Hanabi, I and My Trauma
Disclaimer: Masashi Kishimoto kok ._.v
Genre: Hurt/Comfort/Angst
Rate: T semi M
Pairing: Shikamaru Nara & Sabaku no Temari
Warning: OOC, miss typo, gaje, dan maybe AU
Summary: "Temari adalah perempuan yang menyukai kembang api. Tapi, pada suatu saat, kenangan yang buruk mengakibatkannya trauma akan kembang api. Kenangan apa yang tersimpan di dalamnya sehingga membuat dia trauma akan kembang api? CHAPTER 2 UPDATE! "
A/N: Sebelumnya, maaf kepada semua pihak yang merasa semua ff yang saya buat sangat membingungkan. Perlu saya garis bawahi bila saya selalu mengikuti alur cerita narasi, satu chapter atau dua chapter awal merupakan orientasi. Mulai chapter selanjutnya, akan ada evaluasi deskripsi yang rinci tentang semua yang terjadi.
Balas Review:
Deidei Rinnepero13 gaklogin: Tenang aja, emang bakal ada Deidara kok. Justru, Deidara menginspirasi saya, hahaha. Terima kasih, tapi saya masih jauh dari kata bagus dalam tata bahasa. Rated M bakal ada di chapter ini, sedikit sih –v. Fic ini masih in-progress kok. Maaf, gak bisa janji soal pair T.T
Hanamana Zui: Belum kok, dia sebenernya cinta dua-duanya. Tapi, lebih condong ke Temari karena ngira uda gak ada kesempatan lagi buat dapetin Ino. Jadi, ya, cintanya kurang tulus gitu. Oke, ini apdet kok.
Putri Suna: Iya, maaf gak gamblang penjelasan kisunya di chapter lalu -v. Wah, baca aja, insya allah gak mengecewakan ~
Kagome Sabaku: Maaf, saya tidak bisa memberi bocoran . Yang pasti belum tamat kok, doakan saya ^^ *ngarep*
Gui gui: Ini juga uda diusahakan kok, tapi saya gak janji bakal apdet kilat terus –v
Authorjelek: Wah, terima kasih :D TBC kok, maaf membuat bingung hehe. Sesuai dengan author note tadi, mulai chapter ini saya jelaskan. Summary yang saya buat itu tentang komplikasi yang terjadi. Saya merasa belum lengkap bila langsung ke komplikasi, karena saya belum lancar mengetik dengan laju mundur. Saya menerima semua review dengan baik kok, tenang aja.
Naoki: Sekali lagi aaf -v, masih kok. Siap! :D
Reader: Maaf, atas kelalaian saya. Semua fic saya tulis saat waktu orang tidur, jadi banyak kesalahan yang tidak disengaja terjadi. Terima kasih reviewnya..
CharLene Choi: Belum... oke
Temariris: uda baca author note, kan? Saya minta maaf tapi dengan semua kesalahan pada fic ini -v . Wah, pujian yang kurang pantas bagi newbie seperti saya ._. Ini multichapter kok
Shika Lovers: Iya, semoga suka ceritanya, ya!
Hanabi, I and My Trauma
Chapter 2: Kenangan di Bulan Agustus
By Dee Rui-chan
Enjoy fic .~
Temari langsung berlari, tak tentu arah. Menabrak setiap orang yang keheranan melihat seorang wanita tengah berlari dan menangis ketika kembang api meluncur. Hei, bukankah kembang api itu bagus dan menyenangkan? Mengapa gadis itu menangis? Apakah dia terharu hanya karena melihat kembang api? Untuk pertanyaan yang terakhir itu mungkin terlalu buruk untuk ditanyakan. Dia tidak peduli dengan getanya yang hampir lepas dari kakinya dari tadi. Terseok, dia hanya sanggup untuk berlari. Kembang api tidaklah seindah biasanya malam ini. Tidak, karena tidak semua orang yang menyukai senang melihatnya.
Perasaannya sangat hancur bertubi-tubi. Mengapa di saat dia bisa mencintai orang dengan tulus untuk yang pertama kali harus berakhir dengan menyakitkan seperti ini? Apalagi, mengapa harus Ino yang merebutnya? Selama ini, Temari menyangka dia sudah terlambat untuk mendapatkan Shikamaru karena melihat kedekatannya dengan Ino. Tapi, setelah mengetahui hubungan keduanya yang hanya bersahabat, dia berusaha menjadi perempuan yang merepotkan bagi Shikamaru, karena dia tahu Shikamaru menyukai perempuan yang merepotkan. Seandainya malam ini Sai tidak memutuskan hubungannya dengan Ino, seandainya Ino tidak berusaha bersandar pada Shikamaru, seandainya Shikamaru tidak memunculkan lagi secercah harapannya terhadap cintanya pada Ino hanya karena Ino lari kepadanya di saat-saat sulit, seandainya Shikamaru tidak berada di antara dua gadis yang dia cintai dan tahu mana tempatnya bisa melabuhkan hati, juga seandainya Temari tidak mencintai orang yang salah. Terlalu banyak kata 'seandainya'. Kita tahu kita hanya bisa berandai tentang hal yang kita ingin hal itu terjadi maupun tidak. Tapi kita tahu, tidak semua atau perlu digaris bawahi jarang ada yang yang tidak bertentangan dengan kenyataan yang terjadi. Jika ada seseorang yang sakit hati dalam cinta segi berapa saja, pasti akan menyakiti tokoh lainnya. Tampak dari kejauhan, ada seorang pria yang memakai kostum badut—berbentuk kelinci tampak puas dengan apa yang telah berhasil di kerjakannya.
"Senangnya melihat kembang api... apalagi pada festival musim panas ini," kata seorang pria seraya menyeka keringat yang mulai menetes di dahinya.
Rasanya malam pun akan terasa panas bila di musim panas. Tapi, keceriaan orang-orang membuatnya tidak goyah dalam melakukan segala pekerjaannya. Pekerjaan yang dia dapat yang mengharuskannya melakukan perbuatan 'dosa' tiap saat. Pakaiannya saat ini mungkin menutupi ketampanan yang tersirat di wajahnya. Wajah yang selalu ia tutupi dari gadis-gadis. Mungkin dia tidak seganteng Kakashi ataupun Sasuke, tapi dia mempunyai daya tarik dengan rambut pirang panjangnya. Kostum bergambar kepala kelinci yang dipakainya dipakainya kembali setelah tugasnya mengurus kembang api selesai. Dia tersenyum senang. Dia sangat menyukai kembang api. Dia menatap kembang api yang sebentar lagi akan berhenti meledak di udara. Itu pertanda, dia akan siap untuk bekerja lagi bila sebuah kembang api terakhir telah meledak.
Tiap orang yang ditabrak Temari akan memarahinya lalu menyingkir dengan tatapan 'cewek aneh' menurut pandangan mereka. Tapi, tiba-tiba...
"Aww!" geta yang dipakainya menginjak kaki badut itu. Walau memakai sepatu berbentuk kelinci pula yang tampaknya tinggi dan tebal, sepatu itu tidak cukup untuk membuat orang nyaman bila memakainya. Jadi, jangan salahkan dirinya bila ia akan merasa kesakitan bila ada seseorang apalagi gadis yang sedang terguncang hatinya, tanpa sengaja menginjaknya dan membuatnya mengaduh.
"Ah, maaf!" tubuh itu bergetar ketika mengatakan itu. Bodohnya dia, setelah menginjak kaki sang badut, dia hampir terjatuh yang membuat si badut berusaha menggapainya agar tidak jatuh. Naluri laki-laki berambut pirang ini mungkin tidak bisa dibilang masuk dalam lelaki yang peduli dengan wanita. Namun, warna rambut sang gadis yang senada dengannya membuatnya mau tak mau seperti melihat ibunya kembali. Ya, ibunya yang telah meninggal jauh sebelum ia bisa melihat jelas dunia ini. Ia selalu membayangkan bagaimana sosok wajah ibunya, tapi tidak pernah berhasil walau hanya sekadar imajinasi atau fatamorgana semata.
Keseimbangan tubuhnya tidak memihak padanya. Walaupun sudah ditahan, tapi karena lamunannya tentang masa lalu kelam membuat ia tidak sadar sejenak sehingga terjatuh. Beruntung ia jatuh terduduk dengan posisi topi kelincinya menutupi wajahnya lagi. Kakinya tidak bisa diajak kompromi—kesakitan tepatnya karena gadis yang menindih badannya tidak jua mencoba untuk berdiri.
Terbersit rasa iba dalam dirinya. Dia ingin merangkul gadis ini, membantu meringankan beban yang sedang dialami, dan mengenalnya lebih jauh. Ah, tidak tidak! Opsi terakhir itu berusaha ia jauhkan dari pikirannya. Karena ia tahu, ia sudah punya 'kekasih'. Oke, berarti opsi lain akan dipilihnya.
"Ada yang bisa ku bantu, Nona?" sapa pria berambut pirang ini.
Temari sesungguhnya menginginkan teman untuk bercerita di kala kesedihannya yang sudah mencapai puncaknya ini. Tapi, mengapa yang dikirimkan Tuhan adalah seorang badut yang berkostum kelinci? Bukannya takut merasa konyol, hanya saja dia tidak menyangkanya. Selama ini., Temari dikenal sebagai gadis tomboi yang akan selalu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi, tetap saja dia manusia normal yang membutuhkan sandaran. Ya, sandaran dimana dia bisa menumpahkan segala hal yang dia rasa harus ditumpahkan. Tidak peduli orang itu hanya bisa menjadi pendengar yang baik, maupun hanya sekadar pemberi solusi. Yang pasti, dia benar-benar butuh tempat bersandar. Di hadapannya, hanyalah badut ini yang ada. Tak ada salahnya 'kan mencoba? Toh, dia tidak mungkin menunggu sampai rumah untuk bisa menumpahkan ini semua. Adik-adiknya bukanlah orang yang bisa dimintai waktu untuk mendengarkan curhat dari kakak tercintanya. Mereka lebih memilih pergi untuk menjalankan misi.
"Bolehkah aku bercerita padamu?"
Deidara—nama laki-laki itu agaknya tersentak. Ia tidak menyangka bila ada seorang gadis yang datang padanya untuk bercerita, di saat mereka saling belum mengenal pula. Melihat mata gadis itu yang memancarkan sorot sakit yang mendalam, membuatnya ingin membantu sang gadis.
"Baiklah, mungkin kita bisa mendengarkan ceritamu di dekat sana?" Deidara membantu Temari berdiri, lalu ia mengibaskan tanah yang menempel pada kostum badutnya seraya ia menunjuk sebuah rumah pohon yang berada di belakang tempat pemasangan kembang api.
Temari hanya menurut. Mereka pun saat ini telah berada di atas rumah pohon tersebut. Air mata yang terlihat mulai mengering di sudut matanya, basah lagi. Sedih itu datang lagi menghampirinya. Langsung saja dari bibir manisnya, keluar semua sakit hati yang dirasakannya. Deidara hanya bisa mendengarkan dengan seksama sambil dengan ragu ingin merangkul pundak Temari untuk menenangkan isak gadis tersebut. Akhirnya ia melakukannya, Temari tidak menunjukkan adanya penolakan. Pada akhir cerita, tiba-tiba saja Temari berseru.
"Aku benci kembang apiiii!" seruannya itu sangat keras. Dia meneriakannya untuk melepas sakit hatinya yang mulai berkurang semenjak Deidara menawarkan bantuan untuk menjadi pendengarnya.
Deidara hanya tersenyum kecut di balik kostum badutnya. Ia juga membenci kembang api. Karena kembang apilah yang menyeretnya ke dunia ceria yang ternyata sarat maksiat. Memorinya memaksa untuk memutar film masa lalu yang pernah ia alami, yang masih sangat jelas terpatri di otaknya.
"Aku akan memberikanmu pekerjaan,"
"Sungguh, Tuan?"
"Ya, jadilah kekasihku dan kau akan mendapat pekerjaan,"
Bocoran chapter depan:
"Tadi, siapa gadis itu?"
"Ingat, kau milikku seorang!"
"Dia hanya gadis bodoh, aku tidak mungkin dekat dengan dia, aku mencintaimu,"
"Ibu, aku menemukan gadis yang mirip sepertimu,"
"Aku berharap kau masih disini,"
"Sepertinya mengunjungi festival akan menjadi hobiku selama musim panas,"
"Aah~ Shi-Shika~ . Cium aku lagi ~"
"Percayalah, ini lebih menyakiti hatiku dibandingkan hatimu,"
"Aku memang gadis bodoh, tapi aku punya perasaan!"
"Entahlah, rasanya ini seperti bukan duniaku saja..."
Opini, kritik, saran, dan review? Saya terima, justru malah sangat dibutuhkan, karena saya malah gak pede dengan fic ini ._.
