1st fanfic by~Yaklin1412

Yamamoto X OC / _

Disclaimer : Akira Amano


Mengejar Hujan


Chapter 9


Hari ini hari Senin, hari yang paling menyebalkan dalam satu minggu. Hari yang membuat semuaorang malas bangun dari tempat tidur mereka. Tapi tidak demikian bagiku.

Walaupun biasanya pada hari Senin aku juga malas tapi entah kenapa hari ini aku bangun pagi-pagi sekali. Terlalu pagi malah. Sekarang ini aku sudah berada di dapur rumahku dan menyeduh teh hijau serta memanaskan kue yang kemarin dibeli ibu. Pasti ini karena e-mail dari Haru kemarin.

"_-chan! Besok Haru mau pergi ke SMP Namimori lagi! Dan tahu tidak? Gokudera-san bilang ke Haru, mmm lebih tepatnya sih Gokudera ngomel2 bahwa besok si baseball freak a.k.a. Yamamoto-san akan ikut pulang sekolah! Jadi besok pulang sekolah ikut yaa!"

"Haaah." Aku menghela nafas sambil menuang teh ku yang sudah jadi dan duduk di salah satu kursi di meja makan.

Bagaimana aku harus menghadapi Yamamoto-san setelah kejadian seperti kemarin? Pasti kami berdua akan sama-sama bertingkah kikuk dan aneh.

"Lho? _-chan? Kok kamu sudah bangun jam segini, sayang?" tanya ibuku yang masih mengenakan baju tidurnya. "Tadi ibu kira ada tikus di dapur," kata ibuku lagi.

"Tidak ada apa-apa kok, bu. Ini sarapannya sudah kupanaskan." Aku menunjuk ke arah kue-kue yang sudah kususun di atas piring di tengah meja makan.

"Terima kasih ya. Ibu mandi dulu ya. Hoaahm." Ibuku berjalan ke arah kamra mandi meninggalkanku sendirian di ruang makan ini. Aku menatap teh ku sambil terus memakan kue.

Aku memikirkan apa yang harus kukatakan saat bertemu Yamamoto-san nanti.

"_-chan! _-chan!" Haru memanggil namaku seraya menggoncang-goncang bahuku.

"Eh? Ada apa Ha-chan?" tanyaku bingung. Panggilan Haru barusan membangunkanku dari alam bawah sadarku.

"Hahii. Belnya sudah berbunyi, lho!" Haru terlihat agak sebal melihatku yang bengong sampai mengacuhkannya.

"Eh. Oh ya? Sepertinya aku bengong selama jam pelajaran terakhir tadi. Syukurlah pelajaran terakhir tadi hanyalah pelajaran bahasa. Pelajaran yang sangat mudah bagiku.

"Hahii. Benar-benar deh. Ya sudah ayo kita pergi!" Haru menarik tanganku dengan tidak sabar. Aku hanya pasrah saja ditarik-tarik oleh temanku yang satu ini.

Selama perjalanan di kereta Haru bercerita soal proses pembuatan kostum untuk festival sekolah kami nanti. Aku mendengarkan sambil sesekali memberi komentar. Haru semangat sekali kalau sudah membicarakan soal kostum.

"Kita sudah sampai, ya?" gumamku sambil menatap bangunan sekolah yang sudah sempat kudatangi beberapa kali itu.

"Iya! Mana ya Tsuna-san?" Haru menengok ke kanan kiri di depan gerbang sekolah Namimori. Aku hanya mengamati Haru sambil bersender ke pagar gerbang sekolah itu.

"Kyoko-chan!" tiba-tiba Haru berlari ke arah salah seorang murid perempuan yang baru keluar dari bangunan sekolah itu.

"Haru-chan!" kata gadis manis berambut coklat muda kekuningan itu sambil meghampiri Haru. Mereka berdua lalu mengobrol dan tertawa-tawa.

"Kyoko-chan kenalkan ini temanku namanya _." Aku dan gadis manis itu saling membungkukkan badan.

"Kenalkan namaku Sasagawa Kyoko! Kalau yang ini Kurokawa Hana!" Aku lalu saling membungkuk dengan gadis cantik bergaya dewasa di sebelah Kyoko.

Tanpa sadar kami berempat sudah mengobrol dengan akrab. Hana-san dan Kyoko-chan benar-benar baik dan ramah. Aku juga cocok dengan mereka berdua. Kami bahkan berjanji pergi makan kue bersama-sama.

"Tsuna-san!" Haru dengan senyum lebar dan suara yang lantang memanggil Tsuna yang baru keluar dari gerbang sekolah. Di belakangnya ada Gokudera dan Yamamoto-san.

DEG

Aku bisa merasakan jantungku mulai berdebar saat melihat sosoknya. Yamamoto, Tsuna, dan Gokudera berjalan ke arahku, Haru, Hana, dan Kyoko.

"Haru sedang apa kau disini?" tanya Tsuna pada Haru.

"Haru datang untuk menemui Tsuna-san!" Haru langsung menggandeng lengan Tsuna.

"Waah, kalian akrab sekali ya," kata Kyoko saat melihat Haru dan Tsuna.

"Kyo- Kyoko-chan bukan begitu i- ini."

Tsuna-san terlihat panik dan mencoba melepaskan tangan Haru sementara Haru tetap menggandeng tangan Tsuna-san. Hana hanya geleng-geleng kepala melihat Haru dan Tsuna sementara Kyoko hanya tersenyum-senyum saja.

"Jangan dekat-dekat Jyuudaime, wanita bodoh!" Gokudera membentak Haru dan lalu mereka berdua mulai saling mengejek. Tsuna mencoba melerai mereka sementara Yamamoto …

Aku tidak berani melihat ke arah Yamamoto tapi aku yakin dia pasti hanya tertawa-tawa saja.

"Ahaha."

Benar kan dia hanya tertawa saja? Khas Yamamoto sekali …

"Eh, sudah jam segini! Sudah mau malam lebih baik kita cepat pulang," kata Hana sambil melihat jam tangannya.

"Iya ya, matahari sudah mau terbenam dan besok ada ulangan. Ha-chan ayo pulang." Aku menarik tangan Haru. Haru langsung cemberut dan dengan setengah hati melepas lengan Tsuna.

"SAWADA! Bergabunglah dengan klub Boxing!"

Tiba-tiba muncul seorang anak lelaki berambut abu-abu dengan plester di hidungnya. Kedua tangannya dibungkus perban dan dia mengenakan seragam Namimori. Sepertinya dia adalah kenalan Tsuna juga.

"Kakak! Jangan merepotkan Tsuna-kun," kata Kyoko pada orang yang sepertinya kakaknya itu.

"Oh ya kenalkan ini kakakku, Sasagawa Ryohei." Kyoko mengenalkan orang itu padaku.

"Ooo! Salam kenal!"

Aku hanya membungkukkan badanku. Suara orang ini keras sekali. Sulit dipercaya Kyoko yang baik dan lembut punya kakak seperti ini.

"Kakak dari tadi kemana saja?" tanya Kyoko pada kakaknya.

"Aku tadi habis latihan keliling sekolah 10 putaran sebelum pulang dengan EXTREME!" jawab kakaknya itu dengan semangat berlebih.

"Ya sudah ayo kita pulang. Kami pulang duluan ya." Kyoko, Hana, dan Ryohei melambaikan tangannya ke arah kami yang masih berada di depan gerbang sekolah.

"Kalau begitu kita juga pulang yuk, Ha-chan." Aku menarik tangan Haru.

"Hahii. Ya sudah, Haru pulang dulu ya, Tsuna-san!"

Haru melambaikan tangannya dengan semangat sementara aku hanya melambaikan tangan sambil tersenyum tipis. Aku masih tidak berani melihat ke arah Yamamoto-san.

Di perjalanan ke stasiun aku dan Haru membicarakan soal ulangan besok. Aku dan Haru sama-sama pintar jadi kemungkinan besar kami tidak akan kesulitan mengerjakan ulangan besok.

"Midori tanabiku namimori no"

"Dai naku shou naku nami ga ii"

Burung kuning yang seingatku pernah kuberi makan saat menonton pertandingan Yamamoto-san itu terbang mengitar dan hinggap di pundakku.

"Hahii. Lucu sekali burungnya." Haru mengelus kepala burung kecil di pundakku itu. "Sejak kapan _-chan memelihara burung? Kenapa tidak cerita ke Haru?"

"Ini bukan peliharaanku Ha-chan." Aku juga bingung kenapa burung ini ada disini. Burung itu mematuk pundakku pelan. Aku menatap mata bulat hitam burung kecil itu.

"Kau lapar ya?" Aku merogoh-rogoh tasku mencari kuaci. Ah! Ini dia.

"Ini." Aku menyodorkan satu ke depan paruh burung itu. Burung itu mengambil kuaci itu dan terbang turun ke tanah. Dia mematuk-matuk kuaci di tanah. Aku dan Haru berjongkok sambil memperhatikan burung itu makan. Setelah kuaci itu habis burung itu mulai bercicip sambil mengepakkan sayapnya.

'Hahii. Sepertinya dia masih lapar," kata Haru kepadaku.

Aku meletakkan beberapa kuaci lagi. "Ternyata kadang-kadang kebiasaan _-chan membawa kuaci kemana-mana berguna juga ya," kata Haru lagi.

"Apa yang kalian lakukan?"

Ada suara seorang pria yang terdengar dingin dan membuatku merinding. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat asal suara itu tapi yang kulihat hanyalah sebuah bayangan yang bergerak dengan kecepatan luar biasa. Mataku hampir tak bisa mengikuti gerakan bayangan itu dan hal terakhir yang kulihat adalah sebuah besi berwarna perak lalu-

TRANG

Bunyi besi beradu dengan besi. Seorang lelaki melindungiku dari serangan besi yang hampir mengenai kepalaku itu dengan sebuah pedang. Pria yang memegang pedang itu berdiri membelakangi aku dan Haru.

"Kalian baik-baik saja?" tanya sosok yang menolongku itu.

"I- iya," jawabku terbata. Masih kaget karena kejadian barusan.

Sepertinya aku kenal suara itu. Itu kan suara …

"Yamamoto-san!"

"Ahaha. Syukurlah kau tidak terluka."

Kenapa Yamamoto-san bisa ada disini? Siapa yang tadi mau menyerangku itu? Lalu Haru …

"Haru! Kau baik-baik saja?" Aku langsung menghampiri Haru yang sudah terduduk tidak jauh dariku.

"Haru baik-baik saja desu." Sepertinya Haru lebih kaget daripada aku. Aku langsung merangkul temanku yang gemetar itu.

"Ka- kalau tadi tidak ada Yamamoto-san …" Haru terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya terlihat agak kosong. Aku merangkul Haru lebih erat sambil mencoba menenangkannya.

Kudongakkan kepalaku lagi sambil menatap ke arah pria yang berdiri berhadapan dengan Yamamoto-san itu. Aku hanya bisa melihat sedikit dari balik tubuh tinggi Yamamoto-san. Rambut pria itu hitam dan matanya berwarna biru keabu-abuan. Matanya tajam sekali dan dipenuhi aura membunuh. Aku bergidik ngeri menatapnya. Senjata pria itu masih beradu dengan dengan dengan sedang Yamamoto-san. Senjatanya ton-fa? Senjata yang jarang kulihat.

"Yamamoto Takeshi. Minggir," kata pria itu pada Yamamoto-san.

"Kalau aku minggir apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Yamamoto-san pada pria itu.

"Akan kugigit mereka sampai mati." Aku merinding. Dari tatapan mata pria itu sepertinya yang dia maksud dengan "gigit sampai mati" adalah dia akan menghajar aku dan Haru habis-habisan.

"Kalau begitu sepertinya aku tidak bisa menuruti kemauanmu itu, Hibari." Hibari? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.

"Kalau begitu aku akan menggigitmu sampai mati dulu."

Pria yang sepertinya bernama Hibari itu lalu mengayunkan ton-fa di tangannya yang lain ke arah kepala Yamamoto-san. Yamamoto-san menangkis dengan pedangnya lalu melompat mundur menjauh dari radius serangan ton-fa itu. Pria itu menyeringai sebelum dia maju dan menyerang Yamamoto-san lagi.

Aku dan Haru hanya bisa menyaksikan Yamamoto-san menghadapi pria itu sementara burung kuning kecil itu masih mematuk kuacinya dengan santai.

Gerakan mereka berdua cepat sekali. Yang terlihat di mataku hanyalah sekelebat bayangan pedang beradu dengan tonfa dan bayangan dua sosok. Tapi kelihatannya pria itu mengungguli Yamamoto-san karena sedari tadi Yamamoto-san hanya bisa menangkis serangannya saja.

DUAK

Tiba-tiba saja Yamamoto-san sudah terlempar. Pedang di tangannya terhempas entah kemana.

"Sepertinya kau sudah bertambah kuat herbivora."

Pria itu masih berdiri tanpa satu luka pun. Ada bercak darah di ton-fa nya. Jangan-jangan itu darah Yamamoto-san?

"Yamamoto-san!" Panggilku sambil melihat ke arah Yamamoto-san terlempar tadi, mencoba mencari sosoknya.

TAP TAP TAP

Pria yang tadi memukul Yamamoto-san dan hampir saja memukulku itu kini sudah berdiri dihadapanku. Aku tidak mengenali seragam yang ia kenakan tapi ada tulisan "Komite Kedisiplinan Namimori" di lengan jaket hitam yang disampirkan di bahunya.

Pria itu mengangkat daguku keatas dengan ujung ton-fanya. Memakasaku untuk menatapnya.

"Kau. Sejak dia bertemu kau dia tidak mau makan." Dia? Apa yang sedang orang ini bicarakan?

"Apa yang sudah kau lakukan?" tanyanya lagi. Mata biru keabuannya menatapku dengan tatapan dingin.

Dengan segenap keberanian yang kumiliki aku bertanya pada pria itu, "Dia siapa?"

Pria itu menggerakkan kepalanya sedikit ke arah burung kuning kecil yang sedang memakan kuaci didekatku lalu menatapku lagi.

Jangan-jangan yang pria ini maksud dengan "dia" itu burung ini? Tapi apa hubungannya burung kecil dan manis ini dengan pria kejam dan dingin ini?

"Cepat jawab aku." Pria itu menekan daguku lebih keras memakai ton-fanya.

Aku hanya bisa menelan ludah dalam kebingungan. Memang apa yang sudah kulakukan? Aku harus menjawab apa?

"Bu- bukannya dia sedang makan sekarang?" kataku sambil menunjuk burung kecil itu. Pria itu mengalihkan pandanganny ke arah burung kecil itu lalu dia menurunkan tonfanya dari daguku.

"Apa itu yang sedang dia makan?" tanya pria itu.

"Itu kuaci." Masa' dia tidak tahu apa itu kuaci?

"Makanan herbivora macam apa itu?" Dia memasang ekspresi seolah kuaci itu sasuatu yang menjijikkan sambil menatap burung kecil itu makan.

"Itu biji bunga matahari yang dikeringkan. Ini, kuaci." Aku mengulurkan satu kantung kuaci ke arahnya. Dia menatap dengan tatapan meremehkan dan sinis tapi dia mengambil kantung itu. Matanya menatap kantung kuaci itu dengan tatapan penuh selidik.

"Hibari Hibari." Burung itu langsung terbang ke atas kepala pemuda itu begitu ia selesai makan. Pemuda itu langsung melenggang pergi dengan burung itu.

Apa-apaan dia! Seenaknya datang dan memukul Yamamoto-san lalu pergi begitu saja! Dia mengambil kuaciku lagi!

"Ha-chan dia sudah pergi." Aku membantu Haru berdiri lalu kami sama-sama mencari Yamamoto-san.

"Yamamoto-san!" Aku dan Haru berlari meghampiri Yamamoto yang tergeletak di jalan.

"Yamamoto-san baik-baik saja?" Aku berjongkok di sisi Yamamoto-san sambil memegang bahu Yamamoto-san.

"Ahaha. Aku baik-baik saja kok," katanya sambil bangkit berdiri. "Kalian tidak diapa-apakan Hibari, kan?" tanyanya denganekspresi khawatir.

"Tidak. Tadi dia langsung pergi. Iya kan, Haru?" jawabku. Haru mengiyakan perkataanku tadi.

"Oh begitu, syukurlah." Dia tersenyum lega. Syukurlah Yamamoto-san baik-baik saja.

Setelah Yamamoto-san memungut sebuah pedang bambu dan tasnya akhirnya kami berjalan ke stasiun bersama-sama. Haru berjalan di tengah antara aku dan Yamamoto-san. Selama perjalanan ke stasiun kami tidak saling bicara.

Langit sudah gelap saat kami tiba di stasiun. Aku dan Haru menunggu kereta kami datang ditemani Yamamoto-san. Kami bertiga terhimpit di antara rombongan orang yang pulang kerja. Tangan kananku menggandeng tangan Haru sementara tangan kiriki menggenggam lengan baju Yamamoto-san.

Akhirnya kereta tiba. Orang-orang mulai turun dari kereta. Stasiun jadi bertambah ramai. Aku mempererat genggaman tanganku dengan Haru. Aku tidak mau kami terpisah di tengah keramaian ini.

"Terima kasih ya sudah mengantar kami, Yamamoto-san," kataku padanya sambil tersenyum. Haru juga berterima kasih dan tersenyum pada Yamamoto-san. Yamamoto-san membalas dengan tersenyum lebar.

Pintu kereta sudah dibuka untuk orang-orang yang mau naik kereta. Baru saja aku mau melepas lengan baju Yamamoto-san namun tiba-tiba dari belakang kami orang-orang berdesakan dan mendorong kami bertiga.

"Haru!" Aku panik. Genggaman tanganku dan Haru terlepas dan aku kehilangan dia.

"Haru! Haru!" Aku memanggil-manggil Haru sambil berusaha melawan arus orang-orang yang berdesakan. Tapi apa boleh buat akhirnya aku terseret gerombolan orang dan begitu aku sadar aku sudah ada di dalam kereta. Aku melihat keluar jendela kereta dan melihat Haru masih berada di stasiun.

"Haru!" panggilku sambil langsung berlari keluar dari kereta. Kuhiraukan peringatan bahwa pintu kereta akan segera menutup.

Tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan menahanku. "Jangan gegabah! Pintunya sudah mau menutup, kan!" kata orang itu.

"Tapi, Haru," kataku sambil berbalik menatap orang itu yang adalah Yamamoto-san.

"Tenang saja." Yamamoto-san tersenyum sambil menepuk kepalaku.

Entah kenapa melihat senyuman itu hatiku rasanya jadi tenang. Seolah semua kekhawatiran dan kecemasanku dibawa pergi oleh senyuman itu. Seperti hujan yang membasahi semua hal dan membersihkan bumi.

Akhirnya aku diam berdiri sambil menenangkan diri. Tangan Yamamoto-san masih mengusap kepalaku. Rasanya keramaian di sekitar ku lenyap begitu saja.

"Terima kasih ya, Yamamoto-san." Kuangkat kepalaku dan tersenyum padanya.

"Maa maa, tak usah dipikirkan." Dia menepuk kepalaku sekali lagi sambil tersenyum.

Terima kasih karena telah melindungiku dan menghapuskan gelisahku ya, Yamamoto-san …

~oOo~


Akhirnya update juga ..

Saya malas buat chapter ini sebetulnya..

Saya pengennya cepat2 menulis ke chapter 11..

Soalnya nanti OC-nya ….. sama Yamamoto-san..

"..." itu apa ya kira-kira?

Yang jelas bukan yang mesum-mesum kok..

Akhirnya Hibari keluar juga..

Kayaknya fic ini bisa jadi 80xOCx18 dehh..

Tapi saya tidak akan mengubah fic ini jadi OC18!

Saya setia ma Yamamoto saja!

Anyway..

Thanks for reading and review please!