Setting: [RALAT] !! fanfic ini terjadi 10 tahun setelah (hampir) true ending.
Author's note: fiuh…saya lega. Saya kira para pembaca bkl blg fanfic saya ini aneh lah, gila lah, g nyambung lah, apa lah –diinjek krn nuduh sembarangan-. Hahahaha, nah, saya pengen banget nanyain beginian nih dari para pembaca. Mari saling berbagi pengalaman. Dalam memainkan Persona series…terutama P3&P4, kira2 apakah hal penting yang anda pelajari dari game2 series tsb? Hahaha, maaf klo pertanyaan saya nih uaneh dan gak nyambung blas, tp saya bener2 ingin tau –dilindas krn maksa-. Maksud saya, pasti ada berbagai hikmah dan hal penting yg kalian pelajari dari bermain persona series. Jika kalian tak ingin membicarakannya karena terlalu bersifat pribadi, saya nggak memaksa kok. Saya Cuma ingin tahu saja. –dibunuh karena bertindak aneh-
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Chapter 2 : Welcome to Inaba
"Save your tears cause I'll come back"
I could hear that you whispered as you walked through that door
But still I swore
To hide the pain, when I turn back the pages
Shouting might have been the answer
What if I cried my eyes out and begged you not to depart
But now I'm not afraid to do what's in my heart
1000 Words – Final Fantasy X-2
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
JESS…JESS….JESS…
Pada awalnya suara itu hanya terdengar samar-samar saja. Lama kelamaan suara tersebut mengeras di telinga Sakura. Ia tertidur lelap selama perjalanan dari Tokyo ke Okina. Nyenyak sekali, tanpa ada gangguan dalam mimpi maupun dunia nyata. Sakura menerawang memandangi pepohonan di luar jendela kereta sambil sesekali memperhatikan ponselnya yang sering berkedip-kedip karena banyak SMS yang berdatangan. Gadis tunggal keluarga Seta ini memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen -yang bisa dibilang lumayan mewah-. Kebetulan apartemen yang akan ditinggalinya dekat sekali dengan stasiun dan rumah salah seorang sahabat penanya di internet. Sepertinya hidup barunya tak akan susah-susah amat di Okina.
"Perhatian…perhatian…kereta akan segera mencapai stasiun sekitar 30 menit lagi…terima kasih."
'Masih ada banyak waktu' pikir Sakura. Selanjutnya ia pun asyik melamun dan tak terasa ia juga mengenang beberapa hal yang telah menjadi salah satu sejarah hidupnya dulu.
Flashback
Saat itu Sakura masih kecil, lebih tepatnya masih berusia 7 tahun. Di hari itu ia beserta kedua orang tuanya sedang berada di bandara. Ayah dan Ibunya masih sibuk mengurus barang di counter dalam, supaya tidak menghambat mengurus barang, ia dititipkan ke kakaknya terlebih dahulu. Di hari itu Sakura masih sangat imut dan lucu, sehingga rambutnya sering dikuncir –entah macam apa kunciran itu- oleh kakaknya yang suka bereksperimen (kejam! Adik sendiri dijadikan bahan eksperimen!!). Sakura hanya bisa terus cemberut karena rambutnya terlalu banyak dikuncir sampai-sampai kusut. Souji pun kehilangan akal untuk mengubah kunciran rambut adik semata wayangnya yang semakin nggak karuan karena eksperimen gagalnya.
"Onii-chan!!" teriak Sakura ketus sambil melipat tangannya, menunjukkan bahwa ia sudah dongkol karena aksi kakaknya yang…terlalu usil bila bersamanya.
"Sebentar dong, Kura-kura-chan. Sebentar lagi jadi." Kata lelaki itu memanggil adiknya dengan sebutan 'kura-kura'.
Alhasil, kunciran yang ada di kepala Sakura semakin mengerikan untuk dipandang. Kuncirannya mencuat kesana kemari, banyak karet-karet yang bergelantungan di sana sini. Souji yang tak tahan akan hasil ciptaannya itu tertawa terbahak-bahak, menertawai adikknya dengan kunciran semrawut yang dibuatnya. Tawa Souji yang semakin meledak diiringi dengan suara mewek Sakura.
"Hwaaaa!!! Sakura-chan benci onii-chan!!! Hwaaaaa!!!" tangis Sakura tak tertahankan lagi. Sebal karena ditertawakan. Bukankah itu ulah onii-chan yang membuatnya semakin terlihat aneh?
Souji yang dari tadi ketawa-ketiwi sendiri tersedak tiba-tiba begitu mendengar adiknya menangis. Ia cepat-cepat melepaskan kunciran-kunciran di kepala adiknya dan meraih tas yang sedang digendong Sakura. Lelaki 17 tahunan itu membuka ritsleting tas dan mengambil sisir kecil yang sengaja telah diselipkan Ibunya ke dalam tas adiknya. Mengingat saat kecil Sakura suka bertingkah, Souji jadi semakin suka menguncir rambut adiknya dengan alasan agar tidak semrawut. Padahal justru jika dikuncirnya malah semakin mirip gembel saja. –ditonjok Souji-
"Iya-iya, kuperbaiki." Kakaknya menyisir rambut yang kusut itu pelan-pelan, kemudian dibelahnya sisi rambut itu menjadi 2. Ia mengambil salah satu karet dan menguncirnya di sisi kira, lalu melakukan hal yang sama di sisi kanannya. Setelah selesai dengan munguncir rambut belakang, Souji memutar posisi Sakura menghadap dirinya. Anak tertua keluarga Seta itu merogoh kantong celananya dan mendapati 2 pasang jepit kristal dan menjepitkannya di poni rambut Sakura pada kedua sisinya yang hampir menutupi mata abu-abu indahnya.
"Eh? Apa itu, Onii-chan?" Tanya si gadis cilik sambil meraba-raba kepalanya untuk menemukan jepit yang dipasangkan kakanya tadi.
"Jepit kristal. Hadiah buatmu." Katanya sambil tersenyum simpul. Raut sedih di wajah adiknya segera terangkat dan tergantikan dengan seulas senyum yang termanis.
"Oya? Lalu," Sakura pun berputar sambil menjinjing roknya. "Apa aku terlihat lebih cantik?"
Souji mengernyitkan dahi sambil bertopang dagu serta menggumam, lalu tersenyum dan mengelus-elus kepala adiknya. "Terlihat lebih manis. Hahahaha…"
"Kalau begitu, Sakura-chan akan membuat onii-chan mengakui kalau Sakura-chan memang cantik suatu hari nanti."
"Hmm…ya, suatu hari nanti, atau mungkin tak akan pernah? Hahaha…"
"Wew…liat saja nanti kalau Sakura-chan sudah besar! Akan kubuat Onii-chan mengakui pada saat itu juga kalau Sakura-chan memang cantik." Dan Souji kembali mengelus-elus kepala Sakura.
Dari kejauhan terlihat kedua orang tua mereka berjalan mendekati mereka dengan 3 lembar tiket di genggaman tangan, menandakan kalau sudah waktunya mereka pergi. Souji yang menyadarinya berlutut tepat di depan adiknya, memeluk gadis cilik di depannya sebelum mereka berpisah. Sedikit demi sedikit senyuman yang tersungging di wajah imut Sakura mulai tergantikan oleh kemurungan tanpa ia sadari. Setelah lama memeluk, Souji menyerahkan tas karton yang cukup besar entah berisi apa kepada Sakura.
"Apa ini, Onii-chan?"
"Hadiah juga. Nah, jadi gadis yang baik ya?" pesan Souji pada adiknya.
"Onii-chan tidak ikut pergi?" Tanya Sakura yang sudah mulai mewek. Souji hanya menggeleng pelan.
"Jangan nangis dong, nanti kelihatan jelek lho, Kura-kura-chan. Senyum."
Setelah saling mengucapkan perpisahan, Ayah dan Ibu Souji dan Sakura mengajak Sakura berjelan mendekati pintu gerbang keberangkatan. Saat berjalan mendekati gerbang, Sakura hanya tertunduk saja tanpa berkata apa-apa. Ayahnya melepaskan gandengan tangannya mendahului istri dan putrinya untuk mengurus tiket terlebih dahulu. Sakura berhenti tiba-tiba, membuat ibunya juga berhenti, lalu gadis cilik itu menoleh ke belakang untuk melihat Onii-chan nya lagi. Ibunya sedikit menarik tangannya, menandakan ia harus kembali berjalan mendekati gerbang keberangkatan. Sakura pun kembali berjalan ditambah dengan air mata yang mulai menggenang di kedua matanya. Ketika hampir mencapai pintu gerbang, langkah-langkah kaki Sakura terasa semakin berat sampai-sampai ia seret-seret, namun akhirnya berhenti juga. Kali ini ia tidak menoleh ke belakang, hanya berhenti berjalan saja. Ibunya kembali melakukan hal yang sama, dan Sakura pun kembali berjalan mengikuti Ibunya.
Tepat saat ia telah berdiri di depan pintu gerbang keberangkatan, langkah kakinya sudah semakin berat dan berat. Rasanya seperti tak mampu berdiri lagi. Sakura segera melepaskan gandengan ibunya ketika Ayahnya kembali ingin menggandeng tangannya. Ia berbalik dan berlari secepat mungkin ke belakang. Souji yang sudah berbalik untuk menuju ke pintu keluar itu terhenti begitu mendengar teriakan adik kesayangannya memanggil-manggilnya dari kejauhan. "Sakura-chan!" jerit ibunya pelan karena terkejut.
"Onii-chan!! Onii-chan!!" Sakura semakin cepat berlari, menyelip-nyelip di antara orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Ketika sudah dekat sekali dengan Onii-chan nya, ia melompat dan memeluk Souji seerat mungkin serasa tak ingin meninggalkan kakaknya. Souji kembali membalas pelukan Sakura. Ia merasa pundaknya mulai membasah berkat air mata Sakura yang sudah tak bisa ditahan oleh gadis cilik itu lagi.
"Sakura-chan nggak mau pergi tanpa Onii-chan! Hwaaaaaahh…" tangis Sakura dengan air mata mengucur deras. "Sakura-chan pasti kesepian tanpa Onii-chan. Hwaaahh…uhuhu…"
Kali ini Souji tak berkata apa-apa untuk menghentikan tangisan Sakura. Karena, mustahil gadis berusia 7 tahun tak menangis kalau akan berpisah dengan kakaknya. Souji hanya mengelus-elus pundak adiknya, mencoba untuk menenangkan. "Bukannya Kura-kura-chan benci Onii-chan?" Tanya Souji pelan yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Sakura.
"Sakura-chan nggak pernah benci Onii-chan." Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan kata-kata yang selanjutnya, malu untuk mengungkapkannya. Souji membisikkan beberapa kata di telinga Sakura. Entah perasaan apa itu, Sakura merasa harus mengungkapkan apa yang tak pernah ia ungkapkan sekarang pada kakaknya sebelum terlambat.
"Sakura-chan sayang Onii-chan!"
End Flashback
Di tengah suara laju kereta yang selalu terdengar sama dari waktu ke waktu, Sakura meraih sebuah tas karton yang ia letakkan di kursi sebelahnya. Tas karton itu sangat besar, berwarna coklat tua, tas yang sama seperti saat Souji dulu memberikannya pada Sakura. Gadis tunggal itu membuka tas dan mengangkat sebuah boneka Teddy bear besar berwarna coklat pula dan kemudian dipangkunya boneka itu. Satu per satu air matanya menetes mengingat-ingat hari terakhir Sakura bertemu kakak tersayangnya, Hari terakhir ketika ia mendengar suaranya dan Saat-saat terakhir ia dapat merasakan pelukan hangat dari kakaknya yang kini hilang entah kemana. Di saat itu juga ia kembali ingat bisikan kakaknya yang tak pernah ia lupakan. "Kalau ingin menangis, menangislah. Kadang menangis akan membuatmu menjadi lebih baik dan lega karena kau bisa mengeluarkan kepahitan yang kau alami dari hatimu."
"Kereta akan segera sampai di stasiun dalam waktu 5 menit. Kami ingatkan agar jangan sampai ada barang anda yang tertinggal. Terima kasih…"
Mendengar pengumuman tersebut, Sakura segera mempersiapkan barang-barang yang dibawanya.
Sakura's Apartment
Begitu tiba di kamarnya, tanpa menunggu 10 detik kemudian Sakura sudah merebahkan tubuhnya di sebuah kasur besar yang empuk. Maklum, ia membawa barang yang kelewat banyak, untuk lebih mengirit, ia membawa barang-barangnya sendiri ke kamarnya yang terletak di lantai 13. Napasnya menggos-menggos, mirip ikan sekarat yang terkapar. Seperti apa yang telah dijelaskan tadi, Apartemen Sakura tergolong mewah. Di sana tersedia 2 kamar dengan ukuran besar, disertai 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 ruang duduk santai, serta balkon yang menghadap ke arah pegunungan yang saling berjejer. Tentunya apartemen yang ditinggalinya sekarang ini telah diisi beberapa property penting lainnya. Karena kelelahan mengangkat seluruh barang-barangnya seorang diri dari lantai basement hingga ke kamarnya, Sakura menyalakan AC dan beranjak menuju ke kamar mandi tak lupa membawa baju ganti, dll.
Setelah Sakura selesai membersihkan diri dan melangkah keluar kamar mandi, jam sudah menunjukkan pukul 6 malam. Karena ia tak memiliki minyak goring atau semacamnya, gadis itu memutuskan untuk makan di kedai ramen terdekat saja. Ia memutuskan untuk duduk-duduk santai dulu di depan TV yang sedang menyala di hadapannya. Berbagai macam channel terus ia ganti, merasa tak suka dengan tayangan pada beberapa channel. Pijitan Sakura pada tombol yang terdapat di remote TV terhenti ketika ia menemukan siaran TV yang dicari-carinya.
Seorang penyiar bulletin berita di TV menyiarkan beberapa kasus-kasus dan insiden-insiden yang sama sekali tak menarik minat Sakura. Karena merasa tak tertarik, ia memutuskan untuk melanjutkan membaca buku tebal yang dipinjamkan Igor beberapa hari yang lalu. Halaman demi halaman ia telusuri lebih dalam. Tiba-tiba si penyiar merubah susunan berita yang akan disampaikannya dan menyampaikan berita terbaru yang akan segera diedarkan.
"Beberapa staff kami baru saja memperoleh kabar terbaru dari insiden yang terjadi beberapa lalu terkait dengan berpindahnya kabut yang semula berasal dari Inaba ke Okina. Dikabarkan, muncul sebuah kereta misterius yang datang berasal dari Inaba pada pukul setengah 6 tadi. Menurut para saksi mata yang berada di lokasi setempat, kereta tersebut hanyalah kereta tua yang berkarat dan hanya terdiri dari 2 gerbong saja. Setelah diperiksa kembali oleh tim investigasi kepolisian, tak ditemukan seorang penumpangpun maupun masinis yang seharusnya berada di dalam-" pandangan mata Sakura teralihkan dari buku tebalnya menghadap ke layar TV.
"Hmm…kereta misterius? Menarik…." Katanya sambil manggut-manggut. Perutnya yang sedari tadi teriak-teriak kelaparan hilang sudah dengan rasa penasarannya yang timbut 10 detik yang lalu.
Stasiun Kereta
Berkat keisengan Sakura yang tak memiliki pembatas untuk membatasi rasa penasarannya, ia memutuskan untuk mendatangi lokasi dimana kereta misterius itu berada. Lokasinya sudah cukup sepi, tak ada orang lain lagi yang ada di sana. Sepertinya masyarakat sekitar tak terlalu mempermasalahkan kehadiran kereta misterius itu. Sakura memandangi kereta itu sekilas, menimbang-nimbang pilihannya natara mencoba menaiki kereta itu atau mengurungkan niatnya dan makan ramen di kedai terdekat. Dilihat dari fisik luarnya, kereta itu terlihat sangat tua dengan karat yang menghiasi besi-besinya di sana sini. Si gadis 17 tahunan itu semakin mendekatkan dirinya pada kereta tua nan misterius itu. Ia menyentuh bagian pintu dan secara otomatis pintu itu terbuka dengan sendirinya. Rasa penasaran yang semakin memenuhi relung hatinya mendoronynya untuk memasuki kereta tersebut. Begitu Sakura telah mencapai di dalam, seluruh pintu yang sebelumnya terbuka kembali tertutup rapat, bahkan sebelum Sakura sempat berpaling, mesin kereta tua itu telah menyala. Beberapa saat kemudian kereta itu mulai bergerak sedikit demi sedikit. Tak lama bergerak, mendadak kereta tua itu melaju dengan kecepatan penuh menuju ke Inaba.
"GYAAAAA!!!! Apa-apaan ini!!!! Bodoh, bodoh, bodoh!!!! Seharusnya tadi aku makan ramen saja di kedai yang kulewati tadiii!!!! KYAAAAA!!!! LAGI-LAGI AKU BERTINDAK CEROBOH!!!! WAAAAA!!!" teriaknya sambil berpegangan erat pada salah satu tiang di dekatnya saking cepatnya kereta tersebut melaju.
"Grrr…masinis yang mengendarai kereta ini benar-benar kelewatan!! Awas saja nanti!! Akan kuhajar dia!!"
matanya yang terpejam rapat samar-samar mulai terbuka. Ia kembali memikirkan kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya, lalu mengingat-ingat perkataan si penayang berita tadi sore. , "tak ditemukan seorang penumpangpun maupun masinis" . kedua kakinya mulai gemetaran, semakin lama semaikn hebat saja getarannya.
"Tidaaaaaakkk!!!! Jangan-jangan…ini kereta….HANTUUUUUU!!!!!" jeritnya sepuas-puasnya akibat kecerobohan lain yang telah dilakukannya…
Inaba
"Hoekk….hoek…" perut Sakura serasa mual akibat kejadian yang baru saja dialaminya. Isi perutnya terasa tercampur aduk menjadi satu dan menyebabkannya mual. Kereta akhirnya benar-benar berhenti sempurna, seluruh pintu yang terdapat pada gerbong tersebut secara otomatis terbuka semua. Tanpa menunggu diperintah lagi, Sakura segera melompat keluar, bersumpah tak akan pernah menaiki kereta gila seperti itu lagi. Kini ia berjalan menyusuri pinggiran rel kereta hingga ia mendapati tangga untuk turun ke bawah. Lingkungan di sekitarnya sangatlah gelap. Tak satupun lampu jalanan yang menyala untuk menerangi penglihatannya pada malam hari yang mengerikan itu. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan beberapa kertas-kertas bekas poster kesana kemari. Langkah kaki Sukura yang awalnya biasa-biasa saja semakin lama semakin dipercepat. Kini ia menyusuri Samegawa River yang airnya sudah tak sejernih dulu lagi. Airnya berwarna merah gelap seperti darah manusia yang mengalir begitu saja di sungai itu. Lama-kelamaan, Sakura merasa seperti ada sesuatu yang mengikutinya tepat di belakangnya. Entah apa itu, ia tetap mempercepat lajunya. Setelah memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, ia menoleh disertai dengan pose protektifnya yang siap menjotos siapapun yang mengikutinya.
Ternyata tak ada apa-apa di belakangnya. Sakura pun dapat bernapas lega. Dadanya terasa plong karena tebakannya salah. Sengatan listrik statis yang menyebabkan bulu kuduknya berdiri kembali menjalari sekujur tubuhnya saat Sakura merasakan suatu sentuhan di pundaknya. Ia tak segera membalikkan badannya, tangannya mengepal, bersiap-siap untuk menghabisi penguntitnya hingga tak berbekas.
"HEEEEAAAAAAA!!!! Rasakan iniii!!!"
Dengan segenap keberanian yang tersisa, Sakura memutar posisinya menghadap si penguntit dan tak membuang waktu lagi untuk menjotos, menendang, menghajar, dan memelintir penguntit itu. Banyak asap yang mengepul di sekitarnya akibat dari gerakan-gerakan gesitnya menghabisi si penguntit.
"Wadadadadawwww!!! Sakit, kuma!!" jerit si penguntit. "Lepaskan, kuma! Lepaskan!! Sakit, kuma!!"
Sakura langsung sweatdropped mendengar jeritan penguntitnya yang…kesannya seperti….mascot beruang? Setelah debu-debu asap di sekitarnya reda, Sakura melepaskan pelintirannya terhadap mascot beruang aneh yang ditemuinya. Entah orang yang ada di dalamnya berusaha menjailinya atau bagaimana, Sakura tak tahu. Si mascot beruang kemudian berdiri sambil memegangi punggungnya yang terasa nyeri berkat tendangan maut Sakura.
"Sakit, kuma…waaaahaaaahaaaa…." Dan si mascot pun menangis.
"He-hei, maaf-maaf, itu tadi gerakan refleksku sih…" kata Sakura mencoba membela diri. "Kau…tak apa-apa kan?"
Mascot aneh itu sekejap kembali seperti sediakala, ceria-ceria saja disertai dengan penyebaran pheromonnya. "Tenang, sweetie! I'm okay, honey!"
"Eh?" Sakura sweatdropped lagi. "Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat deh…"
"Oya? Kalau begitu kau salah satu penggemar berat Teddie ya, kuma?" dengan begini Sakura sudah bisa tahu nama mascot bundar aneh di hadapannya, namanya Teddie.
"Oya!! Aku ingat!! Pada beberapa bagian di Junes terdapat mascot sepertimu juga! Mirip! Tapi…"
"Tapi apa, kuma?" Tanya Teddie sambil berputar mengelilingi Sakura yang masih bertopang dagu. "Every day's at your Junes!"
"Apa di tempat serapuh dan sesepi ini ada Junes? Aku benar-benar tak yakin…ada Junes di sini…lihat saja bangunan sekitarnya…hancur hampir rata dengan tanah…"
Setelah sekian lama berjalan, Sakura baru menyadari kalau bangunan-bangunan yang telah dijumpainya di sepanjang perjalanan semuanya benar-benar mirip bangunan runtuh. Terlihat seperti bangunan bersejarah saja. Tiang listrik bengkok, lampu lalu lintas patah, cat zebra cross yang sudah lama memudar, jalan-jalan yang retak, dan berbagai bangunan roboh. Kota ini benar-benar terlihat seperti kuburan atau mungkin kota yang baru saja kalah sehabis perang hebat. Kerusakannya cukup parah, mustahil untuk bisa dibangun kembali dalam waktu 5 tahun.
"Ted, katamu di sini ada Junes kan?"
"Ya, begitulah."
"Antarkan aku ke sana, Ted. Kumohon!"
"Okey, dear!" cring...cring...pheromon-pheromon Teddie kembali muncul berkilauan.
"Yikes! Hentikan pheromon-pheromon yang tak henti-hentinya keluar dari tubuhmu itu, Ted!"
Lama berjalan sambil mengamati lingkungan sekitarnya yang sama saja seperti sebelum-sebelumnya, muncul berbagai pertanyaan di dalam diri Sakura. Kota apa ini yang sedang dikunjunginya? Kenapa bisa begitu terlihat…rapuh seperti itu…dan kenapa bisa. Ia sedikit melirikkan matanya, terlihat Teddie berjalan tepat di sebelahnya dengan santai, seperti tak pernah terjadi apa-apa di kota itu.
"Oi, Ted. Aku mau Tanya sesuatu," kata Sakura tetap memandang lurus jalanan. "Ini kota apa, Ted?"
"Hungg…." Teddie menggumam sejenak. "Tentu saja Inaba! Apalagi, kuma?"
"HAAAH??!! INABA?!! Yang benar, Ted?! Serius?! Nggak bo'ong lu, Ted?!" teriak Gadis berambut abu-abu itu otomatis menarik-narik mascot beruang Teddie.
"I-iya, kuma. Duarius!!" dan ia pun terjatuh saat Sakura melepaskan cengkraman di kostum beruangnya. Sakura benar-benar tak percaya suatu saat ia akan berada di Inaba. Bukankah di sini kakaknya menghilang pada saat itu? Pasti kakaknya berada di sini, tak salah lagi! Pasti! Tapi…dilihat dari struktur bangunan sekitar…Sakura murung seketika. Tak yakin kalau ia bisa menemukan kakaknya di tumpukan-tumpukan bebatuan runtuh tersebut.
"Oi, kenapa kau begitu antusias seperti itu? Memangnya kau siapa, kuma?" Tanya Teddie sedikit ketus karena telah 2 kali menjadi korban Sakura.
"Oh, aku belum memperkenalkan diri ya? Aku Seta Sakura. Panggil aku Sakura saja."
Teddie langsung melotot bengitu mendengar nama 'Seta' disebut. Ganti Teddie yang menguncang-guncangkan Sakura sehingga gadis itu menjadi goyang ke kanan dan ke kiri. "Seta? SETA?!" Teddie masih tak mempercayai pendengarannya yang mungkin saja sudah rusak bertahun-tahun yang lalu.
"O-oi, hentikan, Ted!" barulah Teddie berhenti. "Ada apa, Ted? Kenapa kau jadi setegang itu?"
"Hng…tak apa-apa kok. Yuk kita lanjutkan perjalanan ke Junes, kuma. Oh, lebih tepatnya sekarang kita juga sudah ada di depan Junes, kuma! Tadaaaahh!!"
JRENG…JRENG…JRENG…
Hal yang dimaksudkan Teddie sebagai Junes hanyalah reruntuhan bangunan yang bentuknya sudah tak bisa dibayangkan lagi seperti apa dulunya dengan plang yang ambruk bertuliskan "Welcome to Junes!".
Bahkan plang tersebut sudah rusak dan terdapat bercak-bercak merah di sekitarnya. Di dekat bangunan ambruk tersebut terdapat banyak pecahan kaca yang Sakura duga, dulunya pasti digunakan sebagai pintu otomatis Junes. Jadi ini yang dimaksudkan Teddie dengan Junes?! Parah! Ini mah namanya bangunan sejarah, bukan Junes!
"Teddieee!!! Ini bukan Junes! Ini namanya bangunan ambruk, Ted!!" katanya kesal.
"Eh? Ini sungguhan Junes kok! Sayangnya sudah lama rusak, kuma…hehehe"
"Nggak Tanya, Ted! Oya, kamu ini mahluk apa sih, Ted? Nggak panas apa pake mascot begituan terus?" kata gadis satu-satunya di kota hancur itu sambil menunjuk-nunjuk kostum mascot Teddie. Teddie hanya cengar-cengir sambil tersenyum saja. "Teddie adalah Shadow, kuma. Tapi tak sepenuhnya Shadow, kuma! Sensei bilang, Teddie sekarang adalah manusia asli, kuma!"
"Sensei? Yang kau maksud dengan sensei itu siapa, Ted?" Tanya Sakura balik.
Teddie tampak bingung mau menjawab apa. "Eh, ya sensei. Pokoknya sensei. The-hee…"
"Apa kau juga tinggal di sini, Ted?" Tanya Sakura sedikit merinding.
"Yups! Benar sekali, kuma!"
Waaaah, apa Teddie ini sudah gila?! Bangunan runtuh dibilang Junes, ia juga tinggal di kota menyeramkan seperti ini pula. Apa Teddie nggak waras?! Jerit Sakura dalam hati. Tubuhnya kaku terbujur berdiri di hadapan Teddie yang hanya terus-terusan menyanyikan lagu iklan Junes dengan suara sumbang nan cemprengnya.
"Ted, kamu punya rumah nggak?"
"Punya dong! Mau Teddie tunjukin, kuma?"
"Err…iya.."
Teddie pun berjalan ke arah reruntuhan bangunan bekas super market Junes. Ia agak sulit menyelip di antara bongkahan batu-batu besar, namun akhirnya berhasil juga. Selama Teddie menghilang untuk mencari sesuatu yang menurutnya adalah 'rumah'nya, Sakura mengamati sekitarnya. Kali ini seperti ada sesuatu lagi yang mengikutinya sejak ia bertemu dengan Teddie. Beruntung di dekat kakinya ada sebatang besi tua yang tak terlalu berat untuk diayunkan. Sakura segera mengambilnya dan mengambil ancang-ancang defensif dengan menjadikan batang besi tua itu sebagai pengganti katana.
Sakura jelas menyadari ada beberapa bayangan gelap yang berseliweran sekaligus sedang mengamatinya sekarang. Terasa sekali aura gerakan cepat yang nyaris tak terbaca itu. Hembusan angin halus yang tak akan pernah bisa dirasakan oleh orang yang tak peka. Beberapa Shadow menyerangnya dari berbagai arah secara serempak dan tiba-tiba. Otomatis Sakura mengayunkan besi tua yang digenggamnya erat-erat itu dengan berbagai jurus-jurus kendo. Sayangnya tak menimbulkan efek apa-apa pada shadow-shadow tersebut. Justru batang besi tuanya lah yang malah patah.
"A-apa?!" Sakura segera membuang jauh-jauh pipa besi yang patah itu ke arah para Shadow, lalu segera berlari sekuat tenaga ke arah reruntuhan Junes. Berharap Teddie segera muncul dan membantunya mengalahkan Shadow-shadow tersebut.
"Teddie!!! Teddie!!! Tooolooooooong!!! Ted!!! TED!!!" jerit si gadis berambut abu-abu dengan senang hati dari pada menjadi santapan para Shadows. Teddie tak lama kemudian muncul dengan ekor terlebih dahulu. Tampaknya ia tersangkut. Sakura yang sesaat melihat Ekor Teddie yang menyembul keluar di antara bebatuan itu segera membantunya dengan menarik ekor Teddie. Memang awalnya susah, tapi tepat sebelum Teddie benar-benar bebas, tercium bau menyengat yang nyaris membuat si penarik ekor pingsan.
"Ted! Ini bukan waktu yang tepat buat kentut, Ted!! Gyaaaa…" Teddie yang terbebas dari bebatuan jatuh terguling-guling menimpa Sakura.
"Ted! Cepat beri tahu aku bagaimana caranya mengalahkan monster-monster biadab itu! Sebelum kita benar-benar menjadi santapan mereka!!"
"Persona, kuma! Harus menggunakan persona, kuma!"
"Apa kau punya persona, Ted?"
"Entahlah, sudah lama Teddie tak menggunakan persona, kuma."
Sekian Shaodw yang berkerumun dan berbaris di hadapan kedua mahluk hidup itu semakin lama semakin mendekat. Sakura kira, ia akan benar-benar disantap oleh shadow-shadow biadab itu. Ia kira ia akan berakhir di situ dan akan bertemu dengan Onii-channya. Ia akan jadi santapan para Shadows. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah satu. Hanya kakaknya saja yang ada di pikirannya. "Onii-chan!!!". Namun takdir berkata lain. Tepat di atas para shadows itu turun semacam kilat atau petir besar-besaran yang mampu membinasakan shadow-shadow itu dalam sekali serang. Di balik sinar-sinar terang itu tampak sebuah persona penuh cahaya dengan jas tuxedo putihnya sambil membawa pedang panjangnya, sayang, tak lama setelah shadow-shadow di sekitar mereka musnah, persona tersebut pun juga ikut musnah. Hanya angin malam saja yang kembali berhembus.
"Ted, apa itu tadi?" Tanya Sakura pelan, namun Teddie dapat mendengarnya dengan jelas.
"Haahh…persona yang 10 tahun lalu sempat kulihat... " Jawab Teddie lesu. Tak seperti Teddie yang biasanya.
Unknown Palace
Seorang pemuda disertai topeng yang menutupi wajahnya dengan jas tuxedo hitam panjang se lutut yang tak kancing jasnya tak saling bertautan di masing-masing lubang di sisi kiri jas. Pemuda itu hanya membiarkan jasnya terbuka sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana panjang hitamnya pula. Di balik jas tuxedo hitamnya terselip sebuah katana panjang yang dijamin sangat tajam untuk memotong bongkahan kayu setebal 10 cm atau mungkin lebih. Pemuda ini terus berjalan menyusuri koridor panjang yang akan mengantarkannya menuju ke sebuah pintu gerbang besar. Di balik pintu gerbang besar tersebut terdapat sebuah ruangan yang super besar pula beserta seorang wanita anggun yang telah menanti kehadiran pemuda tersebut. Pintu gerbang terbuka, dan si pemuda pun memasuki ruangan. Tak jauh dari hadapan si wanita, si pemuda berlutut, menandakan ia menghormati wanita tersebut.
"Dari mana saja kau? Aku telah lama menantimu di sini." Tanya si wanita lembut dari singgasananya. "Katakan, apa yang membuatku menunggumu?"
Si pemuda hanya diam saja, tak lama baru ia menjawab. "Tidak ada masalah penting. Sungguh."
"Benarkah? Biar kutanya sekali lagi. Apa yang kau lakukan di luar sana 10 menit yang lalu?" dan si pemuda hanya tetap diam saja.
Entah kenapa wanita anggun yang sedang duduk manis di kursi itu tertawa histeris namun ia mengambil sebilah pisau tajam yang terselip di belakang gaun yang dikenakannya. Sebilah pisau itu kemudian dilemparkannya lebih cepat dari kecepatan cahaya yang menyeruak masuk ke dalam sebuah ruangan.
JLEEEBB…
Pada hitungan 5 detik berikutnya, muncul bercak-bercak merah yang mengotori lantai mengkilap ruangan tersebut. Bercak-bercak merah itu semakin banyak ketika si pemuda mencabut pisau yang menancap pada luka yang menganga di bahu kanannya. Ia sedikit mengerang karena pedih saat mencabut sebilah pisau tajam yang dilemparkan oleh wanita anggun di hadapannya.
"Kenapa kau berbohong padaku?!" bentaknya seraya menggebrak pinggiran kursinya. "Bukankah aku menyuruhmu untuk membunuh gadis itu? Kenapa kau malah memusnahkan shadow-shadow yang sengaja kukirimkan untuk membunuhnya?! Kenapa kau malah menolong gadis itu?!" nadanya terdengar ketus, menandakan ia marah besar.
"Aku tak tahu." Begitulah balasan yang diterima oleh si wanita anggun.
"Lalu kau menutuskan untuk tidak mematuhi perintahku? Kau pikir bisa seenaknya saja menentang, hah?" kata si wanita, kini ia membuka kipasnya yang cukup besar. "Pergilah. Aku tak ingin melihatmu sekarang. Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."
Si pemuda itu tetap patuh dan mulai bangkit dan berjalan menuju ke pintu gerbang yang telah dilaluinya tadi. Setelah pintu gerbang besar telah benar-benar tertutup rapat, dan setelah memastikan pemuda misterius tadi telah benar-benar meninggalkan area tersebut, wanita anggun pembawa kipas tadi mengangkat tangannya, otomatis sebilah pisau tajam yang sempat menghujam pemuda tadi melayang kembali ke dalam genggamannya. Pada bagian yang tajam, masih tersisa banyak noda darah yang terus menetes-netes.
"Kau tak akan bisa lari dariku. Tak akan kubiarkan kau menentangku."
[To be Continued]
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Gyaaa…selesai…. Haha, di bagian2 munculnya shadow2 kyknya secara ga sengaja aq bikin percepat deh ya? trus lebih banyak dialog2 yg berjejer-jejer… huhuhuhu..,sempat nangis juga waktu aq bikin yg bagian Flashback nya Sakura dan Souji, si kakak-beradik...huhuhu...
Oya, makasih bwat para reviewers: t4mY, separated-union, Black-Cat-Yoruichi, lalanakmalas, Hihazuki dan para pembaca yg lainnya. Makasih banyak!! Saya kira ff ini cukup aneh dan g masuk akal serta membosankan. Mungkin setelah ini saya bkl agak lama g updet story, hahaha karena Ul akhir semester tentunya. Hahaha, doakan saya bisa melewati UAS B. jawa dan matematika yg bikin saya maw muntah tiap megang bukunya. Hahhahaha, sekali lagi makasih banyak!!! ^_^
