemarin ibu membaca artikel soal restoran sushi yang sedang populer jadi kita makan sushi saja, ya. Bagaimana?" Ibuku bertanya pada aku dan adikku sambil menengok kebelakang melihat ke aku dan adikku yang duduk di kursi belakang.

"Yaah, aku sih ikut apa kata ayah dan ibu saja," jawab adikku yang sedang asyik bermain nintendo ds. Aku hanya menganggukkan kepalaku saja tanda setuju.

"Nama restorannya apa?" tanya ayahku.

"Nah itu masalahnya. Ibu lupa apa nama restorannya," jawab ibuku.

Aduh, bagaimana sih? Kalau tidak tahu nama restorannya bagaimana mau pergi makan?

Hmmm, restoran sushi ya. Kalau tidak salah keluarga Yamamoto-san juga punya restoran sushi. Apa ya namamya?

"Takesushi," gumamku pelan.

"Hmm, kakak bilang sesuatu?" tanya adikku.

"Ti- tidak. Aku tidak bilang apa-apa kok." Aduh, kenapa sih dia selalu mendengar hal-hal tidak penting seperti ini?

"Tadi kakak ngomong sesuatu kan. Ayo ngaku. Tadi kakak ngomong apa?" Adikku tetap ngotot ingin mengetahui apa yang kukatakan.

"Aduh! Sudah kubilang aku tidak bilang apa-apa!"

"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya ibuku memotong perdebatanku dengan adikku.

"Ini bu tadi kakak ngomong sesuatu. Apa ya? O iya kakak tadi bilang Takesushi. Iya kan, kak?" Adikku menyeringai menyebalkan ke arahku.

Ibuku hanya diam. Sepertinya ibuku teringat sesuatu. "Ah, iya! Itu nama restorannya! Takesushi!" kata ibuku.

"Kok kamu tahu namanya?" tanya ibuku padaku. Adikku juga ikut menatapku dengan tatapan penuh rasa penasaran.

"A- aku diberitahu temanku." Memang temanku kan yang memberitahu? Yamamoto-san kan temanku.

"Ooh. Ya sudahlah ayo kita kesana segera. Aku sudah lapar," kata adikku sambil memegangi perutnya. Ayah pun menambah kecepatan mobil sementara ibu membantu menunjukkan jalan.

Eh? Apa? Jadi kita akan ke restoran punya keluarga Yamamoto-san?

"Selamat datang!" sambut seorang pria yang sebaya dengan ayahku dari balik konter restoran sushi itu.

Kami duduk di salah satu meja kosong di restoran itu. Sepertinya restoran ini memang terkenal, semua mejanya penuh kecuali meja yang baru saja kami duduki.

"Mau pesan apa?" tanya salah seorang pekerja di restoran itu yang juga mengenakan pakaian pembuat sushi. Aku melihat ke jenis-jenis sushi yang ditawarkan.

Akhirnya aku memesan california roll dan tamagoyaki, adikku memesan Unagi dan salmon , ibu dan ayahku memesan satu paket sushi berbagai jenis dalam kapal kayu berukurn sedang (aku lupa namanya apa). Setelah memesan aku memperhatikan interior restoran sushi ini. Hmm, sederhana seperti restoran sushi Jepang jaman dulu. Menu-menunya juga tidak terlalu spesial.

"Aku pulang, ayah!" Suara seorang anak lelaki yang baru saja berjalan masuk ke dalam restoran membuyarkan pikiranku. Eh, anak lelaki itu kan …

"_san! Wah, kau benar-benar datang ya!" kata Yamamoto-san sambil menghampiri mejaku.

"Ah, selamat sore om, tante!" sapa Yamamoto-san pada kedua orang tuaku sambil membungkuk. Dia menyeringai saat melihat adikku dan lalu dia dan adikku tos. Sepertinya mereka berdua bisa berkomunikasi lewat pandangan mata saja. Dasar sesama maniak baseball.

"Eh, itu temanmu Takeshi?" tanya ayahnya sambil tetap memotong ikan. Hebat sekali ayah Yamamoto-san. Beliau bisa memotong ikan dengan kecepatan yang konstan sambil berbicara.

"Ahaha. Iya ayah. Yang ini pemain baseball berbakat lawanku di pertandingan kemarin," katanya sambil menunjuk ke arah adikku "Dan yang ini kakaknya yang juga temanku." Rasanya sakit hati juga mendengar Yamamoto-san menyebutku hanya sebagai temannya saja.

"Waah, kalau untuk teman Takeshi akan kuberi diskon khusus. Terima kasih ya sudah membantu Takeshi selama ini."

"Aaah, tidak perlu repot-repot." Wah, ayah Yamamoto-san orangnyaa murah hati sekali ya!

"Eh, tunggu ayah. Biar aku yang buat pesanannya." Yamamoto-san dalam sekejap sudah berada di balik konter dan berdiri di sebelah ayahnya. Dia mengenakan sebuah celemek berwarna biru.

"Kau mau membuatkan untuk temanmu ya? Tapi tadi ayah sudah buatkan pesananya." Yamamoto-san terlihat agak kecewa mendengar pernyataan ayahnya barusan. "Ooh, ada pesanan yang belum Takeshi. Sushi yang tamagoyaki dan california roll." Yamamoto-san langsung kelihatan lebih ceria dan semangat.

Eeeeh! Itu kan pesananku!

"Lalala," sambil bersenandung Yamamoto-san mulai membuat sushi pesananku. Tangannya bergerak lincah memotong ikan di atas tatakan kayu. Aku baru tahu ternyata Yamamoto-san punya satu keahlian lagi yaitu membuat sushi.

Aku asyik memperhatikan Yamamoto-san membuat sushi sampai tak sadar kalau ia menyadari aku mengamatinya. Ia tersenyum lebar ke arahku. Aku langsung mengalihkan wajahku ke arah lain. Mencoba menyembunyikan wajahku yang terasa mulai memerah seiring meningkatnya debar jantungku.

"Ini pesanannya!" Yamamoto-san kini berada di mejaku dan keluargaku sambil membawa nampan dengan pesanan kami.

"Terima kasih, kak Takeshi!" kata adikku. "Terima kasih ya, Takeshi-kun," kata ibuku pada Yamamoto-san sementara ayahku hanya tersenyum. Yamamoto-san membalas dengan senyumannya. Entah kenapa melihat senyum Yamamoto-san detak jantungku terasa lebih cepat.

Aku menatap piring berisi makanan yang kini tersaji di hadapanku. Kuambil sumpit dan kuambil sepotong sushi california roll. Kucelupkan sushi itu ke kecap dan kutambahkan sedikit wasabi sebelum aku memakannya.

Hmm. Rasanya enak sekali. Kukerjapkan mataku beberapa kali sambil masih terus mengunyah. Pantas restoran sushi ini terkenal.

"Enak tidak?" Tanpa kusadari Yamamoto-san ternyata masih berdiri di sebelah meja ku.

"Enak kok," jawabku sambil menundukkan kepala dan terus mengunyah.

"Oh begitu ya. Syukurlah!" Kuberanikan diri mendongak sedikit melihat ke arah Yamamoto-san. Sebuah senyum penuh kepuasan terpampang di jadi tambah malu melihatnya.

"Ehm ehm. Ada apa nih antara kak Takeshi dengan kakak?" tanya adikku dengan tatapan seolah-olah aku ini pacaran atau ada apa-apa dengan Yamamoto-san.

"Iiih. Apaan sih? Dia tuh temanku. Teman!" kataku sambil mencomot sushi dari nampan berbentuk kapal kayu pesanan orang tuaku.

Aku melirik ke sekelilingku. Sepertinya Yamamoto-san sudah naik ke lantai atas untuk berganti baju atau apalah. Syukurlah, aku tak perlu khawatir dia mendengar perkataan adikku barusan.

"Masa' siih? Kayaknya tadi ada sesuatu deh. Apalagi tadi kak Takeshi sampai membuatkan pesanan kakak begitu. Ehm." Adikku sepertinya senang menemukan bahan ejekan baru.

"Terserah deh." Aku malas meladeni adikku.

"Kalian berdua sedang bicara apa siih? Ayo habiskan dulu makanannya," kata ibuku. "Oh iya ngomong-ngomong anak cowok yang tadi pacarmu ya? Tampan ya, sepertinya dia anak yang baik," tambah ibuku lagi.

Aku hampir menelan sumpitku gara-gara kata-kata ibuku barusan.

"Apa-apaan sih ibu? Yamamoto-san itu hanya temanku!" Ada apa sih dengan ibu dan adikku? Mana mungkin ada apa-apa antara aku dan Yamamoto-san. Dia terlalu jauh dari jangkauanku.

Sehabis selesai makan Yamamoto-san sudah turun lagi ke lantai bawah membantu ayahnya bekerja.

"Takeshi! Kau temani temanmu saja dulu! Ayah bisa mengerjakan sendiri kok!"

"Oh. Baiklah. Ayo sini! Kutunjukkan tongkat baseball kebanggaanku." Yamamoto-san mengajak adikku ke lantai atas. Sepertinya ke kamarnya.

Orang tuaku sedang mengobrol dengan ayahnya Yamamoto-san. Aku menghembuskan nafas dan kembali duduk manis sambil menyuruput the hijau yang tadi disediakan. Aku masih harus menunggu lama nih untuk bisa pulang.

"_-san! _-san!" Yamamoto-san melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajahku.

"Eh, ada apa Yamamoto-san?" tanyaku sambil mencoba bersikap senormal mungkin.

"Kau tidak mau ikut ke kamarku saja?" Di belakang Yamamoto-san aku bisa melihat adikku menyeringai dengan tampang yang menyebalkan.

"Aku ikut deh," kataku. Peduli amat dengan ejekan adikku nanti.

"Ahaha, kalau begitu lewat sini!" Yamamoto-san menarik tanganku. Adikku mengikuti dibelakang kami berdua. Aku bisa membayangkan cengiran menyebalkan di mukanya.

"Hati-hati tangganya sempit," kata Yamamoto-san sambil menarik tanganku menaiki tangga.

Tangannya besar dan hangat, juga kasar. Apakah tangan pemain baseball sekasar ini? Rasanya tidak. Tangan adikku tidak sekasar ini. Mungkin karena jarinya sering terpotong waktu menyiapkan sushi.

Untung tadi Yamamoto-san langsung mencuci tangan sehabis menyiapkan sushi. Kalau tidak tanganku pasti bau amis juga.

"Nah, sudah sampai! Maaf ya kalau berantakan! Ahaha." Aku masuk ke dalam ruangan kamar Yamamoto-san.

Kamarnya tidak terlalu berantakan untuk ukuran kamar seorang anak lelaki. Lumayan rapi malah. Ada sebuah meja bundar rendah di tengah kamar dan di salah satu sudut kamar ada meja belajar, televisi, dan beberapa lemari kecil. Di sisi kamar ada lemari geser yang sepertinya dipakai untuk menyimpan futon.

Adikku dan Yamamoto-san langsung asyik berbicara tentang hal yang berhubungan dengan baseball sementara aku melihat-lihat kamar itu. Aku melihat ke tumpukan majalah yang ada di salah satu sudut kamar Yamamoto-san. Sebagian besar majalah adalah majalah olahraga atau baseball.

Eh, apa ini? Ternyata Yamamoto-san juga suka idol ya? Kubolak-balik majalah kumpulan foto idol Kikumomo Sakura yang ada di antara tumpukan majalah baseball itu. Entah kenapa rasanya aku cemburu. Tiba-tiba saja majalah itu sudah lenyap dari tanganku.

"A- ahaha. Errr ini. Ini." Yamamoto-san tertawa gugup sambil memegang majalah yang baru saja ia rebut dari tanganku itu. Wajahnya terlihat seperti anak yang tertangkap basah mencuri permen.

"Hmm? Ada apa Yamamoto-san?" tanyaku bingung. Kenapa dia terlihat begitu panik?

"Eh. A- aku tidak panik kok. Ahaha." Dia malah terlihat semakin canggung. Aku menaikkan sebelah alisku dalam kebingungan.

"Eh! Apa itu?" Adikku merebut majalah dalam genggaman tangan Yamamoto-san. "Wah, ini kan kumpulan fotonya Kikumomo Sakura!" Adikku membolak-balik majalah itu dengan semangat.

"Ternyata Yamamoto-san suka Kikumomo Sakura, ya?" Adikku kelihatan bersemangat. Dasar lelaki, semangat kalau membicarakan hal seperti ini.

"Err, i- iya," jawab Yamamoto-san sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Kalau adikku sukanya sama Kazehana Koyuki," tambahku. "Di kamar adikku juga banyak majalah idol kok. Bukannya wajar cowk punya majalah seperti itu?"

"Wah! Akhirnya kakak mengerti juga perasaan lelaki!" kata adikku senang.

Aku hanya diam saja mengamati ekspresi Yamamoto-san yang masih kelihatan aneh. Ada apa sih sebenarnya?

Adikku sekarang mulai mencoba bermain konsol game di kamar Yamamoto-san. Sepertinya dia mencoba semacam game simulasi baseball. Sementara adikkku sedang konsentrasi penuh pada gamenya aku memberanikan diri bertanya.

"Yamamoto-san kenapa tadi reaksimu aneh waktu aku melihat majalah idol milik Yamamoto-san?"

Yamamoto-san diam sebentar sebelum menjawab, "Soalnya aku takut kau berpikir macam-cam."

Macam-macam? Bukannya biasa saja ya kalau seorang anak lelaki punya satu atau dua hal yang seperti itu?

"Menggemari idol kan wajar buat anak lelaki seumuran Yamamoto-san?"

"Bukan maca-macam seperti itu maksudku. Maksudku aku tidak mau _-san salah paham," jawab Yamamoto-san. Dia tidak menatap ke mataku.

Maksudnya salah paham? Jangan-jangan dia tidak mau aku cemburu? Masa' sih? Aduh bagaimana ini? Aku jadi berharap.

Kenapa Yamamoto-san tidak bicara lagi? Aku harus berkata apa di situasi seperti ini?

"Kak Takeshi ini bagaimana?" Pertanyaan adikku itu memecahkan keheningan yang aneh di antara kami berdua. Yamamoto-san langsung buru-buru bangkit dan berjalan ke tempat adikku sementara aku hanya diam saja.

Setelah itu kami tak berbicara ataupun bertatapan lagi sampai orang tuaku memanggil untuk pulang.

"Datang lagi ya lain kali!" Yamamoto-san melambaikan tangannya. Lambaian itu dibalas oleh adikku dengan lambaian yang tak kalah semangatnya dan dengan senyuman oleh ayah-ibuku. Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil membungkuk sedikit.

Saat mataku bertatapan dengan mata Yamamoto-san secara tidak sengaja kami berdua langsung sama-sama melihat ke arah lain dengan canggung. Sepanjang perjalanan pulang aku jadi bingung sendiri. Kenapa bisa jadi begini sih?

Ketika orang yang kau sayangi memberi secercah harapan padamu apa yang akan kau lakukan?

~oOo~


Fuuuh~

Saya membuat chapter ini di Puncak di Kota Bunga..

Maunya sihh langsung di update tapi ketiadaan koneksi internet menyulitkan saya..

Rasanya ada penurunan kadar romance di chapter ini ya?

Haaah~

Bagaimanapun juga ini fanfic pertama yang saya buat..

Jadi tolong kritik dan sarannya yaaa!