Author's Note; huehehehehe…akhirnya balik lg ke fic yg atu ini. Gomene, Minna karena saiya updetnya luaaaaaaama bgt. Habis, biasanya kalau saiya bikin lanjutan story itu idenya muncul2 sendiri, mukya. Justru kalau saiya pikirkan malah nggak akan muncul, gyabon..T_T. anwei, busiwei, petei- eeh kok jadi makanan- maksud saiya betewei, back to the story, selamat menikmati!! (ditempeleng para pembaca)

Para pembaca: emang makanan apa??!! Disuruh menikmati?!!

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Chapter 3 : Long Forgotten Memories

Our paths, they did cross
Though I cannot say just why
We met, we laughed, we held on fast
And then we said goodbye
And who'll hear the echoes of stories never told
Let them ring out loud till they unfold

Melodies of Life – Emiko Shiratore

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sebuah bongkahan batu besar jelas-jelas menutupi jalan yang seharusnya dilalui oleh Teddie dan gadis yang terus mengikutinya sejak pertama mereka bertemu. Fungsi Teddie saat ini adalah sebagai tour leader gratis khusus Sakura. Teddie merasa kesulitan sekali memindahkan bongkahan besar itu. Pasalnya, jika bongkahan itu tak dipindahkan maka mereka tak akan bisa lewat. Teddie dengan kostum beruang usang nan kotor itu masih tetap berusaha sekuat tenaga untuk setidaknya sedikit mendorong batu itu ke tepian. Sementara gadis di belakangnya hanya berkacak pinggang sambil mengamati lingkungan sekitarnya yang…benar-benar mengerikan.

"Oi, Ted," panggil Sakura masih sambil melihat sekitarnya ditambah dengan berjaga-jaga akan kehadiran mahluk-mahluk aneh yang tadi menyerangnya. "kenapa…ada banyak darah berceceran dimana-mana?!! Aku-aku…be-benci…bau darah…" katanya seraya menyumbat kedua lubang hidungnya dengan 2 jari. "Ted, bagaimana kau bisa hidup di dunia seperti ini?!"

"Oh, dunia ini adalah rumah Teddie, kuma! Ngrhhhh…!!!" erangnya saat mascot itu berhasil sedikit mendorong bongkahan batu.

Sakura yang sudah tak tahan lagi dengan bau darah berceceran di sekitarnya memutuskan untuk segera membantu Teddie. Hanya dengan satu kali tendangan, batu itu terpecah belah menjadi 2 bagian. Entah apa triknya, Teddie hanya terpukau dengan mata berbinar-binar.

"WOW!!! Bagaimana caranya kau melakukan itu, Kura-chan?!!" entah sejak kapan Teddie jadi memanggil nama orang seenaknya. Satu gumpalan bogem jatuh tepat di atas kepala Teddie. Tak lupa disertai pula dengan erangan imutnya. "Kumaaaaa~"

"Ted, jangan ganti-ganti namaku seenaknya! Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan."

"Umm…" gumam Teddie panjang, masih terdiam di tempat sambil mengamati jemari-jemarinya (apa Teddie beruang punya jari??). "Lanjtkan perjalanan kemana, Sakura-chan??"

"Te-Teddie!! Yasogami High! Secepat itu kau lupa, Ted?!"

"Umm…apa itu Yasogami High, kuma?"

"Haaah?" Gadis satu-satunya di Inaba itu hanya bisa melongo. Lho, kok…apa ada yang salah dengan Teddie? Oh! Jangan-jangan Teddie lupa ingatan karena gumpalan bogem yang melayang ke kepalanya tadi sehingga Teddie lupa ingatan?! Oh!! Good job, Sakura-chan!! Lagi-lagi Sakura bertindak ceroboh.

"Tidaaaaaaak!!! Teddie!! Ayo coba ingat-ingat!! Kau nggak boleh lupa! Ayo ingat! Ayo ingat!!" kata gadis itu panik sembari mengguncang-guncangkan kepala Teddie yang bundar besar.

"Kiss me first please~ come on, darling, kuma!" Ternyata….ternyata….TERNYATA!!!

PLAAAAAKK!!!

"HENTAI!!!" teriak Sakura sekuat tenaga disertai dengan tamparan maut akibat tindakan bodoh Teddie yang mencoba untuk mencium pipi Sakura…sambil…secara tak sengaja menyentuh punggung Sakura. "Oi, Ted, sekali lagi kau membuatku khawatir seperti itu…" tatapan reaper yang akan segera mencabut nyawa seseorang ditiru Sakura saat ia menatap Teddie. "Akan kujedor-jedorkan kepalamu ke aspal, TED!!"

"Gyabo! Ampun, kuma!!" jerit Teddie gemetaran.

"Sudahlah, ayo lanjutkan perjalanan." Kata Sakura lemas, merasa sedikit putus asa dengan situasi sekitarnya.

Kenapa Inaba terasa sepi sekali? Kemana seluruh penduduknya? Kemana kakaknya pergi 10 tahun yang lalu? Jauh di dalam benak Sakura, ia ragu dapat menemukan kakaknya hidup-hidup jika dilihat dari suasana sekitarnya. Yang ia dengar sejak detik pertama ia menginjakkan kakinya di kota penuh kabut ini hanyalah jeritan penderitaan dan erangan kesakitan entah darimana asalnya. Semua suara itu seakan-akan berkumpul menjadi satu. Selain jeritan penderitaan, ia samar-samar mendengar jeritan minta tolong, tapi ia tak tahu dari mana asalnya.

"Teddie, kenapa kota ini terasa begitu…mati?" Tanya gadis itu tiba-tiba. Menghentikan langkah kaki Teddie yang sedari tadi terus memimpin perjalanan. "Kemana semua penduduknya, Ted?"

"Well, sejak awal kota ini memang sudah seperti ini, kuma. Hanya Teddie dan para shadows yang ada di sini, kuma.

"Lalu, kenapa aku mendengar berbagai jeritan penderitaan dan teriakan meminta tolong? Apa yang terjadi pada mereka, Ted?"

"Mereka siapa? Teddie tak mengerti, kuma…" mustahil Teddie tak tahu! Dia bilang ia tinggal di sini, mustahil bila ia tak tahu! "Ted, sudahlah jangan berbohong lagi. Kau bilang kau tinggal di sini, mustahil kau tak mengerti apa yang kumaksud."

"Tapi Teddie benar tak tahu, kuma! Teddie tak ingat apa-apa, yang Teddie ingat hanya persona putih itu saja, kuma!"

"Persona…putih? Oh, maksudmu persona yang sempat menyelamatkan kita itu, Ted?" dan Teddie membalas dengan sebuah anggukan yang mantap, menandakan ia mengatakan iya sepenuhnya.

"Lalu kemana seluruh penduduk Inaba??"

"Entahlah. Saat Teddie bangun, semuanya sudah seperti ini, kuma."

Sebenarnya tak butuh waktu lama sih untuk mencapai Yasogami High, tapi karena banyak jalan yang terblokir oleh sebab-sebab lingkungan yang tak mendukung untuk saat itu, mereka berdua malah tersesat. Ngomong-ngomong, sudah jam berapa sekarang ini? Apakah sudah tengah malam ataukah malah sudah pagi? Sakura benar-benar tak bisa membedakan langit malam dan langit pagi sejak pertama kali ujung jempol kakinya menginjak tanah kota terpencil yang hilang. Teddie juga kelihatannya santai-santai saja dengan kondisi sekitarnya. Tetap santai walaupun mereka berdua benar-benar tersesat. Entah apa yang dipikirkan Teddie detik itu.

Sakura menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah tokoknnichiew. Entah apa nama toko itu. Yang jelas toko itu masih agak-agak awet dan berdiri tegap, hanya saja sudah usang disertai dengan dinding yang keropos. Di depan toko terdapat berbagai tumpukan box minuman yang tampaknya secara sengaja ditumpuk tinggi oleh si pemilik toko. Box itupun juga tak kalah usang dengan bangunan tua yang sedikit terhalang oleh box itu sendiri. Bangunan kuno itu terkesan…angker…ditambah dengan serpihan pecahan kaca botol minuman yang berserakan di sekitar bangunan dengan plang toko yang ambruk bertuliskan "Konishi Liquor Store" yang sudah kabur tulisannya karena ditumbuhi lumut.

"Oi, Teddie. Rasanya ada yang…sedikit berbeda di dalam sana. Di dalam sana ada apa, Ted?" tanyanya seraya menunjuk ke pintu rusak bangunan tua di hadapannya. Teddie berjalan mendekati bangunan tersebut. Ia terlihat sibuk mengamati.

"Oh! Ini kalau tidak salah…toko yang jual minuman keras. Hng…dan korban kedua dari Midnight Channel, kuma."

"Korban kedua? Maksudmu?"

"Saki Konishi, kuma!"

Tentu Sakura ingat nama 'Saki Konishi' mengingat ia menemukannya dalam suatu web yang berisikan berita tentang tewasnya seorang presenter yang lumayan terkenal bernama Mayumi Yamano. Bukankah Saki Konishi ini adalah penemu mayat Mayumi Yamano yang tergantung di antenna secara misterius?? Ada sesuatu yang menarik dari dalam bangunan usang itu, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba saja mengundangmu untuk masuk ke dalam sana dan tanpa sadar kau telah melangkahkan kedua kakimu mendekati pintu masuk. Itulah yang dialami Sakura.

Hal pertama yang dilihatnya dalam ruangan tersebut hanyalah putih yang saking putijnya dapat membutakan mata. Setelah itu ia mendengar berbagai suara di dalamnya dan tak lama disertai dengan beberapa potongan scene layaknya seperti melihat potongan-potongan scene.

+_+_+_+_+_+_

Flashback

Seorang pemuda dengan headphone besar yang melingkari lehernya berjalan memasuki toko. Pemuda itu tampak ceria sekali yang ditunjukkan dengan siulan-siulan pelan. Lalu pemuda itu dihampiri oleh seorang Gadis bercelemek, tampaknya gadis itu lebih tua se-tahun dari si pemuda. Si gadis mengerutkan dahinya ditambah dengan kedua tangannya yang ia lipat di depan dada.

"Yosuke-chan! Bukankah sudah kubilang, jangan kemari hari ini, aku sibuk!" omel gadis itu kepada pemuda yang diketahui bernama Yosuke itu. Yosuke hanya tertengun saja walaupun senyumnya sedikit mengkerut oleh sambutan gadis itu.

"Saki-senpai,ayolah, aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar saja. Apa itu juga tidak boleh?"kata Yosuke segera dengan alasan yang sudah dipersiapkannya matang-matang itu. Ia tahu bahwa Saki-senpai nya itu akan segera menambutnya dengan omelan begitu ia menginjakkan kaki ke toko itu. Sebenarnya Saki samasekali tak keberatan kalau Yosuke dating ke toko keluarganya itu. Namun ayah dan ibunya sangat tidak suka melihat putrinya itu berteman dengan anak tunggal si manager Junes. Bagi kedua orang tua Saki, kehadiran Yosuke itu membawa sial. Sebab sejak ada Junes, daerah Shopping District jadi sepi.

"Yosuke-chan, sebaiknya kau jangan pernah datang kemari lagi." Kata Saki menatap ke lain arah, sepertinya ia tak sanggup melihat lurus-lurus ke mata Yosuke yang jelas sekali memancarkan kekecewaan.

"Ke-kenapa? Kenapa tidak boleh, senpai?!"

"Pokoknya tidak boleh!!" dengan kasar Saki mendorong Yosuke keluar dan segera menutup rapat-rapat pintu yang membatasi Yosuke dan dirinya sendiri.

Lalu scene beralih ke sebuah kamar yang penuh dengan serakan kertas bertebaran hampir di seluruh ruangan. Terlihat Saki sedang berbaring di atas kasurnya sambil menggenggam erat sebuah bolpen di tangan kanannya dan sebuah buku di tangan kirinya. Sepertinya ia akan menulis Diary. Wajah Saki tampak sembab dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Sesaat dapat dirasakan aura kemarahan yang meluap-luap dari dalam diri Saki. Ia menulis buku itu dengan cepat seperti siswa yang kehabisan waktu untuk menjawab soal ulangan. Tekanan bolpen yang mampu menggores lapisan kertas tersebut hingga robek. Gerakan tangan itu akhirnya berhenti diikuti dengan isakan tangis Saki.

"Yosuke…gara-gara dia hidupku jadi berantakan. Semenjak ada bocah itu…hidupku benar-benar berantakan!" ucapnya dengan tekanan nada kesal yang amat sangat. "Karena bocah itu bisnis keluargaku jadi berantakan. Dengan berantakannya bisnis keluarga Otou-san jadi suka bertindak aneh karena stress, ia jadi lebih sering memarahiku padahal aku hanya melakukan kesalahan kecil saja. Otou-san bahkan tak segan-segan menamparku bila aku berani menolak perintahnya yang jelas-jelas tidak baik."

Saki menutup buku yang terbentang di hadapannya. Lalu ia meraih tissue yang tepat berada di meja belajarnya. "Aku jadi kehilangan teman. Semua itu berkat datangnya seorang Yosuke Hanamura!!"

End Flashback

+_+_+_+_+_+

Scene berubah menjadi putih bersih. Warna putih bersih di sekitar Sakura kemudian berubah menjadi pemandangan asli dari isi ruangan gelap bangunan tersebut. Ruangan ini terasa sempit sekali dengan adanya reruntuhan bangunan di sana sini. Panggilan Teddie lah yang pertama kali menyadarkan Sakura dari melamunnya akan potongan scene yang baru saja dilihatnya. Entah Teddie dapat melihatnya juga atau hanya dirinya saja yang bisa.

"Ini pasti partikel memori yang tertinggal di sini, kuma. Tempat ini menyimpan memori pemuda yang bernama Yosuke itu, kuma," kata Teddie dengan sedikit bergumam. Lalu ia melanjutkan kalimatnya lagi, "Yosuke…sepertinya Teddie ingat siapa Yosuke, kuma!" serunya yang mengundang sedikit kejutan bagi Sakura.

"Oh ya? Bukankah pemuda yang sedang berdiri di sana itu…Yosuke-san? Tapi…kenapa ada dua Yosuke??" tunjuk Sakura polos sekali bak anak 4 tahunan yang sedang menunjuk balon. Sementara Sakura sedang berpolos-polosan seperti itu, Teddie malah kejang-kejang seperti orang kena stroke.

"Mukyaa!!! Shadow, kumaaaaaaa!! SHADOW!!" teriak Teddie berlebihan sambil memegangi kepalanya.

"Oh…tenang aja, khan Cuma Sha--HUAPA?!!" kini Sakura ikutan kejang-kejang ditambah dengan mendelik. "Shadow lagi?!! Kali ini bagaimana kita bisa selamat, Ted?!!!"

"Lariiii, kumaaaaa!!!!" sebelum Teddie benar-benar berhasil kabur dari tempatnya berdiri sekarang, Sakura sudah menarik kostum beruang Teddie supaya tidak lari kemana-mana. "KWAAA!!! Teddie tak mau mati di sini, kuma!!!"

"Ted! Kita harus tolong pemuda itu dulu!! Beritahu aku caranya, Ted!"

yah. Akhirnya Teddie berhenti melarikan diri. Beruang aneh itu berlari mendekati si pemuda ketika shadow pemuda itu sendiri mengalami berserk. Mereka berdua sama-sama terpental. Pemuda yang bernama Yosuke itu terguling-guling bersama Teddie. Sementara Teddie sendiri berhenti terguling-guling karena menabrak tumpukan box minuman keras tepat di tempurung kepalanya dan berakhir pingsan. Sementara si Yosuke mencoba bangkit berdiri namun gagal karena sebagian tenaganya terserap oleh shadownya sendiri yang berserk. Tinggal Sakura saja yang tersisa. Gadis itu segera mencari apa saja yang bisa digunakannya sebagai senjata di sekelilingnya dan berhasil menemukan sebuah katana yang tampaknya…imitasi, palsu. Palsu atau pun asli tak masalah bagi Sakura, toh belum tentu katana asli dapat mengalahkan shadow super besar di hadapannya sekarang.

"Heiii, kalian berdua tetap di sana ya!! Aku akan memancing monster maniak ini menjauh dari kalian!" teriak Sakura, berharap Teddie dan Yosuke dapat mendengarnya dari kejauhan. "Kalian dengar?!" teriaknya sekali lagi sesekali menghindari serangan-serangan shadow Yosuke yang bertubi-tubi.

Yosuke hanya balas mengangguk pelan. Ia merangkak mendekati boneka beruang yang sedang pingsan itu, lalu mencoba menggeretnya menjauhi shadownya sendiri. "Teddie! Bangun, Ted!"

Sakura sendiri sedang bersusah payah mengalihkan perhatian si shadow yang terus-terusan terfokus pada Yosuke. Sepertinya tidak ada cara lain lagi untuk menghentikan tingkah monster hitam jelek itu selain menghadangnya tepat di depan mahluk besar itu. Sakura memanjat sebuah meja yang tampaknya masih kuat menopang berat badannya yang ringan, kemudian ia melompat ke meja-meja lainnya mendekati posisi dimana Yosuke sedang terduduk.

"Hei, monster jelek!! Lawanmu adalah aku!! Ayo lawan ak—GYABOOO!!!" jerit Sakura yang disebabkan oleh terpentalnya dirinya sendiri karena sabetan kuat dari si shadow. Gadis itu terjerembab ke tumpukan-tumpukan yang dimenuhi botol-botol minuman.

BRUAK!!!

Yosuke melihat semuanya. Tanpa sadar amarahnya sudah memuncak. Pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berjalan menghampiri shadownya sendiri yang sudah kembali berisap-siap menyabel Sakura lagi. "Sudah cukup. Hentikan." Kata pemuda ber-headphone pelan namun mencerminkan ketegasan dibalik nada suaranya.

"Sudah, hentikan. Aku tahu aku masih belum bisa menerimamu, bukan—tapi aku benar-benar tidak ingin menerimamu sebagai bagian dari diriku dan masa laluku." Katanya sedikit terengah-engah, ia sudah tak biasa berbicara seperti itu sekian lamanya. Pelan-pelan ia melanjutkan perkataannya, " Menerimamu itu seperti memakan Mystery Food X, tidak—mungkin lebih parah dari itu. Tapi, sebenci-bencinya aku padamu…selamanya kau selalu lahir dari diriku. Kau bagian dari diriku yang hilang karena selama ini aku membuangmu jauh-jauh hanya untuk hidup di dalam kebohonganku saja. Kebohongan bahwa aku sadar Saki-senpai tak menerima kehadiradiranku."

Yosuke berdiri tegak namun wajahnya tertunduk menghadap permukaan lantai, masih tak mampu memandang lurus-lurus shadow di hadapannya. "Aku ini menyedihkan, bukan? Heh, lelaki sepertiku ini…benar-benar tak berguna."

"Kau salah, Yosuke-chan." Suara yang tak asing lagi di telinga Yosuke itu muncul tepat dari belakang shadow itu. Yosuke mendongakkan kepalanya dan mendapati bayangan Saki Konishi yang sedang melayang-layang di atas shadownya sendiri. Saki tersenyum tipis sambil mendekati Yosuke yang masih terperangah melihatnya.

"Sa-Saki-senpai? Mu-mustahil…"

"Yosuke-chan, gomene. Gomene!" kata Saki seraya memeluk Yosuke, walaupun hal tersebut masih belum bisa dikatakan memeluk karena tubuhnya yang merupakan bayangan itu tidak benar-benar menyentuh Yosuke. "Aku tak pernah bilang mengenai apa yang menyebabkanku memben--tidak, aku tak pernah benar-benar membencimu." Saki berhenti sebentar sambil menatap lurus-lurus mata kecoklatan Yosuke. "Saat itu aku kesal pada semuanya, pada orang tuaku, pada teman-temanku, pada tetanggaku, dan juga pada diriku sendiri. Saat itu aku hanya ingin melampiaskan penderitaanku, dan tanpa sengaja aku melampiaskannya padamu. Maaf, aku baru mengatakannya sekarang setelah sekian tahun berlalu. Gomenasai."

"Saki-senpai, arigatou…" kata Yosuke. Pemuda itu melangkah maju beberapa saat kemudian setelah bayangan Saki pudar dan akhirnya menghilan dengan senyuman terakhir di wajahnya. Yosuke menatap shadownya yang sudah tidak seganas dan seliar tadi. "Terima kasih juga karena kau—shadowku yang malang, telah menyadarkanku akan pilihan yang salah selama ini ku pilih. Terima kasih…"

Shadow besar hadapan Yosuke mulai mengecil dan mengecil hingga akhirnya pecah menjadi serbuk-serbuk kecil yang mengitari Yosuke. Serbuk-serbuk yang mengitari pemuda tersebut berkumpul tepat di atas kepala Yosuke dan membentuk sebuah kartu Tarot. "Jiraiya the Magician." Dengan begini Yosuke telah menghadapi baying-bayang yang selama ini menghantui hatinya.

Yosuke yang merasa sedikit lelah itu berjalan menuju tumpukan box yang ambruk karena dorongan dari Sakura yang terpental karena sabetan kuat yang diterimanya tadi. Jujur saja, pemuda itu sedikit khawatir sekaligus kagum melihat Sakura yang ternyata…tertidur sambil ngorok di timbunan tumpukan-tumpukan box yang sudah rusak itu. Baru kali ini Yosuke melihat ada bocah—cewek lagi!! Yang sempat-sempatnya tidur di saat-saat seperti tadi! Benar-benar gadis yang ceroboh, berpikiran pendek, dan selalu gegabah! Bisa-bisanya gadis seperti Sakura ini bisa bertahan hidup di Inaba yang sudah menjadi kota Shadow.

"Hoi, bangun! Bisa-bisanya kau ngorok di tempat seperti ini?! Gila! Gadis macam apa kau?!" Yosuke mencoba mengguncangt-guncangkan pundak Sakura. Gadis yang masih enak-enakan ngorok itu malah ngedumel nggak jelas. Dumelannya berinti ia masih ingin tidur dan tak mau diganggu.

"Hauunn…nanti ajaa…..masih huaantuuuuk nih….hauuunn….Onii-chan…" seperti itulah dumelannya.

"Hoi! Kau mau jadi santapan Shadow?! Heh, aku ini bukan Onii-chan mu!! Bangun!!!" Yosuke menarik lengan Sakura yang terselip di antara tumpukan dus-dus yang berserakan. Gadis itu akhirnya terduduk, namun matanya masih terpejam erat-erat. Malahan tambah parah lagi, muncul balon ingus dari hidungnya.

"Hauuun…groook…ZZZ…grooook…ZZZ.."

tingkah tersembunyi Sakura ini membuat Yosuke menepuk jidatnya berkali-kali. Ia meyerah dalam membangunkan 'The Lazy Girl, Sakura' dan memutuskan untuk membangunkan Teddie yang nampaknya…juga sama-sama asyik mendengkur. Dengkuran Teddie juga tak kalas keras dari dengkuran Sakura. Kini tinggal Yosuke yang stress sendiri karena tidak tahu harus berbuat apa dengan kedua mahluk aneh bin ajaib yang telah menolongnya tadi. Karena sudah terlalu capek dan dongkol, Yosuke memutuskan untuk ikutan tidur di dekat Sakura dimana tumpukan box itu terlihat 'nyaman' untuk dijadikan bantal.

"Well, oyasumi nasai, Lazy Girl!" tak lama memejamkan mata, Yosuke sudah terlelap kembali terbawa alam mimpi. Kali ini mimpi yang didapatnya merupakan mimpi yang indah karena semua bebannya sudah terangkat. Yah, harus diakui Yosuke, ia sangat berterima kasih pada Sakura dan Teddie.

To Be Continued…

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Oke, makasih buaaaaaanyak buat para pembaca dan reviewers: Hihazuki, neraraaa-, AI EMMA (pecinta jigoku shoujo yah? Saiya jg suka loh!), Black-Cat-Yoruichi, t4mY, StarGuy, WindPurpleDragon, de el el. Btw, kyknya asal usulnya Sakura belum terlalu jelas yah. Hmmm…oke2…sebenarnya saiya kedapatan ide buat ngasih nama adiknya Souji itu Sakura. Soalnya…dah, saiya kasih info bocoran.

Daftar keturunan keluarga Seta:

Kakek: Seta Shuji

Nenek: Seta Sayuri ( nih nama jgn iseng2 blakangnya dihilangkan 'i' inya. Bisa jadi sayur nih)

Ayah: Seta Shinichi

Ibu: Seta Shiori

Anak laki2: Seta Souji

Anak perempuan: Seta Sakura

Dengan begitu terbentuklah keluarga SS!!! Mwehehehehehehehehehe!!!

Aniwei, see you next chap!!! Oya, mohon diberi reviews juga yah. Kalau nggak keberatan mohon diberi ide juga. Dadah!!!